Kaskus

Story

f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA
Menaklukkan Ibu Kota


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan

Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan emoticon-Jempol

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan



Quote:

Menaklukkan Ibu Kota


Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
NankendraAvatar border
kelomangdaratAvatar border
YoayoayoAvatar border
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
#28
Bagian 21 : De Javu

Hari demi hari berlalu di belantara Jakarta yang panas, dan perlahan-lahan, kehadiran Aulia mulai mengikis kabut duka yang selama ini menyelimutiku. Rencana Dendi ternyata tidak sekadar bualan tongkrongan; dia benar-benar berhasil membawa "angin segar" ke dalam hidupku yang sempat mati suri.

Aku mulai merasa sedikit lega. Bayangan Wulan yang biasanya menghantui setiap sudut pikiranku, kini mulai tergeser oleh tawa blak-blakan Aulia dan cerita-cerita serunya tentang dunia STM yang keras namun solider.

Meski jujur saja, di lubuk hati yang paling dalam, sesekali nama Wulan masih berdenyut pelan, seperti luka lama yang belum kering benar, tapi setidaknya aku sudah bisa bernapas tanpa merasa sesak terus-menerus.

Sore itu, sepulang sekolah, matahari Jakarta masih menggantung rendah, memberikan warna jingga yang hangat di atas aspal. Seperti ritual wajib, aku memarkirkan motor di depan Warung Bi Jiah. Di sana, geng Bang Jago sudah berkumpul lengkap. Ada Riko yang sedang asyik pamer jurus silat barunya, Rio yang sibuk menyisir rambut, dan tentu saja, Aulia yang sedang duduk santai sambil memainkan kunci motornya.

"Woi, sang perantau baru dateng!" seru Bang Jago menyambutku dengan tepukan di pundak.

Aulia menoleh ke arahku dan tersenyum lebar. "Lama bener lo, Kha. Abis dihukum Pak Anwar lagi ya?"

"Nggak lah, aman," jawabku sambil tertawa kecil. Aku mendekat ke arahnya. "Gimana, jadi nggak cari bakso yang katanya enak banget itu?"

Seketika, suasana warung pecah oleh sorakan teman-teman tongkronganku.

"Ciyeee! Ada yang mau kencan nih!" goda Rio sambil mencolek dagu Riko yang langsung pasang muka manja.

"Sikat, Kha! Jangan kasih kendor! Kalimantan harus menang di kandang Persija!" timpal Riko dengan gaya tengilnya yang minta ampun, sambil memperagakan gerakan orang berdansa sendirian.

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka. Aulia sendiri hanya tertawa santai, sama sekali tidak merasa risih atau malu digoda begitu. Dia tipe cewek yang mentalnya sudah terlatih di sekolah teknik, jadi urusan "ceng-cengan" begini sudah seperti sarapan baginya.

Kami pun meluncur membelah kemacetan sore Jakarta menuju sebuah warung bakso pinggir jalan yang cukup legendaris di daerah itu. Aroma kaldu sapi yang gurih dan sambal yang menyengat langsung menyambut indra penciuman kami begitu sampai.

Setelah memesan dua porsi bakso urat dan es jeruk, kami duduk berhadapan. Tak lama kemudian, uap panas dari mangkuk bakso itu mengepul di depan wajah kami.

"Kelihatannya juara nih baksonya," ucapku sambil meraih botol kecap.

Baru saja aku mau menyambar sendok, Aulia tiba-tiba menahan tanganku dengan halus. "Tunggu, Kha. Kita berdoa dulu. Ini kan nikmat Tuhan yang harus disyukuri."

Aku tertegun sejenak. Aku melihat Aulia perlahan merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, menutup matanya dengan khidmat. Gestur itu... sangat familiar. Jantungku berdegup sedikit lebih cepat. Aku yang biasanya jarang berdoa di depan umum atau bahkan lupa berdoa karena terlalu lapar merasa sedikit tersentuh. Aku pun mengikuti langkahnya, menadahkan tanganku ke atas, membacakan doa makan dalam hati sesuai ajaran agamaku.

Keheningan singkat itu terasa sangat magis di tengah bisingnya klakson kendaraan di luar warung. Begitu Aulia membuka mata dan mengucapkan "Amin" dengan lembut, aku memberanikan diri untuk bertanya.

"Ul... lu Nonis (Non-Muslim) ya?" tanyaku dengan nada yang sangat pelan, hampir seperti bisikan.

Aulia mengangguk santai sambil mulai mengaduk kuah baksonya. "Iya, Kha. Ayah gue Katolik, tapi Ibu gue Islam. Mereka berdua tetap dengan keyakinan masing-masing sampai sekarang. Gue sendiri milih ikut jalur Ayah, gue Katolik."

Mendengar kata "Katolik", duniaku seolah berputar balik ke masa beberapa bulan yang lalu. Rasanya seperti ada petir yang menyambar di siang bolong. Ingatanku langsung melesat tajam menuju bioskop di mall itu, saat Wulan mengucapkan kata-kata yang hampir sama persis.

Terasa sebuah de javu yang sangat kuat. Aku merasa seperti sedang menonton ulang sebuah film yang sangat kukenali, namun dengan pemeran utama yang berbeda. Cara Aulia menangkupkan tangan, cara dia menghargai perbedaan di keluarganya, dan kenyataan bahwa lagi-lagi aku dipertemukan dengan seseorang yang memiliki keyakinan berbeda denganku.

Aku terdiam, memandangi bulatan bakso di mangkukku tanpa minat makan yang tersisa. Kenangan tentang Wulan yang mencari aku di tengah tawuran, Wulan yang mengobati lukaku, dan Wulan yang kecewa padaku, semuanya mendadak tumpang tindih dengan sosok Aulia yang ada di depanku sekarang.

"Kha? Kok bengong? Baksonya keburu dingin tuh," tegur Aulia, menyadari perubahan ekspresiku.

"Eh, nggak apa-apa, Ul. Gue cuma... kaget aja. Ternyata keluarga lo toleransinya tinggi banget ya," jawabku, mencoba menutupi kegoncangan di dalam hati.

"Iya, di rumah gue udah biasa beda pendapat tapi tetep satu meja makan. Kenapa? Lo punya masalah sama perbedaan ya?" tanya Aulia dengan tatapan menyelidik yang tajam.

Aku tersenyum kecut. "Nggak masalah sih, cuma... terasa familiar aja."

Sore itu, di warung bakso yang ramai, aku menyadari bahwa pelarianku mungkin belum benar-benar berakhir. Aku pikir aku sudah mulai melupakan Wulan, tapi kenyataan bahwa Aulia adalah seorang Katolik seolah menjadi pengingat dari semesta bahwa "perjuangan melawan perbedaan" mungkin memang sudah menjadi garis takdirku di Jakarta.

Aulia memang asyik, dia ceria dan bisa membuatku tertawa. Tapi di balik keramahannya, aku mulai takut. Takut jika sejarah akan terulang kembali. Takut jika perbedaan ini akan kembali menjadi tembok yang menghancurkan hatiku untuk kedua kalinya.

Namun, melihat Aulia yang asyik bercerita tentang ibunya yang tetap menyiapkan hidangan Natal, aku merasa ada sedikit harapan. Mungkin kali ini, ceritanya akan berakhir berbeda.

Sore itu, Jakarta tidak lagi terasa mencekam. Setelah semangkuk bakso yang menghangatkan perut, aku dan Aulia memacu motor membelah jalanan ibu kota yang mulai bermandikan cahaya lampu jalan. Angin sore menerpa wajahku, membawa aroma aspal basah dan polusi yang entah mengapa kali ini terasa lebih bersahabat.

Kami tidak punya tujuan pasti. Aku hanya memutar gas, membiarkan roda motor membawa kami menyusuri jalanan protokol, melewati gedung-gedung pencakar langit yang mulai menyalakan lampu kristalnya. Di belakangku, Aulia tidak henti-hentinya bercerita. Suaranya terkadang kalah oleh deru mesin bus kota, tapi tawanya selalu sampai ke telingaku.

"Kha! Lo tau nggak, di jurusan komputer itu isinya nggak cuma ngetik kode doang! Kadang kita juga harus bongkar CPU yang debunya udah setebal dosa!" teriak Aulia sambil tertawa di balik pundakku.

Aku terkekeh. "Kirain anak STM komputer itu kerjanya cuma main game di lab!"

"Enak aja! Gue ini calon teknisi handal, ya!" balasnya sambil menepuk bahuku pelan.

Percakapan kami mengalir deras. Kami bicara tentang banyak hal; tentang betapa mahalnya harga es teh manis di mall dibandingkan di Warung Bi Jiah, tentang kemacetan Jakarta yang tidak ada obatnya, hingga tentang mimpi-mimpi kecil kami setelah lulus nanti.

Aulia adalah pendengar yang baik, sekaligus teman bicara yang tidak pernah kehabisan topik. Bersamanya, aku merasa beban di pundakku sedikit terangkat.

Namun, ketenangan itu terusik saat kami berhenti di sebuah lampu merah daerah Jakarta Pusat. Di sebelah kanan motor kami, sebuah motor sport besar berhenti tepat di garis depan. Sosok pengendara dengan jaket kulit hitam yang sombong itu sangat kukenali. Kaka.

Dan di belakangnya, duduk seorang gadis dengan tas sekolah yang sangat familiar. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin, tangannya memegang erat pinggang Kaka. Wulan.

Hanya sekejap mata. Wulan menoleh ke arah kiri, dan mata kami bertemu selama dua detik. Ada kilatan kaget di matanya melihatku membonceng gadis lain, tapi dia segera membuang muka saat Kaka mulai memacu motornya begitu lampu berubah hijau. Raungan mesin motor sport itu seolah meneriakkan kemenangannya di depanku.

Duniaku serasa berhenti berputar sejenak. Rasa sesak yang sejak pagi kucoba kubur dalam-dalam, mendadak menyeruak kembali ke permukaan. Dada ini terasa perih, seperti luka lama yang baru saja disiram air garam.

"Kha? Kok bengong? Lampunya udah hijau tuh," tegur Aulia sambil menepuk helmku.

"Eh, iya... sori," jawabku gagap sambil mulai menjalankan motor dengan perlahan.

Pikiranku melayang pada rumor yang beredar kencang di sekolah selama seminggu terakhir. Teman-teman di kelas sering berbisik kalau Wulan dan Kaka sudah resmi jadian. Mereka selalu terlihat bersama di kantin, di perpustakaan, bahkan Kaka selalu setia menunggu di depan gerbang sekolah untuk mengantarnya pulang.

Melihat mereka berboncengan dengan mesra tadi seolah menjadi konfirmasi akhir bagi semua rumor itu. Kaka tidak hanya berhasil menghancurkan citraku di depan Wulan, tapi dia benar-benar berhasil memiliki apa yang selama ini kuperjuangkan.

Rasa cemburu? Tentu saja ada. Aku ini manusia biasa, bukan batu. Melihat gadis yang kucintai kini berada dalam dekapan musuh bebuyutanku adalah siksaan mental yang luar biasa. Namun, di tengah gemuruh rasa sakit itu, sebuah kesadaran mulai muncul.

Aku melirik ke arah kaca spion, melihat bayangan Aulia yang sedang asyik menikmati pemandangan kota. Aku tersadar, aku tidak boleh egois. Aulia ada di sini, memberikan waktunya dan tawanya untuk menghiburku yang sedang hancur.

Aku tidak boleh terus-menerus menengok ke belakang sambil membawa luka yang tak kunjung sembuh.

Mungkin ini memang sudah takdir Tuhan. Mungkin Jakarta mengirimkan Wulan hanya untuk memberiku pelajaran tentang kerasnya hidup dan pengkhianatan, lalu mengirimkan Aulia untuk mengajarkanku tentang cara bangkit kembali.

Perbedaan agama dengan Wulan mungkin memang tembok yang tak sengaja diingatkan kembali melalui sosok Aulia, tapi kali ini aku ingin menghadapinya dengan cara yang berbeda.

Aku menarik napas panjang, menghirup udara malam Jakarta sedalam-dalamnya. Aku membuang semua sisa-sisa harapan tentang Wulan bersama hembusan napasku.

"Ul!" panggilku sedikit keras agar terdengar di balik helm.

"Kenapa, Kha?"

"Habis ini kita cari martabak ya? Gue laper lagi," ucapku sambil mencoba tersenyum, kali ini tulus.

"Sikat! Tapi lo yang bayar ya!" sahut Aulia riang.

Aku memacu motorku lebih kencang, meninggalkan kenangan tentang Wulan dan Kaka di lampu merah tadi. Aku harus mulai melupakan Wulan secara total.

Aku harus membuka lembaran baru di buku hidupku yang masih kosong. Biarlah Wulan menjadi bagian dari masa lalu yang mendewasakanku, dan biarlah Aulia menjadi teman di masa sekarang yang membantuku menata kembali harga diriku.

Jakarta tetaplah kota yang keras, tapi malam ini aku belajar satu hal: kehilangan seseorang bukan berarti kehilangan dunia. Selama masih ada kawan yang mendukung dan semangat untuk bangkit, aku akan tetap bertahan. Selamat tinggal, Wulan. Selamat datang, lembaran baru.
itkgid
kulipriok
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.