Kaskus

Story

f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA
Menaklukkan Ibu Kota


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan

Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan emoticon-Jempol

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan



Quote:

Menaklukkan Ibu Kota


Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
NankendraAvatar border
kelomangdaratAvatar border
YoayoayoAvatar border
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
#27
Bagian 20 : Aulia

Malam itu, Jakarta terasa berputar dengan sangat cepat. Kesadaranku timbul tenggelam di tengah bisingnya suara knalpot motor yang beriringan.

Riko memboncengku dengan erat, memastikan tubuhku yang terkulai lemas tidak merosot ke aspal jalanan. Di belakang kami, Rio mengendarai motorku, diikuti oleh beberapa anak tongkrongan Warung Bi Jiah lainnya sebagai pengawal. Mereka semua bergerak dalam satu barisan, sebuah prosesi kesedihan yang mengantarkan "saudara" mereka yang sedang hancur lebur.

Aku tidak ingat persis bagaimana caranya aku sampai ke depan pintu kontrakan. Ingatanku hanya potongan-potongan buram: cahaya lampu jalan yang menyilaukan, aroma keringat Riko, dan rasa mual yang terus mengocok perutku.

Begitu sampai di depan kontrakan, Riko dan Rio harus membopongku masuk. Om Satria yang biasanya masih berkutat dengan skripsi, langsung melompat kaget melihat keponakannya pulang dalam kondisi mengenaskan.

Bau alkohol yang menyengat dan wajahku yang merah padam sudah cukup menjelaskan semuanya tanpa perlu banyak kata.

"Astaga, Rakha! Kenapa dia bisa begini?" teriak Om Satria, suaranya terdengar panik bercampur marah.

"Maaf, Om. Rakha lagi kacau banget gara-gara masalah di sekolah," jawab Riko pendek sambil berusaha menahan tubuhku yang mulai limbung.

Begitu dibaringkan di atas kasur tipisku, perutku tak lagi bisa berkompromi. Aku muntah sejadi-jadinya, mengotori lantai dan sebagian bajuku sendiri. Riko dan Rio dengan sigap membantu membersihkan kekacauan itu sebelum akhirnya pamit pulang, meninggalkan Om Satria yang terpaku melihat keponakan kebanggaannya hancur berkeping-keping.

Beberapa jam berlalu. Tengah malam telah lewat, dan keheningan Jakarta mulai menyergap. Aku terbangun dengan kepala yang rasanya seperti dihantam godam. Berat, berdenyut, dan sangat sakit.

Saat aku membuka mata dengan payah, aku melihat Om Satria duduk di samping kasurku. Dia tidak memegang buku skripsi, tidak juga sedang melawak garing seperti biasanya.

Dia hanya menatapku dengan tatapan yang sangat dalam tatapan seorang paman yang benar-benar peduli. Di sampingnya ada segelas air putih hangat dan handuk kecil yang masih basah.

"Sudah bangun, Kha?" suaranya rendah, tanpa ada nada ejekan.

Aku mencoba duduk, tapi kepalaku berputar. Aku hanya bisa meringis sambil memegangi keningku. "Maaf, Om..." lirihku. Rasa malu mulai merayap naik, mengalahkan rasa mabuk yang tersisa.

Om Satria menghela napas panjang. Dia menyerahkan gelas air putih itu padaku. "Minum dulu. Biar racun di tubuhmu itu sedikit berkurang."

Setelah aku meneguk air itu, Om Satria mulai bicara. Kali ini, tidak ada lawakan. Dia melepaskan kacamata tebalnya dan menatapku lurus.

"Rakha, dengerin Om. Om tahu Jakarta ini keras. Om tahu rasanya jadi perantau yang sering merasa asing di tanah orang. Tapi, menghancurkan diri sendiri dengan botol itu bukan cara laki-laki Kalimantan menyelesaikan masalah. Kita punya harga diri, Kha. Kita punya martabat."

Beliau terdiam sejenak, memberikan ruang bagiku untuk mencerna kata-katanya.

"Om tahu masalahmu sama Wulan. Riko sudah cerita sedikit tadi. Tapi lihat dirimu sekarang. Apa dengan begini Wulan bakal balik padamu? Enggak, Kha. Yang ada dia makin yakin kalau pilihannya menjauh itu benar. Kamu malah ngasih kemenangan gratis buat si Kaka itu."

Nasehat demi nasehat mengalir dari mulutnya. Om Satria bicara tentang masa depan, tentang harapan Bapak dan Ibu di kampung, dan tentang bagaimana seorang pria harus berdiri tegak meski hatinya sedang patah. Di saat serius seperti ini, barulah aku sadar bahwa Om Satria adalah sosok pelindung yang sebenarnya di kota ini.

Pada akhir nasehatnya, Om Satria menepuk pundakku pelan. "Cewek di luar sana itu banyak, Kha. Jakarta ini luas, bukan cuma soal Wulan doang. Jangan tutup duniamu cuma karena satu orang yang bahkan nggak mau denger penjelasanmu."

Aku menunduk dalam, menatap jari-jariku yang masih gemetar. Kalimat Om Satria sangat logis, sangat benar. Tapi hati tidak pernah bekerja dengan logika. Bayangan Wulan di atas motor Kaka, tawanya di kantin, dan kata "gw" yang dingin itu kembali terngiang.

"Tapi... gue sayang sama dia, Om," ucapku singkat. Suaraku pecah, hampir menyerupai bisikan putus asa.

Om Satria tidak tertawa mendengar pengakuanku yang terdengar cengeng itu. Dia hanya mengusap wajahnya, lalu berdiri untuk mematikan lampu kamar.

"Sayang itu perjuangan, Kha. Tapi perjuangan pertama adalah benerin dirimu sendiri dulu. Kalau kamu aja nggak bisa jaga dirimu, gimana kamu mau jaga dia?"

Om Satria melangkah keluar, meninggalkan aku sendirian dalam kegelapan. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di Jakarta, aku menangis tanpa suara.

Bukan karena alkohol, tapi karena aku menyadari bahwa mencintai Wulan adalah perjuangan paling berat yang pernah kuhadapi—perjuangan melawan egoku sendiri dan melawan takdir yang sepertinya sedang senang mempermainkanku.

Nasihat Om Satria malam itu perlahan meresap ke dalam kepalaku yang masih terasa berdenyut sisa semalam. Aku mulai menyadari bahwa mengejar seseorang yang sudah membangun tembok tinggi di depannya hanya akan membuatku makin hancur.

Dengan berat hati, aku memutuskan untuk mengambil langkah mundur. Aku mulai menjauh dari Wulan.

Setiap kali di sekolah, aku berusaha untuk tidak lagi mencuri pandang ke arah meja depannya. Aku membiarkan apa pun yang kulihat pemandangan Kaka yang memboncengnya, tawa mereka di koridor, atau perhatian-perhatian kecil Kaka yang sekarang diterima Wulan dengan tangan terbuka meskipun setiap kali melihatnya, dadaku terasa sesak seperti dihimpit beton seberat satu ton.

Untuk menghindari api cemburu yang terus membakar di kantin sekolah, aku lebih sering menghabiskan waktu istirahatku di Warung Bi Jiah. Bagiku, lebih baik menghirup asap rokok dan bau gorengan di sana daripada harus menghirup udara yang sama dengan Kaka dan Wulan di sekolah.

Siang itu, matahari Jakarta sedang terik-teriknya. Aku duduk menyandar di bangku kayu favoritku, menyesap es teh manis buatan Bi Jiah yang dinginnya menembus kerongkongan. Tak lama kemudian, deru motor terdengar mendekat. Dendi datang membonceng seorang cewek yang penampilannya cukup nyentrik untuk ukuran anak sekolah.

Gadis itu turun dari motor dengan lincah, melepas helmnya, dan mengibaskan rambutnya yang dipotong pendek sebahu. Dia mengenakan seragam STM yang khas, tapi tetap terlihat manis dengan caranya sendiri.

"Woi, para jagoan! Kenalin nih, personel baru buat hari ini," seru Dendi sambil menarik kursi untuk cewek itu duduk bergabung dengan kami semua.

Bang Jago dan Rio langsung memberikan kode-kode mata nakal, tapi Dendi segera menangkisnya dengan tawa. Cewek itu tampak tenang, sama sekali tidak merasa canggung berada di tengah kepulan asap rokok dan tampang-tampang sangar penghuni Warung Bi Jiah.

Dia menatapku, lalu menjulurkan tangannya dengan percaya diri. "Gue Aulia. Lo Rakha, kan? Yang dari Kalimantan itu? Soalnya Dendi cerita banyak soal lo ke gue kemarin," ucap Aulia dengan nada suara yang ceria dan blak-blakan.

Aku sedikit terkejut dengan keberaniannya. Aku menyambut tangannya yang terasa hangat. "Iya, gue Rakha. Dari Kalimantan."

"Wah, pas banget! Om gue ada yang tinggal di Kalimantan juga tuh, kalau nggak salah di Kalimantan *****," lanjut Aulia sambil menyebutkan daerah yang sama persis dengan kampung halamanku.

"Sama lah dengan gue juga," jawabku singkat, namun mulai merasa sedikit tertarik dengan obrolan ini. Setidaknya, membahas kampung halaman sedikit mengalihkan pikiranku dari rasa sakit hati.

Aulia ternyata bukan cewek sembarangan. Dia adalah siswi STM yang mengambil jurusan komputer. Di sekolahnya yang didominasi laki-laki, jurusannya memang menjadi tempat berkumpulnya anak-anak cewek.

Gaya bicaranya ceplas-ceplos, khas anak STM Jakarta yang sudah terbiasa bergaul keras, tapi dia punya sisi intelektual yang menarik saat membahas tentang teknologi atau tren musik terbaru.

Kami dengan cepat menjadi akrab. Aulia punya banyak cerita seru tentang bagaimana dia bertahan di sekolah teknik, tentang guru-gurunya yang galak, hingga pengalamannya saat melihat tawuran pelajar dari jauh. Tawanya yang lepas dan cara pandangnya yang positif seolah menjadi penawar racun di kepalaku.

"Lo jangan murung terus, Kha. Kalimantan itu tanah pejuang, masa lo kalah sama urusan di Jakarta?" goda Aulia sambil menyeruput es teh manisku tanpa izin.

Aku hanya terkekeh pelan. "Ya namanya juga hidup, Ul. Ada pasang surutnya."

"Surutnya kelamaan itu namanya kekeringan," timpalnya telak yang membuat Bang Jago dan Rio tertawa terbahak-bahak.

Belakangan, saat Aulia sedang asyik mengobrol dengan Bi Jiah di dapur, Dendi menyenggol bahuku sambil berbisik.

"Gimana, Kha? Asyik kan anaknya? Dia jomblo tuh, pinter lagi," ucap Dendi dengan kerlingan mata penuh arti.

Aku menyipitkan mata ke arah Dendi. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. "Den, jangan bilang lo bawa Aulia ke sini sengaja buat jodoh-jodohin gue?"

Dendi tertawa tanpa rasa bersalah. "Hahaha! Ketahuan ya? Habisnya gue nggak tega liat lo kayak mayat hidup gara-gara Wulan terus. Gue pikir, lo butuh 'suasana baru'. Aulia itu asyik, dia nggak bakal nuntut lo jadi orang suci, tapi dia bisa bikin lo ketawa. Itu yang lo butuhin sekarang, biar lo bisa move on."

Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Ada-ada saja pikiran teman-teman tongkronganku ini. Mereka mungkin terlihat sangar dan hobi minum, tapi kepedulian mereka terhadap kondisiku benar-benar tulus. Mereka ingin aku kembali menjadi Rakha yang dulu Rakha yang pemberani, bukan Rakha yang hanya bisa meratapi nasib di pojokan warung.

Meski hatiku masih terasa berat, kehadiran Aulia sore itu memberikan sedikit warna baru. Aku sadar bahwa Jakarta memang luas, dan mungkin Om Satria benar: dunia tidak berakhir hanya karena satu orang menjauh. Di bawah atap Warung Bi Jiah yang sederhana, aku mulai belajar untuk membuka kembali lembaran baru, meskipun bayangan Wulan masih tertinggal samar di sudut ingatan.
itkgid
kulipriok
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.