Kaskus

Story

f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA
Menaklukkan Ibu Kota


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan

Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan emoticon-Jempol

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan



Quote:

Menaklukkan Ibu Kota


Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
NankendraAvatar border
kelomangdaratAvatar border
YoayoayoAvatar border
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
#13
Bagian 10: Keluarga baru di warung bi jiah


Keesokan paginya, aku melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan perasaan campur aduk. Wajahku adalah sebuah kanvas penderitaan; plester di pelipis, sudut bibir yang membiru, dan pipi yang bengkak sebelah. Aku merasa seperti petarung yang baru saja keluar dari ring tanpa wasit.


Begitu aku melewati pintu kelas, suasana yang tadinya riuh mendadak hening selama tiga detik. Pandangan semua orang tertuju pada wajahku yang babak belur.


"ASTAGA, RAKHA! LO HABIS KECELAKAAN PESAWAT APA GIMANA?!"


Suara cempreng itu milik Riko. Dia melompat dari kursinya, berlari menghampiriku dengan gaya teatrikal, seolah-olah aku adalah korban bencana alam. Dia memegang pundakku, memutar-mutar tubuhku untuk mengecek apakah ada bagian tubuh lain yang lepas.


"Gila! Siapa yang berani-beraninya bikin aset kelas kita jadi kayak adonan donat begini? Kaka, ya? Pasti Kaka!" serunya dengan nada yang sangat berlebihan hingga seisi kelas tertawa.


Aku hanya bisa terkekeh, meski rasanya perih di sudut bibir. "Santai, Ko. Cuma latihan fisik sedikit kemarin sore."


Riko menyipitkan matanya, penuh selidik. "Siapa yang ngobatin? Rapi bener ini plesternya. Nggak mungkin lo pasang sendiri sambil nangis, kan? Atau jangan-jangan... Om lu yang pasangin?"

Aku melirik ke arah meja Wulan. Dia sedang menunduk, pura-pura asyik membaca buku biologi, tapi aku bisa melihat telinganya sedikit memerah. Aku tersenyum dalam hati, merahasiakan fakta bahwa malaikat kuncir kuda itulah yang menyelamatkanku kemarin sore.


"Rahasia perusahaan, Ko. Intinya gue masih hidup," jawabku singkat sambil duduk di bangku belakang.

-

Pulang sekolah, Riko tidak membiarkanku langsung pulang ke kontrakan Om Satria. Dia merangkul bahuku—yang sebenarnya masih agak pegal—dan menyeret ku menuju sebuah gang sempit yang terletak tidak jauh dari gerbang sekolah.


"Gue mau kenalin lo sama 'kabinet' gue. Biar lo nggak cuma kenal Kaka doang di Jakarta ini," kata Riko penuh rahasia.


Kami sampai di sebuah warung kayu sederhana namun sangat ramai. Di papan depannya tertulis dengan spidol permanen: WARUNG BI JIAH. Pemiliknya, Bi Jiah, adalah wanita paruh baya dengan daster batik yang legendaris dan handuk kecil yang selalu tersampir di bahu. Dia terlihat galak, tapi senyumnya saat menyajikan es teh manis sangat tulus.


Warung ini adalah zona netral yang ajaib. Di pojok kiri, ada segerombolan anak STM dengan celana yang sengaja dikecilkan, asyik mengisap rokok dan membicarakan jadwal bolos besok. Di pojok kanan, ada beberapa pria dewasa dengan kaos hitam ketat, tato di lengan, dan perawakan preman pasar yang sangar.


Namun, begitu aku melihat mereka sedang asyik bermain catur sambil sesekali tertawa manja karena salah langkah, aku sadar omongan Riko benar: Perawakan preman, tapi hati Hello Kitty.


"Woi, semuanya! Kenalin, ini Rakha. Petarung baru dari Borneo yang habis dihajar massa tapi masih bisa ketawa!" Riko memperkenalkan aku dengan suara yang tidak tahu malu.


Seorang pria bertato naga di lengannya yang belakangan aku tahu namanya Bang Jago (padahal aslinya namanya Jaka) menatapku dari atas ke bawah. Dia menggeser segelas kopi hitam ke arahku.

"Duduk, Tong. Di sini semua sama. Nggak peduli lo anak baru atau anak lama, yang penting nggak sok jagoan di depan Bi Jiah," ucap Bang Jago dengan suara bass-nya yang menggetarkan meja kayu.


Satu per satu teman-teman Riko yang lain mulai menghampiri. Ada yang anak STM, ada yang pengangguran sukses, sampai ada yang bekerja sebagai kurir pasar.


Mereka tidak memandangku sebagai ancaman, justru mereka menertawakan kondisiku dengan cara yang akrab. Kami mengobrol tentang banyak hal mulai dari kerasnya hidup di Jakarta, harga mie instan yang naik, sampai tips bagaimana cara agar tidak kena ciduk Pak Anwar.


Di warung Bi Jiah ini, aku merasakan sisi lain dari Jakarta. Kota ini memang tempat para pemenang, tapi juga tempat berlindung bagi mereka yang merasa "kalah" atau terasing. Di bawah kepulan asap rokok dan aroma gorengan Bi Jiah yang menggoda, aku merasa diterima.


"Makasih ya, Ko. Gue nggak nyangka Jakarta punya tempat sesantai ini," ucapku sambil menyeruput es teh manis buatan Bi Jiah yang rasanya juara.


Riko menepuk punggungku dengan keras tepat di bagian yang memar. "Yoi, Kha! Di sini lo aman. Kalau Kaka berani macem-macem lagi, tinggal lapor Bang Jago. Dia bakal dandanin Kaka pakai baju Hello Kitty beneran."


Kami semua tertawa lepas. Sore itu, di warung Bi Jiah, aku bukan lagi anak kampung Kalimantan yang kesepian. Aku adalah bagian dari sebuah keluarga aneh yang dipertemukan oleh nasib di sudut ibu kota yang keras namun penuh tawa.


Di Warung Bi Jiah yang pengap namun hangat itu, aku mulai menyadari bahwa Jakarta tidak hanya berisi kepalan tangan dan kesombongan. Di balik kepulan asap rokok dan tawa yang pecah, ada sebuah ikatan yang lebih kuat dari sekadar teman nongkrong.


Riko ternyata bukan sekadar murid kocak yang hobi mengganggu Bunga; dia adalah bagian dari sebuah lingkaran yang memiliki kode etik sendiri. Mereka menyebut diri mereka sebagai geng, tapi bukan tipe yang mencari keributan di jalanan. Mereka adalah sekumpulan orang yang memilih jalan damai, selama tidak ada yang berani menginjak harga diri mereka. Jika batas itu dilanggar, mereka tak segan-segan menunjukkan taringnya.


Bang Jago, pria dengan tato naga yang tadi menyambutku, adalah pusat gravitasi di sini. Meskipun perawakannya paling sangar, dia memiliki wibawa yang membuat anak-anak STM yang nakal dan preman-preman pasar menaruh hormat setinggi langit. Di sini tidak ada kasta, mereka semua setara dalam persaudaraan, namun Bang Jago adalah suara yang mereka dengar.


"Lu mau gabung sama kita, Kha?" tanya Bang Jago tiba-tiba. Matanya yang tajam menatapku, seolah sedang menguji nyaliku.


"Iya, Kha. Gabung ajalah. Personil makin banyak, kita makin solid," sahut Dendi, salah satu anak STM yang sejak tadi asyik memainkan kunci motornya.


"Gimana, Kha? Lumayan kan buat jagain lo kalau Kaka bawa pasukan lagi," tambah Riko sambil menyenggol lenganku, meyakinkanku dengan tatapan penuh harap.


Aku terdiam sejenak. Pikiranku melayang kembali ke masa-masa di Kalimantan. Aku bukan anak rumahan yang hanya tahu buku pelajaran. Di kampung, saat ada acara musik atau keramaian, aku sering terlibat baku hantam jika ada yang memicu keributan. Darah muda dan sifat pemberani itu sudah mendarah daging. Pindah ke Jakarta ternyata tidak benar-benar menghapus sisi liarku itu.


Melihat solidaritas di depan mataku, aku mengangguk mantap. "Oke, Bang. Gue gabung."


Bang Jago tersenyum lebar, menampakkan barisan giginya. Dia berdiri dan menepuk pundakku dengan keras, sebuah sambutan resmi ke dalam keluarga baruku.


"Dengerin semua!" Bang Jago berteriak, suaranya menggelegar mengalahkan suara bising kendaraan di luar warung. "Mulai detik ini, Rakha adalah saudara kita semua. Darah dia, darah kita. Kalau ada yang berani ganggu Rakha, kita bantu sampai tuntas. Dengan catatan, dia di posisi yang benar!"


"SIAP, BANG!" jawab mereka semua serentak. Suara itu begitu kompak, menggetarkan meja-meja kayu Bi Jiah.


Bi Jiah yang sedang menuang teh hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kami. "Duh, jangan pada berisik! Nanti pelanggan lain pada kabur!" omelnya, tapi ada senyum kecil di sudut bibirnya.


Sore itu, rasa sakit di tubuhku akibat dikeroyok Kaka seolah hilang begitu saja. Aku masuk ke Jakarta sendirian sebagai "anak kampung" yang terasing, tapi sore ini, aku memiliki saudara-saudara baru yang siap berdiri di belakangku. Aku tahu perjuanganku di kota ini masih panjang, apalagi urusan dengan Wulan yang masih misterius. Tapi setidaknya, sekarang aku tidak lagi berjalan sendirian.


Jakarta, mari kita lihat siapa yang akan bertahan lebih lama.
Diubah oleh f4gry... 01-04-2026 18:21
itkgid
kulipriok
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.