- Beranda
- Stories from the Heart
Menaklukkan Ibu Kota
...
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA

Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan
Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan
Quote:

Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
f4gry...
#15
Bagian 12 : Hukuman Pak Anwar
Setelah kejadian malam yang damai bersama geng Bang Jago, aku merasa Jakarta mulai berpihak padaku. Beberapa hari berlalu di SMA 7 dengan ketenangan yang langka. Kaka dan komplotannya tampak menarik diri, mungkin luka di pipinya atau rasa malunya masih membekas. Aku mulai menikmati rutinitas: belajar, mencuri pandang ke arah Wulan, dan bercanda kasar dengan Riko di barisan belakang.
Namun, ketenangan di sekolah ini sering kali hanyalah sekadar jeda sebelum badai besar datang menghantam.
Pagi itu, jadwal kelas kami adalah olahraga. Bau rumput basah dan terik matahari Jakarta mulai menyengat kulit. Aku dan Riko, yang memang dasarnya tidak bisa diam, sedang asyik memainkan bola voli di pinggir lapangan. Bukannya melakukan passing bawah yang benar, kami malah asyik melakukan dribble kaki layaknya pemain bola profesional di tengah lapangan voli yang betonnya mulai retak-retak.
"Kha, oper sini! Gue tunjukin tendangan maut dari Kemayoran!" teriak Riko sambil berlari kecil.
Aku menyeringai. "Tendangan maut? Nih, rasain tendangan dari pedalaman Kalimantan!"
Entah karena terlalu bersemangat ingin pamer di depan Riko atau mungkin karena tanpa sadar aku ingin menarik perhatian Wulan yang sedang duduk di pinggir lapangan bersama Bunga aku mengambil ancang-ancang terlalu jauh. Aku mengayunkan kaki kananku dengan kekuatan penuh.
Blar!
Bola itu tidak meluncur ke arah Riko. Alih-alih mendatar, bola voli yang keras itu justru melambung tinggi dengan kecepatan peluru, melewati pagar pembatas lapangan, dan meluncur tepat ke arah gedung kelas 12 yang berada di lantai dua.
PRANGGGG!
Suara kaca pecah yang sangat nyaring bergema ke seluruh penjuru sekolah. Seketika, aktivitas olahraga terhenti. Semua mata tertuju pada jendela kelas 12 yang sialnya adalah kelas Kaka yang kini bolong besar dengan serpihan kaca berserakan di bawahnya.
"Mampus..." bisikku lirih. Jantungku serasa merosot ke mata kaki.
Riko hanya bisa berdiri mematung dengan mulut menganga. "Kha... itu kelasnya Kaka, nyet. Lo beneran mau cari mati ya?"
Tak butuh waktu lama bagi Pak Anwar, sang guru BK sekaligus pelatih silat yang disegani itu, untuk muncul di lapangan dengan wajah sekeras batu granit. Beliau tidak banyak bicara, hanya menunjuk ke arahku dengan ibu jarinya, memberiku isyarat untuk segera menghadap ke "ruang eksekusi".
Di dalam ruangan yang pengap itu, Pak Anwar duduk bersedekap. Di depannya ada sebuah meja kayu jati tua yang tebal dan terlihat sangat kokoh.
"Rakha, kamu baru saja memecahkan fasilitas sekolah. Dan yang lebih parah, kamu hampir mencelakai kakak kelasmu yang sedang belajar," suara Pak Anwar dingin, tapi berwibawa.
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja," jawabku sambil menunduk.
"Saya tahu kamu tidak sengaja. Tapi energi berlebihmu itu harus disalurkan ke tempat yang benar agar kamu belajar konsekuensi," ucap beliau sambil menepuk permukaan meja kayu di depannya.
"Saya tidak minta kamu ganti rugi uang. Tapi, saya minta kamu meninju meja ini. Seratus kali. Bergantian tangan kanan dan kiri. Sekarang."
Aku terbelalak. Meninju meja kayu jati sebanyak seratus kali? Rasanya aku lebih baik meninju muka Kaka berkali-kali daripada harus beradu dengan kayu mati yang tak punya perasaan ini. Tapi di SMA 7, perintah Pak Anwar adalah hukum rimba.
Dug! Dug! Dug!
Satu demi satu pukulan kulayangkan. Di hitungan ke-20, buku jariku mulai memerah. Di hitungan ke-50, kulitku mulai lecet dan perihnya luar biasa. Setiap hantaman mengirimkan getaran nyeri yang menusuk sampai ke tulang lengan. Pak Anwar hanya memperhatikan dengan mata elang, menghitung setiap dentuman tanpa belas kasihan.
Setelah hitungan ke-100 selesai, kedua tanganku sudah lebam membiru. Rasanya mati rasa dan gemetar hebat. Aku keluar dari ruang BK dengan sisa-sisa harga diri yang babak belur.
Saat jam istirahat tiba, aku memilih untuk tetap di kelas. Aku tidak punya nafsu makan. Aku hanya duduk meringis, meniup-niup kedua tanganku yang membengkak hebat. Riko sudah pergi ke kantin duluan setelah menawariku bakso, tapi aku menolak karena memegang sendok pun rasanya aku tak sanggup.
Tiba-tiba, sebuah bayangan lembut berdiri di samping mejaku. Wulan.
Di tangannya, dia memegang botol obat merah dan kapas yang sangat kukenali. Dia menatap tanganku dengan tatapan sedih sekaligus ingin marah.
"Sini aku obatin," tawarnya pendek. Dia menarik kursi dan duduk di sampingku tanpa menunggu persetujuanku.
Aku mencoba menarik tanganku karena malu. "Nggak usah, Lan. Nanti juga sembuh sendiri."
"Diem, Rakha. Udah tau sakit malah sok kuat," omelnya pelan. Dia mulai membasahi kapas dengan obat merah. "Kenapa sih kamu selalu bawa obat merah ini ke sekolah? Apa kamu sudah persiapan kalau aku bakal terluka tiap hari?" tanyaku mencoba bercanda di tengah rasa perih.
Wulan hanya mendengus, tapi aku bisa melihat sudut bibirnya sedikit terangkat. "Emang dasarnya kamu itu magnet masalah, jadi aku harus selalu siap sedia."
Namun, momen manis itu hancur berantakan ketika pintu kelas terbuka dengan kasar. Kaka masuk bersama kacung-kacungnya Joni dan satu orang lagi. Wajah Kaka terlihat sangat murka, mungkin karena serpihan kaca tadi hampir mengenai kepalanya.
"Lo... bener-bener nggak berhenti buat masalah ya, anak anjing!" teriak Kaka sambil menendang salah satu kursi di depanku.
Darahku yang sudah panas karena hukuman fisik dari Pak Anwar, kini mendidih sampai ke ubun-ubun mendengarnya. Aku bangkit berdiri, menghiraukan Wulan yang masih memegang kapas di tanganku. Aku menatap Kaka dengan pandangan yang jauh lebih dingin dari biasanya.
"Gue lagi panas nih, Ka. Jangan bikin gue tambah panas lagi," ucapku dengan nada yang sangat rendah. Tanganku yang lebam kukepalkan kuat-kuat, mengabaikan rasa nyeri yang luar biasa.
Kaka tertawa meremehkan, melirik ke arah Wulan lalu kembali padaku. "Bukannya lo yang cari masalah duluan? Pecahin kaca kelas gue? Lo pikir lo siapa, hah?"
Joni, kacung setianya, maju selangkah sambil meludah ke lantai. "Memang monyet Kalimantan ini suka bikin masalah, Ka. Harusnya dia dikandangin aja, nggak pantes sekolah di Jakarta."
Kalimat Joni itu adalah pemicu ledakan. Kata "monyet Kalimantan" itu bukan sekadar ejekan biasa bagiku. Itu adalah penghinaan terhadap asal-usulku, tanah kelahiranku. Rasa sakit di tanganku mendadak hilang, digantikan oleh adrenalin yang memuncak.
Aku maju selangkah, menempelkan dadaku ke dada Joni. "Ulangi sekali lagi omongan lo, Jon. Biar tangan gue yang lagi hancur ini punya alasan buat ngancurin muka lo juga."
Suasana kelas mendadak mencekam. Wulan berdiri dengan cemas, mencoba menarik seragamku dari belakang. "Rakha, jangan! Inget janji kamu kemarin!"
Tapi saat ini, logika sudah kalah telak oleh amarah. Jakarta mungkin keras, tapi meremehkan seorang perantau yang sedang terluka adalah kesalahan terbesar yang pernah mereka lakukan.
Setelah kejadian malam yang damai bersama geng Bang Jago, aku merasa Jakarta mulai berpihak padaku. Beberapa hari berlalu di SMA 7 dengan ketenangan yang langka. Kaka dan komplotannya tampak menarik diri, mungkin luka di pipinya atau rasa malunya masih membekas. Aku mulai menikmati rutinitas: belajar, mencuri pandang ke arah Wulan, dan bercanda kasar dengan Riko di barisan belakang.
Namun, ketenangan di sekolah ini sering kali hanyalah sekadar jeda sebelum badai besar datang menghantam.
Pagi itu, jadwal kelas kami adalah olahraga. Bau rumput basah dan terik matahari Jakarta mulai menyengat kulit. Aku dan Riko, yang memang dasarnya tidak bisa diam, sedang asyik memainkan bola voli di pinggir lapangan. Bukannya melakukan passing bawah yang benar, kami malah asyik melakukan dribble kaki layaknya pemain bola profesional di tengah lapangan voli yang betonnya mulai retak-retak.
"Kha, oper sini! Gue tunjukin tendangan maut dari Kemayoran!" teriak Riko sambil berlari kecil.
Aku menyeringai. "Tendangan maut? Nih, rasain tendangan dari pedalaman Kalimantan!"
Entah karena terlalu bersemangat ingin pamer di depan Riko atau mungkin karena tanpa sadar aku ingin menarik perhatian Wulan yang sedang duduk di pinggir lapangan bersama Bunga aku mengambil ancang-ancang terlalu jauh. Aku mengayunkan kaki kananku dengan kekuatan penuh.
Blar!
Bola itu tidak meluncur ke arah Riko. Alih-alih mendatar, bola voli yang keras itu justru melambung tinggi dengan kecepatan peluru, melewati pagar pembatas lapangan, dan meluncur tepat ke arah gedung kelas 12 yang berada di lantai dua.
PRANGGGG!
Suara kaca pecah yang sangat nyaring bergema ke seluruh penjuru sekolah. Seketika, aktivitas olahraga terhenti. Semua mata tertuju pada jendela kelas 12 yang sialnya adalah kelas Kaka yang kini bolong besar dengan serpihan kaca berserakan di bawahnya.
"Mampus..." bisikku lirih. Jantungku serasa merosot ke mata kaki.
Riko hanya bisa berdiri mematung dengan mulut menganga. "Kha... itu kelasnya Kaka, nyet. Lo beneran mau cari mati ya?"
Tak butuh waktu lama bagi Pak Anwar, sang guru BK sekaligus pelatih silat yang disegani itu, untuk muncul di lapangan dengan wajah sekeras batu granit. Beliau tidak banyak bicara, hanya menunjuk ke arahku dengan ibu jarinya, memberiku isyarat untuk segera menghadap ke "ruang eksekusi".
Di dalam ruangan yang pengap itu, Pak Anwar duduk bersedekap. Di depannya ada sebuah meja kayu jati tua yang tebal dan terlihat sangat kokoh.
"Rakha, kamu baru saja memecahkan fasilitas sekolah. Dan yang lebih parah, kamu hampir mencelakai kakak kelasmu yang sedang belajar," suara Pak Anwar dingin, tapi berwibawa.
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja," jawabku sambil menunduk.
"Saya tahu kamu tidak sengaja. Tapi energi berlebihmu itu harus disalurkan ke tempat yang benar agar kamu belajar konsekuensi," ucap beliau sambil menepuk permukaan meja kayu di depannya.
"Saya tidak minta kamu ganti rugi uang. Tapi, saya minta kamu meninju meja ini. Seratus kali. Bergantian tangan kanan dan kiri. Sekarang."
Aku terbelalak. Meninju meja kayu jati sebanyak seratus kali? Rasanya aku lebih baik meninju muka Kaka berkali-kali daripada harus beradu dengan kayu mati yang tak punya perasaan ini. Tapi di SMA 7, perintah Pak Anwar adalah hukum rimba.
Dug! Dug! Dug!
Satu demi satu pukulan kulayangkan. Di hitungan ke-20, buku jariku mulai memerah. Di hitungan ke-50, kulitku mulai lecet dan perihnya luar biasa. Setiap hantaman mengirimkan getaran nyeri yang menusuk sampai ke tulang lengan. Pak Anwar hanya memperhatikan dengan mata elang, menghitung setiap dentuman tanpa belas kasihan.
Setelah hitungan ke-100 selesai, kedua tanganku sudah lebam membiru. Rasanya mati rasa dan gemetar hebat. Aku keluar dari ruang BK dengan sisa-sisa harga diri yang babak belur.
Saat jam istirahat tiba, aku memilih untuk tetap di kelas. Aku tidak punya nafsu makan. Aku hanya duduk meringis, meniup-niup kedua tanganku yang membengkak hebat. Riko sudah pergi ke kantin duluan setelah menawariku bakso, tapi aku menolak karena memegang sendok pun rasanya aku tak sanggup.
Tiba-tiba, sebuah bayangan lembut berdiri di samping mejaku. Wulan.
Di tangannya, dia memegang botol obat merah dan kapas yang sangat kukenali. Dia menatap tanganku dengan tatapan sedih sekaligus ingin marah.
"Sini aku obatin," tawarnya pendek. Dia menarik kursi dan duduk di sampingku tanpa menunggu persetujuanku.
Aku mencoba menarik tanganku karena malu. "Nggak usah, Lan. Nanti juga sembuh sendiri."
"Diem, Rakha. Udah tau sakit malah sok kuat," omelnya pelan. Dia mulai membasahi kapas dengan obat merah. "Kenapa sih kamu selalu bawa obat merah ini ke sekolah? Apa kamu sudah persiapan kalau aku bakal terluka tiap hari?" tanyaku mencoba bercanda di tengah rasa perih.
Wulan hanya mendengus, tapi aku bisa melihat sudut bibirnya sedikit terangkat. "Emang dasarnya kamu itu magnet masalah, jadi aku harus selalu siap sedia."
Namun, momen manis itu hancur berantakan ketika pintu kelas terbuka dengan kasar. Kaka masuk bersama kacung-kacungnya Joni dan satu orang lagi. Wajah Kaka terlihat sangat murka, mungkin karena serpihan kaca tadi hampir mengenai kepalanya.
"Lo... bener-bener nggak berhenti buat masalah ya, anak anjing!" teriak Kaka sambil menendang salah satu kursi di depanku.
Darahku yang sudah panas karena hukuman fisik dari Pak Anwar, kini mendidih sampai ke ubun-ubun mendengarnya. Aku bangkit berdiri, menghiraukan Wulan yang masih memegang kapas di tanganku. Aku menatap Kaka dengan pandangan yang jauh lebih dingin dari biasanya.
"Gue lagi panas nih, Ka. Jangan bikin gue tambah panas lagi," ucapku dengan nada yang sangat rendah. Tanganku yang lebam kukepalkan kuat-kuat, mengabaikan rasa nyeri yang luar biasa.
Kaka tertawa meremehkan, melirik ke arah Wulan lalu kembali padaku. "Bukannya lo yang cari masalah duluan? Pecahin kaca kelas gue? Lo pikir lo siapa, hah?"
Joni, kacung setianya, maju selangkah sambil meludah ke lantai. "Memang monyet Kalimantan ini suka bikin masalah, Ka. Harusnya dia dikandangin aja, nggak pantes sekolah di Jakarta."
Kalimat Joni itu adalah pemicu ledakan. Kata "monyet Kalimantan" itu bukan sekadar ejekan biasa bagiku. Itu adalah penghinaan terhadap asal-usulku, tanah kelahiranku. Rasa sakit di tanganku mendadak hilang, digantikan oleh adrenalin yang memuncak.
Aku maju selangkah, menempelkan dadaku ke dada Joni. "Ulangi sekali lagi omongan lo, Jon. Biar tangan gue yang lagi hancur ini punya alasan buat ngancurin muka lo juga."
Suasana kelas mendadak mencekam. Wulan berdiri dengan cemas, mencoba menarik seragamku dari belakang. "Rakha, jangan! Inget janji kamu kemarin!"
Tapi saat ini, logika sudah kalah telak oleh amarah. Jakarta mungkin keras, tapi meremehkan seorang perantau yang sedang terluka adalah kesalahan terbesar yang pernah mereka lakukan.
Diubah oleh f4gry... 01-04-2026 20:33
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2