Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

ariesadharAvatar border
TS
ariesadhar
GENERASI BAHAGIA
Kemaren di Facebook dan di WhatsApp--serta mungkin di Path--muncul posting dengan kalimat awal begini...

"Berdasar penelitian beberapa psikolog
GENERASI BAHAGIA Itu, generasi kelahiran 1970-1990,
Dan itu adalah kami."

Saya cuma mau menulis sisi lainnya...

Kami memang adalah generasi terakhir yang masih bermain di halaman rumah yang luas. Ya, soalnya begitu cukup umur kami kan merantau ke ibukota, meninggalkan halaman rumah kami yang luas itu. Nanti juga halaman rumah yang luas itu kami jual ke developer. Kami dulu lari-lari dan sembunyi penuh canda tawa dan persahabatan, lho. Kami itu dulu main petak umpet, gobag sodor (Minangnya, cak sinan), lompat tali, bataliyon, masak-masakan dan apapunlah tanpa peringatan dari Bapak Ibu kami. Tapi begitu anak kami sekarang main di luar, kami harus ekstra waspada, jangan-jangan diculik sama penculik, ya, yang segenerasi dengan kami juga sih. Kami bisa bikin apapun pakai karet gelang, kulit jeruk, busi bekas, sampai kayu bekas. Dulu kami diajarin sama orangtua kami, sih. Iya, kakek nenek kalian. Sekarang, kami nggak cukup waktu untuk mengajarkan anak-anak kami mainan macam itu. Kami sibuk kerja. Kasih saja tablet kan beres.
Tahu nggak, dulu itu kami kalau pacaran ya ngantri di wartel, kirim-kiriman surat lalu menunggu balasannya. Kami dulu kalau PDKT kirim-kirim salam via radio. Waktu SD, kami pakai papan tulis warna hitam, pakai peruncing yang ada kaca kecil di salah satu bagiannya. Kami inilah generasi yang waktu SMP dan SMA masih pakai kapur! Iya, kapur! Kami ini dulu kalau pas di sekolah dengan rela hati dihukum sama guru, dipukul pakai kemoceng sudah biasa. Eh, tapi sekarang, kalau anak-anak kami dipukul kemoceng, ah, atau bahkan dijewer sama guru, pasti akan kami laporkan, minimal ke Kepala Sekolah, ke Polisi kalau perlu. Nggak peduli kalau anak-anak kami memang salah, memang ngelawan guru, pokoknya mereka nggak boleh disakiti. Gimana dong, kami kan sibuk di kantor, sibuk cari duit. Pulang juga jam 7 malam, masak sih anak kami yang kurang perhatian itu kudu disakiti?
Kami ini generasi yang ngerti awal mula yang canggih-canggih. Kalian pasti nggak tahu instruksi slash wgdoip apalah itu di Lotus123. Karena kami dapatnya semacam itu, makanya anak kami dari kecil--kalau berisik--dikasih smartphone saja biar diam. Nggak peduli di rumah makan, di rumah ibadah juga. Biar diam, kasih saja smartphone. Kami saling kenal via MIRC emoticon-Betty (S) . Kalian mah langsung kenal Facebook. Makanya, generasi kami juga kok yang bikin akun-akun fake di Facebook, terus kenalan sama generasi kalian, lalu kemudian bertindak tidak senonoh.
Generasi kami tumbuh dengan merekam lagu dari siaran radio ke kaset, lalu kalau butuh lirik ya disalin. Kalau kalian kenal dengan yang namanya download lagu, ya generasi kami juga sih yang ngupload. Kalau kalian kenal VCD dan DVD bajakan, ya generasi kami juga yang bikin. Gimana dong?
Kami ini tumbuh diantara para legenda sejenis Padi, Dewa (19), hingga Base Jam. Kami tumbuh sesuai usia, karena kecilan kami mendengar lagu yang tepat, dari Adi Bing Slamet sampai Tasya. Tapi, kalau anak-anak kami, adik-adik kalian, tidak mendengar lagu yang benar di usianya, ya maaf, itu generasi kami juga kok yang membuat lagu, mengatur waktu tayang, membuat tayangan yang bikin anak-anak mendengar lagu dewasa. Ya, memang begitu.
Tahu nggak, dulu waktu kami kecil itu jarang banjir loh. Bisa mandi di kali dengan gampang pula. Ya, cuma mungkin dalam perjalanan kami dari kecil jadi besar, kami buang sampah di kali, terus kalinya mendangkal, terus banjir deh pas kami-kami sudah menua begini. Ya, gimana lagi? emoticon-Hammer (S)
Waktu kecil kami punyanya cuma sepeda! Bayangkan! Sekarang, gimana mungkin anak-anak kami naik sepeda sementara jalanan penuh dengan manusia yang mengendarai kendaran bermotor. Eh, sebentar, itu memang generasi kami sih.
Kami hapal banget sama Pancasila, beneran emoticon-I Love Indonesia (S) . Hapal saja, sih. Makanya dari generasi kami masih ada saja yang bikin posting provokatif tentang agama, bikin fake posting di FB tentang isu kemanusiaan yang bukannya membantu malah memperkeruh suasana.
Sekarang kalian pasti sibuk belajar dengan kurikulum yang gawe mumet. Tenang, kami juga mumet mikir cicilan KPR.
Ya, mungkin ada sesuatu yang kalian rasakan sekarang, adalah gara-gara generasi kami juga.
Maaf adik-adik, selain belajar yang keras untuk mendapat kebahagiaan dengan cara kalian sendiri, mungkin kalian perlu tahu bahwa banyak hal dari generasi kami yang tidak bisa dicontoh.
Salam sayang dari kami. emoticon-Blue Guy Peace

Sumber: ARIESADHAR
0
1.7K
15
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The LoungeKASKUS Official
923.8KThread85.6KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.