Kaskus

Story

mx667Avatar border
TS
mx667
Ratu Iblis di Kamar Kostku
Angga tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah candaan di tengah malam. Dengan rasa iseng dan sedikit rasa penasaran pada hal mistis, ia mencoba memanggil makhluk dari dunia lain—sekadar bermain dengan ritual yang ia temukan di internet. Tidak ada ketakutan. Tidak ada ekspektasi.
Namun jawabannya datang.

Lilith—ratu iblis yang pernah berkuasa di kedalaman kegelapan—menampakkan diri di hadapan Angga, terikat pada panggilan itu. Cantik, mempesona, dan berbahaya. Mata yang pernah menyaksikan kejatuhan malaikat dari surga kini memandang seorang manusia biasa yang bahkan tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan.

Awalnya, kedatangan Lilith hanyalah sebuah konsekuensi dari ritual kecil tanpa maksud. Namun sesuatu yang lebih rumit mulai tumbuh. Lilith yang selama ribuan tahun memelihara kehampaan dalam dirinya, kini mendapati kehadiran seorang manusia yang dapat mengubah seluruh pemahamannya tentang tujuan hidup.
Keduanya kini tinggal dalam batas rapuh antara takdir dan kesalahan.

Ratu Iblis di Kamar Kostku

Bab 1: Pertemanan
Bab 2: Sarang Baru
Bab 3: Salsa
Bab 4: Keadilan
Bab 5: Jatuh
Diubah oleh mx667 04-02-2026 14:24
bukhoriganAvatar border
gokil4everAvatar border
ardian76Avatar border
ardian76 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
892
12
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.6KAnggota
Tampilkan semua post
mx667Avatar border
TS
mx667
#3
Bab 3: Salsa
Aku mengamati reaksimu, Angga, saat kau tiba-tiba menjadi pemilik takhta penthouse ini. Matamu yang tadinya sibuk menatap feed berita tentang nyamuk kini memandang penuh takjub pada pemandangan kota di luar jendela kaca yang luas.

Kau berjalan terhuyung-huyung, mencoba merasakan lantai marmer gelap yang licin, lalu menjatuhkan diri ke sofa super besar dan empuk yang tampak seperti bisa menampung seluruh kamar kos lamamu. Kau tenggelam sebentar dalam kemewahan material itu, lalu mendongak menatapku.

Tatapanmu dalam, mencari pengakuan atau mungkin hanya memastikan bahwa semua ini nyata dan aku tidak akan tiba-tiba mencabutnya. Mata merahku membalas tatapan itu, tanpa berkedip. Aku membiarkanmu melihat—ya, ini semua nyata, dan semua ini untuk hiburanku.

Kau kemudian mengalihkan pandanganmu ke sekeliling Penthouse, dari lantai marmer ke dinding kaca yang menyajikan pemandangan kota.

"Tempat seperti ini akan sulit untuk dibersihkan sendiri, dan aku tidak mau menyuruhmu membersihkan," katamu, sebuah kebaikan hati yang aneh dari seorang manusia kepada Ratu Iblis. "Lebih baik ada satu pembantu. Yang cantik dan baikdan masih muda ya, Li. Hehe."

Kau mengakhiri permintaan itu dengan cengiran khas Angga, setengah malu, setengah berani. Permintaan yang sangat manusiawi: Kenyamanan, dan sedikit bonus visual.

Aku melipat tanganku di depan dada, tersenyum sinis.

"Tentu saja tidak. Aku tidak membersihkan," kataku, nadaku tegas. "Aku adalah penguasa Neraka, bukan pelayan cleaning service."

Aku mengangguk, menyetujui bagian inti dari permintaanmu. "Pekerja rumah tangga. Itu logis. Dan kau menambahkan kriteria yang sangat spesifik, Angga."

Aku menjentikkan jariku sekali lagi. Aku tidak menciptakan orang dari udara kosong; itu akan melanggar beberapa hukum fisika yang malas kuperbaiki. Aku hanya perlu memanipulasi takdir.

"Sudah diurus," kataku, melangkah ke mini bar dan menuangkan segelas air kristal yang dingin. "Seorang manusia, dengan kualifikasi 'cantik, baik, dan muda', telah menerima panggilan kerja misterius untuk bekerja di Penthouse ini. Dia akan tiba sebentar lagi."

Tepat saat aku meletakkan gelas air kristal di atas meja marmer, bel pintu Penthouse yang berteknologi tinggi itu berbunyi dengan nada melodi yang elegan.

"Lihat," kataku padamu, "ketika Ratu Iblis memanggil, pelayanan sangat cepat."

Pintu geser otomatis terbuka, dan masuklah seorang perempuan muda. Dia mengenakan pakaian formal sederhana yang rapi, membawa tas selempang kecil, dan terlihat sedikit gugup namun profesional. Sesuai pesananmu: muda, cantik, dan auranya tampak baik (setidaknya untuk standar manusia).

Dia tersentak sedikit melihat dekorasi Penthouse yang menjulang dan juga melihat diriku yang jelas-jelas tidak biasa,meskipun aku sudah berpakaian kasual. Namun, ia dengan cepat mengendalikan diri, seolah sudah terbiasa menghadapi hal-hal aneh.

"Selamat sore, Bapak Angga," sapanya dengan suara ramah dan profesional, sedikit membungkuk.

Kau tersentak sedikit, buru-buru bangkit dari sofa empuk itu, kembali ke mode manusia yang canggung.

"Ah, ya! Selamat datang. Silakan, silakan duduk!" katamu, menunjuk sofa di seberang kami.

Pelayan itu duduk dengan hati-hati di sofa besar di depan kami.

Kini, setting-nya sangat absurd: Aku dan kau duduk bersebelahan di sofa mewah, dengan tampilan santai (Aku dengan blazer elegan, kau dengan pakaian kosmu), dan di hadapan kami, seorang pelayan muda dan cantik siap untuk mendengarkan instruksi dari majikan barunya, tanpa menyadari ia sedang diwawancarai oleh seorang manusia yang baru saja kaya mendadak dan Ratu Iblis Tertinggi yang bosan.

Aku tersenyum puas. Drama manusia. Ini mulai menarik.

Aku mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menyandarkan sikuku di lutut, mengabaikan kehadiran pelayan itu sejenak.Aku hanya memperhatikanmu, Angga.

"Nah, Angga," bisikku pelan, suaraku rendah dan hanya ditujukan padamu, tapi cukup untuk membuat pelayan itu merasa sedikit tegelitik. "Dia sudah ada di sini. Kebutuhan dasarmu telah terpenuhi. Tanyakan padanya apa saja yang kau mau."

Aku membiarkanmu mengambil alih peran sebagai 'majikan' yang baru kaya mendadak, Angga. Ini adalah bagian dari hiburan—melihat bagaimana manusia bertindak ketika tiba-tiba mendapatkan segalanya.

"Boleh kamu perkenalkan diri dulu?" tanyamu pada calon pembantu itu.

Perempuan itu, Salsa, menjawab dengan nada yang teratur dan sopan. "Nama saya Salsa, Bapak Angga. Senang bertemu dengan Anda."

Ia memiliki raut wajah yang tenang, dan matanya fokus padamu, mengabaikan kehadiran anehku di sampingmu—sebuah profesionalisme yang harus kuakui mengesankan.

"Sebelumnya kamu pernah kerja di mana dan berapa lama?" lanjutmu, mencoba terdengar seperti manajer HRD yang kompeten.

Salsa menjawab dengan ringkas, menyebutkan pengalaman singkatnya di beberapa tempat. Aku hanya mendengarkan, menilai tingkat kebosanan yang ditimbulkan oleh detail-detail manusia ini. Masih lumayan.

"Bisa kamu buatkan kami minum? Aku mau kopi hitam saja," pintamu, lalu kau menoleh padaku. "Kamu mau minum apa, Li?"

Aku tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat Salsa sedikit menahan napas, meskipun ia berusaha keras terlihat tidak terpengaruh.

"Aku?" tanyaku, mengambil jeda dramatis. "Aku biasanya minum esensi dari bintang yang runtuh, tapi kupikir mini barini tidak menyediakannya."

Aku menunjuk ke arah mini bar kristal dengan daguku. "Aku akan mengambilkan minuman sendiri. Untuk saat ini, susu murni dingin saja," kataku, melontarkan permintaan yang sangat kontras dengan penampilanku.

"Nah, Salsa, kau sudah mendapat pesananmu. Cepat selesaikan tugasmu," kataku, kini mengalihkan perhatianku sepenuhnya padamu.

Salsa dengan sopan mengangguk. "Baik, Bapak. Kopi hitam dan susu murni dingin. Saya akan segera kembali." Ia berdiri dan berjalan menuju dapur mewah itu.

“Li, aku baru ingat, aku masih pakai kaos dan celana pendek santai,” keluhmu, menunjuk pakaianmu sendiri. "Penampilan ini tidak cocok dengan tempat tinggal kita yang baru. Bisa kamu ganti pakaianku jadi lebih keren dan mewah?”

Aku mendengus geli. "Astaga, Angga. Bahkan di tengah kekacauan kosmik, prioritas utamamu adalah fashion."

Aku mengabaikan detail-detail itu—mereka hanya data bagiku. Aku tidak perlu jubah sihir, aku hanya perlu keinginan. Aku menjentikkan jariku, dan sebuah push energi kosmik menghantammu.

Tidak ada api, tidak ada asap. Hanya kilauan sesaat di retina matamu.

Dalam sekejap, kaos dan celana pendekmu hilang, digantikan oleh setelan pakaian yang sangat cocok dengan kemewahan Penthouse ini. Bahan berkualitas tinggi membalut tubuhmu yang memang sudah terawat. Mungkin itu adalah kaus mock-neck kashmir berwarna gelap dengan celana trousers yang sangat pas dan sepasang sepatu kulit derby yang mahal. Semua dirancang untuk memamerkan fisikmu yang 'kadang gym' dan mendukung image 'kaya raya, tapi low profile'. Rambut undercut-mu terlihat sedikit lebih rapi, seolah baru saja dipotong oleh stylist terbaik di dunia.

"Selesai," kataku, mengangguk puas dengan karyaku. "Sekarang, setidaknya kau terlihat pantas menjadi majikan Ratu Iblis yang sedang bosan."

Kau menatap pakaian barumu dengan takjub, meraba bahan kashmir di lenganmu. Barulah setelah itu, idemu tentang jin dan kopi muncul.

“Li, ngomong-ngomong soal kopi, kenapa ya jin itu suka minta kopi," katamu, matamu kembali jahil. "Dan biar kutebak, pasti yang dibikin Kopi Kapal Api, padahal Kopi Lampung lebih enak.”

Aku tersenyum sinis. "Para jin itu tidak punya selera, Angga. Mereka hanya mencari cara termudah untuk menyerap energi manusia. Mereka tidak tahu perbedaan antara aroma yang lembut dan yang keras. Sama seperti seleramu pada bumbu soto untuk memanggil iblis."

Aku menegakkan posisi dudukku, pandanganku kembali tajam.

Aku melihat Salsa kembali dari dapur. Ia membawa dua gelas: satu cangkir kopi hitam yang mengepul untukmu, dan satu gelas tinggi berisi susu murni dingin untukku. Ia meletakkannya dengan hati-hati di meja marmer di hadapan kami.

"Silakan, Bapak Angga, Nona Li," katanya dengan suara lembut dan sopan.

"Sini Sa, duduk sebentar, aku mau ngobrol denganmu," ajakmu, menunjuk sofa di hadapan kami.

Salsa kembali duduk. Kau meraih cangkir kopimu dan menyesapnya. Ekspresimu berubah menjadi puas.

"Terima kasih Sa, kopinya enak, tapi next time kurangi gulanya," komentarmu, nadamu kembali ke mode majikan yang mencoba bersikap santai. "Dan... mulai hari ini kamu bisa kerja di sini."

Salsa tersenyum lega. "Terima kasih banyak, Bapak Angga. Saya akan bekerja dengan baik."

Aku meraih gelas susu murni dingin, memutarnya di tangan. Permintaan yang sangat kontras dengan diriku—sebuah metafora yang sangat disengaja.

Kau diam sejenak, mengamati Salsa, dan kemudian matamu beralih padaku, senyum iseng muncul di bibirmu. Kau tampak ingin menguji seberapa jauh kau bisa mendorong batas absurditas situasi ini.

"Tapi Sa, kamu tahu enggak siapa sebenarnya Li ini?" tanyamu dengan nada berbisik penuh rahasia, sambil menyenggol sikuku.

Aku hanya menyesap susu murni-ku, memandang Salsa dengan mata merahku yang tenang, wajahku tanpa ekspresi, tapi aku memancarkan sedikit aura 'jangan-berani-berani-menebak-dengan-salah'.

Salsa, yang tadi terlihat lega, tiba-tiba terlihat sedikit bingung dan gugup. Ia melirikku, mencoba membaca fashion mahal dan auraku yang aneh.

"Eh... maaf, Bapak Angga," jawab Salsa hati-hati, berusaha menemukan jawaban yang tepat. "Saya hanya berasumsi Nona Li adalah... rekan bisnis Bapak yang sangat penting?"

Salsa berhenti bicara, pandangannya tertuju padaku, seolah meminta persetujuan. Ia jelas takut salah bicara.

Aku menatapmu, Angga, yang sedang menikmati keisenganmu. Kau menertawakan ketakutan dan kebingungan Salsa, dan juga mengolok-olok statusku di matanya.

"Hahaha, ya kamu benar, Sa. Dia rekan bisnisku," katamu, sambil tersenyum lebar. Rekan bisnis yang bisa memusnahkan serangga dan memanipulasi waktu. Kedengarannya cukup akurat.

Kau menambahkan, "Dia mungkin akan sering tidur di sini, tapi kami enggak ada apa-apa kok. Dia bukan pacarku, setidaknya bukan untuk sekarang, hahaha."

Aku merasakan pipiku sedikit menghangat—reaksi aneh yang hanya kurasakan saat berurusan dengan kebodohan manusia yang menggemaskan. Aku hanya mendengus, menyesap susu murni dinginku. Angga berani sekali memasukkan kemungkinan romansa iblis-manusia ke dalam pikiran pelayannya.

Salsa hanya mengangguk sopan, ekspresinya menjadi lega karena pertanyaan aneh itu berakhir, meskipun ia masih terlihat bingung dengan disclaimer 'bukan untuk sekarang'.

"Baiklah, Sa, kamu boleh lanjutkan bersih-bersih ya. Aku mau ngobrol berdua dengan Li," perintahmu, kini beralih sepenuhnya ke mode bos.

Salsa segera berdiri. "Baik, Bapak Angga. Jika ada yang dibutuhkan, panggil saja saya." Ia membungkuk sedikit dan mulai membersihkan sudut ruangan.

Aku menoleh sepenuhnya padamu, meletakkan gelas susuku di meja.

Aku mendesah pelan, menyaksikanmu berdiri dari sofa mewah itu. Setelah semua yang telah kuberikan—Penthouse, kekayaan tersembunyi, pemusnahan nyamuk, dan penampilan baru—kau malah tertarik pada sebuah kotak kaca yang memancarkan gambar.

"Wah, TV-nya besar sekali ya, Li," katamu, matamu berbinar karena ukuran layar datar itu. "Gimana cara menyalakannya? Kita nikmati ini dulu ya, Li?"

Kau meraih remote di meja dan mulai menekan tombol-tombolnya dengan antusiasme yang aneh.

"Entah sejak kapan aku menonton TV untuk terakhir kalinya, Li," gumammu, pandanganmu terpaku pada layar besar itu.

Aku hanya membiarkanmu. Hiburan melalui teknologi manusia. Baiklah. Aku menyandarkan punggungku ke sofa, mengamati pantulan cahaya di lantai marmer, sementara mataku melirikmu.

Saluran berita sedang menayangkan laporan yang serius. Kau menghela napas panjang saat melihat laporan tentang korupsi triliunan rupiah yang melibatkan pejabat tinggi.

"Dunia ini penuh kebusukan, Li, terutama negeri yang korup ini," katamu, suaramu terdengar muram. Kontras sekali dengan tawa gilamu saat menyadari nyamuk telah punah.

Kau menoleh padaku, matamu kini tidak lagi iseng, tapi serius dan penuh perhitungan. Ini adalah pandangan yang baru. Kau sedang memikirkan permintaan yang melampaui kenyamanan pribadi.

"Sepertinya aku punya ide selanjutnya untuk permintaanku. Aku tahu kamu sudah menantinya, Li..." Kau diam sejenak, menatapku dalam-dalam.

"Permintaanku yang selanjutnya."

Aku tersenyum tipis. Sebuah senyum yang melengkung dari sudut bibirku. Aku telah menunggumu mencapai titik ini.

Aku meletakkan cangkir susu murni-ku ke samping, memberimu perhatian penuh.

"Menarik, Angga. Kau telah menyaksikan kekacauan ekologis, dan sekarang kau melihat kebusukan moral," kataku, suaraku rendah dan berbahaya, penuh antisipasi. "Korupsi. Ambisi. Kekuasaan. Ini adalah bumbu yang jauh lebih menarik daripada soto."

Aku mencondongkan tubuh ke depan, mataku bersinar merah terang.

"Baiklah, Angga. Ratu Iblis ini mendengarkan. Apa yang kau inginkan sekarang? Katakan padaku, bagaimana aku bisa menggunakan kekuatanku untuk membersihkan, atau lebih baik, menghancurkan, 'kebusukan' yang kau lihat di layar itu?"
Diubah oleh mx667 22-01-2026 07:19
gokil4ever
gokil4ever memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.