- Beranda
- Stories from the Heart
Menaklukkan Ibu Kota
...
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA

Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan
Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan
Quote:

Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
f4gry...
#30
Bagian 23 : Saran Om Satria
Sore itu, langit Jakarta seolah ikut meratapi kegalauan yang mendidih di dalam kepalaku. Ucapan Bunga di belakang warung Bi Jiah terus berputar-putar seperti kaset rusak, menghantam dinding kesadaranku. Fakta bahwa Wulan tidak benar-benar pacaran dengan Kaka bahwa semua itu hanya sandiwara untuk memanasiku terasa seperti siraman air es di tengah siang yang terik.
Aku duduk di bangku kayu panjang sambil memandangi aspal. Di depan mataku, Riko dan Bunga sedang asyik tertawa, merayakan hari pertama mereka sebagai sepasang kekasih. Aulia pun masih di sana, bercanda lepas dengan Bang Jago. Tapi pikiranku sudah terbang jauh, menembus dinding-dinding kelas SMA 7 yang kaku.
Apa yang harus kulakukan? Memilih antara dua gadis yang sama-sama memiliki tempat di hatiku adalah ujian yang jauh lebih berat daripada soal fisika mana pun.
Di satu sisi, ada Aulia gadis STM yang blak-blakan, yang datang saat duniaku sedang runtuh, dan yang memberiku tawa saat aku lupa cara tersenyum. Bersamanya, Jakarta terasa lebih ringan. Tapi di sisi lain, ada Wulan gadis kuncir kuda yang satu tanah kelahiran denganku, yang memiliki rahasia doa yang sama, dan yang sebenarnya sedang terluka karena kebodohanku sendiri.
Hari-hari setelah UAS berakhir biasanya menjadi hari yang paling membahagiakan bagi siswa. Tidak ada pelajaran, tidak ada guru yang masuk kelas kecuali untuk menagih tugas susulan, dan hanya ada jam kosong yang panjang. Namun bagiku, jam kosong ini adalah siksaan.
Di dalam kelas yang riuh dengan suara tawa teman-teman yang bermain kartu atau mendengarkan musik, mataku tak bisa berhenti mencuri pandang ke arah depan. Di sana, Wulan duduk termenung. Rambut kuncir kudanya yang biasanya bergoyang lincah, kini tampak layu. Dia hanya menatap ke luar jendela, memandangi pohon-pohon di halaman sekolah dengan tatapan kosong.
Bunga selalu ada di sampingnya, mengelus pundaknya, mencoba membisikkan kata-kata yang mungkin tidak benar-benar didengar oleh Wulan. Kesedihan itu nyata. Kesedihan itu bukan akting. Dan yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa aku anak perantau yang berjanji akan menjaganya adalah penyebab utama mendungnya wajah itu.
Aku merasa sangat bersalah. Aku teringat bagaimana aku mencuekinya selama berminggu-minggu, bagaimana aku sengaja memacu motor di depannya hanya untuk menunjukkan bahwa aku "baik-baik saja". Ternyata, di balik diamnya, Wulan hancur. Dia mungkin merasa dikhianati dua kali: oleh foto yang disebarkan Kaka, dan oleh sikap dingin yang kuberikan sebagai balasannya.
Ada sebuah momen di mana kelas sedang sangat sepi karena sebagian besar cowok pergi ke kantin. Wulan masih di sana, menelungkupkan kepalanya di atas meja. Bunga sedang pergi ke toilet. Inilah kesempatanku.
Jantungku berdegup kencang. Kakiku sudah bersiap untuk berdiri. Aku ingin melangkah ke mejanya, menarik kursi di sampingnya, dan mengatakan hal-hal yang seharusnya kukatakan sejak dulu. Aku ingin bilang kalau aku minta maaf soal foto itu, kalau aku rindu obrolan kami tentang Kalimantan, dan kalau aku tahu dia sedang bersandiwara dengan Kaka.
Namun, baru saja satu langkah aku bergeser, kakiku seakan tertanam di lantai kelas yang berdebu.
Ada sesuatu yang menahanku. Bukan rasa benci, tapi rasa takut. Takut jika kehadiranku justru akan menambah lukanya. Takut jika dia akan kembali memanggilku "lo-gw" dengan nada dingin yang menusuk. Dan yang paling berat, aku teringat pada Aulia. Jika aku mendekati Wulan sekarang, apa artinya Aulia bagiku? Apakah aku hanya menjadikannya pelarian sementara?
Aku mengepalkan tangan, menatap punggung Wulan dari kejauhan. Rasa bimbang ini benar-benar menyiksa. Aku merasa seperti pecundang paling besar di SMA 7. Aku jago berkelahi melawan Kaka, aku berani menentang Pak Anwar, tapi aku tidak cukup berani untuk sekadar menyapa gadis yang sedang bersedih karena perbuatanku.
"Kha, kok malah bengong di situ? Yuk ke kantin, laper nih!" teriak Riko dari ambang pintu kelas, membuyarkan keberanianku yang baru saja terkumpul satu persen.
Aku menarik napas panjang, menghembuskannya dengan berat. Aku urungkan niatku untuk mendekati Wulan. Aku memutar badan, berjalan mengikuti Riko keluar kelas dengan perasaan yang semakin kacau.
Aku tahu, aku tidak bisa terus begini. Aku tidak bisa membiarkan Wulan terus sedih, tapi aku juga tidak bisa menyakiti Aulia yang sudah begitu baik padaku.
Jakarta ternyata tidak hanya memberikan tantangan fisik, tapi juga labirin perasaan yang sangat rumit. Dan sore itu, aku memilih untuk tetap tersesat di dalamnya, membiarkan ego dan ketakutanku memenangkan pertempuran di dalam kelas yang sunyi itu.
-
Malam di Jakarta kembali menunjukkan wajahnya yang bising namun terasa sepi di dalam kontrakan kecil kami. Suara mesin tik dan ketukan papan ketik komputer tua milik Om Satria mengisi ruangan, menciptakan irama monoton yang menemani tumpukan kertas referensi yang kian menguning.
Om Satria, dengan kacamata yang melorot sampai ke ujung hidung, tampak sangat serius menghadapi skripsinya yang seolah-olah memiliki nyawa sendiri skripsi legendaris yang tidak selesai-selesai sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta.
Aku duduk di kursi kayu tepat di sebelahnya, menyandarkan punggung yang terasa sangat kaku. Bau kopi hitam dan sisa aroma rokok di baju kami menyatu dalam keheningan. Aku menatap punggung Om Satria yang sedikit membungkuk, lalu menghela napas panjang. Beban di kepalaku tentang Wulan dan Aulia rasanya sudah meluap-luap, butuh tempat untuk tumpah.
"Om," panggilku lirih, memecah kesunyian.
Om Satria tidak menoleh, hanya jemarinya yang berhenti bergerak di atas keyboard. "Hmm? Apaan? Jangan minta duit ya, skripsi gue lagi kritis, dompet gue juga kritis."
Aku terkekeh tipis, tapi raut wajahku segera kembali mendung. "Bukan soal itu, Om. Gue... gue lagi galau banget nih. Urusan perasaan."
Mendengar kata "galau", Om Satria langsung memutar kursinya. Dia melepas kacamatanya, mengusap wajah yang tampak sangat lelah, lalu menatapku dengan sorot mata menyelidik yang jenaka.
"Gue sayang banget sama Wulan, Om. Tapi di satu sisi, gue ngerasa nyaman banget sama Aulia. Aulia itu asyik, dia bikin gue lupa sama masalah gue. Tapi pas liat Wulan sedih karena gue cuekin, rasanya dada gue kayak diperas. Gue bingung harus gimana," tanyaku dengan keberanian yang kukumpulkan sejak dari Warung Bi Jiah tadi.
Om Satria terdiam sejenak. Bukannya langsung memberikan petuah bijak seperti tokoh di film-alih-alih, dia justru tertawa terkekeh sampai bahunya berguncang.
"Laku juga ternyata lo ya, Kha! Padahal muka lo pas baru datang dari Kalimantan itu kayak orang bingung yang baru liat aspal. Sekarang malah pusing milih cewek," ucapnya sambil terus tertawa, membuat suasana tegang di hatiku sedikit mencair karena kelakuannya.
Setelah puas menertawakanku, Om Satria mengambil sebatang rokok, tapi tidak menyulutnya. Dia hanya memutar-mutarnya di jemari, seolah sedang memutar logika di kepalanya.
"Kha, dengerin pamanmu yang paling ganteng sejagat raya ini," ucapnya dengan nada sok serius yang selalu berhasil membuatku ingin melemparnya dengan sandal. "Dunia ini emang aneh. Kadang kita dikasih orang yang bikin kita nyaman buat lari dari kenyataan, kayak si Aulia itu. Tapi, kenyamanan itu seringkali cuma 'obat bius'. Lo ngerasa tenang karena lo nggak perlu mikirin masalah lo."
Dia menatapku lebih dalam, kali ini tanpa sisa tawa. "Tapi Wulan? Wulan itu bagian dari diri lo, Kha. Kalian satu tanah, satu rasa rindu sama kampung halaman. Masalah lo sama dia itu ibarat rumah yang retak. Lo bisa aja pindah ke hotel yang nyaman kayak Aulia, tapi tetep aja, hati lo bakal selalu pengen pulang ke rumah yang retak itu buat lo perbaikin."
Om Satria kemudian mengeluarkan lawakan khasnya yang garing. "Lagian, kalau lo pilih Wulan, setidaknya kalau lebaran atau natal nanti kita bisa titip salam lewat frekuensi Kalimantan yang sama. Kalau sama anak STM Jakarta, nanti lo malah diajak tawuran mulu tiap malem minggu!"
Meski diucapkan dengan penuh kelakar dan gaya santai, jawaban Om Satria justru memberiku tamparan kesadaran yang sangat keras. Aku menyadari satu hal yang selama ini coba kututup-tutupi: kenyamananku bersama Aulia memang nyata, tapi itu adalah kenyamanan seorang pelarian. Aku lari ke Aulia karena aku takut menghadapi luka yang ada pada Wulan.
Om Satria jauh lebih condong ke Wulan bukan karena dia tidak suka Aulia, tapi karena dia tahu siapa yang benar-benar mengisi setiap bait puisi yang kutulis secara sembunyi-sembunyi. Dia tahu siapa yang membuatku menangis tanpa suara tempo hari.
"Lo tahu kan, Kha? Sayang itu bukan cuma soal ketawa bareng pas makan bakso. Sayang itu soal berani minta maaf pas lo salah, dan berani memperbaiki apa yang hancur. Jangan jadi pengecut yang lari ke kenyamanan baru cuma karena lo takut ngakuin kalau lo masih sayang sama yang lama," tambah Om Satria, kali ini suaranya terdengar sangat kebapakan.
Aku menunduk, menatap lantai semen kontrakan yang dingin. Bayangan wajah Wulan yang sedang menelungkupkan kepalanya di atas meja ujian tadi siang kembali muncul. Rasa bersalah itu kini tidak lagi terasa seperti beban, melainkan seperti petunjuk.
"Makasih, Om. Gue tahu sekarang siapa yang harus gue perjuangin," ucapku mantap.
Om Satria hanya tersenyum tipis, lalu kembali memakai kacamatanya dan memutar posisi kursinya menghadap komputer lagi. "Yaudah, sana tidur. Jangan ganggu calon sarjana lagi. Gue mau lanjut ngetik, biar kalau lo nanti jadian beneran sama Wulan, gue udah bisa bayarin makan malam kalian pakai gaji pertama gue!"
Aku tertawa, kali ini lebih lepas. Aku berjalan menuju tempat tidur dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Jakarta malam ini tidak lagi terasa seperti labirin yang membingungkan. Pilihan itu kini sudah jelas. Besok, aku tidak akan lagi bersembunyi di balik sikap dingin atau kenyamanan sesaat.
Aku akan menghadapi Wulan, meminta maaf dengan sejujur-jujurnya, dan merebut kembali rumah yang sempat kubiarkan retak itu dari tangan siapa pun, termasuk Kaka.
Sore itu, langit Jakarta seolah ikut meratapi kegalauan yang mendidih di dalam kepalaku. Ucapan Bunga di belakang warung Bi Jiah terus berputar-putar seperti kaset rusak, menghantam dinding kesadaranku. Fakta bahwa Wulan tidak benar-benar pacaran dengan Kaka bahwa semua itu hanya sandiwara untuk memanasiku terasa seperti siraman air es di tengah siang yang terik.
Aku duduk di bangku kayu panjang sambil memandangi aspal. Di depan mataku, Riko dan Bunga sedang asyik tertawa, merayakan hari pertama mereka sebagai sepasang kekasih. Aulia pun masih di sana, bercanda lepas dengan Bang Jago. Tapi pikiranku sudah terbang jauh, menembus dinding-dinding kelas SMA 7 yang kaku.
Apa yang harus kulakukan? Memilih antara dua gadis yang sama-sama memiliki tempat di hatiku adalah ujian yang jauh lebih berat daripada soal fisika mana pun.
Di satu sisi, ada Aulia gadis STM yang blak-blakan, yang datang saat duniaku sedang runtuh, dan yang memberiku tawa saat aku lupa cara tersenyum. Bersamanya, Jakarta terasa lebih ringan. Tapi di sisi lain, ada Wulan gadis kuncir kuda yang satu tanah kelahiran denganku, yang memiliki rahasia doa yang sama, dan yang sebenarnya sedang terluka karena kebodohanku sendiri.
Hari-hari setelah UAS berakhir biasanya menjadi hari yang paling membahagiakan bagi siswa. Tidak ada pelajaran, tidak ada guru yang masuk kelas kecuali untuk menagih tugas susulan, dan hanya ada jam kosong yang panjang. Namun bagiku, jam kosong ini adalah siksaan.
Di dalam kelas yang riuh dengan suara tawa teman-teman yang bermain kartu atau mendengarkan musik, mataku tak bisa berhenti mencuri pandang ke arah depan. Di sana, Wulan duduk termenung. Rambut kuncir kudanya yang biasanya bergoyang lincah, kini tampak layu. Dia hanya menatap ke luar jendela, memandangi pohon-pohon di halaman sekolah dengan tatapan kosong.
Bunga selalu ada di sampingnya, mengelus pundaknya, mencoba membisikkan kata-kata yang mungkin tidak benar-benar didengar oleh Wulan. Kesedihan itu nyata. Kesedihan itu bukan akting. Dan yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa aku anak perantau yang berjanji akan menjaganya adalah penyebab utama mendungnya wajah itu.
Aku merasa sangat bersalah. Aku teringat bagaimana aku mencuekinya selama berminggu-minggu, bagaimana aku sengaja memacu motor di depannya hanya untuk menunjukkan bahwa aku "baik-baik saja". Ternyata, di balik diamnya, Wulan hancur. Dia mungkin merasa dikhianati dua kali: oleh foto yang disebarkan Kaka, dan oleh sikap dingin yang kuberikan sebagai balasannya.
Ada sebuah momen di mana kelas sedang sangat sepi karena sebagian besar cowok pergi ke kantin. Wulan masih di sana, menelungkupkan kepalanya di atas meja. Bunga sedang pergi ke toilet. Inilah kesempatanku.
Jantungku berdegup kencang. Kakiku sudah bersiap untuk berdiri. Aku ingin melangkah ke mejanya, menarik kursi di sampingnya, dan mengatakan hal-hal yang seharusnya kukatakan sejak dulu. Aku ingin bilang kalau aku minta maaf soal foto itu, kalau aku rindu obrolan kami tentang Kalimantan, dan kalau aku tahu dia sedang bersandiwara dengan Kaka.
Namun, baru saja satu langkah aku bergeser, kakiku seakan tertanam di lantai kelas yang berdebu.
Ada sesuatu yang menahanku. Bukan rasa benci, tapi rasa takut. Takut jika kehadiranku justru akan menambah lukanya. Takut jika dia akan kembali memanggilku "lo-gw" dengan nada dingin yang menusuk. Dan yang paling berat, aku teringat pada Aulia. Jika aku mendekati Wulan sekarang, apa artinya Aulia bagiku? Apakah aku hanya menjadikannya pelarian sementara?
Aku mengepalkan tangan, menatap punggung Wulan dari kejauhan. Rasa bimbang ini benar-benar menyiksa. Aku merasa seperti pecundang paling besar di SMA 7. Aku jago berkelahi melawan Kaka, aku berani menentang Pak Anwar, tapi aku tidak cukup berani untuk sekadar menyapa gadis yang sedang bersedih karena perbuatanku.
"Kha, kok malah bengong di situ? Yuk ke kantin, laper nih!" teriak Riko dari ambang pintu kelas, membuyarkan keberanianku yang baru saja terkumpul satu persen.
Aku menarik napas panjang, menghembuskannya dengan berat. Aku urungkan niatku untuk mendekati Wulan. Aku memutar badan, berjalan mengikuti Riko keluar kelas dengan perasaan yang semakin kacau.
Aku tahu, aku tidak bisa terus begini. Aku tidak bisa membiarkan Wulan terus sedih, tapi aku juga tidak bisa menyakiti Aulia yang sudah begitu baik padaku.
Jakarta ternyata tidak hanya memberikan tantangan fisik, tapi juga labirin perasaan yang sangat rumit. Dan sore itu, aku memilih untuk tetap tersesat di dalamnya, membiarkan ego dan ketakutanku memenangkan pertempuran di dalam kelas yang sunyi itu.
-
Malam di Jakarta kembali menunjukkan wajahnya yang bising namun terasa sepi di dalam kontrakan kecil kami. Suara mesin tik dan ketukan papan ketik komputer tua milik Om Satria mengisi ruangan, menciptakan irama monoton yang menemani tumpukan kertas referensi yang kian menguning.
Om Satria, dengan kacamata yang melorot sampai ke ujung hidung, tampak sangat serius menghadapi skripsinya yang seolah-olah memiliki nyawa sendiri skripsi legendaris yang tidak selesai-selesai sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta.
Aku duduk di kursi kayu tepat di sebelahnya, menyandarkan punggung yang terasa sangat kaku. Bau kopi hitam dan sisa aroma rokok di baju kami menyatu dalam keheningan. Aku menatap punggung Om Satria yang sedikit membungkuk, lalu menghela napas panjang. Beban di kepalaku tentang Wulan dan Aulia rasanya sudah meluap-luap, butuh tempat untuk tumpah.
"Om," panggilku lirih, memecah kesunyian.
Om Satria tidak menoleh, hanya jemarinya yang berhenti bergerak di atas keyboard. "Hmm? Apaan? Jangan minta duit ya, skripsi gue lagi kritis, dompet gue juga kritis."
Aku terkekeh tipis, tapi raut wajahku segera kembali mendung. "Bukan soal itu, Om. Gue... gue lagi galau banget nih. Urusan perasaan."
Mendengar kata "galau", Om Satria langsung memutar kursinya. Dia melepas kacamatanya, mengusap wajah yang tampak sangat lelah, lalu menatapku dengan sorot mata menyelidik yang jenaka.
"Gue sayang banget sama Wulan, Om. Tapi di satu sisi, gue ngerasa nyaman banget sama Aulia. Aulia itu asyik, dia bikin gue lupa sama masalah gue. Tapi pas liat Wulan sedih karena gue cuekin, rasanya dada gue kayak diperas. Gue bingung harus gimana," tanyaku dengan keberanian yang kukumpulkan sejak dari Warung Bi Jiah tadi.
Om Satria terdiam sejenak. Bukannya langsung memberikan petuah bijak seperti tokoh di film-alih-alih, dia justru tertawa terkekeh sampai bahunya berguncang.
"Laku juga ternyata lo ya, Kha! Padahal muka lo pas baru datang dari Kalimantan itu kayak orang bingung yang baru liat aspal. Sekarang malah pusing milih cewek," ucapnya sambil terus tertawa, membuat suasana tegang di hatiku sedikit mencair karena kelakuannya.
Setelah puas menertawakanku, Om Satria mengambil sebatang rokok, tapi tidak menyulutnya. Dia hanya memutar-mutarnya di jemari, seolah sedang memutar logika di kepalanya.
"Kha, dengerin pamanmu yang paling ganteng sejagat raya ini," ucapnya dengan nada sok serius yang selalu berhasil membuatku ingin melemparnya dengan sandal. "Dunia ini emang aneh. Kadang kita dikasih orang yang bikin kita nyaman buat lari dari kenyataan, kayak si Aulia itu. Tapi, kenyamanan itu seringkali cuma 'obat bius'. Lo ngerasa tenang karena lo nggak perlu mikirin masalah lo."
Dia menatapku lebih dalam, kali ini tanpa sisa tawa. "Tapi Wulan? Wulan itu bagian dari diri lo, Kha. Kalian satu tanah, satu rasa rindu sama kampung halaman. Masalah lo sama dia itu ibarat rumah yang retak. Lo bisa aja pindah ke hotel yang nyaman kayak Aulia, tapi tetep aja, hati lo bakal selalu pengen pulang ke rumah yang retak itu buat lo perbaikin."
Om Satria kemudian mengeluarkan lawakan khasnya yang garing. "Lagian, kalau lo pilih Wulan, setidaknya kalau lebaran atau natal nanti kita bisa titip salam lewat frekuensi Kalimantan yang sama. Kalau sama anak STM Jakarta, nanti lo malah diajak tawuran mulu tiap malem minggu!"
Meski diucapkan dengan penuh kelakar dan gaya santai, jawaban Om Satria justru memberiku tamparan kesadaran yang sangat keras. Aku menyadari satu hal yang selama ini coba kututup-tutupi: kenyamananku bersama Aulia memang nyata, tapi itu adalah kenyamanan seorang pelarian. Aku lari ke Aulia karena aku takut menghadapi luka yang ada pada Wulan.
Om Satria jauh lebih condong ke Wulan bukan karena dia tidak suka Aulia, tapi karena dia tahu siapa yang benar-benar mengisi setiap bait puisi yang kutulis secara sembunyi-sembunyi. Dia tahu siapa yang membuatku menangis tanpa suara tempo hari.
"Lo tahu kan, Kha? Sayang itu bukan cuma soal ketawa bareng pas makan bakso. Sayang itu soal berani minta maaf pas lo salah, dan berani memperbaiki apa yang hancur. Jangan jadi pengecut yang lari ke kenyamanan baru cuma karena lo takut ngakuin kalau lo masih sayang sama yang lama," tambah Om Satria, kali ini suaranya terdengar sangat kebapakan.
Aku menunduk, menatap lantai semen kontrakan yang dingin. Bayangan wajah Wulan yang sedang menelungkupkan kepalanya di atas meja ujian tadi siang kembali muncul. Rasa bersalah itu kini tidak lagi terasa seperti beban, melainkan seperti petunjuk.
"Makasih, Om. Gue tahu sekarang siapa yang harus gue perjuangin," ucapku mantap.
Om Satria hanya tersenyum tipis, lalu kembali memakai kacamatanya dan memutar posisi kursinya menghadap komputer lagi. "Yaudah, sana tidur. Jangan ganggu calon sarjana lagi. Gue mau lanjut ngetik, biar kalau lo nanti jadian beneran sama Wulan, gue udah bisa bayarin makan malam kalian pakai gaji pertama gue!"
Aku tertawa, kali ini lebih lepas. Aku berjalan menuju tempat tidur dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Jakarta malam ini tidak lagi terasa seperti labirin yang membingungkan. Pilihan itu kini sudah jelas. Besok, aku tidak akan lagi bersembunyi di balik sikap dingin atau kenyamanan sesaat.
Aku akan menghadapi Wulan, meminta maaf dengan sejujur-jujurnya, dan merebut kembali rumah yang sempat kubiarkan retak itu dari tangan siapa pun, termasuk Kaka.
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2