Kaskus

Story

f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA
Menaklukkan Ibu Kota


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan

Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan emoticon-Jempol

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan



Quote:

Menaklukkan Ibu Kota


Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
NankendraAvatar border
kelomangdaratAvatar border
YoayoayoAvatar border
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
#38
Bagian 30 : Anak Ayam

Motor itu kupacu membelah dinginnya angin malam Jakarta dengan jantung yang masih bertalu kencang. Bayangan kepalan tangan, kayu yang beradu, dan sisa-sisa kemarahan "penjaga" di dalam tubuhku masih terasa nyata. Aku hanya ingin segera sampai di kontrakan, mencuci bersih noda di kulitku, dan tidur seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun, begitu motor kuparkir di depan kontrakan Om Satria, tubuhku mendadak kaku. Lampu teras menyala terang, dan di bawah remang cahayanya, aku melihat dua sosok sedang duduk di kursi kayu panjang. Om Satria ada di sana, tapi yang membuat nyaliku menciut adalah sosok gadis di sebelahnya. Wulan.

Kuncir kudanya sedikit berantakan tertiup angin malam, dan matanya yang biasanya teduh kini menatap lurus ke arahku dengan tatapan yang sangat tajam. Aku menunduk, menyadari bahwa bajuku acak-acakan, ada noda tanah, dan mungkin sedikit bercak merah di kerah.

"Lan, sejak kapan tadi ke sini?" tanyaku mencoba bersikap biasa saja, meski suaraku sedikit bergetar. Aku melangkah mendekat, mencoba menutupi luka gores di lenganku.
"Dari tadi," jawabnya singkat. Dingin. Lebih dingin dari es di kulkas Bi Jiah.

Ia berdiri, berjalan mendekatiku, lalu menarik napas panjang. Matanya menelusuri penampilanku dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Dari mana? Kok kacau sekali baju kamu?" tambahnya dengan nada yang menahan ledakan amarah.
Om Satria yang duduk di belakang hanya bisa bersiul pelan, mengalihkan pandangan ke langit malam seolah-olah bintang di sana jauh lebih menarik daripada drama yang akan meledak ini. Ia sepertinya sudah menyerah untuk membantuku berbohong.

"Darii..." aku ragu. Lidahku kelu. Mencari alasan tentang ban bocor atau terjatuh dari motor rasanya akan sia-sia di depan mata Wulan yang seperti bisa membaca pikiran.
"Dari tawuran lagi sama anak SMA 10?" potong Wulan cepat, menusuk tepat di ulu hatiku.

Aku langsung terdiam, menunduk dalam-dalam. Aku tidak berani menatap wajahnya yang kini memerah karena emosi. Rasa bersalah menghantamku lebih keras daripada balok kayu anak SMA 10 tadi.

"Aku tahu, Kha. Kamu, Riko, dan gengnya Bang Jago itu... kalian tawuran lagi kan? Karena mau balas dendam soal Rio yang dikeroyok?" ucap Wulan, suaranya mulai bergetar. Bukan karena takut, tapi karena kecewa.

Aku masih terpaku di tempat, tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan malam itu terasa sangat menyiksa. "Penjaga" di dalam darahku yang tadi mengamuk kini ikut menciut, tunduk pada kewibawaan gadis ini.
"Duduk," perintahnya telak.

Aku seperti kerbau yang dicocok hidungnya, langsung mengikuti perintah Wulan dan duduk di sampingnya di kursi kayu itu.

"Buka baju kamu," ucapnya tiba-tiba.
"Hah?" aku terbelalak.
"Iya, cepat!" tambahnya tanpa bantahan.

Dengan tangan gemetar, aku membuka kancing kemeja sekolahku yang sudah kotor. Begitu baju itu lepas, terlihatlah beberapa luka gores di bahu dan lenganku, serta memar biru yang mulai muncul di dada.

Aku duduk telanjang dada, menampakkan tubuh yang tidak terlalu besar namun liat dengan beberapa garis otot hasil kerja keras di perantauan.

Wulan mengeluarkan kotak P3K kecil—kotak yang sama yang ia gunakan saat membersihkan lukaku ketika aku dikeroyok Kaka dulu. Ia mulai membersihkan lukaku dengan obat merah. Sentuhannya sangat lembut, sangat kontras dengan kata-katanya yang tajam tadi.

Om Satria, melihat situasi sudah mulai mereda menjadi adegan perawatan medis, berdehem pelan. "Kha, gue masuk dulu ya. Skripsi gue manggil-manggil," ucapnya pura-pura sibuk dan langsung masuk ke kamar, memberiku ruang privasi dengan Wulan.

Suasana kembali sunyi, hanya ada suara kapas yang bergesekan dengan kulitku. Wulan fokus mengobati, bibirnya terkatup rapat, namun aku bisa melihat matanya berkaca-kaca.

"Aku tahu kalian tawuran dari Bunga," ucapnya akhirnya, memecah keheningan. "Dia menginterogasi Riko habis-habisan lewat telepon tadi. Mungkin sekarang si Riko juga lagi mengalami nasib yang sama kayak kamu, nunduk ketakutan seperti anak ayam di depan Bunga."

Wulan sedikit tersenyum kecil, sebuah senyum tipis yang mencoba mencairkan ketegangan di antara kami. Aku pun ikut tersenyum getir, membayangkan Riko yang biasanya banyak omong kini pasti sedang kena semprot habis-habisan oleh Bunga.

"Kenapa harus begini terus, Kha?" bisiknya sambil menempelkan plester di pundakku. "Aku takut... aku takut suatu saat bukan cuma luka gores begini yang kamu bawa pulang. Aku takut kehilangan kamu."

Aku meraih tangan Wulan yang sedang memegang kapas. "Maafin aku, Lan. Aku cuma nggak bisa liat Rio diperlakukan kayak gitu. Di sini, mereka itu keluargaku."

Wulan menatapku dalam, tangannya tidak ditarik dari genggamanku. "Aku tahu, Kha. Tapi kekerasan nggak akan pernah menyelesaikan masalah. Lihat sekarang, kamu terluka, Rio di rumah sakit, dan besok mungkin polisi datang ke sekolah. Apa itu yang kamu mau?"

Aku terdiam. Penjelasannya masuk akal, tapi darah mudaku dan solidaritas perantau sering kali membutakan logika itu. Malam itu, di teras kontrakan Om Satria, aku belajar satu hal: kemenangan di aspal tidak ada artinya jika harus dibayar dengan air mata orang yang kita sayangi.

Wulan tidak marah karena aku berkelahi, ia marah karena ia sangat mencintaiku dan takut dunia yang keras ini akan merebutku darinya.

"Janji ya, Kha. Ini yang terakhir," ucapnya sambil menatap mataku, mencari kejujuran di sana.
Aku mengangguk mantap. "Janji, Lan. Aku akan berusaha lebih keras lagi buat nahan diri."

Malam di kontrakan Om Satria yang biasanya hanya diisi oleh suara ketikan skripsi dan nyamuk yang berpesta, mendadak terasa begitu hangat—bukan karena hawa Jakarta yang gerah, tapi karena kehadiran sosok gadis di sampingku.

Luka-luka di tubuhku yang tadi terasa berdenyut pedas setelah perkelahian dengan anak SMA 10, kini seolah terbius oleh aroma parfum Wulan yang lembut, bercampur dengan bau obat merah yang baru saja ia oleskan di lenganku.
Wulan merapikan kotak P3K miliknya dengan gerakan cekatan. Matanya yang tadi berkilat marah, kini mulai melunak, menyisakan gurat kelelahan dan rasa sayang yang tak bisa ia sembunyikan.

"Yaudah, kamu makan dulu. Tadi aku beli nasi Padang sebelum ke sini. Kamu pasti lapar habis... buang-buang tenaga nggak jelas itu," ucap Wulan sambil menyodorkan sebungkus nasi yang masih hangat di atas meja kayu.

"Makasih, Lan," ucapku lirih. Suaraku hampir hilang, tertelan rasa bersalah yang masih mengganjal di tenggorokan.
Tanpa banyak bicara lagi, aku langsung membuka bungkus nasi itu. Aroma rendang dan sambal hijau langsung menusuk hidung, membangkitkan rasa lapar yang luar biasa. Tubuhku memang butuh asupan setelah "penjaga" di dalam darahku menguras habis energiku saat menyerang membabi buta di gudang tua tadi.

Aku menyantap nasi itu dengan lahap, mengabaikan perih di sudut bibirku yang sedikit robek. Wulan hanya memperhatikanku diam-diam, sesekali mengusap rambutnya yang tertiup angin teras.

Di sela kunyahanku, Wulan berdehem pelan. Ia menatap ke arah pintu masuk kontrakan yang terbuka sedikit.
"Aku menginap di sini malam ini. Tadi sudah minta izin sama Ayah dan Ibu," ucapnya datar, seolah-olah itu adalah hal paling biasa di dunia.

"Hah?!" aku langsung tersedak. Sebutir nasi hampir saja masuk ke saluran napas. Aku terbatuk-batuk hebat sampai wajahku memerah. Wulan dengan sigap menyodorkan segelas air putih yang langsung kuteguk sampai habis.

"Kamu mau tidur di mana, Lan?" tanyaku dengan mata terbelalak setelah napas kembali normal. Pikiran tentang Om Satria yang sedang di dalam kamar dan ruang tamu kami yang sempit langsung berputar-putar di kepalaku.

Wulan melipat tangannya di dada, bibirnya sedikit mengerucut. "Nggak boleh aku tidur di sini? Yaudah, aku pulang dulu kalau gitu..." ucapnya merajuk, tapi ada nada manja yang terselip di sana, jenis nada yang tahu persis bahwa aku tidak akan membiarkannya pulang sendirian di jam segini.

"Eh, iya... iya, boleh! Boleh banget!" jawabku panik, takut ia benar-benar pergi. "Nanti kamu tidur di kamarku aja, Lan. Biar aku yang tidur di luar, di kursi atau di lantai pakai tikar."
Wulan menggeleng cepat. Sorot matanya menunjukkan keras kepala khas gadis Kalimantan yang tidak suka diistimewakan secara berlebihan.

"Gak mau. Kita tidur di luar sama-sama."
Aku terdiam seribu bahasa. Di dalam kepalaku, aku membayangkan apa yang akan dikatakan bapakku di kampung kalau tahu anak laki-lakinya tidur satu ruangan dengan pacarnya. Tapi di sisi lain, aku tahu Wulan sedang ingin menjagaku. Ia takut jika ia masuk ke kamar, aku akan menyelinap keluar lagi untuk bergabung dengan Riko atau Bang Jago. Ia ingin memastikan pelindungnya ini benar-benar beristirahat.

Aku menghela napas panjang, menyerah pada keinginannya. Aku berjalan masuk ke dalam, mengambil tikar pandan tua milik Om Satria yang biasanya kami gunakan untuk duduk lesehan saat diskusi skripsi. Aku membentangkannya di ruang tamu yang hanya seluas tiga kali empat meter itu.
Malam itu, Jakarta terasa lebih sunyi dari biasanya.

Om Satria sudah mematikan lampu kamarnya, memberikan privasi yang sunyi bagi kami. Aku mematikan lampu utama, menyisakan lampu teras yang cahayanya merembes masuk dari celah jendela, menciptakan bayangan panjang di atas tikar.

Wulan merebahkan tubuhnya di sisi kanan tikar, menggunakan bantal kecil yang kuambil dari kamar. Aku merebahkan diriku di sisi kiri, memberikan jarak yang cukup sopan di antara kami. Kami berdua menatap langit-langit plafon yang sedikit berjamur.

"Kha..." panggilnya lirih.

"Ya?"
"Tadi di sana... kamu marah banget ya?" tanya Wulan. Tangannya meraba pinggiran tikar.

Aku terdiam, teringat saat tanganku hampir menghujamkan pukulan terakhir ke lawan yang sudah tak berdaya sebelum ditenangkan Bang Jago. "Aku cuma nggak tahan liat Rio, Lan. Dia sudah kayak saudara buat aku. Pas denger tangannya patah, rasanya darahku mendidih."

"Aku ngerti," bisik Wulan. "Tapi kamu harus janji, jangan biarkan kemarahan itu jadi tuan atas diri kamu. Aku lebih suka Rakha yang suka melawak pakai logat Kalimantan daripada Rakha yang tadi... yang matanya merah dan menyeramkan."

Aku menoleh ke arahnya. Di bawah temaram cahaya, wajah Wulan terlihat begitu tenang. Aku menyadari satu hal: keberadaannya di sini, menginap di kontrakan kecil ini, adalah caranya untuk mengikatku agar tidak terjatuh lebih dalam ke lubang kekerasan Jakarta. Ia adalah jangkar bagi jiwaku yang liar.

"Aku janji, Lan. Aku akan belajar lebih baik lagi," ucapku tulus.
Malam itu, di atas tikar pandan yang keras, Wulan tertidur di sampingku. Aku bisa mendengar deru napasnya yang teratur. Tidak ada niat jahat sedikit pun di kepalaku; yang ada hanyalah rasa syukur yang luar biasa. Anak kampung dari Kalimantan ini, yang dulu datang dengan tangan kosong dan hati penuh ketakutan, kini memiliki seseorang yang rela tidur di atas lantai keras hanya untuk memastikan aku baik-baik saja.

Aku memejamkan mata, membiarkan rasa lelah mengambil alih. Di luar sana, Jakarta mungkin masih penuh dengan dendam SMA 10 dan patroli polisi, tapi di dalam ruangan sempit ini, aku menemukan kedamaian yang paling hakiki. Esok mungkin akan ada masalah di sekolah, mungkin Pak Anwar akan memanggilku, tapi malam ini, aku hanya ingin menjaga tidur gadis kuncir kuda yang sudah menjadi bagian dari hidupku ini.
itkgid
kulipriok
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.