- Beranda
- Stories from the Heart
You're Still The One
...
TS
tuguKenangan
You're Still The One

Halo agan dan sista semuanya, sebelum memulai ijinkan aku memperkenalkan diri dulu yak, karena ada pepatah 'tak kenal maka kenalanlah' hehehe
Kisah nyata tak nyata dibawah ini akan diceritakan oleh seonggok laki - laki bernama Genandra, produk asli made in jawa tengah. Kisah ini nyata tak nyata, dan mungkin akan sangat panjang sekali, ini juga versi remake karena sudah terlampau lama tidak diupdate. Without basa basi, gaskeun...!
Spoiler for INDEX:
Spoiler for PROLOG:
Spoiler for MULUSTRASI:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 3 suara
LANJUT UPDATE GA NIH??
LANJUTKEUN
100%
BODO AMAT
0%
Diubah oleh tuguKenangan 03-08-2026 13:59
itkgid dan 9 lainnya memberi reputasi
10
7.2K
88
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tuguKenangan
#44
Part 18. Cermin
Semarang, 2019
Ada satu jenis orang yang kehadirannya bikin kamu nggak bisa bohong — bukan karena mereka maksa, tapi karena caranya memandang seolah dia udah tau isi kepalamu sebelum kamu ngomong. Natasya salah satunya. Dan malam itu, di Semarang yang gerimis, aku bener-bener berharap dia nggak sepintar itu.
Kami ketemu di sebuah kafe di Kota Lama, salah satu bangunan tua yang disulap jadi tempat nongkrong, dinding batanya lembab, lampunya kuning temaram. Di luar hujan turun pelan, bikin jalanan berkilau kena pantulan lampu. Aku pesen kopi item, Natasya pesen cokelat panas — sama seperti Kinan, batinku, sebelum buru-buru kutepis pikiran itu.
"Mas Gen keliatan capek," katanya, ngeletakin gelasnya. Nggak nanya. Nyatain.
"Hehe, biasa Nat, kerjaan," jawabku ngeles.
"Bukan capek kerjaan sih menurutku." Dia natap aku lama. "Capek yang lain."
Aku ketawa kecil, garing. Alunan lagu dari speaker kafe — Kunto Aji, "Rehat" — malah kayak nyindir. Semua akan baik-baik saja... Halah, lagu kok tau aja lagi butuh apa.
"Nat, kamu ke sini bawa jawaban kan? Katanya mau ngasih tau langsung," kataku, pengen buru-buru selesai, pengen buru-buru tau nasibku.
Natasya diam sebentar. Diaduknya cokelat panasnya pelan, muter-muter, kayak lagi milih kata yang paling nggak nyakitin.
"Mas, aku suka banget sama Mas. Dari awal aku udah bilang itu, dan itu nggak berubah." Dia berhenti. "Tapi aku nggak bisa jawab 'iya' buat lamaran Mas."
Deg. Walau udah setengah nyiapin hati, tetep aja rasanya kayak ditolak masuk ke rumah yang pintunya udah kubuka sendiri.
"...kenapa Nat?"
"Karena Mas belum selesai." Dia bilang itu pelan, tapi nancep. "Aku nggak tau sama siapa, atau sama apa. Tapi tiap aku ngobrol sama Mas, aku selalu ngerasa cuma dapet setengah. Setengahnya Mas yang lain lagi di tempat lain, sama orang lain, di waktu yang bukan sekarang."
Aku nggak bisa jawab. Karena dia bener. Karena bahkan malam itu, pas dia lagi ngomong dari hati, setengah kepalaku masih kepikiran Kinan, masih kepikiran Anin, masih terjebak di Jogja yang berkilau sehabis hujan, sama seperti Semarang malam ini.
"Nat, aku—"
"Mas nggak perlu jujur ke aku," potongnya, lembut. "Tapi tolong jujur ke diri Mas sendiri. Mas masih punya cerita yang belum kelar kan?"
Aku pengen bohong. Aku pengen bilang enggak, aku udah beres, ayo kita mulai. Tapi mulutku nggak mau diajak kompromi. Yang keluar cuma diam. Dan diam itu, buat Natasya, udah jawaban paling jelas.
Dia tersenyum. Bukan senyum kecewa — senyum yang lebih nyakitin dari itu: senyum orang yang udah tau dari awal dan cuma butuh mastiin.
"Nah, itu dia," katanya. "Aku nggak mau jadi tempat pelarian Mas dari sesuatu yang belum Mas selesaiin. Aku pantes lebih dari cuma jadi pengganti, Mas."
Pengganti. Kata itu. Kata yang selama ini aku sembunyiin rapat-rapat soal Kinan, soal semuanya — dan sekarang keluar dari mulut satu-satunya perempuan yang justru nggak pernah kuanggap pengganti siapa-siapa. Ironinya nyesek.
"Aku minta maaf Nat," kataku akhirnya, suaraku hampir hilang. "Kamu nggak salah apa-apa. Aku yang belum bener."
"Aku tau kok, Mas." Dia meraih tanganku, cuma sebentar, terus dilepas lagi. "Makanya aku nggak marah. Aku cuma... sayang. Sama Mas, dan sama diriku sendiri yang tau harus berhenti sebelum kejauhan."
Hujan di luar makin deras. Kami duduk diam beberapa lama, dua orang yang saling suka tapi salah waktu — atau lebih tepatnya, aku yang salah, karena aku yang belum utuh.
Waktu dia berdiri buat pamit, dia sempet berhenti di sampingku, dan bilang satu hal yang bertahun-tahun kemudian baru bener-bener aku pahami:
"Mas, kalau Mas nggak berhenti nyari orang yang mirip sama masa lalu Mas, Mas nggak akan pernah ketemu orang yang beneran buat masa depan Mas."
Terus dia jalan keluar, ke arah hujan, tanpa nengok lagi. Dan aku cuma bisa duduk di situ, mandangin gelas kopi yang udah dingin, sama satu kenyataan yang lebih dingin lagi: aku baru aja kehilangan satu-satunya orang yang ngeliat aku apa adanya — bukan sebagai bayangan siapa-siapa.
Dan yang paling parah? Aku bahkan belum bisa nangis. Karena setengah hatiku, malam itu juga, udah balik lagi mikirin Kinan.
Sialan kamu, Gen.
To be continued...
Semarang, 2019
Ada satu jenis orang yang kehadirannya bikin kamu nggak bisa bohong — bukan karena mereka maksa, tapi karena caranya memandang seolah dia udah tau isi kepalamu sebelum kamu ngomong. Natasya salah satunya. Dan malam itu, di Semarang yang gerimis, aku bener-bener berharap dia nggak sepintar itu.
Kami ketemu di sebuah kafe di Kota Lama, salah satu bangunan tua yang disulap jadi tempat nongkrong, dinding batanya lembab, lampunya kuning temaram. Di luar hujan turun pelan, bikin jalanan berkilau kena pantulan lampu. Aku pesen kopi item, Natasya pesen cokelat panas — sama seperti Kinan, batinku, sebelum buru-buru kutepis pikiran itu.
"Mas Gen keliatan capek," katanya, ngeletakin gelasnya. Nggak nanya. Nyatain.
"Hehe, biasa Nat, kerjaan," jawabku ngeles.
"Bukan capek kerjaan sih menurutku." Dia natap aku lama. "Capek yang lain."
Aku ketawa kecil, garing. Alunan lagu dari speaker kafe — Kunto Aji, "Rehat" — malah kayak nyindir. Semua akan baik-baik saja... Halah, lagu kok tau aja lagi butuh apa.
"Nat, kamu ke sini bawa jawaban kan? Katanya mau ngasih tau langsung," kataku, pengen buru-buru selesai, pengen buru-buru tau nasibku.
Natasya diam sebentar. Diaduknya cokelat panasnya pelan, muter-muter, kayak lagi milih kata yang paling nggak nyakitin.
"Mas, aku suka banget sama Mas. Dari awal aku udah bilang itu, dan itu nggak berubah." Dia berhenti. "Tapi aku nggak bisa jawab 'iya' buat lamaran Mas."
Deg. Walau udah setengah nyiapin hati, tetep aja rasanya kayak ditolak masuk ke rumah yang pintunya udah kubuka sendiri.
"...kenapa Nat?"
"Karena Mas belum selesai." Dia bilang itu pelan, tapi nancep. "Aku nggak tau sama siapa, atau sama apa. Tapi tiap aku ngobrol sama Mas, aku selalu ngerasa cuma dapet setengah. Setengahnya Mas yang lain lagi di tempat lain, sama orang lain, di waktu yang bukan sekarang."
Aku nggak bisa jawab. Karena dia bener. Karena bahkan malam itu, pas dia lagi ngomong dari hati, setengah kepalaku masih kepikiran Kinan, masih kepikiran Anin, masih terjebak di Jogja yang berkilau sehabis hujan, sama seperti Semarang malam ini.
"Nat, aku—"
"Mas nggak perlu jujur ke aku," potongnya, lembut. "Tapi tolong jujur ke diri Mas sendiri. Mas masih punya cerita yang belum kelar kan?"
Aku pengen bohong. Aku pengen bilang enggak, aku udah beres, ayo kita mulai. Tapi mulutku nggak mau diajak kompromi. Yang keluar cuma diam. Dan diam itu, buat Natasya, udah jawaban paling jelas.
Dia tersenyum. Bukan senyum kecewa — senyum yang lebih nyakitin dari itu: senyum orang yang udah tau dari awal dan cuma butuh mastiin.
"Nah, itu dia," katanya. "Aku nggak mau jadi tempat pelarian Mas dari sesuatu yang belum Mas selesaiin. Aku pantes lebih dari cuma jadi pengganti, Mas."
Pengganti. Kata itu. Kata yang selama ini aku sembunyiin rapat-rapat soal Kinan, soal semuanya — dan sekarang keluar dari mulut satu-satunya perempuan yang justru nggak pernah kuanggap pengganti siapa-siapa. Ironinya nyesek.
"Aku minta maaf Nat," kataku akhirnya, suaraku hampir hilang. "Kamu nggak salah apa-apa. Aku yang belum bener."
"Aku tau kok, Mas." Dia meraih tanganku, cuma sebentar, terus dilepas lagi. "Makanya aku nggak marah. Aku cuma... sayang. Sama Mas, dan sama diriku sendiri yang tau harus berhenti sebelum kejauhan."
Hujan di luar makin deras. Kami duduk diam beberapa lama, dua orang yang saling suka tapi salah waktu — atau lebih tepatnya, aku yang salah, karena aku yang belum utuh.
Waktu dia berdiri buat pamit, dia sempet berhenti di sampingku, dan bilang satu hal yang bertahun-tahun kemudian baru bener-bener aku pahami:
"Mas, kalau Mas nggak berhenti nyari orang yang mirip sama masa lalu Mas, Mas nggak akan pernah ketemu orang yang beneran buat masa depan Mas."
Terus dia jalan keluar, ke arah hujan, tanpa nengok lagi. Dan aku cuma bisa duduk di situ, mandangin gelas kopi yang udah dingin, sama satu kenyataan yang lebih dingin lagi: aku baru aja kehilangan satu-satunya orang yang ngeliat aku apa adanya — bukan sebagai bayangan siapa-siapa.
Dan yang paling parah? Aku bahkan belum bisa nangis. Karena setengah hatiku, malam itu juga, udah balik lagi mikirin Kinan.
Sialan kamu, Gen.
To be continued...
itkgid memberi reputasi
1