- Beranda
- Berita dan Politik
NU-Muhammadiyah Kemungkinan Rayakan Idul Fitri Berbarengan
...
TS
indrasplash
NU-Muhammadiyah Kemungkinan Rayakan Idul Fitri Berbarengan

Quote:
Kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah serentak merayakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1434 Hijriyah, yakni Kamis 8 Agustus 2013.
Hal tersebut terungkap ketika Media Indonesia menghubungi Pengurus Pusat Muhammadiyah dan Pengurus Besar NU secara terpisah ,Senin (5/8).
PBNU memprediksi 1 Syawal 1434 H atau perayaan Idul Fitri jatuh pada 8 Agustus 2013, namun rukyatul hilal tetap akan dijadikan pijakan untuk penentuan tanggal pastinya. Sekretaris Lajnah Falakiyah PBNU Nahari Ilyas, mengatakan, hisab yang dilakukan pihaknya menunjukkan pada 8 Agustus 2013 bulan sudah bisa dilihat pada ketinggian tiga derajat selama 49 menit 06 detik.
“Secara hisab bulan pada Kamis 8 Agustus memang sudah bisa dikatakan masuk 1 Syawal,” ungkap Nahari Ilyas.
Meski demikian Nahari mengingatkan, NU memiliki tradisi menggunakan rukyatul hilal sebagai pijakan untuk penentuan awal bulan Hijriyah, termasuk 1 Syawal.
“Jadi hasil hisab tidak bisa dijadikan dasar. Kepastian 1 Syawal tetap menunggu rukyatul hilal yang akan kami laksanakan tanggal 7 Agustus sore,” lanjut Nahari.
Adapun proses rukyatul hilal, lanjut dia, akan dilakukan di 90 titik yang tersebar di seluruh Indonesia. Khusus di Jakarta akan dilakukan di Lantai 31 Season City dan Lantai 2 Masjid Pondok Pesantren Al Hidayah, Basmol, Kembangan, Jakarta Barat.
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, menambahkan tradisi penggunaan rukyatul hilal sebagai pijakan dalam penentuan awal bulan Hijriyah sesuai yang disabdakan Rasulullah saw. “Berpuasalah kamu karena melihat bulan, dan berlebaranlah juga karenanya,” katanya.
Menurut Said Aqil penggunaan rukyatul hilal sebagai pijakan dalam penentuan awal bulan Hijriyah juga terjadi di masa empat sahabat penerus Nabi, yaitu Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali.
Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih Yuhar Ilyas mengatakan ijtima' awal bulan Syawal pada hari Rabu tanggal 7 Agustus 2013 pukul 04.52:19 dengan ketinggian bulan mencapai 03. 54' 11" atau tiga derajat selama 54 menit 11 detik atau hilal sudah wujud.
“Jadi tanggal 1 Syawal 1434 H jatuh Kamis 8 Agustus 2013. Insya Allah kita merayakan Hari Raya Idul Fitri secara serentak,”ujarnya.
Yunahar yang juga Ketua MUI Pusat ini berharap selama Ramadan amal ibadah kaum muslim diterima Allah SWT. Ia berpesan agar kaum muslimin merayakan Lebaran dengan sewajarnya, tetap dalam batas-batas yang dibenarkan oleh agama.
“Mari kita manfaatkan momentum Syawal secara benar untuk meningkatkan silaturrahim, terutama antarkeluarga ,kerabat dan kaum muslimin,”ujarnya.
Hal senada dikemukakan Dirjen Bimas Islam Kemenag Abdul Djamil dalam pesan singkatnya kepada Media Indonesia, ia mengajak kaum muslimin dan mukminin berlebaran Idul Fitri 1434 H tetap merajut kebersamaan dan persaudaraan.
”Mari kita galang kebersamaan seiring dengan semangat Idul Fitri yang menekankan silaturrahim, persaudaraan dan menghindari perselisihan,” tegasnya.
Sebelumnya, Jumat (2/8) pada acara silaturahim dengan Forum Wartawan Keagamaan di Kemenag Jakarta, Abdul Djamil mengisyaratkan kemungkinan Idul Fitri pada 1 Syawal 1434 H jatuh pada Kamis 8 Agustus 2013.
Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang itu membenarkan bahwa pada saat Sidang Isbat di Kemenag Rabu 7 Agustus, tinggi bulan sudah tiga derajat di atas ufuk. Dengan posisi tersebut, umumnya bulan sudah bisa dilihat dengan mata telanjang saat proses rukyatul hilal. Berarti 1 Syawal 1434 H jatuh pada 8 Agustus.
“Tetapi itu kan dari segi hisab saja. Sedangkan Sidang Isbat harus dilakukan juga rukyatul hilal,” ujarnya.
Dengan demikian Abdul Djamil menuturkan sikap atau ketetapan 1 Syawal 1434 H tetap menunggu hasil Sidang Isbat. Dia menjelaskan sesuai dengan artinya, Sidang Isbat adalah sidang penetapan.
“Sidang isbat itu merupakan kombinasi metode rukyatul hilal (melihat bulan, red) dan hisab (perhitungan kalender yang dipakai ormas Muhammadiyah, red),”pungkasnya.
sumber
Hal tersebut terungkap ketika Media Indonesia menghubungi Pengurus Pusat Muhammadiyah dan Pengurus Besar NU secara terpisah ,Senin (5/8).
PBNU memprediksi 1 Syawal 1434 H atau perayaan Idul Fitri jatuh pada 8 Agustus 2013, namun rukyatul hilal tetap akan dijadikan pijakan untuk penentuan tanggal pastinya. Sekretaris Lajnah Falakiyah PBNU Nahari Ilyas, mengatakan, hisab yang dilakukan pihaknya menunjukkan pada 8 Agustus 2013 bulan sudah bisa dilihat pada ketinggian tiga derajat selama 49 menit 06 detik.
“Secara hisab bulan pada Kamis 8 Agustus memang sudah bisa dikatakan masuk 1 Syawal,” ungkap Nahari Ilyas.
Meski demikian Nahari mengingatkan, NU memiliki tradisi menggunakan rukyatul hilal sebagai pijakan untuk penentuan awal bulan Hijriyah, termasuk 1 Syawal.
“Jadi hasil hisab tidak bisa dijadikan dasar. Kepastian 1 Syawal tetap menunggu rukyatul hilal yang akan kami laksanakan tanggal 7 Agustus sore,” lanjut Nahari.
Adapun proses rukyatul hilal, lanjut dia, akan dilakukan di 90 titik yang tersebar di seluruh Indonesia. Khusus di Jakarta akan dilakukan di Lantai 31 Season City dan Lantai 2 Masjid Pondok Pesantren Al Hidayah, Basmol, Kembangan, Jakarta Barat.
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, menambahkan tradisi penggunaan rukyatul hilal sebagai pijakan dalam penentuan awal bulan Hijriyah sesuai yang disabdakan Rasulullah saw. “Berpuasalah kamu karena melihat bulan, dan berlebaranlah juga karenanya,” katanya.
Menurut Said Aqil penggunaan rukyatul hilal sebagai pijakan dalam penentuan awal bulan Hijriyah juga terjadi di masa empat sahabat penerus Nabi, yaitu Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali.
Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih Yuhar Ilyas mengatakan ijtima' awal bulan Syawal pada hari Rabu tanggal 7 Agustus 2013 pukul 04.52:19 dengan ketinggian bulan mencapai 03. 54' 11" atau tiga derajat selama 54 menit 11 detik atau hilal sudah wujud.
“Jadi tanggal 1 Syawal 1434 H jatuh Kamis 8 Agustus 2013. Insya Allah kita merayakan Hari Raya Idul Fitri secara serentak,”ujarnya.
Yunahar yang juga Ketua MUI Pusat ini berharap selama Ramadan amal ibadah kaum muslim diterima Allah SWT. Ia berpesan agar kaum muslimin merayakan Lebaran dengan sewajarnya, tetap dalam batas-batas yang dibenarkan oleh agama.
“Mari kita manfaatkan momentum Syawal secara benar untuk meningkatkan silaturrahim, terutama antarkeluarga ,kerabat dan kaum muslimin,”ujarnya.
Hal senada dikemukakan Dirjen Bimas Islam Kemenag Abdul Djamil dalam pesan singkatnya kepada Media Indonesia, ia mengajak kaum muslimin dan mukminin berlebaran Idul Fitri 1434 H tetap merajut kebersamaan dan persaudaraan.
”Mari kita galang kebersamaan seiring dengan semangat Idul Fitri yang menekankan silaturrahim, persaudaraan dan menghindari perselisihan,” tegasnya.
Sebelumnya, Jumat (2/8) pada acara silaturahim dengan Forum Wartawan Keagamaan di Kemenag Jakarta, Abdul Djamil mengisyaratkan kemungkinan Idul Fitri pada 1 Syawal 1434 H jatuh pada Kamis 8 Agustus 2013.
Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang itu membenarkan bahwa pada saat Sidang Isbat di Kemenag Rabu 7 Agustus, tinggi bulan sudah tiga derajat di atas ufuk. Dengan posisi tersebut, umumnya bulan sudah bisa dilihat dengan mata telanjang saat proses rukyatul hilal. Berarti 1 Syawal 1434 H jatuh pada 8 Agustus.
“Tetapi itu kan dari segi hisab saja. Sedangkan Sidang Isbat harus dilakukan juga rukyatul hilal,” ujarnya.
Dengan demikian Abdul Djamil menuturkan sikap atau ketetapan 1 Syawal 1434 H tetap menunggu hasil Sidang Isbat. Dia menjelaskan sesuai dengan artinya, Sidang Isbat adalah sidang penetapan.
“Sidang isbat itu merupakan kombinasi metode rukyatul hilal (melihat bulan, red) dan hisab (perhitungan kalender yang dipakai ormas Muhammadiyah, red),”pungkasnya.
sumber
klo sudah pasti bareng begini ya nggak perlu sidang-sidang itsbad lagi lah
Diubah oleh indrasplash 07-08-2013 14:00
0
1.7K
Kutip
25
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
694.9KThread•58.7KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya