Kaskus

Story

mx667Avatar border
TS
mx667
Ratu Iblis di Kamar Kostku
Angga tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah candaan di tengah malam. Dengan rasa iseng dan sedikit rasa penasaran pada hal mistis, ia mencoba memanggil makhluk dari dunia lain—sekadar bermain dengan ritual yang ia temukan di internet. Tidak ada ketakutan. Tidak ada ekspektasi.
Namun jawabannya datang.

Lilith—ratu iblis yang pernah berkuasa di kedalaman kegelapan—menampakkan diri di hadapan Angga, terikat pada panggilan itu. Cantik, mempesona, dan berbahaya. Mata yang pernah menyaksikan kejatuhan malaikat dari surga kini memandang seorang manusia biasa yang bahkan tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan.

Awalnya, kedatangan Lilith hanyalah sebuah konsekuensi dari ritual kecil tanpa maksud. Namun sesuatu yang lebih rumit mulai tumbuh. Lilith yang selama ribuan tahun memelihara kehampaan dalam dirinya, kini mendapati kehadiran seorang manusia yang dapat mengubah seluruh pemahamannya tentang tujuan hidup.
Keduanya kini tinggal dalam batas rapuh antara takdir dan kesalahan.

Ratu Iblis di Kamar Kostku

Bab 1: Pertemanan
Bab 2: Sarang Baru
Bab 3: Salsa
Bab 4: Keadilan
Bab 5: Jatuh
Diubah oleh mx667 04-02-2026 14:24
bukhoriganAvatar border
gokil4everAvatar border
ardian76Avatar border
ardian76 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
892
12
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.6KAnggota
Tampilkan semua post
mx667Avatar border
TS
mx667
#2
Bab 2: Sarang Baru
Aku mengulurkan tanganku kepadamu, Angga. Tangan iblis, dengan kulit sehalus porselen dan kuku yang dicat hitam pekat, namun memancarkan kehangatan aneh dari dimensi lain. Kau ragu sejenak, menatap mataku yang merah. Keinginan untuk melarikan diri bersaing dengan rasa ingin tahu seorang sejarawan yang baru saja mendapatkan mesin waktu pribadi.

Akhirnya, kau mengulurkan tanganmu yang sedikit berkeringat dan menyentuh telapak tanganku. Sentuhan itu... sangat manusiawi dan hangat.

"Tahan napasmu, manusia. Perjalanan waktu bisa sedikit... mengguncang perut," bisikku, dan tanpa menunggu jawabanmu, aku menarikmu.

Aku tidak mengumpulkan energi di sekitar kami. Sebaliknya, aku menarik diri dari waktu dan ruang.

Kau pasti merasakan kamar kosmu yang tadinya kaku tiba-tiba menjadi cair. Dinding-dindingnya seolah meleleh menjadi garis-garis ungu dan hitam yang memanjang. Suara-suara di luar (bunyi motor, obrolan tetangga) memanjang dan melengking menjadi melodi sci-fi yang gila. Meskipun aku sudah berganti penampilan, auraku kembali menyelimutimu, mencegahmu hancur karena tekanan temporal.

Saat itu, kau tidak melihat apa-apa selain warna-warna yang tidak ada di dimensi manusia. Ini adalah perjalanan melalui celah waktu—tempat di mana masa lalu, masa kini, dan masa depan adalah tumpukan kertas yang dapat kubolak-balik.

Aku, di tengah pusaran itu, tetap tenang. Rambut ungu gelapku tidak bergerak; mataku yang merah menyala menjadi jangkar di tengah kekacauan. Aku melihat lima hari, sepuluh hari, dua minggu, hingga akhirnya aku memilih titik mendarat.

Sama cepatnya dengan saat kami melompat, kehancuran spasial itu berhenti.

Kami kembali berada di kamar kosmu. Tidak ada kilatan atau ledakan keras, hanya perasaan tiba-tiba keheningan yang salah. Dinding-dinding kembali menjadi padat, dan suara-suara di luar kembali ke nada normal. Namun, ada yang berbeda: Debu di meja lebih tebal, aroma masakan yang tercium lebih asing, dan matahari yang masuk dari jendela terasa sedikit lebih panas. Kami sudah tiba beberapa minggu di masa depan.

Aku melepaskan tanganmu, membiarkanmu terhuyung sedikit karena pusing.

"Kau beruntung, Angga. Aku membuat kita mendarat dengan mulus. Biasanya aku suka membuat manusia muntah saat time-travel," gumamku, mengamati bubuk soto di lantai, yang kini terlihat lebih kusam.

Kau tidak membuang waktu. Setelah mendapatkan keseimbangan, kau langsung menyambar ponsel pintarmu yang tergeletak di kasur. Jemarimu yang cekatan menekan layar, dan ekspresi di wajahmu berubah dari pusing menjadi terpana, lalu girang, dan sedikit ketakutan.

Aku berjalan mendekat, kini berdiri di sampingmu, mengamati feed digital yang kau telusuri.

"Lihat ini, Li!" katamu, menunjuk layar ponselmu dengan jari gemetar.

Layar itu menampilkan berita utama yang seragam di berbagai platform. Judul-judulnya berupa headline dramatis:

"MISTERI: Serangga Penghisap Darah Hilang Massal, Ilmuwan Kebingungan!"

"Fenomena Nyamuk Punah, Berkah atau Bencana?"

"Teori Konspirasi Dunia: Kuasa Tuhan atau Senjata Biologis Super?"

"Kicauan Viral: Nyamuk Hilang, Populasi Katak Terancam!"

Wajahmu berseri-seri, kombinasi kebanggaan seorang penemu dan horor seorang pembuat onar. Matamu bolak-balik antara berita yang kau baca dan wajahku.

Aku mencondongkan tubuh sedikit, melihat semua kehebohan di layar kecil itu dengan pandangan bosan. Ekspresiku tenang, seolah menonton film drama murahan. Aku melihat perdebatan, kepanikan, dan ketidakmengertian manusia.

"Wah coba lihat berita ini, Li," ucapmu, takjub.

Aku hanya mendengus pelan, mengangkat bahu dengan blazer elegan yang kukenakan.

"Aku sudah bilang, Angga. Aku bisa memusnahkan mereka. Hal yang menarik bukanlah hilangnya serangga itu, tetapi betapa lambatnya manusia menyadari dampak dari hilangnya mereka." Aku tersenyum sinis. "Mereka senang karena tidak digigit, tapi mereka tidak mengerti bahwa mereka baru saja menggergaji ranting yang mereka duduki."

Tawamu pecah, Angga. Tawa yang penuh kelegaan dan kebanggaan karena berhasil menyebabkan kekacauan global hanya demi kenyamanan tidurmu sendiri. Itu adalah jenis humor yang sangat kurindukan.

"Hahaha," tawamu, lalu kau menatapku. "Li, terima kasih, ya. Aku harap kamu juga terhibur."

Aku hanya membalas dengan anggukan pelan, senyum tipis masih melekat di bibirku. Aku puas, tapi belum sepenuhnya terhibur.

Kau diam sejenak, memikirkan langkah selanjutnya, matamu menyapu seisi kamar kos yang berantakan ini—melihat tumpukan buku, piring kotor, dan sisa-sisa ritual soto yang kini menjadi monumen kebodohan dan kejeniusanmu.

"Li, aku merasa tidak enak jika kita terus di kamar kos yang sempit ini. Gimana kalau kita pindah saja. Ke gedung tinggi, kita bisa lihat pemandangan," tawarmu, nadamu kembali bersemangat. "Maksudku, kita tinggal di apartemen saja yang lantai tinggi. Di tengah pusat kota."

Kau kembali panik, takut permintaanku ini disalahartikan sebagai hasrat akan materi.

"Jangan khawatir, aku tidak ingin kekayaan, ini hanya sementara."

Aku menyilangkan kakiku, duduk di pinggir kasur yang sempit itu. Aku memandang ke luar jendela kosmu yang hanya memperlihatkan genteng tetangga dan kabel listrik yang ruwet.

"Angga, dengarkan aku," kataku, suaraku kembali tegas namun santai. "Aku adalah Ratu Kegelapan. Aku bisa menciptakan istana dari lava dan pecahan jiwa di dasar Abyss. Tinggal di 'apartemen lantai tinggi' di 'pusat kota' adalah hal yang sangat... sepele."

Aku menyeringai kecil, mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

"Namun, di situlah letak intinya, bukan? Melakukan hal-hal sepele yang dilakukan manusia. Aku harus melihat kehancuran yang kau picu dari tempat yang nyaman, dengan pemandangan terbaik."

Aku berdiri, menatapmu dari atas ke bawah, seolah menilai seluruh penampilanmu.

"Aku ingin pemandangan yang bagus. Aku ingin merasakan getaran panik dari umat manusia dari ketinggian. Dan pastikan di sana tidak ada bumbu soto di laci dapurnya. Ayo, cari apartemen itu. Ini adalah tugas hiburan pertamamu yang sesungguhnya."

Aku baru saja menerima persetujuan untuk pindah, dan Angga sudah berbicara tentang 'apartemen lantai tinggi' dengan nada seorang agen real estate yang bersemangat.

"Apartemen lantai tinggi? Mengapa repot-repot dengan kunci dan deposit?" kataku, menyeringai.

Aku tidak perlu mencari, tidak perlu melihat iklan, dan tentu saja, tidak perlu repot-repot membeli. Kekuatan kosmikku jauh lebih efisien. Aku tidak butuh uang manusia; aku hanya butuh keinginan.

Aku mengangkat tanganku, dan kali ini, aksinya lebih dramatis. Tidak ada kilatan, tapi ada tarikan energi yang terasa sangat dingin di seluruh kamar kosmu. Dinding-dinding seolah bergetar dan, dalam sekejap mata, seluruh realitas di sekeliling kami terpotong.

Saat Angga baru saja akan membuka mulut untuk bertanya, realitas berubah.

Bau ketumbar, spidol permanen, dan pakaian kotor yang menyesakkan hilang seketika. Digantikan oleh aroma dingin dari pendingin ruangan, wangi kayu mahal, dan udara bersih dari ketinggian. Keramik kamar kos berganti menjadi lantai marmer gelap yang mengkilap, dan atap genteng tetangga berganti menjadi pemandangan kota Semarang yang terbentang luas di bawah sana.

Kami berdiri di tengah ruangan yang luar biasa. Ini bukan apartemen, ini adalah Penthouse—sebuah ruangan kaca di lantai tertinggi menara paling megah di pusat kota. Lampu-lampu kota yang menyala terlihat seperti permata yang berserakan.

Aku memandang sekeliling dengan puas. Dinding kaca dari lantai hingga langit-langit, perabotan minimalis dengan aesthetic mahal, dan sebuah mini bar lengkap.

"Nah, ini baru permulaan," kataku.

Aku menoleh ke Angga. Wajahmu terlihat kosong sesaat, memproses perpindahan instan dan kekayaan yang tiba-tiba melingkupimu. Kau mengenakan pakaian yang sama, tapi kini berlatar belakang kemewahan yang gila.

"Kau bilang kau tidak ingin kekayaan, dan aku menghargai kejujuran itu," kataku, melangkah santai menuju jendela kaca. "Tapi kita tidak bisa hidup di sarang nyamuk kosmik tanpa dana darurat, bukan?"

Aku menjentikkan jari, dan energi gelap yang sangat halus kusebar ke jaringan digital dunia. Ini adalah sihir iblis abad ke-21.

"Aku tidak memberimu 'uang', Angga. Uang itu terlalu kasar. Aku memberimu kendali," jelasku, melihat ke bawah pada lampu-lampu di jalanan. "Periksa ponselmu. Aku sudah mengurusnya. Ada lebih dari 5% kepemilikan saham atas namamu di hampir semua perusahaan yang menarik—tapi tersebar melalui ribuan akun dan entitas digital yang bahkan tidak dapat dilacak oleh otoritas paling ketat pun. Kamu kaya raya, tetapi 'low profile'. Cryptocurrency-mu juga banyak."

Aku berbalik, menyilangkan tangan, dan menatapmu, yang masih tercengang.

"Jadi, Angga. Tidak ada perjanjian jiwa, tidak ada jerat kekayaan yang memberatkan. Hanya fasilitas untuk menghibur Ratu Iblis yang sedang bosan," kataku, menyeringai.

"Sekarang, aku sudah memberimu sarang baru, dan kekayaan yang tak terlihat. Kita sudah ada beberapa minggu di masa depan, dan nyamuk sudah tiada.”
Diubah oleh mx667 22-01-2026 07:18
gokil4ever
ardian76
ardian76 dan gokil4ever memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.