Kaskus

Story

f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA
Menaklukkan Ibu Kota


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan

Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan emoticon-Jempol

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan



Quote:

Menaklukkan Ibu Kota


Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
NankendraAvatar border
kelomangdaratAvatar border
YoayoayoAvatar border
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
#40
Bagian 32 : Khidmat di Jakarta

Beberapa hari setelah peristiwa di Warung Bi Jiah, suasana di SMA 7 mendadak menjadi sangat tenang setidaknya bagi kelompok kami. Tidak ada lagi bisik-bisik rencana penyerangan, tidak ada lagi kepalan tangan yang gatal ingin menghantam tembok, dan tidak ada lagi aroma ketegangan yang biasanya mengikuti langkah kaki kami di koridor. Kami semua, termasuk Riko yang paling kepala batu, mendadak menjadi murid penurut. Perintah Wulan adalah hukum mutlak yang tidak berani kami langgar. Kami sadar, air mata dan kekhawatiran gadis-gadis itu jauh lebih tajam daripada parang lawan mana pun.

Siang itu, matahari Jakarta membakar aspal lapangan basket dengan teriknya. Aku duduk di bangku panjang koridor kelas 12, tepat di samping Wulan. Kami baru saja menyelesaikan kelas Matematika yang menguras otak. Wulan sedang asyik merapikan catatan di buku tulisnya, sementara aku hanya memandangi kuncir kudanya yang bergerak mengikuti gerakan tangannya.

"Kha," panggilnya tanpa menoleh, suaranya lembut namun ada nada serius di sana.

"Ya, Lan?"

"Mamak sama Bapak ngajak kamu ke rumah sore ini," ucapnya akhirnya, sambil menutup buku dan menatapku dengan mata jernihnya.

Aku sedikit terkesiap. Degup jantungku yang biasanya kencang karena tawuran, kini kencang karena alasan yang berbeda. "Ngapain, Lan? Ada acara apa? Atau... aku ada salah lagi?" tanyaku bertubi-tubi. Trauma disidang Wulan tempo hari masih membekas di benakku.

Wulan tertawa kecil melihat ekspresi panikku. Ia menepuk lenganku pelan. "Aku pun nggak tahu, Kha. Mamak cuma bilang suruh ajak Rakha mampir. Datang-datang ajalah ke rumah, jangan takut gitu mukanya."

Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. "Iya, Lan. Nanti pulang sekolah kita langsung ke sana ya."

Sepulang sekolah, motor bututku meluncur membelah kemacetan menuju kediaman keluarga Wulan di Jakarta Timur. Begitu motor berhenti di depan pagar tanaman yang asri, dua sosok kecil langsung berlari keluar dari pintu rumah. Welni dan Rafa, adik-adik Wulan, menyambut kami dengan wajah riang.

"Bang Rakha datang! Kak Wulan pulang!" seru Welni sambil bertepuk tangan.

Rafa, yang sudah beranjak remaja, menyalamiku dengan sopan meski matanya tetap melirik ke arah motorku dengan penuh rasa ingin tahu. Aku turun dari motor dan merapikan seragamku yang sedikit kusut karena angin jalanan.

"Masuk, Kha. Jangan berdiri di depan pagar terus, nanti dikira tukang tagih utang," canda Ibu Wulan yang muncul dari balik pintu, masih mengenakan celemek masak.

Aku tersenyum malu dan menyalami tangan Ibu Wulan dengan takzim. Kami melangkah masuk, diikuti oleh Welni yang terus menempel di sampingku dan Rafa yang berjalan di belakang Wulan. Rumah itu selalu terasa hangat, jauh berbeda dengan suasana kontrakan Om Satria yang maskulin dan berantakan. Bau harum masakan rempah yang kuat mulai memenuhi indra penciumanku.

"Nanti kamu makan di sini dulu ya, Kha. Mumpung Bapaknya Wulan lagi gajian, jadi Mamak masak agak banyakan," ucap Ibu Wulan sambil menyiapkan piring di atas meja makan kayu yang sederhana namun rapi.

Aku tertegun sejenak. Makan bersama keluarga pacar adalah level baru dalam sebuah hubungan, setidaknya bagi anak perantauan sepertiku yang jarang merasakan kehangatan meja makan keluarga.

"Makan di sini, Bi?" tanyaku untuk memperjelas, sekaligus memastikan apakah telingaku tidak salah dengar.

Sebelum Ibu Wulan sempat menjawab, Welni yang duduk di kursi kayu sambil mengayunkan kakinya tiba-tiba nyeletuk dengan nada yang sangat polos.

"Tenang aja Bang Rakha, nggak ada babi kok! Mamak cuma masak ayam sama ikan," ucapnya sambil nyengir lebar, memperlihatkan giginya yang belum tumbuh sempurna.

Wulan langsung membelalakkan matanya ke arah Welni. "Welni! Ngomong apa sih," tegurnya dengan wajah yang mendadak memerah karena malu.

Aku sempat terdiam sejenak, lalu tawa kecil keluar dari bibirku. Aku tahu Welni hanya ingin menenangkanku karena ia tahu ada perbedaan di antara kami. Kepolosan anak kecil memang sering kali menyentuh bagian terdalam dari sebuah kenyataan yang rumit.

"Bukan gitu, Wel. Abang cuma takut ngerepotin nanti kalau makan di sini," ucapku mencoba mencairkan suasana yang sempat kaku. Aku menoleh ke arah Ibu Wulan yang juga ikut tersenyum tipis.

"Nggak repot, Kha. Justru kami senang ada teman makan. Bapaknya Wulan sebentar lagi pulang, katanya dia mau ngobrol sama kamu," tambah Ibu Wulan.

Tak lama kemudian, Ayah Wulan pulang dengan seragam kerjanya. Beliau tampak lelah namun wajahnya langsung cerah saat melihatku duduk di ruang tamu. Beliau menyalamiku dengan genggaman tangan yang kuat, khas seorang pekerja keras.

Kami semua berkumpul di meja makan. Di atas meja tersaji ayam goreng bumbu kuning, sayur asam yang segar, dan sambal terasi yang menggugah selera. Di rumah ini, meski ada salib yang menggantung di dinding ruang tamu, mereka sangat menghargai kehadiranku. Tidak ada daging babi yang Welni maksud, dan mereka bahkan mempersilakan aku untuk berdoa menurut caraku sebelum mulai makan.

"Makan yang banyak, Kha. Anak laki-laki yang badannya tegap begini harus banyak asupan, biar nggak gampang tumbang kalau kena angin Jakarta," ucap Ayah Wulan sambil menyodorkan piring nasi padaku.

Kami makan dalam suasana yang penuh kekeluargaan. Ayah Wulan bercerita tentang pekerjaannya, sementara Welni dan Rafa sesekali berebut potongan ayam hingga ditegur oleh Wulan. Di momen itu, aku merasa benar-benar diterima. Aku bukan lagi "jagoan tawuran" yang ditakuti di sekolah, tapi aku adalah Rakha, pemuda Kalimantan yang sedang belajar menjadi dewasa.

Sesekali aku melirik Wulan yang sedang makan dengan tenang di sampingku. Ia tampak bahagia melihatku bisa berbaur dengan keluarganya. Kebahagiaan itu jauh lebih berharga daripada kemenangan di jalanan mana pun.

Setelah makan selesai, Ayah Wulan mengajakku duduk di teras depan sambil menikmati segelas kopi hitam. Wulan sedang membantu ibunya mencuci piring di dapur.

"Kha," panggil Ayah Wulan pelan, matanya menatap lurus ke jalanan depan rumah yang mulai remang karena senja.

"Iya, Om?"

"Wulan banyak cerita tentang kamu. Dia bilang kamu anak yang baik, tapi kadang emosinya suka meledak-ledak. Benar begitu?"

Aku menunduk, merasa malu. "Iya, Om. Saya masih belajar mengendalikan diri."

Ayah Wulan menepuk pundakku. "Jakarta itu keras, Kha. Tapi jangan biarkan kekerasan itu masuk ke dalam hatimu. Kamu punya potensi besar, jangan sia-siakan masa depanmu hanya karena emosi sesaat. Om titip Wulan ya, dia itu permata di keluarga ini."

Aku mengangguk mantap. "Saya janji, Om. Saya akan jaga Wulan dan jaga diri saya sendiri."

Sore itu berakhir dengan perasaan yang sangat damai. Aku pulang menuju kontrakan Om Satria dengan perut kenyang dan hati yang penuh. Pelajaran hari ini bukan datang dari buku sekolah, melainkan dari meja makan keluarga Wulan: bahwa cinta dan rasa hormat bisa melampaui perbedaan apa pun, asalkan kita mau membukakan pintu rumah dan hati kita.

Lampu teras rumah Wulan yang kekuningan menyiram halaman depan dengan suasana yang sangat hangat. Aroma sisa makan malam sambal terasi dan ayam goreng bumbu kuning masih samar-samar tercium, bercampur dengan wangi melati dari pot di sudut pagar. Malam itu, udara Jakarta Timur terasa tidak seberat biasanya.

Wulan melangkah keluar bersamaku, menuntunku sampai ke depan pintu kayu rumahnya. Ia berdiri di sana, menyandarkan bahunya di kosen pintu, memperhatikanku yang sedang memakai jaket jeans lusuh kebanggaanku.

"Udah semua? Nggak ada yang ketinggalan kan, Kha?" tanyanya lembut.

"Nggak ada, Lan. Helm juga udah di motor," jawabku sambil merapikan kerah jaket.

Aku bersiap melangkah menuju motor bututku yang terparkir di depan pagar, namun langkahku terhenti saat suara Wulan memanggilku sekali lagi. Suaranya kecil, nyaris berbisik, namun sangat jelas di telingaku.

"Hati-hati di jalan ya, Yang," ucap Wulan.

Deg! Jantungku seolah berhenti berdetak selama satu detik. Aku tertegun di tempat, mematung dengan tangan yang masih memegang kunci motor. Kata itu. Sebuah kata pendek yang terdiri dari empat huruf, namun memiliki daya ledak yang lebih dahsyat daripada ledakan amarah "penjaga" di dalam darahku. Selama ini kami memang sudah jadian, tapi Wulan adalah tipe gadis yang cukup pemalu untuk urusan panggilan sayang yang terang-terangan.

Aku menoleh ke arahnya, melihat wajahnya yang sedikit tertunduk dengan rona merah yang menjalar hingga ke telinga. Cahaya lampu teras membuat matanya yang jernih terlihat berkilau. Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang datang dari dasar hati yang paling dalam.

Aku melangkah mendekat kembali ke arahnya. Tanpa ragu, aku mengangkat tanganku dan mengelus lembut bagian atas kepalanya. Rambutnya yang halus terasa sejuk di jemariku yang kasar. Kuncir kudanya sedikit bergoyang mengikuti gerakanku.

"Suamimu mau pergi dulu ya," godaku dengan candaan spontan. Aku ingin mencairkan suasana yang mendadak sangat puitis itu, sekaligus ingin melihat reaksinya lebih jauh. Aku menjulurkan tanganku ke arahnya, gaya yang biasa dilakukan bapakku pada mamak di kampung saat hendak berangkat ke ladang.

Wulan sempat terbelalak mendengar candaanku yang agak "melompat" jauh ke depan itu. Namun, bukannya menepis atau membalas dengan omelan, ia justru tersenyum manis. Sangat manis.

"Iya," balas Wulan pendek.

Tanpa diduga, ia benar-benar meraih tanganku. Ia membungkuk sedikit dan menyalami tanganku, menempelkan punggung tanganku ke keningnya dengan khidmat, persis seperti adegan suami istri yang sering kulihat di sinetron atau di keluarga harmonis di desa-desa Kalimantan.

Sentuhan keningnya di tanganku terasa seperti sebuah janji. Sebuah pengakuan bahwa di dunia yang keras ini, aku bukan lagi sekadar pelindungnya, tapi juga seseorang yang ia hormati dan ia sayangi sepenuh hati.

Begitu motor kupacu keluar dari gang rumahnya, aku merasa duniaku berubah total. Deru mesin motor tuaku yang biasanya terdengar kasar, malam ini seolah-olah berubah menjadi simfoni yang indah. Lampu-lampu jalanan Jakarta yang biasanya tampak suram dan penuh polusi, kini terlihat seperti deretan berlian yang sengaja dipasang untuk menyambut kepulanganku.

Aku membelah kemacetan di sepanjang jalan raya menuju arah Jakarta Pusat. Malam itu, aku merasa seolah-olah jalanan ini milikku sendiri. Angin malam yang menerpa wajahku tidak terasa dingin, melainkan terasa seperti belaian yang menyejukkan.

Pikiranku melayang kembali ke ruang tamu rumah Wulan. Bayangan Welni yang polos, Rafa yang malu-malu, masakan Ibu Wulan yang luar biasa, hingga wejangan Ayah Wulan yang begitu dalam, semuanya berputar-putar di kepalaku. Aku merasa sangat kaya, meski di dompetku hanya tersisa beberapa lembar uang ribuan.

"Yang..." aku bergumam sendiri di balik helm. Senyumku melebar, mungkin orang yang melihatku di lampu merah akan menganggapku sudah gila karena tersenyum sendirian.

Kebahagiaan ini sangat berbeda dengan kepuasan setelah memenangkan perkelahian di jalanan. Saat tawuran, aku merasa kuat secara fisik, tapi batiniahku kosong dan penuh ketakutan akan hari esok.

Namun malam ini, kebahagiaan ini membuatku merasa ingin melayang. Rasanya seperti ada sepasang sayap yang tumbuh di punggungku. Aku merasa lebih kuat bukan untuk menghancurkan orang lain, tapi kuat untuk membangun masa depan.

Aku menyadari satu hal penting saat motorku melewati daerah perbatasan sekolah yang biasanya rawan tawuran. Dulu, setiap lewat sini, instingku selalu waspada, tanganku bersiap mencari senjata, dan mataku liar mencari musuh. Tapi malam ini, hatiku benar-benar damai. Tidak ada ruang untuk dendam SMA 10, tidak ada ruang untuk emosi yang meluap-luap.

"Penjaga" di dalam darahku seolah ikut tertidur lelap, terbuai oleh kasih sayang yang baru saja kuterima dari keluarga Wulan. Ternyata, penawar paling ampuh untuk kekuatan mistis yang liar ini bukanlah ritual atau jimat, melainkan rasa diterima dan dicintai oleh orang-orang yang tepat.

Sesampainya di kontrakan Om Satria, aku tidak langsung masuk. Aku berdiri di depan teras, menatap langit Jakarta yang jarang menampakkan bintang. Aku menarik napas dalam-dalam, menghirup udara malam yang bebas dari aroma amarah.

"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih sudah mempertemukanku dengan Wulan," bisikku pelan.

Aku masuk ke dalam dengan langkah yang sangat ringan. Om Satria yang sedang bergadang di depan laptopnya menoleh, menatapku dengan heran karena wajahku yang berseri-seri seperti habis memenangkan undian miliaran rupiah.

"Kenapa lo, Kha? Habis makan apa di rumah Wulan sampai mukanya kayak lampu taman gitu?" goda Om Satria.
"Habis makan kebahagiaan, Om," jawabku singkat sambil berjalan menuju kamar dengan hati yang masih melayang.

Malam itu, aku tidur dengan sangat nyenyak. Di dalam mimpi, aku tidak lagi berada di medan tawuran yang berdarah, melainkan berada di sebuah rumah di pedalaman Kalimantan yang asri, duduk di teras bersama Wulan yang masih dengan kuncir kudanya, menua bersama dalam kedamaian yang abadi.
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 07:43
itkgid
kulipriok
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.