Kaskus

Story

abangruliAvatar border
TS
abangruli
Kisah Horror - Gadis Kecil
Kisah Horror - Gadis Kecil

Prologue

Lelaki itu mengintip dari kegelapan. Sosok yang ia lihat sepertinya seorang remaja belia. Diperhatikan dengan seksama agar ia tidak salah sasaran. Remaja itu tampak sedang fly. Ia terduduk di sebuah batu nisan sambil memejamkan mata. Bibirnya terlihat bergerak gerak seolah sedang bicara, walau tak ada lawan bicara selain angin malam yang terasa menusuk. Tubuh kurusnya ditutupi dengan kaos hitam lusuh dengan celana jeans belel yang penuh robekan di bagian lutut. Secara bentuk tubuh dan berat badan sangat pas sesuai yang ia cari. Sehuah lintingan ganja tergeletak disamping. Fix lagi fly. Berarti aman, remaja kurus tersebut tak akan menyadari kehadirannya, pikir lelaki itu. Dengan melangkah tanpa suara, ia mendekat hingga jarak tersisa hanyalah selemparan batu.

Ia menarik nafas menyaksikan mangsa dihadapannya. Pikirannya mulai bekerja memenuhi benak. Segala pembenaran perlu ia lakukan karena sebentar lagi ia harus membunuh suara hatinya. Tanpa pembenaran ia akan merasa berdosa. Dengan pembenaran ia akan merasa waras. Baiklah. Kembali ia mengamati dan menyimpulkan. Kurus, gak terurus dan sepertinya calon sampah masyarakat. Tidak punya masa depan. Bahkan bisa jadi kalau menghilang pun kedua orangtuanya malah bersyukur. Menghilang pun berarti sama seperti ia membersihkan jalan dari sampah yang berserakan. Aku bukan membunuh seseorang, aku hanya akan melenyapkan seonggok sampah, pikir lelaki itu berulang kali.

Dilihatnya keadaan sekeliling. Pukul 02.15 dinihari di daerah pemakaman. Jauh dari pemukiman. Tak ada siapapun selain barisan nisan, aneka pohon Kamboja dan mungkin pocong. Itupun jika memang pocong itu ada. Tapi dirinya tak takut pada pocong. Ia lebih takut pujaan hatinya pergi meninggalkan dirinya. Cintanya yang begitu besar adalah alasan dia saat ini sedang berada disini.

Kembali dia memandang sekeliling. Setelah dipastikan aman dia kemudian melangkah mendekati remaja tadi sedekat mungkin. Berdiri dari belakang dan memperhatikan tengkuk abg itu.

Diambilnya sapu tangan tebal dari dalam saku celana. Tangan satunya mengambil botol kecil, membuka tutup dan dengan hati hati meneteskan beberapa tetes ke sapu tangan. Kemudian dalam hitungan detik dan kecepatan yang gesit, ia mendekap si abg, menutup hidung abg itu dengan sapu tangan. Dengan segenap tenaga ia menahan geleparan tubuh yang tak sempat meronta apalagi melawan. Hanya menggelepar sesaat setelah itu diam melunglai.

Pingsan sudah, pikir lelaki itu. Ia berdiri dan membiarkan tubuh si kurus jatuh tergeletak. Sekarang mulai bekerja ke bagian berikutnya. Tubuh kurus itu diikat tangan dan kaki. Mulutnya pun di sumpal kapas dan diberi lakban. Ia tak mau andai si kurus itu mendadak bangun, ia berteriak gak karuan. Setelah itu dimasukkan tubuh si kurus kedalam karung. Dilipat sedemikian rupa agar nanti di dalam mobil bisa ia masukkan ke dalam koper besar yang sudah ia bawa. Ia ada waktu satu hingga dua jam sebelum si kurus sadar. Sambil menarik nafas panjang ia memulai bagian yang menurutnya tersulit. Menggotong tubuh si kurus hingga ke tempat mobilnya berhenti. Huff sampai kapan aku sanggup kerja berat seperti ini? Pikir nya dengan nafas yang terengah engah...

***

Lelaki berusia 35 tahun membuka pintu kediamannya. Dengan cepat dimasukkan koper besar berwarna hitam ke dalam rumah. Pintu pun segera ia tutup kembali dan dikunci hingga dua kali. Akhirnya tiba juga ia dirumah. Ia membalikkan tubuhnya dan hampir kaget saat melihat sosok kecil yang cantik sudah berdiri dihadapannya.

"Kenapa kok lama banget? Aku laper.. " rajuknya khas anak abg. Usianya memang terlihat seperti anak smp mungkin sekitar 10, 11 atau 12. Entahlah. Tak ada yang tahu tepat usia anak itu.

"Iya sayang. Maaf ya. Tapi di daerah sini susah cari mangsa yang aman. Akhirnya aku terpaksa cari kuburan sana.." jawab lelaki itu sambil membaringkan koper. Dibuka resleting kopernya dan dikeluarkan karung hitam berlubang tadi. Si kecil itu menyaksikan Dengan seksama. Seperti anak kecil yang tak sabar melihat oleh oleh makanan apa yang dibawa oleh ayahnya.

"Tapi masih hidupkan? Kamu gak nyolong mayat kan??"

"Masih hiduplah.. ini sebentar lagi bangun kayaknya.."

"Hihi... baguslah. Makanan itu harus fresh biar sehat bagi tubuh.. jangan makan makanan yang basi.."

Lelaki itu hanya tersenyum masam mendengar becandaan si cantik. Ia menyeret tubuh si kurus ke arah kamar mandi diikuti langkah riang si gadis kecil di belakangnya. Benar saja dugaannya tadi, baru saja sampai di dalam kamar mandi si remaja kurus mulai membuka mata. Karena mulutnya tertutup rapat ia tak bisa mengeluarkan suara apapun. Matanya terlihat panik memandang sekeliling. Tubuhnya hendak meronta tapi terhalang ikatan kuat pada tangan dan kaki. Menjadikan si kurus bagai seonggok daging yang hidup. Mata si cantik berbinar memandangnya.

"Tuh udah bangun kan? Ya udah pintunya kamu tutup ya. Aku laper juga. Mau masak indomie aja. Kalau udah selesai, kamu mandi dulu sampai badan kamu bersih. Jangan sampe ada darah yang keluar dari kamar mandi.." tutur lelaki itu panjang lebar. Ia kemudian keluar dan menutup pintu kamar mandi. Meninggalkan si cantik beserta si remaja kurus di dalam sana. Dia melangkah ke dapur, mengambil panci dan dua bungkus mie instan. Tak lupa ditambah dengan sebutir telur dan tomat biar sehat. Sambil menunggu air mendidih ia menyalakan TV dan membiarkan suara siaran memenuhi ruangan. Bagaimana pun ia enggan mendengar erangan sakaratul maut yang biasanya tetap terdengar ke tengah rumah.
Habis makan ini, tugas terakhir masih menanti. Membersihkan kamar mandi dari genangan darah dan membuang jasad si kurus ke tempat aman. Huff.. terkadang aku sudah merasa lelah dengan semua ini, pikir lelaki itu. Tapi aroma mie instan goreng kemudian menyeruak dan menghibur penatnya diri. Ia menarik nafas panjang. Hmmm... betapa lezatmya mie ini. Ia pun mulai melahap. Sama seperti si cantik di dalam kamar mandi sana.

[Bersambung]
Diubah oleh abangruli 26-11-2024 12:23
gokil4everAvatar border
tiokyapcingAvatar border
teguhjepang9932Avatar border
teguhjepang9932 dan 26 lainnya memberi reputasi
27
6.2K
398
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
abangruliAvatar border
TS
abangruli
#69
​Bab 14: Perjanjian Darah dan Takhta

​Malam semakin pekat, seolah-olah langit sengaja menumpahkan seluruh tinta hitamnya ke atas bumi. Hujan yang sedari tadi mengancam kini mulai turun, namun bukan dalam bentuk rintik yang menyejukkan, melainkan gerimis tipis yang dingin dan amis, seolah membawa aroma kematian dari liang lahat. Di bawah naungan beringin tua yang angker itu, tubuh Savitri berputar perlahan, digerakkan oleh kekuatan tak kasat mata yang merampas kedaulatan otot-ototnya.

​Savitri bersiap melihat monster yang lebih mengerikan dari bayangan bermata merah tadi. Namun, saat tubuhnya sempurna menghadap ke arah suara, napasnya tertahan. Di sana, bersandar dengan tenang pada batang pohon yang berlumut, berdirilah seorang pria paruh baya.

​Ia tidak memiliki taring, tidak pula memiliki mata merah yang menyala. Pria itu mengenakan jubah beludru berwarna ungu gelap dengan sulaman benang emas yang motifnya sulit dikenali di tengah kegelapan. Wajahnya bersih, berwibawa, dengan garis rahang yang tegas dan kumis tipis yang terawat. Matanya teduh namun menyimpan kedalaman samudera yang bisa menenggelamkan siapapun yang menatapnya terlalu lama. Aura yang terpancar darinya bukanlah ketakutan yang mentah, melainkan wibawa yang absolut—seperti seorang raja yang sedang menyamar di tengah rakyat jelata.

​"Jangan gemetar, Cah Ayu," ucap pria itu. Suaranya berat, merdu, dan penuh karisma. "Aku bukan jin hutan rendahan yang baru saja lari ketakutan tadi. Aku adalah jawaban atas doa-doa gelapmu yang selama ini hanya berani kau bisikkan dalam hati."

​Savitri menelan ludah. Rasa takutnya perlahan terkikis oleh rasa penasaran yang besar. "Siapa... siapa Anda?"

​Pria itu melangkah maju. Keanehan terjadi; meski tanah di bawah mereka becek oleh air hujan, langkah kaki pria itu tidak menimbulkan suara, bahkan tidak meninggalkan bekas pada lumpur. "Panggil aku Kang Mas. Aku adalah penguasa dari apa yang tidak terlihat, dan penyedia bagi mereka yang haus akan keadilan... versinya sendiri."

​Ia berhenti tepat satu langkah di depan Savitri. Bau harum bunga melati yang busuk menguar dari pakaiannya. "Tadi aku mendengar permintaanmu. Menjadi Kirana? Kau sungguh memiliki jiwa yang kerdil, Savitri. Mengapa kau hanya ingin menjadi seorang gadis desa cantik yang kerjanya hanya menyapu lantai dan menunggu dipinang petani miskin?"

​Savitri mengernyit, amarahnya kembali tersulut. "Kirana dicintai semua orang! Ibu memujanya, orang-orang desa terpesona padanya! Aku hanya ingin posisi itu!"

​Kang Mas tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan logam yang halus. "Menjadi Kirana adalah sebuah penghinaan bagi potensimu. Kau memiliki api di dalam dadamu, Savitri. Api dengki yang murni adalah bahan bakar paling hebat untuk kekuasaan. Mengapa menjadi Kirana jika kau bisa memiliki dunia yang berlutut di bawah kakimu?"

​Savitri terdiam. Kata "kekuasaan" terdengar asing namun manis di telinganya.

​"Dengarkan aku," Kang Mas mendekatkan wajahnya, matanya kini berkilat perak. "Aku bisa memberikanmu Ajian dan Paras Sekar. Bukan sekadar cantik seperti Kirana, tapi kecantikan yang mampu meruntuhkan nalar. Kau akan memiliki daya pikat yang membuat setiap pria yang memandangmu merasa seolah melihat dewi yang turun dari kahyangan. Kau tidak akan berakhir di dapur desa ini."

​Ia mengayunkan tangannya ke udara, dan seolah-olah awan tersingkap, memperlihatkan bayangan masa depan di benak Savitri. "Aku melihatmu di singgasana emas. Aku melihat Raja—sang penguasa tanah Jawa ini—bersimpuh di depan kakimu, memohon cinta darimu. Kau tidak akan sekadar menjadi selir bahkan akhirnya menjadi istri raja, kau akan menjadi penentu jalannya kerajaan. Kata-katamu adalah hukum. Nyawa rakyat ada di ujung kuku manismu. Itulah arti menjadi cantik yang sesungguhnya."

​Dada Savitri naik turun. Bayangan tentang kekuasaan itu meracuni pikirannya. Selama ini ia merasa seperti debu di bawah kaki adiknya. Kini, ia ditawari menjadi matahari.

​"Tapi... apa harganya?" tanya Savitri dengan suara parau. Ia tahu, di dunia ini tidak ada yang gratis, apalagi dari sosok seperti Kang Mas..

​lelaki itu tersenyum lebar, memperlihatkan wibawa yang kini terasa sangat predator. "Harga yang sangat adil. Untuk mendapatkan kehidupan baru yang agung, kau harus menghancurkan kehidupan lama yang mengikatmu. Kau harus memutus tali kasih yang selama ini menjeratmu dalam rasa rendah diri."

​Pria itu merogoh sesuatu dari balik jubahnya. Sebuah keris kecil tanpa sarung, bilahnya hitam legam seolah menyerap cahaya di sekitarnya. "Tumbal pertama adalah dia yang menyebabkan hatimu menghitam. Kirana."

​Savitri terkesiap. "Kirana? Maksudmu... aku harus membunuhnya?"

​"Bukan dengan tanganmu sendiri. Aku tidak ingin tangan calon ratu berlumuran darah kotor gadis desa," Kang Mas menyerahkan keris itu kepada Savitri. "Letakkan keris ini di bawah tempat tidur Kirana malam ini. Saat ia terlelap, keris ini akan menghisap sari kehidupannya, kecantikannya, dan keberuntungannya. Semakin ia layu dan membusuk, semakin kau akan mekar dan bersinar. Saat fajar menyingsing, wajahmu akan mulai berubah. Kau akan melihat pantulan Kirana di cermin, namun dengan jiwa yang jauh lebih kuat... jiwamu sendiri."

​Savitri memandang keris hitam itu. Tangannya gemetar saat menyentuh gagang keris yang terasa dingin sedingin es kutub. Pikiran tentang wajah ibunya yang akan menangis jika Kirana tiada sempat terlintas, namun segera digantikan oleh ingatan saat ibunya memberikan bagian nasi terbaik untuk Kirana tadi siang. Ia teringat bagaimana Kirana selalu tersenyum tulus, senyum yang bagi Savitri adalah ejekan bagi nasibnya yang malang.

​"Jika dia mati... apakah benar semua orang akan melihatku?" bisik Savitri, lebih kepada dirinya sendiri.

​"Mereka tidak hanya akan melihatmu, mereka akan memujamu sebagai satu-satunya rembulan di malam gelap," sahut Kang Mas dengan nada menghipnotis. "Tapi ingat, sekali keris ini diletakkan, tidak ada jalan kembali. Perjanjian ini terikat dengan darah. Jika kau mengingkari janji di tengah jalan, maka jiwamulah yang akan menjadi santapan para abdi-abdiku."

​Kegelapan di hati Savitri kini telah mencapai puncaknya. Dendam yang selama bertahun-tahun ia pupuk kini menemukan muaranya. Ia tidak lagi melihat Kirana sebagai adiknya, melainkan sebagai penghalang, sebagai hama yang harus disingkirkan agar ia bisa tumbuh menjadi bunga yang paling indah.

​"Aku setuju," ucap Savitri tegas. Matanya yang semula tajam kini tampak kosong, hanya menyisakan bayangan ambisi yang liar. "Aku akan melakukannya. Aku akan memberikan Kirana padamu."

​Kang Mas tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menyatu dengan gemuruh petir yang kini meledak di langit. "Bagus! Seorang wanita yang tahu apa yang diinginkannya adalah sekutu yang hebat. Ambil keris itu dan laksanakan tugasmu. Takhta menantimu, Ratu masa depan."

​Savitri menggenggam keris itu erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia berbalik, meninggalkan bungkusan nasi yang terjatuh di lumpur, tidak lagi peduli pada perintah ibunya untuk mengantar makanan pada bapaknya di sawah. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: kolong tempat tidur Kirana.

​Ia berlari menembus hujan yang semakin deras. Angin malam yang tadi menusuk kulit kini terasa seperti sorak-sorai yang menyemangatinya. Di belakangnya, sosok Kang Mas perlahan memudar menjadi asap hitam, menyatu dengan bayang-bayang pohon beringin. Matanya yang tadinya teduh, sejenak berubah menjadi merah delima yang mengerikan sebelum benar-benar hilang.

​Savitri tidak menyadari bahwa ia baru saja menjual jiwanya kepada sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih lapar dari sekadar setan hutan. Ia tidak menyadari bahwa kecantikan yang dijanjikan hanyalah kulit luar yang menutupi kebusukan yang akan segera dimulai.

​Sesampainya di depan pintu rumahnya yang sederhana, Savitri berhenti sejenak. Ia mengatur napasnya. Di dalam, ia mendengar suara tawa kecil Kirana yang sedang membantu ibunya merajut. Tawa itu biasanya membuatnya kesal, tapi kali ini, Savitri tersenyum licik.

Tertawalah sekarang, Kirana, pikirnya sambil menyelipkan keris hitam itu ke balik bajunya. Sebab besok, tawa itu akan menjadi milikku. Dan kau hanya akan menjadi tanah yang kupijak menuju singgasana.

​Dengan langkah yang ringan namun pasti, Savitri membuka pintu. Ia melangkah masuk ke dalam kegelapan rumahnya, membawa maut yang tersembunyi di balik dadanya yang membara oleh dengki. Malam itu, sejarah kerajaan yang besar mulai ditulis dengan tinta pengkhianatan dan darah saudara sendiri.

(Bersambung)




gokil4ever
kedubes
sampeuk
sampeuk dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.