Kaskus

Story

Mbahjoyo911Avatar border
TS
Mbahjoyo911 
HITAM [Reborn]




 Hai gaess.. jumpa lagi dalam thread ini..

 Sudah hampir 3  tahun sejak thread Hitam season satu di-post di Kaskus. Tanpa disangka thread itu mendapat respon yang luar biasa (terima kasih buat semua reader). Bahkan akhirnya thread Hitam sampai diplagiat dan diterbitkan pada salah satu platform hingga dengan sangat terpaksa Hitam 1 harus dihapus.

 Akan tetapi, berkat bantuan banyak kaskuser yang melaporkan thread tersebut, maka kini thread hasil plagiasi tersebut telah dihapus dari platform yang bersangkutan. Jadi sekali lagi, TS berterima kasih banyak pada Agan dan Sista kaskuser semua yang telah membantu melaporkan thread plagiasi itu. Tanpa pembaca, maka seorang penulis menjadi tidak berarti. Kini, TS mencoba membuat kembali thread Hitam Reborn ini.

 Alasan TS membuat thread reborn yaitu karena sudah adanya Hitam season 2 yang telah memiliki viewer yang mencapai satu juta lebih! (Meskipun ada juga yang beranggapan kalau satu juta viewer itu adalah klonnya TS sendiri. Tapi tidak apa, orang bebas berpendapat emoticon-Big Grin)Untuk kesekian kalinya TS sangat berterima kasih pada reader semua. Jadi, karena ada Hitam season 2, maka akan lebih afdol kalo Hitam 1 dimunculkan biar lebih lengkap.

 Alasan kedua adalah supaya Agan Sista yang belum sempat membaca ataupun yang ingin mengulang lagi, kini bisa membaca cerita ini secara utuh dan tidak ada bagian yang hilang. Di samping itu, banyak juga permintaan dari Kaskuser agar thread Hitam 1 ini dimunculkan lagi. Sekali lagi, terima kasih banyak buat Agan dan Sista atas responnya yang luar biasa buat thread ini.



 Kisah ini hanyalah cerita fiksi, hasil imajinasi dari TS. Kesamaan nama, tempat dan kejadian hanyalah kebetulan belaka. Jadi, mohon jangan bertanya soal hal gaib pada TS, karena TS hanyalah orang biasa yang tidak mengerti apa-apa soal hal gaib, TS hanya punya hobi menulis dan menuangkannya ke dalam sebuah cerita fiksi.


Quote:




-----<<<{O}>>>-----





Prolog


 Namaku Aryandra, biasa dipanggil Arya atau Andra, tapi keluargaku lebih suka memanggil Andra. Aku lahir dari keluarga kecil yang berkecukupan. Aku tumbuh bersama adik perempuan satu-satunya yang terpaut usia satu tahun dariku. Adikku bernama Cindy, gadis kecil yang sangat imut dan menggemaskan, hingga menjadi kesayangan banyak orang. Rumah kami berada di bagian pinggir timur sebuah kota yang tidak terlalu besar.

 Entah bagaimana ceritanya sampai aku bisa punya suatu kelebihan seperti ini, aku tidak mengerti sama sekali. Aku bisa melihat, mendengar, merasakan dan berinteraksi dengan makhluk-makhluk berwujud aneh dan kadang menyeramkan. Aku bisa melihat kejadian-kejadian masa lampau hanya dengan menyentuh benda, melihat, bahkan cuma dari mendengar cerita seseorang. Kadang aku bermimpi tentang suatu kejadian, dan ternyata mimpi itu benar-benar nyata terjadi, seperti sebuah penglihatan kejadian masa depan yang datang lewat mimpi. 

 Seingatku, sudah dari semasa kecil aku  bisa mendengar suara mereka, Tapi aku nggak ingat kapan tepatnya. Sering aku mendengar suara-suara aneh seperti suara tawa cekikikan melengking-lengking menyakitkan telinga, tawa ngakak yang nggak kuketahui dari mana asalnya, geraman berat dan besar seperti suara binatang buas, desisan keras seperti suara ular, cakaran-cakaran kuku pada tembok rumah, suara langkah kaki manusia dan juga hewan seperti kuda. Sering juga aku dengar mereka memanggil namaku dan menyuruhku mendekat.

 Setelah tahap "bisa mendengar", maka akupun mulai bisa melihat hal-hal gaib itu. Sering aku melihat kelebatan-kelebatan bayangan hitam, kain putih panjang yang melayang di antara pohon, ada juga kain panjang berwarna merah darah, sampai bungkusan kain putih seperti bungkus permen yang menempel di pohon, Tapi ya cuma sebatas itu saja, cuma melihat kelebatan-kelebatan sekilas dan nggak begitu jelas, dan wujud nya pun tidak kuketahui.

 Aku juga sering melihat larikan-larikan cahaya sangat terang beraneka warna yang melesat cepat di atas genteng rumah warga, juga bola-bola api dan bola-bola cahaya yang melayang-layang di udara. Seringkali bola-bola cahaya dan bola api itu saling bertabrakan hingga menimbulkan suara ledakan dahsyat disertai menyebarnya bola api di angkasa langit malam.

 Tidak ada yang kulakukan selain cuma memperhatikan dengan penuh keheranan, sungguh suatu hal yang sangat aneh dan luar biasa. Tapi kalau yang kulihat itu sudah lewat, maka akupun juga nggak menggubrisnya, dan segera terlupakan begitu saja.

 Lama-kelamaan, seakan pandangan mataku menguat dan menjadi lebih peka. Aku bisa melihat wujud sosok-sosok makhluk aneh dengan utuh. Awalnya cuma melihat sosok yang berbentuk manusia biasa, dan kemudian mulai melihat wujud aneh-aneh, manusia dengan kaki atau tangan yang panjang sebelah, manusia berkepala botak bertelinga lancip. Ada yang berbentuk hewan, berkepala dua, makhluk bermata satu, dan banyak sekali bentuk-bentuk ganjil lainnya.

 Dari yang semula cuma  melihat siluet bayangan kabur, lambat laun aku mulai mampu melihat dengan sangat jelas, bahkan detail wajah yang sangat menyeramkan pun bisa kulihat dengan jelas. Makhluk berbentuk gorila raksasa yang berbulu di seluruh tubuhnya, bermata merah menyala seperti lampu senter dengan wajah sangat seram. Sosok manusia berkepala kuda, juga wanita berkaki ular. Aku sering melihat sosok anak-anak kecil berkepala plontos yang berlarian di jalan-jalan kampungku, hingga aku mengira kalau mereka adalah anak-anak dari tetanggaku, tapi ternyata anak-anak kecil itu berwajah tua dan berewokan.

 Yang paling sering kulihat sosok perempuan berwajah hancur dengan darah berlelehan di seluruh wajah, leher dan dada, memiliki rambut awut-awutan dan berbaju putih, ada juga yang berbaju merah. Mereka sering nangkring di atas pohon, atau di atas genteng rumah-rumah tetangga. Kadang mereka "terbang" dari satu pohon ke pohon lain disertai suara tawa melengking-lengking mendirikan bulu kuduk. Belakangan aku ketahui kalo mereka lah yang sering disebut sebagai kuntilanak.

Spoiler for :


 Meskipun wajah hancur tak berbentuk itu cuma seperti orang yang memakai topeng, tapi itu adalah wajah asli yang sebenar-benarnya, wajah mengerikan yang bisa membuat orang lari ketakutan atau bahkan pingsan di tempat. Tapi bagiku, wajah hancur semacam itu adalah pemandangan keseharianku.

 Setiap kali aku bertemu, melihat ataupun mendengar makhluk-makhluk itu, maka selalu saja kurasakan suatu tekanan yang sangat kuat yang berasal dari mereka. Seperti semacam tembok tak kelihatan yang menekanku dari segala arah. Rasa sangat tertekan yang bisa membuat orang bergidik merinding hebat, ketakutan sampai lari tunggang langgang, bahkan sampai pingsan ditempat. Tapi biasanya aku cuma merasa merinding saja, dan tidak merasa takut. Belakangan baru kuketahui kalau tekanan kuat itu  disebut sebagai aura energi.

 Mereka seakan tidak mengenal waktu, baik pagi, siang, sore atau malam aku masih bisa melihat mereka, jumlahnya banyak sekali, dan mereka seakan ada dimana saja. Jadi mitos yang sering kudengar kalau makhluk halus hanya ada pada waktu malam itu adalah salah belaka, mereka ada dimanapun dan kapanpun. Tapi mereka akan terlihat jauh lebih jelas dan dalam jumlah yang lebih banyak pada saat sore hari menjelang maghrib.

 Namun hal ini ada untungnya juga buatku, saking seringnya melihat mereka, aku jadi tidak takut dengan mereka, bahkan makhluk yang paling seram sekalipun, sejauh ini aku belum merasa takut. Ditambah lagi aku nggak pernah menggubrisnya, dasarnya lagi, aku anak yang ndableg, nggak nggagasan, cuek terhadap segala sesuatu. Dan semua penampakan itu nggak aku perhatikan dengan serius. Meskipun kadang terkejut juga kalau ada yang tau-tau nongol tepat didepanku secara mendadak. 

 Rasa merinding dan deg-degan tetaplah ada, sebagai reaksi karena melihat sesuatu yang menyeramkan, tapi aku nggak pernah sampai ketakutan apalagi sampai lari tunggang langgang, paling aku cuma berlalu meninggalkannya begitu saja, tanpa menggubrisnya lagi, dan dengan cepat bisa terlupa.

 Entah kenapa aku bisa melihat secara bertahap dan perlahan seperti itu. Seolah-olah semua itu memang telah dipersiapkan untukku secara bertahap. Aku tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun, bahkan pada keluargaku sendiri sekalipun, karena aku bingung gimana caranya bercerita, malah bisa-bisa aku dianggap gila.

 Namun ternyata selama ini ayah ibuku mengamatiku juga, jadi tanpa berceritapun, beliau berdua sudah tahu dengan sendirinya, hingga akhirnya harus kuceritakan juga semua yang terjadi padaku. Dan syukurlah, beliau berdua mau menerimaku semua itu, dengan  satu penjelasan, yaitu karena aku adalah anak beliau berdua. Aku sungguh bersyukur dilahirkan dalam sebuah keluarga yang sangat baik.

 Semua keanehan yang terjadi padaku ini sangat berpengaruh pada kehidupan sosialku, mulai dari sebagian besar teman-teman yang perlahan menjauh, tetangga-tetangga yang menganggapku gila, bahkan tak sedikit yang merasa takut padaku. Praktis aku jadi jarang bergaul dan hampir tidak memiliki teman, aku sering bermain sendirian, atau bersama adikku. Cuma keluarga saja yang memperlakukanku dengan biasa saja dan tidak berubah sama sekali padaku.

 Apakah semua yang terjadi padaku ini adalah hal normal? Tapi sebenarnya bagaimanakah patokan ukuran normal dan tidak normalnya seseorang seperti aku? Seperti apakah tolok ukur kata normal bagi manusia itu? Entahlah… 


 Seiring bertambahnya usiaku, maka aku mulai sadar kalau semua ini tidaklah normal dan bukanlah kodrat dari manusia biasa. Yang terjadi padaku ini terlalu aneh, dan semua itu termasuk sudah terlalu banyak bagi seorang manusia. Maka akupun berusaha untuk menghilangkannya. Tapi entah kenapa, usaha untuk menghilangkan keanehan itu belum juga berhasil.

 Hingga sampai pada suatu titik di mana aku menyerah pasrah, dan akhirnya kuserahkan saja semua ini pada Yang Maha Kuasa. Biarlah semua berjalan apa adanya, kujalani hidupku seperti air mengalir, dan berusaha bersikap seperti layaknya orang normal pada umumnya.

Diubah oleh Mbahjoyo911 04-10-2022 17:19
ariseptian58Avatar border
adriantzAvatar border
itkgidAvatar border
itkgid dan 131 lainnya memberi reputasi
124
85.6K
1.6K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
Mbahjoyo911Avatar border
TS
Mbahjoyo911 
#584

Kacau!


Quote:


 Suara kakak pembina melalui speaker terdengar nyaring membelah keheningan malam. Padahal aku baru saja memejamkan mata, dan kini harus bangun kembali. Semoga kekuatiranku tidak terjadi. Kalau sampai dua pasukan jin itu bertempur pada saat acara jurit malam berlangsung, maka situasinya akan jadi sangat berbahaya bagi semua orang.

 Saat keluar tenda, hawa yang kurasakan sudah berubah menjadi jauh lebih dingin dari yang seharusnya, rasa lembab yang sangat tidak nyaman bagi manusia, sebuah hawa yang tidak normal. Aura energi yang kuat dan pekat terasa menyesakkan dadaku. Dan aku yakin penyebabnya adalah ketegangan antara dua pasukan jin itu. 

 Di lapangan sudah berkumpul kakak-kakak pembina dan peserta kemah sudah berbaris, maka kamipun ikut bergabung dan  membentuk barisan. Saat semua barisan sudah rapi, mendadak saja angin bertiup sangat kencang dari arah timur lapangan, perlahan angin itu membesar dan berubah jadi angin ribut, badai besar datang! Peserta kemah lari berserabutan dengan panik disertai jeritan ketakutan. Tenda-tenda sudah mulai terangkat naik, bahkan satu persatu mulai rubuh karena angin badai itu.

 Dan yang kukhawatirkan ternyata benar-benar terjadi. Diantara deru angin, daun-daun dan debu yang beterbangan itu kulihat kelebatan ribuan sosok-sosok hitam yang berlari mengarah ke barat. Dan di arah barat sana, juga tampak ribuan sosok pasukan perempuan sudah bersiaga menghunus senjata masing-masing, mereka telah siap menyambut serbuan!

 Ribuan sosok jin hitam berwujud genderuwo itu tidak hanya merangsek ke arah pasukan perempuan, tapi banyak dari mereka yang mulai menyasar merasuki peserta kemah yang berada di jalur serbuan itu! Suasana langsung berubah jadi sangat ramai. Di antara tiupan angin badai yang bergemuruh itu, kudengar suara teriakan, raungan, suara tawa, dan tangisan dari para peserta kemah yang mulai kesurupan. Dan kini ada pula yang mulai mengamuk dan bergulingan di tanah sambil berteriak-teriak. Sungguh sebuah keadaan yang sangat kacau balau.

 Sementara siswa yang tidak kesurupan pun mulai bubar dan berlarian dengan ketakutan ke arah warung-warung di utara lapangan. Obor-obor yang tadinya ada di lapangan semua padam tertiup angin badai keadaan jadi gelap gulita, hingga membuat kekacauan itu jadi terasa sangat mencekam. 

 Dan seakan semua itu belum cukup, langit yang tadinya cerah berbintang, kini tertutup mendung tebal, petir menyambar-nyambar disertai suara menggelegar yang dahsyat. Sekejap kemudian, hujan turun dengan sangat lebatnya bagai dicurahkan langsung dari langit!

 Di sebelah barat lapangan, diantara curahan hujan yang menggila, angin badai yang kencang, dan sambaran petir yang tiada habisnya, tampak olehku, kedua kubu sudah bertemu dan saling baku-hantam. Kulihat sesosok perempuan cantik berada di garis terdepan, tampaknya dialah yang memimpin pasukan perempuan itu. Dengan tombak di tangan kiri dan trisula di tangan kanan, dia bergerak lincah menghindar dan membalas serangan ke arah lawan-lawannya.

 Sepertinya dia adalah sosok dominan, dia terus berpindah-pindah dari satu musuh ke musuh lain dengan sangat cepat, membagi serangan tanpa ada jeda sama sekali. Kalau lawannya sudah berhasil dilumpuhkan, maka dengan cepat dia bergerak ke musuh lain, setiap sabetan trisulanya dan tusukan tombaknya selalu memakan korban.

 Pasukan genderuwo itu memang sangat banyak, jauh lebih banyak daripada pasukan perempuan, hingga membuat pasukan perempuan terdesak mundur, belum lagi, para genderuwo itu sangat ganas dan licik, menyerang berbagai cara agar bisa membunuh lawan secepatnya. 

 Dan mendadak saja, dari dalam tanah di lapangan itu, muncul ratusan  pasukan perempuan berwujud setengah ular, bagian atas badan perempuan, bagian bawah berbentuk ular. Mereka benar-benar muncul dari dalam tanah! Dan langsung menyerang pasukan genderuwo, dengan menggunakan ekor yang mirip ular itu sebagai senjata, mereka menyabet, melilit dan membanting para genderuwo.

 Keadaan kini berbalik, pasukan genderuwo yang tadinya mendesak lawan, kini menjadi terdesak, barisan mereka kocar-kacir dan kacau balau. Meski jumlah pasukan genderuwo lebih banyak, tapi mereka seakan dikepung dan diserang dari berbagai arah. Dan sepertinya ilmu para genderuwo itu kalah hebat. Mereka cuma bisa bertahan sambil mundur perlahan ke arah timur, arah kerajaan mereka.

 Disini, ditengah lapangan, aku berdiri terdiam, merasakan kengerian yang sangat mencekam, ternyata segini dahsyatnya peperangan antara dua pasukan jin! Bahkan bisa mempengaruhi alam dunia! Suara gaung tiupan angin keras yang menyakitkan telinga, kilat dan gelegar petir yang menyambar-nyambar, air hujan yang turun terasa bagai ribuan jarum menusuk kulit, hawa dingin yang membekukan, sungguh semua kombinasi itu membuat kaki ini sama sekali tidak bisa bergerak. Tapi aku nggak bisa terus berdiri di sini, aku harus melakukan sesuatu! Tapi apa?! Apa yang harus kulakukan?!

 Di tengah lapangan, diantara curah hujan dan angin badai, para kakak pembina berusaha menolong yang kesurupan, memegangi kaki-tangannya dan berusaha menyadarkan dengan membaca doa-doa. Sementara yang lain mulai menggotong satu persatu siswa yang kesurupan untuk dibawa ke deretan warung-warung. Di tengah kekacauan itu, dengan bersusah payah, akhirnya kakiku bisa kugerakkan juga, aku ikut menolong peserta kemah yang kesurupan itu. 

 Ternyata para genderuwo itu cuma menempel di punggung peserta kemah yang dirasukinya. Maka satu persatu kutarik saja genderuwo yang menempel itu, lalu kubuang ke atas. Aku terus berpindah-pindah dari satu peserta ke peserta lain.

 Namun karena banyaknya peserta kemah yang kesurupan, lama-lama aku jadi kewalahan sendiri. Dan lagi, setiap peserta yang bisa kusadarkan, tak berapa lama kemudian ada genderuwo lain yang merasukinya, begitu terus nggak selesai-selesai. 

Quote:


 Senyum bengis tersungging di bibirnya. Lalu Salma berkelebat sangat cepat, dengan sabit cahaya birunya, dia membabat setiap genderuwo yang berhasil kutarik keluar dari tubuh para siswa. Kuku panjangnya bagai sepuluh pedang yang membabat habis setiap makhluk halus yang ada di dekatnya. Entah sudah berapa banyak korbannya, tapi pasukan genderuwo itu seakan tiada habisnya. Jadi kalau keadaan kayak gini terus, maka nggak akan pernah selesai-selesai.

 Mendadak terdengar raungan sangat keras dari arah timur, lalu terlihatlah satu sosok genderuwo sangat besar muncul dari arah timur. Dialah sosok yang paling besar diantara ribuan genderuwo lainnya. Dia langsung merangsek maju ke tengah kancah pertempuran, membabat setiap musuhnya dengan keji. Setiap kibasan tangannya selalu memakan korban dari pasukan perempuan. Sungguh ganas sekali  genderuwo raksasa itu itu.

 Dengan bertambahnya jumlah yang bertempur, maka pertempuran itu semakin meluas, sampai jauh di hutan sisi selatan lapangan, terus melebar di utara, melewati warung-warung, dan sampai di hutan utara lapangan. Peserta kemah yang berada di warung-warung itu juga ikut terkena dampaknya. Ada yang kesurupan, dan banyak juga yang langsung pingsan. Suasana jadi tambah gegap gempita. Situasi ini harus dihentikan segera, maka akupun berteriak memanggil Salma lagi.

Quote:


 Mendadak saja suatu aura hitam sangat kuat berpendar dan menyebar menyesakkan dada, Salma sedang mengeluarkan kekuatan aslinya. Aura yang keluar itu bahkan sanggup mempengaruhi makhluk-makhluk yang sedang bertempur di sekitarnya, gerakan mereka jadi melambat. Sungguh dahsyat pengaruh aura hitam dari Salma itu.

 Hampir tak bisa kuikuti oleh pandangan mataku, Salma berkelebat sangat cepat di atas kepala sosok-sosok yang sedang bertempur itu, dia langsung mengarah ke raja genderuwo. Masih sempat kulihat kuku-kuku jari tangannya yang memanjang itu, sedang tangan kanannya tampak berpendar cahaya biru sangat terang. Belum juga sampai pada si raja genderuwo itu, Salma telah pukulkan tangannya, bola cahaya biru sangat besar melesat cepat. 

 Blaaarr…!

 Terjadi ledakan dahsyat saat bola cahaya biru menghantam sasaran. Raja genderuwo terlempar jauh ke belakang. Dan seakan tidak memberi kesempatan, Salma merangsek lagi ke arah raja genderuwo itu. Pukulan demi pukulan datang bertubi-tubi dengan sangat cepat mengenai raja genderuwo Aku bahkan sempat terbengong menyaksikan serangannya, hingga jadi lupa dengan apa yang harus kulakukan, yaitu menyadarkan setiap siswa yang kesurupan.

 Tampaknya raja genderuwo langsung kewalahan, bahkan tidak punya kesempatan untuk membalas serangan dari Salma, dia cuma berusaha menghindar, Tapi serangan Salma banyak yang mengenainya. Si raja genderuwo mulai  mundur dengan kerepotan.

 Puluhan genderuwo yang lain berusaha membantu rajanya, mereka ikut menyerang Salma dari segala arah. Dan saat itulah tampak puluhan sabit biru kecil-kecil berhamburan, maka puluhan genderuwo yang mengeroyok Salma itu langsung berpelantingan dengan tubuh terpotong-potong. Entah bagaimana caranya Salma bisa membagi serangannya pada raja genderuwo dan pada anak buahnya itu.

 Pertarungan mereka terus bergeser ke arah timur, melewati pagar gaib merah, dan terus ke timur memasuki hutan, Banyak sekali pasukan genderuwo yang juga mengikuti mereka. Hingga akhirnya Salma dan si raja genderuwo tidak kelihatan lagi. Lalu tiba-tiba saja, dari arah hutan timur lapangan itu terdengar suara raungan keras bersuara serak, besar dan berat. 

 Mendadak saja semua pasukan genderuwo itu hentikan aksi mereka, lalu semua tampak melesat mundur ke arah timur dan berhenti di belakang garis pagar gaib itu.  Bahkan semua genderuwo yang tadinya merasuki peserta kemah juga ikut keluar dan mundur sampai pagar gaib merah, bergabung dengan pasukan genderuwo lainnya yang cuma berdiri diam disana, entah apa sebenarnya yang terjadi.

 Pasukan perempuan merangsek maju ke arah timur mengejar lawan-lawannya. Teriakan peperangan dari ribuan perempuan terdengar melengking menyakitkan telinga. Tapi kemudian mereka cuma berhenti di depan batas garis pagar gaib merah itu, suara teriakan juga berhenti, lalu semuanya jadi hening. Dan untuk kedua kalinya aku jadi keheranan sendiri, ada apa lagi ini?

 Angin badai yang tadinya bertiup kencang kini perlahan mereda. Hujan yang menggila pun sudah mereda. Suasana jadi tenang kembali, meskipun masih dihiasi dengan hujan gerimis kecil. Terlihat beberapa guru sedang memasang beberapa lampu spot yang diarahkan ke lapangan. Dan suasana kini jadi terang benderang. Lalu Tampak olehku suatu keadaan yang sangat menyedihkan.

 Tanah lapangan yang tersiram hujan itu kini berubah jadi genangan air yang becek berlumpur.  Bumi perkemahan porak-poranda, tenda-tenda roboh terbenam lumpur, dan tubuh-tubuh berkaparan para siswa yang tadinya kesurupan, semuanya bermandikan lumpur! Isak tangis dari para siswi masih terdengar disana-sini.

 Satu-persatu mereka mulai dibawa ke arah warung-warung di sebelah utara lapangan. Beberapa peserta kemah mulai membenahi tenda yang rubuh terkena angin badai tadi, tapi semua itu sia-sia, karena semua peralatan kemah telah terkena lumpur. Merekapun mulai berkumpul di sekitar bangunan warung-warung.

 Aku beranjak ke tendaku yang sudah rubuh dan berbalut lumpur, kuambil dua botol air mineral yang kutemukan yang masih utuh disitu, entah punya siapa, dan meskipun sudah belepotan lumpur, tapi segel tutupnya masih utuh, maka kubawa aja semua. Lalu aku menuju ke arah warung-warung itu. Disana tampak para peserta kemah berkumpul, wajah-wajah mereka menunjukkan kengerian dan kecapekan. 

 Lalu aku jadi teringat Nissa, bahkan tidak kepikiran soal teman satu regu dan juga Danu, cuma Nissa yang memenuhi otakku. Maka aku coba berkeliling, dan kutemukan dia diantara peserta kemah yang duduk di depan warung-warung itu,  syukurlah dia baik-baik saja, ternyata disebelahnya ada Vina juga, sangat jelas kalau mereka gemetar ketakutan dengan wajah pucat pasi. Kuhampiri mereka dan menyerahkan dua botol air mineral yang sebelumnya kubacakan ayat kursi.

Quote:


 Vina cuma menggeleng, wajahnya masih terlihat pucat. Nissa meraih tangan kananku dan menggenggamnya erat, kurasakan kalau tangan itu gemetaran hebat dan terasa sangat dingin, rasa ketakutan itu benar-benar nyata. Maka kuraih pundaknya dengan tangan kiri dan kupeluk erat, dan Nissa menyandarkan kepala ke dadaku. Kulihat Vina masih diam aja, sepertinya dia masih syok. 

 Maka kulepas tangan kananku dari Nissa dan meraih pundak Vina, kami berpelukan bertiga. Bisa kurasakan kalau tubuh kedua cewek itu sangat dingin dan gemetar hebat, maka kusalurkan hawa hangat ke tubuh mereka melalui dua tanganku. Perlahan tubuh mereka menghangat, dan kini mereka sudah agak lebih tenang.

Quote:


 Pelukan keduanya terasa makin erat di tubuhku. Nggak ada pikiran macam-macam di otakku, bahkan aku aja tadi sempat merasa gentar, apalagi mereka berdua, tentu jauh lebih takut lagi. Dengan pakaian basah dan angin dingin yang kencang, tentu mereka tadi juga menggigil kedinginan. 

 Makin banyak energi hangat yang kusalurkan ke tubuh mereka, hingga perlahan wajah pucat mereka tampak mulai memerah lagi. Lalu kulihat Salma melayang di tengah lapangan dan menuju ke arahku. Sepertinya dia berhasil melumpuhkan raja genderuwo tadi, tepat seperti yang dia katakan. Jadi teringat pertarungan seru tadi, Salma benar-benar hebat.

Quote:


 Kulayangkan pandangan ke arah timur, tempat dimana pagar gaib merah berada. Pasukan genderuwo sudah tidak ada lagi, sepertinya mereka sudah kembali ke kerajaannya. Masih ada beberapa puluh sosok pasukan perempuan yang berjaga di depan pagar gaib merah itu, jumlah mereka sudah jauh berkurang. Aku yakin yang lain juga kembali ke kerajaan perempuan.

 Lalu suasana jadi terasa ramai dengan tiba-tiba. Ternyata para penduduk sekitar pada berdatangan kemari, sepertinya mereka mendengar jeritan-jeritan peserta kemah yang kesurupan tadi. Memang jarak perkampungan penduduk dengan bumi perkemahan ini tidak begitu jauh. Bahkan para pemilik warung juga datang untuk membuka warungnya, kami disuruh tidur di dalam warung-warung mereka. 

 Banyak warga lokal yang membawa ember dan mengambilkan air untuk membersihkan badan dan pakaian para siswa dari lumpur. Kulihat beberapa kakak pembina mulai membuat api dengan sisa persediaan kayu yang masih kering, mereka menyalakan api unggun di banyak titik sekaligus di depan-warung-warung itu, dan para siswa pun mulai bergerombol mengelilingi  setiap api unggun itu.

 Malam itu akhirnya jurit malam terpaksa dibatalkan, kami juga nggak bisa tidur di tenda, karena tanah di lantai tenda sudah berubah jadi genangan berlumpur, bahkan tenda-tenda yang ambruk itu sudah belepotan lumpur. Semua tas dan pakaian ganti para peserta kemah pun juga basah. 

 Terpaksa kami lalui malam itu dengan pakaian yang basah. Tapi karena adanya banyak api unggun itu, rasa dingin mulai berkurang, meskipun baju masih pada basah. Mereka yang sudah sangat capek akhirnya mulai memasuki warung-warung itu untuk tidur disana, berdesak-desakan jadi satu, ada juga yang tidur di mushola. Untung saja para pemilik warung berbaik hati, mereka mau datang ke warungnya di tengah malam dan mempersilahkan kami tidur di warung-warung mereka. 

 Para kakak pembina banyak yang menggelar tikar di serambi warung dan tidur disitu, mereka seakan menjaga para peserta kemah. Tadi sempat kulihat banyak juga kakak pembina yang cewek ikut jadi korban kesurupan. Ada untungnya juga insiden tadi, jurit malam nggak jadi dilaksanakan. Dan malam itu aku ikut tidur berdesakan di mushola dengan pakaian kami yang  basah.


Bersambung…




40


kulipriok
adriantz
itkgid
itkgid dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.