- Beranda
- Stories from the Heart
Menaklukkan Ibu Kota
...
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA

Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan
Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan
Quote:

Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
f4gry...
#11
Bagian 8: Babak belur
Sejak kejadian di laboratorium itu, hari-hariku di Jakarta terasa sedikit lebih ringan. Bayang-bayang malu karena puisi "mahakarya" itu mulai terkikis oleh kenyataan manis bahwa Wulan tidak membenciku.
Bahkan, terkadang kami saling melempar senyum saat berpapasan di koridor. Aku merasa seperti pemenang, setidaknya sampai pagi itu, ketika sebuah bayangan gelap kembali muncul di gerbang sekolah.
Dia datang dengan gaya yang lebih angkuh dari sebelumnya, seolah hukuman dari Pak Anwar hanya dianggapnya sebagai liburan singkat. Begitu dia masuk ke area kantin tempat aku dan Riko sedang duduk, suasana mendadak dingin. Kaka tidak datang sendiri; ketiga temannya mengekor di belakang seperti anjing penjaga.
"Wah, ada sang pujangga kita!" seru Kaka dengan suara lantang, sengaja memancing perhatian siswa lain. "Gimana, Rakha? Sudah bikin puisi baru tentang kuncir kuda? Atau mau gue bikinin sajak tentang muka lebam lo?"
Tawa ejekan meledak dari komplotannya. Kaka berjalan mendekat, lalu dengan sengaja menumpahkan sedikit air mineral ke arah sepatuku.
"Rambut kuncir kuda... kaki gempa... Hahaha! Sumpah, lo itu sampah paling puitis yang pernah gue kenal," ejeknya lagi, kali ini wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku.
Riko di sampingku sudah bersiap berdiri, tapi aku menahannya. Aku mencoba mengingat pesan Om Satria dan senyum Wulan kemarin. Aku tidak ingin masuk ruang BK lagi. Tapi, saat Kaka mulai menyebut nama Wulan dengan nada merendahkan, pertahananku runtuh.
"Mungkin Wulan kasihan sama lo, makanya dia pura-pura baik. Cewek kayak dia nggak level sama anak kampung kayak lo," bisik Kaka tepat di telingaku.
Zrap!
Tanpa sadar, tanganku sudah mencengkeram kerah bajunya dengan kuat. Aku menariknya hingga tubuh tegapnya sedikit terangkat. Darahku mendidih, rasanya seperti ada api yang menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala. Mataku menatap tajam tepat ke biji matanya, menunjukkan bahwa harimau Kalimantan ini sudah benar-benar terjaga.
"Dengar, Kaka," suaraku rendah namun penuh penekanan. "Gue nggak mau cari masalah sekarang. Gue nggak mau merusak lantai sekolah ini pakai muka lo lagi."
Aku melepaskan cengkeramanku dengan sentakan kasar, membuat Kaka sedikit terhuyung ke belakang. Seisi kantin menahan napas.
"Kalau lo laki-laki, kalau lo punya nyali dan bukan cuma jago kandang di depan temen-temen lo... temui gue di belakang sekolah nanti sore. Setelah bel pulang bunyi.
Kita selesaikan ini sebagai laki-laki, bukan sebagai anak sekolah yang hobi ngadu ke guru BK," tantangku dengan nada dingin yang mematikan.
Kaka terdiam sejenak, wajahnya memerah karena malu ditantang di depan umum. Dia mencoba mengatur kembali jaketnya yang berantakan.
"Oke. Belakang sekolah. Jam empat sore. Jangan nangis kalau lo harus balik ke Kalimantan pakai kursi roda," ancamnya sebelum berbalik pergi dengan langkah kaki yang terburu-buru.
Riko menatapku dengan wajah pucat. "Kha, lo gila? Pak Anwar bisa pecat lo kalau ketahuan berantem lagi!"
"Gue nggak punya pilihan, Ko. Dia sudah bawa-bawa nama Wulan. Gue bakal selesaikan ini sekali dan untuk selamanya," jawabku mantap.
Sore itu, langit Jakarta mulai mendung, seolah tahu bahwa di belakang sekolah yang sepi, akan ada badai yang segera pecah. Aku harus memastikan satu hal: apa pun yang terjadi nanti, Wulan tidak boleh tahu. Aku tidak ingin dia melihat sisi kasarku lagi.
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, namun bagiku itu seperti lonceng dimulainya sebuah pertaruhan. Aku meminta Riko untuk pulang duluan meskipun dia bersikeras ingin ikut karena aku ingin masalah ini selesai tanpa menyeret orang lain. Aku berjalan menuju area belakang sekolah, sebuah lahan kosong yang ditumbuhi rumput liar dan dibatasi tembok tinggi yang penuh coretan piloks.
Aku berdiri menyandar di tembok, menghisap udara Jakarta yang terasa berat karena mendung. Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar. Kaka muncul dari balik gudang olahraga. Dia datang sendirian, sesuai tantanganku. Ada gurat keraguan di wajahnya, tapi kesombongannya masih menutupi rasa takut itu.
"Gue kira lo bakal kabur balik ke Kalimantan, Rakha," cetus Kaka sambil melepas kancing seragam paling atasnya.
Aku menatapnya datar.
"Gue nggak pernah lari dari masalah, Ka. Apalagi dari orang kayak lo. Lo punya masalah apa sebenarnya sama gue? Karena gue anak baru? Atau karena Wulan?"
Kaka tertawa sinis, langkahnya mendekat. "Lo itu cuma gangguan. Datang-datang sok jago, sok puitis, deketin cewek yang harusnya jadi milik orang sini. Lo nggak pantes ada di sini."
"Jakarta itu luas, Ka. Tapi kayaknya otak lo kesempitan buat paham kalau siapa pun punya hak buat hidup di sini," balasku dingin. "Cukup bicaranya. Lo mau main tangan sekarang atau mau nunggu hujan turun?"
Tanpa aba-aba, Kaka menerjang. Dia melayangkan pukulan lurus yang cukup cepat, tapi aku berhasil mengelak. Instingku sebagai anak yang besar dengan kerasnya jalanan Kalimantan langsung mengambil alih. Kami bergumul, saling tukar pukulan di tengah debu yang beterbangan.
Kaka memang kuat, tapi dia terbiasa berkelahi dengan mengandalkan gertakan. Sedangkan aku? Aku berkelahi untuk bertahan hidup. Saat aku berhasil menyarangkan sebuah tendangan telak di perutnya, Kaka terhuyung jatuh.
Napasnya tersengal, dan wajahnya mulai pucat karena menyadari bahwa satu lawan satu, dia bukan tandinganku.
"Cuma segini kemampuan lo?" tanyaku sambil menyeka keringat di dahi.
Kaka tidak menjawab. Dia justru bersiul nyaring.
Tiba-tiba, dari balik tembok runtuh, muncul tiga orang temannya yang tadi pagi mengekor di kantin.
Mereka membawa balok kayu kecil dan raut wajah penuh dendam.
"Satu lawan satu, ya?" aku tersenyum getir. "Ternyata lo emang pengecut sejati, Ka."
"Di Jakarta, yang penting itu menang, Rakha! Sikat dia!" teriak Kaka sambil bangkit berdiri.
Pengeroyokan itu tidak terhindarkan. Aku berusaha sekuat tenaga melawan. Satu orang kupukul jatuh, tapi dua lainnya menyerang dari samping. Sebuah pukulan mendarat di pelipisku, membuat pandanganku sempat mengabur. Punggungku dihantam balok kayu, rasanya seperti tulangku mau remuk.
Aku babak belur. Darah segar mengalir dari sudut bibir dan pelipisku. Namun, di tengah kepungan itu, mataku hanya tertuju pada satu orang: Kaka yang berdiri di belakang sambil tertawa puas melihatku dihajar.
Dengan sisa tenaga dan amarah yang meluap, aku menerjang melewati dua temannya. Aku tidak peduli lagi dengan pukulan yang mendarat di tubuhku.
Fokusku hanya satu. Begitu aku mencapai jangkauan Kaka, aku mengumpulkan seluruh tenaga di kepalan tangan kananku.
BUGH!
Pukulan mentah itu menghantam pipi Kaka dengan suara yang sangat keras. Dia terpental menabrak tembok, kepalanya tersentak, dan dia langsung tersungkur diam.
Pukulan itu adalah rangkuman dari semua kekesalanku atas hinaannya pada Wulan dan puisi konyolku.
"Kaka! Woy, bangun!" teriak teman-temannya yang langsung panik melihat bos mereka tak berkutik.
Melihat Kaka sudah tumbang, mereka tidak berani melanjutkan serangan padaku. Mereka buru-buru memapah Kaka yang masih setengah sadar untuk pergi dari sana sebelum ada guru yang lewat.
Aku jatuh terduduk di tanah yang mulai basah karena gerimis. Tubuhku gemetar, napasku pendek-pendek, dan seluruh badanku terasa remuk. Aku melihat kepalanku yang lecet dan berdarah. Aku menang, tapi rasanya sangat perih.
Aku mencoba berdiri pelan-pelan, memungut tas sekolahku yang kotor terkena debu.
Sejak kejadian di laboratorium itu, hari-hariku di Jakarta terasa sedikit lebih ringan. Bayang-bayang malu karena puisi "mahakarya" itu mulai terkikis oleh kenyataan manis bahwa Wulan tidak membenciku.
Bahkan, terkadang kami saling melempar senyum saat berpapasan di koridor. Aku merasa seperti pemenang, setidaknya sampai pagi itu, ketika sebuah bayangan gelap kembali muncul di gerbang sekolah.
Dia datang dengan gaya yang lebih angkuh dari sebelumnya, seolah hukuman dari Pak Anwar hanya dianggapnya sebagai liburan singkat. Begitu dia masuk ke area kantin tempat aku dan Riko sedang duduk, suasana mendadak dingin. Kaka tidak datang sendiri; ketiga temannya mengekor di belakang seperti anjing penjaga.
"Wah, ada sang pujangga kita!" seru Kaka dengan suara lantang, sengaja memancing perhatian siswa lain. "Gimana, Rakha? Sudah bikin puisi baru tentang kuncir kuda? Atau mau gue bikinin sajak tentang muka lebam lo?"
Tawa ejekan meledak dari komplotannya. Kaka berjalan mendekat, lalu dengan sengaja menumpahkan sedikit air mineral ke arah sepatuku.
"Rambut kuncir kuda... kaki gempa... Hahaha! Sumpah, lo itu sampah paling puitis yang pernah gue kenal," ejeknya lagi, kali ini wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku.
Riko di sampingku sudah bersiap berdiri, tapi aku menahannya. Aku mencoba mengingat pesan Om Satria dan senyum Wulan kemarin. Aku tidak ingin masuk ruang BK lagi. Tapi, saat Kaka mulai menyebut nama Wulan dengan nada merendahkan, pertahananku runtuh.
"Mungkin Wulan kasihan sama lo, makanya dia pura-pura baik. Cewek kayak dia nggak level sama anak kampung kayak lo," bisik Kaka tepat di telingaku.
Zrap!
Tanpa sadar, tanganku sudah mencengkeram kerah bajunya dengan kuat. Aku menariknya hingga tubuh tegapnya sedikit terangkat. Darahku mendidih, rasanya seperti ada api yang menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala. Mataku menatap tajam tepat ke biji matanya, menunjukkan bahwa harimau Kalimantan ini sudah benar-benar terjaga.
"Dengar, Kaka," suaraku rendah namun penuh penekanan. "Gue nggak mau cari masalah sekarang. Gue nggak mau merusak lantai sekolah ini pakai muka lo lagi."
Aku melepaskan cengkeramanku dengan sentakan kasar, membuat Kaka sedikit terhuyung ke belakang. Seisi kantin menahan napas.
"Kalau lo laki-laki, kalau lo punya nyali dan bukan cuma jago kandang di depan temen-temen lo... temui gue di belakang sekolah nanti sore. Setelah bel pulang bunyi.
Kita selesaikan ini sebagai laki-laki, bukan sebagai anak sekolah yang hobi ngadu ke guru BK," tantangku dengan nada dingin yang mematikan.
Kaka terdiam sejenak, wajahnya memerah karena malu ditantang di depan umum. Dia mencoba mengatur kembali jaketnya yang berantakan.
"Oke. Belakang sekolah. Jam empat sore. Jangan nangis kalau lo harus balik ke Kalimantan pakai kursi roda," ancamnya sebelum berbalik pergi dengan langkah kaki yang terburu-buru.
Riko menatapku dengan wajah pucat. "Kha, lo gila? Pak Anwar bisa pecat lo kalau ketahuan berantem lagi!"
"Gue nggak punya pilihan, Ko. Dia sudah bawa-bawa nama Wulan. Gue bakal selesaikan ini sekali dan untuk selamanya," jawabku mantap.
Sore itu, langit Jakarta mulai mendung, seolah tahu bahwa di belakang sekolah yang sepi, akan ada badai yang segera pecah. Aku harus memastikan satu hal: apa pun yang terjadi nanti, Wulan tidak boleh tahu. Aku tidak ingin dia melihat sisi kasarku lagi.
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, namun bagiku itu seperti lonceng dimulainya sebuah pertaruhan. Aku meminta Riko untuk pulang duluan meskipun dia bersikeras ingin ikut karena aku ingin masalah ini selesai tanpa menyeret orang lain. Aku berjalan menuju area belakang sekolah, sebuah lahan kosong yang ditumbuhi rumput liar dan dibatasi tembok tinggi yang penuh coretan piloks.
Aku berdiri menyandar di tembok, menghisap udara Jakarta yang terasa berat karena mendung. Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar. Kaka muncul dari balik gudang olahraga. Dia datang sendirian, sesuai tantanganku. Ada gurat keraguan di wajahnya, tapi kesombongannya masih menutupi rasa takut itu.
"Gue kira lo bakal kabur balik ke Kalimantan, Rakha," cetus Kaka sambil melepas kancing seragam paling atasnya.
Aku menatapnya datar.
"Gue nggak pernah lari dari masalah, Ka. Apalagi dari orang kayak lo. Lo punya masalah apa sebenarnya sama gue? Karena gue anak baru? Atau karena Wulan?"
Kaka tertawa sinis, langkahnya mendekat. "Lo itu cuma gangguan. Datang-datang sok jago, sok puitis, deketin cewek yang harusnya jadi milik orang sini. Lo nggak pantes ada di sini."
"Jakarta itu luas, Ka. Tapi kayaknya otak lo kesempitan buat paham kalau siapa pun punya hak buat hidup di sini," balasku dingin. "Cukup bicaranya. Lo mau main tangan sekarang atau mau nunggu hujan turun?"
Tanpa aba-aba, Kaka menerjang. Dia melayangkan pukulan lurus yang cukup cepat, tapi aku berhasil mengelak. Instingku sebagai anak yang besar dengan kerasnya jalanan Kalimantan langsung mengambil alih. Kami bergumul, saling tukar pukulan di tengah debu yang beterbangan.
Kaka memang kuat, tapi dia terbiasa berkelahi dengan mengandalkan gertakan. Sedangkan aku? Aku berkelahi untuk bertahan hidup. Saat aku berhasil menyarangkan sebuah tendangan telak di perutnya, Kaka terhuyung jatuh.
Napasnya tersengal, dan wajahnya mulai pucat karena menyadari bahwa satu lawan satu, dia bukan tandinganku.
"Cuma segini kemampuan lo?" tanyaku sambil menyeka keringat di dahi.
Kaka tidak menjawab. Dia justru bersiul nyaring.
Tiba-tiba, dari balik tembok runtuh, muncul tiga orang temannya yang tadi pagi mengekor di kantin.
Mereka membawa balok kayu kecil dan raut wajah penuh dendam.
"Satu lawan satu, ya?" aku tersenyum getir. "Ternyata lo emang pengecut sejati, Ka."
"Di Jakarta, yang penting itu menang, Rakha! Sikat dia!" teriak Kaka sambil bangkit berdiri.
Pengeroyokan itu tidak terhindarkan. Aku berusaha sekuat tenaga melawan. Satu orang kupukul jatuh, tapi dua lainnya menyerang dari samping. Sebuah pukulan mendarat di pelipisku, membuat pandanganku sempat mengabur. Punggungku dihantam balok kayu, rasanya seperti tulangku mau remuk.
Aku babak belur. Darah segar mengalir dari sudut bibir dan pelipisku. Namun, di tengah kepungan itu, mataku hanya tertuju pada satu orang: Kaka yang berdiri di belakang sambil tertawa puas melihatku dihajar.
Dengan sisa tenaga dan amarah yang meluap, aku menerjang melewati dua temannya. Aku tidak peduli lagi dengan pukulan yang mendarat di tubuhku.
Fokusku hanya satu. Begitu aku mencapai jangkauan Kaka, aku mengumpulkan seluruh tenaga di kepalan tangan kananku.
BUGH!
Pukulan mentah itu menghantam pipi Kaka dengan suara yang sangat keras. Dia terpental menabrak tembok, kepalanya tersentak, dan dia langsung tersungkur diam.
Pukulan itu adalah rangkuman dari semua kekesalanku atas hinaannya pada Wulan dan puisi konyolku.
"Kaka! Woy, bangun!" teriak teman-temannya yang langsung panik melihat bos mereka tak berkutik.
Melihat Kaka sudah tumbang, mereka tidak berani melanjutkan serangan padaku. Mereka buru-buru memapah Kaka yang masih setengah sadar untuk pergi dari sana sebelum ada guru yang lewat.
Aku jatuh terduduk di tanah yang mulai basah karena gerimis. Tubuhku gemetar, napasku pendek-pendek, dan seluruh badanku terasa remuk. Aku melihat kepalanku yang lecet dan berdarah. Aku menang, tapi rasanya sangat perih.
Aku mencoba berdiri pelan-pelan, memungut tas sekolahku yang kotor terkena debu.
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2