- Beranda
- Stories from the Heart
HITAM [Reborn]
...
TS
Mbahjoyo911
HITAM [Reborn]
Hai gaess.. jumpa lagi dalam thread ini..
Sudah hampir 3 tahun sejak thread Hitam season satu di-post di Kaskus. Tanpa disangka thread itu mendapat respon yang luar biasa (terima kasih buat semua reader). Bahkan akhirnya thread Hitam sampai diplagiat dan diterbitkan pada salah satu platform hingga dengan sangat terpaksa Hitam 1 harus dihapus.
Akan tetapi, berkat bantuan banyak kaskuser yang melaporkan thread tersebut, maka kini thread hasil plagiasi tersebut telah dihapus dari platform yang bersangkutan. Jadi sekali lagi, TS berterima kasih banyak pada Agan dan Sista kaskuser semua yang telah membantu melaporkan thread plagiasi itu. Tanpa pembaca, maka seorang penulis menjadi tidak berarti. Kini, TS mencoba membuat kembali thread Hitam Reborn ini.
Alasan TS membuat thread reborn yaitu karena sudah adanya Hitam season 2 yang telah memiliki viewer yang mencapai satu juta lebih! (Meskipun ada juga yang beranggapan kalau satu juta viewer itu adalah klonnya TS sendiri. Tapi tidak apa, orang bebas berpendapat
)Untuk kesekian kalinya TS sangat berterima kasih pada reader semua. Jadi, karena ada Hitam season 2, maka akan lebih afdol kalo Hitam 1 dimunculkan biar lebih lengkap.Alasan kedua adalah supaya Agan Sista yang belum sempat membaca ataupun yang ingin mengulang lagi, kini bisa membaca cerita ini secara utuh dan tidak ada bagian yang hilang. Di samping itu, banyak juga permintaan dari Kaskuser agar thread Hitam 1 ini dimunculkan lagi. Sekali lagi, terima kasih banyak buat Agan dan Sista atas responnya yang luar biasa buat thread ini.
Kisah ini hanyalah cerita fiksi, hasil imajinasi dari TS. Kesamaan nama, tempat dan kejadian hanyalah kebetulan belaka. Jadi, mohon jangan bertanya soal hal gaib pada TS, karena TS hanyalah orang biasa yang tidak mengerti apa-apa soal hal gaib, TS hanya punya hobi menulis dan menuangkannya ke dalam sebuah cerita fiksi.
Quote:
-----<<<{O}>>>-----
Prolog
Prolog
Namaku Aryandra, biasa dipanggil Arya atau Andra, tapi keluargaku lebih suka memanggil Andra. Aku lahir dari keluarga kecil yang berkecukupan. Aku tumbuh bersama adik perempuan satu-satunya yang terpaut usia satu tahun dariku. Adikku bernama Cindy, gadis kecil yang sangat imut dan menggemaskan, hingga menjadi kesayangan banyak orang. Rumah kami berada di bagian pinggir timur sebuah kota yang tidak terlalu besar.
Entah bagaimana ceritanya sampai aku bisa punya suatu kelebihan seperti ini, aku tidak mengerti sama sekali. Aku bisa melihat, mendengar, merasakan dan berinteraksi dengan makhluk-makhluk berwujud aneh dan kadang menyeramkan. Aku bisa melihat kejadian-kejadian masa lampau hanya dengan menyentuh benda, melihat, bahkan cuma dari mendengar cerita seseorang. Kadang aku bermimpi tentang suatu kejadian, dan ternyata mimpi itu benar-benar nyata terjadi, seperti sebuah penglihatan kejadian masa depan yang datang lewat mimpi.
Seingatku, sudah dari semasa kecil aku bisa mendengar suara mereka, Tapi aku nggak ingat kapan tepatnya. Sering aku mendengar suara-suara aneh seperti suara tawa cekikikan melengking-lengking menyakitkan telinga, tawa ngakak yang nggak kuketahui dari mana asalnya, geraman berat dan besar seperti suara binatang buas, desisan keras seperti suara ular, cakaran-cakaran kuku pada tembok rumah, suara langkah kaki manusia dan juga hewan seperti kuda. Sering juga aku dengar mereka memanggil namaku dan menyuruhku mendekat.
Setelah tahap "bisa mendengar", maka akupun mulai bisa melihat hal-hal gaib itu. Sering aku melihat kelebatan-kelebatan bayangan hitam, kain putih panjang yang melayang di antara pohon, ada juga kain panjang berwarna merah darah, sampai bungkusan kain putih seperti bungkus permen yang menempel di pohon, Tapi ya cuma sebatas itu saja, cuma melihat kelebatan-kelebatan sekilas dan nggak begitu jelas, dan wujud nya pun tidak kuketahui.
Aku juga sering melihat larikan-larikan cahaya sangat terang beraneka warna yang melesat cepat di atas genteng rumah warga, juga bola-bola api dan bola-bola cahaya yang melayang-layang di udara. Seringkali bola-bola cahaya dan bola api itu saling bertabrakan hingga menimbulkan suara ledakan dahsyat disertai menyebarnya bola api di angkasa langit malam.
Tidak ada yang kulakukan selain cuma memperhatikan dengan penuh keheranan, sungguh suatu hal yang sangat aneh dan luar biasa. Tapi kalau yang kulihat itu sudah lewat, maka akupun juga nggak menggubrisnya, dan segera terlupakan begitu saja.
Lama-kelamaan, seakan pandangan mataku menguat dan menjadi lebih peka. Aku bisa melihat wujud sosok-sosok makhluk aneh dengan utuh. Awalnya cuma melihat sosok yang berbentuk manusia biasa, dan kemudian mulai melihat wujud aneh-aneh, manusia dengan kaki atau tangan yang panjang sebelah, manusia berkepala botak bertelinga lancip. Ada yang berbentuk hewan, berkepala dua, makhluk bermata satu, dan banyak sekali bentuk-bentuk ganjil lainnya.
Dari yang semula cuma melihat siluet bayangan kabur, lambat laun aku mulai mampu melihat dengan sangat jelas, bahkan detail wajah yang sangat menyeramkan pun bisa kulihat dengan jelas. Makhluk berbentuk gorila raksasa yang berbulu di seluruh tubuhnya, bermata merah menyala seperti lampu senter dengan wajah sangat seram. Sosok manusia berkepala kuda, juga wanita berkaki ular. Aku sering melihat sosok anak-anak kecil berkepala plontos yang berlarian di jalan-jalan kampungku, hingga aku mengira kalau mereka adalah anak-anak dari tetanggaku, tapi ternyata anak-anak kecil itu berwajah tua dan berewokan.
Yang paling sering kulihat sosok perempuan berwajah hancur dengan darah berlelehan di seluruh wajah, leher dan dada, memiliki rambut awut-awutan dan berbaju putih, ada juga yang berbaju merah. Mereka sering nangkring di atas pohon, atau di atas genteng rumah-rumah tetangga. Kadang mereka "terbang" dari satu pohon ke pohon lain disertai suara tawa melengking-lengking mendirikan bulu kuduk. Belakangan aku ketahui kalo mereka lah yang sering disebut sebagai kuntilanak.
Spoiler for :
Meskipun wajah hancur tak berbentuk itu cuma seperti orang yang memakai topeng, tapi itu adalah wajah asli yang sebenar-benarnya, wajah mengerikan yang bisa membuat orang lari ketakutan atau bahkan pingsan di tempat. Tapi bagiku, wajah hancur semacam itu adalah pemandangan keseharianku.
Setiap kali aku bertemu, melihat ataupun mendengar makhluk-makhluk itu, maka selalu saja kurasakan suatu tekanan yang sangat kuat yang berasal dari mereka. Seperti semacam tembok tak kelihatan yang menekanku dari segala arah. Rasa sangat tertekan yang bisa membuat orang bergidik merinding hebat, ketakutan sampai lari tunggang langgang, bahkan sampai pingsan ditempat. Tapi biasanya aku cuma merasa merinding saja, dan tidak merasa takut. Belakangan baru kuketahui kalau tekanan kuat itu disebut sebagai aura energi.
Mereka seakan tidak mengenal waktu, baik pagi, siang, sore atau malam aku masih bisa melihat mereka, jumlahnya banyak sekali, dan mereka seakan ada dimana saja. Jadi mitos yang sering kudengar kalau makhluk halus hanya ada pada waktu malam itu adalah salah belaka, mereka ada dimanapun dan kapanpun. Tapi mereka akan terlihat jauh lebih jelas dan dalam jumlah yang lebih banyak pada saat sore hari menjelang maghrib.
Namun hal ini ada untungnya juga buatku, saking seringnya melihat mereka, aku jadi tidak takut dengan mereka, bahkan makhluk yang paling seram sekalipun, sejauh ini aku belum merasa takut. Ditambah lagi aku nggak pernah menggubrisnya, dasarnya lagi, aku anak yang ndableg, nggak nggagasan, cuek terhadap segala sesuatu. Dan semua penampakan itu nggak aku perhatikan dengan serius. Meskipun kadang terkejut juga kalau ada yang tau-tau nongol tepat didepanku secara mendadak.
Rasa merinding dan deg-degan tetaplah ada, sebagai reaksi karena melihat sesuatu yang menyeramkan, tapi aku nggak pernah sampai ketakutan apalagi sampai lari tunggang langgang, paling aku cuma berlalu meninggalkannya begitu saja, tanpa menggubrisnya lagi, dan dengan cepat bisa terlupa.
Entah kenapa aku bisa melihat secara bertahap dan perlahan seperti itu. Seolah-olah semua itu memang telah dipersiapkan untukku secara bertahap. Aku tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun, bahkan pada keluargaku sendiri sekalipun, karena aku bingung gimana caranya bercerita, malah bisa-bisa aku dianggap gila.
Namun ternyata selama ini ayah ibuku mengamatiku juga, jadi tanpa berceritapun, beliau berdua sudah tahu dengan sendirinya, hingga akhirnya harus kuceritakan juga semua yang terjadi padaku. Dan syukurlah, beliau berdua mau menerimaku semua itu, dengan satu penjelasan, yaitu karena aku adalah anak beliau berdua. Aku sungguh bersyukur dilahirkan dalam sebuah keluarga yang sangat baik.
Semua keanehan yang terjadi padaku ini sangat berpengaruh pada kehidupan sosialku, mulai dari sebagian besar teman-teman yang perlahan menjauh, tetangga-tetangga yang menganggapku gila, bahkan tak sedikit yang merasa takut padaku. Praktis aku jadi jarang bergaul dan hampir tidak memiliki teman, aku sering bermain sendirian, atau bersama adikku. Cuma keluarga saja yang memperlakukanku dengan biasa saja dan tidak berubah sama sekali padaku.
Apakah semua yang terjadi padaku ini adalah hal normal? Tapi sebenarnya bagaimanakah patokan ukuran normal dan tidak normalnya seseorang seperti aku? Seperti apakah tolok ukur kata normal bagi manusia itu? Entahlah…
Seiring bertambahnya usiaku, maka aku mulai sadar kalau semua ini tidaklah normal dan bukanlah kodrat dari manusia biasa. Yang terjadi padaku ini terlalu aneh, dan semua itu termasuk sudah terlalu banyak bagi seorang manusia. Maka akupun berusaha untuk menghilangkannya. Tapi entah kenapa, usaha untuk menghilangkan keanehan itu belum juga berhasil.
Hingga sampai pada suatu titik di mana aku menyerah pasrah, dan akhirnya kuserahkan saja semua ini pada Yang Maha Kuasa. Biarlah semua berjalan apa adanya, kujalani hidupku seperti air mengalir, dan berusaha bersikap seperti layaknya orang normal pada umumnya.
Diubah oleh Mbahjoyo911 04-10-2022 17:19
itkgid dan 131 lainnya memberi reputasi
124
85.5K
1.6K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Mbahjoyo911
#558
Gerak Reflek
Quote:
Pagi subuh itu, setelah kemunculan jin berwujud orang tua bersorban yang mengaku bernama Eyang Dim, Salma tiba-tiba datang dan terlihat gusar, bahkan aura hitamnya pun juga terpancar kuat. Dia telah bersiap untuk subuhan bersamaku, bahkan dia sudah siap dengan mukena mya, tapi dia malah menatap tajam padaku sambil terus bertanya. Aku belum tau apa yang membuat dia marah, jadi kujawab semua pertanyaannya itu.
Untung saja Salma mau menurut. Maka bergegas aku beranjak mengambil air wudhu, lalu melaksanakan subuhan di kamar dengan Salma sebagai makmumnya. Selesai subuhan, lanjut membaca dzikir. Salma tetap berada di dekatku sampai mulai terdengar suara kendaraan lalu-lalang di jalan di depan rumahku, sepertinya matahari sudah mulai terbit, jadi kuhentikan dzikir dan bersiap untuk berangkat sekolah.
Hari itu aku berangkat ke sekolah seperti biasanya, dengan mengendarai motor dan membonceng Cindy di jok belakang. Sampai di sekolah, senyum manisnya Annissa sudah menyambutku. Sepertinya hari ini akan terasa cerah. Akhir-akhir ini hubunganku dengan Nissa memang semakin dekat, meski kami belum mengutarakan perasaan masing-masing, tapi hubungan kami sudah seperti layaknya orang pacaran.
Hubungan kami sama seperti anak abg yang baru mengenal cinta, maklum, baru kelas 2 SMP. Jalan bareng bergandengan, mengerjakan tugas bareng, makan bareng di kantin tanpa menggubris siswa lain yang berada di sekitar kami, bahkan kami sering di cengin sama Vina dan Danu, tapi aku tidak peduli. Cuma begitu-begitu saja gaya pacaran kami, tapi sudah membuatku senang luar biasa. Mau disebut cinta monyetlah, atau cinta lutung lah, aku nggak peduli.
Setiap kali aku dan Nissa lagi berduaan, Salma terlihat selalu mengawasiku dari kejauhan. Meskipun bibirnya selalu tersenyum ke arahku, tapi ada sesuatu yang lain dibalik sorot matanya yang susah kuartikan. Sejauh ini Salma juga tidak pernah membahas tentang Nissa, jadi akupun juga nggak pernah cerita soal itu, karena memang dia juga melihat sendiri semuanya, kecuali isi hatiku dan Nissa tentunya.
Pulang sekolahpun, aku selalu menemani Nissa yang menunggu jemputan, hal ini sering membuat Cindy marah-marah karena dia ingin cepat-cepat pulang. Tapi aku nggak peduli, karena akulah yang membonceng dia, jadi dialah yang harus nurut. Aku juga sering ngobrol sama mamanya Nissa saat beliau nyang menjemput. Dan siang itu semua berjalan normal hingga aku dan Cindy sampai di rumah.
Malam harinya, sehabis isya dan dzikir, aku belajar untuk pelajaran besok, membuka-buka buku sebentar, biar terlihat seperti siswa normal sama kayak siswa yang lain. Tapi baru setengah jam membaca, rasa kantuk menyerang tiba-tiba. Maka kutinggalkan meja belajarku dan merebahkan diri di kasur untuk tidur.
Tapi baru beberapa saat terpejam, mataku kembali terbuka dengan sendirinya. Dan ternyata aku sudah tidak berada di tempat tidurku lagi! Kini aku sedang berdiri di sebuah tanah lapang berumput yang sangat luas, di sana-sini tampak gundukan batu-batu hitam besar-besar yang seakan tumbuh dari dalam tanah.
Belum habis rasa heranku, ternyata di depanku telah berdiri sesosok orang tua berjubah putih, bersorban putih, dan berjenggot panjang putih, aku mengenalinya sebagai jin yang mengaku bernama Eyang Dim! Dia cuma berdiri diam sambil menatapku dengan tajam. Kami berdiri berhadapan, dan aku menunggu. Tiba-tiba saja dia bergerak sangat cepat dengan kepalan tangannya terarah ke dadaku!
Aku jadi terkejut setengah mati. Tapi karena tidak mengerti silat, maka aku coba menghindar dengan berserabutan. Namun karena serangan itu sangat cepat, maka percuma saja berusaha menghindar, kepalan tangan itu mengenai dadaku dengan telak. Demikian kerasnya pukulan itu hingga membuatku terjatuh jungkir balik ke belakang. Tapi anehnya, aku tidak merasa sakit sama sekali di bagian dada yang terpukul tadi!
Kucoba bangkit lagi dengan keheranan, tapi belum sempat bertanya, sosok orang tua sudah berkelebat cepat kembali! Dia memukul ke arah dada seperti tadi, dengan gerakan yang sama pula. Untuk kedua kalinya aku terjengkang lagi, tapi tidak sampai jungkir balik seperti tadi, karena gerakanku menghindar kini jadi lebih cepat, jadi pukulannya cuma menyerempet sedikit saja. Dan seperti tadi, aku tidak merasa sakit sama sekali.
Maka aku pun bangkit kembali, tapi lagi-lagi dia menyerangku, dan kejadian itu terus saja berulang. Sosok orang tua terus menyerangku di tempat yang sama, dengan jurus pukulan dan kecepatan yang sama juga. Dan setelah puluhan kali terkena serangan dibagian dada, akhirnya aku bisa hafal serangan itu dan bagaimana cara menghindarinya. Aku bahkan berhasil menghindari sepuluh pukulan terakhirnya, cuma dengan gerakan serabutan. Kini terbuka juga sifat asli dari jin yang mengaku bernama eyang Dim ini, dia telah sengaja menyerangku, meskipun aku tidak merasakan sakit.
Seakan tidak mendengar pertanyaanku, jin itu berkelebat kembali, tapi kini jurus serangannya berubah menjadi satu tendangan lurus ke arah kepala, tak urung kepalaku langsung kena tendangan itu. Berkali-kali dia menyerang dengan tendangan yang sama, kecepataan yang sama dan ke arah yang sama. Hingga akhirnya aku juga bisa menghapal pola serangan itu sampai bisa menghindarinya belasan kali.
Sebelum suaranya hilang, jin tua itu sudah berkelebat menyerang kembali, kali ini dia menyerang dengan tebasan tangan miring ke arah leher. Dan sama seperti tadi, setelah puluhan kali terkena tebasan itu, akhirnya aku bisa menghindari belasan tebasan itu juga.
Kejadian itu terus saja berulang. Setiap kali satu jurus serangan yang diulang itu sudah bisa kuhindari, maka dia selalu mengganti serangannya. Mulai dari pukulan di dada, tendangan di kepala, sapuan di kaki, serangan membokong dari belakang dengan pukulan dan tendangan.
Banyak sekali jenis pola serangannya, tapi akhirnya aku bisa menghindari semua jurus serangan itu. Meskipun cuma semacam gerakan reflek menghindar dan tanpa jurus silat apa-apa, tapi serangan yang dilakukan berulang-ulang itu membuatku jadi terbiasa, bisa menghapalnya dan akhirnya bisa menghindarinya, meski sedang dalam posisi tubuh yang seperti apapun.
Mendadak saja dia hentikan serangannya dan cuma berdiri diam, menatapku dalam jarak tiga meter di depanku. Meskipun masih kebingungan, tapi kewaspadaan masih kupasang. Bukan tidak mungkin dia akan menyerangku lagi secara mendadak.
Mendengar jawaban jin tua itu membuatku makin yakin kalau dia bakal menyerangku lagi, maka kucoba untuk menghimpun energiku dan menyalurkan ke tangan. Tapi ternyata tidak berhasil! Aku bahkan tidak bisa merasakan energi di dalam tubuhku! Terasa kosong tanpa energi apapun! Kepanikan mulai melanda, jadi kucoba untuk memanggil Salma, tapi dia tidak datang juga. Dan seakan tahu yang aku lakukan, sosok yang mengaku eyang Dim itu keluarkan suara.
Perlahan aku mulai mengerti maksudnya, kalau cuma gerak reflek yang digunakan untuk menghindar, maka gerakan itu akan terus berubah-ubah sesuai keadaan, tanpa jurus pasti, nggak ada pola rumus, sehingga lawan nggak bisa menebak. Seperti gerakan orang kalau dipukul pasti akan reflek berusaha menghindar dengan sendirinya. Dan gerak reflek itu pasti otomatis akan menyesuaikan dengan arah pukulan.
Sungguh suatu cara yang cerdas, aku belum pernah mendengar jenis beladiri yang seperti ini. Tenyata tadi aku telah berprasangka buruk padanya, kukira dia tadi menyerangku cuma dengan membabi buta untuk membunuhku, tapi ternyata semua serangannya sangat terarah dan penuh perhitungan
Tanpa menjawab, Eyang Dim mulai menyerangku lagi, serangan berulang-ulang yang kadang diselingi serangan lain. Makin lama serangan selingan itu makin banyak, dengan kombinasi berganti-ganti pukulan, tendangan, tebasan tangan, cakaran. Beberapa kali aku terkena serangan itu, tapi lama-lama aku bisa juga menghindari semua serangan itu.
Tiap kali aku bisa menghindari semuanya, maka Eyang Dim menambah kecepatan geraknya, begitu seterusnya, serangan yang terus meningkat kecepatannya secara bertahap, jadi aku harus bisa mengimbangi kecepatan itu, dan anehnya, makin lama gerakanku menghindar seakan ikut bertambah cepat, seperti menyesuaikan kecepatan serangan yang datang. Lalu tiba-tiba Eyang Dim meloncat menjauhiku, dia menghentikan serangan itu.
Satu pukulan lurus datang mengarah ke dada. Kucoba menangkisnya dengan palangkan lengan kananku ke depan, tapi aku kurang cepat juga, hingga pukulan itu masuk menghantam dadaku, aku terlempar ke belakang lagi. Lalu Eyang Dim mengulangi serangan pukulan itu, terus menerus diulang-ulang lagi seperti pertama dia menyerangku. Sampai akhirnya aku bisa menangkisnya. Lalu serangannya diganti tendangan, tebasan dan sodokan siku, dengan kombinasi berganti-ganti.
Latihan itu sama persis dengan yang pertama tadi, tapi bedanya, kali ini aku harus terus menangkisnya, bukan menghindari. Setelah puluhan kali serangan, akhirnya aku bisa menangkis semua serangan itu dengan gerakan reflek yang terasa serabutan. Lalu untuk ketiga kalinya Eyang Dim hentikan serangannya, dia cuma berdiri tegak di depanku.
Tanpa peringatan, tanpa tanda apa-apa, mendadak saja pandangan mataku jadi menggelap, akhirnya aku seperti masuk dalam suatu kegelapan pekat. Lalu samar aku mulai melihat ada suatu cahaya, dan kukenali, sebuah langit-langit di atasku yang ternyata adalah atap kamarku, ternyata cahaya yang kulihat tadi berasal dari lampu kamar. Aku sudah kembali berada di atas tempat tidurku.
Masih sangat jelas ingatan soal mimpi tadi. Latihan itu terasa sangat lama sekali, karena banyak sekali gerakan serangan yang harus kutangkis dan kuhindari, banyak pula tahap-tahap yang harus kupelajari, tapi ternyata semua rangkaian latihan itu terjadi hanya dalam semalam saja.
Apakah berlatih lewat mimpi itu bisa berpengaruh di dunia nyata? Latihan tadi terasa begitu nyata, meskipun tanpa rasa sakit sedikitpun. Apa aku bisa melakukan gerakan-gerakan itu didunia nyata? Dan saat itulah terdengar sebuah suara yang seakan datang dari jauh.
Kukenali suara itu sebagai suara Eyang Dim, cuma terdengar suaranya aja, sedangkan sosoknya tidak nampak. Tapi penjelasan tadi sudah cukup bagiku. Aku harus berterima kasih padanya, dan juga harus meminta maaf karena telah berprasangka buruk, meskipun rasa percayaku padanya belum ada..
Lalu sayup-sayup terdengar suara adzan subuh. Perlahan aku beranjak duduk, tapi ternyata badanku terasa sakit semua, dan rasa letih pun juga mulai terasa, padahal tadi waktu kena serangan, aku tidak merasakan sakit sama sekali. Bagaimana mungkin latihan dengan sukma bisa mempengaruhi raga seperti ini?
Tapi subuh sudah datang, jadi aku harus subuhan sekarang. Kupaksakan diri mengambil air wudhu, lalu masuk kamarku dan menjalankan sholat subuh, kali ini tanpa Salma, entah kemana lagi dia, padahal kemarin aja dia ngamuk-ngamuk karena sukmaku dibawa oleh eyang Dim. Tapi biarlah, dia itu jin bebas yang tidak terikat padaku, jadi dia bebas pergi kemana saja ....
Quote:
Untung saja Salma mau menurut. Maka bergegas aku beranjak mengambil air wudhu, lalu melaksanakan subuhan di kamar dengan Salma sebagai makmumnya. Selesai subuhan, lanjut membaca dzikir. Salma tetap berada di dekatku sampai mulai terdengar suara kendaraan lalu-lalang di jalan di depan rumahku, sepertinya matahari sudah mulai terbit, jadi kuhentikan dzikir dan bersiap untuk berangkat sekolah.
Hari itu aku berangkat ke sekolah seperti biasanya, dengan mengendarai motor dan membonceng Cindy di jok belakang. Sampai di sekolah, senyum manisnya Annissa sudah menyambutku. Sepertinya hari ini akan terasa cerah. Akhir-akhir ini hubunganku dengan Nissa memang semakin dekat, meski kami belum mengutarakan perasaan masing-masing, tapi hubungan kami sudah seperti layaknya orang pacaran.
Hubungan kami sama seperti anak abg yang baru mengenal cinta, maklum, baru kelas 2 SMP. Jalan bareng bergandengan, mengerjakan tugas bareng, makan bareng di kantin tanpa menggubris siswa lain yang berada di sekitar kami, bahkan kami sering di cengin sama Vina dan Danu, tapi aku tidak peduli. Cuma begitu-begitu saja gaya pacaran kami, tapi sudah membuatku senang luar biasa. Mau disebut cinta monyetlah, atau cinta lutung lah, aku nggak peduli.
Setiap kali aku dan Nissa lagi berduaan, Salma terlihat selalu mengawasiku dari kejauhan. Meskipun bibirnya selalu tersenyum ke arahku, tapi ada sesuatu yang lain dibalik sorot matanya yang susah kuartikan. Sejauh ini Salma juga tidak pernah membahas tentang Nissa, jadi akupun juga nggak pernah cerita soal itu, karena memang dia juga melihat sendiri semuanya, kecuali isi hatiku dan Nissa tentunya.
Pulang sekolahpun, aku selalu menemani Nissa yang menunggu jemputan, hal ini sering membuat Cindy marah-marah karena dia ingin cepat-cepat pulang. Tapi aku nggak peduli, karena akulah yang membonceng dia, jadi dialah yang harus nurut. Aku juga sering ngobrol sama mamanya Nissa saat beliau nyang menjemput. Dan siang itu semua berjalan normal hingga aku dan Cindy sampai di rumah.
Malam harinya, sehabis isya dan dzikir, aku belajar untuk pelajaran besok, membuka-buka buku sebentar, biar terlihat seperti siswa normal sama kayak siswa yang lain. Tapi baru setengah jam membaca, rasa kantuk menyerang tiba-tiba. Maka kutinggalkan meja belajarku dan merebahkan diri di kasur untuk tidur.
Tapi baru beberapa saat terpejam, mataku kembali terbuka dengan sendirinya. Dan ternyata aku sudah tidak berada di tempat tidurku lagi! Kini aku sedang berdiri di sebuah tanah lapang berumput yang sangat luas, di sana-sini tampak gundukan batu-batu hitam besar-besar yang seakan tumbuh dari dalam tanah.
Belum habis rasa heranku, ternyata di depanku telah berdiri sesosok orang tua berjubah putih, bersorban putih, dan berjenggot panjang putih, aku mengenalinya sebagai jin yang mengaku bernama Eyang Dim! Dia cuma berdiri diam sambil menatapku dengan tajam. Kami berdiri berhadapan, dan aku menunggu. Tiba-tiba saja dia bergerak sangat cepat dengan kepalan tangannya terarah ke dadaku!
Aku jadi terkejut setengah mati. Tapi karena tidak mengerti silat, maka aku coba menghindar dengan berserabutan. Namun karena serangan itu sangat cepat, maka percuma saja berusaha menghindar, kepalan tangan itu mengenai dadaku dengan telak. Demikian kerasnya pukulan itu hingga membuatku terjatuh jungkir balik ke belakang. Tapi anehnya, aku tidak merasa sakit sama sekali di bagian dada yang terpukul tadi!
Kucoba bangkit lagi dengan keheranan, tapi belum sempat bertanya, sosok orang tua sudah berkelebat cepat kembali! Dia memukul ke arah dada seperti tadi, dengan gerakan yang sama pula. Untuk kedua kalinya aku terjengkang lagi, tapi tidak sampai jungkir balik seperti tadi, karena gerakanku menghindar kini jadi lebih cepat, jadi pukulannya cuma menyerempet sedikit saja. Dan seperti tadi, aku tidak merasa sakit sama sekali.
Maka aku pun bangkit kembali, tapi lagi-lagi dia menyerangku, dan kejadian itu terus saja berulang. Sosok orang tua terus menyerangku di tempat yang sama, dengan jurus pukulan dan kecepatan yang sama juga. Dan setelah puluhan kali terkena serangan dibagian dada, akhirnya aku bisa hafal serangan itu dan bagaimana cara menghindarinya. Aku bahkan berhasil menghindari sepuluh pukulan terakhirnya, cuma dengan gerakan serabutan. Kini terbuka juga sifat asli dari jin yang mengaku bernama eyang Dim ini, dia telah sengaja menyerangku, meskipun aku tidak merasakan sakit.
Quote:
Seakan tidak mendengar pertanyaanku, jin itu berkelebat kembali, tapi kini jurus serangannya berubah menjadi satu tendangan lurus ke arah kepala, tak urung kepalaku langsung kena tendangan itu. Berkali-kali dia menyerang dengan tendangan yang sama, kecepataan yang sama dan ke arah yang sama. Hingga akhirnya aku juga bisa menghapal pola serangan itu sampai bisa menghindarinya belasan kali.
Quote:
Sebelum suaranya hilang, jin tua itu sudah berkelebat menyerang kembali, kali ini dia menyerang dengan tebasan tangan miring ke arah leher. Dan sama seperti tadi, setelah puluhan kali terkena tebasan itu, akhirnya aku bisa menghindari belasan tebasan itu juga.
Kejadian itu terus saja berulang. Setiap kali satu jurus serangan yang diulang itu sudah bisa kuhindari, maka dia selalu mengganti serangannya. Mulai dari pukulan di dada, tendangan di kepala, sapuan di kaki, serangan membokong dari belakang dengan pukulan dan tendangan.
Banyak sekali jenis pola serangannya, tapi akhirnya aku bisa menghindari semua jurus serangan itu. Meskipun cuma semacam gerakan reflek menghindar dan tanpa jurus silat apa-apa, tapi serangan yang dilakukan berulang-ulang itu membuatku jadi terbiasa, bisa menghapalnya dan akhirnya bisa menghindarinya, meski sedang dalam posisi tubuh yang seperti apapun.
Mendadak saja dia hentikan serangannya dan cuma berdiri diam, menatapku dalam jarak tiga meter di depanku. Meskipun masih kebingungan, tapi kewaspadaan masih kupasang. Bukan tidak mungkin dia akan menyerangku lagi secara mendadak.
Quote:
Mendengar jawaban jin tua itu membuatku makin yakin kalau dia bakal menyerangku lagi, maka kucoba untuk menghimpun energiku dan menyalurkan ke tangan. Tapi ternyata tidak berhasil! Aku bahkan tidak bisa merasakan energi di dalam tubuhku! Terasa kosong tanpa energi apapun! Kepanikan mulai melanda, jadi kucoba untuk memanggil Salma, tapi dia tidak datang juga. Dan seakan tahu yang aku lakukan, sosok yang mengaku eyang Dim itu keluarkan suara.
Quote:
Perlahan aku mulai mengerti maksudnya, kalau cuma gerak reflek yang digunakan untuk menghindar, maka gerakan itu akan terus berubah-ubah sesuai keadaan, tanpa jurus pasti, nggak ada pola rumus, sehingga lawan nggak bisa menebak. Seperti gerakan orang kalau dipukul pasti akan reflek berusaha menghindar dengan sendirinya. Dan gerak reflek itu pasti otomatis akan menyesuaikan dengan arah pukulan.
Sungguh suatu cara yang cerdas, aku belum pernah mendengar jenis beladiri yang seperti ini. Tenyata tadi aku telah berprasangka buruk padanya, kukira dia tadi menyerangku cuma dengan membabi buta untuk membunuhku, tapi ternyata semua serangannya sangat terarah dan penuh perhitungan
Quote:
Tanpa menjawab, Eyang Dim mulai menyerangku lagi, serangan berulang-ulang yang kadang diselingi serangan lain. Makin lama serangan selingan itu makin banyak, dengan kombinasi berganti-ganti pukulan, tendangan, tebasan tangan, cakaran. Beberapa kali aku terkena serangan itu, tapi lama-lama aku bisa juga menghindari semua serangan itu.
Tiap kali aku bisa menghindari semuanya, maka Eyang Dim menambah kecepatan geraknya, begitu seterusnya, serangan yang terus meningkat kecepatannya secara bertahap, jadi aku harus bisa mengimbangi kecepatan itu, dan anehnya, makin lama gerakanku menghindar seakan ikut bertambah cepat, seperti menyesuaikan kecepatan serangan yang datang. Lalu tiba-tiba Eyang Dim meloncat menjauhiku, dia menghentikan serangan itu.
Quote:
Satu pukulan lurus datang mengarah ke dada. Kucoba menangkisnya dengan palangkan lengan kananku ke depan, tapi aku kurang cepat juga, hingga pukulan itu masuk menghantam dadaku, aku terlempar ke belakang lagi. Lalu Eyang Dim mengulangi serangan pukulan itu, terus menerus diulang-ulang lagi seperti pertama dia menyerangku. Sampai akhirnya aku bisa menangkisnya. Lalu serangannya diganti tendangan, tebasan dan sodokan siku, dengan kombinasi berganti-ganti.
Latihan itu sama persis dengan yang pertama tadi, tapi bedanya, kali ini aku harus terus menangkisnya, bukan menghindari. Setelah puluhan kali serangan, akhirnya aku bisa menangkis semua serangan itu dengan gerakan reflek yang terasa serabutan. Lalu untuk ketiga kalinya Eyang Dim hentikan serangannya, dia cuma berdiri tegak di depanku.
Quote:
Tanpa peringatan, tanpa tanda apa-apa, mendadak saja pandangan mataku jadi menggelap, akhirnya aku seperti masuk dalam suatu kegelapan pekat. Lalu samar aku mulai melihat ada suatu cahaya, dan kukenali, sebuah langit-langit di atasku yang ternyata adalah atap kamarku, ternyata cahaya yang kulihat tadi berasal dari lampu kamar. Aku sudah kembali berada di atas tempat tidurku.
Masih sangat jelas ingatan soal mimpi tadi. Latihan itu terasa sangat lama sekali, karena banyak sekali gerakan serangan yang harus kutangkis dan kuhindari, banyak pula tahap-tahap yang harus kupelajari, tapi ternyata semua rangkaian latihan itu terjadi hanya dalam semalam saja.
Apakah berlatih lewat mimpi itu bisa berpengaruh di dunia nyata? Latihan tadi terasa begitu nyata, meskipun tanpa rasa sakit sedikitpun. Apa aku bisa melakukan gerakan-gerakan itu didunia nyata? Dan saat itulah terdengar sebuah suara yang seakan datang dari jauh.
Quote:
Kukenali suara itu sebagai suara Eyang Dim, cuma terdengar suaranya aja, sedangkan sosoknya tidak nampak. Tapi penjelasan tadi sudah cukup bagiku. Aku harus berterima kasih padanya, dan juga harus meminta maaf karena telah berprasangka buruk, meskipun rasa percayaku padanya belum ada..
Lalu sayup-sayup terdengar suara adzan subuh. Perlahan aku beranjak duduk, tapi ternyata badanku terasa sakit semua, dan rasa letih pun juga mulai terasa, padahal tadi waktu kena serangan, aku tidak merasakan sakit sama sekali. Bagaimana mungkin latihan dengan sukma bisa mempengaruhi raga seperti ini?
Tapi subuh sudah datang, jadi aku harus subuhan sekarang. Kupaksakan diri mengambil air wudhu, lalu masuk kamarku dan menjalankan sholat subuh, kali ini tanpa Salma, entah kemana lagi dia, padahal kemarin aja dia ngamuk-ngamuk karena sukmaku dibawa oleh eyang Dim. Tapi biarlah, dia itu jin bebas yang tidak terikat padaku, jadi dia bebas pergi kemana saja ....
Bersambung…
30
ilesha dan 4 lainnya memberi reputasi
5
![HITAM [Reborn]](https://s.kaskus.id/images/2022/09/23/10843635_202209231022260700.jpg)
![HITAM [Reborn]](https://s.kaskus.id/images/2022/09/23/10843635_202209230148360441.png)