- Beranda
- Stories from the Heart
Menaklukkan Ibu Kota
...
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA

Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan
Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan
Quote:

Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
f4gry...
#19
Bagian 16 : Baga
Agustus 2016. Jakarta sedang terik-teriknya, namun panas matahari kalah saing dengan panasnya tensi di lapangan SMA 7.
Hari itu, perayaan kemerdekaan yang seharusnya penuh tawa berubah menjadi arena pembuktian harga diri. Lapangan tengah sudah disulap menjadi area lomba antar kelas, lengkap dengan tali rafia sebagai pembatas dan sorak-sorai siswa yang memecah langit.
Aku dan Riko berdiri di garis start untuk lomba estafet balon. Riko, dengan gaya petentengannya yang khas, berkali-kali melambaikan tangan ke arah Bunga yang menonton di pinggir lapangan. Dia tampak sangat percaya diri, seolah kemenangan sudah di tangan.
"Kha, fokus! Habis ini kita libas kelas dua belas. Biar Bunga liat kalau cowoknya ini titisan atlet lari!" bisik Riko sambil menyeringai.
Aku tertawa kecil. "Atlet lari dari kenyataan maksud lo? Udah, jagain itu balon jangan sampai pecah!"
Lomba dimulai. Kami bergerak sinkron, menjepit balon di antara punggungku dan dada Riko, berlari zig-zag melewati rintangan. Kami unggul jauh. Saat menyentuh garis finis, jelas sekali kami yang pertama sampai. Namun, di sana berdiri Aji, salah satu panitia dari kelas 12 yang juga merupakan tangan kanan Kaka.
Aji menatap kami dengan sinis. Dia mengangkat peluitnya tinggi-tinggi.
PRIIIIITTT!
"Pemenangnya... Kelas 12!" teriak Aji lantang.
Lapangan mendadak hening. Anak-anak kelas 11 melongo. Jelas-jelas perwakilan kelas 12 masih tertinggal dua meter di belakang kami. Ini bukan lagi soal salah lihat, ini sabotase.
"Woi! Buta mata lo, Ji?" teriak Riko. Emosinya yang meledak-ledak langsung naik ke ubun-ubun.
DOOORRR!!
Dia memecahkan balon di tangannya dengan remasan kasar—suara letusannya seperti tembakan pembuka perang.
Tanpa babibu, Riko menerjang Aji. Sebuah pukulan mentah mendarat di rahang Aji hingga ia terjerembap ke meja panitia.
"KELAS 11 MAJU! JANGAN MAU DIINJEK KAKAK KELAS!" teriak Vio, teman seangkatan kami yang memang sudah lama memendam dendam pada keangkuhan anak kelas 12.
Seketika, lapangan berubah menjadi lautan seragam putih abu-abu yang saling hantam. Anak-anak kelas 10 hanya bisa mematung di pinggir lapangan, wajah mereka pucat melihat tawuran antar angkatan pecah di depan mata.
Suara teriakan, makian, dan bunyi gesekan sepatu di aspal lapangan menyatu. Aku melihat Riko dikeroyok dua orang kelas 12. Aku baru saja hendak melompat masuk ke kerumunan untuk membantunya ketika mataku menangkap sesuatu yang membuat jantungku berhenti berdetak.
Di tengah hiruk-pikuk orang saling pukul, ada seorang gadis yang berjalan dengan wajah bingung dan ketakutan. Wulan. Dia tampak seperti orang linglung di tengah badai, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari seseorang.
Seorang siswa kelas 12 yang sedang emosi mengayunkan tinju asalan ke arah kerumunan, dan arahnya tepat menuju wajah Wulan.
"WULAN! AWAS!" teriakku.
Aku berlari sekencang mungkin, menerjang kerumunan. Sebelum tinju itu mendarat, aku berhasil merangkul bahu Wulan dan menariknya dengan sentakan kuat ke arah dadaku. Pukulan itu meleset tipis, hanya mengenai udara.
Aku tidak peduli lagi dengan perkelahian di belakangku. Aku menarik tangan Wulan, membawanya menjauh dari pusat massa, menuju sudut dekat gudang olahraga tempat Bunga berdiri gemetar melihat Riko berkelahi.
"Kamu nggak apa-apa, Lan?" tanyaku dengan napas memburu.
Wulan menatapku dengan mata berkaca-kaca, napasnya tersengal. "Aku... aku nggak apa-apa, Kha."
Rasa panik yang luar biasa membuat kontrol diriku hilang. Logat asliku yang biasanya kusembunyikan di Jakarta mendadak keluar begitu saja.
"Kamu sama Bunga aja di sini, jangan jadi orang baga! Kenapa lari ke tengah keramaian itu? Nanti kamu kena pukul mereka, tahu nggak!" bentakku karena terlalu khawatir. Kata baga—yang berarti bodoh dalam bahasa Dayak—terlontar begitu saja dari mulutku.
Wulan menunduk, wajahnya memerah. "Iya..." ucapnya pelan. "Tapi tadi aku nyariin kamu, Kha. Aku takut kamu kelahi lagi terus luka-luka lagi kayak kemarin."
Mendengar alasannya, amarahku langsung padam. Ternyata dia membahayakan dirinya sendiri hanya karena mengkhawatirkanku.
Aku menoleh ke arah lapangan, melihat Riko masih bergulat dengan Aji di bawah tiang bendera.
"Gue pasti nggak kenapa-kenapa. Lan, gue balik dulu ya, kasihan Riko!" ucapku hendak kembali masuk ke kerumunan. Aku merasa tidak enak meninggalkan sahabatku berjuang sendirian.
Namun, saat aku baru melangkah satu kaki, aku merasakan tarikan kuat di ujung seragam SMA-ku. Aku menoleh. Wulan memegang erat bajuku dengan tangan yang gemetar. Dia menggelengkan kepalanya pelan, matanya menatapku dengan tatapan memohon agar aku tidak pergi ke sana.
Duniaku serasa berhenti sejenak. Tarikan tangan kecil itu jauh lebih kuat daripada tantangan berkelahi mana pun. Demi menghargai permintaannya, aku menghembuskan napas berat dan mengurungkan niatku. Aku memilih diam di sampingnya, menjaganya tetap aman, meskipun hatiku masih panas melihat kekacauan di lapangan.
"Mungkin hari ini harinya Riko," gumamku dalam hati saat melihat Riko berhasil memberikan satu tendangan telak ke perut Aji sebelum suasana semakin kacau.
Tak lama kemudian, suara peluit yang benar-benar resmi menggema. Pak Anwar muncul dari koridor lantai dua dengan wajah yang merah padam, diikuti oleh beberapa guru olahraga.
"BERHENTI SEMUA! MASUK RUANG BK SEKARANG!" gelegar suara Pak Anwar yang membuat nyali semua orang ciut.
Tawuran itu bubar seketika. Aji dan Riko, sebagai dua provokator utama, langsung diringkus dan digiring menuju ruang BK. Riko sempat melirikku dengan wajah penuh debu dan darah di sudut bibirnya, memberikan jempol seolah berkata, "Gue aman, Bos!"
Aku menarik napas lega. Sore itu, perayaan kemerdekaan berakhir dengan aroma antiseptik di ruang UKS dan dinginnya ruang BK. Tapi bagiku, ada sesuatu yang lebih penting dari kemenangan lomba estafet: Wulan mencari aku. Dia mengkhawatirkan keselamatanku di atas keselamatannya sendiri.
Malamnya, saat aku merenung di kontrakan Om Satria, aku tersenyum sendiri mengingat bagaimana aku memarahi Wulan dengan bahasa Dayak. Jakarta memang tempat yang asing, tapi kehadiran Wulan perlahan-lahan membuat kota ini terasa seperti rumah yang kukenal di pedalaman Kalimantan.
Agustus 2016. Jakarta sedang terik-teriknya, namun panas matahari kalah saing dengan panasnya tensi di lapangan SMA 7.
Hari itu, perayaan kemerdekaan yang seharusnya penuh tawa berubah menjadi arena pembuktian harga diri. Lapangan tengah sudah disulap menjadi area lomba antar kelas, lengkap dengan tali rafia sebagai pembatas dan sorak-sorai siswa yang memecah langit.
Aku dan Riko berdiri di garis start untuk lomba estafet balon. Riko, dengan gaya petentengannya yang khas, berkali-kali melambaikan tangan ke arah Bunga yang menonton di pinggir lapangan. Dia tampak sangat percaya diri, seolah kemenangan sudah di tangan.
"Kha, fokus! Habis ini kita libas kelas dua belas. Biar Bunga liat kalau cowoknya ini titisan atlet lari!" bisik Riko sambil menyeringai.
Aku tertawa kecil. "Atlet lari dari kenyataan maksud lo? Udah, jagain itu balon jangan sampai pecah!"
Lomba dimulai. Kami bergerak sinkron, menjepit balon di antara punggungku dan dada Riko, berlari zig-zag melewati rintangan. Kami unggul jauh. Saat menyentuh garis finis, jelas sekali kami yang pertama sampai. Namun, di sana berdiri Aji, salah satu panitia dari kelas 12 yang juga merupakan tangan kanan Kaka.
Aji menatap kami dengan sinis. Dia mengangkat peluitnya tinggi-tinggi.
PRIIIIITTT!
"Pemenangnya... Kelas 12!" teriak Aji lantang.
Lapangan mendadak hening. Anak-anak kelas 11 melongo. Jelas-jelas perwakilan kelas 12 masih tertinggal dua meter di belakang kami. Ini bukan lagi soal salah lihat, ini sabotase.
"Woi! Buta mata lo, Ji?" teriak Riko. Emosinya yang meledak-ledak langsung naik ke ubun-ubun.
DOOORRR!!
Dia memecahkan balon di tangannya dengan remasan kasar—suara letusannya seperti tembakan pembuka perang.
Tanpa babibu, Riko menerjang Aji. Sebuah pukulan mentah mendarat di rahang Aji hingga ia terjerembap ke meja panitia.
"KELAS 11 MAJU! JANGAN MAU DIINJEK KAKAK KELAS!" teriak Vio, teman seangkatan kami yang memang sudah lama memendam dendam pada keangkuhan anak kelas 12.
Seketika, lapangan berubah menjadi lautan seragam putih abu-abu yang saling hantam. Anak-anak kelas 10 hanya bisa mematung di pinggir lapangan, wajah mereka pucat melihat tawuran antar angkatan pecah di depan mata.
Suara teriakan, makian, dan bunyi gesekan sepatu di aspal lapangan menyatu. Aku melihat Riko dikeroyok dua orang kelas 12. Aku baru saja hendak melompat masuk ke kerumunan untuk membantunya ketika mataku menangkap sesuatu yang membuat jantungku berhenti berdetak.
Di tengah hiruk-pikuk orang saling pukul, ada seorang gadis yang berjalan dengan wajah bingung dan ketakutan. Wulan. Dia tampak seperti orang linglung di tengah badai, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari seseorang.
Seorang siswa kelas 12 yang sedang emosi mengayunkan tinju asalan ke arah kerumunan, dan arahnya tepat menuju wajah Wulan.
"WULAN! AWAS!" teriakku.
Aku berlari sekencang mungkin, menerjang kerumunan. Sebelum tinju itu mendarat, aku berhasil merangkul bahu Wulan dan menariknya dengan sentakan kuat ke arah dadaku. Pukulan itu meleset tipis, hanya mengenai udara.
Aku tidak peduli lagi dengan perkelahian di belakangku. Aku menarik tangan Wulan, membawanya menjauh dari pusat massa, menuju sudut dekat gudang olahraga tempat Bunga berdiri gemetar melihat Riko berkelahi.
"Kamu nggak apa-apa, Lan?" tanyaku dengan napas memburu.
Wulan menatapku dengan mata berkaca-kaca, napasnya tersengal. "Aku... aku nggak apa-apa, Kha."
Rasa panik yang luar biasa membuat kontrol diriku hilang. Logat asliku yang biasanya kusembunyikan di Jakarta mendadak keluar begitu saja.
"Kamu sama Bunga aja di sini, jangan jadi orang baga! Kenapa lari ke tengah keramaian itu? Nanti kamu kena pukul mereka, tahu nggak!" bentakku karena terlalu khawatir. Kata baga—yang berarti bodoh dalam bahasa Dayak—terlontar begitu saja dari mulutku.
Wulan menunduk, wajahnya memerah. "Iya..." ucapnya pelan. "Tapi tadi aku nyariin kamu, Kha. Aku takut kamu kelahi lagi terus luka-luka lagi kayak kemarin."
Mendengar alasannya, amarahku langsung padam. Ternyata dia membahayakan dirinya sendiri hanya karena mengkhawatirkanku.
Aku menoleh ke arah lapangan, melihat Riko masih bergulat dengan Aji di bawah tiang bendera.
"Gue pasti nggak kenapa-kenapa. Lan, gue balik dulu ya, kasihan Riko!" ucapku hendak kembali masuk ke kerumunan. Aku merasa tidak enak meninggalkan sahabatku berjuang sendirian.
Namun, saat aku baru melangkah satu kaki, aku merasakan tarikan kuat di ujung seragam SMA-ku. Aku menoleh. Wulan memegang erat bajuku dengan tangan yang gemetar. Dia menggelengkan kepalanya pelan, matanya menatapku dengan tatapan memohon agar aku tidak pergi ke sana.
Duniaku serasa berhenti sejenak. Tarikan tangan kecil itu jauh lebih kuat daripada tantangan berkelahi mana pun. Demi menghargai permintaannya, aku menghembuskan napas berat dan mengurungkan niatku. Aku memilih diam di sampingnya, menjaganya tetap aman, meskipun hatiku masih panas melihat kekacauan di lapangan.
"Mungkin hari ini harinya Riko," gumamku dalam hati saat melihat Riko berhasil memberikan satu tendangan telak ke perut Aji sebelum suasana semakin kacau.
Tak lama kemudian, suara peluit yang benar-benar resmi menggema. Pak Anwar muncul dari koridor lantai dua dengan wajah yang merah padam, diikuti oleh beberapa guru olahraga.
"BERHENTI SEMUA! MASUK RUANG BK SEKARANG!" gelegar suara Pak Anwar yang membuat nyali semua orang ciut.
Tawuran itu bubar seketika. Aji dan Riko, sebagai dua provokator utama, langsung diringkus dan digiring menuju ruang BK. Riko sempat melirikku dengan wajah penuh debu dan darah di sudut bibirnya, memberikan jempol seolah berkata, "Gue aman, Bos!"
Aku menarik napas lega. Sore itu, perayaan kemerdekaan berakhir dengan aroma antiseptik di ruang UKS dan dinginnya ruang BK. Tapi bagiku, ada sesuatu yang lebih penting dari kemenangan lomba estafet: Wulan mencari aku. Dia mengkhawatirkan keselamatanku di atas keselamatannya sendiri.
Malamnya, saat aku merenung di kontrakan Om Satria, aku tersenyum sendiri mengingat bagaimana aku memarahi Wulan dengan bahasa Dayak. Jakarta memang tempat yang asing, tapi kehadiran Wulan perlahan-lahan membuat kota ini terasa seperti rumah yang kukenal di pedalaman Kalimantan.
Diubah oleh f4gry... 02-04-2026 07:00
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2