Kaskus

Story

f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
Menaklukkan Ibu Kota
STORY 1 : MENAKLUKKAN IBUKOTA
Menaklukkan Ibu Kota


Cerita ini berasal dari kisah hidupku, saat aku bersekolah SMA di Jakarta dan hingga aku mendapatkan dia dengan penuh perjuangan harus melawan takdir tuhan

Walaupun ini cerita nyata tapi ada sedikit tambahan fiksi karena untuk cerita detailnya aku udah lupa, tapi tidak mengubah alurnya. Maklum manusia itu tidak luput dari kelupaan dan kesalahan emoticon-Jempol

Jangan lupa mampir ya gan dan berinteraksi juga di thread ku ini. Terima kasih dan salam hangat dari Kalimantan



Quote:

Menaklukkan Ibu Kota


Quote:
Diubah oleh f4gry... 15-05-2026 10:05
NankendraAvatar border
kelomangdaratAvatar border
YoayoayoAvatar border
Yoayoayo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.6K
58
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
f4gry...Avatar border
TS
f4gry...
#2
Bagian 2: Gadis Pendek Kuncir Kuda

Tiga hari dua malam aku terombang-ambing di lautan lepas. Kapal Pelni yang kunaiki membelah ombak dari Kalimantan menuju Tanjung Priok.
Begitu kakiku menginjak dermaga beton pelabuhan, dunia rasanya masih bergoyang. Kepalaku berputar hebat. Maklum, di kampung biasanya aku naik "trenggiling" (alias mobil angkutan darat yang keras), bukan kapal raksasa yang membuat isi perut serasa diaduk-aduk.

Om Satria menjemputku dengan motor bebeknya yang berisik. Kami membelah kemacetan menuju "markas besar" alias kontrakannya. Kontrakan itu cukup... minimalis. Ada dua kamar (yang lebih mirip sel isolasi) dan satu kamar mandi dengan wastafel yang sering mampet kalau tidak disogok pakai kawat.

Di setiap sudut, tumpukan kertas skripsi yang sudah menguning berserakan seperti monumen kegagalan, bersanding dengan tumpukan kardus mie instan—bahan bakar utama Om Satria untuk bertahan hidup.

"Jangan banyak komplain, Rakha. Di Jakarta, ini sudah mewah," cetus Om Satria saat melihat wajah kecutku.

Hari pertama sekolah tiba. Sesuai kesepakatan dengan orang tuaku, aku harus tobat. Aku berangkat mengenakan seragam putih abu-abu yang masih kaku dan licin karena setrikaan. Aku naik angkot dengan niat tulus menjadi murid teladan.

Di dalam angkot, aku duduk terjepit di antara seorang nenek penjual jamu yang aroma rempahnya sangat menyengat dan beberapa anak SMA lain.

Aku yang masih "bau kencur" di Jakarta, tidak sadar kalau logo di lengan bajuku adalah magnet masalah. Ternyata, SMA 7—sekolah baruku—sedang punya "urusan yang belum selesai" dengan sekolah sebelah.

"Woy! Itu anak SMA 7! Turun lo!" teriak salah satu remaja dari pinggir jalan sambil mengacungkan penggaris besi panjang.

Anjing, batinku. Baru juga mau tobat, sudah disambut begini. Sopir angkot yang sudah hafal situasi langsung menginjak rem mendadak saat salah satu penumpang turun. Itu kesempatanku. Sebagai "atlet pelari" dadakan dari Kalimantan, aku meloncat keluar dan langsung mengambil langkah seribu.

"WOY, KEJAR ITU ANAK SMA 7! JANGAN KASIH LOLOS!" Aku berlari membabi buta. Insting perantauku bekerja, tapi sayangnya navigasiku kacau.

Aku malah berputar-putar di gang yang sama sebanyak tiga kali sampai napasku hampir putus. Jakarta tidak sesederhana hutan Kalimantan; di sini, setiap belokan adalah jebakan.

Saat akhirnya gerbang SMA 7 terlihat di depan mata, jantungku mencelos. Gerbang besi tinggi itu sudah terkunci rapat. Satpam sekolah sedang asyik menyeruput kopi di posnya. Pilihannya cuma dua: menyerah dikeroyok gerombolan di belakangku, atau masuk dengan cara ilegal.

Aku memilih yang kedua. Dengan gerakan refleks yang terlatih karena sering mencuri mangga tetangga di kampung, aku melempar tasku melewati pagar. Hap! Aku memanjat pagar besi itu dengan kelincahan yang luar biasa. Rasa takut dikeroyok ternyata adalah suplemen adrenalin terbaik.

"HEI! KAMU! BERANI-BERANINYA MANJAT PAGAR! TURUN KAMU!" teriak Pak Satpam sambil meniup peluitnya nyaring.

Aku tidak peduli. Begitu kakiku menyentuh semen di dalam area sekolah, aku langsung lari sekencang mungkin menuju deretan koridor, menghiraukan teriakan yang memanggilku dari belakang. Yang penting, aku aman dari kepungan luar.

Aku berhenti tepat di depan sebuah persimpangan koridor. Napas yang tersengal-sengal membuat dadaku naik turun dengan cepat. Keringat membasahi dahi, dan seragamku sudah tidak serapi tadi pagi. Aku bingung. Aku belum tahu di mana kelasku, sementara suasana sekolah sudah sepi karena jam pelajaran pertama sudah dimulai.

Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari papan petunjuk atau setidaknya guru yang bisa kutanyai tanpa harus kena marah karena telat.

Namun, saat kepalaku menoleh ke arah perpustakaan, duniaku seolah berhenti berputar. Efek slow motion yang sering ada di film-film ternyata nyata.

Di sana, berdiri seorang gadis yang sedang membawa tumpukan buku. Dia kecil—mungkin tingginya hanya sekitar 150-an cm, atau bahkan kurang. Rambutnya hitam legam diikat kuncir kuda, menyisakan sedikit poni tipis yang menutupi dahinya.

Wajahnya tidak menggunakan riasan berlebih, namun sinar matahari yang masuk lewat celah ventilasi koridor membuatnya tampak bersinar. Dia sangat manis. Terlalu manis untuk lingkungan sekolah yang baru saja menyambutku dengan kejaran massa.


Langkahku terkunci. Rasa sakit di kakiku karena berlari tadi hilang seketika, digantikan oleh detak jantung yang jauh lebih kencang daripada saat aku dikejar anak SMA lain tadi.

Saat itu aku sadar, Jakarta mungkin memang keras, tapi dia baru saja menunjukkan sisi lembutnya padaku lewat gadis pendek berkuncir kuda itu. Aku hanya berdiri mematung, seperti orang bodoh yang lupa caranya bernapas.
Diubah oleh f4gry... 31-03-2026 02:10
itkgid
speedtofu
kulipriok
kulipriok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.