Kaskus

Story

f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA
Menaklukkan Ibu Kota


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan

Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan emoticon-Jempol

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan



Quote:

Menaklukkan Ibu Kota


Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
NankendraAvatar border
kelomangdaratAvatar border
YoayoayoAvatar border
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
#12
Bagian 9: Obat Merah dari Gadis Kuncir kuda

Aku masih terduduk lemas di tanah yang mulai lembap. Napasku satu-satu, memburu di antara rasa sakit yang menjalar dari tulang rusuk hingga pelipis. Pukulan Kaka dan teman-temannya tadi benar-benar membuat dunia serasa berputar.

Aku menyandarkan kepala ke tembok kusam di belakang sekolah, mencoba mengumpulkan sisa tenaga hanya untuk sekadar berdiri.

Tiba-tiba, terdengar langkah kaki ringan yang terburu-buru mendekat. Aku refleks menegang, mengira itu adalah teman-teman Kaka yang kembali untuk ronde kedua. Namun, bayangan yang muncul justru membuat jantungku berhenti berdetak sejenak.

Wulan.

Dia berdiri di sana, menatapku dengan mata yang membelalak lebar. Wajahnya pucat pasi melihat kondisiku yang berantakan; seragam putihku kini penuh noda tanah dan bercak merah darah. Tanpa berkata apa-apa, dia tiba-tiba berbalik dan lari menjauh.

Sial, batinku perih. Dia pasti takut. Dia pasti menganggapku monster tukang berantem sekarang.

Aku menunduk lesu, meratapi nasibku yang sepertinya memang ditakdirkan untuk jadi "anak bermasalah" selamanya. Namun, hanya berselang beberapa menit, langkah kaki itu kembali lagi. Kali ini lebih cepat.

Wulan berlutut di depanku. Nafasnya tersengal kecil. Di tangannya, dia membawa botol obat merah, kapas, dan sebotol air mineral yang sepertinya baru saja dia beli dari warung depan.

"Tahan ya," ucapnya lembut, hampir berbisik.

Dia mulai membersihkan luka di sudut bibirku dengan kapas yang sudah dibasahi air. Sentuhannya sangat hati-hati, seolah takut aku akan pecah jika dia menekan terlalu keras. Bau antiseptik menyengat penciumanku, tapi rasa perihnya kalah oleh kehangatan yang menjalar di dadaku.

"Makanya... jangan sok jagoan," kata Wulan tiba-tiba. Dia sedikit menyipitkan mata, seolah sedang mengolokku, tapi ada nada khawatir yang tidak bisa dia sembunyikan.

Aku meringis saat kapas itu menyentuh luka di pelipis. "Kok lo tau gue ada di sini, Lan?" tanyaku penasaran. Suaraku terdengar parau.

Wulan terhenti sejenak, menatap mataku lekat-lekat sebelum kembali fokus ke lukaku. "Tau lah. Kan aku dengar sendiri pas kamu nantang Kaka tadi pagi di kantin. Suara kamu itu keras, Rakha. Seisi kelas juga mungkin dengar."

"Terus kenapa lo nggak lapor guru?"

Wulan menghela napas panjang, kuncir kudanya ikut bergoyang kecil. "Kalau aku lapor, kamu bakal dikeluarin dari sekolah. Aku cuma nggak mau... murid baru yang pinter bikin puisi ini hilang dari kelas."

Dia tersenyum tipis—kali ini bukan senyum ejekan, tapi senyum yang sangat manis. Dia menempelkan plester di pelipisku dengan sangat rapi.

"Udah selesai. Jangan berantem lagi ya, Kha. Jakarta itu emang keras, tapi jangan bikin diri kamu makin hancur gara-gara orang kayak Kaka," ucapnya sambil merapikan sisa kapas ke dalam plastiknya.

Aku menatapnya diam. Ternyata, gadis pendek berkuncir kuda ini jauh lebih berani daripada dugaanku. Di saat semua orang menjauh karena takut, dia justru datang membawa obat merah.

"Makasih ya, Lan. Maaf udah bikin lo khawatir," ucapku tulus.

Aku tertawa kecil, melupakan rasa sakit di tubuhku. Hari ini aku memang babak belur, tapi mendapatkan perhatian dari Wulan rasanya sebanding dengan setiap pukulan yang kuterima.

Wulan akhirnya duduk di sampingku, di atas semen pembatas yang agak berdebu. Dia melipat kedua tangannya di atas lutut, menatap lurus ke depan, ke arah lapangan basket yang sudah mulai sepi. Angin sore Jakarta yang lembap menerpa kuncir kudanya, membuatnya bergoyang pelan.

"Kha," panggilnya lagi, suaranya kini lebih serius. "Jangan sering berantem lah. Tau kan kalau berantem itu nggak ada gunanya sama sekali?"

Aku hanya diam, menunduk menatap buku-buku jariku yang lecet. Rasanya ingin membela diri, ingin bilang kalau aku melakukan ini demi harga diri dan demi dia, tapi lidahku kelu.

"Nyatanya sekarang kamu babak belur gini," sambung Wulan sambil menoleh ke arahku. Dia memperhatikan plester yang baru saja ia tempel di pelipis kiriku. "Jadi tambah jelek tahu, nggak?"

Ejekannya itu telak, tapi anehnya tidak membuatku marah. Aku malah terkekeh pelan, meski sudut bibirku terasa sangat perih saat ditarik untuk tersenyum.

"Ya mending jelek karena berantem daripada jelek dari lahir, Lan," balasku asal, mencoba mengalihkan suasana agar tidak terlalu melankolis.

Wulan mendengus pelan, lalu menyenggol bahuku dengan bahunya. "Dih, masih bisa bercanda ya. Aku serius, Rakha. Orang tuamu pindahin kamu ke sini kan biar sekolah yang bener, bukan buat jadi samsak hidupnya Kaka dan kawan-kawannya."

Aku menghela napas panjang, menatap awan mendung yang semakin gelap di atas sana. "Gue cuma nggak suka dia ngerendahin orang lain, apalagi bawa-bawa nama lo, Lan. Di tempat asal gue, kalau ada yang kayak gitu, ya harus diselesaikan."

Wulan terdiam sejenak. Sorot matanya melunak saat mendengar alasanku. Dia membuang muka, sepertinya sedikit tersipu tapi berusaha menutupinya dengan membetulkan posisi tasnya.

"Ya tapi nggak harus pakai otot terus, kan? Kamu kan pinter... maksudnya, pinter bikin puisi meskipun isinya aneh," cetusnya sambil tertawa kecil. "Pakai otak lah, Kha. Biar kamu nggak perlu luka-luka kayak gini lagi."

Aku menoleh padanya. Di bawah cahaya senja yang mulai temaram, wajah Wulan terlihat sangat tenang. "Iya, Lan. Gue janji. Mulai sekarang, tangan gue cuma bakal gue pakai buat nulis puisi aneh lagi atau... buat pegang sapu kalau dihukum Pak Anwar lagi."

Wulan tertawa lepas mendengar janjiku yang konyol itu. Dia berdiri, lalu menepuk-nepuk rok abu-abunya yang kotor terkena debu.

"Ayo, keburu hujan. Nanti luka kamu malah infeksi kalau kena air hujan Jakarta yang asam ini," ajaknya sambil mengulurkan tangan lagi untuk membantuku berdiri.

Aku menyambut tangannya. Rasanya masih sama seperti saat salaman di kelas dulu bergetar tapi kali ini getarannya bukan karena takut, melainkan karena rasa tenang yang luar biasa.

Sore itu, di belakang sekolah yang penuh coretan, aku belajar satu hal dari gadis pendek ini: bahwa kekuatan yang sesungguhnya bukan ada di kepalan tangan, tapi di keberanian untuk menahan diri.


itkgid
kulipriok
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.