- Beranda
- Stories from the Heart
Menaklukkan Ibu Kota
...
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA

Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan
Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan
Quote:

Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
f4gry...
#9
Bagian 7: Taktik yang manjur
Hari itu, aku resmi menjadi orang paling pemalu se-Jakarta. Jangankan mengajak Wulan bicara, menatap punggungnya dari kejauhan saja aku sudah merasa ingin melebur jadi aspal koridor. Rasanya harga diriku sebagai "jagoan Kalimantan" runtuh tak bersisa, digantikan oleh label "pujangga gagal" yang disematkan Bu Umi di depan seluruh kelas.
Saat jam istirahat, di tengah kebisingan kantin yang biasanya kusukai, Wulan menghampiriku. Langkah kakinya terdengar pelan, tapi jantungku berdegup kencang seperti suara knalpot motor Om Satria. Tanpa banyak bicara, dia meletakkan kertas puisi yang sudah agak lecek itu di depanku.
Wajahnya merah padam, menunduk dalam-dalam seolah tidak sanggup menatap dunia.
"Maaf..." ucapku singkat, suaraku nyaris tak terdengar. Aku benar-benar merasa bersalah karena telah menyeret namanya ke dalam aksi konyol ini.
Wulan tidak menjawab. Dia hanya membalikkan badan dan bergegas pergi meninggalkanku. Tidak ada senyum, tidak ada kata-kata. Aku terpaku menatap punggungnya, merasa bahwa peluangku mendapatkan hatinya sudah tamat sebelum benar-benar dimulai. Dia pasti marah besar karena aku mempermalukannya di depan Bu Umi.
Malam harinya di kontrakan, aku duduk di pojokan dengan wajah ditekuk. Kertas puisi itu kurobek-robek menjadi potongan kecil, sekecil martabatku saat ini.
Om Satria yang melihat itu langsung memasang wajah humorisnya yang menyebalkan. "Kenapa dirobek, Kha? Siapa tahu nanti jadi naskah drama kolosal 'Cinta di Balik Kuncir Kuda'. Hahaha! Lagian lo sih, dengerin saran teman lo itu yang otaknya cuma isi oli bekas!"
Aku hanya bisa mendengus, membiarkan serpihan kertas itu masuk ke tempat sampah.
Keesokan harinya pun tidak lebih baik. Setiap kali aku lewat di koridor, teman-teman sekelas akan berbisik, "Hoi, Rakha! Kuncir kudanya sudah goyang belum?" atau "Gaji dari Kalimantan sudah turun?" Tawaran godaan itu terus menghujamku selama beberapa hari ke depan.
Puncak dari "penderitaan" ini terjadi saat jam praktik di laboratorium IPA bersama Bu Layla. Takdir (atau mungkin guru yang sengaja mengaturnya) membuatku berada dalam satu kelompok yang sangat tidak ideal: Aku, Riko, Bunga, dan Wulan.
Suasana di meja laboratorium itu terasa sangat canggung. Bau formalin dan mikroskop di depan kami seolah kalah menyengat dibanding ketegangan di antara kami berempat. Riko senyum-senyum puas, merasa misinya mengelabuiku sukses besar.
Bunga, yang biasanya ketus, tiba-tiba membuka suara sambil pura-pura sibuk dengan preparatnya. "Eh, Kha... itu kertas puisi fenomenal kemarin lo simpan nggak?"
Aku berdeham, mencoba tetap tenang meski telingaku mulai panas. "Udah kurobek-robek," jawabku singkat tanpa menoleh.
"Yah, kok dirobek?" Kali ini suara lembut Wulan yang terdengar. Aku memberanikan diri menoleh ke arahnya.
"Kenapa dirobek? Bukankah itu isi perasaan lo?" sambung Wulan. Dia menatapku dengan mata jernihnya, lalu sebuah senyum tipis—sangat tipis—muncul di bibirnya.
Hatiku mencelos. Aku tidak tahu apakah itu senyum tulus atau senyum ejekan, tapi bagiku saat itu, Wulan seperti sedang ikut "menguliti" sisa-sisa mentalku. Rasanya dia sedang mengolok-olok keberanian konyolku semalam.
Riko yang duduk di sebelahku menyenggol lenganku, tawanya tertahan di tenggorokan. Dia terlihat sangat puas melihatku terpojok oleh dua wanita sekaligus.
"Ternyata jagoan kita kalau urusan hati, lebih rapuh daripada kaca mikroskop ya, Ko?" celetuk Bunga sambil tertawa kecil, yang disambut anggukan mantap dari Riko.
Aku hanya bisa menunduk, memutar-mutar fokus mikroskop dengan asal. Sialan, batinku. Malu ini benar-benar melekat permanen. Tidak akan pernah kulupakan sampai kapan pun, bagaimana seorang Arkhana Rakha dibuat tak berdaya bukan oleh kepalan tangan, melainkan oleh secarik kertas puisi dan senyuman tipis seorang gadis berkuncir kuda.
Jakarta benar-benar punya banyak cara untuk membuatku merasa kecil.
Ternyata, dugaanku tentang "senyum ejekan" itu meleset total. Di balik kepanikanku yang luar biasa, Jakarta mulai menunjukkan sisi magisnya yang tidak pernah kuduga sebelumnya.
Siapa sangka, di tengah bau menyengat cairan kimia dan dinginnya meja laboratorium, senyum tipis Wulan itu justru menjadi titik balik. Saat Riko dan Bunga sibuk menertawakanku, Wulan justru menggeser kursi mikroskopnya sedikit lebih dekat ke arahku.
"Kha," panggilnya lirih, hampir tenggelam oleh tawa Riko.
Aku menoleh, masih dengan sisa-sisa wajah ketus karena malu. "Apa?"
"Puisinya... aneh sih," katanya sambil menahan tawa, tapi matanya menatapku dengan binar yang berbeda. "Tapi makasih ya. Baru kali ini ada cowok yang senekat itu di depan Bu Umi cuma buat kenalan sama aku."
Jantungku rasanya mau melompat keluar dari jas lab yang kupakai. Kalimat itu seperti siraman air es di tengah padang pasir. Riko yang tadinya tertawa mendadak terdiam, dia melirikku dengan kode mata "Tuh kan, taktik gue berhasil!" yang sangat menyebalkan.
"Jadi... nggak marah?" tanyaku ragu.
Wulan menggeleng pelan, kuncir kudanya ikut bergoyang lucu. "Awalnya malu banget, pengen nangis rasanya. Tapi pas dipikir-pikir, kamu lucu juga. Anak Kalimantan emang semuanya senekat kamu, ya?"
Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. "Tergantung situasinya, Lan. Kalau buat orang yang tepat, nekat dikit nggak apa-apa, kan?"
Bunga yang sedari tadi menyimak langsung berdeham keras. "Ehem! Ini mau lanjut praktik membelah bawang atau mau lanjut membelah hati? Tolong ya, Pak Rakha dan Bu Wulan, fokus!"
Wajah Wulan seketika memerah—kali ini benar-benar merah karena tersipu, bukan karena malu seperti saat di depan Bu Umi. Dia segera membuang muka dan pura-pura sibuk mencatat hasil pengamatan di buku laporannya.
Sepulang sekolah, aku berjalan menuju parkiran dengan langkah yang jauh lebih ringan. Rasa sakit di pinggang akibat hukuman menyikat toilet kemarin rasanya hilang seketika.
Riko merangkul bahuku dengan kasar dari belakang. "Gimana? Masih mau maki-maki taktik 'otak geser' gue?"
"Diem lo, Ko. Kebetulan aja itu mah," jawabku sambil mencoba menahan senyum.
"Halah, gengsi lo selangit! Tadi gue liat Wulan senyum terus pas lo lagi fokus liat mikroskop. Lo udah masuk radar dia, Bos. Tinggal gimana lo jaga sikap aja biar nggak bikin puisi konyol lagi," ledek Riko sambil tertawa.
Malam itu, di kontrakan Om Satria, aku tidak lagi meratapi robek-robekan kertas di tempat sampah. Aku duduk di teras kecil sambil menatap langit Jakarta yang minim bintang. Om Satria keluar membawa segelas kopi hitam, lalu duduk di sampingku.
"Gimana, Sang Pujangga? Sudah dimaafkan sama permaisurinya?" tanya Om Satria sambil menyulut rokoknya.
"Kayaknya sih gitu, Om. Malah dia bilang aku lucu," ceritaku bangga.
Om Satria terkekeh, asap rokoknya mengepul di udara malam. "Ingat, Rakha. Di Jakarta ini, otot bisa bikin lo ditakuti, tapi keberanian buat jadi diri sendiri meskipun kelihatan bego itu yang bikin lo dicintai. Lo udah satu langkah lebih maju daripada gue yang cuma bisa pacaran sama skripsi."
Aku tertawa mendengar curhat colongan Om Satria. Aku sadar, kejadian memalukan di depan Bu Umi itu bukan akhir dari segalanya. Itu justru pembuka pintu menuju hati Wulan.
Jakarta ternyata bukan cuma tentang debu, kemacetan, dan kepalan tangan Kaka. Di sini, di kota yang keras ini, aku baru saja menemukan bahwa terkadang, untuk mendapatkan perhatian seseorang, kamu harus berani menjadi bahan tertawaan dunia.
Aku memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah Wulan saat tersenyum tipis tadi. Oke, Lan. Kalau kamu bilang aku lucu, aku bakal jadi pelawak paling gigih biar bisa liat senyum itu tiap hari.
Hari itu, aku resmi menjadi orang paling pemalu se-Jakarta. Jangankan mengajak Wulan bicara, menatap punggungnya dari kejauhan saja aku sudah merasa ingin melebur jadi aspal koridor. Rasanya harga diriku sebagai "jagoan Kalimantan" runtuh tak bersisa, digantikan oleh label "pujangga gagal" yang disematkan Bu Umi di depan seluruh kelas.
Saat jam istirahat, di tengah kebisingan kantin yang biasanya kusukai, Wulan menghampiriku. Langkah kakinya terdengar pelan, tapi jantungku berdegup kencang seperti suara knalpot motor Om Satria. Tanpa banyak bicara, dia meletakkan kertas puisi yang sudah agak lecek itu di depanku.
Wajahnya merah padam, menunduk dalam-dalam seolah tidak sanggup menatap dunia.
"Maaf..." ucapku singkat, suaraku nyaris tak terdengar. Aku benar-benar merasa bersalah karena telah menyeret namanya ke dalam aksi konyol ini.
Wulan tidak menjawab. Dia hanya membalikkan badan dan bergegas pergi meninggalkanku. Tidak ada senyum, tidak ada kata-kata. Aku terpaku menatap punggungnya, merasa bahwa peluangku mendapatkan hatinya sudah tamat sebelum benar-benar dimulai. Dia pasti marah besar karena aku mempermalukannya di depan Bu Umi.
Malam harinya di kontrakan, aku duduk di pojokan dengan wajah ditekuk. Kertas puisi itu kurobek-robek menjadi potongan kecil, sekecil martabatku saat ini.
Om Satria yang melihat itu langsung memasang wajah humorisnya yang menyebalkan. "Kenapa dirobek, Kha? Siapa tahu nanti jadi naskah drama kolosal 'Cinta di Balik Kuncir Kuda'. Hahaha! Lagian lo sih, dengerin saran teman lo itu yang otaknya cuma isi oli bekas!"
Aku hanya bisa mendengus, membiarkan serpihan kertas itu masuk ke tempat sampah.
Keesokan harinya pun tidak lebih baik. Setiap kali aku lewat di koridor, teman-teman sekelas akan berbisik, "Hoi, Rakha! Kuncir kudanya sudah goyang belum?" atau "Gaji dari Kalimantan sudah turun?" Tawaran godaan itu terus menghujamku selama beberapa hari ke depan.
Puncak dari "penderitaan" ini terjadi saat jam praktik di laboratorium IPA bersama Bu Layla. Takdir (atau mungkin guru yang sengaja mengaturnya) membuatku berada dalam satu kelompok yang sangat tidak ideal: Aku, Riko, Bunga, dan Wulan.
Suasana di meja laboratorium itu terasa sangat canggung. Bau formalin dan mikroskop di depan kami seolah kalah menyengat dibanding ketegangan di antara kami berempat. Riko senyum-senyum puas, merasa misinya mengelabuiku sukses besar.
Bunga, yang biasanya ketus, tiba-tiba membuka suara sambil pura-pura sibuk dengan preparatnya. "Eh, Kha... itu kertas puisi fenomenal kemarin lo simpan nggak?"
Aku berdeham, mencoba tetap tenang meski telingaku mulai panas. "Udah kurobek-robek," jawabku singkat tanpa menoleh.
"Yah, kok dirobek?" Kali ini suara lembut Wulan yang terdengar. Aku memberanikan diri menoleh ke arahnya.
"Kenapa dirobek? Bukankah itu isi perasaan lo?" sambung Wulan. Dia menatapku dengan mata jernihnya, lalu sebuah senyum tipis—sangat tipis—muncul di bibirnya.
Hatiku mencelos. Aku tidak tahu apakah itu senyum tulus atau senyum ejekan, tapi bagiku saat itu, Wulan seperti sedang ikut "menguliti" sisa-sisa mentalku. Rasanya dia sedang mengolok-olok keberanian konyolku semalam.
Riko yang duduk di sebelahku menyenggol lenganku, tawanya tertahan di tenggorokan. Dia terlihat sangat puas melihatku terpojok oleh dua wanita sekaligus.
"Ternyata jagoan kita kalau urusan hati, lebih rapuh daripada kaca mikroskop ya, Ko?" celetuk Bunga sambil tertawa kecil, yang disambut anggukan mantap dari Riko.
Aku hanya bisa menunduk, memutar-mutar fokus mikroskop dengan asal. Sialan, batinku. Malu ini benar-benar melekat permanen. Tidak akan pernah kulupakan sampai kapan pun, bagaimana seorang Arkhana Rakha dibuat tak berdaya bukan oleh kepalan tangan, melainkan oleh secarik kertas puisi dan senyuman tipis seorang gadis berkuncir kuda.
Jakarta benar-benar punya banyak cara untuk membuatku merasa kecil.
Ternyata, dugaanku tentang "senyum ejekan" itu meleset total. Di balik kepanikanku yang luar biasa, Jakarta mulai menunjukkan sisi magisnya yang tidak pernah kuduga sebelumnya.
Siapa sangka, di tengah bau menyengat cairan kimia dan dinginnya meja laboratorium, senyum tipis Wulan itu justru menjadi titik balik. Saat Riko dan Bunga sibuk menertawakanku, Wulan justru menggeser kursi mikroskopnya sedikit lebih dekat ke arahku.
"Kha," panggilnya lirih, hampir tenggelam oleh tawa Riko.
Aku menoleh, masih dengan sisa-sisa wajah ketus karena malu. "Apa?"
"Puisinya... aneh sih," katanya sambil menahan tawa, tapi matanya menatapku dengan binar yang berbeda. "Tapi makasih ya. Baru kali ini ada cowok yang senekat itu di depan Bu Umi cuma buat kenalan sama aku."
Jantungku rasanya mau melompat keluar dari jas lab yang kupakai. Kalimat itu seperti siraman air es di tengah padang pasir. Riko yang tadinya tertawa mendadak terdiam, dia melirikku dengan kode mata "Tuh kan, taktik gue berhasil!" yang sangat menyebalkan.
"Jadi... nggak marah?" tanyaku ragu.
Wulan menggeleng pelan, kuncir kudanya ikut bergoyang lucu. "Awalnya malu banget, pengen nangis rasanya. Tapi pas dipikir-pikir, kamu lucu juga. Anak Kalimantan emang semuanya senekat kamu, ya?"
Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. "Tergantung situasinya, Lan. Kalau buat orang yang tepat, nekat dikit nggak apa-apa, kan?"
Bunga yang sedari tadi menyimak langsung berdeham keras. "Ehem! Ini mau lanjut praktik membelah bawang atau mau lanjut membelah hati? Tolong ya, Pak Rakha dan Bu Wulan, fokus!"
Wajah Wulan seketika memerah—kali ini benar-benar merah karena tersipu, bukan karena malu seperti saat di depan Bu Umi. Dia segera membuang muka dan pura-pura sibuk mencatat hasil pengamatan di buku laporannya.
Sepulang sekolah, aku berjalan menuju parkiran dengan langkah yang jauh lebih ringan. Rasa sakit di pinggang akibat hukuman menyikat toilet kemarin rasanya hilang seketika.
Riko merangkul bahuku dengan kasar dari belakang. "Gimana? Masih mau maki-maki taktik 'otak geser' gue?"
"Diem lo, Ko. Kebetulan aja itu mah," jawabku sambil mencoba menahan senyum.
"Halah, gengsi lo selangit! Tadi gue liat Wulan senyum terus pas lo lagi fokus liat mikroskop. Lo udah masuk radar dia, Bos. Tinggal gimana lo jaga sikap aja biar nggak bikin puisi konyol lagi," ledek Riko sambil tertawa.
Malam itu, di kontrakan Om Satria, aku tidak lagi meratapi robek-robekan kertas di tempat sampah. Aku duduk di teras kecil sambil menatap langit Jakarta yang minim bintang. Om Satria keluar membawa segelas kopi hitam, lalu duduk di sampingku.
"Gimana, Sang Pujangga? Sudah dimaafkan sama permaisurinya?" tanya Om Satria sambil menyulut rokoknya.
"Kayaknya sih gitu, Om. Malah dia bilang aku lucu," ceritaku bangga.
Om Satria terkekeh, asap rokoknya mengepul di udara malam. "Ingat, Rakha. Di Jakarta ini, otot bisa bikin lo ditakuti, tapi keberanian buat jadi diri sendiri meskipun kelihatan bego itu yang bikin lo dicintai. Lo udah satu langkah lebih maju daripada gue yang cuma bisa pacaran sama skripsi."
Aku tertawa mendengar curhat colongan Om Satria. Aku sadar, kejadian memalukan di depan Bu Umi itu bukan akhir dari segalanya. Itu justru pembuka pintu menuju hati Wulan.
Jakarta ternyata bukan cuma tentang debu, kemacetan, dan kepalan tangan Kaka. Di sini, di kota yang keras ini, aku baru saja menemukan bahwa terkadang, untuk mendapatkan perhatian seseorang, kamu harus berani menjadi bahan tertawaan dunia.
Aku memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah Wulan saat tersenyum tipis tadi. Oke, Lan. Kalau kamu bilang aku lucu, aku bakal jadi pelawak paling gigih biar bisa liat senyum itu tiap hari.
kulipriok dan 2 lainnya memberi reputasi
3