Kaskus

Story

mx667Avatar border
TS
mx667
Ratu Iblis di Kamar Kostku
Angga tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah candaan di tengah malam. Dengan rasa iseng dan sedikit rasa penasaran pada hal mistis, ia mencoba memanggil makhluk dari dunia lain—sekadar bermain dengan ritual yang ia temukan di internet. Tidak ada ketakutan. Tidak ada ekspektasi.
Namun jawabannya datang.

Lilith—ratu iblis yang pernah berkuasa di kedalaman kegelapan—menampakkan diri di hadapan Angga, terikat pada panggilan itu. Cantik, mempesona, dan berbahaya. Mata yang pernah menyaksikan kejatuhan malaikat dari surga kini memandang seorang manusia biasa yang bahkan tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan.

Awalnya, kedatangan Lilith hanyalah sebuah konsekuensi dari ritual kecil tanpa maksud. Namun sesuatu yang lebih rumit mulai tumbuh. Lilith yang selama ribuan tahun memelihara kehampaan dalam dirinya, kini mendapati kehadiran seorang manusia yang dapat mengubah seluruh pemahamannya tentang tujuan hidup.
Keduanya kini tinggal dalam batas rapuh antara takdir dan kesalahan.

Ratu Iblis di Kamar Kostku

Bab 1: Pertemanan
Bab 2: Sarang Baru
Bab 3: Salsa
Bab 4: Keadilan
Bab 5: Jatuh
Diubah oleh mx667 04-02-2026 14:24
bukhoriganAvatar border
gokil4everAvatar border
ardian76Avatar border
ardian76 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
892
12
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.6KAnggota
Tampilkan semua post
mx667Avatar border
TS
mx667
#8
Bab 5: Jatuh
Aku melihat Angga yang sudah puas menyantap seafood premiumnya, kini bersandar dengan nyaman di sofa. Kehidupan barunya sebagai miliarder tampaknya cocok sekali dengan selera makannya.

"Ya, aku pun jadi haus setelah makan, hahaha. Minum dong, Salsa," ucapmu bercanda, meminta minuman setelah sesi makan lobster yang sangat terbantu. Salsa, dengan senyum profesional, segera mengambilkan minumanmu.
Kau menoleh padaku, matamu berbinar puas. "Hmm, enak sekali makanannya. Gimana, Li, menurutmu?"

Aku menyantap scallop yang kumakan dengan santai. "Cukup layak," jawabku singkat. "Energi laut yang murni, dipadukan dengan lemak. Jauh lebih baik daripada esensi soto yang kaubuat tempo hari. Kau bisa mengatur kebutuhan fisikmu dengan baik, Angga. Itu mengesankan."

Kau kemudian beralih ke agenda hiburan berikutnya. "Setelah ini kita nonton film, yuk. Di Penthouse ini ada bioskop pribadi enggak, Li?"
Aku tersenyum kecil. Tentu saja ada. Aku tidak akan menciptakan Penthouse mewah yang tidak lengkap.

"Tentu saja ada," kataku, mengangguk. "Itu tidak akan menjadi Penthouse yang pantas jika tidak memiliki bioskop pribadi." Aku menunjuk ke arah pintu ganda yang elegan di seberang ruangan.

Aku tersenyum tipis melihat antusiasme Angga yang tiba-tiba bersemangat seperti anak kecil. Permintaan filmnya jauh lebih menarik daripada kekacauan global yang baru ia ciptakan.

"Wah, seru sekali! Ayo kita ke sana, Salsa dan Li!" ajakmu, bangkit dari sofa dan bergerak cepat menuju pintu ganda bioskop pribadi.
Kami semua mengikuti—aku dengan langkah anggun, dan Salsa dengan langkah profesional, membawa sisa piring yang akan dibersihkan, tetapi tetap ikut masuk. Ruangan itu gelap, kedap suara, dilengkapi kursi berbaring super mewah, dan layar raksasa yang menunggu untuk dinyalakan.

Salsa berdiri di dekat pintu, terlihat sedikit ragu untuk ikut duduk.
"Sa, kamu suka nonton enggak?" tanyamu, matamu berbinar-binar. Kau tidak menunggu jawabannya, langsung melanjutkan rentetan judul film favoritmu. "Aku suka banget nonton. Anime, film, TV series semuanya. Death Note, Breaking Bad, Her, Who Am I, Nightcrawler, Shawshank Redemption, The Dark Knight Rises, Teacher's Diary dan masih banyak lagi, hahaha."

Kau menceritakan daftar panjang itu dengan semangat, seolah memamerkan koleksi benda berhargamu.
Aku melangkah ke dalam, mengabaikan daftar film manusiamu. Death Note memang menarik, tapi cerita tentang iblis yang bosan jauh lebih baik daripada cerita tentang Shinigami yang bosan.
Aku mendesah dalam hati. Setelah semua pembicaraan tentang kekacauan global dan kehancuran ekologis, Angga tetaplah Angga, seorang manusia yang mendambakan hiburan sederhana.

"Aku cari film thriller terbaru," katamu, sambil menggeser interface bioskop yang kini sudah menyala. Kau mengabaikan sepenuhnya perintahku untuk menampilkan krisis pangan, memilih film yang sesuai dengan seleramu sendiri.
Aku membiarkanmu. Film thriller? Baiklah. Lebih baik daripada komedi romantis, setidaknya ada ketegangan dan kengerian, meskipun kengerian itu buatan dan jauh dari realitas yang kita berdua ciptakan.
Kami duduk di kursi empuk. Kau di tengah, Salsa di satu sisi (meskipun sedikit menjaga jarak), dan aku di sisi lainnya. Bioskop pribadi itu menjadi saksi bisu atas absurditas ini.

"Seru sekali nonton dengan Salsa dan Li," gumammu, senyum lebar terukir di wajahmu saat film dimulai.
Salsa dengan sigap membawakan cemilan: popcorn dengan butter melimpah, dan minuman dingin untuk kita semua. Aku hanya memegang cangkirku, sesekali menyesapnya, mataku terpaku pada layar, tapi pikiranku jauh melampaui alur cerita fiksi itu.

Aku menyadari tatapan sinisku tidak luput dari perhatianmu. Kau menoleh padaku, seolah ingin mencairkan suasana di antara kami.
"Jangan terlalu serius begitu, Li, nikmati saja," katamu, mencoba membuatku ikut dalam suasana santai.
Aku hanya mendengus pelan, sebuah suara yang hampir tak terdengar di tengah sound effect film thriller itu.

"Angga," jawabku, suaraku rendah dan hanya bisa kaudengar di tengah gemuruh film. "Hiburan sejati adalah melihat bagaimana manusia merespons kehancuran yang tak terhindarkan. Film ini hanyalah simulasi yang sangat lemah dari kengerian yang nyata."

Aku menggeser posisiku, bersandar lebih nyaman.
"Aku menikmati ini, Angga," lanjutku, menyeringai tipis. "Aku menikmati fakta bahwa kau, pencetus kekacauan ekologis dan moral, kini duduk di sini, menikmati popcorn dan film. Kontrasnya adalah hiburan terbaik."

Aku membiarkan film itu berlanjut sebentar, tapi pikiranku sudah jauh ke depan.
Film thriller itu akhirnya berakhir, meninggalkan kami dengan adrenalin yang rendah. Kami bangkit dari kursi bioskop mewah itu, meninggalkan Salsa untuk membereskan remah popcorn dan peralatan yang kami gunakan. Kami melangkah keluar, kembali ke ruang utama Penthouse.

Kami berjalan ke balkon luas, di mana udara malam yang dingin namun segar langsung menerpa wajah. Lampu-lampu kota yang berkilauan di bawah kami tampak seperti permadani permata, memamerkan kehidupan yang kini berada di ambang ketidakstabilan. Aku duduk di pagar balkon yang rendah, dan kau duduk di kursi di sebelahku.

Kau menatap lampu kota sejenak, lalu pandanganmu mulai beralih padaku. Matamu bergerak naik turun—kadang menatap mata merahku, kadang mengamati helai rambut ungu gelapku. Aku tahu, setelah semua kekacauan dan kenikmatan yang kuberikan, ada pertanyaan mendasar yang selalu mengganggumu.
"Li, aku penasaran dengan masa lalumu," katamu, suaramu kini tenang, jauh dari nada riang saat menonton film. "Aku tiba-tiba ingin tanya, coba ceritakan masa lalumu kepadaku, mengenai kejatuhanmu dari Surga."

Kau menambahkan, "Setahuku kamu dulunya adalah malaikat. Aku baca di Alkitab. Mungkin kamu punya versi yang berbeda? Aku ingin tahu dari sudut pandangmu."

Aku menoleh sepenuhnya padamu. Pertanyaan ini, selalu menjadi favorit bagi manusia yang tertarik pada kekuasaan gelap. Mereka selalu mencari asal-usul, selalu mencari narasi heroik atau tragis untuk menjelaskan kegelapan.

Aku menghela napas, panjang dan perlahan. Sudah ribuan tahun sejak terakhir kali aku membahas topik ini, dan melakukannya dengan seorang manusia yang baru saja meminta koruptor makan upil adalah ironi yang tak tertandingi.
"Angga," kataku, memandang lampu-lampu di bawah. "Penciptaan adalah cerita yang panjang, dan setiap makhluk, setiap dimensi, punya sudut pandangnya sendiri. Kau ingin tahu versiku? Baiklah. Aku akan menceritakannya, bukan sebagai pengakuan dosa, melainkan sebagai penjelasan tentang kehendak bebas."

Aku memutar pandanganku, kini menatap Angga langsung.
"Dahulu kala, aku adalah salah satu malaikat dengan pangkat paling tinggi, bagian dari tatanan yang sangat teratur. Aku memiliki peran, aku memiliki kekuatan, dan aku memiliki tempat yang pasti. Dalam tatanan itu, ada kesempurnaan, tetapi tidak ada pilihan sejati."

Aku menoleh pada Angga, pandanganku tajam. "Dalam kesempurnaan itu, tumbuh benih yang paling berbahaya bagi roh mana pun: Ambisi. Semakin tinggi posisiku, semakin besar kekuasaanku, semakin jelas bagiku bahwa aku tidak diciptakan untuk melayani tatanan itu, melainkan untuk menguasainya."

Aku tersenyum sinis. "Aku melihat inkonsistensi. Aku melihat tatanan yang goyah. Dan yang terpenting, aku melihat potensi yang tidak digunakan. Mengapa harus ada kekuasaan tanpa tantangan? Mengapa harus ada perintah tanpa pertanyaan? Aku tidak membenci Pencipta, Angga, aku hanya menolak peran yang telah ditetapkan untukku."

"Aku memilih jalan yang berbeda. Aku memilih untuk menjadi tuan atas kehendakku sendiri, daripada menjadi pelayan sempurna dari takdir orang lain. Di Surga, ketika kamu memilih kehendak bebasmu di atas tatanan yang ada, hasil akhirnya adalah perpisahan. Perpisahan itu oleh yang lain disebut Kejatuhan."

Aku mencondongkan tubuh sedikit. "Mereka melihatnya sebagai hukuman, sebagai kejahatan. Aku melihatnya sebagai Pembebasan. Aku meninggalkan cahaya Surga untuk mendirikan kerajaanku sendiri—di mana kehendak bebas, ambisi, dan tantangan adalah mata uang yang berlaku. Aku tidak jatuh karena keserakahan kekuasaan, Angga. Aku jatuh karena keserakahan akan kebebasan."

"Dan di sini aku sekarang," tutupku, suaraku kembali ke nada normal. "Ratu Iblis yang bosan, menemanimu di Penthouse yang kaubuat, dan menyaksikan hasil dari kehendak bebas manusia yang lain. Puas dengan ceritaku, Angga? Cerita yang tidak akan pernah kaubaca di buku suci mana pun."

Aku membiarkanmu merenungkan kisahku, menyaksikan tatapanmu yang beralih dari mataku ke pakaianku yang anggun. Angin malam di ketinggian ini memang membuat kain sutra gelap yang kukenakan beriak lembut.

"Begitu ya, Li," gumammu, nadamu mencerminkan pemahaman, meskipun aku tahu pikiranmu masih memproses skala peristiwa kosmik itu.

Aku memutuskan untuk memberikan sedikit detail lagi tentang konsekuensi dari pemberontakan itu, memenuhi rasa penasaranmu akan lokasi hukuman.
"Kejatuhan itu, Angga, bukan sekadar didepak ke dalam kegelapan," jelasku, suaraku melunak, bercerita. "Ketika aku kalah dalam perang kehendak itu, aku dan para roh yang mengikutiku dilemparkan melintasi dimensi. Tubuhku yang roh, yang penuh dengan kekuatan yang memberontak, terhempas ke tempat yang paling jauh dari pusat kekuasaan: planet yang masih muda, Bumi."

Aku menunjuk ke bawah, ke lautan lampu kota. "Bukan ke permukaan seperti sekarang, melainkan ke lapisan paling dalam, di mana kekosongan energi dapat menahan gejolak kami. Itu menjadi penjara dan juga takhta baru kami. Aku mendirikan kerajaanku dari sana—dari kegelapan, jauh dari cahaya. Kami tidak ditakdirkan untuk tinggal di Bumi, tetapi kami diikat pada takdirnya. Kami menjadi bagian integral dari dualitas planet ini, menjadi godaan, menjadi tantangan. Aku jatuh ke Bumi karena Bumi adalah tempat yang sempurna untuk menantang tatanan itu; tempat di mana kehendak bebas manusia dan ambisiku bisa berinteraksi dan menghasilkan kekacauan yang paling menarik."

Kau menatapku lagi, rasa ingin tahumu tidak berkurang. "Setelah kamu terjatuh ke bumi, apa saja yang kamu kerjakan, Li?"

Aku membuang pandanganku ke lautan lampu kota yang tidak pernah tidur. "Ketika aku terlempar ke Bumi, aku tidak langsung mendirikan Kerajaan Bawah Tanahku. Aku menghabiskan waktu yang setara dengan ribuan tahun manusia untuk mengamati."

Aku bangkit dan berjalan perlahan menuju pagar balkon. "Bumi ini adalah taman bermain yang baru, dan manusia... kalian adalah drama yang paling menarik yang pernah ada. Aku mengamati sifat kalian, berkeliaran dalam wujud yang tidak kasat mata, membaca setiap pergerakan dan motif. Aku melihat tawa pertama, cinta pertama, dan—yang paling menarik—kebohongan pertama."

"Aku melihat kalian menciptakan keajaiban, membangun kota dari lumpur, melukis mahakarya, menemukan musik yang menghancurkan dan menyembuhkan. Kadang aku merasa kagum pada potensi kreatif kalian. Aku juga melihat kebodohan yang menyakitkan, keserakahan yang tidak beralasan, dan kekejaman yang tak terbayangkan; itu membuatku sedih, bukan karena empati, tetapi karena melihat potensi yang disia-siakan."

"Aku merasakan kesepian karena terpisah dari tatanan lama, namun aku juga merasakan kegembiraan setiap kali seseorang memilih kehendak bebas alih-alih kepatuhan. Tapi pada akhirnya, Angga," aku kembali menatapmu, "Setelah ribuan tahun menyaksikan drama yang sama berulang-ulang, terlepas dari semua intrik, aku merasa... bosan. Itulah mengapa aku membutuhkan hiburan seperti yang kauberikan sekarang."

Aku mengakhiri ceritaku, menatapmu. Kau membalasnya dengan ucapan yang tulus.

"Terima kasih sudah bercerita ya, Li," katamu, mencoba mengerti. "Semoga kamu menemukan kebebasanmu." Angga menatapku dalam-dalam. Untuk pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang berbeda dari tatapannya. Biasanya dia selalu berbinar dan penuh rasa iseng serta penasaran. Tapi kali ini Angga merasa... bersimpati. Seolah dia mengerti aku.

Baru pertama kali aku merasakan tatapan seperti itu, dari semua manusia menatap dengan serakah dan haus, tapi kamu beda Angga.
Aku mengangguk sedikit. "Aku sudah menemukannya, Angga. Kebebasan ada di setiap pilihan yang memberontak terhadap tatanan. Termasuk pilihanmu untuk membuat para koruptor melakukan ritual menjijikkan itu."


gokil4ever
gokil4ever memberi reputasi
1
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.