- Beranda
- Stories from the Heart
Menaklukkan Ibu Kota
...
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA

Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan
Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan
Quote:

Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
f4gry...
#16
Bab 13 : Tembok Tinggi
Aku menarik napas panjang, mencoba meredam dentuman jantung yang memompa amarah ke seluruh tubuhku. Tatapan cemas Wulan di belakangku terasa lebih berat daripada kepalan tangan Joni. Dengan sisa-sisa kesabaran yang tipis, aku melepaskan kepalanku.
Tanpa mempedulikan ocehan Kaka dan Joni yang masih memprovokasi di tengah kelas, aku secara refleks meraih tangan Wulan. Kulitnya yang halus terasa kontras dengan tanganku yang lecet dan kasar. Aku membawanya keluar dari kelas, melewati kerumunan teman-teman yang menonton dengan tegang, menuju kantin yang mulai sepi karena bel masuk hampir berbunyi.
Kami duduk berhadapan di salah satu meja panjang yang terbuat dari kayu kusam. Bau sisa soto dan teh manis memenuhi udara. Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal, merasa sedikit bodoh.
"Maaf, Lan. Hampir aja gue kebablasan lagi," ucapku sambil nyengir kuda, mencoba mencairkan suasana yang kaku.
Wulan terdiam sejenak, lalu dia membetulkan letak kuncir kudanya yang sedikit berantakan. "Iya, nggak apa-apa. Yang penting kamu tadi bisa menahan emosi. Aku beneran takut kalau kamu beneran mukul mereka di depan kelas. Bisa-bisa kamu langsung dikeluarin, Kha."
Aku mengangguk pelan. Ucapan Wulan ada benernya. Jakarta sudah cukup keras untukku, jangan ditambah lagi dengan surat drop out.
"Oh iya, besok kan hari Minggu," ucap Wulan tiba-tiba. Suaranya sedikit mengecil, dan dia tidak berani menatap mataku langsung. "Gimana kalau besok kita ke mall? Nonton bioskop gitu. Aku dengar ada film baru yang bagus banget di sana."
Deg.
Jantungku yang tadi berdegup karena marah, sekarang berdegup karena alasan yang jauh berbeda. Aku terkejut bukan main. Seorang Wulan, gadis pintar yang kalem, mengajakku—si anak baru yang hobi berantem untuk jalan berdua?
"Eh? Nonton?" aku memastikan, takut telingaku salah dengar karena dentuman pukulan di meja Pak Anwar tadi.
"Iya, nonton. Daripada kamu di kontrakan terus atau nongkrong nggak jelas sama Riko," sahutnya sambil mengeluarkan sebuah handphone kecil dari saku seragamnya. "Oiya, aku minta nomor HP kamu dong. Biar enak nanti ngabarinnya mau ketemu di mana."
"Hah?" ucapku melongo.
Aku mematung selama beberapa detik. Di zaman itu, meminta nomor HP adalah langkah besar. Itu berarti komunikasi kami tidak akan berhenti di gerbang sekolah saja. Aku meraba saku celanaku, mencari-cari handphone pemberian orang tuaku yang jarang kugunakan kecuali untuk menelpon rumah di Kalimantan.
"Kenapa? Nggak punya nomor HP ya?" goda Wulan sambil tersenyum tipis, melihatku yang tampak linglung.
"Punya, punya kok! Bentar..." aku menyebutkan digit nomor HP-ku dengan terbata-bata, sementara Wulan mengetiknya dengan lincah di layar handphone-nya yang mungil.
"Oke, sudah aku simpan. Nanti malam aku SMS ya," ucapnya sambil berdiri karena bel masuk sudah berdering nyaring. "Jangan lupa kompres tangan kamu pakai air es kalau sudah sampai rumah. Biar besok pas pegang tiket bioskop nggak bengkak lagi."
Dia berlalu begitu saja menuju kelas, meninggalkanku yang masih duduk terpaku di bangku kantin. Rasa nyeri di tanganku tiba-tiba menguap, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar ke seluruh wajah.
Ternyata, nasib apes di ruang BK pagi ini berujung pada sebuah kencan pertama di hari Minggu. Jakarta memang penuh kejutan. Di satu sisi dia memberiku meja kayu untuk dipukul, di sisi lain dia memberiku alasan untuk tersenyum sepanjang hari.
Hari itu, dunia seolah berubah warna. Semua rasa sakit di tanganku akibat hukuman Pak Anwar mendadak hilang, digantikan oleh debaran aneh yang terus memacu adrenalin.
Fokusku bukan lagi pada Kaka, Joni, atau pelajaran sejarah yang membosankan di jam terakhir. Pikiranku sudah terbang jauh ke hari Minggu, membayangkan bagaimana rasanya duduk di dalam bioskop yang dingin berdua dengan Wulan.
Biasanya, setiap bel pulang berbunyi, aku akan langsung menyambar tas dan melesat bersama Riko menuju Warung Bi Jiah. Tapi kali ini berbeda.
"Kha! Warung Bi Jiah kuy! Bang Jago katanya mau bayarin gorengan hari ini!" teriak Riko sambil merangkul bahuku di parkiran motor.
"Sori, Ko. Gue absen dulu hari ini. Badan gue agak pegel, mau langsung istirahat di kontrakan," jawabku sambil memakai helm.
"Halah! Gaya lo, biasanya juga paling semangat kalau denger gratisan. Ya udah, salam buat Om Satria ya!" Riko melambai sambil memacu motornya.
Aku berbohong. Aku tidak lelah. Aku hanya ingin cepat sampai di rumah, menenangkan diri, dan mempersiapkan mental.
Sesampainya di kontrakan, aku langsung merebahkan diri di kasur tipis yang ada di kamarku.
Mataku menatap langit-langit yang sedikit berjamur, membayangkan besok akan berjalan lancar atau tidak. Ini Jakarta, aku tidak tahu banyak mall yang bagus, dan aku takut penampilanku yang "anak kampung" ini akan mempermalukan Wulan.
"Ehem... lagi mikirin apa lo, Kha? Senyum-senyum sendiri kayak orang habis menang nomor," ucap Om Satria tiba-tiba yang muncul di ambang pintu sambil memegang handuk.
"Hehe, nggak ada, Om. Cuma lagi mikirin yang bahagia-bahagia buat besok," jawabku sambil nyengir.
Om Satria terkekeh. Dia memang tipe paman yang nggak ada serius-seriusnya. Kerjaan dia kalau tidak kuliah ya melucu, walaupun lawakannya sering kali garing dan nggak nyambung.
"Bahagia? Wah, bau-baunya ada yang mau kencan nih. Inget ya, dompet dijaga, jangan sampai ketinggalan di meja makan!"
Aku hanya tertawa mendengar ocehannya. Aku kembali meraih HP-ku yang tergeletak di samping bantal. Hatiku berdegup kencang menanti pesan yang dijanjikan Wulan.
Tepat jam tujuh malam, HP-ku bergetar. Sebuah SMS masuk. Jantungku serasa mau copot.
Aku tertegun membaca pesan itu. Tanganku yang sedang mengetik balasan mendadak kaku. Gereja? Ibadah?
Selama ini, aku hanya melihat Wulan sebagai gadis manis yang kalem di kelas. Aku tidak pernah terpikir atau bertanya soal keyakinannya. Ternyata, dugaanku selama ini meleset. Wulan adalah seorang Non-Muslim (Katolik), sangat berbeda denganku yang tumbuh di lingkungan keluarga Muslim yang di Kalimantan.
Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyelinap di hatiku. Sebuah tembok tinggi yang baru saja kusadari keberadaannya. Di satu sisi aku senang bukan main dia mengajakku jalan, tapi di sisi lain, kenyataan tentang perbedaan agama ini mulai membayangi pikiranku.
"Kha? Kok bengong?" suara Om Satria memecah lamunanku.
"Nggak apa-apa, Om. Cuma... baru tahu sesuatu aja," jawabku pelan.
Aku menarik napas panjang, lalu mulai mengetik balasan dengan jari yang sedikit gemetar.
Aku melempar HP ke kasur setelah mengirim pesan itu. Jakarta ternyata benar-benar tempat yang penuh kejutan.
Bukan hanya soal kerasnya jalanan atau tajamnya lisan Kaka, tapi juga soal perasaan yang tumbuh di tengah perbedaan yang nyata. Besok adalah hari Minggu pertama kami, dan aku baru sadar bahwa perjuangan mendapatkan Wulan mungkin tidak hanya soal melawan Kaka, tapi juga soal berdamai dengan perbedaan yang ada di antara kami.
Aku menarik napas panjang, mencoba meredam dentuman jantung yang memompa amarah ke seluruh tubuhku. Tatapan cemas Wulan di belakangku terasa lebih berat daripada kepalan tangan Joni. Dengan sisa-sisa kesabaran yang tipis, aku melepaskan kepalanku.
Tanpa mempedulikan ocehan Kaka dan Joni yang masih memprovokasi di tengah kelas, aku secara refleks meraih tangan Wulan. Kulitnya yang halus terasa kontras dengan tanganku yang lecet dan kasar. Aku membawanya keluar dari kelas, melewati kerumunan teman-teman yang menonton dengan tegang, menuju kantin yang mulai sepi karena bel masuk hampir berbunyi.
Kami duduk berhadapan di salah satu meja panjang yang terbuat dari kayu kusam. Bau sisa soto dan teh manis memenuhi udara. Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal, merasa sedikit bodoh.
"Maaf, Lan. Hampir aja gue kebablasan lagi," ucapku sambil nyengir kuda, mencoba mencairkan suasana yang kaku.
Wulan terdiam sejenak, lalu dia membetulkan letak kuncir kudanya yang sedikit berantakan. "Iya, nggak apa-apa. Yang penting kamu tadi bisa menahan emosi. Aku beneran takut kalau kamu beneran mukul mereka di depan kelas. Bisa-bisa kamu langsung dikeluarin, Kha."
Aku mengangguk pelan. Ucapan Wulan ada benernya. Jakarta sudah cukup keras untukku, jangan ditambah lagi dengan surat drop out.
"Oh iya, besok kan hari Minggu," ucap Wulan tiba-tiba. Suaranya sedikit mengecil, dan dia tidak berani menatap mataku langsung. "Gimana kalau besok kita ke mall? Nonton bioskop gitu. Aku dengar ada film baru yang bagus banget di sana."
Deg.
Jantungku yang tadi berdegup karena marah, sekarang berdegup karena alasan yang jauh berbeda. Aku terkejut bukan main. Seorang Wulan, gadis pintar yang kalem, mengajakku—si anak baru yang hobi berantem untuk jalan berdua?
"Eh? Nonton?" aku memastikan, takut telingaku salah dengar karena dentuman pukulan di meja Pak Anwar tadi.
"Iya, nonton. Daripada kamu di kontrakan terus atau nongkrong nggak jelas sama Riko," sahutnya sambil mengeluarkan sebuah handphone kecil dari saku seragamnya. "Oiya, aku minta nomor HP kamu dong. Biar enak nanti ngabarinnya mau ketemu di mana."
"Hah?" ucapku melongo.
Aku mematung selama beberapa detik. Di zaman itu, meminta nomor HP adalah langkah besar. Itu berarti komunikasi kami tidak akan berhenti di gerbang sekolah saja. Aku meraba saku celanaku, mencari-cari handphone pemberian orang tuaku yang jarang kugunakan kecuali untuk menelpon rumah di Kalimantan.
"Kenapa? Nggak punya nomor HP ya?" goda Wulan sambil tersenyum tipis, melihatku yang tampak linglung.
"Punya, punya kok! Bentar..." aku menyebutkan digit nomor HP-ku dengan terbata-bata, sementara Wulan mengetiknya dengan lincah di layar handphone-nya yang mungil.
"Oke, sudah aku simpan. Nanti malam aku SMS ya," ucapnya sambil berdiri karena bel masuk sudah berdering nyaring. "Jangan lupa kompres tangan kamu pakai air es kalau sudah sampai rumah. Biar besok pas pegang tiket bioskop nggak bengkak lagi."
Dia berlalu begitu saja menuju kelas, meninggalkanku yang masih duduk terpaku di bangku kantin. Rasa nyeri di tanganku tiba-tiba menguap, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar ke seluruh wajah.
Ternyata, nasib apes di ruang BK pagi ini berujung pada sebuah kencan pertama di hari Minggu. Jakarta memang penuh kejutan. Di satu sisi dia memberiku meja kayu untuk dipukul, di sisi lain dia memberiku alasan untuk tersenyum sepanjang hari.
Hari itu, dunia seolah berubah warna. Semua rasa sakit di tanganku akibat hukuman Pak Anwar mendadak hilang, digantikan oleh debaran aneh yang terus memacu adrenalin.
Fokusku bukan lagi pada Kaka, Joni, atau pelajaran sejarah yang membosankan di jam terakhir. Pikiranku sudah terbang jauh ke hari Minggu, membayangkan bagaimana rasanya duduk di dalam bioskop yang dingin berdua dengan Wulan.
Biasanya, setiap bel pulang berbunyi, aku akan langsung menyambar tas dan melesat bersama Riko menuju Warung Bi Jiah. Tapi kali ini berbeda.
"Kha! Warung Bi Jiah kuy! Bang Jago katanya mau bayarin gorengan hari ini!" teriak Riko sambil merangkul bahuku di parkiran motor.
"Sori, Ko. Gue absen dulu hari ini. Badan gue agak pegel, mau langsung istirahat di kontrakan," jawabku sambil memakai helm.
"Halah! Gaya lo, biasanya juga paling semangat kalau denger gratisan. Ya udah, salam buat Om Satria ya!" Riko melambai sambil memacu motornya.
Aku berbohong. Aku tidak lelah. Aku hanya ingin cepat sampai di rumah, menenangkan diri, dan mempersiapkan mental.
Sesampainya di kontrakan, aku langsung merebahkan diri di kasur tipis yang ada di kamarku.
Mataku menatap langit-langit yang sedikit berjamur, membayangkan besok akan berjalan lancar atau tidak. Ini Jakarta, aku tidak tahu banyak mall yang bagus, dan aku takut penampilanku yang "anak kampung" ini akan mempermalukan Wulan.
"Ehem... lagi mikirin apa lo, Kha? Senyum-senyum sendiri kayak orang habis menang nomor," ucap Om Satria tiba-tiba yang muncul di ambang pintu sambil memegang handuk.
"Hehe, nggak ada, Om. Cuma lagi mikirin yang bahagia-bahagia buat besok," jawabku sambil nyengir.
Om Satria terkekeh. Dia memang tipe paman yang nggak ada serius-seriusnya. Kerjaan dia kalau tidak kuliah ya melucu, walaupun lawakannya sering kali garing dan nggak nyambung.
"Bahagia? Wah, bau-baunya ada yang mau kencan nih. Inget ya, dompet dijaga, jangan sampai ketinggalan di meja makan!"
Aku hanya tertawa mendengar ocehannya. Aku kembali meraih HP-ku yang tergeletak di samping bantal. Hatiku berdegup kencang menanti pesan yang dijanjikan Wulan.
Tepat jam tujuh malam, HP-ku bergetar. Sebuah SMS masuk. Jantungku serasa mau copot.
Quote:
Aku tertegun membaca pesan itu. Tanganku yang sedang mengetik balasan mendadak kaku. Gereja? Ibadah?
Selama ini, aku hanya melihat Wulan sebagai gadis manis yang kalem di kelas. Aku tidak pernah terpikir atau bertanya soal keyakinannya. Ternyata, dugaanku selama ini meleset. Wulan adalah seorang Non-Muslim (Katolik), sangat berbeda denganku yang tumbuh di lingkungan keluarga Muslim yang di Kalimantan.
Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyelinap di hatiku. Sebuah tembok tinggi yang baru saja kusadari keberadaannya. Di satu sisi aku senang bukan main dia mengajakku jalan, tapi di sisi lain, kenyataan tentang perbedaan agama ini mulai membayangi pikiranku.
"Kha? Kok bengong?" suara Om Satria memecah lamunanku.
"Nggak apa-apa, Om. Cuma... baru tahu sesuatu aja," jawabku pelan.
Aku menarik napas panjang, lalu mulai mengetik balasan dengan jari yang sedikit gemetar.
Quote:
Aku melempar HP ke kasur setelah mengirim pesan itu. Jakarta ternyata benar-benar tempat yang penuh kejutan.
Bukan hanya soal kerasnya jalanan atau tajamnya lisan Kaka, tapi juga soal perasaan yang tumbuh di tengah perbedaan yang nyata. Besok adalah hari Minggu pertama kami, dan aku baru sadar bahwa perjuangan mendapatkan Wulan mungkin tidak hanya soal melawan Kaka, tapi juga soal berdamai dengan perbedaan yang ada di antara kami.
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2
Tutup