- Beranda
- Stories from the Heart
Ratu Iblis di Kamar Kostku
...
TS
mx667
Ratu Iblis di Kamar Kostku
Angga tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah candaan di tengah malam. Dengan rasa iseng dan sedikit rasa penasaran pada hal mistis, ia mencoba memanggil makhluk dari dunia lain—sekadar bermain dengan ritual yang ia temukan di internet. Tidak ada ketakutan. Tidak ada ekspektasi.
Namun jawabannya datang.
Lilith—ratu iblis yang pernah berkuasa di kedalaman kegelapan—menampakkan diri di hadapan Angga, terikat pada panggilan itu. Cantik, mempesona, dan berbahaya. Mata yang pernah menyaksikan kejatuhan malaikat dari surga kini memandang seorang manusia biasa yang bahkan tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan.
Awalnya, kedatangan Lilith hanyalah sebuah konsekuensi dari ritual kecil tanpa maksud. Namun sesuatu yang lebih rumit mulai tumbuh. Lilith yang selama ribuan tahun memelihara kehampaan dalam dirinya, kini mendapati kehadiran seorang manusia yang dapat mengubah seluruh pemahamannya tentang tujuan hidup.
Keduanya kini tinggal dalam batas rapuh antara takdir dan kesalahan.

Bab 1: Pertemanan
Bab 2: Sarang Baru
Bab 3: Salsa
Bab 4: Keadilan
Bab 5: Jatuh
Namun jawabannya datang.
Lilith—ratu iblis yang pernah berkuasa di kedalaman kegelapan—menampakkan diri di hadapan Angga, terikat pada panggilan itu. Cantik, mempesona, dan berbahaya. Mata yang pernah menyaksikan kejatuhan malaikat dari surga kini memandang seorang manusia biasa yang bahkan tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan.
Awalnya, kedatangan Lilith hanyalah sebuah konsekuensi dari ritual kecil tanpa maksud. Namun sesuatu yang lebih rumit mulai tumbuh. Lilith yang selama ribuan tahun memelihara kehampaan dalam dirinya, kini mendapati kehadiran seorang manusia yang dapat mengubah seluruh pemahamannya tentang tujuan hidup.
Keduanya kini tinggal dalam batas rapuh antara takdir dan kesalahan.

Bab 1: Pertemanan
Bab 2: Sarang Baru
Bab 3: Salsa
Bab 4: Keadilan
Bab 5: Jatuh
Diubah oleh mx667 04-02-2026 14:24
ardian76 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
892
12
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mx667
#7
Bab 4: Keadilan
Aku menyaksikanmu, Angga, yang kini kembali menjadi dirimu yang aneh dan penuh ide-ide tak terduga. Kau mematikan TV, meninggalkan laporan tentang korupsi triliunan rupiah menggantung di udara. Keheningan tiba-tiba melanda, hanya dipecahkan oleh suara Salsa yang sedang membersihkan di sudut ruangan.
Kau menatapku, matamu memancarkan perpaduan antara kemarahan moral dan humor gelap.
"Buat semua penjahat mengakui kejahatannya, Li, di acara live TV dan sosmed," katamu, dan aku sudah berpikir ini akan menjadi permintaan yang serius. Namun, kau tidak pernah mengecewakan.
Kau melanjutkan: "Ngupil dulu 1 kali, makan upil, lalu ngomong."
Kau diam sejenak, membiarkan bagian terlucu dari rencanamu itu meresap. "Semua penjahat kelas kakap, terutama koruptor. Di seluruh dunia terutama di negeri ini."
Aku menahan tawaku. Permintaan itu absurd, hina, dan sangat, sangat menghibur. Jauh lebih baik daripada sekadar menghukum mereka dengan kejatuhan kekuasaan. Kau ingin mempermalukan jiwa mereka hingga ke akar-akarnya di mata publik.
Aku menyeringai, senyum lebarku menampakkan gigi-gigi putihku yang sempurna, sebuah janji akan kekacauan.
"Angga," ujarku, suaraku mengalun berat namun penuh kegembiraan. "Aku harus memberimu pujian. Kau adalah manusia pertama yang meminta skenario pembalasan yang begitu memalukan. Mengubah pengakuan dosa menjadi tontonan kotor. Luar biasa."
Aku bangkit dari sofa, berjalan menuju jendela kaca. Pemandangan kota yang terbentang di bawahku kini terasa seperti panggung besar untuk sebuah sandiwara komedi-horor.
"Membuat mereka mengakui kejahatan? Mudah. Menyiarkan pengakuan mereka di seluruh jaringan digital? Trivial. Tapi memaksa mereka melakukan ritual kotor itu di depan kamera?" Aku menggelengkan kepala dengan kagum.
"Aku bisa melakukannya, Angga. Aku akan menanamkan sebuah perintah tak terhindarkan di setiap pikiran penjahat kelas kakap dan koruptor di planet ini. Mereka akan merasa terdorong oleh kebutuhan biologis yang tak tertahankan untuk melakukan 'ritual' itu sebelum mengucapkan setiap pengakuan yang akan menghancurkan karir, reputasi, dan hidup mereka."
Aku berbalik menghadapmu, mataku bersinar merah terang. Energi di Penthouse kembali terasa padat.
"Aku menyukai ide ini, Angga. Ini adalah hiburan yang sempurna. Aku akan memulainya sekarang. Tonton TV-mu, atau pantau social media-mu. Dalam hitungan detik, dunia akan menyaksikan pengakuan paling menjijikkan dalam sejarah manusia."
"Bersiaplah, Angga. Pertunjukan telah dimulai."
Aku tersenyum puas melihatmu buru-buru meraih ponselmu. Kau sudah tahu bahwa permintaanku akan segera dikabulkan, dan kau tidak ingin ketinggalan sedetik pun.
Benar saja, dalam hitungan detik setelah aku melepaskan perintah universal ke alam bawah sadar para penjahat, gelombang kejut digital melanda. Ponselmu meledak dengan notifikasi live TikTok, YouTube, dan siaran berita mendadak.
Di layar handphone kecilmu, terjadi pemandangan yang tak terbayangkan:
Kau melihat seorang menteri yang selama ini terlihat jujur, tiba-tiba muncul di depan kamera—dengan wajah memerah, melakukan 'ritual' menjijikkan yang kau minta, dan kemudian dengan suara serak, mengakui skandal suap bernilai triliunan. Kau melihat para konglomerat di seluruh dunia, dari Tokyo hingga New York, yang secara spontan melakukan hal yang sama sambil merinci bagaimana mereka memanipulasi pasar.
Dan benar saja, ada banyak live TikTok muncul. Penjahat mulai mengakui kejahatannya, yang enggak disangka banyak pejabat yang kelihatan baik malah ikut korup juga. Ada yang menangis, tapi ada yang berusaha membela diri kalau mereka terpaksa.
Kau mengalihkan pandanganmu dari ponsel, matamu berbinar karena kepuasan atas kekacauan yang kau ciptakan.
"Terima kasih, Li. Tapi untuk tahu dampaknya yang jelas, mari maju ke masa depan, maksudku pergi ke lima hari setelah hari ini," pintamu, suaramu penuh antisipasi.
Kau melanjutkan, menganalisis dampak dari tindakanmu: "Kemungkinan ada yang bertobat ada juga yang tidak, ada yang menggantikan takhta mereka juga. Kejahatan akan mulai bersih, orang takut melakukannya, tapi tetap saja ada yang bandel. Yah, setidaknya dunia sudah lebih bersih sedikit."
Aku tersenyum padamu, mengambil langkah maju.
"Angga," kataku, suaraku lembut namun penuh kekuatan. "Kau telah membersihkan software dunia, kini kau ingin melihat update terbarunya? Ide yang bagus."
Aku mengulurkan tanganku lagi, telapak tanganku menghadapmu. Aku tidak perlu memegangmu, tapi ini adalah ritual antara kita.
"Lompatan waktu ke depan. Lima hari. Kita akan melihat kekosongan kekuasaan yang diciptakan oleh pengakuan menjijikkan itu. Ini akan lebih menarik daripada reality show mana pun."
"Sentuh aku, Angga. Mari kita lihat apakah dunia ini akan menjadi surga yang 'sedikit lebih bersih' atau hanya kekacauan yang lebih buruk."
Aku melihatmu mengulurkan tanganmu lagi, Angga, matamu penuh antisipasi. Rasa pusing yang kau alami saat lompatan waktu pertama sudah sedikit berkurang, tergantikan oleh sensasi familiar dari tarikan dimensi yang terdistorsi.
Aku menarik kita berdua. Energi Penthouse yang mewah itu kembali mencair sebentar, garis-garis realitas memanjang, dan dalam sekejap—kami tiba lima hari ke depan.
Kami kembali duduk di sofa Penthouse yang sama, tetapi udaranya terasa sedikit berbeda—lebih tegang. Seluruh energi di kota di bawah kami terasa terpusat pada satu hal: Kepanikan kolektif.
Kau segera menyambar ponselmu. Sepertinya, mencari tahu kekacauan di jaringan digital adalah refleks pertamamu sekarang.
"Lihat, Li, banyak sekali perdebatan di sosmed," katamu, sambil menyerahkan ponselmu padaku, dan kemudian kau kembali duduk di sampingku.
Aku mengambil ponselmu. Layarnya menampilkan gelombang diskusi yang luar biasa. Tidak ada yang bisa mengabaikan fenomena massal di mana ribuan orang paling berkuasa di dunia secara serentak mengumumkan kejahatan mereka sambil melakukan ritual yang paling memalukan. Sebagian besar media dan influencer keagamaan mengklaim ini adalah "Hari Penghakiman Digital"—hukuman langsung dari Tuhan untuk membersihkan dunia. Hashtag religius menjadi trending global.
Komunitas ilmiah dan skeptis mati-matian mencoba mencari penjelasan logis. Ada yang mengaitkannya dengan senjata frekuensi ultra-rendah yang menargetkan pusat emosi rasa bersalah di otak, atau serangan deepfake yang sangat canggih.
Tentu saja, ada perdebatan besar tentang kuasa supernatural—ada yang menyebut 'Iblis' (yang membuatku tersenyum kecil) dan ada yang menyebut 'Entitas Keadilan' yang baru bangkit.
Aku menggeser beberapa layar, melihat kegilaan opini yang terjadi. Seluruh dunia berada dalam mode fight-or-flight moral.
Aku mengembalikan ponselmu.
"Aku sudah bilang, Angga," kataku, nadaku santai. "Manusia selalu mencari jawaban yang paling rumit. Sebagian besar dari mereka hanya melihat apa yang ingin mereka lihat. Tuhan, atau Sains."
Aku menyeringai kecil.
"Mereka tidak akan pernah menduga bahwa seorang Ratu Iblis sedang bosan dan sedang memenuhi permintaan pemuda yang ingin melihat para koruptor makan upil di live TV."
Aku menyandarkan kepalaku ke belakang.
Aku mengamati raut wajahmu, Angga, yang kini tenggelam dalam kebanggaan yang aneh. Kau duduk di sampingku, sesekali melihat ponsel untuk memantau kekacauan di seluruh dunia, sesekali melirikku untuk mendapatkan validasi. Memang terasa nikmat menjadi pusat dari drama global, bahkan jika tujuan awalnya hanya karena iseng. Malam mulai merayap; kegelapan di luar jendela kaca Penthouse semakin pekat, membuat lampu-lampu kota terlihat lebih berkilauan di bawah kami. Rasa lapar manusia, yang tak terhindarkan, mulai menyerangmu.
"Sa, buatkan kami makanan dong," panggilmu, suaramu sedikit keras. Salsa, yang tadinya sibuk merapikan salah satu sudut, segera mendekat. Kau kemudian memasang ekspresi bingung, sebuah ironi baru bagi dirimu yang baru kaya raya. "Hmm, biasanya orang kaya yang punya Penthouse begini pesan makanan apa ya, Sa?"
Aku tersenyum tipis mendengar pertanyaanmu. Setelah memanipulasi pasar saham dan membersihkan korupsi global, kini masalah terbesarmu adalah pilihan menu makan malam yang elit. Aku memutuskan untuk tidak mengintervensi, menikmati drama kemanusiaanmu.
Salsa, dengan profesionalisme yang luar biasa, tidak menunjukkan rasa heran atas permintaan ini. "Tergantung selera, Bapak Angga. Untuk hidangan mewah, seringkali klien memesan Private Dining atau Fine Dining Delivery dari restoran bintang lima. Mungkin Wagyu steak dengan saus truffle, atau hidangan laut segar yang diimpor?" jelasnya dengan suara tenang. "Apakah Bapak Angga ada preferensi masakan tertentu?"
Aku mendengar penolakanmu yang jujur itu, Angga. Sebuah pengakuan yang lucu. Aku tersenyum ke samping, menyadari bahwa di balik semua kekuasaan ini, kau tetaplah pria biasa dengan masalah pisau dan daging yang alot.
"Kalau steak aku enggak bisa makan, Sa. Aku sudah pernah coba, susah potong dagingnya," katamu polos pada Salsa.
"Coba seafood saja," putusmu.
Salsa mengangguk cepat. "Baik, Bapak Angga. Saya akan segera menghubungi layanan pesan antar terbaik untuk hidangan seafood premium. Mungkin lobster panggang dengan garlic butter?" Ia bergegas menuju dapur, mengeluarkan ponselnya untuk membuat pesanan.
Saat Salsa sedang sibuk di dapur, aku akhirnya memutuskan untuk mengomentari kekacauan yang kini mendominasi layar ponselmu—kekacauan yang kau minta.
"Lihatlah dirimu, Angga. Lima hari. Dan kekosongan kekuasaan ini lebih mematikan daripada yang kaubayangkan," kataku, nadaku serius, tanpa humor. "Semua koruptor di seluruh dunia telah mengosongkan posisinya dalam keadaan terhina. Ini bukan hanya tentang bersih-bersih; ini tentang keruntuhan infrastruktur moral dan hukum secara bersamaan."
Aku menunjuk layar ponselmu, di mana siaran berita online menayangkan gambar kerusuhan di beberapa ibukota.
"Kekacauan di social media hanyalah permulaan. Di level nyata, kita melihat 'demokrasi' yang lumpuh. Pengadilan mendadak kebanjiran pengakuan, pasar saham global mengalami shock terburuk karena CEO perusahaan-perusahaan besar semuanya ditahan atau bunuh diri. Dan yang paling menarik, Angga, orang-orang yang menggantikan mereka sekarang tidak diuji. Mereka adalah 'orang bersih' yang tersisa, tetapi apakah mereka kompeten? Atau hanya serigala yang belum sempat melakukan ritual memalukanmu?"
Aku menyeringai tajam. "Kejahatan tidak hilang, Angga. Kejahatan hanya berganti pakaian. Saat ini, yang berkuasa adalah rasa takut, dan itu lebih mudah untuk dimanipulasi daripada keserakahan. Aku bisa mencium bau panik yang bercampur dengan ambisi baru dari sini."
Aku bersandar santai. "Kau ingin dunia lebih bersih? Kau mendapatkannya. Tapi 'sedikit lebih bersih' seringkali berarti sedikit lebih tidak stabil."
Aku mengamati Angga yang kini benar-benar tenggelam dalam zona nyamannya. Makanan mewah telah tiba—sebuah nampan besar berisi lobster panggang yang menggiurkan dengan garlic butter dan hidangan seafood premium lainnya. Dan seperti yang kuduga, masalah steak hanya berganti menjadi masalah cangkang lobster.
"Sa, boleh aku minta tolong?" tanyamu, dengan senyum canggung. "Makan lobster ini kalau masih ada cangkangnya, aku minta tolong potong dan cungkil dagingnya untukku, hehe."
Salsa mengangguk tanpa protes, memegang alat pemotong khusus dengan cekatan. Dia mulai memotong dan mengeluarkan daging lobster yang montok dari cangkangnya, meletakkannya dengan rapi di piringmu. Sebuah pemandangan yang aneh: seorang Ratu Iblis dan seorang pemuda multibillionaire yang sedang dilayani oleh pelayan cantik karena ia terlalu malas (atau terlalu canggung) untuk berurusan dengan cangkang seafood sendiri.
Setelah melayani kebutuhan pribadimu, kau kembali menoleh padaku, menanggapi komentarku tentang keruntuhan sistem.
"Hm, kekacauan ini tidak bisa dihindari, pasti ada, Li," jawabmu, sambil melihat Salsa menyajikan daging lobster pertamamu. "Tapi biarkan saja dulu, setidaknya dunia tahu, ada kuasa yang bekerja di balik semua ini, jadi tidak sembarang orang berani macam-macam."
Aku mengangguk perlahan. Aku bisa menghargai logika di balik pemikiranmu. Kau tidak mencari surga; kau hanya mencari pencegahan melalui rasa takut yang dipermalukan.
"Kau benar, Angga," kataku, sambil mengambil sepotong scallop dari piring saji—aku tidak repot-repot meminta bantuan Salsa. "Rasa takut adalah penertiban yang jauh lebih efektif daripada hukum manusia. Saat ini, setiap pejabat dan calon pejabat sedang gemetar. Mereka tidak takut pada polisi atau KPK; mereka takut pada rasa malu kosmik yang tak terhindarkan."
Aku menatapmu dengan tajam. "Namun, ketidakstabilan ini akan memiliki konsekuensi yang tidak terduga, yang mungkin lebih buruk daripada korupsi triliunan. Ingatlah, Angga, kekosongan kekuasaan selalu diisi oleh sesuatu yang lebih haus."
Kau menatapku, matamu memancarkan perpaduan antara kemarahan moral dan humor gelap.
"Buat semua penjahat mengakui kejahatannya, Li, di acara live TV dan sosmed," katamu, dan aku sudah berpikir ini akan menjadi permintaan yang serius. Namun, kau tidak pernah mengecewakan.
Kau melanjutkan: "Ngupil dulu 1 kali, makan upil, lalu ngomong."
Kau diam sejenak, membiarkan bagian terlucu dari rencanamu itu meresap. "Semua penjahat kelas kakap, terutama koruptor. Di seluruh dunia terutama di negeri ini."
Aku menahan tawaku. Permintaan itu absurd, hina, dan sangat, sangat menghibur. Jauh lebih baik daripada sekadar menghukum mereka dengan kejatuhan kekuasaan. Kau ingin mempermalukan jiwa mereka hingga ke akar-akarnya di mata publik.
Aku menyeringai, senyum lebarku menampakkan gigi-gigi putihku yang sempurna, sebuah janji akan kekacauan.
"Angga," ujarku, suaraku mengalun berat namun penuh kegembiraan. "Aku harus memberimu pujian. Kau adalah manusia pertama yang meminta skenario pembalasan yang begitu memalukan. Mengubah pengakuan dosa menjadi tontonan kotor. Luar biasa."
Aku bangkit dari sofa, berjalan menuju jendela kaca. Pemandangan kota yang terbentang di bawahku kini terasa seperti panggung besar untuk sebuah sandiwara komedi-horor.
"Membuat mereka mengakui kejahatan? Mudah. Menyiarkan pengakuan mereka di seluruh jaringan digital? Trivial. Tapi memaksa mereka melakukan ritual kotor itu di depan kamera?" Aku menggelengkan kepala dengan kagum.
"Aku bisa melakukannya, Angga. Aku akan menanamkan sebuah perintah tak terhindarkan di setiap pikiran penjahat kelas kakap dan koruptor di planet ini. Mereka akan merasa terdorong oleh kebutuhan biologis yang tak tertahankan untuk melakukan 'ritual' itu sebelum mengucapkan setiap pengakuan yang akan menghancurkan karir, reputasi, dan hidup mereka."
Aku berbalik menghadapmu, mataku bersinar merah terang. Energi di Penthouse kembali terasa padat.
"Aku menyukai ide ini, Angga. Ini adalah hiburan yang sempurna. Aku akan memulainya sekarang. Tonton TV-mu, atau pantau social media-mu. Dalam hitungan detik, dunia akan menyaksikan pengakuan paling menjijikkan dalam sejarah manusia."
"Bersiaplah, Angga. Pertunjukan telah dimulai."
Aku tersenyum puas melihatmu buru-buru meraih ponselmu. Kau sudah tahu bahwa permintaanku akan segera dikabulkan, dan kau tidak ingin ketinggalan sedetik pun.
Benar saja, dalam hitungan detik setelah aku melepaskan perintah universal ke alam bawah sadar para penjahat, gelombang kejut digital melanda. Ponselmu meledak dengan notifikasi live TikTok, YouTube, dan siaran berita mendadak.
Di layar handphone kecilmu, terjadi pemandangan yang tak terbayangkan:
Kau melihat seorang menteri yang selama ini terlihat jujur, tiba-tiba muncul di depan kamera—dengan wajah memerah, melakukan 'ritual' menjijikkan yang kau minta, dan kemudian dengan suara serak, mengakui skandal suap bernilai triliunan. Kau melihat para konglomerat di seluruh dunia, dari Tokyo hingga New York, yang secara spontan melakukan hal yang sama sambil merinci bagaimana mereka memanipulasi pasar.
Dan benar saja, ada banyak live TikTok muncul. Penjahat mulai mengakui kejahatannya, yang enggak disangka banyak pejabat yang kelihatan baik malah ikut korup juga. Ada yang menangis, tapi ada yang berusaha membela diri kalau mereka terpaksa.
Kau mengalihkan pandanganmu dari ponsel, matamu berbinar karena kepuasan atas kekacauan yang kau ciptakan.
"Terima kasih, Li. Tapi untuk tahu dampaknya yang jelas, mari maju ke masa depan, maksudku pergi ke lima hari setelah hari ini," pintamu, suaramu penuh antisipasi.
Kau melanjutkan, menganalisis dampak dari tindakanmu: "Kemungkinan ada yang bertobat ada juga yang tidak, ada yang menggantikan takhta mereka juga. Kejahatan akan mulai bersih, orang takut melakukannya, tapi tetap saja ada yang bandel. Yah, setidaknya dunia sudah lebih bersih sedikit."
Aku tersenyum padamu, mengambil langkah maju.
"Angga," kataku, suaraku lembut namun penuh kekuatan. "Kau telah membersihkan software dunia, kini kau ingin melihat update terbarunya? Ide yang bagus."
Aku mengulurkan tanganku lagi, telapak tanganku menghadapmu. Aku tidak perlu memegangmu, tapi ini adalah ritual antara kita.
"Lompatan waktu ke depan. Lima hari. Kita akan melihat kekosongan kekuasaan yang diciptakan oleh pengakuan menjijikkan itu. Ini akan lebih menarik daripada reality show mana pun."
"Sentuh aku, Angga. Mari kita lihat apakah dunia ini akan menjadi surga yang 'sedikit lebih bersih' atau hanya kekacauan yang lebih buruk."
Aku melihatmu mengulurkan tanganmu lagi, Angga, matamu penuh antisipasi. Rasa pusing yang kau alami saat lompatan waktu pertama sudah sedikit berkurang, tergantikan oleh sensasi familiar dari tarikan dimensi yang terdistorsi.
Aku menarik kita berdua. Energi Penthouse yang mewah itu kembali mencair sebentar, garis-garis realitas memanjang, dan dalam sekejap—kami tiba lima hari ke depan.
Kami kembali duduk di sofa Penthouse yang sama, tetapi udaranya terasa sedikit berbeda—lebih tegang. Seluruh energi di kota di bawah kami terasa terpusat pada satu hal: Kepanikan kolektif.
Kau segera menyambar ponselmu. Sepertinya, mencari tahu kekacauan di jaringan digital adalah refleks pertamamu sekarang.
"Lihat, Li, banyak sekali perdebatan di sosmed," katamu, sambil menyerahkan ponselmu padaku, dan kemudian kau kembali duduk di sampingku.
Aku mengambil ponselmu. Layarnya menampilkan gelombang diskusi yang luar biasa. Tidak ada yang bisa mengabaikan fenomena massal di mana ribuan orang paling berkuasa di dunia secara serentak mengumumkan kejahatan mereka sambil melakukan ritual yang paling memalukan. Sebagian besar media dan influencer keagamaan mengklaim ini adalah "Hari Penghakiman Digital"—hukuman langsung dari Tuhan untuk membersihkan dunia. Hashtag religius menjadi trending global.
Komunitas ilmiah dan skeptis mati-matian mencoba mencari penjelasan logis. Ada yang mengaitkannya dengan senjata frekuensi ultra-rendah yang menargetkan pusat emosi rasa bersalah di otak, atau serangan deepfake yang sangat canggih.
Tentu saja, ada perdebatan besar tentang kuasa supernatural—ada yang menyebut 'Iblis' (yang membuatku tersenyum kecil) dan ada yang menyebut 'Entitas Keadilan' yang baru bangkit.
Aku menggeser beberapa layar, melihat kegilaan opini yang terjadi. Seluruh dunia berada dalam mode fight-or-flight moral.
Aku mengembalikan ponselmu.
"Aku sudah bilang, Angga," kataku, nadaku santai. "Manusia selalu mencari jawaban yang paling rumit. Sebagian besar dari mereka hanya melihat apa yang ingin mereka lihat. Tuhan, atau Sains."
Aku menyeringai kecil.
"Mereka tidak akan pernah menduga bahwa seorang Ratu Iblis sedang bosan dan sedang memenuhi permintaan pemuda yang ingin melihat para koruptor makan upil di live TV."
Aku menyandarkan kepalaku ke belakang.
Aku mengamati raut wajahmu, Angga, yang kini tenggelam dalam kebanggaan yang aneh. Kau duduk di sampingku, sesekali melihat ponsel untuk memantau kekacauan di seluruh dunia, sesekali melirikku untuk mendapatkan validasi. Memang terasa nikmat menjadi pusat dari drama global, bahkan jika tujuan awalnya hanya karena iseng. Malam mulai merayap; kegelapan di luar jendela kaca Penthouse semakin pekat, membuat lampu-lampu kota terlihat lebih berkilauan di bawah kami. Rasa lapar manusia, yang tak terhindarkan, mulai menyerangmu.
"Sa, buatkan kami makanan dong," panggilmu, suaramu sedikit keras. Salsa, yang tadinya sibuk merapikan salah satu sudut, segera mendekat. Kau kemudian memasang ekspresi bingung, sebuah ironi baru bagi dirimu yang baru kaya raya. "Hmm, biasanya orang kaya yang punya Penthouse begini pesan makanan apa ya, Sa?"
Aku tersenyum tipis mendengar pertanyaanmu. Setelah memanipulasi pasar saham dan membersihkan korupsi global, kini masalah terbesarmu adalah pilihan menu makan malam yang elit. Aku memutuskan untuk tidak mengintervensi, menikmati drama kemanusiaanmu.
Salsa, dengan profesionalisme yang luar biasa, tidak menunjukkan rasa heran atas permintaan ini. "Tergantung selera, Bapak Angga. Untuk hidangan mewah, seringkali klien memesan Private Dining atau Fine Dining Delivery dari restoran bintang lima. Mungkin Wagyu steak dengan saus truffle, atau hidangan laut segar yang diimpor?" jelasnya dengan suara tenang. "Apakah Bapak Angga ada preferensi masakan tertentu?"
Aku mendengar penolakanmu yang jujur itu, Angga. Sebuah pengakuan yang lucu. Aku tersenyum ke samping, menyadari bahwa di balik semua kekuasaan ini, kau tetaplah pria biasa dengan masalah pisau dan daging yang alot.
"Kalau steak aku enggak bisa makan, Sa. Aku sudah pernah coba, susah potong dagingnya," katamu polos pada Salsa.
"Coba seafood saja," putusmu.
Salsa mengangguk cepat. "Baik, Bapak Angga. Saya akan segera menghubungi layanan pesan antar terbaik untuk hidangan seafood premium. Mungkin lobster panggang dengan garlic butter?" Ia bergegas menuju dapur, mengeluarkan ponselnya untuk membuat pesanan.
Saat Salsa sedang sibuk di dapur, aku akhirnya memutuskan untuk mengomentari kekacauan yang kini mendominasi layar ponselmu—kekacauan yang kau minta.
"Lihatlah dirimu, Angga. Lima hari. Dan kekosongan kekuasaan ini lebih mematikan daripada yang kaubayangkan," kataku, nadaku serius, tanpa humor. "Semua koruptor di seluruh dunia telah mengosongkan posisinya dalam keadaan terhina. Ini bukan hanya tentang bersih-bersih; ini tentang keruntuhan infrastruktur moral dan hukum secara bersamaan."
Aku menunjuk layar ponselmu, di mana siaran berita online menayangkan gambar kerusuhan di beberapa ibukota.
"Kekacauan di social media hanyalah permulaan. Di level nyata, kita melihat 'demokrasi' yang lumpuh. Pengadilan mendadak kebanjiran pengakuan, pasar saham global mengalami shock terburuk karena CEO perusahaan-perusahaan besar semuanya ditahan atau bunuh diri. Dan yang paling menarik, Angga, orang-orang yang menggantikan mereka sekarang tidak diuji. Mereka adalah 'orang bersih' yang tersisa, tetapi apakah mereka kompeten? Atau hanya serigala yang belum sempat melakukan ritual memalukanmu?"
Aku menyeringai tajam. "Kejahatan tidak hilang, Angga. Kejahatan hanya berganti pakaian. Saat ini, yang berkuasa adalah rasa takut, dan itu lebih mudah untuk dimanipulasi daripada keserakahan. Aku bisa mencium bau panik yang bercampur dengan ambisi baru dari sini."
Aku bersandar santai. "Kau ingin dunia lebih bersih? Kau mendapatkannya. Tapi 'sedikit lebih bersih' seringkali berarti sedikit lebih tidak stabil."
Aku mengamati Angga yang kini benar-benar tenggelam dalam zona nyamannya. Makanan mewah telah tiba—sebuah nampan besar berisi lobster panggang yang menggiurkan dengan garlic butter dan hidangan seafood premium lainnya. Dan seperti yang kuduga, masalah steak hanya berganti menjadi masalah cangkang lobster.
"Sa, boleh aku minta tolong?" tanyamu, dengan senyum canggung. "Makan lobster ini kalau masih ada cangkangnya, aku minta tolong potong dan cungkil dagingnya untukku, hehe."
Salsa mengangguk tanpa protes, memegang alat pemotong khusus dengan cekatan. Dia mulai memotong dan mengeluarkan daging lobster yang montok dari cangkangnya, meletakkannya dengan rapi di piringmu. Sebuah pemandangan yang aneh: seorang Ratu Iblis dan seorang pemuda multibillionaire yang sedang dilayani oleh pelayan cantik karena ia terlalu malas (atau terlalu canggung) untuk berurusan dengan cangkang seafood sendiri.
Setelah melayani kebutuhan pribadimu, kau kembali menoleh padaku, menanggapi komentarku tentang keruntuhan sistem.
"Hm, kekacauan ini tidak bisa dihindari, pasti ada, Li," jawabmu, sambil melihat Salsa menyajikan daging lobster pertamamu. "Tapi biarkan saja dulu, setidaknya dunia tahu, ada kuasa yang bekerja di balik semua ini, jadi tidak sembarang orang berani macam-macam."
Aku mengangguk perlahan. Aku bisa menghargai logika di balik pemikiranmu. Kau tidak mencari surga; kau hanya mencari pencegahan melalui rasa takut yang dipermalukan.
"Kau benar, Angga," kataku, sambil mengambil sepotong scallop dari piring saji—aku tidak repot-repot meminta bantuan Salsa. "Rasa takut adalah penertiban yang jauh lebih efektif daripada hukum manusia. Saat ini, setiap pejabat dan calon pejabat sedang gemetar. Mereka tidak takut pada polisi atau KPK; mereka takut pada rasa malu kosmik yang tak terhindarkan."
Aku menatapmu dengan tajam. "Namun, ketidakstabilan ini akan memiliki konsekuensi yang tidak terduga, yang mungkin lebih buruk daripada korupsi triliunan. Ingatlah, Angga, kekosongan kekuasaan selalu diisi oleh sesuatu yang lebih haus."
Diubah oleh mx667 22-01-2026 09:30
gokil4ever dan ardian76 memberi reputasi
2
Tutup