Kaskus

Story

f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA
Menaklukkan Ibu Kota


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan

Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan emoticon-Jempol

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan



Quote:

Menaklukkan Ibu Kota


Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
NankendraAvatar border
kelomangdaratAvatar border
YoayoayoAvatar border
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
#18
Bagian 15 : Arak

Keesokan harinya di sekolah, aku merasa seperti menyimpan sebuah rahasia besar yang paling berharga di seluruh Jakarta.

Duduk di barisan belakang kelas, aku sesekali melirik ke arah Wulan. Dia masih sama—tenang, rapi, dengan kuncir kuda yang sesekali bergoyang saat dia mencatat.

Namun, sekarang ada ikatan tak kasat mata di antara kami: rahasia tentang kencan di mall kemarin, dan kenyataan bahwa kami adalah dua anak perantau dari tanah Kalimantan yang sama.

Aku sengaja tidak menceritakan apa pun pada siapa pun, termasuk pada Riko. Biarlah momen itu menjadi milikku dan Wulan saja.

Di sampingku, Riko sedang dalam mode terbaiknya sebagai pengganggu nomor satu. Dia tidak henti-hentinya menggoda Bunga yang sedang serius menyalin catatan sejarah dari papan tulis.

"Bunga... serius amat sih nyalinnya. Tulisan lo itu udah rapi, tapi bakal lebih rapi lagi kalau ada nama gue di daftar masa depan lo," celetuk Riko sambil menyenggol siku Bunga dengan pulpennya.

"Riko! Diem nggak! Ini tinggal sedikit lagi selesai, nanti kalau kecoret gue coret muka lo ya!" balas Bunga ketus, tapi aku bisa melihat sudut bibirnya sedikit tertahan untuk tidak tersenyum. Memang dasar Bunga, dia selalu pura-pura marah, padahal aku tahu dia sebenarnya menikmati perhatian dari si otak geser ini.

Riko tertawa terbahak-bahak, lalu beralih menatapku yang sedari tadi hanya diam senyam-senyum sendiri. Dia memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung sepatu dengan tatapan curiga.

"Lo kenapa sih, Kha? Dari tadi pagi muka lo cerah bener kayak abis dapet kiriman dari kampung. Atau... tangan lo udah sembuh abis tinju meja Pak Anwar?" tanya Riko menyelidik.

Aku hanya mengangkat bahu sambil terus memutar-mutar pulpen di jemariku. "Gue cuma lagi ngerasa Jakarta nggak seburuk itu, Ko."

Riko mendengus, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. "Halah, jangan seneng dulu. Nanti kalau ketemu Kaka di koridor, panas lagi tuh hati lo. Gue dapet kabar si Kaka masih dendam soal kaca pecah kemarin. Dia nggak terima lo cuma dihukum pukul meja."

Mendengar nama Kaka, suasana hatiku yang tadinya tenang sedikit terusik. Bayangan wajah Kaka yang sombong dan hinaan "monyet Kalimantan" dari Joni kembali terngiang. Namun, kali ini aku mencoba tetap tenang.

Aku tidak ingin merusak momen indah yang baru saja aku lalui bersama Wulan hanya karena emosi sesaat.

"Biarin aja, Ko. Selama dia nggak nyenggol fisik atau bawa-bawa orang yang gue sayang, gue bakal diem," jawabku dingin.

Riko menatapku tak percaya. "Wah, lo beneran udah berubah ya? Apa jangan-jangan lo abis ketemu dukun sakti pas malam Minggu kemarin?"

Aku hanya tertawa kecil mendengar omongan ngawur Riko. Dia tidak tahu bahwa "dukun sakti" yang mengubahku adalah seorang gadis Dayak Katolik yang kemarin duduk di sampingku di dalam bioskop yang dingin.

Seseorang yang membuatku sadar bahwa berantem itu membuang waktu, sedangkan memperjuangkan masa depan dengannya adalah tantangan yang sesungguhnya.

Namun, di sudut hatiku yang paling dalam, peringatan Riko ada benarnya. Jakarta adalah rimba, dan predator seperti Kaka tidak akan pernah membiarkan mangsanya hidup tenang begitu saja. Aku harus tetap waspada, karena badai yang lebih besar mungkin sedang mengintai di balik damainya suasana kelas pagi ini.

Bel sekolah yang berbunyi untuk istirahat terakhir seolah menjadi sinyal bagi kami untuk mencari udara segar.

Karena ada rapat guru yang mendadak, suasana sekolah jadi tidak menentu. Aku dan Riko, tanpa perlu banyak bicara, langsung memberikan kode mata. Kami memutuskan untuk melipir, memanjat pagar belakang yang sudah hafal di luar kepala, dan berjalan cepat menuju markas besar:

Warung Bi Jiah.

Sesampainya di sana, suasana sudah ramai. Di pojokan warung, Bang Jago, Dendi, dan Rio sedang asyik membanting kartu ke meja kayu dengan semangat.

Di tengah meja, bukan cuma ada es teh manis, tapi ada beberapa botol minuman keras yang baunya cukup menyengat. Bi Jiah sendiri tampak santai saja, seolah pemandangan anak-anak muda "minum" di warungnya sudah menjadi bagian dari dekorasi tempat itu setiap hari.

"Woi, sang pujangga datang! Sini duduk, Kha!" teriak Bang Jago sambil menyodorkan segelas kecil ke arahku.

Aku duduk di samping Riko, menghirup aroma alkohol yang langsung membangkitkan ingatan tentang kampung halaman. Di Kalimantan, aku memang bukan anak alim.

Aku sudah terbiasa dengan kerasnya arak Kalimantan dan kepulan asap rokok saat berkumpul dengan kawan-kawan di sana. Di lingkungan inilah aku merasa topeng "murid teladan" yang kupakai di depan Wulan atau "anak penurut" di depan orang tuaku bisa dilepaskan sejenak. Di sini, aku bisa menjadi diri sendiri yang liar.

Sebagai seorang Muslim, orang tuaku sangat menentang kebiasaan ini. Mereka sangat keras mendidikku soal agama. Namun, darah mudaku selalu mencari celah.

Dulu di kampung, aku sering sembunyi-sembunyi minum di rumah sepupuku seorang pria eksentrik yang rekor pernikahannya sudah sampai empat kali. Di rumahnya yang selalu ramai itulah aku belajar arti "kebebasan" yang salah jalan.

"Gimana, Kha? Berani nggak lo nyicipin racikan Jakarta? Atau takut kena marah Om lo?" ejek Rio sambil tertawa, menunjukkan kartu di tangannya.

"Halah, jangan remehkan orang Kalimantan, Yo. Di sana kita minum bukan buat mabuk doang, tapi buat hangatin badan," balasku sambil menyambar gelas yang disodorkan Bang Jago.

Aku meneguknya perlahan. Rasa panas yang membakar tenggorokan seolah membakar semua rasa penatku. Pikiranku yang tadi penuh dengan bayangan Wulan dan kerumitan perbedaan agama kami, kini sedikit mengabur, tergantikan oleh rasa solid yang ditawarkan oleh teman-teman di sekelilingku.

"Kha, lo boleh bandel di sini, tapi inget pesen gue," ucap Bang Jago tiba-tiba, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

"Kita minum buat seneng-seneng, bukan buat bikin masalah. Jangan sampai lo mabuk terus bikin malu di sekolah, apalagi depan cewek kuncir kuda lo itu."

Aku tersedak sedikit mendengarnya. "Kok Abang bawa-bawa dia sih?"

"Tampang lo itu kebaca, Kha. Lo boleh minum kayak preman, tapi mata lo kalau udah bahas Wulan langsung kayak anak kucing," ledek Dendi yang disambut tawa serentak oleh yang lain.

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menyalut sebatang rokok. Di antara kepulan asap dan aroma alkohol ini, aku menyadari satu hal.

Hidupku di Jakarta adalah sebuah paradoks. Di satu sisi, aku ingin menjadi versi terbaik diriku demi Wulan, gadis Katolik yang lembut itu. Di sisi lain, aku masih memiliki sisi gelap yang sulit kulepaskan, sisi yang menemukanku di tempat-tempat seperti Warung Bi Jiah ini.

Malam itu, aku pulang ke kontrakan dengan langkah yang sedikit tidak stabil, berusaha keras agar Om Satria tidak mencium bau naga dari mulutku. Jakarta memang penuh godaan, dan aku sedang berjalan tepat di tengah-tengahnya.
Diubah oleh f4gry... 01-04-2026 23:07
itkgid
kulipriok
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.