Kaskus

Story

f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA
Menaklukkan Ibu Kota


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan

Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan emoticon-Jempol

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan



Quote:

Menaklukkan Ibu Kota


Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
NankendraAvatar border
kelomangdaratAvatar border
YoayoayoAvatar border
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
#41
Bagian 33 : Penenang

Pagi itu, langit Jakarta yang biasanya cerah seolah tertutup mendung tipis yang menyesakkan. Kebahagiaan semalam yang kurasakan saat pulang dari rumah Wulan, saat kata "Yang" masih terngiang merdu di telingaku, mendadak menguap tak berbekas begitu aku menginjakkan kaki di koridor sekolah.

Suasana SMA 7 terasa tegang. Beberapa murid berbisik-bisik sambil melirik ke arahku. Aku berusaha tetap tenang, berjalan di samping Riko yang sesekali bersiul meski wajahnya masih penuh lebam. Namun, ketenangan itu hancur saat pengeras suara sekolah berderit nyaring.

"Panggilan kepada siswa bernama Arkhana Rakha kelas 12, segera menghadap Pak Anwar di ruang kesiswaan. Sekarang juga."

Riko langsung berhenti bersiul. Langkahku tertahan. Di ujung koridor, aku melihat Wulan berdiri di depan kelasnya, menatapku dengan wajah pucat dan penuh kekhawatiran. Aku hanya bisa memberikan anggukan kecil, mencoba meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja, meski di dalam hati, "penjaga" di dalam darahku mulai bergejolak gelisah.

Ruang kesiswaan terasa sangat dingin, atau mungkin hanya perasaanku saja yang sedang menggigil. Pak Anwar, guru paling ditakuti di seantero sekolah, duduk di balik meja kayunya yang besar. Di depannya, sebuah laptop menyala, menampilkan sebuah tangkapan layar yang buram namun sangat jelas bagiku.

Itu adalah rekaman dari sebuah kamera pengawas di dekat persimpangan menuju gudang tua tempo hari. Di sana, terlihat siluet motor bututku dengan plat nomor yang terbaca cukup jelas di bawah lampu jalanan.

"Rakha," suara Pak Anwar berat dan dingin, seolah-olah setiap katanya adalah vonis mati. "Saya sudah mendengar laporan tentang keributan di dekat batas kota dua malam lalu. Dan sekarang, bukti ini ada di depan mata saya."

Aku menunduk, tidak berani menatap mata tajamnya yang tersembunyi di balik kacamata tebal.

"Kamu tahu apa artinya ini? Nama sekolah kita dipertaruhkan. Kamu sudah kelas 12, Rakha. Sebentar lagi ujian. Apakah kamu ingin semua kerja kerasmu dari Kalimantan berakhir sia-sia di balik jeruji besi atau dengan surat drop out?"

Pak Anwar menggebrak meja, membuatku tersentak. "Satu kesalahan lagi, Rakha. Satu kali saja saya mendengar namamu terlibat dalam perkelahian, saya tidak akan segan-segan menahan ijazahmu atau mengeluarkan kamu secara tidak hormat. Paham?!"

"Paham, Pak," jawabku lirih, hampir tak terdengar.

Keluar dari ruangan itu, kakiku terasa lemas. Ancaman Pak Anwar bukan sekadar gertakan. Jika aku dikeluarkan, apa yang akan kukatakan pada Bapak di kampung? Bagaimana dengan janji yang kuucapkan pada Ayah Wulan semalam?

Siang harinya, saat bel pulang berbunyi, aku berjalan menuju parkiran bersama Wulan. Kami berencana untuk mampir sebentar ke toko buku, namun rencana itu buyar saat kami sampai di depan gerbang sekolah.

Tiga buah motor sport terparkir melintang di jalan, menghalangi jalur keluar. Di atasnya, duduk beberapa anak SMA 10 yang wajahnya tidak asing lagi bagiku. Mereka adalah bagian dari gerombolan yang kuserang tempo hari. Di barisan paling depan, seorang pria berambut jabrik dengan bekas luka di alisnya menatapku dengan seringai meremehkan.

"Wah, liat nih. Jagoan Kalimantan yang kemarin kayak kesurupan ternyata cuma anak mami yang takut sama Pak Anwar ya?" serunya dengan suara lantang, sengaja memancing perhatian murid-murid lain yang sedang keluar.

Aku merasakan darahku mulai memanas. "Penjaga" di dalam diriku seolah terbangun dari tidurnya, menggeram rendah di dalam nadiku. Tanganku mengepal kuat di balik saku jaket.

"Abaikan, Kha. Ayo jalan saja," bisik Wulan pelan sambil menggandeng lenganku erat. Ia bisa merasakan tubuhku yang mulai bergetar karena menahan amarah.

Namun, mereka tidak membiarkan kami lewat begitu saja. Si rambut jabrik itu turun dari motornya, berjalan mendekat hingga jarak kami hanya terpaut beberapa jengkal. Ia sengaja meniupkan asap rokoknya ke arah wajah Wulan.

"Cantik juga cewek lo, Kha. Sayang dapetnya cowok pengecut yang cuma berani kalau bawa rombongan Bang Jago. Eh, denger-denger lo anak yatim ya di sini? Atau emang di Kalimantan sana bapak lo nggak ngajarin cara jadi laki-laki?"

Kalimat itu seperti bensin yang disiramkan ke dalam api. Menghinaku mungkin masih bisa kutahan, tapi menghina orang tuaku dan merendahkan martabat Wulan di depanku adalah batas terakhir. Aku merasakan pandanganku mulai memerah. Suara bising di sekelilingku perlahan menghilang, digantikan oleh detak jantungku yang berdentum seperti genderang perang.

"Hajar dong, Kha! Mana harimaunya? Ayo pukul gue duluan biar polisi di ujung jalan itu punya alasan buat seret lo ke penjara!" tantangnya lagi, sambil sengaja memajukan wajahnya ke arahku.

Aku melihat ke arah pojok jalan. Benar saja, ada dua orang petugas kepolisian yang sedang berjaga, mungkin hasil laporan warga tentang kerawanan di area sekolah. Ini adalah jebakan. Mereka ingin aku memukul duluan, tertangkap polisi, dan masa depanku hancur dalam sekejap.

Tubuhku bergetar hebat. Aku harus mengerahkan seluruh kekuatanku untuk menahan tangan kananku agar tidak melayang ke rahang pria di depanku ini. "Penjaga" di dalam darahku berontak, memintaku untuk melepaskan segala kekangan dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalan.

"Kha... ingat janji kamu. Ingat Om Satria. Ingat aku," bisik Wulan lagi, kali ini suaranya bergetar karena takut.

Aku menatap Wulan. Matanya yang jernih kini dipenuhi air mata yang siap tumpah. Di saat itulah, aku tersadar. Jika aku memukul sekarang, aku mungkin menang dalam perkelahian ini, tapi aku akan kehilangan Wulan selamanya. Aku akan kehilangan kepercayaan Ayahnya, dan aku akan mengecewakan harapan keluargaku di Kalimantan.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam api yang membara di dadaku. Dengan gerakan pelan namun pasti, aku melepaskan kepalan tanganku. Aku menatap mata si rambut jabrik itu dengan tatapan yang sangat dingin bukan tatapan amarah, melainkan tatapan kasihan.

"Gue nggak punya waktu buat sampah kayak lo," ucapku datar.

Aku menarik tangan Wulan, menuntunnya melewati gerombolan itu. Si jabrik yang merasa tidak mendapatkan reaksi yang diinginkan, kembali berteriak, "Pengecut! Dasar anak kampung pengecut!"

Beberapa murid lain yang menonton mulai berbisik, ada yang kecewa karena aku tidak melawan, ada juga yang kasihan. Tapi aku tidak peduli. Sepanjang jalan menuju motor, aku hanya fokus pada genggaman tangan Wulan.

Setelah kami menjauh dan berada di atas motor, barulah getaran di tubuhku mereda. Aku memarkirkan motor di sebuah taman yang sepi di pinggiran jalan. Aku turun dan duduk di sebuah bangku, menangkupkan wajahku di kedua telapak tangan. Rasa sesak di dada karena menahan amarah tadi benar-benar menyiksa.

Wulan duduk di sampingku, ia tidak mengatakan apa-apa, hanya memelukku dari samping dan menyandarkan kepalanya di bahuku.

"Makasih, Kha. Makasih sudah bertahan," ucapnya lembut.

Aku menoleh ke arahnya, melihat sisa air mata di pipinya. "Tadi hampir saja, Lan. Hampir saja aku kehilangan kendali. Rasanya sakit sekali menahan itu semua sementara mereka menghina orang tuaku."

Wulan mengusap pipiku lembut. "Aku tahu itu sulit. Tapi tadi kamu bukan pengecut, Kha. Tadi itu adalah momen di mana kamu terlihat paling kuat di mataku. Kamu berhasil mengalahkan diri kamu sendiri, dan itu jauh lebih hebat daripada mengalahkan sepuluh orang SMA 10."

Aku menarik napas lega. Kata-kata Wulan adalah penawar paling mujarab bagi egoku yang sempat terluka. Sore itu, di taman yang sunyi, aku menyadari bahwa perjuanganku di Jakarta bukan lagi tentang siapa yang paling jago berkelahi, melainkan tentang siapa yang paling jago menjaga mimpi.

Ancaman Pak Anwar tetap ada, dendam SMA 10 mungkin belum padam, tapi selama aku memiliki Wulan yang berdiri di sampingku sebagai jangkar, aku yakin aku bisa melewati tahun terakhir ini tanpa harus menjadi monster yang ditakuti semua orang.

itkgid
itkgid memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.