Kaskus

Story

f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA
Menaklukkan Ibu Kota


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan

Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan emoticon-Jempol

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan



Quote:

Menaklukkan Ibu Kota


Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
NankendraAvatar border
kelomangdaratAvatar border
YoayoayoAvatar border
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
#7
Bagian 5 : Lebih sakit dari sebuah pukulan

Berita tentang baku hantamku dengan Kaka menyebar lebih cepat daripada gosip artis di televisi.

Dalam semalam, namaku yang tadinya tidak dikenal, kini jadi bahan bisikan di koridor sekolah. Ada yang menatapku kagum karena berani melawan penguasa kantin, tapi banyak juga yang menatapku ngeri—seolah aku adalah monster baru yang siap meledak kapan saja.

Kaka memang sedang menjalani masa skorsingnya selama tiga hari, tapi aku tahu satu hal pasti: api dendam di matanya sebelum meninggalkan ruang BK kemarin tidak akan padam begitu saja.

Dia tipe orang yang akan menunggu di tikungan gelap untuk membalas rasa malunya. Namun, saat ini, Kaka bukan masalah utamaku.

Masalah utamaku adalah... fokusku yang terus-terusan tercuri ke arah barisan tengah kelas.

Selama pelajaran berlangsung, aku lebih banyak menghabiskan waktu memperhatikan Wulan daripada memperhatikan papan tulis.

Aku suka melihat caranya yang sangat teliti saat menulis catatan, atau caranya sedikit menggigit bibir saat berpikir keras menjawab pertanyaan sulit dari guru.

Ada ketenangan yang aneh terpancar darinya. Sesuatu yang sangat kontras dengan hidupku yang penuh kekacauan dan suara gaduh sejak kecil.

Di mata anak kampung sepertiku, Wulan bukan sekadar manis dia adalah sesuatu yang membuatku ingin berhenti jadi anak nakal.

"Woi, Rakha! Jangan bengong terus. Iler lo mau netes itu," bisik Riko sambil menyenggol lenganku, membuyarkan lamunanku.

"Apaan sih, Ko. Ganggu aja lo," balasku ketus.

"Gini aja," Riko menyeringai, otaknya yang geser mulai merencanakan sesuatu.

"Biar hari-hari kita yang suram karena dihukum Pak Anwar ini sedikit berwarna, gimana kalau kita bikin challenge?"

"Challenge apaan?"

"Siapa yang paling banyak bisa salaman sama cewek-cewek di kelas ini dalam jam istirahat, dia pemenangnya. Yang kalah harus traktir makan seminggu di kantin. Gimana? Berani nggak lo?"

Aku terkekeh. Sebuah tantangan konyol dari seorang teman yang juga konyol. "Oke. Pede tingkat dewa gue lagi full hari ini. Siapkan aja dompet lo, Ko."

Istirahat tiba. Dengan mental baja yang biasanya kugunakan untuk menantang lawan berkelahi, aku mulai beraksi. Aku berkeliling kelas, menghampiri cewek-cewek dengan alasan "perkenalan murid baru biar lebih akrab".

Satu per satu kusalami. Mulai dari Aulia yang ramah, sampai Bunga—gebetan Riko yang super ketus itu.
Bunga hanya menatapku sinis sambil menyalami ujung jariku saja, seolah aku adalah kuman yang menempel di tangannya. Semuanya terasa biasa saja.

Tidak ada getaran, tidak ada rasa apa-apa. Kepalaku sudah menghitung angka kemenangan atas Riko.

Hingga sampailah aku di meja paling ujung di barisan tengah.
Wulan sedang merapikan bukunya. Aku berdeham, mencoba mengembalikan sisa-sisa keberanianku yang tiba-tiba merosot drastis.

"Wulan," panggilku.

Dia menoleh, rambut kuncir kudanya ikut berayun. "Eh, Rakha. Kenapa?"

"Anu... kenalan ulang dong. Biar resmi, kan kita satu kelas," ucapku sambil menyodorkan tangan kanan.

Wulan tersenyum manis—tipe senyum yang sanggup meruntuhkan pertahananku. Dia lalu menyambut tanganku.

Deg.

Saat kulit telapak tangannya bersentuhan dengan kulitku, sesuatu yang aneh terjadi. Tangan kananku, yang biasanya sangat stabil saat memegang kerah baju lawan atau melepaskan pukulan, tiba-tiba bergetar hebat.

Getaran itu merambat dari ujung jari sampai ke jantungku. Rasanya lebih menegangkan daripada saat aku hampir dipukul Pak Anwar di ruang BK.

Aku gugup setengah mati. Keringat dingin mulai muncul di telapak tanganku yang lain. Aku baru sadar, menaklukkan Jakarta ternyata jauh lebih mudah daripada menaklukkan getaran di tanganku sendiri saat menyentuh tangan Wulan.

"Tangan kamu... dingin banget, Kha? Kamu sakit?" tanya Wulan dengan nada khawatir yang tulus.

"Eh? Enggak, kok. Mungkin cuma AC kelasnya terlalu kencang," jawabku ngasal, padahal AC di kelas ini sudah lama tidak diservis dan hampir tidak terasa dingin.

Aku segera menarik tanganku sebelum rasa maluku semakin memuncak. Aku benar-benar sudah jatuh ke dalam pesonanya. Namun, ada satu hal yang membuat hatiku sedikit berdenyut perih: Wulan terlihat sangat biasa saja.

Baginya, itu hanyalah jabatan tangan antara dua teman sekelas. Tidak ada rona merah di pipinya, tidak ada getaran yang sama.

Aku kembali ke kursi belakang dengan perasaan campur aduk. Menang tantangan dari Riko rasanya tidak ada artinya lagi. Aku menang jumlah salaman, tapi sepertinya aku kalah dalam urusan perasaan.

"Gimana, Bos? Bergetar nggak?" tanya Riko sambil menaik-turunkan alisnya, seolah dia tahu apa yang baru saja terjadi.

Aku hanya bisa menghela napas panjang, menatap punggung Wulan dari kejauhan. Jakarta memang keras, Rakha. Tapi ternyata, diabaikan oleh cewek kuncir kuda jauh lebih menyakitkan daripada ditonjok Kaka.

Riko menatapku dengan wajah pasrah sambil menghitung jumlah cewek yang berhasil kusalami di buku catatannya.

"Oke, oke... gue akuin. Lo menang, Kha. Pede lo emang nggak ada obat," gerutu Riko sambil merogoh saku celananya.

Aku sudah membayangkan traktiran bakso urat lengkap dengan es teh manis yang segar untuk merayakan kemenanganku sekaligus mendinginkan sarafku yang tegang karena Wulan.

Namun, harapan itu hancur berantakan ketika Riko menarik tanganku dan meletakkan sesuatu yang berminyak di atas telapak tanganku.

Sebuah bakwan goreng. Dingin. Dan ukurannya pun mungil.
"Ini apaan, Ko?" tanyaku, menatap gorengan harga lima ratus perak itu dengan tatapan tak percaya.

"Traktiran kemenangan lo. Makan tuh, protein tinggi," jawabnya tanpa dosa sambil cengengesan.

"Sialan lo! Gue udah hampir jantungan salaman sama seisi kelas, cuma dihargai bakwan sebiji? Mana ini kayaknya gorengan sisa kemarin lagi!" seruku sambil pura-pura hendak melempar bakwan itu ke wajahnya.

Riko tertawa terbahak-bahak, merasa berhasil mengerjaiku. Tapi melihat wajahku yang mendadak berubah serius saat melirik ke arah meja Wulan, tawa Riko perlahan mereda. Dia sepertinya bisa membaca radar kegalauan yang terpancar dari mataku.

Aku meletakkan bakwan itu di atas meja, lalu menatap Riko tajam. "Gue nggak butuh bakwan lo. Kita ubah hadiah challenge-nya."

Riko menaikkan satu alisnya. "Mau apa? Duit? Dompet gue lagi sekarat, Bos. Belum dikirim ortu."

"Bukan duit," kataku sambil condong ke arahnya, berbisik agar tidak ada yang dengar. "Hadiahnya adalah... lo harus bantu gue deketin Wulan. Lo kan anak asli sini, lo pasti tahu cara mainnya biar gue nggak kelihatan cupu di depan dia."

Riko terdiam sejenak, lalu senyum licik muncul di wajahnya. Dia menoleh ke arah Wulan yang sedang asyik mengobrol dengan Bunga, lalu kembali menatapku.

"Wah, berat ini, Kha. Wulan itu tipenya beda. Dia pinter, kalem, dan kayaknya nggak terlalu suka cowok yang hobi baku hantam kayak lo," ejek Riko, tapi matanya berbinar penuh semangat. "Tapi oke, sebagai sobat yang baik, gue terima tantangannya. Gue bakal jadi wingman lo."

Aku mengangguk mantap. Setidaknya, sekarang aku punya sekutu untuk menembus tembok pertahanan Wulan yang tampak biasa-biasa saja kepadaku. Aku tidak tahu apakah Riko benar-benar bisa diandalkan atau justru malah membuatku makin malu, tapi di Jakarta yang asing ini, aku butuh bantuan apa pun yang bisa kudapatkan.

"Tapi ada syaratnya," tambah Riko sambil menunjuk bakwan tadi. "Gorengannya dimakan dulu. Biar ada tenaga buat mikir taktik."

Aku mendengus, lalu menggigit bakwan dingin itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, aku kesal pada Riko. Di sisi lain, jantungku kembali berdegup hanya dengan memikirkan rencana pendekatanku pada gadis kuncir kuda itu.

Target sudah terkunci: Wulan Kirana. Dan misi ini sepertinya akan jauh lebih sulit daripada melawan sepuluh orang seperti Kaka sekaligus.
itkgid
kulipriok
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.