- Beranda
- The Lounge
Air Mata di Sungai Tambak Beras
...
TS
hardy2000
Air Mata di Sungai Tambak Beras
Spoiler for Satu:
Ranggalawe memberontak. Ini akibat kekecewaan yang mendalam atas pengangkatan Rakyan Mapatih Nambi. Menurut Ranggalawe, Lembusora lah yang lebih layak. Tidak jelas juga, apakah pendapat Ranggalawe itu disebabkan Lembu sora yang masih pamannya? Ataukah karena secara obyektif dia menilai bahwa lembu sora memang lebih layak. Tapi Sabda Pandito Ratu. Keputusan raja sudah dibuat, tak akan dibatalkan. Tak ada anggota DPR yang bisa membuat interpelasi. Keputusan jalan terus!
Padahal Lembusora sendiri juga bisa menerima. Kalau dalam hatinya, mana ada yang tahu. Tapi ketika diwawancarai wartawan online, Lembu sora bilang, Aku rapopo. Aku rapopo. Bisa jadi itu cerminan kedewasaan berpikir sebagai negarawan yang luar biasa. Kepentingan bangsa dan negara lebih berharga daripada derajat pribadi.
Padahal Lembusora sendiri juga bisa menerima. Kalau dalam hatinya, mana ada yang tahu. Tapi ketika diwawancarai wartawan online, Lembu sora bilang, Aku rapopo. Aku rapopo. Bisa jadi itu cerminan kedewasaan berpikir sebagai negarawan yang luar biasa. Kepentingan bangsa dan negara lebih berharga daripada derajat pribadi.
Spoiler for DUA:
Berbeda dengan Ranggalawe, adipati Tuban. Dia orang muda. Pemikirannya logis. Rada sedikit brangasan. Ya mirip mirip peristiwa Rengasdengklok lah. Ketika anak muda nggak sabar untuk segera bertindak. Apalagi Ranggalawe sakti mandraguna. Satria pilih tanding. Konon senjata yang dimiliki setara dengan M16 buatan AS itu. Walaupun tingkat kehandalannya masih kalah dengan AK47 buatan Rusia.
Anak muda, sakti, adipati dan sedang kecewa, itu bisa sangat berbahaya. Siapa yang bisa menandingi?
Raja Majapahit sampai bingung, siapa yang akan dikirim menumpas Ranggalawe. Senapati Majapahit Kebo anabrang tidak cukup sakti untuk menghadang. Ibarat Doktor lulusan Jerman melawan Sarjana lulusan dalam negeri. Walaupun tentu tidak meremehkan yang dalam negeri, tapi kelasnya saja sudah berbeda. Memang, Kebo Anabrang memiliki ajian supit urang. Tapi ajian ini efektif di dalam air. Medan peperangan sangat luas. Jauh lebih luas daratannya daripada airnya. Maka kemungkinan berperang di dalam air sangatlah kecil. Tapi sebagai tentara NKKM (Negara Kesatuan Kerajaan Majapahit) dia harus berangkat.
Memang Lembu sora ikut serta. Tapi peranan nya kayaknya sebagai negosiator saja. Hubungan kekerabatan yang masih keponakan sendiri, membuat Kebo anabrang pesimis, apakah Lembu sora akan membantunya.
Anak muda, sakti, adipati dan sedang kecewa, itu bisa sangat berbahaya. Siapa yang bisa menandingi?
Raja Majapahit sampai bingung, siapa yang akan dikirim menumpas Ranggalawe. Senapati Majapahit Kebo anabrang tidak cukup sakti untuk menghadang. Ibarat Doktor lulusan Jerman melawan Sarjana lulusan dalam negeri. Walaupun tentu tidak meremehkan yang dalam negeri, tapi kelasnya saja sudah berbeda. Memang, Kebo Anabrang memiliki ajian supit urang. Tapi ajian ini efektif di dalam air. Medan peperangan sangat luas. Jauh lebih luas daratannya daripada airnya. Maka kemungkinan berperang di dalam air sangatlah kecil. Tapi sebagai tentara NKKM (Negara Kesatuan Kerajaan Majapahit) dia harus berangkat.
Memang Lembu sora ikut serta. Tapi peranan nya kayaknya sebagai negosiator saja. Hubungan kekerabatan yang masih keponakan sendiri, membuat Kebo anabrang pesimis, apakah Lembu sora akan membantunya.
Spoiler for TIGA:
Sebetulnya lembu sora sudah mengingatkan keponakan tersayang itu. Berjuang itu harus tulus. Memgabdi pada negara. Melawan negara itu dianggap pemberontak. Bughat. Tapi Ranggalawe sudah bertekat bulat. Sekali melangkah pantangan menoleh ke belakang lagi.
Parajurit Tuban sudah siap. Pasukan segera berangkat. Menyongsong tentara Majapahit yang akan datang. Semua penuh dengan pede. Bukan hanya tiga besar, satu besar seolah olah sudah di tangan. Sebagai penguasa tunggal di Nusantara. Sebelum berangkat, pamitlah dia kepada istrinya dan juga kepada anaknya yang masih kecil. Sambil diberikan juknis apa yang harus dilakukan seandainya pasukan Tuban kalah.
Istrinya memeluknya dengan haru. Ada getaran aneh. Getaran perpisahan yang akan datang lebih cepat.
Parajurit Tuban sudah siap. Pasukan segera berangkat. Menyongsong tentara Majapahit yang akan datang. Semua penuh dengan pede. Bukan hanya tiga besar, satu besar seolah olah sudah di tangan. Sebagai penguasa tunggal di Nusantara. Sebelum berangkat, pamitlah dia kepada istrinya dan juga kepada anaknya yang masih kecil. Sambil diberikan juknis apa yang harus dilakukan seandainya pasukan Tuban kalah.
Istrinya memeluknya dengan haru. Ada getaran aneh. Getaran perpisahan yang akan datang lebih cepat.
Spoiler for EMPAT:
Sorak sorai kedua pasukan bertemu. Lembing dan panah berdesing. Perisai seringkali tidak mampu melindungi pemiliknya. Memang tidak enak sebagai grassroot. Mereka bertempur sepenuh hati. Bahkan kabarnya kemarin kedua pasukan sudah berperang di dunia maya. Mereka kalau ada apa apa mati terlebih dahulu. Tapi perbedaan yang mendasar pertempuran di masa itu adalah, saat anak buah bertempur habis-habisan, para penggedenya juga bertempur. Bukan malah kelak bersama sama bagi bagi proyek. Mengkhianati para simpatisan dan anggotanya. Pemimpin saat itu kalau berperang ada di depan, sebagai simbol perjuangan.
Kedua pasukan segera saling bunuh. Pasukan Majapahit yang lama nggak berlatih segera kocar kacir. Tubuh mereka kalah trengginas dibanding pasukan Tuban. Apalagi mereka, prajurit Tuban bertempur demi darah dan kehormatan. Ranggalawe mengamuk bagaikan banteng ketaton. Luka hatinya harus dituntaskan. Sia sia saja rayuan dari pamannya lembu sora via email, facebook, path bahkan instagram. Lembusora menunjukkan foto foto selfie di masa lalu. Tapi tak ada yang bisa merayu. "......tidak juga engkau" kata Chairil Anwar dalam puisinya AKU.
Senjata sakti yang mirip M16 itu segera mencari mangsa. Sekali peluru keluar, tak ada yang bisa selamat. Bahkan tim IT Majapahit yang mati matian berusaha meretas keampuhannya, sia sia saja. Karena dilindungi oleh semacam invisible power yang luar biasa.
Kedua pasukan segera saling bunuh. Pasukan Majapahit yang lama nggak berlatih segera kocar kacir. Tubuh mereka kalah trengginas dibanding pasukan Tuban. Apalagi mereka, prajurit Tuban bertempur demi darah dan kehormatan. Ranggalawe mengamuk bagaikan banteng ketaton. Luka hatinya harus dituntaskan. Sia sia saja rayuan dari pamannya lembu sora via email, facebook, path bahkan instagram. Lembusora menunjukkan foto foto selfie di masa lalu. Tapi tak ada yang bisa merayu. "......tidak juga engkau" kata Chairil Anwar dalam puisinya AKU.
Senjata sakti yang mirip M16 itu segera mencari mangsa. Sekali peluru keluar, tak ada yang bisa selamat. Bahkan tim IT Majapahit yang mati matian berusaha meretas keampuhannya, sia sia saja. Karena dilindungi oleh semacam invisible power yang luar biasa.
Spoiler for LIMA:
Pasukan Majapahit terdesak. Mereka berlarian berusaha menyeberang sungai tambak beras. Yang tidak bisa berenang segera dibantai. Majapahit dalam kondisi yang sangat kritis.
Panglima Kebo Anabrang sangat shock. Segala macam rapalan matek aji, tidak mempan. Bagaimana mungkin, Ranggalawe terlalu sakti. Tidak mungkin jika dia menghadapi. Sejak tadi dia sering ada kesempatan berhadapan dengan Ranggalawe. Tapi diurungkan niatnya. Bukan karena takut, tapi jika dia mati terlalu cepat, moral pasukan akan runtuh.
Kebo anabrang meloncat, mengawal pasukannya yang melarikan diri. Senjatanya melindungi ribuan anak panah yang datang dari pasukan tuban. Mundur sejenak sambil menyusun strategi. Apalagi sebentar lagi magrib. Aturan peperangan mengharuskan perang berhenti jika malam tiba. Yah semacam save by bell gitulah. Konon beberapa tahun kemudian aturan itu direvisi oleh orang modern. Bahwa perang itu bisa 24 jam. Entahlah.
Pada saat dia melindungi pasukannya untuk mundur, terlihatlah olehnya Ranggalawe. Ranggalawe segera meloncat, ingin segera menghabisi musuhnya. Kemenangan sudah di depan mata. Menuju satu besar.
Senjata sudah dilepas. Harus ada nyawa yang melayang. Ini senjata super sakti. Kedua panglima bertempur bagaikan 2 ekor singa. Serentak para prajurit berhenti bertempur. Mereka membuat kupengan melihat kedua boss nya bertempur satu lawan satu. Sama sama sakti. Sungai Tambak beras sampai berombak hebat. Dan lucunya, kedua pasukan sambil menonton sambil santai. Senjata dilepas. Makan "bento" bareng. Bahkan ada yang taruhan. Walaupun angka taruhannya hanya bento yang dibikinkan istrinya tadi pagi.
Panglima Kebo Anabrang sangat shock. Segala macam rapalan matek aji, tidak mempan. Bagaimana mungkin, Ranggalawe terlalu sakti. Tidak mungkin jika dia menghadapi. Sejak tadi dia sering ada kesempatan berhadapan dengan Ranggalawe. Tapi diurungkan niatnya. Bukan karena takut, tapi jika dia mati terlalu cepat, moral pasukan akan runtuh.
Kebo anabrang meloncat, mengawal pasukannya yang melarikan diri. Senjatanya melindungi ribuan anak panah yang datang dari pasukan tuban. Mundur sejenak sambil menyusun strategi. Apalagi sebentar lagi magrib. Aturan peperangan mengharuskan perang berhenti jika malam tiba. Yah semacam save by bell gitulah. Konon beberapa tahun kemudian aturan itu direvisi oleh orang modern. Bahwa perang itu bisa 24 jam. Entahlah.
Pada saat dia melindungi pasukannya untuk mundur, terlihatlah olehnya Ranggalawe. Ranggalawe segera meloncat, ingin segera menghabisi musuhnya. Kemenangan sudah di depan mata. Menuju satu besar.
Senjata sudah dilepas. Harus ada nyawa yang melayang. Ini senjata super sakti. Kedua panglima bertempur bagaikan 2 ekor singa. Serentak para prajurit berhenti bertempur. Mereka membuat kupengan melihat kedua boss nya bertempur satu lawan satu. Sama sama sakti. Sungai Tambak beras sampai berombak hebat. Dan lucunya, kedua pasukan sambil menonton sambil santai. Senjata dilepas. Makan "bento" bareng. Bahkan ada yang taruhan. Walaupun angka taruhannya hanya bento yang dibikinkan istrinya tadi pagi.
Spoiler for ENAM:
Ranggalawe segera mengeluarkan segala ilmu yang dipelajari. Hasil temuan terbaru yang kabarnya sudah masuk di jurnal internasional dengan impact factor tinggi juga dikeluarkan. Keboanabrang benar benar kuwalahan.
Tapi ada yang mengherankan di situ, kekuatan Ranggalawe yang sedemikian hebat seolah tidak mampu mengalahkan keboanabrang. Sebaliknya keboanabrang kekuatannya makin terasa berlipatganda. Segala serangan Ranggalawe bagaikan membentur energy absorber. Hilang lenyap. Dengan kemampuan daya serap energy lebih dari 80%. Wow!
Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang sadar. Tapi Lembu sora tahu. Ini adalah hari terakhir Ranggalawe. Ajian supit urang Keboanabrang bekerja dengan efektif. Ini adalah volume atur punya keboanabrang. Bukan Ranggalawe bangets!
Lembusora sangat sedih, dia segera menghubungi smartphone punya Ranggalawe. Yang kabarnya sudah memakai Galaxy s6.
Keponakanku, mundurlah, ingat ini di air. Kemampuan di air si Kebo sangat top. Aku yang Lembu saja nggak sejosh dia. Mundurlah. Demikian tulis Lembu sora di LINE nya keponakannya.
Tapi terrnyata pesan itu tidak dibalas sama sekali.
Tapi ada yang mengherankan di situ, kekuatan Ranggalawe yang sedemikian hebat seolah tidak mampu mengalahkan keboanabrang. Sebaliknya keboanabrang kekuatannya makin terasa berlipatganda. Segala serangan Ranggalawe bagaikan membentur energy absorber. Hilang lenyap. Dengan kemampuan daya serap energy lebih dari 80%. Wow!
Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang sadar. Tapi Lembu sora tahu. Ini adalah hari terakhir Ranggalawe. Ajian supit urang Keboanabrang bekerja dengan efektif. Ini adalah volume atur punya keboanabrang. Bukan Ranggalawe bangets!
Lembusora sangat sedih, dia segera menghubungi smartphone punya Ranggalawe. Yang kabarnya sudah memakai Galaxy s6.
Keponakanku, mundurlah, ingat ini di air. Kemampuan di air si Kebo sangat top. Aku yang Lembu saja nggak sejosh dia. Mundurlah. Demikian tulis Lembu sora di LINE nya keponakannya.
Tapi terrnyata pesan itu tidak dibalas sama sekali.
Spoiler for TUJUH:
Apa yang dikhawatirkan terjadi. Pada suatu kesempatan Ranggalawe terkena kuncian supit urang itu. Konon kuncian ini lebih hebat daripada punya yudo apalagi gulat. Ranggalawe tidak bisa begerak. Tapi juga tidak bisa mati. Walaupun keboanabrang memperkuat kunciannya, tetap saja tak mampu mematahkan leher seniornya itu. Maka segera kepala Ranggalawe dimasuk masukkan ke dalam air. Istilah Jawa dianclup anclupne. Ranggalawe nggak bisa bernafas. Senjatanya nggak efektif. Apalagi sampai saat itu, tak ada kesaktian yang bisa menahan untuk tidak bernafas. Proses penganclup anclupan itu berlangsung dengan ganas. Kalau anak anak melihat pertarungan ini pasti berteriak Jurui...jurui.... (Bahasa Jepang = Curang!). Tapi demikanlah dalam perang, seringkali curang dianggap strategi. Sering pula kampanye hitam dianggap pencerahan. Pokoknya amburadul deh.
Spoiler for DELAPAN:
Lembu sora segera tampil. Hanya dia yang manusia yang bisa masuk palagan. Manusia lain nggak berani masuk. Angin dan kekuatan hebat yang saling serang, susah ditembus manusia biasa.
Keboanabrang, hentikan perbuatanmu. Kamu curang. Itu namanya penistaan. Itu konspirasi. Itu....... Segala jenis istilah keluar dari pamannya, demi menyelamatkan nyawa keponaknnya yang semakin melemah.
Tidak kakang, ini strategi. Ini peperangan. Jika dalam politik modern saja manusia bebas berbuat apa saja, masak dalam perang nggak boleh. Ini musuh negara kakang. Ini teroris. Jangan kau bela dia.
Hentikan...hentikan. Kata Lembu sora.
Tidak bisa kakang, lihat dari tadi dia merapal mantra terus, mantra penghabisan, kalau saya lepas, pasti saya akan mati juga. Kakang bisa bilang aku rapopo. Tapi aku popo kakang.
Lembu sora tahu, keponakannya segera tewas. Segala ilmu ya tak ada apa apanya ketika dia masuk ke air. Wilayah kekuasaan Kebo anabrang. Air mulai masuk paru paru. Di depan matanya, keponakannya akan tewas.
Tidak bisa! Segera dicabutnya kerisnya. Ditusukkan ke jantung kebo anabrang. Kebo anabrang kaget. Tapi dia nggak menyangka. Bahwa lembu sora akan lebih jurui daripada yang dilakukannya.
Setelah kebo anabrang tewas, didekapnya ranggalawe. Dia terlalu lemah. Dan sang adipati telah tewas. Tewas dalam pamgkuan Lembu sora. Segera dipeluknya kepala yang pucat dan katisen itu. Akhirnya kau tewas keponakanku. Tangisnya tak mampu menghidupkan lagi sang adipati.
Keboanabrang, hentikan perbuatanmu. Kamu curang. Itu namanya penistaan. Itu konspirasi. Itu....... Segala jenis istilah keluar dari pamannya, demi menyelamatkan nyawa keponaknnya yang semakin melemah.
Tidak kakang, ini strategi. Ini peperangan. Jika dalam politik modern saja manusia bebas berbuat apa saja, masak dalam perang nggak boleh. Ini musuh negara kakang. Ini teroris. Jangan kau bela dia.
Hentikan...hentikan. Kata Lembu sora.
Tidak bisa kakang, lihat dari tadi dia merapal mantra terus, mantra penghabisan, kalau saya lepas, pasti saya akan mati juga. Kakang bisa bilang aku rapopo. Tapi aku popo kakang.
Lembu sora tahu, keponakannya segera tewas. Segala ilmu ya tak ada apa apanya ketika dia masuk ke air. Wilayah kekuasaan Kebo anabrang. Air mulai masuk paru paru. Di depan matanya, keponakannya akan tewas.
Tidak bisa! Segera dicabutnya kerisnya. Ditusukkan ke jantung kebo anabrang. Kebo anabrang kaget. Tapi dia nggak menyangka. Bahwa lembu sora akan lebih jurui daripada yang dilakukannya.
Setelah kebo anabrang tewas, didekapnya ranggalawe. Dia terlalu lemah. Dan sang adipati telah tewas. Tewas dalam pamgkuan Lembu sora. Segera dipeluknya kepala yang pucat dan katisen itu. Akhirnya kau tewas keponakanku. Tangisnya tak mampu menghidupkan lagi sang adipati.
Spoiler for SEMBILAN:
Peperangan berakhir. Para prajurit Tuban langsung menyerah. Mereka diampuni. Toh mereka hanyalah pengikut. Sebagaimana simpatisan parpol yang sangat garang di facebook. Kedua panglima telah tewas. Berita acara dibuat, bahwa mereka mati SAMPYUH. Sama sama mati. Tak ada yang bisa melihat apa yang dilakukan lembu sora. Suasana perang yang sangat dasyat tak ada yang berani mendekat. Bahkan binocular merk Nikon yang dipakai pasukan Majapahit kena air. Jadi kabur. Semuanya gembira perang telah usai.
Spoiler for SEPULUH:
Lembu sora lega. Sampai balik ke Majapahit, tak ada yang mempermaslahkan itu. Semua baik baik saja. As if there is nothing. Segalanya berjalan normal. Status di fb juga aman aman saja.
Benarkah? Ternyata tidak. Ada seseorang yang telah memasang kamera bawah air di baju dan kereta perang Keboanabrang. Sehingga ketika rekaman dibuka, dia tahu segala transkrip pembicaraan dan apa yang terjadi di peperangan di Tambak Beras.
Dialah sang Ramapati!
Benarkah? Ternyata tidak. Ada seseorang yang telah memasang kamera bawah air di baju dan kereta perang Keboanabrang. Sehingga ketika rekaman dibuka, dia tahu segala transkrip pembicaraan dan apa yang terjadi di peperangan di Tambak Beras.
Dialah sang Ramapati!
Spoiler for SUMBER:
Sumber : Kisah Ranggalawe Gugur, dengan modifikasi
Spoiler for Postingan ane yang lain:
http://www.kaskus.co.id/thread/53469e0d128b46af388b4666/memotret-embun-atau-tetesan-air-yang-terbias-gambar-bunga
Diubah oleh hardy2000 11-04-2014 13:27
0
3.8K
Kutip
8
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•107.5KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya