- Beranda
- Stories from the Heart
Menaklukkan Ibu Kota
...
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA

Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan
Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan
Quote:

Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
f4gry...
#22
Bagian 17
Setelah badai di hari Agustusan itu, suasana SMA 7 tidak pernah benar-benar mendingin. Koridor sekolah yang biasanya hanya bising oleh suara tawa, kini berubah menjadi jalur perlintasan yang penuh ketegangan. Setiap kali rombongan kelas 11 berpapasan dengan anak kelas 12, udara seolah membeku.
Aji, Kaka, dan antek-anteknya selalu melempar tatapan tajam yang seolah berkata, "Urusan kita belum selesai." Sebaliknya, angkatan kami yang merasa sudah berhasil menunjukkan taring tidak mau kalah.
Kami membalas tatapan itu dengan dagu terangkat, menunjukkan bahwa kelas 11 bukan lagi sekadar adik kelas yang bisa mereka injak-injak.
Namun, nasib paling apes tetap jatuh ke tangan Riko.
Sebagai "aktor utama" yang memulai adu jotos, Riko harus menerima konsekuensi yang berat dari Pak Anwar. Selama satu minggu penuh setelah acara tujuh belasan, Riko dilarang pulang tepat waktu.
Dia dihukum membersihkan seluruh lapangan tengah yang luasnya minta ampun, sendirian.
Sore itu, aku duduk di pinggir lapangan sambil memperhatikan Riko yang sedang memunguti sisa-sisa plastik dan sampah bungkus makanan dengan wajah melas.
"Gila, Kha... Punggung gue mau copot. Ini lapangan luasnya kayak mau bikin bandara!" keluh Riko sambil menyeka keringat dengan seragam yang sudah basah kuyup.
"Makanya, lain kali kalau mau hajar orang liat-liat tempat, Ko. Jangan pas ada Pak Anwar lagi pegang toa," ledekku sambil melempar sebotol air mineral dingin ke arahnya.
Riko menangkap botol itu, lalu meminumnya dengan rakus. "Tapi puas, Kha! Lo liat kan muka si Aji pas gue tendang? Kayak kerupuk kesiram kuah soto, lembek!"
Aku hanya menggelengkan kepala. Aku tidak tega membiarkannya sendiri, jadi aku turun ke lapangan untuk membantunya memunguti sampah-sampah besar agar dia bisa cepat pulang. Bagiku, solidaritas bukan cuma soal ikut tawuran, tapi juga soal ikut kena hukuman.
Selesai menjalani "masa pembuangan" di lapangan, kami langsung memacu motor menuju Warung Bi Jiah. Kami butuh asupan gorengan dan es teh manis untuk mendinginkan kepala. Di sana, ternyata Bang Jago, Dendi, dan Rio sudah berkumpul seperti biasa.
Berita tentang tawuran antar angkatan di SMA 7 ternyata sudah sampai ke telinga mereka. Begitu kami masuk ke warung, Bang Jago langsung tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak kopi hitamnya.
"Hahahaha! Jadi ini pahlawan-pahlawan kesiangan yang bikin heboh SMA 7?" seru Bang Jago sambil menepuk-nepuk meja kayu dengan keras. "Gue dapet info, katanya kelas sebelas ngamuk gara-gara balon?"
"Bukan soal balonnya, Bang! Tapi soal harga diri!" sahut Riko yang langsung menyambar bakwan jagung panas milik Bi Jiah.
Bang Jago makin tertawa lepas. Tato naganya seolah ikut bergoyang karena tawanya yang menggelegar. "Gue suka gaya lo, Ko. Kecil-kecil cabe rawit. Tapi denger ya, di Jakarta ini, kalau lo udah berani pukul orang, lo harus siap dipukul balik. Itu hukum alamnya."
Dendi ikut menyahut sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. "Lagian berani bener lo berdua. Anak kelas dua belas itu biasanya punya 'bekingan' di luar. Hati-hati aja kalau tiba-tiba dicegat di jalan."
"Santai, Den. Selama Rakha masih bareng gue, nggak bakal ada yang berani macem-macem," ucap Riko dengan penuh percaya diri, padahal dia sendiri masih sering gemetar kalau melihat Pak Anwar.
Di tengah tawa mereka, aku hanya tersenyum tipis. Pikiranku justru kembali melayang pada Wulan. Sejak hari tawuran itu, Wulan jadi lebih sering memperhatikanku. Setiap kali aku lewat di depan mejanya, dia selalu menatap tanganku, memastikan tidak ada luka baru di sana.
"Kha, lo kenapa diem aja? Masih kepikiran Wulan?" tanya Rio tiba-tiba dengan nada menggoda.
"Nggak, cuma lagi mikir... kapan ya hidup gue di Jakarta ini bisa bener-bener tenang," jawabku sambil menyalut rokok.
Bang Jago menepuk pundakku, tatapannya sedikit lebih serius sekarang.
"Tenang itu mahal, Kha. Apalagi buat orang kayak kita. Tapi selama lo punya saudara yang berdiri di belakang lo, badai kayak gimanapun bakal kerasa kayak gerimis doang."
Aku mengangguk mantap. Kata-kata Bang Jago selalu punya cara untuk membuatku merasa kuat. Malam itu, di bawah temaram lampu warung Bi Jiah, aku merasa bahwa hidupku di Jakarta ini memang penuh dengan konflik mulai dari Kaka, Pak Anwar, hingga perbedaan keyakinan dengan Wulan tapi di sinilah aku belajar menjadi laki-laki yang sesungguhnya.
Jakarta mungkin keras, tapi di sini pulalah aku menemukan arti persaudaraan yang tak akan pernah kudapatkan di Kalimantan.
Di Warung Bi Jiah, suasana sore itu terasa begitu hidup. Tawa Bang Jago yang menggelegar bersahutan dengan ejekan-ejekan kasar khas tongkrongan kami. Riko, meski badannya masih pegal-pegal karena dihukum menyikat lapangan, tetap saja menjadi yang paling berisik.
"Gue bilang juga apa, pukulan gue tadi itu presisi banget! Si Aji sampe lupa ingatan bentar kayaknya," cerocos Riko sambil pamer gerakan tinju bayangan di depan Rio dan Dendi.
"Halah, presisi mata lo! Tadi gue liat lo merem pas mukul, untung kena dagunya. Kalau meleset, lo yang nyungsep ke got," timpal Rio walaupun dia gak melihat tawuran itu yang langsung disambut tawa serempak.
Aku hanya duduk menyandar, menikmati es teh manis dan kepulan asap rokok yang menari di udara. Sesekali aku ikut menimpali candaan mereka yang makin lama makin ngawur.
Namun, di tengah keriuhan itu, Bi Jiah yang sedari tadi sibuk menggoreng bakwan tiba-tiba meletakkan sutilnya. Beliau mendekat ke meja kami dengan handuk kecil yang tersampir di bahu, wajahnya mendadak serius.
"Eh, dengerin ya kalian para jagoan kesiangan," suara Bi Jiah memotong tawa kami. "Bibi emang udah biasa liat kalian minum atau bercanda kasar di sini. Tapi denger berita kalian tawuran di sekolah itu beda urusan. Kalian itu di Jakarta buat cari ilmu, buat banggain orang tua di kampung, bukan buat jadi samsak atau tukang pukul."
Kami semua terdiam. Kalau Bang Jago yang bicara kami segan, tapi kalau Bi Jiah yang bicara, kami tunduk. Beliau sudah seperti ibu bagi kami di tanah rantau ini.
"Ingat, kalau kalian kenapa-kenapa di sekolah, yang nangis itu ibu kalian di sana. Bukan si Kaka atau si Aji itu. Jangan sia-siain kesempatan sekolah cuma gara-gara ego setinggi langit," tambah Bi Jiah sambil menunjuk Riko dengan telunjuknya yang masih berminyak.
Riko hanya bisa nyengir kecut, sementara aku merenungkan setiap kata-katanya. Jakarta memang keras, tapi Bi Jiah mengingatkan kami bahwa ada hati yang harus dijaga di kampung halaman.
Setelah nasehat panjang dari Bi Jiah, kami pun memutuskan untuk bubar. Riko menawariku tumpangan pulang ke kontrakan Om Satria karena motor bebekku yang dibelikan bapak sedang ada sedikit masalah pada businya.
Sesampainya di kontrakan, suasana terasa sunyi, hanya terdengar bunyi tut-tut-tut dari papan ketik komputer. Kami melangkah masuk dan melihat Om Satria sedang duduk dengan kacamata yang melorot, dikelilingi oleh tumpukan kertas referensi dan buku-buku tebal. Skripsinya yang legendaris itu sepertinya masih berada di bab yang sama sejak bulan lalu.
"Waduh, calon sarjana kita lagi berjuang melawan maut nih!" seru Riko dengan nada riang yang tidak tahu tempat.
Om Satria menoleh, matanya merah karena kurang tidur. Tapi begitu melihat Riko, wajah lelahnya langsung berubah ceria. Dua orang ini memang satu frekuensi; sama-sama punya selera humor yang ajaib.
"Eh, ada menteri urusan keributan. Sini duduk, Ko! Lo dateng tepat waktu, otak gue udah mau berasap liat daftar pustaka ini," balas Om Satria sambil meregangkan otot-ototnya.
Aku sebenarnya sudah berusaha menutupi kejadian tawuran di sekolah sejak kemarin.
Aku tidak ingin Om Satria tahu dan berakhir melaporkannya ke Bapak di Kalimantan. Tapi, mulut Riko itu memang tidak ada filternya.
"Om, lo harus tau! Kemarin si Rakha jadi pahlawan kesiangan di SMA 7! Kita habis ngeratain angkatan kelas dua belas gara-gara balon!" cerocos Riko tanpa dosa.
Aku langsung memelototi Riko, tapi sudah terlambat. Om Satria langsung menoleh ke arahku dengan alis yang terangkat satu.
"Oh... jadi ini alasan lo pulang telat dan muka lo ada goresan dikit kemarin? Tawuran, Kha? Gayanya udah kayak anak STM Tanah Abang aja lo," goda Om Satria.
Bukannya marah besar, dia malah tertawa kecil. "Gimana? Menang nggak? Kalau kalah, malu-maluin marga kita aja lo!"
"Menang telak lah, Om! Rakha bahkan sempet-sempetnya nyelamatin bidadari kuncir kuda di tengah kerusuhan," tambah Riko makin menjadi-jadi.
Mereka berdua pun larut dalam sesi ngobrol dan ngelawak, menertawakan detail-detail konyol kejadian kemarin. Riko dengan bumbu-bumbu hiperbolanya, dan Om Satria dengan tanggapan garingnya yang malah bikin suasana makin pecah.
Aku hanya bisa pasrah, duduk di pojokan sambil berharap Om Satria tidak benar-benar menganggap ini masalah serius.
Malam pun semakin larut.
Riko sudah pulang sejak sejam yang lalu, dan Om Satria akhirnya menyerah pada skripsinya, kini terdengar dengkuran halus dari kamarnya. Aku berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar yang temaram.
Tiba-tiba, HP-ku bergetar di atas bantal. Sebuah notifikasi pesan masuk.
Jantungku berdegup kencang. Aku segera meraih ponsel dan membalasnya.
Tak butuh waktu lama bagi Wulan untuk membalas. Pesannya kali ini membuatku tersenyum sendiri di kegelapan kamar.
Aku terdiam membaca pesan itu. Ada rasa hangat yang menjalar di dada. Wulan tidak marah, dia justru khawatir. Dan di saat itulah aku menyadari, di antara kerasnya Jakarta, nasehat Bi Jiah, dan konyolnya Om Satria, pesan singkat dari Wulan inilah yang paling ampuh membuatku ingin menjadi orang yang lebih baik.
Aku memejamkan mata dengan senyum yang masih membekas. Besok mungkin Kaka masih akan menatapku sinis, tapi selama ada Wulan yang mengirimkan pesan seperti ini, aku merasa sanggup menghadapi apa pun yang Jakarta lemparkan padaku.
Setelah badai di hari Agustusan itu, suasana SMA 7 tidak pernah benar-benar mendingin. Koridor sekolah yang biasanya hanya bising oleh suara tawa, kini berubah menjadi jalur perlintasan yang penuh ketegangan. Setiap kali rombongan kelas 11 berpapasan dengan anak kelas 12, udara seolah membeku.
Aji, Kaka, dan antek-anteknya selalu melempar tatapan tajam yang seolah berkata, "Urusan kita belum selesai." Sebaliknya, angkatan kami yang merasa sudah berhasil menunjukkan taring tidak mau kalah.
Kami membalas tatapan itu dengan dagu terangkat, menunjukkan bahwa kelas 11 bukan lagi sekadar adik kelas yang bisa mereka injak-injak.
Namun, nasib paling apes tetap jatuh ke tangan Riko.
Sebagai "aktor utama" yang memulai adu jotos, Riko harus menerima konsekuensi yang berat dari Pak Anwar. Selama satu minggu penuh setelah acara tujuh belasan, Riko dilarang pulang tepat waktu.
Dia dihukum membersihkan seluruh lapangan tengah yang luasnya minta ampun, sendirian.
Sore itu, aku duduk di pinggir lapangan sambil memperhatikan Riko yang sedang memunguti sisa-sisa plastik dan sampah bungkus makanan dengan wajah melas.
"Gila, Kha... Punggung gue mau copot. Ini lapangan luasnya kayak mau bikin bandara!" keluh Riko sambil menyeka keringat dengan seragam yang sudah basah kuyup.
"Makanya, lain kali kalau mau hajar orang liat-liat tempat, Ko. Jangan pas ada Pak Anwar lagi pegang toa," ledekku sambil melempar sebotol air mineral dingin ke arahnya.
Riko menangkap botol itu, lalu meminumnya dengan rakus. "Tapi puas, Kha! Lo liat kan muka si Aji pas gue tendang? Kayak kerupuk kesiram kuah soto, lembek!"
Aku hanya menggelengkan kepala. Aku tidak tega membiarkannya sendiri, jadi aku turun ke lapangan untuk membantunya memunguti sampah-sampah besar agar dia bisa cepat pulang. Bagiku, solidaritas bukan cuma soal ikut tawuran, tapi juga soal ikut kena hukuman.
Selesai menjalani "masa pembuangan" di lapangan, kami langsung memacu motor menuju Warung Bi Jiah. Kami butuh asupan gorengan dan es teh manis untuk mendinginkan kepala. Di sana, ternyata Bang Jago, Dendi, dan Rio sudah berkumpul seperti biasa.
Berita tentang tawuran antar angkatan di SMA 7 ternyata sudah sampai ke telinga mereka. Begitu kami masuk ke warung, Bang Jago langsung tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak kopi hitamnya.
"Hahahaha! Jadi ini pahlawan-pahlawan kesiangan yang bikin heboh SMA 7?" seru Bang Jago sambil menepuk-nepuk meja kayu dengan keras. "Gue dapet info, katanya kelas sebelas ngamuk gara-gara balon?"
"Bukan soal balonnya, Bang! Tapi soal harga diri!" sahut Riko yang langsung menyambar bakwan jagung panas milik Bi Jiah.
Bang Jago makin tertawa lepas. Tato naganya seolah ikut bergoyang karena tawanya yang menggelegar. "Gue suka gaya lo, Ko. Kecil-kecil cabe rawit. Tapi denger ya, di Jakarta ini, kalau lo udah berani pukul orang, lo harus siap dipukul balik. Itu hukum alamnya."
Dendi ikut menyahut sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. "Lagian berani bener lo berdua. Anak kelas dua belas itu biasanya punya 'bekingan' di luar. Hati-hati aja kalau tiba-tiba dicegat di jalan."
"Santai, Den. Selama Rakha masih bareng gue, nggak bakal ada yang berani macem-macem," ucap Riko dengan penuh percaya diri, padahal dia sendiri masih sering gemetar kalau melihat Pak Anwar.
Di tengah tawa mereka, aku hanya tersenyum tipis. Pikiranku justru kembali melayang pada Wulan. Sejak hari tawuran itu, Wulan jadi lebih sering memperhatikanku. Setiap kali aku lewat di depan mejanya, dia selalu menatap tanganku, memastikan tidak ada luka baru di sana.
"Kha, lo kenapa diem aja? Masih kepikiran Wulan?" tanya Rio tiba-tiba dengan nada menggoda.
"Nggak, cuma lagi mikir... kapan ya hidup gue di Jakarta ini bisa bener-bener tenang," jawabku sambil menyalut rokok.
Bang Jago menepuk pundakku, tatapannya sedikit lebih serius sekarang.
"Tenang itu mahal, Kha. Apalagi buat orang kayak kita. Tapi selama lo punya saudara yang berdiri di belakang lo, badai kayak gimanapun bakal kerasa kayak gerimis doang."
Aku mengangguk mantap. Kata-kata Bang Jago selalu punya cara untuk membuatku merasa kuat. Malam itu, di bawah temaram lampu warung Bi Jiah, aku merasa bahwa hidupku di Jakarta ini memang penuh dengan konflik mulai dari Kaka, Pak Anwar, hingga perbedaan keyakinan dengan Wulan tapi di sinilah aku belajar menjadi laki-laki yang sesungguhnya.
Jakarta mungkin keras, tapi di sini pulalah aku menemukan arti persaudaraan yang tak akan pernah kudapatkan di Kalimantan.
Di Warung Bi Jiah, suasana sore itu terasa begitu hidup. Tawa Bang Jago yang menggelegar bersahutan dengan ejekan-ejekan kasar khas tongkrongan kami. Riko, meski badannya masih pegal-pegal karena dihukum menyikat lapangan, tetap saja menjadi yang paling berisik.
"Gue bilang juga apa, pukulan gue tadi itu presisi banget! Si Aji sampe lupa ingatan bentar kayaknya," cerocos Riko sambil pamer gerakan tinju bayangan di depan Rio dan Dendi.
"Halah, presisi mata lo! Tadi gue liat lo merem pas mukul, untung kena dagunya. Kalau meleset, lo yang nyungsep ke got," timpal Rio walaupun dia gak melihat tawuran itu yang langsung disambut tawa serempak.
Aku hanya duduk menyandar, menikmati es teh manis dan kepulan asap rokok yang menari di udara. Sesekali aku ikut menimpali candaan mereka yang makin lama makin ngawur.
Namun, di tengah keriuhan itu, Bi Jiah yang sedari tadi sibuk menggoreng bakwan tiba-tiba meletakkan sutilnya. Beliau mendekat ke meja kami dengan handuk kecil yang tersampir di bahu, wajahnya mendadak serius.
"Eh, dengerin ya kalian para jagoan kesiangan," suara Bi Jiah memotong tawa kami. "Bibi emang udah biasa liat kalian minum atau bercanda kasar di sini. Tapi denger berita kalian tawuran di sekolah itu beda urusan. Kalian itu di Jakarta buat cari ilmu, buat banggain orang tua di kampung, bukan buat jadi samsak atau tukang pukul."
Kami semua terdiam. Kalau Bang Jago yang bicara kami segan, tapi kalau Bi Jiah yang bicara, kami tunduk. Beliau sudah seperti ibu bagi kami di tanah rantau ini.
"Ingat, kalau kalian kenapa-kenapa di sekolah, yang nangis itu ibu kalian di sana. Bukan si Kaka atau si Aji itu. Jangan sia-siain kesempatan sekolah cuma gara-gara ego setinggi langit," tambah Bi Jiah sambil menunjuk Riko dengan telunjuknya yang masih berminyak.
Riko hanya bisa nyengir kecut, sementara aku merenungkan setiap kata-katanya. Jakarta memang keras, tapi Bi Jiah mengingatkan kami bahwa ada hati yang harus dijaga di kampung halaman.
Setelah nasehat panjang dari Bi Jiah, kami pun memutuskan untuk bubar. Riko menawariku tumpangan pulang ke kontrakan Om Satria karena motor bebekku yang dibelikan bapak sedang ada sedikit masalah pada businya.
Sesampainya di kontrakan, suasana terasa sunyi, hanya terdengar bunyi tut-tut-tut dari papan ketik komputer. Kami melangkah masuk dan melihat Om Satria sedang duduk dengan kacamata yang melorot, dikelilingi oleh tumpukan kertas referensi dan buku-buku tebal. Skripsinya yang legendaris itu sepertinya masih berada di bab yang sama sejak bulan lalu.
"Waduh, calon sarjana kita lagi berjuang melawan maut nih!" seru Riko dengan nada riang yang tidak tahu tempat.
Om Satria menoleh, matanya merah karena kurang tidur. Tapi begitu melihat Riko, wajah lelahnya langsung berubah ceria. Dua orang ini memang satu frekuensi; sama-sama punya selera humor yang ajaib.
"Eh, ada menteri urusan keributan. Sini duduk, Ko! Lo dateng tepat waktu, otak gue udah mau berasap liat daftar pustaka ini," balas Om Satria sambil meregangkan otot-ototnya.
Aku sebenarnya sudah berusaha menutupi kejadian tawuran di sekolah sejak kemarin.
Aku tidak ingin Om Satria tahu dan berakhir melaporkannya ke Bapak di Kalimantan. Tapi, mulut Riko itu memang tidak ada filternya.
"Om, lo harus tau! Kemarin si Rakha jadi pahlawan kesiangan di SMA 7! Kita habis ngeratain angkatan kelas dua belas gara-gara balon!" cerocos Riko tanpa dosa.
Aku langsung memelototi Riko, tapi sudah terlambat. Om Satria langsung menoleh ke arahku dengan alis yang terangkat satu.
"Oh... jadi ini alasan lo pulang telat dan muka lo ada goresan dikit kemarin? Tawuran, Kha? Gayanya udah kayak anak STM Tanah Abang aja lo," goda Om Satria.
Bukannya marah besar, dia malah tertawa kecil. "Gimana? Menang nggak? Kalau kalah, malu-maluin marga kita aja lo!"
"Menang telak lah, Om! Rakha bahkan sempet-sempetnya nyelamatin bidadari kuncir kuda di tengah kerusuhan," tambah Riko makin menjadi-jadi.
Mereka berdua pun larut dalam sesi ngobrol dan ngelawak, menertawakan detail-detail konyol kejadian kemarin. Riko dengan bumbu-bumbu hiperbolanya, dan Om Satria dengan tanggapan garingnya yang malah bikin suasana makin pecah.
Aku hanya bisa pasrah, duduk di pojokan sambil berharap Om Satria tidak benar-benar menganggap ini masalah serius.
Malam pun semakin larut.
Riko sudah pulang sejak sejam yang lalu, dan Om Satria akhirnya menyerah pada skripsinya, kini terdengar dengkuran halus dari kamarnya. Aku berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar yang temaram.
Tiba-tiba, HP-ku bergetar di atas bantal. Sebuah notifikasi pesan masuk.
Quote:
Jantungku berdegup kencang. Aku segera meraih ponsel dan membalasnya.
Quote:
Tak butuh waktu lama bagi Wulan untuk membalas. Pesannya kali ini membuatku tersenyum sendiri di kegelapan kamar.
Quote:
Aku terdiam membaca pesan itu. Ada rasa hangat yang menjalar di dada. Wulan tidak marah, dia justru khawatir. Dan di saat itulah aku menyadari, di antara kerasnya Jakarta, nasehat Bi Jiah, dan konyolnya Om Satria, pesan singkat dari Wulan inilah yang paling ampuh membuatku ingin menjadi orang yang lebih baik.
Aku memejamkan mata dengan senyum yang masih membekas. Besok mungkin Kaka masih akan menatapku sinis, tapi selama ada Wulan yang mengirimkan pesan seperti ini, aku merasa sanggup menghadapi apa pun yang Jakarta lemparkan padaku.
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2