Kaskus

Story

f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA
Menaklukkan Ibu Kota


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan

Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan emoticon-Jempol

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan



Quote:

Menaklukkan Ibu Kota


Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
NankendraAvatar border
kelomangdaratAvatar border
YoayoayoAvatar border
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•0Anggota
Tampilkan semua post
f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
#25
Bagian 18 : Otot dan Hati

Persaingan di SMA 7 ternyata bukan cuma soal siapa yang paling jago di lapangan atau siapa yang paling ditakuti di koridor. Ada sebuah lapisan emosi yang lebih tajam dari sekadar tawuran antar kelas.

Aku baru menyadari bahwa dendam Kaka padaku tidak hanya lahir dari pecahan kaca atau kekalahannya saat duel di belakang sekolah.

Ada alasan yang lebih personal, sesuatu yang menyentuh harga dirinya sebagai "penguasa" sekolah. Kaka menyukai Wulan.

Mencintai gadis secantik dan sekalem Wulan memang tidak pernah mudah. Dia ibarat oase di tengah gersangnya suasana sekolah yang penuh tekanan. Wajar jika banyak mata yang mengarah padanya, dan sialnya, salah satu mata itu adalah milik Kaka.

Pagi itu, saat aku berjalan melewati koridor kelas 12 untuk menuju laboratorium, aku berpapasan dengan Kaka yang sedang bersandar di pilar. Dia tidak berteriak atau memaki seperti biasanya.

Dia hanya menatapku dengan sorot mata yang penuh kebencian yang dingin. Di sampingnya, Aji membisikkan sesuatu sambil melirikku sinis.

Aku tahu apa yang ada di pikiran mereka. Kaka merasa terhina. Bagi dia, seorang anak pindahan dari Kalimantan sepertiku tidak seharusnya mendapatkan perhatian dari gadis yang sudah lama ia incar. Kaka merasa kalah dua kali: kalah dalam adu fisik, dan yang paling menyakitkan bagi egonya, kalah dalam urusan hati.

"Kha, lo liat nggak muka si Kaka tadi?" bisik Riko saat kami sudah di dalam laboratorium. "Kayak singa kelaperan yang liat mangsanya diambil kucing kampung."

Aku hanya menghela napas, mencoba fokus menyiapkan mikroskop. "Gue nggak peduli, Ko. Urusan perasaan kan nggak bisa dipaksa."

"Masalahnya, orang kayak Kaka itu tipe yang kalau nggak bisa dapetin, mending dihancurin sekalian. Lo harus bener-bener jaga Wulan," tambah Riko dengan nada yang tumben-tumbenan serius.

Ketegangan ini semakin memuncak saat jam istirahat. Aku sedang duduk di depan kelas, memperhatikan Wulan yang sedang tertawa kecil bersama Bunga. Tiba-tiba, Kaka lewat bersama rombongannya. Dia sengaja berhenti tepat di depan Wulan, mencoba memberikan senyum yang dipaksakan.

"Lan, nanti pulang sekolah ada acara nggak? Gue mau ajak lo makan," suara Kaka terdengar lantang, sengaja agar aku yang duduk tak jauh dari sana mendengarnya.

Wulan terdiam sejenak. Dia melirik ke arahku sekilas sebuah kode yang hanya aku yang paham lalu kembali menatap Kaka dengan sopan namun dingin. "Maaf, Ka. Aku harus langsung pulang, ada urusan keluarga."

Penolakan halus itu seperti tamparan bagi Kaka. Dia melirikku dengan tajam, tangannya mengepal di samping saku celananya. Dia tahu, alasan "urusan keluarga" itu hanyalah tameng. Dia tahu bahwa di hari Minggu kemarin, Wulan justru menghabiskan waktu bersamaku di mall, bukan dengannya.

Kaka berbalik dan melangkah pergi tanpa pamit, tapi auranya meninggalkan rasa tidak enak di hatiku.

Sore hari di warung Bi Jiah, aku menceritakan kejadian itu pada Bang Jago. Beliau hanya mengangguk-angguk sambil menyeruput kopi hitamnya yang panas.

"Cinta itu emang bikin orang jadi gila, Kha," ucap Bang Jago tenang. "Apalagi buat cowok yang ngerasa punya segalanya kayak si Kaka itu. Dia bakal ngerasa lo itu penghalang besar."

"Aku cuma mau sekolah tenang, Bang. Tapi dia kayak nggak mau berhenti," keluhku sambil menyalut sebatang rokok.

"Tenang itu nggak bakal dikasih cuma-cuma, lo harus perjuangin," timpal Dendi dari sudut warung. "Saingan lo itu bukan cuma soal otot, tapi soal mental. Kaka itu punya akses lebih banyak di sini, dia anak lama. Tapi lo punya satu hal yang dia nggak punya."

"Apa itu, Bang?" tanyaku.

"Ketulusan anak rantau," jawab Bang Jago sambil tersenyum tipis. "Orang kayak lo berjuang pakai hati karena nggak punya apa-apa lagi selain harga diri. Itu yang bikin lo beda sama dia."

Malamnya, aku merenung di teras kontrakan Om Satria. Aku menyadari bahwa perjuanganku mendapatkan Wulan akan semakin berat. Bukan hanya tembok perbedaan agama yang harus kuruntuhkan, tapi juga gangguan dari orang-orang seperti Kaka yang merasa memiliki hak lebih atas Wulan.

Aku teringat chat Wulan semalam. Kehadirannya adalah kekuatanku, tapi sekaligus titik lemahku jika Kaka mulai berbuat licik. Aku mengepalkan tangan, menatap langit Jakarta yang mendung. Di tanah Kalimantan, aku belajar untuk tidak pernah mundur dari tantangan. Di Jakarta, pelajaran itu akan kuuji habis-habisan.

Dendam Kaka adalah api, tapi aku harus menjadi air yang tenang namun mampu memadamkan segalanya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak apa yang sudah kumulai dengan Wulan.

Suasana kelas yang biasanya riuh rendah oleh candaan Riko mendadak berubah mencekam. Saat itu jam istirahat baru saja dimulai, dan sebagian besar penghuni kelas masih membereskan buku. Aku masih duduk di bangku belakang, baru saja hendak mengajak Riko ke kantin, ketika pintu kelas terbuka dengan sentakan kasar.

Kaka masuk dengan langkah pongah, diikuti oleh Joni dan komplotannya. Wajah Kaka menyiratkan kemenangan yang ganjil, sebuah senyum miring yang menandakan dia membawa senjata baru untuk menghancurkanku bukan dengan kepalan tangan, melainkan dengan racun kata-kata.

Ia tidak menghampiriku. Alih-alih, ia berjalan lurus menuju meja Wulan yang sedang asyik berbincang dengan Bunga.

"Lan," panggil Kaka dengan suara yang sengaja diperkeras, cukup lantang untuk membuat seluruh penghuni kelas menoleh. "Gue cuma mau ngasih tau lo sesuatu. Biar lo nggak salah pilih orang."
Wulan mendongak, wajahnya menyiratkan kebingungan sekaligus ketidaksukaan. "Maksud kamu apa, Ka?"

Kaka melirikku sekilas dengan tatapan meremehkan sebelum kembali menatap Wulan. "Lo tau nggak? Si Rakha, anak baru kesayangan lo itu, sebenarnya cuma preman berkedok murid pindahan. Dia itu pemabuk berat, perokok, dan suka main cewek malam di tempat-tempat nggak bener."

Seketika, hening menyergap kelas. Aku merasakan darahku berdesir hebat. Jantungku berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena rasa malu yang luar biasa. Wulan menoleh ke arahku. Ekspresi wajahnya yang biasanya tenang dan ceria, kini perlahan berubah. Ada kilatan kekecewaan yang dalam di matanya, sebuah luka yang seolah berkata, "Benarkah itu kamu, Rakha?"

Melihat Wulan yang tampak terpukul, Kaka semakin bersemangat. "Dia cuma pura-pura baik di depan lo, Lan. Aslinya dia itu sampah masyarakat yang nggak pantes ada di sekolah ini."

"Woi, Ka! Kalau ngomong itu dijaga! Jangan main fitnah lo!" teriak Riko yang langsung berdiri dari kursinya. Riko adalah orang yang paling tahu rahasia-rahasiaku, dan dia tidak tahan melihat sahabatnya dipojokkan seperti itu.

Kaka tertawa sinis, sementara Joni maju selangkah sambil merogoh saku celananya. "Fitnah apaan? Kita nggak main omong kosong. Kita punya buktinya kok!"

Joni mengeluarkan sebuah ponsel dan menunjukkan layarnya tepat di depan wajah Wulan. Di sana, terpampang jelas foto-fotoku saat berada di Warung Bi Jiah tempo hari. Foto itu diambil secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela warung. Terlihat jelas aku sedang memegang segelas arak, dengan kepulan asap rokok di depanku, tertawa lepas bersama Bang Jago dan yang lainnya.

Di foto itu, aku memang terlihat seperti orang yang berbeda. Bukan Rakha yang menulis puisi di kelas, melainkan Rakha si anak nakal dari Kalimantan yang sedang menikmati sisi gelapnya.

"Gimana, Lan? Masih mau percaya sama orang yang kerjaannya mabuk-mabukan di warung remang-remang?" ejek Joni sambil tertawa puas.

Wulan menatap layar ponsel itu lama. Tangannya sedikit gemetar. Dia tidak berkata apa-apa, tapi setetes air mata tampak menggenang di sudut matanya. Dia menatapku sekali lagi, kali ini dengan tatapan yang sangat asing—sebuah tatapan sedih yang menghujam jantungku lebih dalam daripada pukulan mana pun.

Aku terdiam seribu bahasa. Aku ingin membela diri, ingin bilang bahwa aku minum hanya untuk menghangatkan badan atau karena solidaritas, tapi aku sadar itu semua hanya pembenaran. Faktanya, foto itu benar. Aku memang merokok, aku memang minum, dan aku memang sering berkumpul di tempat yang dianggap "nggak bener" oleh standar sekolah.

"Rakha..." suara Wulan hampir tak terdengar, serak dan penuh beban.

"Lan, dengerin gue dulu..." aku mencoba melangkah maju, tapi Kaka segera menghalangi jalanku dengan tangan tegapnya.

"Jangan deket-deket dia lagi, sampah," desis Kaka tepat di depan wajahku. "Lo udah ketahuan aslinya. Pergi lo balik ke hutan sana."

Riko hendak menerjang Kaka, tapi aku menahan bahunya. Aku melihat Wulan segera membereskan tasnya dengan terburu-buru. Tanpa sepatah kata pun, dia berlari keluar kelas, mengabaikan panggilan Bunga yang mencoba mengejarnya.

Kaka dan gerombolannya tertawa puas melihat kehancuranku. Mereka pergi meninggalkan kelas dengan perasaan menang. Mereka berhasil. Mereka tidak perlu mematahkan tulangku untuk mengalahkanku; mereka cukup mematahkan kepercayaan Wulan padaku.

Malam itu, Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya. Aku duduk di teras kontrakan, merenungi setiap kepul asap rokok di tanganku. Aku sadar, mencintai Wulan bukan hanya soal bersaing dengan Kaka, tapi soal bagaimana aku harus bertarung dengan masa laluku sendiri.

Fitnah itu "setengah benar", dan kebenaran itulah yang kini menjadi tembok paling tebal di antara aku dan gadis Dayak itu.

Perjuanganku sekarang bukan lagi soal adu otot, tapi bagaimana meyakinkan Wulan bahwa di balik segelas arak itu, ada hati yang benar-benar tulus menginginkannya.
Diubah oleh f4gry... 02-04-2026 18:04
itkgid
kulipriok
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.