- Beranda
- Stories from the Heart
Menaklukkan Ibu Kota
...
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA

Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan
Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan
Quote:

Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
f4gry...
#8
Bagian 6: Taktik cinta
Taktik pertama dari "Otak Geser" Riko pun dimulai. Dia menyarankanku untuk meminjam buku catatan Wulan dengan alasan ingin mengejar ketertinggalan pelajaran selama aku sibuk "berakrab-ria" di ruang BK. Aku, dengan tampang memelas yang dibuat-buat, akhirnya berhasil meminjam buku bersampul cokelat rapi milik Wulan.
Namun, instruksi Riko selanjutnya membuatku nyaris tersedak bakwan sisa kemarin.
"Tulis puisi, Kha. Sisipin di dalem bukunya," bisik Riko dengan nada sok ahli cinta.
"Puisi? Serius lo? Ini Jakarta tahun 2000-an, bukan jaman Siti Nurbaya, Ko!" protesku. "Masa anak Kalimantan yang jago kelahi disuruh bikin kata-kata puitis? Geli sendiri gue."
Riko tidak menyerah. Dia meyakinkanku dengan seribu satu alasan bahwa cewek pintar seperti Wulan pasti suka cowok yang punya sisi "lembut" dan "puitis". Akhirnya, karena putus asa dan tidak punya ide lain, aku luluh. Aku setuju mengikuti taktik purba bin kuno itu.
Malam harinya, di kontrakan sempit Om Satria, aku duduk bersila di depan meja kayu yang reyot. Di sampingku, Om Satria sedang asyik menyeruput mie instan sambil memperhatikan gerak-gerikku yang gelisah mencoret-coret kertas.
"Lagi ngapain lo, Rakha? Tumben amat pegang pulpen tapi nggak sambil maki-maki tugas?" tanya Om Satria, matanya melirik kertas di depanku.
Begitu dia membaca tulisan "Puisi Untuk Wulan" di bagian atas, tawanya meledak seketika. Kuah mie instan nyaris menyemprot keluar dari mulutnya.
"Hahahaha! Rakha, Rakha! Lo mau deketin cewek pakai puisi? Cara purba itu, Tong! Lo mending ajak dia makan bakso daripada bikin dia merinding baca tulisan lo yang kayak cakar ayam ini!" ejeknya sambil memegangi perut.
"Diem deh, Om! Ini taktik tingkat tinggi dari Riko," balasku ketus, meski dalam hati aku mulai ragu.
Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Aku tetap menulis. Bagiku saat itu, puisi ini sudah terasa sesempurna karya pujangga ternama, meski bahasanya campur aduk antara bahasa kalbu dan bahasa preman pasar.
Keesokan harinya, dengan jantung yang berdegup tidak karuan, aku mengembalikan buku catatan itu kepada Wulan. Di dalamnya, sudah kusisipkan selembar kertas berisi "mahakarya" semalam. Aku berharap Wulan akan membacanya secara sembunyi-sembunyi saat jam istirahat, lalu tersenyum tersipu malu ke arahku.
Namun, takdir berkata lain.
Pelajaran pertama adalah Matematika. Bu Umi masuk dengan wajah yang lebih garang dari biasanya. "Wulan, kumpulkan buku catatan kamu. Saya mau cek kelengkapan tugas minggu lalu," perintah beliau dingin.
Duniaku seolah berhenti berputar. Wulan, dengan polosnya, langsung maju ke depan dan menyerahkan bukunya. Dia lupa atau mungkin memang tidak tahu ada bom waktu di dalam buku itu.
Bu Umi membuka buku itu tepat di hadapanku. Matanya yang tajam di balik kacamata tebal langsung tertuju pada selembar kertas yang terselip. Beliau mengambilnya, membacanya sebentar dengan dahi berkerut, lalu wajahnya mendadak memerah. Bukan karena terharu, tapi karena menahan ledakan amarah (atau mungkin tawa).
"Arkhana Rakha!" teriak Bu Umi, suaranya menggelegar sampai ke langit-langit kelas. "Maju ke depan!"
Aku berdiri dengan kaki gemetaran. Seisi kelas mendadak hening.
"Ternyata selain jago berkelahi dan tersesat, kamu juga jago bikin karya sastra, ya?" sindir Bu Umi. Beliau menyodorkan kertas itu padaku. "Sekarang, baca puisi ini. Keras-keras! Biar teman-temanmu tahu betapa 'puitisnya' murid baru kita ini."
Dengan muka semerah kepiting rebus, aku terpaksa membacanya di depan kelas. Wulan menutup wajahnya dengan tangan, sepertinya dia ingin menghilang saat itu juga. Sementara Riko dan Bunga di belakang sudah siap-siap meledakkan tawa.
Inilah puisi amburadul yang kubacakan dengan suara bergetar:
Quote:
"BWAHAHAHAHA!"
Tawa seisi kelas pecah seketika setelah aku menyelesaikan baris terakhir. Riko sampai memukul-mukul meja sambil memegangi perutnya yang kram. Bunga tertawa sinis sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Aku berdiri mematung di depan kelas, memegang kertas itu seperti memegang surat tilang. Aku melirik ke arah Wulan. Dia tidak tertawa, tapi wajahnya merah padam sampai ke telinga. Dia hanya menunduk dalam, tidak berani menatapku.
"Sudah puas pamer kebodohan, Rakha?" tanya Bu Umi sambil merampas kertas itu. "Sekarang, berdiri di luar kelas sampai jam saya selesai! Dan kamu Riko, jangan tertawa! Kamu juga berdiri di luar karena saya tahu ini pasti ide kamu!"
Hari itu, taktik Riko sukses besar... sukses membuatku menjadi bahan tertawaan satu sekolah dan diusir dari kelas. Jakarta, oh Jakarta, kenapa jatuh cinta di sini terasa lebih sakit daripada kena pukul?
Diubah oleh f4gry... 01-04-2026 21:59
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2