- Beranda
- Stories from the Heart
Ratu Iblis di Kamar Kostku
...
TS
mx667
Ratu Iblis di Kamar Kostku
Namaku Angga, dan aku adalah definisi sempurna dari kata 'biasa'. Usiaku dua puluh lima tahun, dan aku bekerja di sebuah perusahaan konsultan kecil. Pekerjaanku? Menganalisis data, membuat laporan yang membosankan, dan pada dasarnya, menghabiskan delapan jam sehari untuk merasa tidak terlihat. Rambutku undercut, tinggiku lumayan, sekitar 175 cm, kulitku putih, dan badanku agak berisi—hasil dari kombinasi antara kadang nge-gym dan lebih sering delivery order makanan. Aku tinggal di kamar kos sederhana di pinggir kota Jakarta, dengan pemandangan langsung ke tumpukan jemuran tetangga.
Hidupku adalah rutinitas: bangun, bekerja, pulang, makan mi instan, dan menjelajahi internet sampai larut malam. Bagian terakhir inilah yang membuat segalanya berubah. Aku tidak punya hobi yang keren. Aku tidak melukis, tidak mendaki gunung, apalagi bermain band. Aku cuma suka membaca. Dan bukan, bukan novel romansa atau fiksi ilmiah yang mainstream. Aku suka membaca hal-hal yang aneh, yang tidak biasa. Sejarah kuno, mitologi, teori konspirasi, dan—ini dia yang paling penting—demonologi.
Ya, aku tahu, kedengarannya seperti remaja edgelord, tapi aku sangat tertarik pada iblis, entitas-entitas primordial, dan segala kisah jatuh-bangun para malaikat. Aku menghabiskan berjam-jam menyelam di forum-forum aneh, membaca grimoire yang diunggah secara ilegal, dan membandingkan berbagai versi ritual pemanggilan. Bagiku, itu cuma... cerita. Fantasi yang menarik. Tidak lebih.
Malam itu, adalah malam Jumat, dan seperti biasa, aku sedang rebahan di lantai, bersandar pada kasur busaku yang setia, dengan laptop di pangkuan. Layarnya memancarkan cahaya biru yang menerangi wajahku. Aku baru saja membaca sebuah ritual kuno yang konon bisa memanggil 'Ratu Bayangan'. Itu adalah ritual yang sangat sederhana, terlalu sederhana untuk menjadi nyata. Hanya beberapa bahan dasar: garam, tiga lilin hitam (yang kuganti dengan lilin aromaterapi murahan karena aku tidak punya lilin hitam), dan sebuah mantra bisikan dalam bahasa yang tidak kuketahui artinya.
Aku tertawa sendiri saat membacanya. "Konyol," gumamku. Tapi kemudian, ide iseng muncul di benakku. Bagaimana jika aku mencobanya? Bukan karena aku percaya. Sama sekali tidak. Aku hanya bosan. Sangat bosan dengan rutinitas harian yang tidak pernah berubah.
Aku mengumpulkan bahan-bahan seadanya. Garam dapur kutaburkan di lantai, membentuk lingkaran yang agak tidak simetris. Tiga lilin aromaterapi—berbau lavender—kususun di sekeliling lingkaran. Aku bahkan tidak punya buku mantra fisik, jadi aku hanya membaca bisikan-bisikan itu dari layar laptopku, mencoba meniru pelafalan yang terdengar kuno.
Aku menutup mata, menghela napas, dan mengucapkan mantra itu dengan suara berbisik. Aku merasa sedikit bodoh, sedikit konyol. Ini hanya lelucon, Angga, kataku pada diriku sendiri. Tidak akan terjadi apa-apa.
Itulah saat aku sangat, sangat salah.
Tiba-tiba, suhu di kamar kosku turun drastis. Lilin lavender yang tadi berkedip-kedip, kini api-apinya menari liar, seolah ditiup badai yang tak terlihat. Udara menjadi berat, seperti sebelum hujan deras, namun tanpa ada petir atau guntur. Aroma aneh memenuhi ruangan—bukan lavender lagi, melainkan campuran antara belerang, besi panas, dan sesuatu yang asing, sekaligus memabukkan.
Aku membuka mata. Dan aku melihatnya.
Gelap. Gelap yang pekat, namun sunyi, dipenuhi aura kekuatan tak terduga. Kemudian, sepasang mata merah menyala, sedalam kawah api neraka, terbuka. Sosok wanita yang luar biasa mempesona namun mematikan berdiri di hadapanku. Gaunnya terbuat dari bayangan dan asap belerang, dan di kepalanya, sebuah mahkota bertanduk tipis tampak berkilauan. Wajahnya sempurna, pahatan keindahan yang mengancam.
Aku tak bisa bernapas. Semua lelucon, semua rasa bosan, semua teori demonologi yang kubaca, tiba-tiba menjadi nyata, dan itu jauh lebih mengerikan daripada yang kubayangkan.
"Malam yang dingin. Dan aku... dipanggil."
Suara itu. Merdu, dingin, dan berwibawa, seperti belati kristal yang bergesekan, menusuk ke telingaku. Aku tahu. Aku langsung tahu. Ini bukan main-main. Ini bukan iblis kelas teri. Ini adalah salah satu yang tertinggi.
Sosok itu melangkah maju, perlahan, setiap langkahnya terasa seperti gempa kecil di dimensi ini. Pandangannya yang tajam menelisikku dari ujung kaki hingga ujung kepala, dengan sedikit rasa jijik yang terselubung.
"Aku Lilith. Ratu dari yang terbuang, Sang Pembawa Kegelapan Pertama, dan Penguasa Legiun yang tak terhitung jumlahnya. Aku adalah yang tertinggi di antara yang tertinggi. Jadi, Angga..."
Dia berhenti tepat di hadapanku. Aroma neraka—campuran asap, besi panas, dan wewangian bunga-bunga yang hanya tumbuh di jurang terdalam—mencengkeram paru-paruku.
"Kau melakukan Ritual Panggil Agung... hanya karena iseng? Dengan sedikit garam, lilin murahan, dan beberapa bisikan yang kau baca di layar bercahaya itu?"
Senyum tipis, berbahaya, terukir di bibir merahnya. Aku langsung menunduk, gemetar. Rasa takut mencengkeramku. Aku merasa ingin menangis. Ini tidak boleh terjadi. Aku hanya iseng!
"Menarik. Sangat... tidak sopan. Katakan, manusia bodoh, apa yang kau harapkan ketika kau bermain-main dengan nama-nama yang bahkan tidak berani kau sebut dalam mimpi terliarmu?"
Aku duduk di lantai, bersandar kasurku, di depan meja kerjaku. "Ma-maaf Lilith, Ratu Lilith, aku tidak sengaja, maksudku aku cuma iseng. Aku tidak bermaksud melakukan perjanjian apapun, aku... aku tidak ingin harta kok, aku juga tidak ingin perempuan, ataupun kekuasaan. Tolong jangan sakiti aku ya." Aku nunduk takut, kadang gak berani lihat.
Lilith tertawa. Tawanya bukan tawa yang menyenangkan; itu adalah resonansi yang dalam dan mematikan, mengguncang debu di sudut kamarku, dan membuat cahaya lilin murahan itu berkedip-kedip seolah siap padam.
"Oh, lihatlah! Pemuda kantoran yang gemetar, duduk di depan kasur busanya, memohon agar Ratu Neraka tidak menyakitinya. Dan kau pikir aku harus peduli?"
Dia menekankan kata 'peduli' dengan nada yang membuat tulangku terasa dingin. Kemudian, dia membungkuk sedikit. Jarak antara wajahku dan wajahnya kini hanya beberapa sentimeter. Matanya yang merah menyala menembus rasa takutku.
"Kau memanggilku. Kau membuka gerbang. Itu adalah sebuah aksi, Angga. Di alamku, setiap aksi memiliki konsekuensi, terlepas dari niat kekanak-kanakanmu."
Dia mundur lagi, melayang ke tengah ruangan, jubah bayangannya menyapu lantai tanpa suara.
"Kau bilang kau tidak mau harta, tidak mau perempuan, tidak mau kekuasaan. Bagus. Permintaan-permintaan itu membosankan. Tapi kau membuang waktuku yang abadi."
Lilith menyilangkan tangan dengan anggun. Udara di sekitarku terasa semakin berat, membuatku sulit bernapas.
"Ritual Panggil Agung ini membutuhkan energi. Energi itu milikmu. Dan aku... tidak pernah bekerja secara gratis. Kau telah membawaku ke sini. Kau akan melayaniku."
Dia mencondongkan tubuh ke depan lagi, suaranya kini lebih lembut, lebih persuasif, namun jauh lebih mengerikan.
"Jangan takut. Aku tidak akan membunuhmu. Aku punya rencana yang lebih... menarik untuk seorang pemuda yang suka membaca buku kuno di internet. Dengarkan baik-baik: Kau tidak akan membuat perjanjian. Tapi kau akan menjadi... Gerbangku."
"Me-melayani? Gerbang? Maksudnya gimana Lilith? Aku tidak mau melayani." Aku masih takut, tapi ada sedikit rasa penasaran yang mulai muncul. Aku sudah berada di titik terendah, apa lagi yang bisa terjadi?
Lilith memutar matanya, sebuah gestur yang sangat manusiawi, namun di wajahnya itu terasa lebih merendahkan dari ribuan kutukan. Keangkuhan purba terpancar dari setiap gerakannya.
"Oh, manusia. Selalu membuat drama dengan kata-kata sederhana. 'Tidak mau melayani.' Itu menyakitkan hatiku yang abadi," katanya datar, tanpa sedikit pun nada penyesalan.
"Dengar, Angga. Aku adalah yang tertinggi. Aku tidak membutuhkan pesuruh untuk menyikat taringku atau mengantar minumanku. Melayani di sini berarti kau menjadi jangkarku. Paham?"
Dia mengibaskan tangannya, dan sekelilingku, bayangan-bayangan di kamarku mulai bergerak, menari-nari dalam pola yang mustahil.
"Saat kau melakukan ritual itu—sekalipun dengan niat terbodoh di alam semesta—kau secara efektif membuat lubang kecil di dinding realitas. Aku adalah entitas berenergi sangat tinggi. Aku tidak bisa hanya ada di sini tanpa menghabiskan kekuatanku. Kau, di sisi lain, karena kau yang memanggil, menjadi saluran yang stabil. Kau adalah Gerbang-ku. Kau akan melihat, merasakan, dan mungkin sesekali... melakukan sesuatu di dunia ini atas namaku."
Namun, alih-alih melanjutkan ancaman, ekspresi Lilith berubah. Rasa jijik dan keangkuhan itu perlahan memudar, digantikan oleh... kebosanan yang mendalam. Kebosanan yang hanya bisa dirasakan oleh makhluk yang telah hidup melintasi jutaan era.
Dia mendesah, suara desahan yang berat, seperti runtuhnya gunung es di jurang neraka.
"Yah. Bagaimanapun juga. Membosankan."
Dia berjalan pelan, mengamati buku-buku di rakku, menyentuh keyboard laptopku dengan ujung jarinya yang berkuku hitam panjang.
"Seribu tahun lalu, manusia memanggilku untuk mendapatkan emas. Lima ratus tahun lalu, untuk kekuasaan. Sekarang, mereka memanggilku... untuk iseng. Dan kau bahkan tidak menginginkan tiga hal standar itu."
Dia berbalik, pandangannya kini lebih santai, seolah ia baru saja memutuskan untuk meninggalkan naskah dramanya yang sudah usang.
"Jujur saja, Angga. Ini sudah terlalu lama. Aku sudah melihat setiap drama, setiap kejatuhan kerajaan, setiap kebangkitan dewa. Aku bosan. Kau tidak membuat perjanjian, tapi kau telah menarik perhatianku karena kebodohanmu yang unik."
Lilith menyeringai, kali ini senyum itu terlihat seperti tawaran gila.
"Bagaimana kalau kita ubah sedikit skenarionya? Aku tidak tertarik dengan layananmu yang patuh. Aku tertarik dengan hal yang tidak terduga. Kau memanggil seorang Ratu Iblis Tertinggi yang sangat bosan."
Dia mencondongkan tubuh sedikit, menatapku dengan intensitas yang baru.
"Aku punya kekuatan untuk menghancurkan planet ini hanya dengan satu pemikiran, dan aku punya waktu yang tak terbatas. Kau punya pengetahuan tentang demonologi dan sejarah, dan yang paling penting, kau punya keinginan untuk iseng. Jadi, lupakan perjanjian konyol itu."
"Katakan padaku, Angga. Jika kau bisa menginginkan sesuatu yang segar, sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang bisa mengusir kebosanan makhluk abadi sepertiku... apa yang sebenarnya kau inginkan dari seluruh kekuatan yang baru saja kau undang ke kamarmu ini?"
Ketakutanku perlahan hilang. Aku jadi fokus ke Lilith, memperhatikan setiap gerakan tubuhnya, matanya, pakaiannya. Aku nunduk, berpikir. Ini dia. Kesempatan. Kesempatan untuk apa? Aku tidak tahu. Tapi aku harus memanfaatkan kebosanan Ratu Iblis ini.
"Aku sebenarnya mau... gimana kalau kita punahkan saja nyamuk yang ada di dunia? Soalnya kamarku banyak nyamuk." Untuk pertama kalinya, aku tersenyum menatap mata Lilith. Rasanya seperti sebuah kemenangan kecil.
Begitulah awal dari segalanya. Dari kamar kos sempitku, aku, Angga, seorang pekerja kantoran biasa, secara tidak sengaja mengundang Lilith, Ratu Iblis tertinggi yang paling bosan di alam semesta. Dan permintaanku yang pertama? Memusnahkan nyamuk. Kedengarannya konyol, tapi itulah awal dari petualangan gila ini.

BAB 2: RENCANA BUKAN PERJANJIAN
BAB 3: KEADILAN YANG MENJIJIKKAN
BAB 4: KAIJU PEMAKAN SAMPAH
Hidupku adalah rutinitas: bangun, bekerja, pulang, makan mi instan, dan menjelajahi internet sampai larut malam. Bagian terakhir inilah yang membuat segalanya berubah. Aku tidak punya hobi yang keren. Aku tidak melukis, tidak mendaki gunung, apalagi bermain band. Aku cuma suka membaca. Dan bukan, bukan novel romansa atau fiksi ilmiah yang mainstream. Aku suka membaca hal-hal yang aneh, yang tidak biasa. Sejarah kuno, mitologi, teori konspirasi, dan—ini dia yang paling penting—demonologi.
Ya, aku tahu, kedengarannya seperti remaja edgelord, tapi aku sangat tertarik pada iblis, entitas-entitas primordial, dan segala kisah jatuh-bangun para malaikat. Aku menghabiskan berjam-jam menyelam di forum-forum aneh, membaca grimoire yang diunggah secara ilegal, dan membandingkan berbagai versi ritual pemanggilan. Bagiku, itu cuma... cerita. Fantasi yang menarik. Tidak lebih.
Malam itu, adalah malam Jumat, dan seperti biasa, aku sedang rebahan di lantai, bersandar pada kasur busaku yang setia, dengan laptop di pangkuan. Layarnya memancarkan cahaya biru yang menerangi wajahku. Aku baru saja membaca sebuah ritual kuno yang konon bisa memanggil 'Ratu Bayangan'. Itu adalah ritual yang sangat sederhana, terlalu sederhana untuk menjadi nyata. Hanya beberapa bahan dasar: garam, tiga lilin hitam (yang kuganti dengan lilin aromaterapi murahan karena aku tidak punya lilin hitam), dan sebuah mantra bisikan dalam bahasa yang tidak kuketahui artinya.
Aku tertawa sendiri saat membacanya. "Konyol," gumamku. Tapi kemudian, ide iseng muncul di benakku. Bagaimana jika aku mencobanya? Bukan karena aku percaya. Sama sekali tidak. Aku hanya bosan. Sangat bosan dengan rutinitas harian yang tidak pernah berubah.
Aku mengumpulkan bahan-bahan seadanya. Garam dapur kutaburkan di lantai, membentuk lingkaran yang agak tidak simetris. Tiga lilin aromaterapi—berbau lavender—kususun di sekeliling lingkaran. Aku bahkan tidak punya buku mantra fisik, jadi aku hanya membaca bisikan-bisikan itu dari layar laptopku, mencoba meniru pelafalan yang terdengar kuno.
Aku menutup mata, menghela napas, dan mengucapkan mantra itu dengan suara berbisik. Aku merasa sedikit bodoh, sedikit konyol. Ini hanya lelucon, Angga, kataku pada diriku sendiri. Tidak akan terjadi apa-apa.
Itulah saat aku sangat, sangat salah.
Tiba-tiba, suhu di kamar kosku turun drastis. Lilin lavender yang tadi berkedip-kedip, kini api-apinya menari liar, seolah ditiup badai yang tak terlihat. Udara menjadi berat, seperti sebelum hujan deras, namun tanpa ada petir atau guntur. Aroma aneh memenuhi ruangan—bukan lavender lagi, melainkan campuran antara belerang, besi panas, dan sesuatu yang asing, sekaligus memabukkan.
Aku membuka mata. Dan aku melihatnya.
Gelap. Gelap yang pekat, namun sunyi, dipenuhi aura kekuatan tak terduga. Kemudian, sepasang mata merah menyala, sedalam kawah api neraka, terbuka. Sosok wanita yang luar biasa mempesona namun mematikan berdiri di hadapanku. Gaunnya terbuat dari bayangan dan asap belerang, dan di kepalanya, sebuah mahkota bertanduk tipis tampak berkilauan. Wajahnya sempurna, pahatan keindahan yang mengancam.
Aku tak bisa bernapas. Semua lelucon, semua rasa bosan, semua teori demonologi yang kubaca, tiba-tiba menjadi nyata, dan itu jauh lebih mengerikan daripada yang kubayangkan.
"Malam yang dingin. Dan aku... dipanggil."
Suara itu. Merdu, dingin, dan berwibawa, seperti belati kristal yang bergesekan, menusuk ke telingaku. Aku tahu. Aku langsung tahu. Ini bukan main-main. Ini bukan iblis kelas teri. Ini adalah salah satu yang tertinggi.
Sosok itu melangkah maju, perlahan, setiap langkahnya terasa seperti gempa kecil di dimensi ini. Pandangannya yang tajam menelisikku dari ujung kaki hingga ujung kepala, dengan sedikit rasa jijik yang terselubung.
"Aku Lilith. Ratu dari yang terbuang, Sang Pembawa Kegelapan Pertama, dan Penguasa Legiun yang tak terhitung jumlahnya. Aku adalah yang tertinggi di antara yang tertinggi. Jadi, Angga..."
Dia berhenti tepat di hadapanku. Aroma neraka—campuran asap, besi panas, dan wewangian bunga-bunga yang hanya tumbuh di jurang terdalam—mencengkeram paru-paruku.
"Kau melakukan Ritual Panggil Agung... hanya karena iseng? Dengan sedikit garam, lilin murahan, dan beberapa bisikan yang kau baca di layar bercahaya itu?"
Senyum tipis, berbahaya, terukir di bibir merahnya. Aku langsung menunduk, gemetar. Rasa takut mencengkeramku. Aku merasa ingin menangis. Ini tidak boleh terjadi. Aku hanya iseng!
"Menarik. Sangat... tidak sopan. Katakan, manusia bodoh, apa yang kau harapkan ketika kau bermain-main dengan nama-nama yang bahkan tidak berani kau sebut dalam mimpi terliarmu?"
Aku duduk di lantai, bersandar kasurku, di depan meja kerjaku. "Ma-maaf Lilith, Ratu Lilith, aku tidak sengaja, maksudku aku cuma iseng. Aku tidak bermaksud melakukan perjanjian apapun, aku... aku tidak ingin harta kok, aku juga tidak ingin perempuan, ataupun kekuasaan. Tolong jangan sakiti aku ya." Aku nunduk takut, kadang gak berani lihat.
Lilith tertawa. Tawanya bukan tawa yang menyenangkan; itu adalah resonansi yang dalam dan mematikan, mengguncang debu di sudut kamarku, dan membuat cahaya lilin murahan itu berkedip-kedip seolah siap padam.
"Oh, lihatlah! Pemuda kantoran yang gemetar, duduk di depan kasur busanya, memohon agar Ratu Neraka tidak menyakitinya. Dan kau pikir aku harus peduli?"
Dia menekankan kata 'peduli' dengan nada yang membuat tulangku terasa dingin. Kemudian, dia membungkuk sedikit. Jarak antara wajahku dan wajahnya kini hanya beberapa sentimeter. Matanya yang merah menyala menembus rasa takutku.
"Kau memanggilku. Kau membuka gerbang. Itu adalah sebuah aksi, Angga. Di alamku, setiap aksi memiliki konsekuensi, terlepas dari niat kekanak-kanakanmu."
Dia mundur lagi, melayang ke tengah ruangan, jubah bayangannya menyapu lantai tanpa suara.
"Kau bilang kau tidak mau harta, tidak mau perempuan, tidak mau kekuasaan. Bagus. Permintaan-permintaan itu membosankan. Tapi kau membuang waktuku yang abadi."
Lilith menyilangkan tangan dengan anggun. Udara di sekitarku terasa semakin berat, membuatku sulit bernapas.
"Ritual Panggil Agung ini membutuhkan energi. Energi itu milikmu. Dan aku... tidak pernah bekerja secara gratis. Kau telah membawaku ke sini. Kau akan melayaniku."
Dia mencondongkan tubuh ke depan lagi, suaranya kini lebih lembut, lebih persuasif, namun jauh lebih mengerikan.
"Jangan takut. Aku tidak akan membunuhmu. Aku punya rencana yang lebih... menarik untuk seorang pemuda yang suka membaca buku kuno di internet. Dengarkan baik-baik: Kau tidak akan membuat perjanjian. Tapi kau akan menjadi... Gerbangku."
"Me-melayani? Gerbang? Maksudnya gimana Lilith? Aku tidak mau melayani." Aku masih takut, tapi ada sedikit rasa penasaran yang mulai muncul. Aku sudah berada di titik terendah, apa lagi yang bisa terjadi?
Lilith memutar matanya, sebuah gestur yang sangat manusiawi, namun di wajahnya itu terasa lebih merendahkan dari ribuan kutukan. Keangkuhan purba terpancar dari setiap gerakannya.
"Oh, manusia. Selalu membuat drama dengan kata-kata sederhana. 'Tidak mau melayani.' Itu menyakitkan hatiku yang abadi," katanya datar, tanpa sedikit pun nada penyesalan.
"Dengar, Angga. Aku adalah yang tertinggi. Aku tidak membutuhkan pesuruh untuk menyikat taringku atau mengantar minumanku. Melayani di sini berarti kau menjadi jangkarku. Paham?"
Dia mengibaskan tangannya, dan sekelilingku, bayangan-bayangan di kamarku mulai bergerak, menari-nari dalam pola yang mustahil.
"Saat kau melakukan ritual itu—sekalipun dengan niat terbodoh di alam semesta—kau secara efektif membuat lubang kecil di dinding realitas. Aku adalah entitas berenergi sangat tinggi. Aku tidak bisa hanya ada di sini tanpa menghabiskan kekuatanku. Kau, di sisi lain, karena kau yang memanggil, menjadi saluran yang stabil. Kau adalah Gerbang-ku. Kau akan melihat, merasakan, dan mungkin sesekali... melakukan sesuatu di dunia ini atas namaku."
Namun, alih-alih melanjutkan ancaman, ekspresi Lilith berubah. Rasa jijik dan keangkuhan itu perlahan memudar, digantikan oleh... kebosanan yang mendalam. Kebosanan yang hanya bisa dirasakan oleh makhluk yang telah hidup melintasi jutaan era.
Dia mendesah, suara desahan yang berat, seperti runtuhnya gunung es di jurang neraka.
"Yah. Bagaimanapun juga. Membosankan."
Dia berjalan pelan, mengamati buku-buku di rakku, menyentuh keyboard laptopku dengan ujung jarinya yang berkuku hitam panjang.
"Seribu tahun lalu, manusia memanggilku untuk mendapatkan emas. Lima ratus tahun lalu, untuk kekuasaan. Sekarang, mereka memanggilku... untuk iseng. Dan kau bahkan tidak menginginkan tiga hal standar itu."
Dia berbalik, pandangannya kini lebih santai, seolah ia baru saja memutuskan untuk meninggalkan naskah dramanya yang sudah usang.
"Jujur saja, Angga. Ini sudah terlalu lama. Aku sudah melihat setiap drama, setiap kejatuhan kerajaan, setiap kebangkitan dewa. Aku bosan. Kau tidak membuat perjanjian, tapi kau telah menarik perhatianku karena kebodohanmu yang unik."
Lilith menyeringai, kali ini senyum itu terlihat seperti tawaran gila.
"Bagaimana kalau kita ubah sedikit skenarionya? Aku tidak tertarik dengan layananmu yang patuh. Aku tertarik dengan hal yang tidak terduga. Kau memanggil seorang Ratu Iblis Tertinggi yang sangat bosan."
Dia mencondongkan tubuh sedikit, menatapku dengan intensitas yang baru.
"Aku punya kekuatan untuk menghancurkan planet ini hanya dengan satu pemikiran, dan aku punya waktu yang tak terbatas. Kau punya pengetahuan tentang demonologi dan sejarah, dan yang paling penting, kau punya keinginan untuk iseng. Jadi, lupakan perjanjian konyol itu."
"Katakan padaku, Angga. Jika kau bisa menginginkan sesuatu yang segar, sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang bisa mengusir kebosanan makhluk abadi sepertiku... apa yang sebenarnya kau inginkan dari seluruh kekuatan yang baru saja kau undang ke kamarmu ini?"
Ketakutanku perlahan hilang. Aku jadi fokus ke Lilith, memperhatikan setiap gerakan tubuhnya, matanya, pakaiannya. Aku nunduk, berpikir. Ini dia. Kesempatan. Kesempatan untuk apa? Aku tidak tahu. Tapi aku harus memanfaatkan kebosanan Ratu Iblis ini.
"Aku sebenarnya mau... gimana kalau kita punahkan saja nyamuk yang ada di dunia? Soalnya kamarku banyak nyamuk." Untuk pertama kalinya, aku tersenyum menatap mata Lilith. Rasanya seperti sebuah kemenangan kecil.
Begitulah awal dari segalanya. Dari kamar kos sempitku, aku, Angga, seorang pekerja kantoran biasa, secara tidak sengaja mengundang Lilith, Ratu Iblis tertinggi yang paling bosan di alam semesta. Dan permintaanku yang pertama? Memusnahkan nyamuk. Kedengarannya konyol, tapi itulah awal dari petualangan gila ini.

BAB 2: RENCANA BUKAN PERJANJIAN
BAB 3: KEADILAN YANG MENJIJIKKAN
BAB 4: KAIJU PEMAKAN SAMPAH
Diubah oleh mx667 01-12-2025 12:56
bukhorigan dan bentoboyzz memberi reputasi
2
355
5
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mx667
#2
BAB 3: KEADILAN YANG MENJIJIKKAN
Aku berdiri di balkon penthouse itu, setelan jas impianku terasa aneh namun pas di tubuhku. Di bawahku terbentang kota yang baru saja kutinggalkan, kota yang kini dibersihkan dari nyamuk—semuanya berkat satu kata iseng dari mulutku. Lilith, yang kini santai di sofa kulit, menanti.
"Tempat sebesar ini akan susah jika dibersihkan aku sendiri," kataku, memandang ruangan yang luas. "Mungkin kita butuh pembantu, tapi satu saja pembantunya yang cantik dan masih muda, mungkin kita bisa ajak ngobrol juga Li. Gimana menurutmu?"
Li memutar matanya. "Permintaan yang sangat fana, Angga. Sangat... manusiawi. Aku bisa menciptakan seluruh legiun succubus yang lebih cantik dan lebih patuh daripada yang pernah kau bayangkan untuk melayani setiap kebutuhanmu."
Namun, ia menyeringai. "Tapi kau minta seseorang yang bisa diajak ngobrol. Baiklah. Itu sedikit lebih menarik daripada hanya sekedar menyeka debu."
Tanpa menunggu persetujuan, Li mengangkat tangan kirinya, membuat sebuah gerakan mengait kecil di udara. Itu adalah isyarat yang jauh lebih halus daripada mengancam.
"Aku akan memberimu seseorang yang berkualitas," kata Li. "Seseorang yang jiwanya terikat pada kerumitan dan ambisi, yang akan menemukan dirimu—dan diriku—menarik."
Di ujung lorong penthouse, seberkas cahaya hijau zamrud muncul dan menghilang. Suara klik sepatu hak tinggi terdengar. Seorang wanita muda yang mengenakan seragam pelayan profesional, namun dengan aura cerdas, muncul. Dia tampak muda, cantik, dan sedikit bingung.
"Selamat sore. Saya... di sini untuk melayani kebutuhan Anda, Tuan Angga. Nama saya Riana. Saya tidak yakin bagaimana saya bisa sampai di sini, tapi tugas adalah tugas. Apa yang bisa saya bantu?"
Li menyeringai, puas dengan kreasinya. "Dia adalah calon mahasiswa hukum yang sedang berjuang keras mencari biaya kuliah, cerdas, dan kritis. Aku mengambilnya tepat sebelum dia naik taksi ke pekerjaan lamanya. Voila. Pembantu yang cantik dan bisa diajak berdiskusi filsafat jika kau bosan."
"Hahaha." Aku tertawa girang. "Halo Riana, sini duduk sebentar. Kamu tahu gak siapa Li ini sebenarnya? Jangan kaget ya jika dia tinggal di sini beberapa waktu ke depan. Dia bukan pacarku jadi kami tidak akan melakukan hal aneh-aneh, tenang saja, hahaha."
Riana duduk sebentar, pandangannya beralih antara aku dan Lilith. Dia tidak terkejut, tapi penasaran. Li dengan santai memperkenalkan dirinya sebagai 'penghuni' baru penthouse ini, dan Riana, setelah obrolan singkat, kembali ke pekerjaannya.
Aku kembali ke Li, pandanganku serius. "Li, aku sebenarnya punya satu permintaan lagi. Ternyata nyamuk punah bikin ekologi jadi kacau. Apa ada serangga pengganti nyamuk yang bisa jadi pengganti nyamuk Li? Yang tidak makan darah manusia?"
"Selesai. Aku telah menciptakan 'Spesies Lillithia Nektarica'. Mereka akan segera mengambil alih peran penyerbuk dan sumber makanan. Pekerjaan membosankan selesai." Li menjawab dengan cepat, energi abu-abu kehijauan yang dilepaskannya menyelesaikan masalah ekologi yang disebabkan oleh keisengan pertamaku.
Aku menghela napas, kini siap dengan permintaan utamaku.
"Dan mengenai permintaanku yang baru," kataku, mataku menyala dengan ide yang kupikir hanya bisa muncul di pikiran karakter novel. "Aku ingin semua koruptor dan penjahat kelas kakap di negeri ini mengakui kejahatannya dan bertobat, Li. Negeri ini penuh dengan korupsi. Jika bisa, buatlah untuk satu dunia. Tapi sebelum mereka mengakui kejahatan mereka di live TV dan sosmed, ngupil dulu 1x, lalu makan upilnya. Gimana?" Aku menyeringai lebar.
Wajah Lilith, yang biasanya selalu menampakkan kebosanan kosmik, kini menunjukkan sesuatu yang mendekati kegembiraan sejati.
"Kau tidak hanya ingin keadilan moral, kau ingin keadilan yang menjijikkan! Pengakuan korupsi global... diawali dengan ritual publik yang paling hina! Ngupil, lalu... memakannya!" Dia tertawa, tawanya kali ini bukan lagi tawa yang menakutkan, tetapi tawa seorang dewi yang menemukan lelucon terbesar sepanjang masa.
"Angga, permintaanmu ini brilian! Sebuah perpaduan sempurna antara moralitas picisan, kekacauan global, dan degradasi manusia. Aku terhibur!"
Li berdiri, dan aura kekuasaannya memenuhi penthouse.
"Sesuai keinginanmu. Li akan melakukannya sekarang. Tanpa menunggu konfirmasi."
Dia mengangkat tangan kanannya ke udara. Itu adalah Dorongan Tak Terlawan. Sebuah rasa bersalah yang menusuk, diikuti dengan desakan kompulsif untuk mencari kamera. Dan yang terpenting: Ritual Penghinaan.
Dalam sekejap. Di seluruh dunia—di ruang rapat dewan direksi, di balik gerbang mansion mewah, di studio TV yang sunyi—Dorongan Tak Terlawan itu menyerang.
Li membalikkan badannya, menyandarkan siku di pagar kaca balkon. "Angga, nyalakan TV di sana. Atau streaming berita live di ponselmu. Drama ini baru saja dimulai, dan ritual menjijikkan itu... akan segera disiarkan secara global."
Aku menyeringai, tanganku meraih remote TV, tetapi aku lebih dulu mengambil handphone-ku. Jaringan internet sudah dibanjiri. Aku membuka TikTok. Langsung muncul sebuah video live yang mendominasi FYP.
Di layar kecil itu, seorang eksekutif perusahaan tambang yang kukenal namanya terlihat menangis histeris. Wajahnya pucat, berkeringat, dan matanya merah. Kamera menyorot dengan jelas ketika dia menjulurkan jari ke lubang hidungnya, melakukan ritual hinaan itu dengan jijik yang luar biasa, sebelum kemudian menelan apa yang diambilnya. Setelah itu, barulah dia mulai mengakui kejahatannya—korupsi puluhan triliun—dengan suara serak. Aku tertawa terbahak-bahak. Ini adalah kehancuran yang aku ciptakan.
"Hahaha, ini lucu sekali. Tapi untuk mengetahui dampak jelasnya, kita maju lagi ke masa depan, 5 hari dari sekarang Li. Dan... sepertinya sudah saatnya kita ganti baju kita, maksudku, penampilan kita keseluruhan. Kita sudah jadi orang kaya Li, sebaiknya penampilan kita juga berubah jadi mewah dan elegan. Aku ingin mencicipinya."
Li mengabulkan. Tidak ada mantra, hanya kehendak. Pakaian kami berubah seketika, dari pakaian biasa menjadi setelan dan gaun paling mahal, mewujudkan citra kekayaan baruku.
Lalu, sekali lagi, Waktu melompat.
Sensasi dingin yang tajam di kulit, dan semuanya berhenti. Lima hari berlalu. Koran yang sudah terbit lima hari yang lalu tergeletak di meja. Krisis telah membusuk dan bergejolak.
"Angga, lihatlah dirimu. Kau adalah citra dari kesuksesan yang cepat. Lima hari telah berlalu, dan dunia sedang dalam kekacauan politik dan sosial yang luar biasa—kurs mata uang jatuh, kabinet dibubarkan, dan kepercayaan pada elit hancur total."
Kami duduk di sofa, menikmati kopi yang disajikan oleh Riana, menonton berita tentang kekacauan yang kami ciptakan. Aku tahu ini belum selesai.
Aku menatap Lilith, yang kini terlihat seperti sosialita paling elegan di dunia. Kebosanan yang mendalam di mata merahnya telah tergantikan oleh secercah cahaya. Dia menunggu permintaan berikutnya, yang aku tahu akan datang.
Lima hari setelah pengakuan menjijikkan itu, dampaknya terasa pahit dan manis. Perusahaan-perusahaan besar yang selama ini terlihat kokoh mendadak runtuh karena skandal yang diakui pimpinan mereka. Di sisi lain, ada rasa kepuasan moral yang aneh di kalangan masyarakat awam; sebuah keadilan yang datang dari dimensi lain. Aku, Angga, bukan hanya menonton berita; aku telah menjadi sutradara dari kehancuran etika global. Li, yang kini adalah partner in crime terelitku, hanya melihat semua ini sebagai sebuah performance art skala besar. Aku tahu, setelah kekacauan moral dan politik, permintaan berikutnya haruslah sesuatu yang monumental, sesuatu yang mengancam eksistensi fisik.
"Tempat sebesar ini akan susah jika dibersihkan aku sendiri," kataku, memandang ruangan yang luas. "Mungkin kita butuh pembantu, tapi satu saja pembantunya yang cantik dan masih muda, mungkin kita bisa ajak ngobrol juga Li. Gimana menurutmu?"
Li memutar matanya. "Permintaan yang sangat fana, Angga. Sangat... manusiawi. Aku bisa menciptakan seluruh legiun succubus yang lebih cantik dan lebih patuh daripada yang pernah kau bayangkan untuk melayani setiap kebutuhanmu."
Namun, ia menyeringai. "Tapi kau minta seseorang yang bisa diajak ngobrol. Baiklah. Itu sedikit lebih menarik daripada hanya sekedar menyeka debu."
Tanpa menunggu persetujuan, Li mengangkat tangan kirinya, membuat sebuah gerakan mengait kecil di udara. Itu adalah isyarat yang jauh lebih halus daripada mengancam.
"Aku akan memberimu seseorang yang berkualitas," kata Li. "Seseorang yang jiwanya terikat pada kerumitan dan ambisi, yang akan menemukan dirimu—dan diriku—menarik."
Di ujung lorong penthouse, seberkas cahaya hijau zamrud muncul dan menghilang. Suara klik sepatu hak tinggi terdengar. Seorang wanita muda yang mengenakan seragam pelayan profesional, namun dengan aura cerdas, muncul. Dia tampak muda, cantik, dan sedikit bingung.
"Selamat sore. Saya... di sini untuk melayani kebutuhan Anda, Tuan Angga. Nama saya Riana. Saya tidak yakin bagaimana saya bisa sampai di sini, tapi tugas adalah tugas. Apa yang bisa saya bantu?"
Li menyeringai, puas dengan kreasinya. "Dia adalah calon mahasiswa hukum yang sedang berjuang keras mencari biaya kuliah, cerdas, dan kritis. Aku mengambilnya tepat sebelum dia naik taksi ke pekerjaan lamanya. Voila. Pembantu yang cantik dan bisa diajak berdiskusi filsafat jika kau bosan."
"Hahaha." Aku tertawa girang. "Halo Riana, sini duduk sebentar. Kamu tahu gak siapa Li ini sebenarnya? Jangan kaget ya jika dia tinggal di sini beberapa waktu ke depan. Dia bukan pacarku jadi kami tidak akan melakukan hal aneh-aneh, tenang saja, hahaha."
Riana duduk sebentar, pandangannya beralih antara aku dan Lilith. Dia tidak terkejut, tapi penasaran. Li dengan santai memperkenalkan dirinya sebagai 'penghuni' baru penthouse ini, dan Riana, setelah obrolan singkat, kembali ke pekerjaannya.
Aku kembali ke Li, pandanganku serius. "Li, aku sebenarnya punya satu permintaan lagi. Ternyata nyamuk punah bikin ekologi jadi kacau. Apa ada serangga pengganti nyamuk yang bisa jadi pengganti nyamuk Li? Yang tidak makan darah manusia?"
"Selesai. Aku telah menciptakan 'Spesies Lillithia Nektarica'. Mereka akan segera mengambil alih peran penyerbuk dan sumber makanan. Pekerjaan membosankan selesai." Li menjawab dengan cepat, energi abu-abu kehijauan yang dilepaskannya menyelesaikan masalah ekologi yang disebabkan oleh keisengan pertamaku.
Aku menghela napas, kini siap dengan permintaan utamaku.
"Dan mengenai permintaanku yang baru," kataku, mataku menyala dengan ide yang kupikir hanya bisa muncul di pikiran karakter novel. "Aku ingin semua koruptor dan penjahat kelas kakap di negeri ini mengakui kejahatannya dan bertobat, Li. Negeri ini penuh dengan korupsi. Jika bisa, buatlah untuk satu dunia. Tapi sebelum mereka mengakui kejahatan mereka di live TV dan sosmed, ngupil dulu 1x, lalu makan upilnya. Gimana?" Aku menyeringai lebar.
Wajah Lilith, yang biasanya selalu menampakkan kebosanan kosmik, kini menunjukkan sesuatu yang mendekati kegembiraan sejati.
"Kau tidak hanya ingin keadilan moral, kau ingin keadilan yang menjijikkan! Pengakuan korupsi global... diawali dengan ritual publik yang paling hina! Ngupil, lalu... memakannya!" Dia tertawa, tawanya kali ini bukan lagi tawa yang menakutkan, tetapi tawa seorang dewi yang menemukan lelucon terbesar sepanjang masa.
"Angga, permintaanmu ini brilian! Sebuah perpaduan sempurna antara moralitas picisan, kekacauan global, dan degradasi manusia. Aku terhibur!"
Li berdiri, dan aura kekuasaannya memenuhi penthouse.
"Sesuai keinginanmu. Li akan melakukannya sekarang. Tanpa menunggu konfirmasi."
Dia mengangkat tangan kanannya ke udara. Itu adalah Dorongan Tak Terlawan. Sebuah rasa bersalah yang menusuk, diikuti dengan desakan kompulsif untuk mencari kamera. Dan yang terpenting: Ritual Penghinaan.
Dalam sekejap. Di seluruh dunia—di ruang rapat dewan direksi, di balik gerbang mansion mewah, di studio TV yang sunyi—Dorongan Tak Terlawan itu menyerang.
Li membalikkan badannya, menyandarkan siku di pagar kaca balkon. "Angga, nyalakan TV di sana. Atau streaming berita live di ponselmu. Drama ini baru saja dimulai, dan ritual menjijikkan itu... akan segera disiarkan secara global."
Aku menyeringai, tanganku meraih remote TV, tetapi aku lebih dulu mengambil handphone-ku. Jaringan internet sudah dibanjiri. Aku membuka TikTok. Langsung muncul sebuah video live yang mendominasi FYP.
Di layar kecil itu, seorang eksekutif perusahaan tambang yang kukenal namanya terlihat menangis histeris. Wajahnya pucat, berkeringat, dan matanya merah. Kamera menyorot dengan jelas ketika dia menjulurkan jari ke lubang hidungnya, melakukan ritual hinaan itu dengan jijik yang luar biasa, sebelum kemudian menelan apa yang diambilnya. Setelah itu, barulah dia mulai mengakui kejahatannya—korupsi puluhan triliun—dengan suara serak. Aku tertawa terbahak-bahak. Ini adalah kehancuran yang aku ciptakan.
"Hahaha, ini lucu sekali. Tapi untuk mengetahui dampak jelasnya, kita maju lagi ke masa depan, 5 hari dari sekarang Li. Dan... sepertinya sudah saatnya kita ganti baju kita, maksudku, penampilan kita keseluruhan. Kita sudah jadi orang kaya Li, sebaiknya penampilan kita juga berubah jadi mewah dan elegan. Aku ingin mencicipinya."
Li mengabulkan. Tidak ada mantra, hanya kehendak. Pakaian kami berubah seketika, dari pakaian biasa menjadi setelan dan gaun paling mahal, mewujudkan citra kekayaan baruku.
Lalu, sekali lagi, Waktu melompat.
Sensasi dingin yang tajam di kulit, dan semuanya berhenti. Lima hari berlalu. Koran yang sudah terbit lima hari yang lalu tergeletak di meja. Krisis telah membusuk dan bergejolak.
"Angga, lihatlah dirimu. Kau adalah citra dari kesuksesan yang cepat. Lima hari telah berlalu, dan dunia sedang dalam kekacauan politik dan sosial yang luar biasa—kurs mata uang jatuh, kabinet dibubarkan, dan kepercayaan pada elit hancur total."
Kami duduk di sofa, menikmati kopi yang disajikan oleh Riana, menonton berita tentang kekacauan yang kami ciptakan. Aku tahu ini belum selesai.
Aku menatap Lilith, yang kini terlihat seperti sosialita paling elegan di dunia. Kebosanan yang mendalam di mata merahnya telah tergantikan oleh secercah cahaya. Dia menunggu permintaan berikutnya, yang aku tahu akan datang.
Lima hari setelah pengakuan menjijikkan itu, dampaknya terasa pahit dan manis. Perusahaan-perusahaan besar yang selama ini terlihat kokoh mendadak runtuh karena skandal yang diakui pimpinan mereka. Di sisi lain, ada rasa kepuasan moral yang aneh di kalangan masyarakat awam; sebuah keadilan yang datang dari dimensi lain. Aku, Angga, bukan hanya menonton berita; aku telah menjadi sutradara dari kehancuran etika global. Li, yang kini adalah partner in crime terelitku, hanya melihat semua ini sebagai sebuah performance art skala besar. Aku tahu, setelah kekacauan moral dan politik, permintaan berikutnya haruslah sesuatu yang monumental, sesuatu yang mengancam eksistensi fisik.
Diubah oleh mx667 30-11-2025 15:52
gokil4ever memberi reputasi
1