- Beranda
- Stories from the Heart
Menaklukkan Ibu Kota
...
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA

Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan
Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan
Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan
Quote:

Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
f4gry...
#6
Bagian 4: Lawan dan Kawan
Empat hari sudah aku menyandang status sebagai murid baru di SMA 7. Jakarta mulai terasa sedikit bersahabat, atau setidaknya begitulah pikirku sebelum insiden di kantin siang itu terjadi.
Matahari tepat di atas kepala, membuat perutku keroncongan minta diisi. Aku mengajak Riko si anak Jakarta yang sudah jadi sobat kental pertamaku untuk mengisi amunisi di kantin.
Suasana kantin saat itu riuh rendah dengan tawa siswa dan aroma bakso yang menggoda. Aku baru saja akan menikmati suapan pertama bakso urat yang masih mengepul, ketika sebuah bayangan besar menutupi meja kami.
Seorang siswa bertubuh tegap, dengan seragam yang sengaja dikeluarkan dan kancing atas yang terbuka, berdiri tepat di hadapanku. Matanya menatapku seolah aku adalah serangga yang mengganggu pemandangannya.
"Lo anak baru yang katanya banyak gaya itu, ya?" ucapnya dengan suara berat yang sengaja dikeraskan agar seisi kantin menoleh.
Aku diam. Tanganku masih sibuk mengaduk sambal di mangkok, sama sekali tidak berniat mengalihkan fokus dari bakso di depanku. Pengabaianku rupanya membuat tensinya naik.
"Nama gue Kaka. Di sekolah ini, nggak ada yang berani cari gara-gara sama gue. Termasuk teman lo yang ceking ini, si Riko," sambungnya sambil melirik Riko dengan tatapan meremehkan. Aku bisa merasakan Riko sedikit menegang di sampingku, tapi dia tidak beranjak.
Aku meletakkan sendok perlahan. Nafsu makanku menguap, digantikan oleh panas yang mulai naik ke dada. Aku berdiri, membuat kursi kayu itu berderit nyaring di lantai semen.
Aku melangkah maju, mendekatkan wajahku hingga hanya tersisa jarak beberapa sentimeter dari hidungnya.
"Terus?" ucapku datar, sedatar aspal jalanan Kalimantan.
Kaka mengernyit, mungkin kaget karena aku tidak gemetar seperti mangsa-mangsanya yang lain.
"Masalah buat gue kalau lo itu jagoan, penguasa sekolah, atau siapa pun itu?" aku melanjutkan dengan nada intimidasi, menatap tepat ke biji matanya. "Gue berjalan pakai kaki gue sendiri, bukan pinjam kaki lo. Jadi nggak usah sok mengatur hidup gue."
Kaka yang merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum tidak memberikan aba-aba lagi.
Bugh!
Sebuah pukulan mentah mendarat telak di pipi kiriku. Kepalaku tersentak, dan aku mundur beberapa langkah hingga menabrak meja di belakangku. Rasa amis darah mulai terasa di ujung bibir.
Tapi dia salah sasaran. Dia baru saja membangunkan harimau yang selama ini coba kutidurkan sejak pindah ke Jakarta.
Tanpa suara, aku menerjangnya. Aku tidak peduli dengan teknik atau keindahan, aku menyerangnya dengan insting liar yang kupelajari di jalanan Kalimantan. Aku membantingnya ke lantai, mendudukinya, dan melayangkan pukulan bertubi-tubi.
"Jangan ganggu gue, anjing! Gue lagi lapar!" teriakku di sela-sela hantaman.
Melihat pemimpin mereka terdesak, tiga teman Kaka yang sedari tadi menonton langsung bergerak maju. Mereka hendak mengeroyokku dari belakang. Tapi di luar dugaan, Riko tidak diam saja.
"Jangan berani-berani lo semua!" teriak Riko sambil menendang salah satu teman Kaka.
Maka terjadilah pertempuran 2 lawan 4 di tengah kantin yang kacau balau. Meja-meja terbalik, mangkok bakso pecah berhamburan, dan teriakan histeris siswi-siswi memenuhi ruangan. Kaka ternyata pengecut; saat terdesak, dia mulai berteriak minta tolong pada teman-temannya.
Namun, aku tidak memberinya ruang untuk bernapas.
Di saat suasana mencapai puncak kegilaan, sebuah suara menggelegar membelah keributan itu seperti petir di siang bolong.
"BERHENTI KALIAN SEMUA! SEKOLAH BUKAN TEMPAT TAWURAN!"
Seketika, gerakan kami membeku. Di ambang pintu kantin, berdiri seorang pria tegap dengan kumis tipis dan tatapan yang jauh lebih mengerikan daripada Kaka.
Dialah Pak Anwar, guru Bimbingan Konseling (BK) yang belakangan aku tahu adalah pelatih ekskul silat di sekolah ini.
Tangannya yang kekar bersedekap di dada. Beliau tidak perlu berteriak dua kali untuk membuat kami semua tertunduk lesu.
"Arkhana Rakha, Kaka, Riko... dan kalian bertiga. Ikut saya ke ruang BK sekarang. Tanpa tapi, tanpa nanti!" perintahnya dingin.
Aku menyeka darah di bibir dengan punggung tangan, lalu melirik ke arah meja tempat Wulan tadi duduk.
Aku melihatnya menatapku dengan wajah pucat dan penuh kekhawatiran. Ah, hari keempat di sekolah dan aku sudah resmi menjadi langganan ruang BK.
Pindah ke Jakarta untuk jadi anak baik-baik? Sepertinya rencana itu gagal total hari ini.
Langkah kaki kami bergema di koridor yang mendadak terasa sangat panjang.
Aku, Riko, Kaka, dan ketiga kacung-kacungnya berjalan beriringan menuju ruangan yang paling dihindari seantero SMA 7: Ruang BK. Pak Anwar berjalan di depan dengan punggung tegak, memancarkan wibawa seorang praktisi bela diri yang tidak bisa diajak kompromi.
Begitu pintu tertutup, suasana berubah menjadi pengap. Bau minyak kayu putih dan tumpukan map laporan kedisiplinan memenuhi ruangan.
Pak Anwar duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggung, lalu menatap kami satu per satu dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus isi kepala kami.
"Kalian tahu," suara Pak Anwar mulai terdengar, rendah namun dingin menusuk.
"Sekolah ini adalah tempat untuk belajar. Tempat untuk menempa otak, bukan untuk kalian mencari siapa yang paling jago, siapa yang menang, atau siapa yang kalah. Apalagi berkelahi seperti binatang di tengah keramaian kantin tadi."
Beliau menggebrak meja dengan pelan namun bertenaga, membuat kami semua berjengit.
"Kalian sudah merasa jago, HAH?! Merasa sekolah ini milik nenek moyang kalian?!"
Keheningan menyergap. Kaka yang tadinya sok jagoan di kantin, kini hanya bisa menunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatunya yang kotor.
Riko di sampingku sibuk mengatur napas, sementara aku merasa darah di bibirku sudah mulai mengering dan berdenyut nyeri.
Karena tidak tahan dengan ketidakadilan ini, aku memberanikan diri berdiri. Aku tidak peduli dianggap tidak sopan; di Kalimantan, kalau benar ya harus bicara.
"Pak," ucapku sambil menunjuk lurus ke arah wajah Kaka yang lebam. "Saya ini lagi makan, Pak. Benar-benar cuma mau makan bakso dengan tenang. Tapi dia datang mengganggu saya, menghina teman saya, dan memukul saya duluan."
Kaka sempat melirikku dengan tatapan dendam, tapi langsung menciut saat Pak Anwar berdeham keras.
"Saya tidak peduli siapa yang mulai, Rakha," potong Pak Anwar dingin. "Di mata saya, kalian semua sama. Kalian terlibat dalam kekacauan yang memalukan nama baik sekolah."
Beliau kemudian mengambil selembar kertas disposisi dan menuliskan sesuatu dengan cepat. Penanya menggores kertas dengan suara kasar.
"Kaka, dan kalian bertiga... karena kalian sudah sering masuk daftar hitam saya, kalian diskors selama tiga hari. Besok bawa orang tua kalian ke sini!"
Wajah Kaka seketika pucat pasi. Skorsing dan panggilan orang tua adalah mimpi buruk bagi anak sok jagoan sepertinya.
"Dan untuk kamu, Rakha... juga Riko," Pak Anwar menatapku lebih lama. "Sebagai murid baru, kamu sudah memberikan kesan yang sangat buruk. Kalian berdua saya hukum untuk membersihkan seluruh area toilet belakang dan menyikat lantai mushola sampai mengkilap setelah jam sekolah usai selama seminggu penuh."
Aku menghela napas panjang. Riko hanya bisa pasrah sambil memegangi perutnya yang mungkin juga terkena tendangan tadi.
"Paham?!" bentak Pak Anwar.
"Paham, Pak," jawab kami serentak.
Hari pertamaku sebagai 'anak baik' resmi tamat. Aku keluar dari ruang BK dengan tubuh yang sakit semua, namun ada sedikit rasa lega.
Setidaknya, Kaka tahu bahwa anak pindahan dari Kalimantan ini bukan lawan yang bisa dia tindas begitu saja.
Empat hari sudah aku menyandang status sebagai murid baru di SMA 7. Jakarta mulai terasa sedikit bersahabat, atau setidaknya begitulah pikirku sebelum insiden di kantin siang itu terjadi.
Matahari tepat di atas kepala, membuat perutku keroncongan minta diisi. Aku mengajak Riko si anak Jakarta yang sudah jadi sobat kental pertamaku untuk mengisi amunisi di kantin.
Suasana kantin saat itu riuh rendah dengan tawa siswa dan aroma bakso yang menggoda. Aku baru saja akan menikmati suapan pertama bakso urat yang masih mengepul, ketika sebuah bayangan besar menutupi meja kami.
Seorang siswa bertubuh tegap, dengan seragam yang sengaja dikeluarkan dan kancing atas yang terbuka, berdiri tepat di hadapanku. Matanya menatapku seolah aku adalah serangga yang mengganggu pemandangannya.
"Lo anak baru yang katanya banyak gaya itu, ya?" ucapnya dengan suara berat yang sengaja dikeraskan agar seisi kantin menoleh.
Aku diam. Tanganku masih sibuk mengaduk sambal di mangkok, sama sekali tidak berniat mengalihkan fokus dari bakso di depanku. Pengabaianku rupanya membuat tensinya naik.
"Nama gue Kaka. Di sekolah ini, nggak ada yang berani cari gara-gara sama gue. Termasuk teman lo yang ceking ini, si Riko," sambungnya sambil melirik Riko dengan tatapan meremehkan. Aku bisa merasakan Riko sedikit menegang di sampingku, tapi dia tidak beranjak.
Aku meletakkan sendok perlahan. Nafsu makanku menguap, digantikan oleh panas yang mulai naik ke dada. Aku berdiri, membuat kursi kayu itu berderit nyaring di lantai semen.
Aku melangkah maju, mendekatkan wajahku hingga hanya tersisa jarak beberapa sentimeter dari hidungnya.
"Terus?" ucapku datar, sedatar aspal jalanan Kalimantan.
Kaka mengernyit, mungkin kaget karena aku tidak gemetar seperti mangsa-mangsanya yang lain.
"Masalah buat gue kalau lo itu jagoan, penguasa sekolah, atau siapa pun itu?" aku melanjutkan dengan nada intimidasi, menatap tepat ke biji matanya. "Gue berjalan pakai kaki gue sendiri, bukan pinjam kaki lo. Jadi nggak usah sok mengatur hidup gue."
Kaka yang merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum tidak memberikan aba-aba lagi.
Bugh!
Sebuah pukulan mentah mendarat telak di pipi kiriku. Kepalaku tersentak, dan aku mundur beberapa langkah hingga menabrak meja di belakangku. Rasa amis darah mulai terasa di ujung bibir.
Tapi dia salah sasaran. Dia baru saja membangunkan harimau yang selama ini coba kutidurkan sejak pindah ke Jakarta.
Tanpa suara, aku menerjangnya. Aku tidak peduli dengan teknik atau keindahan, aku menyerangnya dengan insting liar yang kupelajari di jalanan Kalimantan. Aku membantingnya ke lantai, mendudukinya, dan melayangkan pukulan bertubi-tubi.
"Jangan ganggu gue, anjing! Gue lagi lapar!" teriakku di sela-sela hantaman.
Melihat pemimpin mereka terdesak, tiga teman Kaka yang sedari tadi menonton langsung bergerak maju. Mereka hendak mengeroyokku dari belakang. Tapi di luar dugaan, Riko tidak diam saja.
"Jangan berani-berani lo semua!" teriak Riko sambil menendang salah satu teman Kaka.
Maka terjadilah pertempuran 2 lawan 4 di tengah kantin yang kacau balau. Meja-meja terbalik, mangkok bakso pecah berhamburan, dan teriakan histeris siswi-siswi memenuhi ruangan. Kaka ternyata pengecut; saat terdesak, dia mulai berteriak minta tolong pada teman-temannya.
Namun, aku tidak memberinya ruang untuk bernapas.
Di saat suasana mencapai puncak kegilaan, sebuah suara menggelegar membelah keributan itu seperti petir di siang bolong.
"BERHENTI KALIAN SEMUA! SEKOLAH BUKAN TEMPAT TAWURAN!"
Seketika, gerakan kami membeku. Di ambang pintu kantin, berdiri seorang pria tegap dengan kumis tipis dan tatapan yang jauh lebih mengerikan daripada Kaka.
Dialah Pak Anwar, guru Bimbingan Konseling (BK) yang belakangan aku tahu adalah pelatih ekskul silat di sekolah ini.
Tangannya yang kekar bersedekap di dada. Beliau tidak perlu berteriak dua kali untuk membuat kami semua tertunduk lesu.
"Arkhana Rakha, Kaka, Riko... dan kalian bertiga. Ikut saya ke ruang BK sekarang. Tanpa tapi, tanpa nanti!" perintahnya dingin.
Aku menyeka darah di bibir dengan punggung tangan, lalu melirik ke arah meja tempat Wulan tadi duduk.
Aku melihatnya menatapku dengan wajah pucat dan penuh kekhawatiran. Ah, hari keempat di sekolah dan aku sudah resmi menjadi langganan ruang BK.
Pindah ke Jakarta untuk jadi anak baik-baik? Sepertinya rencana itu gagal total hari ini.
Langkah kaki kami bergema di koridor yang mendadak terasa sangat panjang.
Aku, Riko, Kaka, dan ketiga kacung-kacungnya berjalan beriringan menuju ruangan yang paling dihindari seantero SMA 7: Ruang BK. Pak Anwar berjalan di depan dengan punggung tegak, memancarkan wibawa seorang praktisi bela diri yang tidak bisa diajak kompromi.
Begitu pintu tertutup, suasana berubah menjadi pengap. Bau minyak kayu putih dan tumpukan map laporan kedisiplinan memenuhi ruangan.
Pak Anwar duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggung, lalu menatap kami satu per satu dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus isi kepala kami.
"Kalian tahu," suara Pak Anwar mulai terdengar, rendah namun dingin menusuk.
"Sekolah ini adalah tempat untuk belajar. Tempat untuk menempa otak, bukan untuk kalian mencari siapa yang paling jago, siapa yang menang, atau siapa yang kalah. Apalagi berkelahi seperti binatang di tengah keramaian kantin tadi."
Beliau menggebrak meja dengan pelan namun bertenaga, membuat kami semua berjengit.
"Kalian sudah merasa jago, HAH?! Merasa sekolah ini milik nenek moyang kalian?!"
Keheningan menyergap. Kaka yang tadinya sok jagoan di kantin, kini hanya bisa menunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatunya yang kotor.
Riko di sampingku sibuk mengatur napas, sementara aku merasa darah di bibirku sudah mulai mengering dan berdenyut nyeri.
Karena tidak tahan dengan ketidakadilan ini, aku memberanikan diri berdiri. Aku tidak peduli dianggap tidak sopan; di Kalimantan, kalau benar ya harus bicara.
"Pak," ucapku sambil menunjuk lurus ke arah wajah Kaka yang lebam. "Saya ini lagi makan, Pak. Benar-benar cuma mau makan bakso dengan tenang. Tapi dia datang mengganggu saya, menghina teman saya, dan memukul saya duluan."
Kaka sempat melirikku dengan tatapan dendam, tapi langsung menciut saat Pak Anwar berdeham keras.
"Saya tidak peduli siapa yang mulai, Rakha," potong Pak Anwar dingin. "Di mata saya, kalian semua sama. Kalian terlibat dalam kekacauan yang memalukan nama baik sekolah."
Beliau kemudian mengambil selembar kertas disposisi dan menuliskan sesuatu dengan cepat. Penanya menggores kertas dengan suara kasar.
"Kaka, dan kalian bertiga... karena kalian sudah sering masuk daftar hitam saya, kalian diskors selama tiga hari. Besok bawa orang tua kalian ke sini!"
Wajah Kaka seketika pucat pasi. Skorsing dan panggilan orang tua adalah mimpi buruk bagi anak sok jagoan sepertinya.
"Dan untuk kamu, Rakha... juga Riko," Pak Anwar menatapku lebih lama. "Sebagai murid baru, kamu sudah memberikan kesan yang sangat buruk. Kalian berdua saya hukum untuk membersihkan seluruh area toilet belakang dan menyikat lantai mushola sampai mengkilap setelah jam sekolah usai selama seminggu penuh."
Aku menghela napas panjang. Riko hanya bisa pasrah sambil memegangi perutnya yang mungkin juga terkena tendangan tadi.
"Paham?!" bentak Pak Anwar.
"Paham, Pak," jawab kami serentak.
Hari pertamaku sebagai 'anak baik' resmi tamat. Aku keluar dari ruang BK dengan tubuh yang sakit semua, namun ada sedikit rasa lega.
Setidaknya, Kaka tahu bahwa anak pindahan dari Kalimantan ini bukan lawan yang bisa dia tindas begitu saja.
kulipriok dan itkgid memberi reputasi
2