- Beranda
- The Lounge
Kesetaraan Tidak Selalu Sama Dengan Keadilan [Agan/wati Masuk]
...
TS
quthubm
Kesetaraan Tidak Selalu Sama Dengan Keadilan [Agan/wati Masuk]
![Kesetaraan Tidak Selalu Sama Dengan Keadilan [Agan/wati Masuk]](https://dl.kaskus.id/sphotos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-frc1/577463_586852928016044_2128151162_n.jpg)
Quote:
Feminisme, perempuan dan kesetaraan memang bisa tidak dapat dipisahkan. Jika membicarakan satu diantara tiga kata tersebut, sudah pasti kata yang lain akan mengikuti. Feminisme memang suatu paham yang lahir atas dorongan kesadaran para kaum perempuan yang dianggap sebagai kaum marginal dan tidak penting. Mereka telah lelah dianggap sebagai objek, bukan subjek. Para perempuan telah lelah berada dalam bayang-bayang kaum lelaki. Para perempuan sudah muak dengan segala hal yang selalu mengambil sudut pandang patriakhi. Maka dari itu, mereka memberontak dan akhirnya berujung pada kebebasan kaum parempuan saat ini.
Jika dahulu perempuan dilarang sekolah, maka sekarang sekolah tidak lagi memandang jenis kelamin. Jika dahulu perempuan hanya berperan sebagai kasur alas tidur suami, maka sekarang perempuan bisa bekerja dan turut menafkahi keluarga. Hal itu bukanlah hal yang buruk memang, namun jika menilik keadaan saat ini, maka saya seringkali berpikir, “seandainya dahulu tidak perlu ada pemberontakan kaum wabita, mungkin saat ini nasib perempuan tidak akan seperti saat ini.” pemikiran itu muncul sebab melihat bagaimana keadaan perempuan saat ini setelah mereka mengantongi sebuah kebebasan dan kesamaan hak dengan laki-laki.
Dengan adanya jesetaraan tersebut, perempuan lebih bebas dalam bertindak. Mereka ingin mekaia apa, berbuat apa, pergi kemana, atau hal apapun, sekarang bukan lagi masalah. Akhirnya, untuk menunjukkan eksistensi mereka, tak jarang ada beberapa yang sengaja mengekploitasi diri agar dapat menarik [erhatian pria dan mendapat pengakuan di dalam masyarakat dan tidak lagi dianggap marginal. Namun, cara tersebut salah total. Hal tersebut justru menimbulkan petaka. Kasus pelecehan yang kerap kali terjadi bisa dikatakan bukan sepenuhnya salah lelaki. Laki-laki tidak akan berbuat tidak sopan atau melakukan pelecahan jika tidak dipancing. Tidak mungkin seorang laki-laki tiba-tiba berbuat hal yang melechkan jika dia tidak disulut oleh korbannya. Jika sudah begitu, maka perempuan akan menyalahkan laki-laki sepenuhnya atas kasus pelecehan yang terjadi. Padahal hal tersebut akibat ulahnya sendiri yang mengumbar diri untuk mendapatkan eksistensi di masyarakat.
Selain itu, hal yang cukup saya pertanyakan adalah soal kesetaraan yang diperjuangakn. Jika igin disetarakan, maka seharusnya tidak ada perbedaan perlakuan antara perempuan dan laki-laki saat sedang mengentri atau menggunakan fasilitas umum. Banyak slogan yang mengatakan :dahulukan perempuan” , padahal sosok perempuan sendir yang menyuarakan untuk meminta kesetaraan.
Jika sepereti itu adanya, maka sepatutnya yang di[erjuangkan bukanlah sebuah kesetaraan, melainkan sebuah keadilan. Sebab, jika berbicara soal setera, tetap saja criteria yang digunakan untuk mengukur antara perempuan dan laki-laki itu berbeda. Maka yang seharusnya disuarakan adalah keadilan yang sesuai porsi, baik bagi laki-laki maupun bagi perempuan.
Jika dahulu perempuan dilarang sekolah, maka sekarang sekolah tidak lagi memandang jenis kelamin. Jika dahulu perempuan hanya berperan sebagai kasur alas tidur suami, maka sekarang perempuan bisa bekerja dan turut menafkahi keluarga. Hal itu bukanlah hal yang buruk memang, namun jika menilik keadaan saat ini, maka saya seringkali berpikir, “seandainya dahulu tidak perlu ada pemberontakan kaum wabita, mungkin saat ini nasib perempuan tidak akan seperti saat ini.” pemikiran itu muncul sebab melihat bagaimana keadaan perempuan saat ini setelah mereka mengantongi sebuah kebebasan dan kesamaan hak dengan laki-laki.
Dengan adanya jesetaraan tersebut, perempuan lebih bebas dalam bertindak. Mereka ingin mekaia apa, berbuat apa, pergi kemana, atau hal apapun, sekarang bukan lagi masalah. Akhirnya, untuk menunjukkan eksistensi mereka, tak jarang ada beberapa yang sengaja mengekploitasi diri agar dapat menarik [erhatian pria dan mendapat pengakuan di dalam masyarakat dan tidak lagi dianggap marginal. Namun, cara tersebut salah total. Hal tersebut justru menimbulkan petaka. Kasus pelecehan yang kerap kali terjadi bisa dikatakan bukan sepenuhnya salah lelaki. Laki-laki tidak akan berbuat tidak sopan atau melakukan pelecahan jika tidak dipancing. Tidak mungkin seorang laki-laki tiba-tiba berbuat hal yang melechkan jika dia tidak disulut oleh korbannya. Jika sudah begitu, maka perempuan akan menyalahkan laki-laki sepenuhnya atas kasus pelecehan yang terjadi. Padahal hal tersebut akibat ulahnya sendiri yang mengumbar diri untuk mendapatkan eksistensi di masyarakat.
Selain itu, hal yang cukup saya pertanyakan adalah soal kesetaraan yang diperjuangakn. Jika igin disetarakan, maka seharusnya tidak ada perbedaan perlakuan antara perempuan dan laki-laki saat sedang mengentri atau menggunakan fasilitas umum. Banyak slogan yang mengatakan :dahulukan perempuan” , padahal sosok perempuan sendir yang menyuarakan untuk meminta kesetaraan.
Jika sepereti itu adanya, maka sepatutnya yang di[erjuangkan bukanlah sebuah kesetaraan, melainkan sebuah keadilan. Sebab, jika berbicara soal setera, tetap saja criteria yang digunakan untuk mengukur antara perempuan dan laki-laki itu berbeda. Maka yang seharusnya disuarakan adalah keadilan yang sesuai porsi, baik bagi laki-laki maupun bagi perempuan.


Diubah oleh quthubm 02-05-2013 21:51
0
785
Kutip
7
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•108KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya