Kaskus

Story

f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA
Menaklukkan Ibu Kota


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan

Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan emoticon-Jempol

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan



Quote:

Menaklukkan Ibu Kota


Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
NankendraAvatar border
kelomangdaratAvatar border
YoayoayoAvatar border
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
#32
Bagian 25 : Warisan Darah Bugis

Sore itu, di depan gerbang SMA 7, napasku masih menderu seperti badai. Tanganku bergetar hebat, sisa-sisa amarah yang gelap masih terasa menjalar di pembuluh darahku. Aku menatap Wulan yang terduduk lemas, lalu beralih menatap Riko yang masih memegangi lenganku dengan kuat.

"Kha, istigfar, Kha! Sadar!" bentakan Riko perlahan menarik kesadaranku kembali ke permukaan.

Aku melepaskan batu dari genggamanku. Bunyi gedebuk batu itu di atas aspal seolah menandai kembalinya jiwaku ke dalam raga. Aku melihat sekeliling; anak-anak SMA 10 sudah lari kocar-kacir, dan teman-temanku menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan antara syukur karena menang dan ngeri melihat caraku menghajar lawan.

Aku mendekati Wulan dengan langkah gontai. Darah dari pelipisku menetes, jatuh ke aspal, bersanding dengan bekas darah lawan di buku jariku. Aku ingin menyentuhnya, ingin memastikan dia baik-baik saja, tapi aku ragu. Aku takut tanganku yang kotor ini justru akan menodai kesuciannya.

Saat itulah, memori tentang "dia" kembali muncul. Sesuatu yang mengalir dalam darahku, sebuah warisan kelam yang berasal dari pedalaman Kalimantan.

-

Semua ini bermula saat aku masih kelas 1 SMP. Kakekku adalah sosok yang sangat disegani di kampung. Orang-orang menyebutnya orang pintar, seorang dukun besar yang mampu mengobati berbagai penyakit yang tak masuk akal secara medis. Dia bisa tahu siapa yang mencuri barang orang hanya dengan melihat air dalam baskom, dan fisiknya... di luar nalar manusia biasa.

Aku ingat betul, saat usianya sudah menginjak 80 tahun, aku melihatnya melompati parit sungai selebar empat meter lebih dengan sekali loncatan ringan. Orang biasa pasti sudah terjun bebas ke dalam air, tapi kakek melayang seolah gravitasi tidak berlaku baginya.

Namun, kekuatan itu ada harganya. Saat ajalnya hampir tiba, kakek mengalami sakaratul maut yang sangat menyiksa. Tubuhnya meronta, napasnya tersengal seolah ada sesuatu yang menahan nyawanya untuk keluar. Konon, itu karena "penjaga" di dalam tubuhnya tidak mau melepaskan tuannya.

Bapak memintaku duduk di samping tempat tidurnya untuk membacakan ayat-ayat Al-Quran. Di tengah lantunan ayat suci itu, sebuah kejadian mistis terjadi di depan mataku. Dari pergelangan tangan kakek yang sudah keriput, tiba-tiba keluar sebutir padi berwarna emas murni. Begitu padi itu keluar, kakek menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang.

Tapi itu bukan akhir, melainkan awal dari beban yang harus kupikul.

Seminggu setelah kakek wafat, rumah ketujuh anaknya termasuk rumah bapakku mengalami kejadian aneh serentak. Seekor ular besar muncul entah dari mana, melingkar di atap rumah seolah sedang mengunjungi keturunannya. Suara-suara benturan yang tidak masuk akal terdengar dari balik dinding kayu rumah kami setiap tengah malam.

Kakek adalah seorang perantau Bugis dari Sulawesi yang menetap di Kalimantan setelah menikahi nenekku yang asli Melayu Kalimantan. Sebagai orang Bugis yang merantau, kakek membawa "pegangan" untuk menjaganya di tanah orang. Pegangan itu berupa dua bilah keris pusaka yang kemudian diwariskan kepada bapakku sebagai anak ketiga yang paling dipercaya.

Namun bapakku adalah orang yang sangat rasional. Beliau tidak percaya pada hal mistis dan membiarkan dua keris itu tergeletak begitu saja di dalam lemari tanpa pernah dirawat, apalagi "dimandikan".

Tragedi pertama terjadi saat adikku baru lahir setelah 1 tahun kakek wafat. Adekku meninggal dunia dalam waktu singkat. Dokter bilang itu sakit kuning, tapi orang pintar di kampung berbisik bahwa itu adalah "tumbal" karena keris titipan kakek tidak pernah diberi makan atau dimandikan dengan kembang.

Beban itu akhirnya jatuh kepadaku saat aku menginjak kelas 3 SMP. Tiba-tiba saja, aku sering mengalami kejang-kejang hebat. Rasanya seperti ada api yang menjalar dari tulang belakang menuju kepala. Tubuhku terasa panas, dan penglihatanku sering berubah menjadi merah.

Keluarga panik. Mereka mengira aku sakit keras, hingga akhirnya seorang tetua kampung datang dan melihatku. Dia bilang, penjaga kakek telah memilihku karena bapakku menolak "memegang" pusaka itu. Aku jatuh sakit karena keris itu haus akan perhatian.

Bapak akhirnya mengalah. Beliau memandikan keris itu dengan air kembang tujuh rupa, dan anehnya, saat itu juga badanku yang tadinya kaku dan panas kembali segar bugar. Namun, bapak memberikan peringatan keras yang selalu kuingat sampai detik ini di Jakarta.

"Rakha, 'dia' sekarang ada di dalam darahmu. Kamu harus bisa mengontrol emosimu sedingin mungkin. Kalau kamu marah sampai hilang kendali, 'dia' akan mengambil alih tubuhmu. Kamu bukan lagi dirimu, tapi harimau yang siap menerkam siapa saja."

Sejak saat itu, ada pantangan besar dalam keluarga bapakku yang harus kujalani: Aku tidak boleh memakan daging kambing seumur hidup, dan tidak boleh memakan jeroan jika belum menikah. Jika dilanggar, emosiku akan meledak tanpa bisa dibendung, dan penjaga itu akan bangkit dengan liar.

Dan sore ini, di depan SMA 7, hal itu terulang kembali. Saat melihat batu menghantam Wulan, emosiku mencapai titik didih yang dilarang. "Dia" bangkit. Sesuatu yang menggerakkan tubuhku untuk menyerang membabi buta tadi bukanlah Rakha si anak sekolah, melainkan sisa-sisa kekuatan mistis dari pedalaman Kalimantan.

Aku menatap tanganku yang masih merah. Aku merasa ngeri pada diriku sendiri.
agoritme
itkgid
kulipriok
kulipriok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.