- Beranda
- Berita dan Politik
gus dur the godfather
...
TS
sletingdol
gus dur the godfather
sambil ngopi gan
Untuk mengenang setahun wafatnya KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Presiden RI ke-4 sekaligus Bapak Pluralisme dan Multikulturalisme Indonesia, kami memuat kembali wawancara eksklusif dengan beliau yang sempat dimuat di Majalah Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2008.
Selama hampir 2 jam Gus Dur ketika itu mengungkapkan lagi rencananya untuk maju sebagai kandidat Presiden RI di Pemilu 2009, persiteruannya dengan keponakannya sendiri di PKB, Muhaimin Iskandar, aliran Ahmadiyah, pemberantasan korupsi di Indonesia serta ketidakpercayaannya saat itu dengan pimpinan KPK hingga band rock favoritnya, Guns N" Roses. Semuanya dalam jawaban yang lugas dan ceplas ceplos khas Gus Dur. Setidaknya dalam beberapa dekade ke depan sangat sulit bagi negara ini untuk bisa memiliki lagi figur kharismatik nan kontroversial yang selalu berpihak bagi rakyat seperti dirinya. Selamat tinggal, Gus, selamat jalan, Guru Bangsa....
--------------------
Presiden Republik Indonesia keempat, K.H. Abdurrahman Wahid, membuka pembicaraan dengan sebuah lelucon soal Yesus Kristus. Dia terbahak setelah menceritakan lelucon itu. Lantas, tanpa diminta, pria yang lebih popular dengan nama Gus Dur itu menceritakan lagi sebuah lelucon. "Setelah Soeharto turun dari kepresidenan, dia mengatakan kepada pembantu-pembantunya, kenapa saya nggak dikenalkan dengan seorang makelar tanah dari Nazareth? "Ada apa Pak?" kata pembantunya. Lalu, Soeharto bilang, Saya dengar di sana kalau orang mati, setelah tiga hari, hidup lagi," kata Gus Dur sambil terbahak lagi. Kabar soal betapa Gus Dur gemar melontarkan joke seperti itu benar adanya. Sebuah penerbit bahkan menerbitkan buku dengan judul Mati Ketawa Ala Gus Dur.
Siang itu, Gus Dur tiba di kantor pusat Pengurus Besar Nahdatul Ulama sebelum jam dua belas siang, seperti yang dijanjikannya. Turun dari mobil dia langsung duduk di kursi roda menuju ruang kerjanya. Beberapa jurnalis televisi dari Belanda mengikutinya.
Gus Dur sendiri yang memilih tempat untuk wawancara dengan ROLLING STONE di kantor PB NU. Bangunan itu tak punya lobi yang memadai. Hanya sebuah meja, semacam meja resepsionis tapi tanpa penjaga, yang langsung menyambut di pintu masuk. Jika berjalan ke arah kiri pintu, Anda akan langsung menuju musholla, yang hanya menyediakan satu kursi kecil untuk menunggu.
Ruangan tempat Gus Dur menerima kami untuk tak begitu luas. Hanya ada satu meja di sana serta beberapa kursi. Singgasana tempat Gus Dur duduk sangat empuk. Lengkap dengan fasilitas penyetel sandaran kursi secara otomatis, melalui tombol di sebelah kanan Gus Dur. Suasananya mirip dengan ruang kerja Don Vito Corleone dalam film The Godfather.
Dalam konstalasi rock & roll, Gus Dur merepresentasikan semangat punk rock. Jika di tahun 1977 vokalis Sex Pistols Johnny Rotten berteriak lantang "Anarchy in the UK" maka Gus Dur di tahun 2001 tak hanya pandai bicara namun mewujudkannya. Sebagai Presiden Republik Indonesia yang mengemban amanat reformasi total, di tengah-tengah pro dan kontra, pada 23 Juli 2001 ia nekat mengumumkan Dekrit Presiden. Isinya membekukan MPR dan DPR, membubarkan Partai Golkar, dan menyelenggarakan Pemilu setahun kemudian. Dekrit ini ternyata kontraproduktif karena tidak mendapat dukungan polisi maupun militer. Alhasil Gus Dur justru "digulingkan" melalui Sidang Istimewa yang digelar beberapa hari kemudian.
Menjelang Pemilu 2009 mendatang Gus Dur jauh-jauh hari telah menyuarakan tekadnya untuk maju kembali ke dalam bursa presidensial. Aspek kesehatan jasmani yang membuatnya terjegal pada Pemilu 2004 silam tidak membuatnya risau. Dalam usianya yang 68 tahun, Gus Dur menyatakan siap bertempur. Sayangnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), kendaraan yang dipersiapkan untuk balapan tahun depan, kembali bermasalah. Terjadi dualisme kepemimpinan di dalamnya.
Kepada ROLLING STONE, Gus Dur menjawab semua pertanyaan secara lugas dan apa adanya.
Banyak yang penasaran apakah Gus Dur benar akan tetap mencalonkan diri 2009 nanti?
Ya. Saya disuruh orang tua. Umurnya 97 tahun. Selama dia belum mencabut [perintah itu], saya terus saja.
Seberapa hebat orang tua ini sampai Gus Dur begitu taat?
Di kalangan NU memang begitu, diharuskan taat pada orang tua. Dulu memang saya katakan di muka kamera televisi, saya mendukung Soesilo Bambang Yudhoyono sebagai calon presiden kalau dia punya keberanian untuk jadi presiden. Ternyata sampai sekarang dia tetap penakut.
Tapi, faktanya sekarang Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden..
Ya boleh-boleh aja. Tapi kan dia penakut. Nggak berani mengadakan tindakan apa-apa. Contoh yang paling gampang, teman-teman islam fundamentalis itu, nggak ada yang ditangkap.
Ada yang ditangkap, Gus.
Ya, tapi di dalam [penjara] hidupnya sangat enak. Mustinya itu kan menurut undang-undang kita, orang yang bawa senjata tajam terhunus, patut dituntut, dibawa ke pengadilan. Nyatanya nggak.
Semua mantan presiden tidak hadir di istana pada perayaan 17 Agustus lalu. Tapi Gus Dur hadir, seakan Gus Dur mendukung pemerintah yang sekarang.
Begini, 17 Agustus itu kan peringatan kemerdekaan bangsa kita, jangan dilihat sebagai soal pribadi. Saya ke sana dalam rangka menghormati 17 Agustus. Saya nggak senang caranya Megawati, semua dicampur aduk antara soal pribadi dan negara.
Bagaimana pandangan Gus Dur terhadap mantan presiden lain yang tidak mau hadir?
Itu urusan mereka. Mereka semua memang juga jengkel sama SBY. Tapi, soal negara jangan dicampur aduk dengan soal pribadi.
Banyak yang meminta sebaiknya Gus Dur tidak mencalonkan diri lagi.
Lah undang-undangnya bagaimana? Undang-undangnya mengatakan demokratisasi di Indonesia harus melalui parpol. Saya sudah punya parpol sendiri kan? PKB. Nah itu yang saya pakai. Kalau Anda diminta orang banyak untuk menjadi calon presiden, Anda harus dengarkan juga dong.
Tapi, PKB sedang bermasalah.
Sekarang ribut. Demi penyelesaiannya saya bilang, begini aja deh, biar nggak usah berantem, yang menjadi anggota DPR-RI melalui Muhaimin Iskandar. Dia nggak perlu jadi pengurus. Sebaliknya, yang ikut DPP, boleh jadi pengurus. Gitu aja.
Seorang Gus Dur dikenal sangat demokratis, tapi dalam pertikaian di tubuh PKB, Gus Dur terkesan otoriter?
Anda lupa satu hal. Bahwa kejujuran, keterbukaan, dan kebersihan itulah yang pokok. Muhaimin itu, nggak bisa mempertanggungjawabkan 14 milyar rupiah. Kalau nggak jujur, kita tinggalkan. PKB ini partai yang penuh kejujuran. Sekarang ini saya sedang mengadakan pembersihan dan pembenahan atas dasar kejujuran dan keterbukaan itu.
Tapi sebaliknya, kubu Muhaimin menuduh Gus Dur menerima uang dari Yusuf Emir Faishal [Ketua Komisi IV DPR, pengurus PKB]?
Saya? [nadanya meninggi]. Silakan buktikan! Jangan cuma ngomong aja.
Mereka punya bukti transfer dan tanda terima dari bendahara PKB.
Yang nerima siapa? Transfernya kepada siapa? Begini ya. Muhaimin itu pembohong. Saya tahu persis. [Dia] keponakan saya. Apa ya bener omongan mereka itu? Lah, begini ya, Si Aris Junaedi [bendahara PKB] itu, menerima uang dari Yusuf Faishal untuk kepentingan DPP PKB. Dia nanya saya, saya bilang terima aja, Anda sebagai bendahara, uangnya pegang. Kalau ada apa-apa, tanda terimanya pegang. Jadi, itu tanda terimanya tidak pribadi.
Artinya Gus Dur membantah terima uang Rp 300 juta?
Saya setiap bulan sudah ditanggung negara untuk pengobatan. Negara memberikan Rp 33 juta. Lebih dari cukup. Nggak habis iu. Kalau ada yang menuduh saya menerima uang itu, buktikan dong! Yang penting kan buktinya. Kalau ngomong aja gampang.
Kalau keponakan mbalelo [tidak nurut] kepada pamannya, apakah itu tanda respek yang hilang?
Terserah. Saya sih nggak ambil pusing. Yang penting dia jujur apa nggak. Begitu keluar pendapat dari Andi Matalata (menteri hukum dan ham), bahwa yang diakui sebagai wakil PKB adalah Muhaimin Iskandar dan Lukman Edi. Saya bilang ke anak saya Yeni, kamu nggak usah terusin. Tapi, saya nggak akan halangin kalau nanti dia dipilih lagi.
Gus Dur menuduh pemerintah ikut andil di dalam perpecahan di PKB. Maksudnya?
Oh iya. Karena Jusuf Kalla. Dia yang biayain itu semua. Segala macam keperluan Muhaimin Iskandar. Simple aja. Pemerintah berkepentingan saya nggak jadi calon presiden.
Ada buktinya?
Oh saya diberitahu orang dalam. Ini perbuatannya Jusuf Kalla. Orang ini nggak pernah keliru kok kalau memberi tahu saya. Dia orang dalam. Selama ini, kalau dia beritahu saya begini-begini, selalu benar. Termasuk soal SBY. Kalau dibilang SBY gini-gini, itu betul.
Tapi dari konteks hukum, Gus Dur kan kalah terus. Jadi, ada kesan Gus Dur ini tidak mengindahkan hukum?
Saya? Ya terserah. Kalau hukumnya curang? Pengadilannya curang?
Jadi, Gus Dur tidak percaya hukum Indonesia?
Oh nggak. Tidak percaya! [nadanya meninggi] Karena memang curang. Dari Mahkamah Agung ke bawah. Mau diapakan?
Akhirnya Mahkamah Agung memenangkan kubu Muhaimin, apa tindakan Gus Dur?
Oh ya saya bertanding. Jalan terus.
Ini kan membuat pengikut PKB bingung.
Ah, nggak ada yang bingung. Anda aja yang bingung. Loh, maaf ya, dari 440 cabang PKB, semuanya di belakang saya.
Apa tidak ada jalan islah [perdamaian]?
Nggak ada. Kecuali salah satunya harus kalah.
Tapi ini tidak sesuai dengan Gus Dur yang kita kenal, yang selalu membuka pintu maaf.
Bukan. Saya tetep menghargai islah. Muhaimin datang ke sini, salaman, baik, nggak ada masalah. Tapi, disuruh menempatkan dia, tidak akan mungkin. Karena dia tidak jujur. Jaman dulu ya, selesai Muktamar NU di Asem Bagus, Kyai Assad marah kepada saya bukan main. Karena saya melantik dan membiarkan pengurus-pengurus yang idhami, menjadi pengurus. Jadi saya begitu sudah sejak lama.
Lalu, kalau Gus Dur melihat jalan keluarnya apa?
Sudah. Itu nanti kita tentukan kalau sudah jelas siapa.
Ada yang merasa Gus Dur lebih mementingkan ego pribadi.
Bukan. Saya mementingkan kejujuran, keterbukaan, dan keadilan. Jangan keliru. Itu perjuangan kami dari dulu.
Lalu bagaimana Gus Dur melihat kader partai yang tadinya loyal kemudian berpindah ke kubu Muhaimin?
Mereka hanya memikirkan kedudukan. Pengen jadi [anggota] DPR. Kalau pilihannya cuma begitu, silakan. Saya bagi dua jenis manusia di dalam PKB. Satu manusia yang mementingkan kepentingan sendiri, ya itu seperti Muhaimin dan mereka itu. Kedua, mereka yang mementingkan kepentingan umum untuk dijalankan.
Lalu, bagaimana Gus Dur memandang mereka yang mbalelo , yang lompat pagar?
Ya biar aja. Enteng betul kok di PKB. Saya menyatakan mereka yang jadi anggota DPR-RI maupun legislatif, kalau ditentukan oleh DPP-nya, boleh jadi pengurus. Kalau nggak, ya nggak. Kepada KPU saya ngomong jelas sekali, bahwa kalau you nanti lihat daftar kami, dan you lihat daftar Muhaimin Iskandar, kemudian you campur, itu urusan you, bukan urusan saya. Saya nggak mau bikin ribut.
Dan dengan pindahnya loyalis ke kubu Muhaimin, apakah itu tidak akan dilihat sebagai menurunnya wibawa Gus Dur?
Terserah mau dibaca apa kek, terserah. Lihat saja dalam muktamar nanti. Muhaimin aja sudah dibikin pusing setengah mati, karena nggak ada yang nurut. apa Dia bikin DPP hanya lima belas yang ikut. Lainnya nggak mau.
Itu indikasi apa?
Ya dia sudah habis, nggak ada apa-apanya.
Seberapa marah Gus Dur pada Muhaimin?
Ini bukan soal marah tapi soal percaya apa nggak. Dan itu bukan saya yang menentukan, tapi rapat DPP secara musyawarah. Termasuk waktu Muhaimin dalam rapat yang dia ikuti, dia menyatakan mundur. Itu dia sendiri. Saya biasanya diam dalam rapat.
Boleh tahu, apa modal Gus Dur sehingga yakin akan memenangkan pemilu 2009?
Karena saya lebih realistis. Orang bertanya, Anda ini prosentasenya kecil. Yang mendukung saya ini, kecil prosentasenya. Tidak keluar dalam polling. Kenapa? Karena di negeri kita itu, orang yang ditanya di dalam polling, orang yang punya telepon. Di negeri kita, yang mayoritas orang yang nggak punya telepon. Simple.
Dan yang tak punya telepon itulah pendukung Gus Dur?
Lah, pemilih saya itu banyak. Kan mereka itu lari ke saya. Anda nggak lihat sih, tiap hari puluhan ribu rakyat ke sini.
Untuk mengenang setahun wafatnya KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Presiden RI ke-4 sekaligus Bapak Pluralisme dan Multikulturalisme Indonesia, kami memuat kembali wawancara eksklusif dengan beliau yang sempat dimuat di Majalah Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2008.
Selama hampir 2 jam Gus Dur ketika itu mengungkapkan lagi rencananya untuk maju sebagai kandidat Presiden RI di Pemilu 2009, persiteruannya dengan keponakannya sendiri di PKB, Muhaimin Iskandar, aliran Ahmadiyah, pemberantasan korupsi di Indonesia serta ketidakpercayaannya saat itu dengan pimpinan KPK hingga band rock favoritnya, Guns N" Roses. Semuanya dalam jawaban yang lugas dan ceplas ceplos khas Gus Dur. Setidaknya dalam beberapa dekade ke depan sangat sulit bagi negara ini untuk bisa memiliki lagi figur kharismatik nan kontroversial yang selalu berpihak bagi rakyat seperti dirinya. Selamat tinggal, Gus, selamat jalan, Guru Bangsa....
--------------------
Presiden Republik Indonesia keempat, K.H. Abdurrahman Wahid, membuka pembicaraan dengan sebuah lelucon soal Yesus Kristus. Dia terbahak setelah menceritakan lelucon itu. Lantas, tanpa diminta, pria yang lebih popular dengan nama Gus Dur itu menceritakan lagi sebuah lelucon. "Setelah Soeharto turun dari kepresidenan, dia mengatakan kepada pembantu-pembantunya, kenapa saya nggak dikenalkan dengan seorang makelar tanah dari Nazareth? "Ada apa Pak?" kata pembantunya. Lalu, Soeharto bilang, Saya dengar di sana kalau orang mati, setelah tiga hari, hidup lagi," kata Gus Dur sambil terbahak lagi. Kabar soal betapa Gus Dur gemar melontarkan joke seperti itu benar adanya. Sebuah penerbit bahkan menerbitkan buku dengan judul Mati Ketawa Ala Gus Dur.
Siang itu, Gus Dur tiba di kantor pusat Pengurus Besar Nahdatul Ulama sebelum jam dua belas siang, seperti yang dijanjikannya. Turun dari mobil dia langsung duduk di kursi roda menuju ruang kerjanya. Beberapa jurnalis televisi dari Belanda mengikutinya.
Gus Dur sendiri yang memilih tempat untuk wawancara dengan ROLLING STONE di kantor PB NU. Bangunan itu tak punya lobi yang memadai. Hanya sebuah meja, semacam meja resepsionis tapi tanpa penjaga, yang langsung menyambut di pintu masuk. Jika berjalan ke arah kiri pintu, Anda akan langsung menuju musholla, yang hanya menyediakan satu kursi kecil untuk menunggu.
Ruangan tempat Gus Dur menerima kami untuk tak begitu luas. Hanya ada satu meja di sana serta beberapa kursi. Singgasana tempat Gus Dur duduk sangat empuk. Lengkap dengan fasilitas penyetel sandaran kursi secara otomatis, melalui tombol di sebelah kanan Gus Dur. Suasananya mirip dengan ruang kerja Don Vito Corleone dalam film The Godfather.
Dalam konstalasi rock & roll, Gus Dur merepresentasikan semangat punk rock. Jika di tahun 1977 vokalis Sex Pistols Johnny Rotten berteriak lantang "Anarchy in the UK" maka Gus Dur di tahun 2001 tak hanya pandai bicara namun mewujudkannya. Sebagai Presiden Republik Indonesia yang mengemban amanat reformasi total, di tengah-tengah pro dan kontra, pada 23 Juli 2001 ia nekat mengumumkan Dekrit Presiden. Isinya membekukan MPR dan DPR, membubarkan Partai Golkar, dan menyelenggarakan Pemilu setahun kemudian. Dekrit ini ternyata kontraproduktif karena tidak mendapat dukungan polisi maupun militer. Alhasil Gus Dur justru "digulingkan" melalui Sidang Istimewa yang digelar beberapa hari kemudian.
Menjelang Pemilu 2009 mendatang Gus Dur jauh-jauh hari telah menyuarakan tekadnya untuk maju kembali ke dalam bursa presidensial. Aspek kesehatan jasmani yang membuatnya terjegal pada Pemilu 2004 silam tidak membuatnya risau. Dalam usianya yang 68 tahun, Gus Dur menyatakan siap bertempur. Sayangnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), kendaraan yang dipersiapkan untuk balapan tahun depan, kembali bermasalah. Terjadi dualisme kepemimpinan di dalamnya.
Kepada ROLLING STONE, Gus Dur menjawab semua pertanyaan secara lugas dan apa adanya.
Banyak yang penasaran apakah Gus Dur benar akan tetap mencalonkan diri 2009 nanti?
Ya. Saya disuruh orang tua. Umurnya 97 tahun. Selama dia belum mencabut [perintah itu], saya terus saja.
Seberapa hebat orang tua ini sampai Gus Dur begitu taat?
Di kalangan NU memang begitu, diharuskan taat pada orang tua. Dulu memang saya katakan di muka kamera televisi, saya mendukung Soesilo Bambang Yudhoyono sebagai calon presiden kalau dia punya keberanian untuk jadi presiden. Ternyata sampai sekarang dia tetap penakut.
Tapi, faktanya sekarang Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden..
Ya boleh-boleh aja. Tapi kan dia penakut. Nggak berani mengadakan tindakan apa-apa. Contoh yang paling gampang, teman-teman islam fundamentalis itu, nggak ada yang ditangkap.
Ada yang ditangkap, Gus.
Ya, tapi di dalam [penjara] hidupnya sangat enak. Mustinya itu kan menurut undang-undang kita, orang yang bawa senjata tajam terhunus, patut dituntut, dibawa ke pengadilan. Nyatanya nggak.
Semua mantan presiden tidak hadir di istana pada perayaan 17 Agustus lalu. Tapi Gus Dur hadir, seakan Gus Dur mendukung pemerintah yang sekarang.
Begini, 17 Agustus itu kan peringatan kemerdekaan bangsa kita, jangan dilihat sebagai soal pribadi. Saya ke sana dalam rangka menghormati 17 Agustus. Saya nggak senang caranya Megawati, semua dicampur aduk antara soal pribadi dan negara.
Bagaimana pandangan Gus Dur terhadap mantan presiden lain yang tidak mau hadir?
Itu urusan mereka. Mereka semua memang juga jengkel sama SBY. Tapi, soal negara jangan dicampur aduk dengan soal pribadi.
Banyak yang meminta sebaiknya Gus Dur tidak mencalonkan diri lagi.
Lah undang-undangnya bagaimana? Undang-undangnya mengatakan demokratisasi di Indonesia harus melalui parpol. Saya sudah punya parpol sendiri kan? PKB. Nah itu yang saya pakai. Kalau Anda diminta orang banyak untuk menjadi calon presiden, Anda harus dengarkan juga dong.
Tapi, PKB sedang bermasalah.
Sekarang ribut. Demi penyelesaiannya saya bilang, begini aja deh, biar nggak usah berantem, yang menjadi anggota DPR-RI melalui Muhaimin Iskandar. Dia nggak perlu jadi pengurus. Sebaliknya, yang ikut DPP, boleh jadi pengurus. Gitu aja.
Seorang Gus Dur dikenal sangat demokratis, tapi dalam pertikaian di tubuh PKB, Gus Dur terkesan otoriter?
Anda lupa satu hal. Bahwa kejujuran, keterbukaan, dan kebersihan itulah yang pokok. Muhaimin itu, nggak bisa mempertanggungjawabkan 14 milyar rupiah. Kalau nggak jujur, kita tinggalkan. PKB ini partai yang penuh kejujuran. Sekarang ini saya sedang mengadakan pembersihan dan pembenahan atas dasar kejujuran dan keterbukaan itu.
Tapi sebaliknya, kubu Muhaimin menuduh Gus Dur menerima uang dari Yusuf Emir Faishal [Ketua Komisi IV DPR, pengurus PKB]?
Saya? [nadanya meninggi]. Silakan buktikan! Jangan cuma ngomong aja.
Mereka punya bukti transfer dan tanda terima dari bendahara PKB.
Yang nerima siapa? Transfernya kepada siapa? Begini ya. Muhaimin itu pembohong. Saya tahu persis. [Dia] keponakan saya. Apa ya bener omongan mereka itu? Lah, begini ya, Si Aris Junaedi [bendahara PKB] itu, menerima uang dari Yusuf Faishal untuk kepentingan DPP PKB. Dia nanya saya, saya bilang terima aja, Anda sebagai bendahara, uangnya pegang. Kalau ada apa-apa, tanda terimanya pegang. Jadi, itu tanda terimanya tidak pribadi.
Artinya Gus Dur membantah terima uang Rp 300 juta?
Saya setiap bulan sudah ditanggung negara untuk pengobatan. Negara memberikan Rp 33 juta. Lebih dari cukup. Nggak habis iu. Kalau ada yang menuduh saya menerima uang itu, buktikan dong! Yang penting kan buktinya. Kalau ngomong aja gampang.
Kalau keponakan mbalelo [tidak nurut] kepada pamannya, apakah itu tanda respek yang hilang?
Terserah. Saya sih nggak ambil pusing. Yang penting dia jujur apa nggak. Begitu keluar pendapat dari Andi Matalata (menteri hukum dan ham), bahwa yang diakui sebagai wakil PKB adalah Muhaimin Iskandar dan Lukman Edi. Saya bilang ke anak saya Yeni, kamu nggak usah terusin. Tapi, saya nggak akan halangin kalau nanti dia dipilih lagi.
Gus Dur menuduh pemerintah ikut andil di dalam perpecahan di PKB. Maksudnya?
Oh iya. Karena Jusuf Kalla. Dia yang biayain itu semua. Segala macam keperluan Muhaimin Iskandar. Simple aja. Pemerintah berkepentingan saya nggak jadi calon presiden.
Ada buktinya?
Oh saya diberitahu orang dalam. Ini perbuatannya Jusuf Kalla. Orang ini nggak pernah keliru kok kalau memberi tahu saya. Dia orang dalam. Selama ini, kalau dia beritahu saya begini-begini, selalu benar. Termasuk soal SBY. Kalau dibilang SBY gini-gini, itu betul.
Tapi dari konteks hukum, Gus Dur kan kalah terus. Jadi, ada kesan Gus Dur ini tidak mengindahkan hukum?
Saya? Ya terserah. Kalau hukumnya curang? Pengadilannya curang?
Jadi, Gus Dur tidak percaya hukum Indonesia?
Oh nggak. Tidak percaya! [nadanya meninggi] Karena memang curang. Dari Mahkamah Agung ke bawah. Mau diapakan?
Akhirnya Mahkamah Agung memenangkan kubu Muhaimin, apa tindakan Gus Dur?
Oh ya saya bertanding. Jalan terus.
Ini kan membuat pengikut PKB bingung.
Ah, nggak ada yang bingung. Anda aja yang bingung. Loh, maaf ya, dari 440 cabang PKB, semuanya di belakang saya.
Apa tidak ada jalan islah [perdamaian]?
Nggak ada. Kecuali salah satunya harus kalah.
Tapi ini tidak sesuai dengan Gus Dur yang kita kenal, yang selalu membuka pintu maaf.
Bukan. Saya tetep menghargai islah. Muhaimin datang ke sini, salaman, baik, nggak ada masalah. Tapi, disuruh menempatkan dia, tidak akan mungkin. Karena dia tidak jujur. Jaman dulu ya, selesai Muktamar NU di Asem Bagus, Kyai Assad marah kepada saya bukan main. Karena saya melantik dan membiarkan pengurus-pengurus yang idhami, menjadi pengurus. Jadi saya begitu sudah sejak lama.
Lalu, kalau Gus Dur melihat jalan keluarnya apa?
Sudah. Itu nanti kita tentukan kalau sudah jelas siapa.
Ada yang merasa Gus Dur lebih mementingkan ego pribadi.
Bukan. Saya mementingkan kejujuran, keterbukaan, dan keadilan. Jangan keliru. Itu perjuangan kami dari dulu.
Lalu bagaimana Gus Dur melihat kader partai yang tadinya loyal kemudian berpindah ke kubu Muhaimin?
Mereka hanya memikirkan kedudukan. Pengen jadi [anggota] DPR. Kalau pilihannya cuma begitu, silakan. Saya bagi dua jenis manusia di dalam PKB. Satu manusia yang mementingkan kepentingan sendiri, ya itu seperti Muhaimin dan mereka itu. Kedua, mereka yang mementingkan kepentingan umum untuk dijalankan.
Lalu, bagaimana Gus Dur memandang mereka yang mbalelo , yang lompat pagar?
Ya biar aja. Enteng betul kok di PKB. Saya menyatakan mereka yang jadi anggota DPR-RI maupun legislatif, kalau ditentukan oleh DPP-nya, boleh jadi pengurus. Kalau nggak, ya nggak. Kepada KPU saya ngomong jelas sekali, bahwa kalau you nanti lihat daftar kami, dan you lihat daftar Muhaimin Iskandar, kemudian you campur, itu urusan you, bukan urusan saya. Saya nggak mau bikin ribut.
Dan dengan pindahnya loyalis ke kubu Muhaimin, apakah itu tidak akan dilihat sebagai menurunnya wibawa Gus Dur?
Terserah mau dibaca apa kek, terserah. Lihat saja dalam muktamar nanti. Muhaimin aja sudah dibikin pusing setengah mati, karena nggak ada yang nurut. apa Dia bikin DPP hanya lima belas yang ikut. Lainnya nggak mau.
Itu indikasi apa?
Ya dia sudah habis, nggak ada apa-apanya.
Seberapa marah Gus Dur pada Muhaimin?
Ini bukan soal marah tapi soal percaya apa nggak. Dan itu bukan saya yang menentukan, tapi rapat DPP secara musyawarah. Termasuk waktu Muhaimin dalam rapat yang dia ikuti, dia menyatakan mundur. Itu dia sendiri. Saya biasanya diam dalam rapat.
Boleh tahu, apa modal Gus Dur sehingga yakin akan memenangkan pemilu 2009?
Karena saya lebih realistis. Orang bertanya, Anda ini prosentasenya kecil. Yang mendukung saya ini, kecil prosentasenya. Tidak keluar dalam polling. Kenapa? Karena di negeri kita itu, orang yang ditanya di dalam polling, orang yang punya telepon. Di negeri kita, yang mayoritas orang yang nggak punya telepon. Simple.
Dan yang tak punya telepon itulah pendukung Gus Dur?
Lah, pemilih saya itu banyak. Kan mereka itu lari ke saya. Anda nggak lihat sih, tiap hari puluhan ribu rakyat ke sini.
0
1.6K
3
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.9KThread•59.4KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya