- Beranda
- Stories from the Heart
Menaklukkan Ibu Kota
...
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA

Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan
Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan
Quote:

Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
f4gry...
#14
Bab 11 : Souvenir Cece cantik
Malam di Jakarta ternyata tidak selalu seseram yang kubayangkan. Setelah resmi menjadi bagian dari "keluarga" Bang Jago, rutinitas malamku berubah total. Kalau tidak sedang mendekam di kontrakan Om Satria untuk menulis atau mengerjakan tugas, aku pasti ada di pinggir jalanan aspal yang masih terasa hangat oleh sisa panas matahari siang.
Selain di warung Bi Jiah, markas kedua kami adalah deretan trotoar luas yang punya pemandangan strategis: lampu-lampu kota dan, tentu saja, lalu lalang cewek-cewek cantik yang pulang kerja atau sekadar jalan-jalan malam.
"Kha, lo liat nggak yang baju merah di motor matic itu? Spek bidadari kayanya baru turun dari kayangan," celetuk Riko sambil menyikut lenganku, matanya hampir tidak berkedip.
"Bidadari matamu, Ko! Itu mah kakaknya temen gue, galak banget orangnya," sahut Dendi, si anak STM, yang langsung disambut tawa renyah oleh yang lain.
Bang Jago yang duduk di atas motor besarnya hanya terkekeh sambil mengisap rokok dalam-dalam. "Lu semua nih ya, liat cewek bening dikit langsung mau copot itu mata. Inget, kita di sini jaga keamanan, bukan jaga jodoh orang!"
"Yah, Bang, keamanan hati kita siapa yang jagain?" balas Rio, salah satu anggota yang paling centil, sambil memasang wajah melas yang dibuat-buat.
Kami tertawa lepas. Inilah yang kusukai dari mereka. Meskipun perawakan mereka sangar dan tato di mana-mana, kerjaan kami tiap malam cuma duduk, ngobrol, dan saling lempar ejekan tanpa pernah membuat onar. Kami adalah penguasa trotoar yang paling sopan se-Jakarta.
Tiba-tiba, suasana santai itu berubah saat kami melihat seorang wanita keturunan Tionghoa seorang Cece cantik dengan kulit putih bersih terlihat panik di dekat trotoar seberang. Dia sibuk mencari sesuatu di tanah sambil berkali-kali mengecek kantong belanjanya yang terbuka.
"Aduh, mana ya? Kok nggak ada?" gumam Cece itu, wajahnya hampir menangis.
"Ehem, ada misi kemanusiaan nih, Bos!" bisik Rio dengan mata berbinar.
Ternyata Cece itu baru saja kehilangan sebuah souvenir kecil yang baru dibelinya. Tanpa komando, anak-anak yang tadi cuma duduk malas-malasan langsung bergegas seperti tim SAR profesional. Semuanya berpencar, ada yang ngolong ke bawah mobil parkir, ada yang nyari ke selokan, sampai ada yang nanya-nanya ke tukang parkir.
Motivasi mereka cuma satu: kalau ketemu, pasti bisa kenalan dan yang paling penting bisa pegang tangan halus si Cece pas serah terima.
"Gue dapet! Gue dapet!" teriak Rio tiba-tiba dari balik pot bunga besar.
Dia mengangkat sebuah kotak kecil dengan bangga, seolah baru saja menemukan harta karun terpendam. Kami semua langsung mendekat, mengekor di belakang Rio yang berjalan dengan dada dibusungkan, merasa seperti pahlawan nasional.
"Ini ya, Ce, souvenirnya? Tadi nyelip di deket sini," ucap Rio dengan suara yang sengaja diberat-beratkan biar terdengar jantan.
"Oh iya! Makasih banyak ya, Mas. Duh, saya panik banget tadi," jawab si Cece dengan senyum lebar yang sangat manis.
Rio tidak menyia-nyiakan kesempatan emas. "Sama-sama, Ce. Oh ya, kenalin... saya Rio. Penjaga daerah sini kalau malam." Dia langsung menyodorkan tangannya dengan percaya diri.
Begitu si Cece menyambut tangannya untuk bersalaman, Rio memberikan kode mata ke arah kami semua. Dia memegang tangan halus itu sedikit lebih lama dari salaman biasa, seolah sedang melakukan meditasi.
"Modus lo, Yo! Kasian Cece-nya mau pulang itu!" teriak Dendi dari belakang yang langsung membuat si Cece tertawa kecil karena melihat kelakuan kami yang konyol.
"Makasih ya semuanya, kalian baik-baik banget ternyata," ucap si Cece sebelum akhirnya pamit pergi.
Setelah Cece itu menghilang dari pandangan, tawa kami meledak serentak di trotoar itu.
"Gila lo, Yo! Tangan Cece itu halus banget ya sampai lo nggak mau lepas?" ejek Bang Jago sambil melempar puntung rokoknya ke tempat sampah.
"Hahahaha! Rejeki anak sholeh, Bang! Baunya aja masih nempel nih di telapak tangan gue. Wangi melati campur surga!" sahut Rio sambil menciumi tangannya sendiri dengan ekspresi yang sangat kocak.
"Dasar lu, kalau soal cewek gercepnya ngalahin pemadam kebakaran!" tambah Riko sambil menjitak kepala Rio pelan.
Malam itu benar-benar damai. Di bawah temaram lampu jalanan Jakarta, aku merasa sedikit tenang. Kepalaku yang biasanya dipenuhi bayangan Kaka atau rasa penasaran tentang Wulan, sejenak teralihkan oleh candaan-candaan receh saudara baru di Jakarta ini.
Jakarta ternyata tidak hanya memberikan luka lewat kepalan tangan, tapi juga memberikan obat lewat persaudaraan yang jujur seperti ini. Aku bersandar di motor Riko, menatap langit malam yang bersih, merasa bersyukur bahwa setidaknya untuk malam ini, tidak ada darah yang tumpah, hanya tawa yang membekas.
Malam di Jakarta ternyata tidak selalu seseram yang kubayangkan. Setelah resmi menjadi bagian dari "keluarga" Bang Jago, rutinitas malamku berubah total. Kalau tidak sedang mendekam di kontrakan Om Satria untuk menulis atau mengerjakan tugas, aku pasti ada di pinggir jalanan aspal yang masih terasa hangat oleh sisa panas matahari siang.
Selain di warung Bi Jiah, markas kedua kami adalah deretan trotoar luas yang punya pemandangan strategis: lampu-lampu kota dan, tentu saja, lalu lalang cewek-cewek cantik yang pulang kerja atau sekadar jalan-jalan malam.
"Kha, lo liat nggak yang baju merah di motor matic itu? Spek bidadari kayanya baru turun dari kayangan," celetuk Riko sambil menyikut lenganku, matanya hampir tidak berkedip.
"Bidadari matamu, Ko! Itu mah kakaknya temen gue, galak banget orangnya," sahut Dendi, si anak STM, yang langsung disambut tawa renyah oleh yang lain.
Bang Jago yang duduk di atas motor besarnya hanya terkekeh sambil mengisap rokok dalam-dalam. "Lu semua nih ya, liat cewek bening dikit langsung mau copot itu mata. Inget, kita di sini jaga keamanan, bukan jaga jodoh orang!"
"Yah, Bang, keamanan hati kita siapa yang jagain?" balas Rio, salah satu anggota yang paling centil, sambil memasang wajah melas yang dibuat-buat.
Kami tertawa lepas. Inilah yang kusukai dari mereka. Meskipun perawakan mereka sangar dan tato di mana-mana, kerjaan kami tiap malam cuma duduk, ngobrol, dan saling lempar ejekan tanpa pernah membuat onar. Kami adalah penguasa trotoar yang paling sopan se-Jakarta.
Tiba-tiba, suasana santai itu berubah saat kami melihat seorang wanita keturunan Tionghoa seorang Cece cantik dengan kulit putih bersih terlihat panik di dekat trotoar seberang. Dia sibuk mencari sesuatu di tanah sambil berkali-kali mengecek kantong belanjanya yang terbuka.
"Aduh, mana ya? Kok nggak ada?" gumam Cece itu, wajahnya hampir menangis.
"Ehem, ada misi kemanusiaan nih, Bos!" bisik Rio dengan mata berbinar.
Ternyata Cece itu baru saja kehilangan sebuah souvenir kecil yang baru dibelinya. Tanpa komando, anak-anak yang tadi cuma duduk malas-malasan langsung bergegas seperti tim SAR profesional. Semuanya berpencar, ada yang ngolong ke bawah mobil parkir, ada yang nyari ke selokan, sampai ada yang nanya-nanya ke tukang parkir.
Motivasi mereka cuma satu: kalau ketemu, pasti bisa kenalan dan yang paling penting bisa pegang tangan halus si Cece pas serah terima.
"Gue dapet! Gue dapet!" teriak Rio tiba-tiba dari balik pot bunga besar.
Dia mengangkat sebuah kotak kecil dengan bangga, seolah baru saja menemukan harta karun terpendam. Kami semua langsung mendekat, mengekor di belakang Rio yang berjalan dengan dada dibusungkan, merasa seperti pahlawan nasional.
"Ini ya, Ce, souvenirnya? Tadi nyelip di deket sini," ucap Rio dengan suara yang sengaja diberat-beratkan biar terdengar jantan.
"Oh iya! Makasih banyak ya, Mas. Duh, saya panik banget tadi," jawab si Cece dengan senyum lebar yang sangat manis.
Rio tidak menyia-nyiakan kesempatan emas. "Sama-sama, Ce. Oh ya, kenalin... saya Rio. Penjaga daerah sini kalau malam." Dia langsung menyodorkan tangannya dengan percaya diri.
Begitu si Cece menyambut tangannya untuk bersalaman, Rio memberikan kode mata ke arah kami semua. Dia memegang tangan halus itu sedikit lebih lama dari salaman biasa, seolah sedang melakukan meditasi.
"Modus lo, Yo! Kasian Cece-nya mau pulang itu!" teriak Dendi dari belakang yang langsung membuat si Cece tertawa kecil karena melihat kelakuan kami yang konyol.
"Makasih ya semuanya, kalian baik-baik banget ternyata," ucap si Cece sebelum akhirnya pamit pergi.
Setelah Cece itu menghilang dari pandangan, tawa kami meledak serentak di trotoar itu.
"Gila lo, Yo! Tangan Cece itu halus banget ya sampai lo nggak mau lepas?" ejek Bang Jago sambil melempar puntung rokoknya ke tempat sampah.
"Hahahaha! Rejeki anak sholeh, Bang! Baunya aja masih nempel nih di telapak tangan gue. Wangi melati campur surga!" sahut Rio sambil menciumi tangannya sendiri dengan ekspresi yang sangat kocak.
"Dasar lu, kalau soal cewek gercepnya ngalahin pemadam kebakaran!" tambah Riko sambil menjitak kepala Rio pelan.
Malam itu benar-benar damai. Di bawah temaram lampu jalanan Jakarta, aku merasa sedikit tenang. Kepalaku yang biasanya dipenuhi bayangan Kaka atau rasa penasaran tentang Wulan, sejenak teralihkan oleh candaan-candaan receh saudara baru di Jakarta ini.
Jakarta ternyata tidak hanya memberikan luka lewat kepalan tangan, tapi juga memberikan obat lewat persaudaraan yang jujur seperti ini. Aku bersandar di motor Riko, menatap langit malam yang bersih, merasa bersyukur bahwa setidaknya untuk malam ini, tidak ada darah yang tumpah, hanya tawa yang membekas.
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2