- Beranda
- Stories from the Heart
Menaklukkan Ibu Kota
...
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA

Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan
Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan
Quote:

Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
f4gry...
#36
Bagian 29 : Balas dendam untuk Rio
Malam di pinggiran Jakarta biasanya membawa ketenangan yang semu, namun bagi kami yang sering menghabiskan waktu di bawah lampu redup Warung Bi Jiah, udara malam itu terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Sejak tawuran besar di gerbang SMA 7 beberapa bulan lalu, aku mengira dendam antara sekolah kami dan SMA 10 sudah terkubur bersama ijazah kelulusan Kaka. Namun, aku salah besar. Dendam di aspal Jakarta tidak pernah benar-benar mati; ia hanya tidur sejenak, menunggu waktu yang tepat untuk bangun dan menuntut balas.
Malam itu, Wulan tidak bersamaku. Ia sedang sibuk mengerjakan tugas kelompok di rumah Bunga, sehingga aku memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama Bang Jago, Riko, dan anak-anak tongkrongan lainnya. Kami sedang asyik membahas rencana kelulusan dan masa depan yang terasa masih sangat jauh, hingga tiba-tiba suara deru motor yang dipacu kasar memecah kesunyian gang.
Dendi datang dengan napas tersengal. Wajahnya pucat pasi, matanya memancarkan kecemasan yang luar biasa. Ia bahkan hampir terjatuh saat turun dari motornya yang masih menyala.
"Bang! Rakha! Ko!" teriak Dendi sambil berlari menghampiri meja kayu tempat kami berkumpul.
Bang Jago yang sedang menyesap kopi hitamnya langsung meletakkan gelasnya dengan dentuman keras. "Kenapa lo, Den? Kayak liat setan aja!"
"Rio, Bang... Rio dikeroyok!" suara Dendi bergetar. "Sekarang dia masuk rumah sakit. Parah, Bang. Katanya tangannya patah dihantam balok kayu sama anak-anak SMA 10."
Seketika, suasana warung yang tadinya riuh menjadi senyap mencekam. Riko berdiri dari duduknya, wajah tengilnya menghilang, digantikan oleh gurat kemarahan yang nyata. Aku merasakan dadaku memanas. Rio adalah bagian dari keluarga kami. Dia yang selalu ada saat aku pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, dia yang ikut berdarah saat menjaga gerbang sekolahku.
"Kurang ajar! Masih belum kapok-kapoknya mereka ya!" geram Bang Jago. Otot-otot lengannya yang penuh tato menegang, matanya menatap lurus ke kegelapan malam dengan sorot predator.
Aku bisa merasakan "penjaga" di dalam darahku mulai menggeliat. Rasa perih di pelipisku bekas luka tawuran lama seolah berdenyut kembali. Patah tangan bukan lagi sekadar perkelahian biasa; itu adalah penghinaan dan pernyataan perang yang sangat terbuka.
"Kejadiannya di mana, Den? Kok bisa mereka berani main keroyok begitu?" tanya Riko sambil mengepalkan tangannya.
"Tadi Rio lagi jalan balik sendirian lewat jalur belakang pasar. Ternyata mereka sudah nunggu di sana. Lebih dari sepuluh orang, Ko. Rio nggak sempat ngapa-ngapain, langsung dihajar pakai balok dan gear," jelas Dendi dengan nada yang masih cemas.
Bang Jago berdiri, badannya yang tegap seolah menutupi cahaya lampu warung. "Lo tau perkumpulan mereka di mana, Den? Di mana mereka biasanya nongkrong kalau malam?"
Dendi mengangguk mantap. "Tau, Bang. Mereka punya markas di gudang tua dekat perbatasan. Gw sering liat motor-motor mereka parkir di sana kalau malam minggu."
Suasana semakin memanas. Di Jakarta, jika salah satu dari kami terluka, maka seluruh barisan akan bergerak. Ini bukan lagi soal urusan sekolah, tapi soal harga diri dan keselamatan kawan yang sudah dianggap saudara sendiri.
Aku menatap Bang Jago. Aku tahu apa yang ada di pikirannya. Sebagai senior yang dituakan, Bang Jago tidak akan membiarkan adiknya diperlakukan seperti itu. Namun, aku juga teringat pesan bapakku di Kalimantan dan janji yang kuucapkan pada Wulan: untuk tidak lagi menjadi "orang yang menyeramkan".
Tapi, melihat Dendi yang gemetar dan membayangkan Rio yang terbaring di rumah sakit dengan tangan patah, logika kedamaianku perlahan runtuh. Ada saatnya bicara, dan ada saatnya bertindak.
"Yaudah. Besok malam kita serang mereka!" perintah Bang Jago dengan suara rendah namun penuh penekanan. Tidak ada bantahan. Perintah itu adalah mutlak.
"Kita kumpulin anak-anak. Jangan ada yang telat. Kita kasih pelajaran yang nggak bakal mereka lupain seumur hidup," tambah Bang Jago lagi.
Riko menoleh ke arahku. "Gimana, Kha? Lo ikut, kan?"
Aku terdiam sejenak. Aku membayangkan wajah Wulan yang penuh harap agar aku tetap menjadi pria baik-baik. Namun, bayangan wajah Rio yang kesakitan jauh lebih kuat menghujam benakku. Di tanah perantauan ini, solidaritas adalah segalanya.
"Gue ikut," jawabku singkat.
Malam itu, aku pulang ke kontrakan Om Satria dengan perasaan yang sangat kacau. Aku tidak menceritakan hal ini pada Om Satria; aku tidak ingin beliau cemas atau melarangku berangkat. Aku duduk di pinggir tempat tidur, menatap kedua tanganku yang mulai bergetar halus sebuah tanda bahwa kekuatan mistis warisan kakekku sedang bersiap-siap untuk dilepaskan.
Aku tahu, jika besok malam aku berangkat, ada risiko besar aku akan kehilangan kendali lagi. Aku takut "penjaga" itu akan mengambil alih sepenuhnya dan membuatku melakukan hal yang lebih parah daripada sekadar mematahkan tangan lawan. Namun, membiarkan Rio menderita sendirian tanpa balasan adalah hal yang tidak mungkin kulakukan.
Besok adalah hari penentuan. Aku harus bisa menyeimbangkan antara dendam kawan dan janji pada kekasih. Jakarta kembali menunjukkan sisi kelamnya, dan aku kembali dipaksa untuk memilih: menjadi pahlawan bagi kawan-kawanku, atau menjadi monster yang ditakuti semua orang.
Sebelum tidur, aku mengirim pesan singkat pada Wulan: "Besok aku mungkin sibuk sampai malam, jangan cari aku dulu ya. I love you."
Pesan itu terasa seperti salam perpisahan sementara bagi sisi "baik" dariku. Besok malam, Rakha yang lembut akan tidur sejenak, dan Rakha yang membawa api dari Kalimantan akan memimpin barisan di depan gudang tua itu.
Malam itu, Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya, seolah aspal jalanan ikut membeku menantikan tumpah darah yang sebentar lagi akan terjadi. Deru mesin motor kami membelah sunyi gang-gang sempit, menciptakan irama mencekam yang saling bersahutan.
Di barisan paling depan, Bang Jago memacu motornya dengan gagah, jaket kulitnya berkibar tertiup angin malam, menjadi komando bisu bagi kami yang mengekor di belakang.
Riko berada di sampingku, wajahnya yang biasa penuh candaan kini mengeras, matanya menatap lurus ke depan dengan amarah yang tertahan. Dendi pun tak kalah beringas; ia membonceng salah satu anak tongkrongan dengan tangan yang sesekali meraba balok kayu yang disembunyikan di balik jaket.
Kami adalah barisan sakit hati yang menuntut keadilan bagi Rio yang kini terbaring lemah dengan tulang tangan yang remuk.
Sesampainya di dekat gudang tua yang menjadi markas SMA 10, Bang Jago tidak memberikan aba-aba lewat kata-kata. Ia hanya mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu menunjuk ke arah kerumunan remaja yang sedang asyik tertawa di atas motor mereka.
"HAJAR!" teriak Bang Jago membahana, memecah kesunyian malam.
Begitu kaki kami menyentuh tanah, semua terjadi begitu cepat. Kami berlari menerjang kerumunan itu seperti badai yang menghantam pantai. Suara benturan kayu, teriakan kesakitan, dan deru motor yang tumbang menjadi musik latar yang mengerikan.
Di saat itulah, aku merasakannya kembali.
Sebuah getaran hebat menjalar dari tulang ekor hingga ke ubun-ubun. Pandanganku yang tadinya jernih mendadak terdistorsi oleh warna merah yang pekat. Suara bising di sekitarku perlahan memudar, digantikan oleh suara dengungan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga. "Penjaga" warisan kakekku dari pedalaman Kalimantan seolah mencium aroma amarah dan darah, lalu tanpa izin, ia mendobrak pintu kesadaranku.
Aku merasa diriku tersingkir ke sudut gelap pikiranku sendiri, menjadi penonton yang tak berdaya saat tubuhku mulai bergerak dengan kecepatan dan kekuatan yang tidak masuk akal.
Aku menerjang dua orang sekaligus dengan satu lompatan. Pukulanku mendarat telak di rahang salah satu dari mereka hingga ia jatuh terjengkang tak sadarkan diri.
Aku tidak berhenti. Aku menyerang secara membabi buta. Tanganku bergerak seperti cakar predator, mencengkeram dan menghantam siapa pun yang mengenakan seragam atau atribut SMA 10. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa sakit; yang ada hanyalah insting untuk menghancurkan lawan sampai tak bersisa.
Beberapa anak SMA 10 mencoba mengepungku dengan sabuk gear, tapi tubuhku berkelit dengan kelenturan yang mustahil dimiliki manusia biasa. Aku menangkap sabuk itu, menariknya dengan satu sentakan kuat hingga pemiliknya terseret jatuh, lalu menghujamkan pukulan bertubi-tubi ke arah dadanya.
Kekacauan itu tidak berlangsung lama. Kehadiran kami yang menyerang dengan intensitas kegilaan terutama karena amukanku yang tidak terkendali membuat nyali anak-anak SMA 10 ciut seketika. Mereka yang tadi tampak sangar, kini kocar-kacir menyelamatkan diri.
Kemenangan kembali berada di tangan kami, tapi harga yang harus dibayar adalah hilangnya sisi kemanusiaanku sejenak.
"Kha! Cukup, Kha! Mereka udah lari!" suara Bang Jago terdengar sayup-sayup mencoba menembus kabut merah di kepalaku.
Aku masih berdiri di tengah lapangan tua itu, napasku memburu seperti binatang buas yang baru saja menyelesaikan perburuan. Mataku masih liar mencari target berikutnya, bahkan hampir saja aku menyerang dendi yang mendekat jika saja Bang Jago tidak segera memiting leherku dari belakang dengan kuat.
"Sadar, Rakha! Istigfar! Ini Bang Jago!" teriaknya tepat di telingaku.
Perlahan, kekuatan dingin itu menyurut kembali ke dalam sumsum tulangku. Pandanganku kembali normal, meski kepalaku terasa sangat pening seolah baru saja dihantam palu godam. Aku melihat sekeliling; beberapa lawan tergeletak mengerang kesakitan, sementara yang lainnya sudah menghilang ditelan kegelapan malam.
Tak lama kemudian, Riko dan Dendi kembali ke area gudang dengan napas terengah-engah. Mereka tadi sempat mengejar sisa-sisa anak SMA 10 yang melarikan diri menggunakan motor.
"Gila! Mereka lari kayak kilat, Bang!" seru Riko sambil menyeka keringat di dahinya.
Meskipun wajahnya masih penuh sisa amarah karena kondisi Rio, sifat aslinya tetap muncul. "Baru kali ini gue liat orang naik motor tapi kakinya ikut lari saking takutnya sama si Rakha!"
Dendi ikut menimpali sambil terbatuk. "Iya, Bang. Motornya belum nyala sempurna tapi udah digas pol. Kayaknya mereka trauma liat Rakha yang tadi kayak kesurupan harimau."
Bang Jago hanya tersenyum tipis mendengar celotehan mereka, namun matanya tetap waspada menatap ke ujung jalan. Keadaan sudah mulai tenang, namun bahu jalanan sudah mulai ramai oleh warga yang penasaran melihat keributan.
"Udah, jangan banyak omong dulu. Kita harus cabut sekarang," perintah Bang Jago dengan tegas. Ia melirik jam tangannya, lalu menatap ke arah lampu-lampu kota di kejauhan.
"Polisi pasti sudah di jalan menuju ke sini. Warga pasti ada yang lapor," tambah Bang Jago lagi. "Kita berpencar! Jangan balik ke Warung Bi Jiah bareng-bareng. Ambil jalur tikus, jangan ada yang lewat jalan protokol!"
Riko langsung menyambar kunci motornya. "Siap, Bang. Gue bawa Dendi lewat jalur pasar."
Bang Jago menepuk pundakku yang masih sedikit gemetar. "Lo balik langsung ke kontrakan Om Satria, Kha. Cuci tangan lo, bersihin semua bekasnya. Jangan sampai ada yang tau kejadian malam ini, termasuk Wulan."
Aku mengangguk lemah. Rasa bersalah mulai merayap saat kesadaranku benar-benar pulih. Aku kembali teringat wajah Wulan yang sangat benci kekerasan. Apa jadinya jika ia melihatku tadi? Apa jadinya jika ia tahu bahwa "penjaga" itu kembali mengambil alih demi sebuah dendam?
Malam itu, kami berhamburan meninggalkan lokasi kejadian, menyatu dengan kegelapan malam Jakarta. Kemenangan ini terasa pahit di lidahku. Rio mungkin sudah terbalaskan, tapi aku merasa semakin jauh dari janji yang kuucapkan pada bapakku di Kalimantan. Aku sukses memenangkan perkelahian, tapi aku kalah dalam mengendalikan diriku sendiri.
Di perjalanan pulang, aku terus memikirkan satu hal: sampai kapan aku harus menyimpan rahasia gelap ini di hadapan Wulan? Jakarta bukan lagi sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan medan tempur di mana aku harus terus bersembunyi di balik topeng murid teladan.
Malam di pinggiran Jakarta biasanya membawa ketenangan yang semu, namun bagi kami yang sering menghabiskan waktu di bawah lampu redup Warung Bi Jiah, udara malam itu terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Sejak tawuran besar di gerbang SMA 7 beberapa bulan lalu, aku mengira dendam antara sekolah kami dan SMA 10 sudah terkubur bersama ijazah kelulusan Kaka. Namun, aku salah besar. Dendam di aspal Jakarta tidak pernah benar-benar mati; ia hanya tidur sejenak, menunggu waktu yang tepat untuk bangun dan menuntut balas.
Malam itu, Wulan tidak bersamaku. Ia sedang sibuk mengerjakan tugas kelompok di rumah Bunga, sehingga aku memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama Bang Jago, Riko, dan anak-anak tongkrongan lainnya. Kami sedang asyik membahas rencana kelulusan dan masa depan yang terasa masih sangat jauh, hingga tiba-tiba suara deru motor yang dipacu kasar memecah kesunyian gang.
Dendi datang dengan napas tersengal. Wajahnya pucat pasi, matanya memancarkan kecemasan yang luar biasa. Ia bahkan hampir terjatuh saat turun dari motornya yang masih menyala.
"Bang! Rakha! Ko!" teriak Dendi sambil berlari menghampiri meja kayu tempat kami berkumpul.
Bang Jago yang sedang menyesap kopi hitamnya langsung meletakkan gelasnya dengan dentuman keras. "Kenapa lo, Den? Kayak liat setan aja!"
"Rio, Bang... Rio dikeroyok!" suara Dendi bergetar. "Sekarang dia masuk rumah sakit. Parah, Bang. Katanya tangannya patah dihantam balok kayu sama anak-anak SMA 10."
Seketika, suasana warung yang tadinya riuh menjadi senyap mencekam. Riko berdiri dari duduknya, wajah tengilnya menghilang, digantikan oleh gurat kemarahan yang nyata. Aku merasakan dadaku memanas. Rio adalah bagian dari keluarga kami. Dia yang selalu ada saat aku pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, dia yang ikut berdarah saat menjaga gerbang sekolahku.
"Kurang ajar! Masih belum kapok-kapoknya mereka ya!" geram Bang Jago. Otot-otot lengannya yang penuh tato menegang, matanya menatap lurus ke kegelapan malam dengan sorot predator.
Aku bisa merasakan "penjaga" di dalam darahku mulai menggeliat. Rasa perih di pelipisku bekas luka tawuran lama seolah berdenyut kembali. Patah tangan bukan lagi sekadar perkelahian biasa; itu adalah penghinaan dan pernyataan perang yang sangat terbuka.
"Kejadiannya di mana, Den? Kok bisa mereka berani main keroyok begitu?" tanya Riko sambil mengepalkan tangannya.
"Tadi Rio lagi jalan balik sendirian lewat jalur belakang pasar. Ternyata mereka sudah nunggu di sana. Lebih dari sepuluh orang, Ko. Rio nggak sempat ngapa-ngapain, langsung dihajar pakai balok dan gear," jelas Dendi dengan nada yang masih cemas.
Bang Jago berdiri, badannya yang tegap seolah menutupi cahaya lampu warung. "Lo tau perkumpulan mereka di mana, Den? Di mana mereka biasanya nongkrong kalau malam?"
Dendi mengangguk mantap. "Tau, Bang. Mereka punya markas di gudang tua dekat perbatasan. Gw sering liat motor-motor mereka parkir di sana kalau malam minggu."
Suasana semakin memanas. Di Jakarta, jika salah satu dari kami terluka, maka seluruh barisan akan bergerak. Ini bukan lagi soal urusan sekolah, tapi soal harga diri dan keselamatan kawan yang sudah dianggap saudara sendiri.
Aku menatap Bang Jago. Aku tahu apa yang ada di pikirannya. Sebagai senior yang dituakan, Bang Jago tidak akan membiarkan adiknya diperlakukan seperti itu. Namun, aku juga teringat pesan bapakku di Kalimantan dan janji yang kuucapkan pada Wulan: untuk tidak lagi menjadi "orang yang menyeramkan".
Tapi, melihat Dendi yang gemetar dan membayangkan Rio yang terbaring di rumah sakit dengan tangan patah, logika kedamaianku perlahan runtuh. Ada saatnya bicara, dan ada saatnya bertindak.
"Yaudah. Besok malam kita serang mereka!" perintah Bang Jago dengan suara rendah namun penuh penekanan. Tidak ada bantahan. Perintah itu adalah mutlak.
"Kita kumpulin anak-anak. Jangan ada yang telat. Kita kasih pelajaran yang nggak bakal mereka lupain seumur hidup," tambah Bang Jago lagi.
Riko menoleh ke arahku. "Gimana, Kha? Lo ikut, kan?"
Aku terdiam sejenak. Aku membayangkan wajah Wulan yang penuh harap agar aku tetap menjadi pria baik-baik. Namun, bayangan wajah Rio yang kesakitan jauh lebih kuat menghujam benakku. Di tanah perantauan ini, solidaritas adalah segalanya.
"Gue ikut," jawabku singkat.
Malam itu, aku pulang ke kontrakan Om Satria dengan perasaan yang sangat kacau. Aku tidak menceritakan hal ini pada Om Satria; aku tidak ingin beliau cemas atau melarangku berangkat. Aku duduk di pinggir tempat tidur, menatap kedua tanganku yang mulai bergetar halus sebuah tanda bahwa kekuatan mistis warisan kakekku sedang bersiap-siap untuk dilepaskan.
Aku tahu, jika besok malam aku berangkat, ada risiko besar aku akan kehilangan kendali lagi. Aku takut "penjaga" itu akan mengambil alih sepenuhnya dan membuatku melakukan hal yang lebih parah daripada sekadar mematahkan tangan lawan. Namun, membiarkan Rio menderita sendirian tanpa balasan adalah hal yang tidak mungkin kulakukan.
Besok adalah hari penentuan. Aku harus bisa menyeimbangkan antara dendam kawan dan janji pada kekasih. Jakarta kembali menunjukkan sisi kelamnya, dan aku kembali dipaksa untuk memilih: menjadi pahlawan bagi kawan-kawanku, atau menjadi monster yang ditakuti semua orang.
Sebelum tidur, aku mengirim pesan singkat pada Wulan: "Besok aku mungkin sibuk sampai malam, jangan cari aku dulu ya. I love you."
Pesan itu terasa seperti salam perpisahan sementara bagi sisi "baik" dariku. Besok malam, Rakha yang lembut akan tidur sejenak, dan Rakha yang membawa api dari Kalimantan akan memimpin barisan di depan gudang tua itu.
Malam itu, Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya, seolah aspal jalanan ikut membeku menantikan tumpah darah yang sebentar lagi akan terjadi. Deru mesin motor kami membelah sunyi gang-gang sempit, menciptakan irama mencekam yang saling bersahutan.
Di barisan paling depan, Bang Jago memacu motornya dengan gagah, jaket kulitnya berkibar tertiup angin malam, menjadi komando bisu bagi kami yang mengekor di belakang.
Riko berada di sampingku, wajahnya yang biasa penuh candaan kini mengeras, matanya menatap lurus ke depan dengan amarah yang tertahan. Dendi pun tak kalah beringas; ia membonceng salah satu anak tongkrongan dengan tangan yang sesekali meraba balok kayu yang disembunyikan di balik jaket.
Kami adalah barisan sakit hati yang menuntut keadilan bagi Rio yang kini terbaring lemah dengan tulang tangan yang remuk.
Sesampainya di dekat gudang tua yang menjadi markas SMA 10, Bang Jago tidak memberikan aba-aba lewat kata-kata. Ia hanya mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu menunjuk ke arah kerumunan remaja yang sedang asyik tertawa di atas motor mereka.
"HAJAR!" teriak Bang Jago membahana, memecah kesunyian malam.
Begitu kaki kami menyentuh tanah, semua terjadi begitu cepat. Kami berlari menerjang kerumunan itu seperti badai yang menghantam pantai. Suara benturan kayu, teriakan kesakitan, dan deru motor yang tumbang menjadi musik latar yang mengerikan.
Di saat itulah, aku merasakannya kembali.
Sebuah getaran hebat menjalar dari tulang ekor hingga ke ubun-ubun. Pandanganku yang tadinya jernih mendadak terdistorsi oleh warna merah yang pekat. Suara bising di sekitarku perlahan memudar, digantikan oleh suara dengungan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga. "Penjaga" warisan kakekku dari pedalaman Kalimantan seolah mencium aroma amarah dan darah, lalu tanpa izin, ia mendobrak pintu kesadaranku.
Aku merasa diriku tersingkir ke sudut gelap pikiranku sendiri, menjadi penonton yang tak berdaya saat tubuhku mulai bergerak dengan kecepatan dan kekuatan yang tidak masuk akal.
Aku menerjang dua orang sekaligus dengan satu lompatan. Pukulanku mendarat telak di rahang salah satu dari mereka hingga ia jatuh terjengkang tak sadarkan diri.
Aku tidak berhenti. Aku menyerang secara membabi buta. Tanganku bergerak seperti cakar predator, mencengkeram dan menghantam siapa pun yang mengenakan seragam atau atribut SMA 10. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa sakit; yang ada hanyalah insting untuk menghancurkan lawan sampai tak bersisa.
Beberapa anak SMA 10 mencoba mengepungku dengan sabuk gear, tapi tubuhku berkelit dengan kelenturan yang mustahil dimiliki manusia biasa. Aku menangkap sabuk itu, menariknya dengan satu sentakan kuat hingga pemiliknya terseret jatuh, lalu menghujamkan pukulan bertubi-tubi ke arah dadanya.
Kekacauan itu tidak berlangsung lama. Kehadiran kami yang menyerang dengan intensitas kegilaan terutama karena amukanku yang tidak terkendali membuat nyali anak-anak SMA 10 ciut seketika. Mereka yang tadi tampak sangar, kini kocar-kacir menyelamatkan diri.
Kemenangan kembali berada di tangan kami, tapi harga yang harus dibayar adalah hilangnya sisi kemanusiaanku sejenak.
"Kha! Cukup, Kha! Mereka udah lari!" suara Bang Jago terdengar sayup-sayup mencoba menembus kabut merah di kepalaku.
Aku masih berdiri di tengah lapangan tua itu, napasku memburu seperti binatang buas yang baru saja menyelesaikan perburuan. Mataku masih liar mencari target berikutnya, bahkan hampir saja aku menyerang dendi yang mendekat jika saja Bang Jago tidak segera memiting leherku dari belakang dengan kuat.
"Sadar, Rakha! Istigfar! Ini Bang Jago!" teriaknya tepat di telingaku.
Perlahan, kekuatan dingin itu menyurut kembali ke dalam sumsum tulangku. Pandanganku kembali normal, meski kepalaku terasa sangat pening seolah baru saja dihantam palu godam. Aku melihat sekeliling; beberapa lawan tergeletak mengerang kesakitan, sementara yang lainnya sudah menghilang ditelan kegelapan malam.
Tak lama kemudian, Riko dan Dendi kembali ke area gudang dengan napas terengah-engah. Mereka tadi sempat mengejar sisa-sisa anak SMA 10 yang melarikan diri menggunakan motor.
"Gila! Mereka lari kayak kilat, Bang!" seru Riko sambil menyeka keringat di dahinya.
Meskipun wajahnya masih penuh sisa amarah karena kondisi Rio, sifat aslinya tetap muncul. "Baru kali ini gue liat orang naik motor tapi kakinya ikut lari saking takutnya sama si Rakha!"
Dendi ikut menimpali sambil terbatuk. "Iya, Bang. Motornya belum nyala sempurna tapi udah digas pol. Kayaknya mereka trauma liat Rakha yang tadi kayak kesurupan harimau."
Bang Jago hanya tersenyum tipis mendengar celotehan mereka, namun matanya tetap waspada menatap ke ujung jalan. Keadaan sudah mulai tenang, namun bahu jalanan sudah mulai ramai oleh warga yang penasaran melihat keributan.
"Udah, jangan banyak omong dulu. Kita harus cabut sekarang," perintah Bang Jago dengan tegas. Ia melirik jam tangannya, lalu menatap ke arah lampu-lampu kota di kejauhan.
"Polisi pasti sudah di jalan menuju ke sini. Warga pasti ada yang lapor," tambah Bang Jago lagi. "Kita berpencar! Jangan balik ke Warung Bi Jiah bareng-bareng. Ambil jalur tikus, jangan ada yang lewat jalan protokol!"
Riko langsung menyambar kunci motornya. "Siap, Bang. Gue bawa Dendi lewat jalur pasar."
Bang Jago menepuk pundakku yang masih sedikit gemetar. "Lo balik langsung ke kontrakan Om Satria, Kha. Cuci tangan lo, bersihin semua bekasnya. Jangan sampai ada yang tau kejadian malam ini, termasuk Wulan."
Aku mengangguk lemah. Rasa bersalah mulai merayap saat kesadaranku benar-benar pulih. Aku kembali teringat wajah Wulan yang sangat benci kekerasan. Apa jadinya jika ia melihatku tadi? Apa jadinya jika ia tahu bahwa "penjaga" itu kembali mengambil alih demi sebuah dendam?
Malam itu, kami berhamburan meninggalkan lokasi kejadian, menyatu dengan kegelapan malam Jakarta. Kemenangan ini terasa pahit di lidahku. Rio mungkin sudah terbalaskan, tapi aku merasa semakin jauh dari janji yang kuucapkan pada bapakku di Kalimantan. Aku sukses memenangkan perkelahian, tapi aku kalah dalam mengendalikan diriku sendiri.
Di perjalanan pulang, aku terus memikirkan satu hal: sampai kapan aku harus menyimpan rahasia gelap ini di hadapan Wulan? Jakarta bukan lagi sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan medan tempur di mana aku harus terus bersembunyi di balik topeng murid teladan.
kulipriok dan 2 lainnya memberi reputasi
3