- Beranda
- Stories from the Heart
Menaklukkan Ibu Kota
...
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA

Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan
Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan
Quote:

Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
f4gry...
#17
Bagian 14 : Kencan dan Kenyataan
Minggu pagi di Jakarta terasa berbeda. Matahari ibu kota yang biasanya menyengat, kali ini seolah memberi restu dengan sinarnya yang cerah namun bersahabat. Di dalam kamar kontrakan yang sempit, aku berdiri di depan cermin kecil yang buram, mematut diri berkali-kali.
Aku memilih kaos hitam polos yang dibalut kemeja flanel kotak-kotak seragam andalan anak muda zaman itu agar terlihat santai tapi tetap rapi. Celana chino cokelat tua dan sepatu Converse hitam yang sudah agak memudar warnanya menjadi pelengkap. Aku menyisir rambutku dengan teliti, memastikan gaya belah tengah yang sedikit berantakan ini terlihat pas, tidak terlalu kaku namun tetap enak dipandang.
"Busyet, Rakha! Wangi bener lo! Ini minyak wangi apa kuah soto? Semerbak banget sampai ke dapur!" teriak Om Satria yang sedang asyik mencuci piring.
Aku hanya tersenyum tipis menanggapi godaan mautnya. "Ini parfum perjuangan, Om. Biar kencan pertama nggak bau matahari Kalimantan."
"Inget ya, kalau di mall jangan norak. Jangan tanya ke satpam di mana tempat naruh kerbau, nggak ada di sana! Hahaha!" Om Satria tertawa terbahak-bahak dengan lawakan garingnya yang khas.
Aku menggelengkan kepala, mengambil kunci motor bebek butut milik Om Satria, dan berangkat membelah jalanan Jakarta yang mulai padat.
Sesampainya di mall, aku memarkirkan motor di antara barisan kendaraan lain yang tampak jauh lebih mengkilap. Aku berdiri di dekat pintu masuk parkiran, merasa sedikit kecil di tengah kemegahan bangunan beton ini. Dengan tangan yang masih sedikit lebam karena hukuman Pak Anwar, aku mengetik SMS ke Wulan.
Beberapa menit berlalu terasa seperti jam. Setiap kali ada perempuan lewat, jantungku berdegup kencang.
Sampai akhirnya, sosok yang kutunggu muncul. Wulan berjalan ke arahku. Dia mengenakan gaun selutut berwarna biru pastel yang sederhana namun sangat anggun, mungkin baju yang sama yang ia kenakan saat ibadah di gereja tadi pagi.
Rambutnya tidak dikuncir kuda seperti biasanya, dibiarkan terurai indah, membuatku nyaris lupa cara bernapas.
"Sudah lama, Kha? Maaf ya agak telat, tadi ibadahnya agak panjang," sapanya dengan senyum manis.
"Nggak apa-apa, Lan. Aku juga baru sampai," bohongku, padahal aku sudah berkeringat menunggu hampir dua puluh menit.
Kami berjalan beriringan menuju lantai atas tempat bioskop berada. Suasana mall yang dingin karena AC membuatku sedikit rileks. Setelah mengantre dan mendapatkan tiket film yang sedang booming saat itu, kami duduk di bangku tunggu yang empuk, menunggu pintu teater dibuka.
Keheningan sempat menyelimuti kami, sebelum akhirnya aku memberanikan diri membuka obrolan yang sejak semalam mengusik pikiranku.
"Ternyata kamu Nonis ya, Lan?" tanyaku pelan, mencoba sehalus mungkin.
Wulan menoleh, menatapku dengan tenang. "Iya, Kha. Aku Katolik. Kenapa? Kamu kaget ya?"
Aku mengangguk jujur. "Sedikit. Tapi nggak apa-apa kok."
Wulan tersenyum tipis, lalu dia menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Kha, sebenarnya ada satu hal lagi yang mungkin kamu nggak tahu. Aku itu bukan orang asli Jakarta. Aku juga dari Kalimantan, sama seperti kamu. Orang tuaku Dayak asli. Kami merantau ke sini karena Papa kerja disini."
Aku terbelalak. Rasa terkejut kali ini jauh lebih besar daripada saat tahu agamanya. "Serius? Kamu orang Kalimantan juga? Kalimantan bagian mana?" tanyaku menyelidik, merasa ada ikatan yang tiba-tiba menguat.
Wulan menyebutkan nama provinsinya, provinsi yang sama denganku. Aku nyaris melompat dari kursi.
"Sama dong! Kita satu provinsi! Terus, kotanya di mana?" desakku makin penasaran.
"Aku dari Kota Wang," jawab Wulan singkat.
"Loh? Aku dari Kota Mbas! Itu kan dekat banget, Lan! Cuma sekitar 20 menitan kalau naik motor" seruku tak percaya.
Wulan ikut terkejut. Matanya berbinar cerah. "Hah? Masa sih? Ya ampun, aku nggak nyangka banget. Kita sejauh ini merantau ke Jakarta, masuk sekolah yang sama, kelas yang sama, ternyata rumah kita di kampung cuma beda kota?"
"Iya, nggak nyangka ya. Kita berasal dari tanah yang sama," ucapnya dengan nada suara yang melembut.
"Mungkin jodoh," bisikku pelan, sangat pelan hingga aku sendiri ragu apakah suara itu keluar dari mulutku. Wulan sepertinya tidak mendengar, atau mungkin dia pura-pura tidak mendengar karena pipinya tiba-tiba tampak sedikit merona.
Sisa waktu menunggu film dimulai kami habiskan dengan obrolan panjang yang mengalir deras. Kami bercerita tentang betapa berbedanya Jakarta dengan Kalimantan. Tentang rindu kami pada bau hutan setelah hujan, tentang makanan khas kampung halaman yang sulit dicari di Jakarta, hingga keluh kesah kami menghadapi kerasnya pergaulan anak sekolah di ibu kota.
Wulan bercerita betapa sulitnya dia beradaptasi di awal kepindahannya. Dia yang pendiam sering dianggap sombong oleh teman-temannya, padahal dia hanya merasa asing. Aku pun bercerita tentang betapa kagetnya aku melihat tawuran dan geng-geng sekolah yang jauh lebih ganas daripada perkelahian antar kampung yang pernah kulihat.
"Di sini, kalau kita lemah, kita bakal diinjak, Kha. Makanya aku seneng pas kamu berani lawan Kaka, tapi aku juga takut kamu malah jadi masalah buat diri sendiri," ucap Wulan tulus.
"Sekarang aku punya alasan buat lebih hati-hati, Lan," jawabku sambil menatap kedua tanganku yang masih lebam.
Tak lama, petugas bioskop mengumumkan bahwa pintu teater telah dibuka. Kami masuk ke dalam ruangan yang gelap dan dingin itu. Selama film diputar, jujur saja, aku tidak terlalu fokus pada layar lebar di depan. Pikiranku terus berputar pada kenyataan-kenyataan baru yang kudapatkan hari ini.
Sekarang aku tahu rahasia Wulan. Mungkin hanya aku satu-satunya orang di sekolah yang tahu bahwa gadis pendiam ini adalah putri Dayak dari Kalimantan, yang rumahnya hanya sepelemparan batu dari kotaku. Ada rasa bangga sekaligus haru yang menyelimuti hatiku.
Ternyata, di tengah rimba beton Jakarta yang asing ini, Tuhan mengirimkan seseorang yang memiliki "bau tanah" yang sama denganku.
Namun, di balik kebahagiaan itu, aku juga tersadar akan satu hal: perbedaan agama yang kami miliki adalah tembok nyata yang berdiri di tengah-tengah kami.
Tapi melihat bagaimana Wulan tersenyum saat menonton film, aku berjanji dalam hati; apa pun rintangannya nanti, entah itu Kaka atau perbedaan keyakinan, aku tidak akan melepaskan genggaman ini begitu saja.
Perjalanan dari Kalimantan ke Jakarta ini ternyata bukan sekadar untuk mencari ilmu, tapi untuk menemukan bagian dari diriku yang hilang pada sosok gadis bernama Wulan.
Minggu pagi di Jakarta terasa berbeda. Matahari ibu kota yang biasanya menyengat, kali ini seolah memberi restu dengan sinarnya yang cerah namun bersahabat. Di dalam kamar kontrakan yang sempit, aku berdiri di depan cermin kecil yang buram, mematut diri berkali-kali.
Aku memilih kaos hitam polos yang dibalut kemeja flanel kotak-kotak seragam andalan anak muda zaman itu agar terlihat santai tapi tetap rapi. Celana chino cokelat tua dan sepatu Converse hitam yang sudah agak memudar warnanya menjadi pelengkap. Aku menyisir rambutku dengan teliti, memastikan gaya belah tengah yang sedikit berantakan ini terlihat pas, tidak terlalu kaku namun tetap enak dipandang.
"Busyet, Rakha! Wangi bener lo! Ini minyak wangi apa kuah soto? Semerbak banget sampai ke dapur!" teriak Om Satria yang sedang asyik mencuci piring.
Aku hanya tersenyum tipis menanggapi godaan mautnya. "Ini parfum perjuangan, Om. Biar kencan pertama nggak bau matahari Kalimantan."
"Inget ya, kalau di mall jangan norak. Jangan tanya ke satpam di mana tempat naruh kerbau, nggak ada di sana! Hahaha!" Om Satria tertawa terbahak-bahak dengan lawakan garingnya yang khas.
Aku menggelengkan kepala, mengambil kunci motor bebek butut milik Om Satria, dan berangkat membelah jalanan Jakarta yang mulai padat.
Sesampainya di mall, aku memarkirkan motor di antara barisan kendaraan lain yang tampak jauh lebih mengkilap. Aku berdiri di dekat pintu masuk parkiran, merasa sedikit kecil di tengah kemegahan bangunan beton ini. Dengan tangan yang masih sedikit lebam karena hukuman Pak Anwar, aku mengetik SMS ke Wulan.
Quote:
Beberapa menit berlalu terasa seperti jam. Setiap kali ada perempuan lewat, jantungku berdegup kencang.
Sampai akhirnya, sosok yang kutunggu muncul. Wulan berjalan ke arahku. Dia mengenakan gaun selutut berwarna biru pastel yang sederhana namun sangat anggun, mungkin baju yang sama yang ia kenakan saat ibadah di gereja tadi pagi.
Rambutnya tidak dikuncir kuda seperti biasanya, dibiarkan terurai indah, membuatku nyaris lupa cara bernapas.
"Sudah lama, Kha? Maaf ya agak telat, tadi ibadahnya agak panjang," sapanya dengan senyum manis.
"Nggak apa-apa, Lan. Aku juga baru sampai," bohongku, padahal aku sudah berkeringat menunggu hampir dua puluh menit.
Kami berjalan beriringan menuju lantai atas tempat bioskop berada. Suasana mall yang dingin karena AC membuatku sedikit rileks. Setelah mengantre dan mendapatkan tiket film yang sedang booming saat itu, kami duduk di bangku tunggu yang empuk, menunggu pintu teater dibuka.
Keheningan sempat menyelimuti kami, sebelum akhirnya aku memberanikan diri membuka obrolan yang sejak semalam mengusik pikiranku.
"Ternyata kamu Nonis ya, Lan?" tanyaku pelan, mencoba sehalus mungkin.
Wulan menoleh, menatapku dengan tenang. "Iya, Kha. Aku Katolik. Kenapa? Kamu kaget ya?"
Aku mengangguk jujur. "Sedikit. Tapi nggak apa-apa kok."
Wulan tersenyum tipis, lalu dia menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Kha, sebenarnya ada satu hal lagi yang mungkin kamu nggak tahu. Aku itu bukan orang asli Jakarta. Aku juga dari Kalimantan, sama seperti kamu. Orang tuaku Dayak asli. Kami merantau ke sini karena Papa kerja disini."
Aku terbelalak. Rasa terkejut kali ini jauh lebih besar daripada saat tahu agamanya. "Serius? Kamu orang Kalimantan juga? Kalimantan bagian mana?" tanyaku menyelidik, merasa ada ikatan yang tiba-tiba menguat.
Wulan menyebutkan nama provinsinya, provinsi yang sama denganku. Aku nyaris melompat dari kursi.
"Sama dong! Kita satu provinsi! Terus, kotanya di mana?" desakku makin penasaran.
"Aku dari Kota Wang," jawab Wulan singkat.
"Loh? Aku dari Kota Mbas! Itu kan dekat banget, Lan! Cuma sekitar 20 menitan kalau naik motor" seruku tak percaya.
Wulan ikut terkejut. Matanya berbinar cerah. "Hah? Masa sih? Ya ampun, aku nggak nyangka banget. Kita sejauh ini merantau ke Jakarta, masuk sekolah yang sama, kelas yang sama, ternyata rumah kita di kampung cuma beda kota?"
"Iya, nggak nyangka ya. Kita berasal dari tanah yang sama," ucapnya dengan nada suara yang melembut.
"Mungkin jodoh," bisikku pelan, sangat pelan hingga aku sendiri ragu apakah suara itu keluar dari mulutku. Wulan sepertinya tidak mendengar, atau mungkin dia pura-pura tidak mendengar karena pipinya tiba-tiba tampak sedikit merona.
Sisa waktu menunggu film dimulai kami habiskan dengan obrolan panjang yang mengalir deras. Kami bercerita tentang betapa berbedanya Jakarta dengan Kalimantan. Tentang rindu kami pada bau hutan setelah hujan, tentang makanan khas kampung halaman yang sulit dicari di Jakarta, hingga keluh kesah kami menghadapi kerasnya pergaulan anak sekolah di ibu kota.
Wulan bercerita betapa sulitnya dia beradaptasi di awal kepindahannya. Dia yang pendiam sering dianggap sombong oleh teman-temannya, padahal dia hanya merasa asing. Aku pun bercerita tentang betapa kagetnya aku melihat tawuran dan geng-geng sekolah yang jauh lebih ganas daripada perkelahian antar kampung yang pernah kulihat.
"Di sini, kalau kita lemah, kita bakal diinjak, Kha. Makanya aku seneng pas kamu berani lawan Kaka, tapi aku juga takut kamu malah jadi masalah buat diri sendiri," ucap Wulan tulus.
"Sekarang aku punya alasan buat lebih hati-hati, Lan," jawabku sambil menatap kedua tanganku yang masih lebam.
Tak lama, petugas bioskop mengumumkan bahwa pintu teater telah dibuka. Kami masuk ke dalam ruangan yang gelap dan dingin itu. Selama film diputar, jujur saja, aku tidak terlalu fokus pada layar lebar di depan. Pikiranku terus berputar pada kenyataan-kenyataan baru yang kudapatkan hari ini.
Sekarang aku tahu rahasia Wulan. Mungkin hanya aku satu-satunya orang di sekolah yang tahu bahwa gadis pendiam ini adalah putri Dayak dari Kalimantan, yang rumahnya hanya sepelemparan batu dari kotaku. Ada rasa bangga sekaligus haru yang menyelimuti hatiku.
Ternyata, di tengah rimba beton Jakarta yang asing ini, Tuhan mengirimkan seseorang yang memiliki "bau tanah" yang sama denganku.
Namun, di balik kebahagiaan itu, aku juga tersadar akan satu hal: perbedaan agama yang kami miliki adalah tembok nyata yang berdiri di tengah-tengah kami.
Tapi melihat bagaimana Wulan tersenyum saat menonton film, aku berjanji dalam hati; apa pun rintangannya nanti, entah itu Kaka atau perbedaan keyakinan, aku tidak akan melepaskan genggaman ini begitu saja.
Perjalanan dari Kalimantan ke Jakarta ini ternyata bukan sekadar untuk mencari ilmu, tapi untuk menemukan bagian dari diriku yang hilang pada sosok gadis bernama Wulan.
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2