Kaskus

Story

Mbahjoyo911Avatar border
TS
Mbahjoyo911 
HITAM [Reborn]




 Hai gaess.. jumpa lagi dalam thread ini..

 Sudah hampir 3  tahun sejak thread Hitam season satu di-post di Kaskus. Tanpa disangka thread itu mendapat respon yang luar biasa (terima kasih buat semua reader). Bahkan akhirnya thread Hitam sampai diplagiat dan diterbitkan pada salah satu platform hingga dengan sangat terpaksa Hitam 1 harus dihapus.

 Akan tetapi, berkat bantuan banyak kaskuser yang melaporkan thread tersebut, maka kini thread hasil plagiasi tersebut telah dihapus dari platform yang bersangkutan. Jadi sekali lagi, TS berterima kasih banyak pada Agan dan Sista kaskuser semua yang telah membantu melaporkan thread plagiasi itu. Tanpa pembaca, maka seorang penulis menjadi tidak berarti. Kini, TS mencoba membuat kembali thread Hitam Reborn ini.

 Alasan TS membuat thread reborn yaitu karena sudah adanya Hitam season 2 yang telah memiliki viewer yang mencapai satu juta lebih! (Meskipun ada juga yang beranggapan kalau satu juta viewer itu adalah klonnya TS sendiri. Tapi tidak apa, orang bebas berpendapat emoticon-Big Grin)Untuk kesekian kalinya TS sangat berterima kasih pada reader semua. Jadi, karena ada Hitam season 2, maka akan lebih afdol kalo Hitam 1 dimunculkan biar lebih lengkap.

 Alasan kedua adalah supaya Agan Sista yang belum sempat membaca ataupun yang ingin mengulang lagi, kini bisa membaca cerita ini secara utuh dan tidak ada bagian yang hilang. Di samping itu, banyak juga permintaan dari Kaskuser agar thread Hitam 1 ini dimunculkan lagi. Sekali lagi, terima kasih banyak buat Agan dan Sista atas responnya yang luar biasa buat thread ini.



 Kisah ini hanyalah cerita fiksi, hasil imajinasi dari TS. Kesamaan nama, tempat dan kejadian hanyalah kebetulan belaka. Jadi, mohon jangan bertanya soal hal gaib pada TS, karena TS hanyalah orang biasa yang tidak mengerti apa-apa soal hal gaib, TS hanya punya hobi menulis dan menuangkannya ke dalam sebuah cerita fiksi.


Quote:




-----<<<{O}>>>-----





Prolog


 Namaku Aryandra, biasa dipanggil Arya atau Andra, tapi keluargaku lebih suka memanggil Andra. Aku lahir dari keluarga kecil yang berkecukupan. Aku tumbuh bersama adik perempuan satu-satunya yang terpaut usia satu tahun dariku. Adikku bernama Cindy, gadis kecil yang sangat imut dan menggemaskan, hingga menjadi kesayangan banyak orang. Rumah kami berada di bagian pinggir timur sebuah kota yang tidak terlalu besar.

 Entah bagaimana ceritanya sampai aku bisa punya suatu kelebihan seperti ini, aku tidak mengerti sama sekali. Aku bisa melihat, mendengar, merasakan dan berinteraksi dengan makhluk-makhluk berwujud aneh dan kadang menyeramkan. Aku bisa melihat kejadian-kejadian masa lampau hanya dengan menyentuh benda, melihat, bahkan cuma dari mendengar cerita seseorang. Kadang aku bermimpi tentang suatu kejadian, dan ternyata mimpi itu benar-benar nyata terjadi, seperti sebuah penglihatan kejadian masa depan yang datang lewat mimpi. 

 Seingatku, sudah dari semasa kecil aku  bisa mendengar suara mereka, Tapi aku nggak ingat kapan tepatnya. Sering aku mendengar suara-suara aneh seperti suara tawa cekikikan melengking-lengking menyakitkan telinga, tawa ngakak yang nggak kuketahui dari mana asalnya, geraman berat dan besar seperti suara binatang buas, desisan keras seperti suara ular, cakaran-cakaran kuku pada tembok rumah, suara langkah kaki manusia dan juga hewan seperti kuda. Sering juga aku dengar mereka memanggil namaku dan menyuruhku mendekat.

 Setelah tahap "bisa mendengar", maka akupun mulai bisa melihat hal-hal gaib itu. Sering aku melihat kelebatan-kelebatan bayangan hitam, kain putih panjang yang melayang di antara pohon, ada juga kain panjang berwarna merah darah, sampai bungkusan kain putih seperti bungkus permen yang menempel di pohon, Tapi ya cuma sebatas itu saja, cuma melihat kelebatan-kelebatan sekilas dan nggak begitu jelas, dan wujud nya pun tidak kuketahui.

 Aku juga sering melihat larikan-larikan cahaya sangat terang beraneka warna yang melesat cepat di atas genteng rumah warga, juga bola-bola api dan bola-bola cahaya yang melayang-layang di udara. Seringkali bola-bola cahaya dan bola api itu saling bertabrakan hingga menimbulkan suara ledakan dahsyat disertai menyebarnya bola api di angkasa langit malam.

 Tidak ada yang kulakukan selain cuma memperhatikan dengan penuh keheranan, sungguh suatu hal yang sangat aneh dan luar biasa. Tapi kalau yang kulihat itu sudah lewat, maka akupun juga nggak menggubrisnya, dan segera terlupakan begitu saja.

 Lama-kelamaan, seakan pandangan mataku menguat dan menjadi lebih peka. Aku bisa melihat wujud sosok-sosok makhluk aneh dengan utuh. Awalnya cuma melihat sosok yang berbentuk manusia biasa, dan kemudian mulai melihat wujud aneh-aneh, manusia dengan kaki atau tangan yang panjang sebelah, manusia berkepala botak bertelinga lancip. Ada yang berbentuk hewan, berkepala dua, makhluk bermata satu, dan banyak sekali bentuk-bentuk ganjil lainnya.

 Dari yang semula cuma  melihat siluet bayangan kabur, lambat laun aku mulai mampu melihat dengan sangat jelas, bahkan detail wajah yang sangat menyeramkan pun bisa kulihat dengan jelas. Makhluk berbentuk gorila raksasa yang berbulu di seluruh tubuhnya, bermata merah menyala seperti lampu senter dengan wajah sangat seram. Sosok manusia berkepala kuda, juga wanita berkaki ular. Aku sering melihat sosok anak-anak kecil berkepala plontos yang berlarian di jalan-jalan kampungku, hingga aku mengira kalau mereka adalah anak-anak dari tetanggaku, tapi ternyata anak-anak kecil itu berwajah tua dan berewokan.

 Yang paling sering kulihat sosok perempuan berwajah hancur dengan darah berlelehan di seluruh wajah, leher dan dada, memiliki rambut awut-awutan dan berbaju putih, ada juga yang berbaju merah. Mereka sering nangkring di atas pohon, atau di atas genteng rumah-rumah tetangga. Kadang mereka "terbang" dari satu pohon ke pohon lain disertai suara tawa melengking-lengking mendirikan bulu kuduk. Belakangan aku ketahui kalo mereka lah yang sering disebut sebagai kuntilanak.

Spoiler for :


 Meskipun wajah hancur tak berbentuk itu cuma seperti orang yang memakai topeng, tapi itu adalah wajah asli yang sebenar-benarnya, wajah mengerikan yang bisa membuat orang lari ketakutan atau bahkan pingsan di tempat. Tapi bagiku, wajah hancur semacam itu adalah pemandangan keseharianku.

 Setiap kali aku bertemu, melihat ataupun mendengar makhluk-makhluk itu, maka selalu saja kurasakan suatu tekanan yang sangat kuat yang berasal dari mereka. Seperti semacam tembok tak kelihatan yang menekanku dari segala arah. Rasa sangat tertekan yang bisa membuat orang bergidik merinding hebat, ketakutan sampai lari tunggang langgang, bahkan sampai pingsan ditempat. Tapi biasanya aku cuma merasa merinding saja, dan tidak merasa takut. Belakangan baru kuketahui kalau tekanan kuat itu  disebut sebagai aura energi.

 Mereka seakan tidak mengenal waktu, baik pagi, siang, sore atau malam aku masih bisa melihat mereka, jumlahnya banyak sekali, dan mereka seakan ada dimana saja. Jadi mitos yang sering kudengar kalau makhluk halus hanya ada pada waktu malam itu adalah salah belaka, mereka ada dimanapun dan kapanpun. Tapi mereka akan terlihat jauh lebih jelas dan dalam jumlah yang lebih banyak pada saat sore hari menjelang maghrib.

 Namun hal ini ada untungnya juga buatku, saking seringnya melihat mereka, aku jadi tidak takut dengan mereka, bahkan makhluk yang paling seram sekalipun, sejauh ini aku belum merasa takut. Ditambah lagi aku nggak pernah menggubrisnya, dasarnya lagi, aku anak yang ndableg, nggak nggagasan, cuek terhadap segala sesuatu. Dan semua penampakan itu nggak aku perhatikan dengan serius. Meskipun kadang terkejut juga kalau ada yang tau-tau nongol tepat didepanku secara mendadak. 

 Rasa merinding dan deg-degan tetaplah ada, sebagai reaksi karena melihat sesuatu yang menyeramkan, tapi aku nggak pernah sampai ketakutan apalagi sampai lari tunggang langgang, paling aku cuma berlalu meninggalkannya begitu saja, tanpa menggubrisnya lagi, dan dengan cepat bisa terlupa.

 Entah kenapa aku bisa melihat secara bertahap dan perlahan seperti itu. Seolah-olah semua itu memang telah dipersiapkan untukku secara bertahap. Aku tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun, bahkan pada keluargaku sendiri sekalipun, karena aku bingung gimana caranya bercerita, malah bisa-bisa aku dianggap gila.

 Namun ternyata selama ini ayah ibuku mengamatiku juga, jadi tanpa berceritapun, beliau berdua sudah tahu dengan sendirinya, hingga akhirnya harus kuceritakan juga semua yang terjadi padaku. Dan syukurlah, beliau berdua mau menerimaku semua itu, dengan  satu penjelasan, yaitu karena aku adalah anak beliau berdua. Aku sungguh bersyukur dilahirkan dalam sebuah keluarga yang sangat baik.

 Semua keanehan yang terjadi padaku ini sangat berpengaruh pada kehidupan sosialku, mulai dari sebagian besar teman-teman yang perlahan menjauh, tetangga-tetangga yang menganggapku gila, bahkan tak sedikit yang merasa takut padaku. Praktis aku jadi jarang bergaul dan hampir tidak memiliki teman, aku sering bermain sendirian, atau bersama adikku. Cuma keluarga saja yang memperlakukanku dengan biasa saja dan tidak berubah sama sekali padaku.

 Apakah semua yang terjadi padaku ini adalah hal normal? Tapi sebenarnya bagaimanakah patokan ukuran normal dan tidak normalnya seseorang seperti aku? Seperti apakah tolok ukur kata normal bagi manusia itu? Entahlah… 


 Seiring bertambahnya usiaku, maka aku mulai sadar kalau semua ini tidaklah normal dan bukanlah kodrat dari manusia biasa. Yang terjadi padaku ini terlalu aneh, dan semua itu termasuk sudah terlalu banyak bagi seorang manusia. Maka akupun berusaha untuk menghilangkannya. Tapi entah kenapa, usaha untuk menghilangkan keanehan itu belum juga berhasil.

 Hingga sampai pada suatu titik di mana aku menyerah pasrah, dan akhirnya kuserahkan saja semua ini pada Yang Maha Kuasa. Biarlah semua berjalan apa adanya, kujalani hidupku seperti air mengalir, dan berusaha bersikap seperti layaknya orang normal pada umumnya.

Diubah oleh Mbahjoyo911 04-10-2022 17:19
ariseptian58Avatar border
adriantzAvatar border
itkgidAvatar border
itkgid dan 131 lainnya memberi reputasi
124
85.5K
1.6K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
Mbahjoyo911Avatar border
TS
Mbahjoyo911 
#589

Mencari Jejak


Quote:


 Nissa terjingkat kaget dan langsung berdiri dari pangkuanku. Pagi dini hari itu, setelah tragedi hujan badai yang memporak-porandakan semua tenda kemah, aku dan Nissa sedang menikmati suasana sepi dan hangatnya api unggun, dan tiba-tiba terdengar suara teguran keras dari arah belakang kami. 

 Ternyata yang menegur itu adalah Vina. Suaranya terdengar tegas, tapi kulihat sedikit senyuman disana, dan aku langsung tau kalo Vina cuma menggoda kami, tapi Nissa tampak panik seperti anak kecil yang kepergok mengambil permen. Dia langsung berdiri tegak dengan wajah memerah, kecanggungan menguasai suasana.

Quote:


 Vina ketawa ngakak, Nissa langsung berlari memburunya, dan Vina pun kabur menjauh, mereka kejar-kejaran macam anak kecil. Sementara aku masih duduk santai dan membenahi letak kayu bakar agar api unggun bisa menyala kembali. Sempat terpikir, tadi itu aku lagi sial, atau lagi diselamatkan dari kemesuman ya?!

 Kulihat beberapa siswa sudah mulai terbangun dan keluar dari warung-warung tempat mereka tidur semalam. Sepertinya mereka semua juga terbangun karena kedinginan. Beberapa dari mereka ikut-ikutan menyalakan api unggun yang lain untuk mengusir hawa dingin pagi itu. Ada beberapa siswa yang ikut gabung di api unggunku ini.

 Nissa dan Vina akhirnya kembali dengan berjalan kaki, mereka tampak ngos-ngosan, entah seberapa jauh mereka kejar-kejaran tadi, bahkan wajah mereka yang putih jadi memerah dan keringetan. Mereka langsung jongkok begitu saja di sebelahku, menghadap ke api unggun yang masih sedikit menyala.

Quote:


 Obrolan kami terpotong oleh suara adzan dari mushola bumi perkemahan itu. Sudah waktunya subuh ternyata, berarti saat ini sekitar jam 4 lebih, aku sudah duduk disini hampir tiga jam. Akupun beranjak berdiri, lalu berjalan menuju mushola. Kutinggalkan Nissa dan Vina yang masih ribut di depan api unggun itu, entah apa yang masih diributkan. Kuambil air wudhu lalu ikut berjamaah subuh.

 Selesai subuhan, saat keluar mushola, langit sudah agak sedikit terang, dan kulihat para pembina dan guru yang sedang mendirikan beberapa tenda darurat. Tenda-tenda itu sangat besar, hingga mampu menampung beberapa kelompok peserta kemah sekaligus. Lalu terdengarlah suara kakak pembina lewat speaker horn yang membangunkan seluruh peserta kemah untuk berkumpul dan berbaris di lapangan, karena akan dibacakan pengumuman tentang acara selanjutnya dari kemah ini. 

Quote:


 Pengumuman itu ditutup dengan riuh rendah protes dari para siswa, suasana jadi kacau sesaat. Kalo menurutku, ini keterlaluan sih, para siswa udah capek fisik dan mental, tidak punya pakaian ganti, bahkan banyak siswi yang trauma dengan kesurupan massal dan hujan badai semalam. Tapi tetap saja acara itu mau dilanjutkan. Kutinggalkan semua keributan itu dan beranjak membeli sarapan aja di warung.

 Matahari sudah nampak di timur saat aku berjalan ke warung. Lalu kurasakan satu tangan menggamit tanganku, ternyata dia adalah Nissa yang ingin ikut sarapan bareng. Kamipun jalan bareng ke warung, tapi baru setengah jalan, Vina menghadang kami, jadilah akhirnya kami sarapan bareng bertiga.

 Selesai makan, kami masih ngobrol di warung itu. Saat itulah kudengar suara deru mesin mobil yang datang, di kaki gunung yang sepi gini, suara mesin mobil terdengar jelas meski dari kejauhan. Tak lama kemudian, satu mobil lagi datang, satu lagi, dan lagi. Mobil-mobil itu terus berdatangan dengan jarak beberapa menit saja.

 Karena penasaran, Nissa dan Vina keluar dari warung, sementara aku masih duduk aja.  Lalu dari pintu warung yang terbuka itu, bisa kulihat Nissa sedang dipeluk seorang perempuan, maka bergegas aku keluar warung, dan ternyata perempuan itu adalah mamanya Nissa. Baru kuketahui kalau mobil-mobil yang datang tadi adalah orangtua dari para siswa peserta kemah, mereka datang untuk menjenguk anaknya.

 Lalu terdengarlah hujan tangis di depan warung-warung itu, para murid perempuan berpelukan dengan mamanya masing-masing sambil berurai air mata. Sepertinya para orangtua sudah mendengar soal peristiwa semalam, entah dari mana mereka dapat informasi itu.

 Diantara isak tangis itu kudengar juga suara teriakan-teriakan protes dari para bapak, mereka berdebat dengan para pembina dan guru. Adu argumentasi itu terlihat semakin memanas, karena beberapa bapak-bapak terlihat sangat emosi. Suasana jadi ribut sekali. Maka kutinggalkan saja keributan itu.

 Aku tau ayahku nggak akan datang menjengukku, karena beliau tau kalau anaknya ini sangat tangguh.  emoticon-Cool  Aku berencana memeriksa tendaku, mungkin masih ada yang bisa diselamatkan. Saat kutemukan, tenda itu rubuh dan belepotan lumpur yang sebagian sudah mengering. Kutarik tenda itu ke samping, dan terlihatlah semua isinya yang menyedihkan. 

 Setelah mencari-cari, akhirnya kutemukan juga tas carrierku yang juga belepotan lumpur. Tapi saat kubuka, bagian dalamnya masih kering dan bersih, termasuk baju gantiku juga, ternyata tas ini anti air, cima bagian luarnya saja yang kena lumpur. Kubawa tas carrierku menuju ke kali kecil di sebelah selatan lapangan perkemahan. Air di kali itu sangat jernih, aku mulai membasuh bagian luar tasku dengan air kali, berusaha untuk menghilangkan lumpur yang menempel, sekalian kubasuh sepatuku yang juga belepotan tanah. Sungguh sial, hujan badai semalam benar-benar telah merepotkan kami semua.

 Suara perdebatan antara orangtua murid dan pembina masih terdengar dari sini. Tapi kemudian suasana jadi sepi. Beberapa saat kemudian, terdengar suara deru mesin mobil, aku tau kalo mobil-mobil itu satu-persatu mulai meninggalkan bumi perkemahan. Lalu semua jadi hening. 

 Tiba-tiba, dari sudut mata, kutangkap adanya sebuah pergerakan di seberang kali. Ternyata diantara rimbunnya batang-batang pohon itu, kulihat sosok-sosok perempuan berbaju kuning dan membawa sebatang tombak pendek. Mereka adalah prajurit kerajaan perempuan, ternyata mereka masih berjaga di sekitar lapangan sejak tadi malam. Lalu mendadak saja kudengar suara perempuan dari belakangku.

Quote:


 Setelah bersih-bersih di kali itu selesai, kamipun kembali ke perkemahan darurat. Sempat ketemu Vina dan kena ceng-cengannya juga. Pagi itu kuhabiskan waktu dengan tidur di mushola, karena di tenda darurat itu hawanya panas, di mushola ini lebih adem, jadi enak buat tidur.

 Aku terbangun oleh suara adzan dzuhur, setelah berwudhu, akupun ikut berjamaah di mushola itu. Selesai sholat, aku menuju ke warung untuk makan siang. Aku masih duduk-duduk di warung, hingga akhirnya suara pembina dari speaker horn memaksaku beranjak. Kami disuruh berbaris di lapangan. Peserta kemah benar-benar tinggal kurang dari setengahnya. Dari yang semula ada 20 regu, kini tinggal 9 regu saja, dua regu diantaranya adalah regu cewek, termasuk regunya Nissa. Pembina pun memberi arahan.

Quote:


 Barisan pun bubar untuk menyiapkan perjalanan mencari jejak itu. Setelah itu satu regu mulai dipanggil, dan mereka diarahkan untuk berjalan melalui jalan setapak di sebelah barat lapangan perkemahan. Limabelas menit kemudian, regu kedua dipanggil dan diarahkan melewati jalur yang sama. Jadi tiap regu berjarak sekitar 15 menit dari regu yang lain. Ada satu hal yang membuatku kuatir, aku takut kalau Nissa tersesat. Jadi sebelum berangkat kutemui dia diantara teman seregu nya. Aku mendekat dan bicara dengan pelan.

Quote:


 Setelah memberi pesan itu, aku beranjak menuju reguku sendiri. Tapi masih ada satu hal yang harus kulakukan, yaitu menemui Salma untuk meminta bantuannya, karena dalam hal ini, hanya dia yang bisa membantuku. Dan tiba-tiba saja dia sudah ada di sebelahku.

Quote:


 Dengan muka cemberut, Salma melayang pergi, lalu sosoknya menghilang begitu saja. Saat itulah giliran reguku yang dipanggil. Kami diarahkan untuk melewati jalan setapak yang menembus hutan sebelah barat bumi perkemahan. Jalur itu sering dipakai untuk acara mencari jejak oleh siswa-siswa yang dulu juga berkemah disini.

 Sepanjang jalan setapak itu kami harus menemukan kode-kode hingga mendapat sebuah petunjuk yang mengarah pada petunjuk lainnya. Dan akhirnya, dengan semua petunjuk itu kami harus mencari kertas bertuliskan tugas yang disembunyikan di sekitar pos. 

 Dan setelah kertas bertulis tugas itu ditemukan, kami harus menyerahkan pada kakak pembina yang berjaga di pos, dan dialah yang memberi tugas sesuai yang tertera di kertas. Semua kami lakukan satu persatu dengan sabar. Ini sungguh terasa ribet sekali, itulah sebabnya kenapa aku tidak suka pramuka dan acara kemah, karena memang sangat merepotkan.

 Setelah melewati 6 pos dan mengerjakan semua tugas, akhirnya kelompokku sampai juga di pos terakhir. Pos ini terletak sekitar lima puluh meter dari sebuah bukit yang ditumbuhi pohon-pohon besar dan lebat.  Bukit itu tidak terlalu besar, dan sepertinya jarang dijamah manusia, karena jalan setapak itu berakhir di pos terakhir ini. Di pos 6 ini lagi-lagi kami diberi tugas untuk mencari barang yang disembunyikan oleh pembina. Kamipun berpencar untuk mencari

 Aku memilih mencarinya ke arah barat, sambil berjalan, mataku celingukan mencari, di tanah, di batu-batu, di pohon-pohon. Saat itulah kurasakan adanya suatu pendaran energi yang kuat, arahnya dari bukit di depanku itu. Lalu samar-samar tampaklah olehku, semacam pagar gaib tembus pandang berwarna kuning gading tepat di kaki bukit itu. Aku segera mengenalinya sebagai pagar gaib dari kerajaan perempuan.

 Lalu aku jadi teringat gelang pemberian ratu Galuh, tanpa sadar kupegang gelang di pergelangan tangan kiriku itu. Dan tiba-tiba, di mataku terbayang samar seraut wajah sangat cantik yang masih muda belia, yang kukenali sebagai wajah dari ratu Galuh. Bayangan wajah itu tersenyum manis ke arahku, cuma sesaat saja dan langsung menghilang. Mungkin letak kerajaan perempuan itu memang berada di sekitar bukit itu.

Quote:


 Barulah aku sadar kalo disitu cuma tinggal Danu dan dua kakak pembina yang menjaga pos. Maka bergegas aku menyusul Danu yang sudah jalan lebih dulu. Sepanjang perjalanan kembali, kami bertemu beberapa regu lain yang masih mencari jejak. Sampai di bumi perkemahan, aku langsung ke warung membeli minuman. Dan sekarang tinggal menunggu hingga seluruh regu yang lain kembali.

 Adzan ashar datang, kusempatkan diri untuk ikut ashar berjamaah di mushola, tapi setelah selesai ashar, ternyata masih ada regu yang belum kembali, dan itu adalah regunya Nissa. Mungkin firasatku tadi telah terjadi, Nissa mungkin telah tersesat, untung saja tadi aku sempat minta tolong ke Salma untuk mengawal Nissa. Kulihat para kakak pembina mulai mengambil tenda-tenda yang roboh di lapangan, bahkan tenda darurat juga ikut dibongkar.

 Setengah jam menunggu, akhirnya regu terakhir itu, yaitu regunya Nissa, telah kembali ke bumi perkemahan. Kulihat dia tampak capek keringetan, bajunya pun kotor semua dan terlihat kucel. Nissa celingukan seakan mencari seseorang, dan saat pandangannya bertemu denganku, senyumnya merekah indah. Dari situ aku tau kalau dia tadi telah bertemu dengan kucing hitam jelmaan Salma yang menuntunnya kembali ke bumi perkemahan ini.

 Setelah semua peserta telah lengkap, maka pembina pramuka menyuruh semua untuk berbaris di lapangan karena akan diadakan acara penilaian regu dan penutupan keseluruhan acara kemah ini. Entah regu siapa yang menang, yang jelas bukan reguku.

 Sebenarnya tadi malam itu beberapa pembina pramuka tau kalau aku ikut membantu mengusir para jin yang merasuki para peserta kemah, untung saja mereka tidak membesar-besarkan kejadian itu pada upacara penutupan ini. Tadi pagi ada kakak pembina yang sempat datang menemuiku untuk berterima kasih, cuma sebatas itu aja, aku jadi merasa lega karena tidak ada siswa yang tau soal ini.

 Kulihat truk TNI yang menjemput kami telah berdatangan. Maka kami semua diminta packing barang-barang yang masih bisa di bawa, cuma sedikit sekali packing kali ini, karena memang cuma sedikit yang bisa diselamatkan. Bahkan aku cuma membawa tas carrier doang, sementara lampu dan tikar aku tinggal. Saat menunggu sampai semua siswa selesai packing, kulihat Nissa menghampiriku, dari jauh pun dia sudah tersenyum.

Quote:


 Obrolan terhenti saat kakak pembina mulai menyuruh kami untuk menaikkan barang-barang ke truk. Karena barangnya cuma sedikit, pengangkutan itu jadi lebih cepat. Lalu kami, para murid, diminta untuk naik ke truk. Tepat jam 5 sore, truk-truk itupun mulai berjalan beriringan meninggalkan bumi perkemahan, melaju pulang menuju sekolah. Kulihat Salma melayang di sisi samping truk, dan aku sempat berterima kasih padanya.


Bersambung…



42


yunie617
itkgid
adriantz
adriantz dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.