- Beranda
- Stories from the Heart
Menaklukkan Ibu Kota
...
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA

Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan
Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan
Quote:

Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
f4gry...
#33
Bagian 26 : Maaf
Suasana di depan gerbang SMA 7 yang tadinya mencekam oleh kepulan asap dan ceceran darah, perlahan-lahan meluruh menjadi keheningan yang menyesakkan. Debu jalanan masih beterbangan, namun fokus duniaku hanya tertuju pada satu titik: gadis di depanku.
Wulan berdiri dengan napas yang masih tersengal. Bahunya yang terkena hantaman batu tampak memar membiru di balik seragam putihnya yang kusut. Ia menatapku, bukan dengan tatapan ngeri yang tadi kulihat saat aku hampir menghantamkan batu ke kepala lawan, melainkan dengan tatapan yang sangat lembut. Tatapan yang selama berminggu-minggu ini kurindukan.
"Kha... kamu nggak apa-apa?" suaranya lirih, namun bergetar hebat.
Hatiku mencelos. Mendengar nada suaranya, ada sesuatu yang retak di dalam dadaku. Kata itu. Dia tidak lagi menggunakan kata "lo" atau "gue" yang dingin dan asing. Dia kembali memanggilku dengan sebutan yang dulu selalu membuatku merasa memiliki rumah di Jakarta. Dia kembali menggunakan kata "aku" dan "kamu".
Hanya satu kata itu, tapi dampaknya lebih dahsyat daripada pukulan mana pun yang kuterima sore ini. Perisai emosiku yang selama ini kubangun dengan keangkuhan dan rasa sakit hati, runtuh seketika. "Penjaga" di dalam darahku yang tadi mengamuk membabi buta, kini mendadak sujud, tunduk pada kelembutan suara gadis Dayak ini.
Aku terdiam sejenak, menatap matanya yang berkaca-kaca. Tanpa mempedulikan tangan yang masih berlumuran darah, tanpa mempedulikan pelipis yang robek, dan tanpa mempedulikan harga diriku sebagai "jagoan" sekolah, aku melangkah maju.
Aku menarik Wulan ke dalam pelukanku.
Aku memeluknya erat, sangat erat. Seolah jika aku melepaskannya sedetik saja, dia akan terbang menguap bersama asap tawuran tadi. Di sanalah, di pundaknya, pertahananku hancur total. Air mata yang selama ini kutahan sejak kejadian di taman, sejak malam-malam mabuk di warung Bi Jiah, hingga saat-saat aku cemburu melihatnya bersama Kaka, semuanya tumpah ruah.
Aku menangis sesenggukan. Ini adalah kali pertama dalam hidupku aku menangis di depan seorang perempuan. Dan perempuan itu adalah Wulan.
"Maafin aku, Lan... maafin aku udah nyuekin kamu selama ini," ucapku di sela tangis yang menyesakkan dada. Suaraku parau, pecah oleh emosi yang meluap.
"Aku takut, Lan... aku bener-bener takut kamu hilang dari pandanganku. Aku takut kamu bener-bener pergi sama Kaka dan nggak bakal noleh lagi ke aku," tambahku lagi, menumpahkan segala ketakutan yang selama ini kupendam di balik topeng kecuekan.
Wulan sempat tertegun. Dia bisa merasakan detak jantungku yang berpacu kencang dan gemetar di seluruh tubuhku. Perlahan, dia menyandarkan kepalanya di dadaku, membiarkan seragamnya ternoda oleh darah dari lukaku.
"Kha... aku juga minta maaf," bisik Wulan, suaranya terdengar sangat tulus di telingaku. "Aku minta maaf udah marah tanpa denger penjelasan kamu. Aku minta maaf udah bikin kamu ngerasa asing."
Kami terlarut dalam momen itu selama beberapa menit. Jakarta yang bising seolah memberikan kami ruang sunyi untuk saling menyembuhkan. Namun, tiba-tiba Wulan meringis kecil, mencoba melepaskan diri dari dekapan kuatku.
"Kha... tapi meluknya jangan kuat-kuat... sakit, hehe," ucapnya sambil tersenyum tipis, meski wajahnya masih menyiratkan rasa perih akibat hantaman batu di bahunya.
Aku tersentak dan segera melonggarkan pelukanku. Aku baru sadar bahwa aku memeluknya terlalu kencang tepat di bagian bahu yang cedera. "Eh, sori, Lan! Aku lupa... mana yang sakit? Kita ke UKS sekarang, ya?" tanyaku panik, rasa bersalah kembali menyergap.
Wulan hanya menggeleng pelan sambil merapikan kuncir kudanya yang sedikit berantakan. "Nggak apa-apa, cuma memar dikit. Yang penting kamu udah sadar lagi."
Aku menyeka air mata dengan punggung tanganku yang kasar. Aku baru menyadari bahwa kami menjadi pusat perhatian. Riko dan Bunga berdiri tak jauh dari kami, Riko tampak nyengir lebar sambil mengacungkan jempol, sementara Bunga terlihat mengusap matanya yang ikut berkaca-kaca melihat kami berbaikan. Bang Jago dan anak-anak tongkrongan lainnya pun hanya berdiri diam, memberikan kami ruang.
Di sudut mataku, aku melihat sosok Aulia. Dia berdiri bersandar di pilar gerbang sekolah, masih dengan gaya STM-nya yang santai. Dia menyaksikan seluruh adegan itu tangisanku, pelukanku pada Wulan, dan bagaimana duniaku kembali berputar hanya untuk gadis di depanku ini.
Aku merasa tidak enak. Bagaimanapun, Aulia adalah orang yang menemaniku saat aku sedang jatuh. Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh permohonan maaf.
Aulia hanya tersenyum tipis. Tidak ada amarah di matanya, tidak ada cemburu yang meledak-ledak. Dia hanya mengangguk pelan ke arahku, sebuah anggukan yang seolah berkata, "Gue tau, Kha. Dari awal pun, hati lo emang bukan buat gue."
Aulia adalah cewek yang cerdas. Dia tahu bahwa kenyamanan yang dia berikan padaku hanyalah obat sementara, sedangkan Wulan adalah "penyakit" sekaligus "penawar" yang selama ini kucari. Dia melambaikan tangan padaku sebentar, lalu berjalan menuju motor Dendi, memilih untuk mundur dengan terhormat sebelum hubungan kami melangkah terlalu jauh.
Aku kembali menatap Wulan. Sore itu, di tengah sisa-sisa keributan SMA 7, aku menyadari bahwa perang yang paling melelahkan bukan melawan SMA 10 atau melawan Kaka, tapi melawan ego di dalam diri sendiri.
"Ayo, Lan. Aku anter pulang. Biar aku yang jelasin ke orang tua kamu kenapa bahu kamu biru begini," ucapku sambil menggandeng tangannya.
Wulan mengangguk patuh. "Tapi janji ya, jangan berkelahi kayak tadi lagi. Aku beneran takut liat kamu yang itu."
Aku terdiam sebentar, mengingat "penjaga" di dalam darahku yang baru saja tertidur kembali. Aku mengepalkan tangan yang digenggam Wulan. "Aku janji, Lan. Selama ada kamu di sampingku, aku bakal berusaha buat terus jadi Rakha yang kamu kenal."
Kami berjalan menuju parkiran motor, meninggalkan gerbang sekolah yang hancur. Lembaran baru yang tadinya ingin kubuka bersama Aulia, kini kututup rapat. Aku memilih kembali ke buku lamaku, buku yang penuh coretan dan luka, tapi memiliki akhir cerita yang selalu ingin kubaca bersama Wulan. Jakarta hari ini terasa jauh lebih indah, meski tubuhku penuh luka dan pelipisku masih berdenyut nyeri.
Setelah kejadian dramatis di depan gerbang sekolah, aku memacu motorku dengan hati-hati menuju rumah Wulan. Rasa sakit di pelipisku yang robek seakan hilang, tergantikan oleh rasa tanggung jawab yang besar. Di belakangku, Wulan memeluk pinggangku dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih menahan perih di bahunya. Angin sore Jakarta menyapu wajah kami, membawa keheningan yang jauh lebih damai daripada biasanya.
Sesampainya di depan sebuah rumah sederhana namun asri di kawasan Jakarta Timur, jantungku kembali berdegup kencang. Ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di rumahnya sebagai "pahlawan" sekaligus penyebab kekhawatiran orang tuanya.
Begitu motor berhenti, pintu rumah terbuka. Muncul sosok wanita paruh baya yang wajahnya sangat mirip dengan Wulan, hanya saja gurat-gurat usianya lebih nyata. Itulah Ibu Wulan. Begitu melihat anaknya turun dari motor dengan seragam kotor dan wajah yang meringis, wajah ibunya langsung berubah pucat.
"Astaga, Wulan! Kamu kenapa, Bah? Kok memar bahunya itu, Nak?" ucap Ibunya dengan logat Dayak yang kental, suaranya melengking karena kaget dan ketakutan. Beliau langsung menghampiri Wulan, memegang lengannya dengan gemetar.
Wulan mencoba tersenyum, meski matanya masih sedikit sembab. "Wulan nggak apa-apa, Mak. Tadi ada insiden sedikit di depan sekolah. Untung ada Rakha yang menolong Wulan, kalau nggak mungkin Wulan sudah kena batu lebih parah," ucap Wulan dengan nada bangga yang terselip di sela ringisannya.
Mendengar namaku disebut, Ibu Wulan menoleh ke arahku. Aku yang masih berdiri di samping motor dengan pelipis berdarah dan tangan yang lebam, langsung menunduk hormat. Aku melangkah maju dan menyalami tangan Ibu Wulan, lalu bersalaman dengan Ayah Wulan yang baru saja muncul dari balik pintu.
Ayah Wulan adalah sosok pria yang tegap. Beliau merantau ke Jakarta membawa istri dan anak-anaknya demi masa depan yang lebih baik. Tatapannya tegas, namun ada binar kebaikan di matanya.
"Mari masuk dulu, Rakha. Jangan berdiri di luar," ajak Ayah Wulan dengan suara beratnya yang berwibawa.
Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, indra penciumanku langsung disambut aroma masakan rumahan yang hangat. Namun, mataku segera tertuju pada dinding ruang tamu. Di sana, terpampang sebuah foto Yesus yang sangat ikonik dan sebuah salib kayu yang menempel dengan kokoh.
Aku terdiam sejenak. Pemandangan itu seolah menjadi pengingat nyata tentang tembok yang selama ini coba kami abaikan. Di rumah ini, Tuhan yang disembah berbeda dengan Tuhan yang namanya kusebut dalam setiap doaku. Ada rasa canggung yang sempat merayap, namun keramahan keluarga ini segera membuyarkannya.
"Makasih banyak ya, Kha. Sudah jagain dan nolongin Wulan di sekolah. Kami di sini jauh dari saudara, jadi kalau ada apa-apa sama anak-anak, kami cemas sekali," ucap Ibu Wulan sambil menyodorkan segelas air putih untukku.
Beliau kemudian melihat kondisiku yang berantakan. "Aduh, kamu itu juga luka-luka. Kamu mandi dulu sana di belakang, bersihkan badan. Kotor sekali itu, banyak darah," tambah Ibu Wulan dengan nada keibuan yang tak bisa ditolak.
Aku hanya bisa mengangguk patuh. Di rumah ini, aku disambut bukan sebagai orang asing, melainkan seperti kerabat sendiri yang baru pulang dari medan perang.
Sambil menunggu giliran membersihkan diri, aku duduk di ruang tengah. Di sana, aku bertemu dengan adik-adik Wulan. Ada Welni, adik perempuannya yang baru berumur 10 tahun, yang menatapku dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.
Lalu ada Rafa, adik laki-lakinya yang berusia 13 tahun, yang tampak lebih malu-malu namun sesekali melirik ke arah luka di pelipisku seolah aku adalah tokoh aksi dari film televisi.
"Kak Rakha jago berkelahi ya?" tanya Welni polos, membuat Wulan yang sedang dikompres ibunya tertawa kecil.
"Kak Rakha itu jago jagain orang, Wel," timpal Wulan sambil melirikku penuh arti.
Wulan bercerita bahwa kedua abangnya masih tinggal di Kalimantan bersama nenek mereka. Mereka di sini hanya berlima, berjuang di tengah kerasnya Jakarta. Mendengar cerita mereka, aku merasa semakin dekat. Kami sama-sama anak rantau, sama-sama membawa harapan besar dari tanah Kalimantan untuk ditanam di aspal Jakarta.
Setelah membersihkan diri dan diobati oleh Ibu Wulan, aku duduk di teras depan bersama Ayah Wulan. Beliau menyodorkan secangkir kopi hitam. Kami bicara banyak tentang kampung halaman, tentang susahnya mencari pekerjaan yang layak, hingga tentang kerasnya pergaulan remaja di Jakarta.
"Di sini, kamu harus punya prinsip, Kha. Jangan sampai terbawa arus yang salah," pesan Ayah Wulan sambil menatap jalanan depan rumah.
Aku mengangguk dalam. Aku merasa beruntung bisa diterima di rumah ini. Meski ada salib di dinding dan ada masjid di dekat kontrakanku, sore ini perbedaan itu terasa tidak berarti di depan rasa kemanusiaan dan kasih sayang sebuah keluarga.
Wulan keluar ke teras, sudah mengganti seragamnya dengan kaos santai. Dia duduk di sebelahku, jarak kami dekat namun sopan di depan ayahnya.
"Kha, makasih ya buat hari ini. Benar-benar makasih," bisiknya pelan.
Aku menatapnya, lalu beralih menatap langit malam yang mulai dihiasi bintang-bintang Jakarta yang redup.
"Sama-sama, Lan. Selama aku masih di sini, aku nggak akan biarkan siapa pun menyentuhmu dengan batu lagi."
Malam itu, aku pulang ke kontrakan Om Satria dengan perasaan yang sangat penuh. Perjuangan mendapatkan kembali Wulan mungkin sudah berhasil, tapi aku sadar tantangan sebenarnya baru saja dimulai. Bukan lagi soal Kaka atau tawuran, tapi soal bagaimana menjaga restu orang tua yang berbeda keyakinan ini tetap hangat seperti kopi yang baru saja kuminum.
Suasana di depan gerbang SMA 7 yang tadinya mencekam oleh kepulan asap dan ceceran darah, perlahan-lahan meluruh menjadi keheningan yang menyesakkan. Debu jalanan masih beterbangan, namun fokus duniaku hanya tertuju pada satu titik: gadis di depanku.
Wulan berdiri dengan napas yang masih tersengal. Bahunya yang terkena hantaman batu tampak memar membiru di balik seragam putihnya yang kusut. Ia menatapku, bukan dengan tatapan ngeri yang tadi kulihat saat aku hampir menghantamkan batu ke kepala lawan, melainkan dengan tatapan yang sangat lembut. Tatapan yang selama berminggu-minggu ini kurindukan.
"Kha... kamu nggak apa-apa?" suaranya lirih, namun bergetar hebat.
Hatiku mencelos. Mendengar nada suaranya, ada sesuatu yang retak di dalam dadaku. Kata itu. Dia tidak lagi menggunakan kata "lo" atau "gue" yang dingin dan asing. Dia kembali memanggilku dengan sebutan yang dulu selalu membuatku merasa memiliki rumah di Jakarta. Dia kembali menggunakan kata "aku" dan "kamu".
Hanya satu kata itu, tapi dampaknya lebih dahsyat daripada pukulan mana pun yang kuterima sore ini. Perisai emosiku yang selama ini kubangun dengan keangkuhan dan rasa sakit hati, runtuh seketika. "Penjaga" di dalam darahku yang tadi mengamuk membabi buta, kini mendadak sujud, tunduk pada kelembutan suara gadis Dayak ini.
Aku terdiam sejenak, menatap matanya yang berkaca-kaca. Tanpa mempedulikan tangan yang masih berlumuran darah, tanpa mempedulikan pelipis yang robek, dan tanpa mempedulikan harga diriku sebagai "jagoan" sekolah, aku melangkah maju.
Aku menarik Wulan ke dalam pelukanku.
Aku memeluknya erat, sangat erat. Seolah jika aku melepaskannya sedetik saja, dia akan terbang menguap bersama asap tawuran tadi. Di sanalah, di pundaknya, pertahananku hancur total. Air mata yang selama ini kutahan sejak kejadian di taman, sejak malam-malam mabuk di warung Bi Jiah, hingga saat-saat aku cemburu melihatnya bersama Kaka, semuanya tumpah ruah.
Aku menangis sesenggukan. Ini adalah kali pertama dalam hidupku aku menangis di depan seorang perempuan. Dan perempuan itu adalah Wulan.
"Maafin aku, Lan... maafin aku udah nyuekin kamu selama ini," ucapku di sela tangis yang menyesakkan dada. Suaraku parau, pecah oleh emosi yang meluap.
"Aku takut, Lan... aku bener-bener takut kamu hilang dari pandanganku. Aku takut kamu bener-bener pergi sama Kaka dan nggak bakal noleh lagi ke aku," tambahku lagi, menumpahkan segala ketakutan yang selama ini kupendam di balik topeng kecuekan.
Wulan sempat tertegun. Dia bisa merasakan detak jantungku yang berpacu kencang dan gemetar di seluruh tubuhku. Perlahan, dia menyandarkan kepalanya di dadaku, membiarkan seragamnya ternoda oleh darah dari lukaku.
"Kha... aku juga minta maaf," bisik Wulan, suaranya terdengar sangat tulus di telingaku. "Aku minta maaf udah marah tanpa denger penjelasan kamu. Aku minta maaf udah bikin kamu ngerasa asing."
Kami terlarut dalam momen itu selama beberapa menit. Jakarta yang bising seolah memberikan kami ruang sunyi untuk saling menyembuhkan. Namun, tiba-tiba Wulan meringis kecil, mencoba melepaskan diri dari dekapan kuatku.
"Kha... tapi meluknya jangan kuat-kuat... sakit, hehe," ucapnya sambil tersenyum tipis, meski wajahnya masih menyiratkan rasa perih akibat hantaman batu di bahunya.
Aku tersentak dan segera melonggarkan pelukanku. Aku baru sadar bahwa aku memeluknya terlalu kencang tepat di bagian bahu yang cedera. "Eh, sori, Lan! Aku lupa... mana yang sakit? Kita ke UKS sekarang, ya?" tanyaku panik, rasa bersalah kembali menyergap.
Wulan hanya menggeleng pelan sambil merapikan kuncir kudanya yang sedikit berantakan. "Nggak apa-apa, cuma memar dikit. Yang penting kamu udah sadar lagi."
Aku menyeka air mata dengan punggung tanganku yang kasar. Aku baru menyadari bahwa kami menjadi pusat perhatian. Riko dan Bunga berdiri tak jauh dari kami, Riko tampak nyengir lebar sambil mengacungkan jempol, sementara Bunga terlihat mengusap matanya yang ikut berkaca-kaca melihat kami berbaikan. Bang Jago dan anak-anak tongkrongan lainnya pun hanya berdiri diam, memberikan kami ruang.
Di sudut mataku, aku melihat sosok Aulia. Dia berdiri bersandar di pilar gerbang sekolah, masih dengan gaya STM-nya yang santai. Dia menyaksikan seluruh adegan itu tangisanku, pelukanku pada Wulan, dan bagaimana duniaku kembali berputar hanya untuk gadis di depanku ini.
Aku merasa tidak enak. Bagaimanapun, Aulia adalah orang yang menemaniku saat aku sedang jatuh. Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh permohonan maaf.
Aulia hanya tersenyum tipis. Tidak ada amarah di matanya, tidak ada cemburu yang meledak-ledak. Dia hanya mengangguk pelan ke arahku, sebuah anggukan yang seolah berkata, "Gue tau, Kha. Dari awal pun, hati lo emang bukan buat gue."
Aulia adalah cewek yang cerdas. Dia tahu bahwa kenyamanan yang dia berikan padaku hanyalah obat sementara, sedangkan Wulan adalah "penyakit" sekaligus "penawar" yang selama ini kucari. Dia melambaikan tangan padaku sebentar, lalu berjalan menuju motor Dendi, memilih untuk mundur dengan terhormat sebelum hubungan kami melangkah terlalu jauh.
Aku kembali menatap Wulan. Sore itu, di tengah sisa-sisa keributan SMA 7, aku menyadari bahwa perang yang paling melelahkan bukan melawan SMA 10 atau melawan Kaka, tapi melawan ego di dalam diri sendiri.
"Ayo, Lan. Aku anter pulang. Biar aku yang jelasin ke orang tua kamu kenapa bahu kamu biru begini," ucapku sambil menggandeng tangannya.
Wulan mengangguk patuh. "Tapi janji ya, jangan berkelahi kayak tadi lagi. Aku beneran takut liat kamu yang itu."
Aku terdiam sebentar, mengingat "penjaga" di dalam darahku yang baru saja tertidur kembali. Aku mengepalkan tangan yang digenggam Wulan. "Aku janji, Lan. Selama ada kamu di sampingku, aku bakal berusaha buat terus jadi Rakha yang kamu kenal."
Kami berjalan menuju parkiran motor, meninggalkan gerbang sekolah yang hancur. Lembaran baru yang tadinya ingin kubuka bersama Aulia, kini kututup rapat. Aku memilih kembali ke buku lamaku, buku yang penuh coretan dan luka, tapi memiliki akhir cerita yang selalu ingin kubaca bersama Wulan. Jakarta hari ini terasa jauh lebih indah, meski tubuhku penuh luka dan pelipisku masih berdenyut nyeri.
Setelah kejadian dramatis di depan gerbang sekolah, aku memacu motorku dengan hati-hati menuju rumah Wulan. Rasa sakit di pelipisku yang robek seakan hilang, tergantikan oleh rasa tanggung jawab yang besar. Di belakangku, Wulan memeluk pinggangku dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih menahan perih di bahunya. Angin sore Jakarta menyapu wajah kami, membawa keheningan yang jauh lebih damai daripada biasanya.
Sesampainya di depan sebuah rumah sederhana namun asri di kawasan Jakarta Timur, jantungku kembali berdegup kencang. Ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di rumahnya sebagai "pahlawan" sekaligus penyebab kekhawatiran orang tuanya.
Begitu motor berhenti, pintu rumah terbuka. Muncul sosok wanita paruh baya yang wajahnya sangat mirip dengan Wulan, hanya saja gurat-gurat usianya lebih nyata. Itulah Ibu Wulan. Begitu melihat anaknya turun dari motor dengan seragam kotor dan wajah yang meringis, wajah ibunya langsung berubah pucat.
"Astaga, Wulan! Kamu kenapa, Bah? Kok memar bahunya itu, Nak?" ucap Ibunya dengan logat Dayak yang kental, suaranya melengking karena kaget dan ketakutan. Beliau langsung menghampiri Wulan, memegang lengannya dengan gemetar.
Wulan mencoba tersenyum, meski matanya masih sedikit sembab. "Wulan nggak apa-apa, Mak. Tadi ada insiden sedikit di depan sekolah. Untung ada Rakha yang menolong Wulan, kalau nggak mungkin Wulan sudah kena batu lebih parah," ucap Wulan dengan nada bangga yang terselip di sela ringisannya.
Mendengar namaku disebut, Ibu Wulan menoleh ke arahku. Aku yang masih berdiri di samping motor dengan pelipis berdarah dan tangan yang lebam, langsung menunduk hormat. Aku melangkah maju dan menyalami tangan Ibu Wulan, lalu bersalaman dengan Ayah Wulan yang baru saja muncul dari balik pintu.
Ayah Wulan adalah sosok pria yang tegap. Beliau merantau ke Jakarta membawa istri dan anak-anaknya demi masa depan yang lebih baik. Tatapannya tegas, namun ada binar kebaikan di matanya.
"Mari masuk dulu, Rakha. Jangan berdiri di luar," ajak Ayah Wulan dengan suara beratnya yang berwibawa.
Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, indra penciumanku langsung disambut aroma masakan rumahan yang hangat. Namun, mataku segera tertuju pada dinding ruang tamu. Di sana, terpampang sebuah foto Yesus yang sangat ikonik dan sebuah salib kayu yang menempel dengan kokoh.
Aku terdiam sejenak. Pemandangan itu seolah menjadi pengingat nyata tentang tembok yang selama ini coba kami abaikan. Di rumah ini, Tuhan yang disembah berbeda dengan Tuhan yang namanya kusebut dalam setiap doaku. Ada rasa canggung yang sempat merayap, namun keramahan keluarga ini segera membuyarkannya.
"Makasih banyak ya, Kha. Sudah jagain dan nolongin Wulan di sekolah. Kami di sini jauh dari saudara, jadi kalau ada apa-apa sama anak-anak, kami cemas sekali," ucap Ibu Wulan sambil menyodorkan segelas air putih untukku.
Beliau kemudian melihat kondisiku yang berantakan. "Aduh, kamu itu juga luka-luka. Kamu mandi dulu sana di belakang, bersihkan badan. Kotor sekali itu, banyak darah," tambah Ibu Wulan dengan nada keibuan yang tak bisa ditolak.
Aku hanya bisa mengangguk patuh. Di rumah ini, aku disambut bukan sebagai orang asing, melainkan seperti kerabat sendiri yang baru pulang dari medan perang.
Sambil menunggu giliran membersihkan diri, aku duduk di ruang tengah. Di sana, aku bertemu dengan adik-adik Wulan. Ada Welni, adik perempuannya yang baru berumur 10 tahun, yang menatapku dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.
Lalu ada Rafa, adik laki-lakinya yang berusia 13 tahun, yang tampak lebih malu-malu namun sesekali melirik ke arah luka di pelipisku seolah aku adalah tokoh aksi dari film televisi.
"Kak Rakha jago berkelahi ya?" tanya Welni polos, membuat Wulan yang sedang dikompres ibunya tertawa kecil.
"Kak Rakha itu jago jagain orang, Wel," timpal Wulan sambil melirikku penuh arti.
Wulan bercerita bahwa kedua abangnya masih tinggal di Kalimantan bersama nenek mereka. Mereka di sini hanya berlima, berjuang di tengah kerasnya Jakarta. Mendengar cerita mereka, aku merasa semakin dekat. Kami sama-sama anak rantau, sama-sama membawa harapan besar dari tanah Kalimantan untuk ditanam di aspal Jakarta.
Setelah membersihkan diri dan diobati oleh Ibu Wulan, aku duduk di teras depan bersama Ayah Wulan. Beliau menyodorkan secangkir kopi hitam. Kami bicara banyak tentang kampung halaman, tentang susahnya mencari pekerjaan yang layak, hingga tentang kerasnya pergaulan remaja di Jakarta.
"Di sini, kamu harus punya prinsip, Kha. Jangan sampai terbawa arus yang salah," pesan Ayah Wulan sambil menatap jalanan depan rumah.
Aku mengangguk dalam. Aku merasa beruntung bisa diterima di rumah ini. Meski ada salib di dinding dan ada masjid di dekat kontrakanku, sore ini perbedaan itu terasa tidak berarti di depan rasa kemanusiaan dan kasih sayang sebuah keluarga.
Wulan keluar ke teras, sudah mengganti seragamnya dengan kaos santai. Dia duduk di sebelahku, jarak kami dekat namun sopan di depan ayahnya.
"Kha, makasih ya buat hari ini. Benar-benar makasih," bisiknya pelan.
Aku menatapnya, lalu beralih menatap langit malam yang mulai dihiasi bintang-bintang Jakarta yang redup.
"Sama-sama, Lan. Selama aku masih di sini, aku nggak akan biarkan siapa pun menyentuhmu dengan batu lagi."
Malam itu, aku pulang ke kontrakan Om Satria dengan perasaan yang sangat penuh. Perjuangan mendapatkan kembali Wulan mungkin sudah berhasil, tapi aku sadar tantangan sebenarnya baru saja dimulai. Bukan lagi soal Kaka atau tawuran, tapi soal bagaimana menjaga restu orang tua yang berbeda keyakinan ini tetap hangat seperti kopi yang baru saja kuminum.
kulipriok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Tutup