Kaskus

Story

f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA
Menaklukkan Ibu Kota


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan

Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan emoticon-Jempol

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan



Quote:

Menaklukkan Ibu Kota


Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
NankendraAvatar border
kelomangdaratAvatar border
YoayoayoAvatar border
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
#39
Bagian 31 : Amarah Tuan Putri

Pagi itu, cahaya matahari Jakarta yang masih malu-malu merambat masuk melalui celah ventilasi kontrakan, menyinari debu-debu yang menari di udara. Jam di dinding menunjukkan pukul enam lewat sedikit saat kesadaranku perlahan pulih. Aku mengerjapkan mata, merasakan punggungku sedikit kaku karena tidur di atas tikar pandan yang keras semalam. Namun, rasa pegal itu langsung sirna digantikan oleh pemandangan yang membuatku tertegun sejenak.

Di meja kayu kecil yang biasanya berantakan dengan tumpukan kertas skripsi, Om Satria sedang duduk dengan wajah yang sangat cerah pemandangan langka bagi seorang mahasiswa tingkat akhir yang biasanya tampak seperti mayat hidup. Ia sedang menyuap nasi dengan sangat lahap. Bau harum bawang goreng dan telur dadar yang gurih memenuhi ruangan sempit itu.

Tak lama kemudian, Wulan muncul dari arah dapur kecil kami. Ia sudah rapi mengenakan seragam putih abu-abunya yang disetrika licin. Rambut kuncir kudanya bergoyang mengikuti langkah kakinya yang ringan. Ia membawa sepiring kecil sambal yang aromanya langsung membangkitkan seleraku.
"Wah, enak kali ini, Kha! Gila, masakan calon keponakan ipar emang nggak ada tandingannya," celetuk Om Satria dengan mulut yang masih penuh makanan. "Biasanya perut gue cuma kenal rasa mie instan sama kopi saset, pagi ini berasa makan di restoran bintang lima."

Aku bangkit dari tikar, masih sedikit linglung. Kejadian semalam tawuran yang beringas, amukan "penjaga" di dalam tubuhku, hingga momen Wulan memutuskan untuk menginap demi menjagaku terasa seperti mimpi buruk yang diakhiri dengan pagi yang sangat manis.

Wulan menoleh ke arahku, senyumnya mengembang tipis, meski ada sedikit sisa ketegasan di matanya yang mengingatkanku pada peringatannya semalam.

"Kha, cuci muka sana. Terus sarapan dulu, habis itu langsung siap-siap pergi sekolah," ucap Wulan dengan nada lembut namun memerintah. Ia meletakkan piring terakhir di atas meja.

Aku masih diam mematung, menatap mereka berdua bergantian. Ada rasa hangat yang menjalar di dadaku melihat pemandangan domestik yang sederhana ini. Seorang anak kampung yang merantau sepertiku, biasanya hanya mengenal kesepian atau hiruk-pikuk perkelahian.
Tapi pagi ini, di kontrakan kecil ini, aku merasa memiliki sebuah keluarga yang utuh.

"Malah bengong. Buruan, nanti telat!" tegur Wulan lagi sambil tertawa kecil.

Aku langsung bergegas menuju kamar mandi. Air dingin menyentuh wajahku, membasuh sisa-sisa kantuk dan bayangan merah dari perkelahian semalam. Aku menatap cermin, melihat luka gores di lenganku yang sudah tertutup plester rapi oleh tangan Wulan semalam. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan sisa-sisa getaran di dalam darahku. Hari ini aku harus kembali menjadi Rakha sang pelajar, bukan si harimau yang haus darah.

Setelah berganti seragam, aku bergabung di meja makan. Kami makan bertiga dalam suasana yang penuh tawa karena lawakan Om Satria yang merasa "hidup kembali" berkat masakan Wulan. Di momen itu, aku menyadari bahwa inilah kemenangan yang sebenarnya. Bukan saat aku menjatuhkan lawan di aspal, tapi saat aku bisa duduk tenang bersama orang-orang yang kusayangi tanpa ada rasa takut atau dendam yang menghantui.

Sekitar pukul setengah tujuh, aku dan Wulan berpamitan pada Om Satria. Kami berangkat sekolah bersama-sama menggunakan motor bututku. Wulan memeluk pinggangku dengan erat, menyandarkan kepalanya di punggungku saat kami membelah kemacetan pagi Jakarta yang mulai menggila.

Sepanjang perjalanan, hatiku sebenarnya masih sedikit was-was. Aku khawatir jika polisi sudah berjaga di depan sekolah, atau jika ada laporan masuk tentang kejadian semalam di gudang tua itu. Namun, sesampainya di gerbang SMA 7, semuanya tampak tenang. Siswa-siswa berlarian masuk menghindari bel, penjual jajanan di depan sekolah tetap sibuk melayani pembeli, dan Pak Anwar guru paling killer hanya berdiri di depan gerbang memeriksa kerapian seragam seperti biasa.

Sepertinya strategi "hilangkan jejak" yang diperintahkan Bang Jago semalam berhasil. Kegelapan malam dan jalur tikus yang kami ambil telah menyembunyikan keterlibatan kami dengan rapi.

Kami melangkah masuk ke ruang kelas. Suasana kelas sudah riuh, namun mataku langsung tertuju pada pojok belakang tempat Riko dan Bunga berada. Benar saja, pemandangan di sana persis seperti yang dibicarakan Wulan tadi malam.

Riko duduk di kursinya dengan kepala menunduk dalam, tampak seperti anak ayam yang habis kehujanan. Di depannya, Bunga berdiri dengan kedua tangan di pinggang, bibirnya bergerak cepat membicarakan sesuatu yang sepertinya adalah rentetan omelan panjang. Wajah Riko yang biasanya tengil kini penuh dengan gurat lebam kecil di pipinya, sisa dari pertempuran semalam, namun yang lebih menyakitkan baginya sepertinya adalah "sidang" dari sang kekasih.

Aku dan Wulan saling melirik, lalu kami tak kuasa menahan tawa kecil saat berjalan mendekati mereka.

"Gimana, Ko? Enak kena sidang?" godaku saat kami sudah sampai di meja mereka.

Riko mendongak sejenak, menatapku dengan tatapan memelas yang sangat lucu. "Kha, tolongin gue, Kha... Bunga udah ngomel dari tadi pas gue baru nyampe parkiran. Kuping gue berasa mau copot, lebih sakit daripada kena pukul balok kayu semalam."

Bunga langsung menoleh ke arahku dengan mata melotot. "Kamu juga sama aja ya, Kha! Jangan malah ngetawain. Kalian itu bener-bener ya, hobi banget bikin orang jantungan!"

Wulan segera merangkul pundak Bunga, mencoba menenangkan sahabatnya itu. "Udah, Bung. Yang penting mereka pulang dengan selamat. Tapi bener kata kamu, mereka emang perlu dikasih pelajaran biar nggak kebiasaan."

Aku duduk di samping Riko, menepuk pundaknya dengan rasa solidaritas yang tinggi. Meski kami habis "disidang" oleh pasangan masing-masing, ada rasa lega yang luar biasa. Masalah SMA 10 sepertinya sudah tuntas untuk sementara, dan pagi ini, di kelas 12 yang penuh tekanan ujian ini, kami masih memiliki satu sama lain.

"Lan, makasih ya buat tadi pagi," ucapku pelan saat Wulan berjalan menuju mejanya sendiri.

Wulan hanya tersenyum dan mengangguk. Hari itu dimulai dengan tawa, sebuah penawar yang paling ampuh untuk semua kekerasan yang terjadi di bawah lampu jalanan Jakarta semalam. Aku membuka buku catatanku, bertekad untuk benar-benar fokus belajar, demi masa depan yang lebih tenang bersama gadis kuncir kuda itu.

Sore itu, langit Jakarta menggantung kelabu, seolah-olah awan ikut merasakan ketegangan yang belum tuntas dari malam sebelumnya. Udara terasa lembap dan pengap saat bel pulang sekolah berdentang. Biasanya, sepulang sekolah adalah waktu bagi kami untuk bernapas lega, namun tidak kali ini.

Begitu kaki kami melangkah keluar dari gerbang SMA 7, Wulan dan Bunga sudah berdiri tegak dengan tangan terlipat di dada. Tatapan mereka tidak terbantahkan. Tidak ada tawaran untuk makan es krim atau sekadar jalan-jalan sore.

"Kita ke Warung Bi Jiah. Sekarang," ucap Wulan. Suaranya rendah, namun memiliki otoritas yang membuat nyali jagoan pasar sekalipun bisa ciut.

"Lho, Lan, bukannya kamu tadi bilang mau langsung pulang?" tanyaku mencoba melakukan negosiasi yang sia-sia.

"Nggak ada alasan, Kha. Riko, kamu juga ikut. Jangan coba-coba kabur pakai motor lewat jalur belakang," timpal Bunga sambil menunjuk hidung Riko yang masih bengkak kemerahan.

Aku dan Riko hanya bisa saling lirik. Kami seperti dua pesakitan yang sedang digiring menuju meja eksekusi. Aku memacu motor bututku dengan pelan, membonceng Wulan yang sepanjang jalan hanya diam seribu bahasa. Di belakang, Riko mengekor dengan Bunga yang sepertinya masih memberikan khotbah panjang lebar di balik helmnya

Sesampainya di gang menuju Warung Bi Jiah, suasana terasa berbeda. Tidak ada tawa menggelegar atau suara musik dari radio tua Bi Jiah. Begitu motor kami terparkir, pemandangan di dalam warung membuatku meringis kecil.

Bang Jago sedang duduk menyandar di kursi kayu panjang dengan kaos dalam yang penuh bercak keringat. Di pelipisnya menempel plester besar, dan lengan kanannya dibebat kain putih kasar. Di sudut lain, Dendi sedang mengompres memar di tulang pipinya dengan es batu yang dibungkus plastik, sementara beberapa anak STM teman mereka tampak lunglai dengan perban di tangan dan kaki. Sisa-sisa tawuran semalam terpampang nyata di sana, lebih jelas daripada luka gores di tubuhku.

Wulan turun dari motor tanpa menunggu aku mematikan mesin dengan sempurna. Ia melangkah maju, masuk ke dalam warung, dan langsung berdiri di tengah-tengah mereka. Ia tidak bicara, hanya berdiri mematung sambil menatap tajam satu per satu penghuni warung itu.

Suasana yang tadinya sunyi karena rasa sakit, mendadak berubah menjadi sunyi karena rasa sungkan. Bang Jago yang biasanya paling berisik, tiba-tiba salah tingkah. Ia mencoba memperbaiki posisi duduknya, namun meringis karena luka di punggungnya sepertinya tertarik.

"Alamak... Tuan Putri marah nampaknya nih," ucap Bang Jago mencoba mencairkan suasana dengan logatnya yang serak. Ia mencoba tersenyum, tapi luka di sudut bibirnya membuatnya justru terlihat seperti sedang menahan perih.

Aku dan Riko masuk ke warung dengan langkah gontai, lalu memilih berdiri di pojokan, dekat rak kerupuk. Kami benar-benar terdiam membisu. Di hadapan Wulan yang sedang dalam mode "kakak tertua" seperti ini, predikat kami sebagai petarung jalanan hilang seketika. Kami hanya dua anak SMA yang tertangkap basah melakukan kenakalan fatal.

Wulan masih belum bersuara. Matanya yang jernih menatap plester di wajah Bang Jago, lalu beralih ke tangan Dendi yang gemetar saat memegang kompres. Bunga berdiri di samping Wulan, ikut memberikan tatapan menghakimi yang membuat anak-anak STM yang biasanya garang itu mendadak sibuk menatap lantai atau asyik memperhatikan semut di meja.

"Bang Jago," panggil Wulan akhirnya. Suaranya tenang, tapi setiap kata seperti dentuman palu. "Abang itu yang paling tua di sini. Abang yang harusnya jadi contoh."

Bang Jago berdehem, mencoba mencari kata-kata untuk membela diri. "Aduh, Lan... Abang bukannya gimana. Itu si Rio kan saudara kita juga. Masakan kita diem aja pas tangannya dipatahkan?"

"Terus kalau tangan mereka patah semua, tangan Rio jadi sembuh? Enggak kan, Bang?" balas Wulan cepat. "Kalau semalam polisi datang, atau kalau ada yang lewat terus kena sasaran, siapa yang mau tanggung jawab? Rakha? Riko? Mereka ini mau ujian, Bang!"

Dendi mencoba angkat bicara, "Tapi mereka duluan yang mulai, Lan..."

"Dan kalian mengakhirinya dengan cara yang sama bodohnya," potong Bunga dengan nada pedas.

Aku melihat Bang Jago menunduk. Pria yang biasanya tidak takut pada parang lawan itu kini tampak tak berdaya di depan dua siswi SMA. Bukan karena ia takut secara fisik, tapi karena ia tahu bahwa apa yang dikatakan Wulan benar. Ia menyayangi kami, dan semalam ia telah membawa kami ke dalam risiko yang bisa menghancurkan masa depan kami.

"Kalian tahu nggak," suara Wulan mulai bergetar, kali ini bukan karena marah, tapi karena rasa takut yang akhirnya tumpah. "Tadi malam aku tidur di kontrakan Rakha cuma buat mastiin dia nggak keluar lagi. Aku takut tiap ada suara motor lewat, aku pikir itu polisi atau musuh yang datang balas dendam."

Ia menoleh ke arahku dan Riko. "Kalian pikir kalian hebat bisa menang tawuran? Kemenangan itu nggak ada gunanya kalau besok pagi kalian nggak bisa masuk sekolah karena dijemput polisi."

Aku menunduk lebih dalam. Rasa bersalah yang tadi pagi sempat hilang karena sarapan bersama, kini kembali menghujam ulu hatiku. Aku teringat bagaimana "penjaga" di dalam tubuhku mengambil alih semalam. Jika bukan karena keberuntungan, mungkin aku sudah melakukan hal yang lebih mengerikan dari sekadar memukul.

Bi Jiah keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi teh manis hangat. Ia memecah ketegangan dengan meletakkan gelas-gelas itu di meja.

"Sudah, sudah... Neng Wulan, Neng Bunga, diminum dulu tehnya," ucap Bi Jiah lembut. "Mereka ini memang kepala batu, tapi hati mereka baik. Mereka cuma terlalu sayang sama temannya."

Wulan menghela napas panjang, bahunya yang tegang perlahan meluruh. Ia duduk di bangku kayu, diikuti oleh Bunga. Ketegangan yang tadi memuncak perlahan mulai mereda, berganti dengan suasana haru yang aneh. Bang Jago akhirnya berani menatap Wulan.

"Maafin Abang, Lan. Abang emang emosi semalam. Abang janji, ke depannya Abang bakal lebih mikir lagi sebelum ajak adek-adek Abang ini terjun ke jalanan," ucap Bang Jago tulus.

Riko memberanikan diri mendekat, mencoba mencairkan suasana dengan gayanya. "Iya Lan, Bunga... Gue juga minta maaf. Sumpah, semalam itu terakhir kali gue pegang balok. Besok-besok gue pegang tangan Bunga aja terus biar nggak nakal."

Bunga mencubit lengan Riko yang memar, membuat sahabatku itu menjerit kecil namun berakhir dengan tawa tipis dari semua orang di warung.

Sore itu, di Warung Bi Jiah, kami belajar bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa keras pukulan kami, tapi pada seberapa besar keberanian kami untuk mengakui kesalahan di depan orang yang menyayangi kita. Jakarta yang keras telah menempa kami, tapi kelembutan hati Wulan-lah yang menjaga kami agar tidak hancur menjadi debu.

Matahari mulai terbenam di ufuk barat, menyisakan cahaya kemerahan di langit Jakarta. Aku menatap Wulan yang kini sedang mengobrol pelan dengan Bi Jiah. Dalam hati, aku bersumpah pada "penjaga" di dalam diriku: mulai detik ini, aku tidak akan membiarkan amarah menjadi tuan atas jiwaku lagi. Karena ada seseorang yang telah mempertaruhkan air matanya hanya untuk memastikan aku tetap menjadi manusia.
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 07:02
kulipriok
kulipriok memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.