- Beranda
- Stories from the Heart
Menaklukkan Ibu Kota
...
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA

Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan
Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan
Quote:

Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
f4gry...
#31
Bagian 24 : Amarah "Dia"
Sore itu, Warung Bi Jiah masih menjadi saksi bisu tawa yang berderai. Bang Jago sedang asyik memamerkan otot lengannya yang dipenuhi tato, sementara Riko dan Bunga terlihat sedang dimabuk asmara yang baru saja mekar. Dendi, Rio, dan Aulia sesekali menimpali dengan candaan kasar yang membuat suasana terasa damai di tengah hiruk-pikuk pinggiran Jakarta. Aku masih memikirkan saran dari Om Satria semalam.
Namun, kedamaian itu pecah berkeping-keping dalam hitungan detik. Dari kejauhan, terdengar deru motor yang meraung-raung, disusul teriakan histeris yang membelah langit sore. Seorang anak kelas 10 lari terbirit-birit melewati warung dengan seragam yang acak-acakan.
"Bang! Sekolah kita diserang! Gerbang depan dikepung!" teriaknya dengan napas tersengal.
Aku dan Riko langsung berdiri tegak. Insting kami sebagai penghuni SMA 7 langsung bangkit. Tanpa aba-aba, kami berlari menuju sekolah yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari warung. Bang Jago, Dendi, Rio, dan beberapa anak STM teman mereka yang sedang nongkrong di sana langsung mengikuti dari belakang. Solidaritas jalanan tidak butuh banyak tanya; jika satu disenggol, semua bergerak.
Begitu sampai di depan SMA 7, pemandangan di depan mata membuat darahku mendidih. Puluhan siswa dari SMA 10 sekolah yang dulu pernah mengejarku saat aku baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta sudah mengepung gerbang. Mereka membawa kayu, sabuk gear, dan batu.
"KAKA! KELUAR LO BAJINGAN! ANJING! JANGAN JADI PECUNDANG LO!" teriak salah satu dari mereka yang berdiri paling depan.
Rupanya, dendam mereka pada Kaka belum usai. Mereka mencari Kaka yang saat ini justru sedang menikmati liburnya dan tidak ada di sekolah. Karena target mereka tidak ditemukan, mereka melampiaskan kemarahan dengan beringas.
Gerbang sekolah yang tertutup rapat dihantam berkali-kali menggunakan balok kayu. Suara benturan besi dan kayu menciptakan suasana mencekam yang membuat adik-adik kelas 10 dan 11 ketakutan di balik pagar.
"Kaka nggak ada di sini! Cabut lo semua!" teriak Riko dari jarak sepuluh meter.
"Banyak bacot lo! Kalau Kaka nggak ada, sekolah ini yang kita ratain!" balas mereka sambil mulai melemparkan batu-batu kecil ke arah dalam.
Meskipun jumlah kami kalah banyak, kami tidak gentar. Di belakangku ada Bang Jago yang tatapannya sudah berubah sedingin es, ada Dendi dan Rio yang sudah menggulung lengan baju, serta anak-anak STM yang memang sudah biasa dengan kerasnya aspal.
"Hajar!" komando Bang Jago singkat.
Kami merangsek maju. Tawuran pecah di depan gerbang SMA 7. Aku menerjang salah satu dari mereka dengan tendangan telak di dada. Perkelahian berlangsung sengit dan liar. Pukulan dan tendangan bertukar dengan cepat.
Aku merasakan perih di pelipisku saat sebuah ujung sabuk gear menyerempet wajahku, merobek kulit dan mengucurkan darah yang mulai menetes ke pipi. Riko juga tampak kewalahan namun tetap beringas menghadapi dua orang sekaligus.
Melihat kami yang hanya segelintir orang berani melawan, anak-anak SMA 7 yang tadinya bersembunyi di dalam gerbang mulai terpancing. Mereka membuka gerbang dan ikut berlari keluar membantu kami. Suasana menjadi benar-benar kacau.
Di kejauhan, aku melihat Aulia berdiri bersama Bunga. Mereka tampak cemas melihat kami yang bersimbah darah. Tak lama kemudian, aku melihat sosok yang sangat kukenal. Wulan. Dia keluar dari area sekolah dengan wajah pucat, sepertinya hendak mendekat ke arah Bunga dan Aulia untuk mencari perlindungan.
Namun, di tengah kemelut itu, seorang anak SMA 10 dengan pengecutnya melempar sebuah batu sebesar kepalan tangan ke arah kerumunan perempuan.
PLAK!
Batu itu menghantam bahu dan leher bagian atas Wulan. Wulan menjerit kecil, tubuhnya limbung dan ia terjatuh ke aspal, memegangi lukanya dengan wajah menahan sakit yang luar biasa.
Saat melihat Wulan jatuh, sesuatu di dalam dadaku seolah-olah meledak. Pandanganku mendadak berubah menjadi merah. Suara bising tawuran di sekitarku perlahan senyap, digantikan oleh suara dengungan kencang di telinga. Aku merasakan sebuah kekuatan dingin yang sangat asing mulai mengambil alih kendali tubuhku. Kesadaranku perlahan mundur ke belakang, membiarkan "sesuatu" yang lain menggerakkan otot-ototku.
Aku berlari seperti kilat, menerjang kerumunan lawan tanpa rasa takut sedikit pun. Target utamaku hanya satu: si pelempar batu itu.
Aku menerjangnya hingga ia jatuh terjengkang. Tanpa memberinya napas, aku mendudukinya dan melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajahnya. Tanganku yang sudah berdarah menghantam tulang pipinya berkali-kali tanpa ampun. Dia sudah berteriak minta ampun, wajahnya sudah tak berbentuk, namun "sesuatu" di dalam diriku tidak membiarkanku berhenti.
Saat ia sudah terkulai lemah dan hampir pingsan, tanganku meraih sebuah batu besar yang tergeletak di aspal. Aku mengangkat batu itu tinggi-tinggi di atas kepalanya, niatku sudah gelap: aku ingin menghancurkan kepalanya di sana juga.
"KHA! CUKUP! JANGAN, KHA!"
Suara teriakan itu memecah dengungan di telingaku. Itu suara Wulan. Dia berteriak sambil menangis dari kejauhan, menatapku dengan tatapan ngeri.
Tanganku bergetar di udara. Di saat yang sama, Riko melompat ke arahku dan mendekap tanganku dengan kuat. "Sadar, Kha! Lo bisa bunuh orang kalau begini! Sadar!" teriak Riko tepat di telingaku.
Aku tersentak. Napas kembarku memburu hebat. Bayangan merah di mataku perlahan memudar, memperlihatkan sosok lawan yang sudah bersimbah darah di bawahku. Aku melepaskan batu itu hingga terjatuh di samping kepalanya dengan bunyi buk yang berat. Aku berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat, menatap tanganku yang dipenuhi darah orang lain.
Anak-anak SMA 10 mulai kocar-kacir melihat kegilaanku. Mereka mundur dan melarikan diri menggunakan motor masing-masing, meninggalkan beberapa teman mereka yang babak belur di jalanan.
Aku tidak mengejar mereka. Aku hanya terpaku diam, menatap Wulan yang kini sudah dibantu berdiri oleh Aulia dan Bunga. Wulan menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan ada rasa syukur karena aku menyelamatkannya, tapi ada ketakutan yang mendalam melihat sisi liarku tadi.
Nanti, di bagian lain, akan kuceritakan kenapa aku bisa menjadi begitu gelap saat emosiku meledak. Ada sesuatu yang menggerakkan tubuhku, sebuah warisan kelam dari masa laluku di Kalimantan yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun di Jakarta, bahkan pada Riko sekalipun saat itu. Sesuatu yang membuatku merasa bukan lagi seorang pelajar, melainkan predator yang haus darah.
Sore itu, tawuran berakhir dengan kemenangan SMA 7, tapi aku merasa kalah. Aku takut pada diriku sendiri. Dan yang lebih menakutkan, aku takut Wulan akan semakin menjauh setelah melihat betapa "setan"nya aku saat amarah mengambil alih.
Sore itu, Warung Bi Jiah masih menjadi saksi bisu tawa yang berderai. Bang Jago sedang asyik memamerkan otot lengannya yang dipenuhi tato, sementara Riko dan Bunga terlihat sedang dimabuk asmara yang baru saja mekar. Dendi, Rio, dan Aulia sesekali menimpali dengan candaan kasar yang membuat suasana terasa damai di tengah hiruk-pikuk pinggiran Jakarta. Aku masih memikirkan saran dari Om Satria semalam.
Namun, kedamaian itu pecah berkeping-keping dalam hitungan detik. Dari kejauhan, terdengar deru motor yang meraung-raung, disusul teriakan histeris yang membelah langit sore. Seorang anak kelas 10 lari terbirit-birit melewati warung dengan seragam yang acak-acakan.
"Bang! Sekolah kita diserang! Gerbang depan dikepung!" teriaknya dengan napas tersengal.
Aku dan Riko langsung berdiri tegak. Insting kami sebagai penghuni SMA 7 langsung bangkit. Tanpa aba-aba, kami berlari menuju sekolah yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari warung. Bang Jago, Dendi, Rio, dan beberapa anak STM teman mereka yang sedang nongkrong di sana langsung mengikuti dari belakang. Solidaritas jalanan tidak butuh banyak tanya; jika satu disenggol, semua bergerak.
Begitu sampai di depan SMA 7, pemandangan di depan mata membuat darahku mendidih. Puluhan siswa dari SMA 10 sekolah yang dulu pernah mengejarku saat aku baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta sudah mengepung gerbang. Mereka membawa kayu, sabuk gear, dan batu.
"KAKA! KELUAR LO BAJINGAN! ANJING! JANGAN JADI PECUNDANG LO!" teriak salah satu dari mereka yang berdiri paling depan.
Rupanya, dendam mereka pada Kaka belum usai. Mereka mencari Kaka yang saat ini justru sedang menikmati liburnya dan tidak ada di sekolah. Karena target mereka tidak ditemukan, mereka melampiaskan kemarahan dengan beringas.
Gerbang sekolah yang tertutup rapat dihantam berkali-kali menggunakan balok kayu. Suara benturan besi dan kayu menciptakan suasana mencekam yang membuat adik-adik kelas 10 dan 11 ketakutan di balik pagar.
"Kaka nggak ada di sini! Cabut lo semua!" teriak Riko dari jarak sepuluh meter.
"Banyak bacot lo! Kalau Kaka nggak ada, sekolah ini yang kita ratain!" balas mereka sambil mulai melemparkan batu-batu kecil ke arah dalam.
Meskipun jumlah kami kalah banyak, kami tidak gentar. Di belakangku ada Bang Jago yang tatapannya sudah berubah sedingin es, ada Dendi dan Rio yang sudah menggulung lengan baju, serta anak-anak STM yang memang sudah biasa dengan kerasnya aspal.
"Hajar!" komando Bang Jago singkat.
Kami merangsek maju. Tawuran pecah di depan gerbang SMA 7. Aku menerjang salah satu dari mereka dengan tendangan telak di dada. Perkelahian berlangsung sengit dan liar. Pukulan dan tendangan bertukar dengan cepat.
Aku merasakan perih di pelipisku saat sebuah ujung sabuk gear menyerempet wajahku, merobek kulit dan mengucurkan darah yang mulai menetes ke pipi. Riko juga tampak kewalahan namun tetap beringas menghadapi dua orang sekaligus.
Melihat kami yang hanya segelintir orang berani melawan, anak-anak SMA 7 yang tadinya bersembunyi di dalam gerbang mulai terpancing. Mereka membuka gerbang dan ikut berlari keluar membantu kami. Suasana menjadi benar-benar kacau.
Di kejauhan, aku melihat Aulia berdiri bersama Bunga. Mereka tampak cemas melihat kami yang bersimbah darah. Tak lama kemudian, aku melihat sosok yang sangat kukenal. Wulan. Dia keluar dari area sekolah dengan wajah pucat, sepertinya hendak mendekat ke arah Bunga dan Aulia untuk mencari perlindungan.
Namun, di tengah kemelut itu, seorang anak SMA 10 dengan pengecutnya melempar sebuah batu sebesar kepalan tangan ke arah kerumunan perempuan.
PLAK!
Batu itu menghantam bahu dan leher bagian atas Wulan. Wulan menjerit kecil, tubuhnya limbung dan ia terjatuh ke aspal, memegangi lukanya dengan wajah menahan sakit yang luar biasa.
Saat melihat Wulan jatuh, sesuatu di dalam dadaku seolah-olah meledak. Pandanganku mendadak berubah menjadi merah. Suara bising tawuran di sekitarku perlahan senyap, digantikan oleh suara dengungan kencang di telinga. Aku merasakan sebuah kekuatan dingin yang sangat asing mulai mengambil alih kendali tubuhku. Kesadaranku perlahan mundur ke belakang, membiarkan "sesuatu" yang lain menggerakkan otot-ototku.
Aku berlari seperti kilat, menerjang kerumunan lawan tanpa rasa takut sedikit pun. Target utamaku hanya satu: si pelempar batu itu.
Aku menerjangnya hingga ia jatuh terjengkang. Tanpa memberinya napas, aku mendudukinya dan melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajahnya. Tanganku yang sudah berdarah menghantam tulang pipinya berkali-kali tanpa ampun. Dia sudah berteriak minta ampun, wajahnya sudah tak berbentuk, namun "sesuatu" di dalam diriku tidak membiarkanku berhenti.
Saat ia sudah terkulai lemah dan hampir pingsan, tanganku meraih sebuah batu besar yang tergeletak di aspal. Aku mengangkat batu itu tinggi-tinggi di atas kepalanya, niatku sudah gelap: aku ingin menghancurkan kepalanya di sana juga.
"KHA! CUKUP! JANGAN, KHA!"
Suara teriakan itu memecah dengungan di telingaku. Itu suara Wulan. Dia berteriak sambil menangis dari kejauhan, menatapku dengan tatapan ngeri.
Tanganku bergetar di udara. Di saat yang sama, Riko melompat ke arahku dan mendekap tanganku dengan kuat. "Sadar, Kha! Lo bisa bunuh orang kalau begini! Sadar!" teriak Riko tepat di telingaku.
Aku tersentak. Napas kembarku memburu hebat. Bayangan merah di mataku perlahan memudar, memperlihatkan sosok lawan yang sudah bersimbah darah di bawahku. Aku melepaskan batu itu hingga terjatuh di samping kepalanya dengan bunyi buk yang berat. Aku berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat, menatap tanganku yang dipenuhi darah orang lain.
Anak-anak SMA 10 mulai kocar-kacir melihat kegilaanku. Mereka mundur dan melarikan diri menggunakan motor masing-masing, meninggalkan beberapa teman mereka yang babak belur di jalanan.
Aku tidak mengejar mereka. Aku hanya terpaku diam, menatap Wulan yang kini sudah dibantu berdiri oleh Aulia dan Bunga. Wulan menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan ada rasa syukur karena aku menyelamatkannya, tapi ada ketakutan yang mendalam melihat sisi liarku tadi.
Nanti, di bagian lain, akan kuceritakan kenapa aku bisa menjadi begitu gelap saat emosiku meledak. Ada sesuatu yang menggerakkan tubuhku, sebuah warisan kelam dari masa laluku di Kalimantan yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun di Jakarta, bahkan pada Riko sekalipun saat itu. Sesuatu yang membuatku merasa bukan lagi seorang pelajar, melainkan predator yang haus darah.
Sore itu, tawuran berakhir dengan kemenangan SMA 7, tapi aku merasa kalah. Aku takut pada diriku sendiri. Dan yang lebih menakutkan, aku takut Wulan akan semakin menjauh setelah melihat betapa "setan"nya aku saat amarah mengambil alih.
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2