- Beranda
- Berita dan Politik
SBY Ingin Menjaga Hati Megawati. Wikileaks Ungkap Koneksi Segitiga SBY, Mega& Prabowo
...
TS
b4djul
SBY Ingin Menjaga Hati Megawati. Wikileaks Ungkap Koneksi Segitiga SBY, Mega& Prabowo

SBY dan Megawati
SBY Ingin Menjaga Hati Megawati
Rabu, 07/05/2014 15:50 WIB
Jakarta - Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra yang juga menjadi calon presiden, Prabowo Subianto, mengaku menunggu sikap politik dari Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Dukungan SBY bagi Prabowo dinilai sangat penting.
Posisi SBY dalam percaturan politik nasional dianggap mempunyai pengaruh yang besar. Perolehan suara Partai Demokrat pada pemilu legislatif 2014 yang sekitar 9,70 persen membuat peran SBY di ajang pemilu presiden nanti cukup menentukan.
"Dukungan SBY untuk Prabowo tentu cukup penting karena mungkin akan ikut mendorong partai politik lain untuk ikut koalisi dengan Prabowo," kata pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris kepada detikcom, Rabu (7/5/2014).
SBY dan Prabowo yang sama-sama berasal dari kalangan militer dalam beberapa kesempatan sebelum ajang pemilu legislatif 2014 juga telah bertemu. Setelah Pileg 9 April lalu dan hasil penghitungan cepat perolehan suara parpol diketahui, kedua tokoh itu juga santer disebut-sebut bakal bertemu.
Syamsuddin, yang menjadi peneliti senior pada Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI ini mencermati ketidakhamonisan hubungan SBY dengan Ketum PDIP Megawati selama ini membuat SBY mesti hati-hati dalam bersikap.
Menurut Syamsuddin, SBY tidak ingin membuat Megawati "sakit hati" lagi seperti ketika ia mengalahkan Megawati pada pemilu 2004 dan 2009. Di pemilu 2014 ini, Mega sangat-sangat mengharapkan capres yang diusung partainya, Joko Widodo, dapat merebut kursi presiden yang selama dua periode diduduki oleh SBY.
"Saya berpendapat SBY tidak akan mendukung Prabowo secara publik karena SBY ingin menjaga hati Megawati," ujar Syamsuddin dalam pengamatannya
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menyindir salah satu calon presiden yang kerap menyuarakan ingin menasionalisasi alias mengambil alih semua aset asing yang ada di Indonesia. Niat tersebut menurut SBY akan berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia.
"Besok kita dituntut di pengadilan arbitrase, lusa kita bisa kalah, kalahnya itu akan memporakporandakan perekonomian kita, dampaknya dahsyat. Kalau ada seorang capres yang bersikukuh akan menasionalisasi aset asing, saya tidak akan memilihnya, tidak akan mendukungnya, karena saya tahu risikonya, itu membawa malapetaka bagi Indonesia," kata Yudhoyono seperti dikutip dari Suara Demokrat yang diunggah di Youtube, Rabu (7/5/2014).
"Yang jelas saya tidak akan memilih calon presiden kalau tidak yakin bahwa yang dijanjikan bisa dilaksanakan, tidak muluk-muluk, yang dilaksanakan membawa manfaat nyata bagi kita semua," imbuh SBY.
SBY tak menyebut nama calon presiden yang dia maksud. Namun dalam catatan detikcom selama masa pemilihan anggota legislatif tahun ini, ada dua pihak berseteru soal aset asing di Indonesia.
Pada 26 Maret lalu misalnya, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon membuat sebuah puisi sindiran soal penjualan aset negara. Sajak satire ini diduga diarahkan untuk menyindir Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.
Berikut puisi lengkap Fadli Zon berjudul 'Air Mata Buaya' yang dibuat sepekan setelah PDI Perjuangan resmi mengusung Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden.
Air Mata Buaya
Kau bicara kejujuran sambil berdusta
Kau bicara kesederhanaan sambil shopping di Singapura
Kau bicara nasionalisme sambil jual aset negara
Kau bicara kedamaian sambil memupuk dendam
Kau bicara antikorupsi sambil menjarah setiap celah
Kau bicara persatuan sambil memecah belah
Kau bicara demokrasi ternyata untuk kepentingan pribadi
Kau bicara kemiskinan di tengah harta bergelimpangan
Kau bicara nasib rakyat sambil pura-pura menderita
Kau bicara pengkhianatan sambil berbuat yang sama
Kau bicara seolah dari hati sambil menitikkan air mata
Air mata buaya
Apakah pidato Yudhoyono di Suara Demokrat tersebut untuk membela Megawati?
http://news.detik.com/pemilu2014/rea...-hati-megawati

source: https://www.wikileaks.org/plusd/cabl...ARTA826_a.html
Wikileaks Ungkap Koneksi Segitiga SBY, Megawati dan Prabowo
Selasa, 6 Mei 2014 15:48 WIB
Pada 2009, SBY mencoba menjalin koalisi dengan Megawati Soekarnoputri dengan menawarkan sekitar enam posisi menteri, plus posisi Megawati sebagai ketua Dewan Pertimbangan Presiden.
JAKARTA, Jaringnews.com - Dalam sebuah dokumen analisis intelijen yang dilansir oleh Wikileaks, terungkap koneksi segitiga antara kubu Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati dan Prabowo Subianto, yang selama ini belum banyak diketahui publik. Koneksi itu menggambarkan hal yang justru berbalikan dari kesan yang umum selama ini. Misalnya, hubungan SBY dan Megawati ternyata tak sesuram yang digambarkan, sebaliknya, koneksi antara Megawati dan Prabowo tak semesra yang dipersepsikan.
Dalam dokumen bernomor 09JAKARTA826_a itu, terungkap sebuah analisis yang dibuat oleh Joseph L. Novak yang berbasis di Jakarta dan dikirimkan ke kantor CIA, Kementerian Luar Negeri AS, Dewan Keamanan AS, Intelijen Pertahanan Amerika Serikat dan ASEAN. Analisis itu tertanggal 12 Mei 2009.
Joseph L. Novak membuat analisis terkait dengan situasi politik pada tahun 2009, ketika Pilpres menjelang, dimana kandidat terkuat yang akan bertarung ketika itu adalah SBY sebagai presiden petahana dan Megawati Soekarnoputri, ketua umum PDIP dari kubu oposisi. Kandidat lain, ketika analisis itu dibuat, yaitu Jusuf Kalla sebagai ketua umum Partai Golkar, juga diperhitungkan tetapi tidak terlalu dominan.
Menurut Novak, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika itu telah mencoba menjalin koalisi dengan Megawati Soekarnoputri. Disebutkan bahwa SBY dan Megawati telah bertemu pada tanggal 8-9 Mei tahun itu, dan pada tanggal 10 Mei, SBY memberikan pernyataan, bahwa ada niat baik dari kedua partai (Partai Demokrat dan PDIP) untuk melakukan komunikasi, pembicaraan serius dan bila memungkinkan, rekonsiliasi.
Menurut Wikileaks, pada tanggal 6 Mei 2009, SBY mengutus Hatta Rajasa ke rumah Megawati. Pertemuan mereka juga dihadiri oleh Ketua Dewan Penasihat PDIP, Taufik Kiemas dan Sekjen PDIP, Pramono Anung. Pembicaraan ditujukan untuk mencari titik persamaan platform dan pembagian portofolio kabinet.
Dalam pembicaraan itu, Megawati digambarkan menetapkan harga yang sangat tinggi bagi terciptanya koalisi dengan partai yang sedang berkuasa saat itu. SBY dilaporkan menawarkan sekitar enam posisi menteri, plus posisi Megawati sebagai ketua Dewan Pertimbangan Presiden. Posisi-posisi itu, antara lain akan diberikan kepada Sekjen PDIP, Pramono Anung dan putri Megawati, Puan Maharani.
Adanya kemungkinan koalisi ini telah membuat konstelasi politik saat itu menjadi berubah, baik di dalam Partai Demokrat maupun PDIP sendiri. Di Partai Demokrat, bila hal ini terjadi, akan menyebabkan posisi Wapres yang semula diplot untuk Hatta Rajasa, harus berubah karena PDI-P kurang menyukai dia.
Nama Boediono, yang saat itu sudah pensiun sebagai Gubernur BI, semakin lebih berpeluang. Ekonom kelahiran Blitar ini digambarkan lebih disukai oleh Megawati. Lagipula Megawati sudah cukup mengenalnya karena di masa pemerintahannya sebelumnya, Boediono menjadi menteri keuangan. Walaupun Boediono bukan berasal dari PDIP, dukungan partai itu kepadanya diperkirakan cukup kuat.
Di sisi lain, di PDIP sendiri ada persoalan perihal Prabowo Subianto, mantan Pangkostrad yang akan dipasangkan dengan Megawati apabila maju dalam pertarungan Pilpres. Novak menggambarkan bahwa Prabowo sebetulnya kurang berminat menjadi orang nomor dua dan lebih menginginkan sebagai capres ketimbang cawapres.
Dengan adanya tawaran SBY, demikian analisis Novak, PDIP semakin membuka kemungkinan mencoret Prabowo sebagai cawapres, apalagi bila mempertimbangkan track recordnya yang suka berubah-ubah dan catatan buruknya terkait hak asasi manusia. Apabila ini terjadi, menurut analisis Novak, peluang Prabowo untuk membentuk koalisi untuk pencapresan dirinya semakin tipis. Sebab pada saat yang sama, Partai Golkar telah mengumumkan akan memajukan capresnya sendiri, yaitu Jusuf Kalla.
Lagipula Novak memberikan catatan bahwa koalisi Megawati dan Prabowo akan sangat merugikan Megawati. Sebab, Megawati dikenal pendukungnya dengan reputasi sebagai lawan kuat rezim Soeharto. Sementara Prabowo adalah salah satu pembela terkuat dari mantan mertuanya tersebut.
Walaupun Novak tampak optimis akan terciptanya koalisi SBY-Megawati itu, pada akhirnya ia mengakui bahwa situasinya masih sangat cair dan sulit diprediksi. Apalagi, menurut dia, sejumlah partai berbasis Islam sudah menyuarakan ketidaksenangan, bahkan mengancam mundur dari koalisi apabila mengikutsertakan PDI-P. Oleh karena itu, menurut Novak, kuncinya terletak pada kemampuan SBY mempertahankan mitra koalisinya, sambil pada saat yang sama tetap membawa PDIP turut serta ke dalamnya.
Sejarah kemudian mencatat, pasangan SBY-Boediono akhirnya memenangi Piplres 2009, mengalahkan Megawati-Prabowo dalam satu kali putaran.
http://jaringnews.com/politik-perist...ti-dan-prabowo
PDIP Tolak Permintaan SBY Bertemu Megawati
Senin, 28 April 2014, 12:41 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PDI Perjuangan (PDIP) menolak permintaan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang ingin bertemu dengan ketua umum Megawati Sukarnoputri. Bagi PDIP komunikasi politik antarkedua pemimpin partai cukup diwakilkan oleh masing-masing pengurus partai atau fraksi.
"Kan juga sudah mewakili posisi politik Bapak SBY dan Ibu Mega," kata Sekjen DPP PDIP, Tjahjo Kumolo dalam pesan singkat yang diterima Republika, Senin (28/4).
Tjahjo mempertanyakan alasan SBY menemui Megawati. Menurutnya tidak ada dasar yang membuat kedua tokoh pimpinan partai bertemu dalam waktu dekat. Karena baik Megawati atau SBY sama-sama sedang sibuk mengurus partai jelang pilpres 2014. "Bapak SBY harus ketemu sama Ibu Megawati apa harus mendesak? Kan tidak," ujarnya.
Tjahjo membantah penolakan PDIP mempertemukan Megawati dan SBY karena masalah pribadi keduanya. Dia menyatakan Megawati tidak memiliki persoalan dengan SBY baik secara personal mau pun presiden.
Kalau Megawati mengkritisi kebijakan pemerintah, itu dilakukan dalam kapasitas sebagai ketua umum partai. "Sifatnya resmi pernyataan politik kan wajar karena posisi politik PDIP di luar pemerintahan Pak SBY," katanya.
Tjahjo menilai permintaan SBY bertemu Megawati tidak perlu dibesar-besarkan. Sebab saat ini Demokrat sedang melangsungkan konvensi untuk mencari capres. Sedangkan PDIP juga sudah menetapkan Joko Widodo (Jokowi) sebagai capres. Artinya, baik PDIP dan Demokrat sama-sama sudah menentukan posisi capres.
Menurutnya, selama ini komunikasi antara PDIP dan Demokrat di parlemen berjalan baik dan konstruktif. Masing-masing fraksi sama-sama bisa saling menghormati. Tjahjo berharap masing-masing pimpinan partai bisa terus menjalin dialog yang bertujuan memperkuat konsep kepemimpinan nasional ke depan.
http://www.republika.co.id/berita/na...rtemu-megawati
Ini yang Bikin SBY Sakit Hati kepada Megawati
Senin, 20 Januari 2014 13:00 wib

SBY
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Foto: Reuters) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Foto: Reuters) JAKARTA - Pada saat pelantikan Megawati sebagai Presiden RI menggantikan Gus Dur yang diberhentikan oleh MPR melalui sidang istimewa di tahun 2001 lalu, ternyata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memendam rasa sakit hati dan sedih karena ia ditolak oleh Mega untuk mendampinginya sebagai wakil presiden.
SBY mengungkapkan rasa sakit hatinya tersebut melalui buku yang ia tulis sendiri dengan judul Selalu Ada Pilihan.
"Saya yang berada di luar pemerintahan, atas dukungan banyak kalangan dan sejumlah fraksi di MPR ikut mengajukan diri sebagai calon wakil presiden. Saya berani maju karena polling yang dilakukan oleh berbagai lembaga survei menunjukan dukungan rakyat untuk saya tinggi," tulis SBY seperti dikutip Okezone dalam bukunya, Senin (20/1/2014).
Namun saat itu, Hamzah Haz yang merupakan ketua umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) terpilih menjadi wakil presiden mendampingi Megawati. Ia pun sakit hati dan bersedih atas keputusan tersebut.
"Yang ingin saya ceritakan di sini adalah apa yang saya rasakan dan lakukan setelah saya kalah dalam pemilihan wakil presiden saat itu. Menyangkut perasaan, tentu saya sakit hari dan sedih. Omong kosong kalau ada yang mengatakan kalah dalam pemilihan presiden atau wakil presiden itu biasa saja tidak ada sedihnya," kata SBY.
Kendati demikian, SBY enggan berlarut-larut meratapi kesedihannya itu. Ia pun bisa mengontrol emosi dan menyimpulkan kekalahannya itu.
"Tetapi bagi saya kesedihan itu tidak berlangsung lama. Karena dengan penalaran yang saya lakukan, saya bisa mengontrol emosi saya. Saya menyimpulkan bahwa saya kalah, ya karena saya salah. Saya sendiri yang salah memahami apa arti sistem pemilihan yang tidak langsung," ungkapnya.
Saat itu SBY berpikir akan menang karena dukungan rakyat yang begitu tinggi. Namun ia lupa bahwa saat itu yang memilih seorang calon wakil presiden hanyalah 700 orang anggota MPR. Bukan ratusan juta rakyat Indonesia. SBY pun telah bisa menerima kekalahannya sebagai wakil presiden dan mengajak pendukung dan konstituennya untuk mendukung wakil presiden terpilih.
"Saya mengajak para pendukung dan konstituen saya untuk mendukung wakil presiden terpilih, agar beliau berhasil dalam mengemban tugas-tugasnya," tutup SBY.
http://news.okezone.com/read/2014/01...epada-megawati
Bohong atas Nama Tuhan Alasan Megawati Benci SBY
Minggu, 16 Januari 2011 , 14:57:00 WIB
RMOL. Kebohongan SBY dinilai sudah melampauai batas karena tidak hanya membohongi rakyat tapi juga membohongi Tuhan.
"SBY bukan hanya membohongi rakyat tapi SBY sudah membohongi Gusti Allah. Tanya Megawati, tanya Endriartono Sutarto. Endriartono penah tanyakan dua sampai tiga kali kepada SBY. SBY jawab, demi Tuhan saya tidak akan mencalonkan presiden. Tapi dia ternyata mencalonkan. Itu juga yang membuat kenapa Mega sampai sekarang benci dengan SBY," kata mantan politisi PDI Perjuangan, Permadi, dalam diskusi dengan tajuk Penyelesaian Kasus Century Pasca Putusan MK di Doekoen Coffee, Jakarta Selatan (Minggu, 16/1).
Selain itu, kata Permadi, yang kini menjadi Dewan Pembina Partai Gerindra, SBY juga melakukan kebohongan soal harta kekayaan.
"Apakah kalian percaya kalau harta SBY Rp 6,2 miliar? Kalau saya tidak percaya. Ibas baru beli pesawat pribadi. Masa kekayaannya cuma Rp 6,2 miliar," demikian Permadi
http://www.rakyatmerdekaonline.com/n...s.php?id=15172
[mg]http://cdn.sindonews.com/dyn/620/content/2014/04/29/113/858603/c8FxIbqycP.jpg/img]
Kecurangan Jadi Penyebab Kekecewaan Megawati ke SBY
January 21, 2014
PERISTIWA.CO-JAKARTA: Politisi PDI Perjuangan, Hendrawan Supraktikno membantah Megawati Soekarnoputri merasa sakit hati dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam Pemilu Presiden (pilpres) 2004 dan 2009.A
Sikap “dingin” Megawati kepada SBY lebih disebabkan oleh penyelenggaraan pemilu yang tidak fair dalam dua periode tersebut. “Ibu Megawati tidak sakit hati. Kami hanya merasa dicurangi,” kata Hendrawan kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa (21/1).
Hendrawan menyatakan PDIP banyak menemui kecurangan dalam Pemilu 2004 dan 2009. Kecurangan itu misalnya terdapat dalam data daftar pemilih tetap (DPT) yang ambaradul, sistem informasi teknologi KPU yang tidak transparan, dan intervensi intelijen. “Intinya pemilu tidak jujur, adil, langsung, umum, dan bebas rahasia,” ujarnya.
Ibarat pertandingan sepak bola, kata Hendrawan, para pemain akan sulit menerima hasil pertandingan apabila penyelenggara pertandingan bertindak manipulatif. “Ibarat sepak bola kita tidak bisa mengakui hakim garis dan wasit disuap,” katanya.
Hendrawan menjelaskan sikap “dingin” Megawati terhadap SBY juga dimaksudkan untuk menegaskan sikap oposisi PDIP. Menurutnya, Megawati ingin meneguhkan konsistensi politiknya di mata para kader akar rumput PDIP.
“Ibu ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa ketum PDIP masih tangguh. Masih konsisten. Sehingga garis positioning kita sebagai oposisi jelas,” ujarnya.
Sebelumnya SBY dalam buku terbarunya “SBY Selalu Ada Pilihan” menyebut ada peserta Pilpres 2004 yang tidak terima dengan kemenangannya. Meskipun SBY tidak spesifik menyebut pihak itu adalah Megawati, namun sejumlah internal PDIP mengganggap apa yang ditulis SBY ditujukan kepada Megawati.
“Susah untuk dimungkiri pernyataan itu tidak dialamatkan untuk ketua umum kami,” ujar Ketua DPP PDIP, Rochmin Dahuri. (
http://www.peristiwa.co/kecurangan-j...ti-ke-sby.html
-------------------------------
Mau Jokowi, mau Prabowo atau kah maunya si Ical yang menang menjadi Presiden kelak, kalau hanya menguntungkan segelintir investor diseluruh dunia untuk membawa duit/modalnya, rakyatya nilai skore Affandi termasuk baik.menguntungkan saat ini

Diubah oleh b4djul 07-05-2014 22:09
0
5.4K
6
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.7KThread•59.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya