- Beranda
- Berita dan Politik
Menerobos Batas Lewat Radio Internet
...
TS
catloveriz
Menerobos Batas Lewat Radio Internet
Quote:
Anak muda di sejumlah kota membuat radio siaran di internet dengan modal pas-pasan tanpa nebeng frekuensi radio yang amat padat. Lagu dari musisi favorit mereka bagikan. Kanal alternatif kemunculan band atau penyanyi bagus tengah disiapkan.
Lagu ”I Can See Clearly Now” baru saja usai. ”Itu lagu kesukaan almarhum bokap-nya Popo,” kata Gilang. ”Iya, betul. Dulu bokap gue selalu mengira lagu itu yang nyanyi orang Ambon, Yopi Latul,” kata Popo. Gilang menjelaskan, penyanyi lagu itu adalah Jimmy Cliff. Lalu mereka berdua tertawa berderai-derai.
Itu potongan percakapan ringan di program Menggambar di Udara pada Kamis (5/2) menjelang tengah malam. Program diasuh Valentinus Gilang atau Gilang Gombloh dan Popo yang bernama lahir Riyan Riyadi. Mereka penyiar di radio tanpa gelombang, RURUradio. Untuk mendengar siarannya, klik tombol play di laman rururadio.org.
Malam itu, topik siarannya adalah pro dan kontra pelarangan penjualan pakaian impor bekas. Gilang dan Popo memperagakan percakapan via telepon antara ”Ratna”, mahasiswi, yang protes atas larangan itu kepada ”Menteri Perdagangan Rachmat Gobel”. Protes itu ditolak, dengan alasan ”Ratna” belum mengerjakan skripsi. Tidak nyambung memang, tetapi itu menggambarkan ketidakberdayaan orang biasa di hadapan pemerintah. Percakapan fiktif itulah yang mereka maksud dengan Menggambar di Udara. Mereka mendeskripsikan sikap mereka lewat ilustrasi.
”Dulunya malah kami minta pendengar betul-betul menggambar sesuai tema. Gambarnya dibagikan melalui Twitter,” kata Gilang yang berpasangan dengan Popo di radio itu sejak 2011.
Walau sudah siaran sejak empat tahun lalu dan pernah vakum, radio itu baru merayakan peluncurannya pada 1 Februari di kafe Ecobar 365, Kemang, Jakarta Selatan. Penonton penuh sesak di dalam, sama banyaknya dengan yang tidak kebagian tempat di luar. Penampil di acara itu adalah Danilla, Bedchamber, Mondo Gascaro, Gribs, Goodnight Electric, Bite, White Shoes and the Couples Company, The Upstairs, dan beberapa disc jockey.
Para penampil seolah menjelaskan referensi musik yang diputar di RURUradio. Di komputer ruang siaran, terpasang 300 lagu pada perangkat lunak Winamp. ”Daftar lagu itu untuk siaran selama sebulan. Kami tinggal play saja,” kata Gilang.
Mereka juga punya program tembang terbaik atau chart, namanya Q-Chart. Urutan di program itu hanya memuat sembilan lagu, tanpa nomor 4, diganti nomor 3a dan 3b. ”Kiblatnya hitungan Tiongkok,” kata Arie ”Dagienkz” Apriludy, manajer radio itu.
Radio lainnya, Bukanradiofm, juga memutarkan musik dari band ”asing”, seperti Sekar Sriwedari. Di Bandung, Jawa Barat, ada Roi-radio yang memutarkan lagu-lagu kesukaan penyiarnya, yang belum tentu dikenal orang banyak, seperti band Rusa Militan, Fox and the Thieves, dan Helliost. ”Band-band ini sebenarnya punya karya bagus, hanya jarang mendapat tempat di media massa. Kami buat wadah untuk menyiarkan lagu-lagu mereka,” kata Bima Dwidiptayana, produser Roi-radio.
Radio yang ”mengudara” sejak 2013 itu bisa disimak melalui laman Roi-radio.com. Roi-radio juga menerima kiriman lagu demo dari band baru dari sejumlah kota, seperti MukaBasi dari Bireuen, Aceh, dan juga Black Hawk dari Palembang, Sumatera Selatan. Lagu demo itu mereka putar di program tembang musik cadas (rock) setiap Senin dan Selasa malam.
Yogyakarta juga punya radio internet, salah satunya Pamityang2an (dibaca ”pamit yang- yangan” atau pamit pacaran). Namanya selucu nama program-programnya, seperti Ansori, singkatan dari Alternatif Sore Hari. Ada juga Gadis Desa, Galau Indies Indonesia dan Ngemut alias Ngerock Malam Jumat. Mereka juga memutarkan tembang campursari di program Ngelaras Campursari Enggal.
Pamityang2an tidak menyiarkan percakapan penyiarnya. Sebagai gantinya, mereka berkicau melalui Twitter. Radio ini baru merayakan ulang tahun keempat pada September 2014. Mereka juga sering siaran langsung pertunjukan musik yang dikerjakan kawan mereka atau band yang mereka suka, seperti pentas Ngayogjazz 2014, November 2014, dan konser ulang tahun band Sheila on 7.
Semangat alternatif melalui radio seperti ini tergambar di film The Boat That Rocked (2009). Berlatar Inggris tahun 1966, radio resmi saat itu, BBC, hanya memutarkan musik pop kurang dari satu jam.
Kaum muda Inggris terlihat tak bergairah dengan siaran radio yang ada. Lantas, segerombolan pencinta musik membuat ”radio gelap” yang hanya memutar lagu pop dan rock ’n roll. Mereka siaran dari kapal yang terapung di laut.
Pada era digital ini, radio internet bisa jadi solusi pas memutar karya musik yang segar tanpa dibatasi gelombang. Sayangnya, kecepatan koneksi internet di Indonesia belum merata dan banyak dikeluhkan.
Sumber : Kompas
0
3.7K
Kutip
2
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.8KThread•59.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya