- Beranda
- Stories from the Heart
Menaklukkan Ibu Kota
...
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA

Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan
Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan
Quote:

Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
f4gry...
#34
Bagian 27 : Antara Penolakan dan Penerimaan
Hubungan asmara di masa SMA memang seperti cuaca di Jakarta; terkadang panas menyengat, lalu tiba-tiba sejuk setelah diguyur hujan. Sejak sore yang berdarah di gerbang sekolah itu, dinding es antara aku dan Wulan benar-benar mencair. Aku menjadi tamu reguler di rumahnya yang hangat di Jakarta Timur.
Hampir setiap akhir pekan, motor bututku terparkir di depan pagar rumah Wulan. Aku menghabiskan waktu berjam-jam mengobrol dengan ayahnya tentang kerasnya hidup di perantauan, atau membantu ibunya memindahkan perabot sambil sesekali mencuri dengar logat Dayak mereka yang menenangkan.
Aku juga mulai akrab dengan Welni dan Rafa; kami sering bercanda di ruang tengah, membuat suasana rumah itu terasa seperti rumahku sendiri di Kalimantan.
Namun, di balik ketenangan itu, bara api di sekolah belum sepenuhnya padam. Masalah tawuran antara SMA 7 dan SMA 10 memang sudah dianggap selesai di atas kertas oleh para guru dan kepala sekolah. Pertemuan mediasi telah dilakukan, tapi bagi kami yang berada di garis depan, dendam tidak semudah itu dihapus oleh tanda tangan di atas materai.
Beruntung, pihak sekolah tidak menjatuhkan sanksi berat kepada siapa pun karena hampir seluruh siswa terlibat dalam aksi mempertahankan diri tersebut.
Hari yang dinanti-nanti oleh kelas 12 akhirnya tiba. Hari kelulusan. Suasana sekolah riuh dengan coretan pilox di seragam dan tawa lega mereka yang merasa sudah lepas dari penjara pendidikan. Namun, ada satu pemandangan yang menarik perhatian di tengah lapangan.
Kaka, Joni, dan Aji berdiri di depan barisan guru. Sebagai syarat pengambilan ijazah, mereka diwajibkan meminta maaf secara terbuka atas keributan dan provokasi yang mereka timbulkan selama ini. Aku, Riko, dan Bunga berdiri di koridor kelas 11, menyaksikan prosesi itu dari kejauhan.
"Liat tuh mukanya, kayak orang disuruh makan pare mentah," celetuk Riko sambil menyenggol lenganku.
Benar saja. Saat Kaka menjabat tangan guru-guru dan melirik ke arah kami, raut wajahnya tidak menyiratkan penyesalan sedikit pun. Matanya masih memancarkan keangkuhan yang sama. Permintaan maaf itu hanyalah prosedur formalitas agar mereka bisa pergi dari sekolah ini dengan ijazah di tangan.
Begitu prosesi selesai, Kaka melangkah mantap menuju arah kami. Aku merasakan otot-otot lenganku menegang secara otomatis. "Penjaga" di dalam diriku seolah waspada, meski aku berusaha keras menahannya agar tetap tidur.
Kaka berhenti tepat di depan kami. Dia sama sekali tidak menoleh padaku atau Riko. Tatapannya tertuju lurus pada Wulan yang berdiri di samping Bunga.
"Lan, bisa bicara sebentar? Ada yang mau gue sampein buat terakhir kalinya sebelum gue bener-bener cabut dari sini," ucap Kaka dengan nada suara yang mencoba terdengar lembut, meski sisa-sisa kesombongan masih terasa.
Wulan terdiam. Dia tidak langsung menjawab. Secara spontan, dia menoleh ke arahku. Matanya seolah bertanya, "Boleh nggak aku bicara sama dia?"
Meskipun saat itu status kami masih menggantung belum ada kata "pacaran" yang resmi terucap, ada ikatan batin yang membuat Wulan merasa perlu meminta persetujuanku. Aku menatap mata teduhnya sejenak, lalu memberikan anggukan kecil yang mantap. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku percaya padanya, dan aku ingin menunjukkan pada Kaka bahwa aku tidak lagi merasa terancam oleh kehadirannya.
Kaka dan Wulan berjalan menjauh, menuju sudut taman sekolah yang agak sepi. Aku, Riko, dan Bunga mengawasi dari kejauhan. Riko tampak gelisah, sesekali memainkan kunci motornya, sementara Bunga tampak cemas sambil memegangi lengan seragamnya.
"Kha, lo serius biarin mereka berduaan?" tanya Riko sedikit berbisik.
"Biarin, Ko. Ini urusan mereka yang harus selesai hari ini juga," jawabku tenang, meski dadaku sebenarnya berdegup kencang.
Sekitar sepuluh menit berlalu. Dari kejauhan, aku melihat gestur tubuh Kaka yang tiba-tiba berubah. Dia yang tadinya tampak penuh percaya diri, mendadak terlihat lesu. Bahunya merosot, dan dia membuang muka ke arah lain.
Sesaat kemudian, dia menoleh ke arahku dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam, tatapan seorang pecundang yang baru saja kehilangan segalanya.
Wulan berbalik dan berjalan kembali menuju arah kami dengan langkah yang tenang. Sementara itu, Kaka langsung pergi meninggalkan area sekolah tanpa menoleh lagi, diikuti oleh kacung-kacungnya yang tampak bingung.
Begitu Wulan sampai di depan kami, Bunga langsung menyambarnya dengan rentetan pertanyaan.
"Ada apa, Lan? Dia ngomong apa? Kok mukanya si Kaka langsung ditekuk gitu?" tanya Bunga penasaran. Aku dan Riko pun hanya bisa diam menunggu penjelasan.
Wulan mengatur napasnya sejenak, lalu menatapku dengan tatapan yang sangat dalam. Senyum tipis terukir di bibirnya yang manis.
"Kaka nembak gue, Bung. Dia bilang dia sebenernya suka sama gue dari lama dan minta gue jadi pacarnya sebelum dia kuliah," ucap Wulan tenang.
"Terus?!" seru Riko tak sabar.
"Terus ya gue tolak," jawab Wulan singkat sambil beralih menatapku sepenuhnya.
Ada kelegaan yang luar biasa menjalar di seluruh tubuhku. Rasa sesak yang selama ini menghimpit seolah menguap begitu saja. Penolakan Wulan terhadap Kaka bukan hanya soal status, tapi soal pernyataan bahwa hatinya memang sudah terkunci untuk orang lain untuk anak kampung dari Kalimantan yang berdiri di depannya ini.
Wulan melangkah satu langkah lebih dekat ke arahku. "Aku bilang ke dia, hatiku sudah ada yang punya. Meskipun orangnya kadang nakal, suka berantem, dan sering bikin aku nangis karena dicuekin."
Riko langsung bersorak heboh, mengundang perhatian siswa lain di koridor. "WOOOI! KALIMANTAN MENANG TELAK! SKOR 1-0 TANPA BALAS!"
Aku hanya bisa tersenyum lebar, menatap Wulan dengan rasa syukur yang tak terhingga. Di tengah hiruk-pikuk kelulusan kelas 12, aku menyadari bahwa kemenangan terbesar sore ini bukan milik mereka yang mendapatkan ijazah, melainkan milikku yang berhasil mendapatkan kembali kepercayaan dan hati gadis kuncir kuda ini.
Jakarta mungkin keras, tapi bersamanya, aku merasa sanggup menghadapi apa pun yang akan terjadi di kelas 12 nanti. Tanpa status yang terburu-buru, aku tahu kami sudah saling memiliki.
Beberapa minggu telah berlalu sejak hari kelulusan kelas 12 yang penuh drama itu. Atmosfer di SMA 7 kini terasa lebih ringan tanpa kehadiran Kaka dan antek-anteknya yang sering menciptakan ketegangan di koridor.
Pagi itu, matahari Jakarta bersinar cerah, seolah ikut merayakan hari terakhir semester bagi kami yang duduk di kelas 10 dan 11. Hari pengambilan raport telah tiba.
Halaman sekolah dipenuhi oleh deretan kendaraan orang tua murid. Aku datang tidak sendirian. Om Satria, dengan kemeja rapi yang jarang sekali ia pakai, mungkin dipinjam dari teman kampusnya agar terlihat seperti wali murid yang berwibawa berjalan di sampingku. Meskipun penampilannya rapi, mulutnya tetap tidak bisa berhenti melontarkan banyolan garing yang membuatku hanya bisa geleng-geleng kepala.
Di sudut lain dekat aula, aku melihat Riko datang bersama ayahnya. Sosok pria paruh baya itu berperawakan sangat sangar; badannya tegap, kumisnya melintang tebal, dan tatapannya tajam sangat kontras dengan Riko yang cengengesan.
Sementara itu, Bunga terlihat anggun berjalan di samping ibunya yang tampak sangat lembut dan keibuan, gambaran masa depan Bunga jika sudah dewasa nanti.
Dan tentu saja, ada Wulan. Ia datang bersama ayahnya, pria yang tempo hari menyambutku dengan kopi hangat di teras rumahnya.
Wulan yang mengenakan rok batik sekolah dan kemeja putih bersih langsung menangkap keberadaanku. Ia menarik pelan lengan ayahnya, menuntun pria itu menuju ke arahku yang sedang berdiri menyandar di pilar aula, terjebak dalam rentetan lawakan Om Satria yang sedang membahas susahnya mencari referensi skripsi.
"Pagi, Om!" sapa Wulan dengan sopan sambil menyalami tangan Om Satria.
Om Satria langsung menghentikan ceritanya, matanya berbinar melihat Wulan. "Pagi! Wah, ini toh yang namanya Wulan? Gadis yang bikin keponakan gue ini galau brutal sampai mabuk-mabuk nggak jelas tempo hari?" goda Om Satria dengan tawa terkekeh yang khas.
Wulan hanya tersenyum simpul, wajahnya memerah mendengar celetukan jujur Om Satria yang agak memalukan bagiku. Aku menyenggol lengan pamanku itu, memberi isyarat agar ia berhenti membongkar aib masa laluku di depan ayah Wulan.
"Gimana kabarnya, Kha? Sehat?" tanya ayah Wulan sambil menepuk pundakku ramah.
"Baik, Om. Alhamdulillah sehat," jawabku sambil menyalami tangan beliau dengan takzim.
Tak disangka, obrolan di antara para wali murid itu mencair dengan sangat cepat. Om Satria, dengan keahlian komunikasinya yang luwes, langsung akrab mengobrol dengan ayah Wulan.
Tak lama kemudian, ayah Riko yang sangar dan ibu Bunga yang lembut pun ikut bergabung dalam lingkaran pembicaraan itu. Mereka tampak asyik mendiskusikan nilai anak-anak mereka dan rencana libur panjang nanti.
Di sisi lain, Riko dan Bunga tampak asyik mengobrol sendiri. Riko, meskipun ada ayahnya yang galak di dekat situ, tetap tidak kehilangan gaya tengilnya. Ia terlihat sedang memamerkan sesuatu di ponselnya kepada Bunga yang sesekali tertawa kecil sambil mencubit lengan Riko.
Melihat para orang tua sudah larut dalam dunianya sendiri, aku memberikan kode pada Wulan untuk menepi sejenak. Kami berjalan menuju deretan bangku panjang di bawah pohon ketapang yang agak menjauh dari keramaian aula.
Angin sepoi-sepoi memainkan ujung kuncir kuda Wulan, menciptakan pemandangan yang selalu berhasil membuat jantungku berdesir.
Kami duduk berdampingan, namun ada jarak sekitar dua puluh sentimeter di antara kami. Suasana mendadak menjadi hening. Riuh rendah suara wali murid di kejauhan terdengar seperti dengungan samar.
Aku menatap ujung sepatuku yang berdebu, lalu menoleh ke arah Wulan yang sedang memperhatikan anak-anak kelas 10 yang berlarian di lapangan.
Entah dari mana datangnya keberanian itu. Mungkin karena lega Kaka sudah pergi, atau mungkin karena dorongan dari "penjaga" di dalam darahku yang kini terasa tenang dan damai.
Aku menarik napas panjang, dan secara refleks, logat Kalimantan-ku yang kental keluar begitu saja bahasa yang hanya kugunakan saat aku benar-benar jujur dengan perasaanku.
"Lan, aku suka sama kamu. Kalo kamu... suka ndak sama aku?" tanyaku spontan.
Wulan terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab, yang membuat jantungku rasanya ingin melompat keluar dari dada. Ia memutar tubuhnya, menatap mataku dengan tatapan yang sangat mantap dan jernih. Tidak ada keraguan di sana.
"Suka," jawabnya singkat namun tegas.
Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatapku dengan senyum kecil yang sangat manis. "Aku juga suka, Kha."
Duniaku serasa berhenti berputar selama beberapa detik. Rasa senang yang meluap-luap memenuhi rongga dadaku, jauh lebih melegakan daripada memenangkan tawuran mana pun. Aku tersenyum lebar, menatap wajahnya yang kini tampak lebih bersinar dari matahari pagi.
"Kalo sama-sama suka... berarti itu udah jadian ya?" ucapku sedikit bercanda, mencoba menutupi rasa gugup yang masih tersisa meski sudah mendapatkan jawaban.
Wulan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk kecil, mengiyakan ucapanku sambil terus tersenyum malu. Di bawah bayangan pohon ketapang SMA 7, di hari pengambilan raport yang seharusnya membosankan, status kami akhirnya resmi berubah.
Aku tidak lagi sekadar "anak kampung dari Kalimantan" yang mengejarnya dalam ketidakpastian. Dan ia bukan lagi "gadis idola sekolah" yang tak terjangkau. Kami adalah dua remaja yang sepakat untuk saling menjaga di tengah kerasnya Jakarta.
"Ingat ya, Kha. Jangan mabuk-mabuk lagi," bisik Wulan pelan, mengingatkan kejadian kelam di warung Bi Jiah.
Aku tertawa kecil sambil mengangguk mantap. "Janji, Lan. Nggak akan lagi."
Hari itu, raport-ku mungkin tidak berisi nilai yang sempurna, tapi aku membawa pulang "hadiah" yang jauh lebih berharga. Jakarta tidak lagi terasa asing dan menakutkan, karena kini aku punya alasan terkuat untuk tetap berdiri tegak dan menjadi pria yang lebih baik. Kami pun kembali bergabung dengan kerumunan wali murid, berjalan beriringan dengan perasaan yang jauh lebih ringan, siap menyambut liburan panjang yang penuh warna.
Hubungan asmara di masa SMA memang seperti cuaca di Jakarta; terkadang panas menyengat, lalu tiba-tiba sejuk setelah diguyur hujan. Sejak sore yang berdarah di gerbang sekolah itu, dinding es antara aku dan Wulan benar-benar mencair. Aku menjadi tamu reguler di rumahnya yang hangat di Jakarta Timur.
Hampir setiap akhir pekan, motor bututku terparkir di depan pagar rumah Wulan. Aku menghabiskan waktu berjam-jam mengobrol dengan ayahnya tentang kerasnya hidup di perantauan, atau membantu ibunya memindahkan perabot sambil sesekali mencuri dengar logat Dayak mereka yang menenangkan.
Aku juga mulai akrab dengan Welni dan Rafa; kami sering bercanda di ruang tengah, membuat suasana rumah itu terasa seperti rumahku sendiri di Kalimantan.
Namun, di balik ketenangan itu, bara api di sekolah belum sepenuhnya padam. Masalah tawuran antara SMA 7 dan SMA 10 memang sudah dianggap selesai di atas kertas oleh para guru dan kepala sekolah. Pertemuan mediasi telah dilakukan, tapi bagi kami yang berada di garis depan, dendam tidak semudah itu dihapus oleh tanda tangan di atas materai.
Beruntung, pihak sekolah tidak menjatuhkan sanksi berat kepada siapa pun karena hampir seluruh siswa terlibat dalam aksi mempertahankan diri tersebut.
Hari yang dinanti-nanti oleh kelas 12 akhirnya tiba. Hari kelulusan. Suasana sekolah riuh dengan coretan pilox di seragam dan tawa lega mereka yang merasa sudah lepas dari penjara pendidikan. Namun, ada satu pemandangan yang menarik perhatian di tengah lapangan.
Kaka, Joni, dan Aji berdiri di depan barisan guru. Sebagai syarat pengambilan ijazah, mereka diwajibkan meminta maaf secara terbuka atas keributan dan provokasi yang mereka timbulkan selama ini. Aku, Riko, dan Bunga berdiri di koridor kelas 11, menyaksikan prosesi itu dari kejauhan.
"Liat tuh mukanya, kayak orang disuruh makan pare mentah," celetuk Riko sambil menyenggol lenganku.
Benar saja. Saat Kaka menjabat tangan guru-guru dan melirik ke arah kami, raut wajahnya tidak menyiratkan penyesalan sedikit pun. Matanya masih memancarkan keangkuhan yang sama. Permintaan maaf itu hanyalah prosedur formalitas agar mereka bisa pergi dari sekolah ini dengan ijazah di tangan.
Begitu prosesi selesai, Kaka melangkah mantap menuju arah kami. Aku merasakan otot-otot lenganku menegang secara otomatis. "Penjaga" di dalam diriku seolah waspada, meski aku berusaha keras menahannya agar tetap tidur.
Kaka berhenti tepat di depan kami. Dia sama sekali tidak menoleh padaku atau Riko. Tatapannya tertuju lurus pada Wulan yang berdiri di samping Bunga.
"Lan, bisa bicara sebentar? Ada yang mau gue sampein buat terakhir kalinya sebelum gue bener-bener cabut dari sini," ucap Kaka dengan nada suara yang mencoba terdengar lembut, meski sisa-sisa kesombongan masih terasa.
Wulan terdiam. Dia tidak langsung menjawab. Secara spontan, dia menoleh ke arahku. Matanya seolah bertanya, "Boleh nggak aku bicara sama dia?"
Meskipun saat itu status kami masih menggantung belum ada kata "pacaran" yang resmi terucap, ada ikatan batin yang membuat Wulan merasa perlu meminta persetujuanku. Aku menatap mata teduhnya sejenak, lalu memberikan anggukan kecil yang mantap. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku percaya padanya, dan aku ingin menunjukkan pada Kaka bahwa aku tidak lagi merasa terancam oleh kehadirannya.
Kaka dan Wulan berjalan menjauh, menuju sudut taman sekolah yang agak sepi. Aku, Riko, dan Bunga mengawasi dari kejauhan. Riko tampak gelisah, sesekali memainkan kunci motornya, sementara Bunga tampak cemas sambil memegangi lengan seragamnya.
"Kha, lo serius biarin mereka berduaan?" tanya Riko sedikit berbisik.
"Biarin, Ko. Ini urusan mereka yang harus selesai hari ini juga," jawabku tenang, meski dadaku sebenarnya berdegup kencang.
Sekitar sepuluh menit berlalu. Dari kejauhan, aku melihat gestur tubuh Kaka yang tiba-tiba berubah. Dia yang tadinya tampak penuh percaya diri, mendadak terlihat lesu. Bahunya merosot, dan dia membuang muka ke arah lain.
Sesaat kemudian, dia menoleh ke arahku dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam, tatapan seorang pecundang yang baru saja kehilangan segalanya.
Wulan berbalik dan berjalan kembali menuju arah kami dengan langkah yang tenang. Sementara itu, Kaka langsung pergi meninggalkan area sekolah tanpa menoleh lagi, diikuti oleh kacung-kacungnya yang tampak bingung.
Begitu Wulan sampai di depan kami, Bunga langsung menyambarnya dengan rentetan pertanyaan.
"Ada apa, Lan? Dia ngomong apa? Kok mukanya si Kaka langsung ditekuk gitu?" tanya Bunga penasaran. Aku dan Riko pun hanya bisa diam menunggu penjelasan.
Wulan mengatur napasnya sejenak, lalu menatapku dengan tatapan yang sangat dalam. Senyum tipis terukir di bibirnya yang manis.
"Kaka nembak gue, Bung. Dia bilang dia sebenernya suka sama gue dari lama dan minta gue jadi pacarnya sebelum dia kuliah," ucap Wulan tenang.
"Terus?!" seru Riko tak sabar.
"Terus ya gue tolak," jawab Wulan singkat sambil beralih menatapku sepenuhnya.
Ada kelegaan yang luar biasa menjalar di seluruh tubuhku. Rasa sesak yang selama ini menghimpit seolah menguap begitu saja. Penolakan Wulan terhadap Kaka bukan hanya soal status, tapi soal pernyataan bahwa hatinya memang sudah terkunci untuk orang lain untuk anak kampung dari Kalimantan yang berdiri di depannya ini.
Wulan melangkah satu langkah lebih dekat ke arahku. "Aku bilang ke dia, hatiku sudah ada yang punya. Meskipun orangnya kadang nakal, suka berantem, dan sering bikin aku nangis karena dicuekin."
Riko langsung bersorak heboh, mengundang perhatian siswa lain di koridor. "WOOOI! KALIMANTAN MENANG TELAK! SKOR 1-0 TANPA BALAS!"
Aku hanya bisa tersenyum lebar, menatap Wulan dengan rasa syukur yang tak terhingga. Di tengah hiruk-pikuk kelulusan kelas 12, aku menyadari bahwa kemenangan terbesar sore ini bukan milik mereka yang mendapatkan ijazah, melainkan milikku yang berhasil mendapatkan kembali kepercayaan dan hati gadis kuncir kuda ini.
Jakarta mungkin keras, tapi bersamanya, aku merasa sanggup menghadapi apa pun yang akan terjadi di kelas 12 nanti. Tanpa status yang terburu-buru, aku tahu kami sudah saling memiliki.
Beberapa minggu telah berlalu sejak hari kelulusan kelas 12 yang penuh drama itu. Atmosfer di SMA 7 kini terasa lebih ringan tanpa kehadiran Kaka dan antek-anteknya yang sering menciptakan ketegangan di koridor.
Pagi itu, matahari Jakarta bersinar cerah, seolah ikut merayakan hari terakhir semester bagi kami yang duduk di kelas 10 dan 11. Hari pengambilan raport telah tiba.
Halaman sekolah dipenuhi oleh deretan kendaraan orang tua murid. Aku datang tidak sendirian. Om Satria, dengan kemeja rapi yang jarang sekali ia pakai, mungkin dipinjam dari teman kampusnya agar terlihat seperti wali murid yang berwibawa berjalan di sampingku. Meskipun penampilannya rapi, mulutnya tetap tidak bisa berhenti melontarkan banyolan garing yang membuatku hanya bisa geleng-geleng kepala.
Di sudut lain dekat aula, aku melihat Riko datang bersama ayahnya. Sosok pria paruh baya itu berperawakan sangat sangar; badannya tegap, kumisnya melintang tebal, dan tatapannya tajam sangat kontras dengan Riko yang cengengesan.
Sementara itu, Bunga terlihat anggun berjalan di samping ibunya yang tampak sangat lembut dan keibuan, gambaran masa depan Bunga jika sudah dewasa nanti.
Dan tentu saja, ada Wulan. Ia datang bersama ayahnya, pria yang tempo hari menyambutku dengan kopi hangat di teras rumahnya.
Wulan yang mengenakan rok batik sekolah dan kemeja putih bersih langsung menangkap keberadaanku. Ia menarik pelan lengan ayahnya, menuntun pria itu menuju ke arahku yang sedang berdiri menyandar di pilar aula, terjebak dalam rentetan lawakan Om Satria yang sedang membahas susahnya mencari referensi skripsi.
"Pagi, Om!" sapa Wulan dengan sopan sambil menyalami tangan Om Satria.
Om Satria langsung menghentikan ceritanya, matanya berbinar melihat Wulan. "Pagi! Wah, ini toh yang namanya Wulan? Gadis yang bikin keponakan gue ini galau brutal sampai mabuk-mabuk nggak jelas tempo hari?" goda Om Satria dengan tawa terkekeh yang khas.
Wulan hanya tersenyum simpul, wajahnya memerah mendengar celetukan jujur Om Satria yang agak memalukan bagiku. Aku menyenggol lengan pamanku itu, memberi isyarat agar ia berhenti membongkar aib masa laluku di depan ayah Wulan.
"Gimana kabarnya, Kha? Sehat?" tanya ayah Wulan sambil menepuk pundakku ramah.
"Baik, Om. Alhamdulillah sehat," jawabku sambil menyalami tangan beliau dengan takzim.
Tak disangka, obrolan di antara para wali murid itu mencair dengan sangat cepat. Om Satria, dengan keahlian komunikasinya yang luwes, langsung akrab mengobrol dengan ayah Wulan.
Tak lama kemudian, ayah Riko yang sangar dan ibu Bunga yang lembut pun ikut bergabung dalam lingkaran pembicaraan itu. Mereka tampak asyik mendiskusikan nilai anak-anak mereka dan rencana libur panjang nanti.
Di sisi lain, Riko dan Bunga tampak asyik mengobrol sendiri. Riko, meskipun ada ayahnya yang galak di dekat situ, tetap tidak kehilangan gaya tengilnya. Ia terlihat sedang memamerkan sesuatu di ponselnya kepada Bunga yang sesekali tertawa kecil sambil mencubit lengan Riko.
Melihat para orang tua sudah larut dalam dunianya sendiri, aku memberikan kode pada Wulan untuk menepi sejenak. Kami berjalan menuju deretan bangku panjang di bawah pohon ketapang yang agak menjauh dari keramaian aula.
Angin sepoi-sepoi memainkan ujung kuncir kuda Wulan, menciptakan pemandangan yang selalu berhasil membuat jantungku berdesir.
Kami duduk berdampingan, namun ada jarak sekitar dua puluh sentimeter di antara kami. Suasana mendadak menjadi hening. Riuh rendah suara wali murid di kejauhan terdengar seperti dengungan samar.
Aku menatap ujung sepatuku yang berdebu, lalu menoleh ke arah Wulan yang sedang memperhatikan anak-anak kelas 10 yang berlarian di lapangan.
Entah dari mana datangnya keberanian itu. Mungkin karena lega Kaka sudah pergi, atau mungkin karena dorongan dari "penjaga" di dalam darahku yang kini terasa tenang dan damai.
Aku menarik napas panjang, dan secara refleks, logat Kalimantan-ku yang kental keluar begitu saja bahasa yang hanya kugunakan saat aku benar-benar jujur dengan perasaanku.
"Lan, aku suka sama kamu. Kalo kamu... suka ndak sama aku?" tanyaku spontan.
Wulan terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab, yang membuat jantungku rasanya ingin melompat keluar dari dada. Ia memutar tubuhnya, menatap mataku dengan tatapan yang sangat mantap dan jernih. Tidak ada keraguan di sana.
"Suka," jawabnya singkat namun tegas.
Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatapku dengan senyum kecil yang sangat manis. "Aku juga suka, Kha."
Duniaku serasa berhenti berputar selama beberapa detik. Rasa senang yang meluap-luap memenuhi rongga dadaku, jauh lebih melegakan daripada memenangkan tawuran mana pun. Aku tersenyum lebar, menatap wajahnya yang kini tampak lebih bersinar dari matahari pagi.
"Kalo sama-sama suka... berarti itu udah jadian ya?" ucapku sedikit bercanda, mencoba menutupi rasa gugup yang masih tersisa meski sudah mendapatkan jawaban.
Wulan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk kecil, mengiyakan ucapanku sambil terus tersenyum malu. Di bawah bayangan pohon ketapang SMA 7, di hari pengambilan raport yang seharusnya membosankan, status kami akhirnya resmi berubah.
Aku tidak lagi sekadar "anak kampung dari Kalimantan" yang mengejarnya dalam ketidakpastian. Dan ia bukan lagi "gadis idola sekolah" yang tak terjangkau. Kami adalah dua remaja yang sepakat untuk saling menjaga di tengah kerasnya Jakarta.
"Ingat ya, Kha. Jangan mabuk-mabuk lagi," bisik Wulan pelan, mengingatkan kejadian kelam di warung Bi Jiah.
Aku tertawa kecil sambil mengangguk mantap. "Janji, Lan. Nggak akan lagi."
Hari itu, raport-ku mungkin tidak berisi nilai yang sempurna, tapi aku membawa pulang "hadiah" yang jauh lebih berharga. Jakarta tidak lagi terasa asing dan menakutkan, karena kini aku punya alasan terkuat untuk tetap berdiri tegak dan menjadi pria yang lebih baik. Kami pun kembali bergabung dengan kerumunan wali murid, berjalan beriringan dengan perasaan yang jauh lebih ringan, siap menyambut liburan panjang yang penuh warna.
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2