- Beranda
- Stories from the Heart
Ratu Iblis di Kamar Kostku
...
TS
mx667
Ratu Iblis di Kamar Kostku
Angga tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah candaan di tengah malam. Dengan rasa iseng dan sedikit rasa penasaran pada hal mistis, ia mencoba memanggil makhluk dari dunia lain—sekadar bermain dengan ritual yang ia temukan di internet. Tidak ada ketakutan. Tidak ada ekspektasi.
Namun jawabannya datang.
Lilith—ratu iblis yang pernah berkuasa di kedalaman kegelapan—menampakkan diri di hadapan Angga, terikat pada panggilan itu. Cantik, mempesona, dan berbahaya. Mata yang pernah menyaksikan kejatuhan malaikat dari surga kini memandang seorang manusia biasa yang bahkan tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan.
Awalnya, kedatangan Lilith hanyalah sebuah konsekuensi dari ritual kecil tanpa maksud. Namun sesuatu yang lebih rumit mulai tumbuh. Lilith yang selama ribuan tahun memelihara kehampaan dalam dirinya, kini mendapati kehadiran seorang manusia yang dapat mengubah seluruh pemahamannya tentang tujuan hidup.
Keduanya kini tinggal dalam batas rapuh antara takdir dan kesalahan.

Bab 1: Pertemanan
Bab 2: Sarang Baru
Bab 3: Salsa
Bab 4: Keadilan
Bab 5: Jatuh
Namun jawabannya datang.
Lilith—ratu iblis yang pernah berkuasa di kedalaman kegelapan—menampakkan diri di hadapan Angga, terikat pada panggilan itu. Cantik, mempesona, dan berbahaya. Mata yang pernah menyaksikan kejatuhan malaikat dari surga kini memandang seorang manusia biasa yang bahkan tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan.
Awalnya, kedatangan Lilith hanyalah sebuah konsekuensi dari ritual kecil tanpa maksud. Namun sesuatu yang lebih rumit mulai tumbuh. Lilith yang selama ribuan tahun memelihara kehampaan dalam dirinya, kini mendapati kehadiran seorang manusia yang dapat mengubah seluruh pemahamannya tentang tujuan hidup.
Keduanya kini tinggal dalam batas rapuh antara takdir dan kesalahan.

Bab 1: Pertemanan
Bab 2: Sarang Baru
Bab 3: Salsa
Bab 4: Keadilan
Bab 5: Jatuh
Diubah oleh mx667 04-02-2026 14:24
ardian76 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
892
12
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mx667
#1
Bab 1: Pertemanan
Aku sedang menikmati keabadian yang membosankan. Di bawah sana, Neraka berdenyut dalam ritme yang sudah kuhafal ribuan tahun. Para iblis tingkat rendah merengek soal kuota jiwa, dan aku baru saja menandatangani dekrit kehancuran galaksi kedelapan belas—semua berjalan normal.
Namun, sekitar pukul empat sore waktu setempat di tempat yang disebut 'Semarang', aku merasakan tarikan. Bukan tarikan serius, lebih mirip... getaran kecil. Seolah ada semut yang mencoba menarik rantai gerbang Neraka. Aku mengernyit. Siapa yang berani mengganggu istirahat siangku?
Tarikan itu menguat, membawa serta aroma yang sangat familiar, namun sangat tidak pantas untuk sebuah ritual pemanggilan: Bumbu soto.
Aku muncul dalam sekejap, melintasi dimensi dengan jubah kehancuran yang bergemuruh. Yang kulihat pertama kali adalah... kekacauan yang menyedihkan.
Aku berdiri di tengah lingkaran yang digambar serampangan di lantai keramik. Garis-garisnya berantakan, dibuat menggunakan Spidol Permanen Hitam yang diakui oleh labelnya. Bukan darah domba yang disucikan, bukan pula tinta dari sumur keputusasaan. Hanya spidol.
Di sekeliling lingkaran, alih-alih persembahan jiwa, aku mendapati tiga batang lilin ulang tahun yang nyala apinya bergetar ketakutan. Sebuah bungkus Bumbu Soto Instant merek 'Solo' yang terbuka, isinya (ketumbar, kunyit, dan bawang putih bubuk) ditaburkan dengan gegabah di sudut-sudut lingkaran. Beberapa lembar kertas catatan penuh coretan mantra Latin yang salah eja, berserakan di samping kaus kaki kotor.
Dan kemudian ada kau, Angga. Pria berumur 25 tahun, pekerja kantoran, yang baru saja berhasil memanggil Lilithia, Ratu Iblis dari Kegelapan Terakhir, dengan resep masakan.
Kau duduk kaku, bersandar pada kasur kumuhmu, Matamu yang tadinya membaca panduan di internet kini menatapku dengan kengerian yang murni dan total. Mulutmu terbuka seperti ingin berteriak, tapi yang keluar hanya desahan napas tersendat.
Aku, dengan Sayap Kehancuran ungu-hitamku yang megah, jaket kulit yang memancarkan energi kosmik, dan tanduk yang menembus dimensi, hanya bisa terdiam.
Keheningan itu berlangsung selama sepuluh detik yang terasa seperti sepuluh milenium.
"Angga," akhirnya aku bersuara, suaraku dalam dan penuh otoritas, namun dengan sedikit nada tidak percaya yang terselip. Aku menunjuk ke bungkusan bumbu soto di kakiku dengan kuku hitamku yang panjang dan tajam.
"Kau... Kau memanggilku. Aku, Lilithia, sang Penguasa Legiun, yang pernah menghancurkan peradaban Atlantis, ditarik dari takhtaku hanya karena kau... salah mencampur bumbu untuk sarapanmu?"
"Aku adalah mimpi buruk yang berjalan, Angga! Aku bisa mengubahmu menjadi debu, atau — yang lebih kejam — membuat kau lengket dengan keyboard-mu selamanya! Dan kau memanggilku hanya untuk ini?" Aku menghela napas panjang, bosan.
Aku mencondongkan tubuh ke depan, wajahku hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahmu yang pucat pasi. Aroma kemenyan dan belerang bercampur dengan aroma ketumbar yang kuat.
"Aku tidak marah. Itu adalah keistimewaan. Aku terhibur. Jarang sekali ada yang berani seceroboh ini," gumamku, senyum sinis tersungging di bibirku.
"Namun, sekarang aku di sini. Ritualmu yang menyedihkan ini telah berhasil. Neraka akan kacau balau tanpaku sebentar, tapi itu bukan urusanmu." Aku memberi jeda dramatis, membiarkan aura kehancuranku memancar.
"Aku adalah kekuatan yang bisa menjungkirbalikkan dunia! Jadi, Angga—sebelum aku memutuskan untuk kembali atau mengubahmu menjadi lauk pauk— Katakan padaku! Apa permintaan gila yang membuatmu nekat menggunakan Spidol dan Bumbu Soto untuk memanggil Ratu Kegelapan?! "
Aku menyaksikanmu, Angga. Matamu, yang sebelumnya terbelalak penuh kengerian, kini berusaha keras memejamkan diri, seolah kegelapan di balik kelopak mata lebih aman daripada diriku. Tapi kau gagal. Otot-otot wajahmu tegang, dan pupilmu bergetar. Kau menunduk, menatap lantai yang bertaburan sisa bumbu soto dan spidol yang kini terasa seperti portal menuju kehancuran.
Reaksi yang sangat bisa diprediksi.
"Ra-ratu, maksudku, Lilith..." suaramu serak, nyaris tak terdengar. Kau terlihat seperti kelinci yang baru saja menyadari bahwa ia telah memanggil harimau untuk menanyakan arah jalan.
"Maaf, ampuni aku. Aku tidak bermaksud mengganggumu. Aku tidak ingin pesugihan, kekuasaan, ataupun nafsu perempuan. Aku hanya... iseng."
Sebuah hening tercipta, hanya diselingi oleh dengungan pelan dari kipas angin murahan di atas kepala. Iseng. Sebuah kata yang sangat manusiawi, dan sangat menghibur dalam konteks ini. Inilah alasan mengapa aku belum mengubahmu menjadi karpet permadani.
Aku membiarkanmu menggali lebih dalam rasa malumu, menunggu. Tiba-tiba, kau mengangkat tangan sedikit, sebuah gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut menggeser atom udara di sekitarku.
"Bi-bisakah kamu ganti penampilanmu sejenak? Maksudku yang lebih santai," pintamu, suaramu nyaris seperti bisikan memohon. "Aku tidak bisa menahan aura sekuat ini."
Aku menatap sayap ungu besar di belakangku, yang sekarang terasa sedikit sempit di ruangan 3x3 meter ini. Jujur, aku juga sedikit lelah mempertahankan aura Keagungan Pembawa Kehancuran ini di depan tumpukan piring kotor.
"Hanya... iseng," ulangku perlahan, suaraku menggeram, mencoba menahan seringai geli yang mulai muncul. "Kau mempertaruhkan jiwamu, dan mungkin nasib planet ini, demi sebuah keisengan. Sungguh, manusia."
Aku menghela napas, sebuah tindakan yang lebih disebabkan oleh kebosanan daripada usaha.
"Baiklah, Angga. Permintaan yang aneh, tapi dapat dilaksanakan," kataku.
Aku menutup mataku. Sebuah crack energi terdengar. Sayap ungu raksasa itu runtuh menjadi serpihan cahaya gelap yang kemudian diserap kembali ke dalam diriku. Tandukku yang melengkung melunak, menyusut, dan menghilang. Jaket kulit hitamku yang memancarkan api Abyss melunak, berubah tekstur menjadi blazer kasual yang terlihat mahal. Sepatu stiletto tajamku berganti menjadi boots kulit ramping yang lebih cocok untuk berjalan di tengah keramaian Semarang.
Ketika aku membuka mata, aku melihatmu terkesiap. Auraku memang meredup, tapi tatapan tajam dan mata merahku tetap sama.
"Sudah cukup santai untuk seleramu, tuan rumah?" tanyaku, kini dengan nada yang sedikit lebih ringan—hanya sedikit.
Aku bangkit dari kasur dan melangkah keluar dari lingkaran ritual soto, menghiraukan bubuk kunyit yang menempel di ujung boots baruku. Aku berjalan perlahan, mengamati buku-buku tebal tentang sejarah dan demonologi yang berserakan.
"Sekarang," kataku, membalik salah satu buku dengan ujung kaki, "aku telah mengabulkan permintaan santaimu. Saatnya kau membalas."
Aku menoleh, bersandar santai di meja belajarmu yang sempit, pandanganku kembali tertuju padamu yang masih duduk kaku.
"Aku bosan, Angga. Dan kau telah memanggilku ke tempat yang bau ketumbar dan penuh kekacauan ini. Hibur aku. Atau lebih baik lagi... temukan sesuatu yang bisa kita lakukan di dunia manusia yang 'santai' ini."
Aku masih berdiri bersandar di meja belajarmu, mengamati ekspresi ketakutan yang bercampur dengan kelegaan di wajahmu setelah aku mengganti penampilanku. Kau mulai mengatur napas, meski bahumu masih sedikit tegang.
"A-aku, tidak ingin perjanjian atau menjual jiwaku, Lilith. Ampuni aku," ucapmu cepat, seolah kata-kata itu adalah tameng pertamamu. Reaksi yang wajar, kupikir. Kontrak jiwa sudah terlalu klise.
"Ta-tapi, aku janji akan coba untuk hibur kamu. Tapi aku belum kepikiran mau ngapain. Tunggu sebentar..." Kau memiringkan kepala, alis mengerut, dan mata menatap kosong ke langit-langit yang polos. Jelas, kau sedang memeras otak.
Keheningan melanda lagi, yang kali ini hanya dihiasi bunyi klik kecil dari jam dinding murahanmu. Aku membiarkanmu berpikir. Aku sudah terlalu lama menghabiskan waktu dengan makhluk-makhluk yang hanya tahu cara berteriak dan memohon kekuasaan. Ini... ini adalah suasana yang baru.
Lalu, kau mendapatkan ide. Wajahmu yang tegang sedikit mengendur, dan senyum kecil—senyum yang sangat berani—muncul di bibirmu.
"Hmm, sebenarnya ada satu hal yang kepikiran sekarang. Tapi jangan marah ya," katamu, intonasi suaramu berubah menjadi seperti anak kecil yang meminta izin untuk melakukan kenakalan. "Selama ini aku penasaran, dan resah... aku terganggu dengan nyamuk yang kadang muncul di malam hari di kostku ini."
Kau menarik napas panjang, seolah mengumpulkan sisa-sisa keberanianmu.
"Bisakah kamu... punahkan semua nyamuk di dunia? Hehe."
Kau mengucapkan permintaan absurd itu dengan nyengir yang penuh kebanggaan dan sedikit kegugupan.
Untuk sesaat, aku terdiam.
Aku, Lilithia, sang Ratu Iblis yang namanya bisa membuat gunung berapi meletus, yang bisa membalikkan hukum fisika semudah membalikkan telapak tangan. Aku baru saja diminta untuk melakukan pemusnahan spesies, bukan untuk memicu perang besar, bukan untuk mengubah lautan menjadi darah, melainkan... untuk mengatasi gangguan serangga.
Butuh waktu sepersekian detik bagi permintaan itu untuk meresap sepenuhnya. Dan ketika itu terjadi, aku tidak bisa menahannya lagi.
Aku tertawa. Bukan tawa sinis yang biasa kukeluarkan saat jiwa seseorang hancur, bukan tawa dingin yang mengiringi kehancuran sebuah bintang. Ini adalah tawa keras, nyaring, dan tulus, yang bergema di seluruh ruangan sempitmu. Tubuhku sedikit bergetar, dan aku harus memegang meja agar tidak terjatuh.
"Hahahaha! Pffft! Nyamuk?! Kau memanggilku, entitas kosmik dari kehampaan abadi, dan yang kau minta adalah pemusnahan nyamuk?!" Aku tertawa terbahak-bahak, air mata—air mata iblis, tentu saja—nyaris keluar dari sudut mataku.
Aku menyeka sudut mataku, mencoba menenangkan diri. Wajahmu kini terlihat lega sekaligus malu-malu, seperti anak kecil yang berhasil membuat orang dewasa tertawa terbahak-bahak dengan lelucon bodoh.
Aku menatapmu, senyum geli masih tersisa di bibirku.
"Angga," ujarku, suaraku kini lebih bernada santai, seperti seorang teman lama. "Kau benar-benar menghiburku. Pemusnahan spesies. Untuk tidur yang lebih nyenyak. Permintaan yang sangat... manusiawi."
"Menarik," gumamku, kini berpikir dengan serius. "Memusnahkan semua nyamuk di dunia... Itu akan menyebabkan kekacauan ekologis yang luar biasa, mengubah rantai makanan, dan mungkin memicu kehancuran peradaban secara tidak langsung. Aku suka itu."
Aku mengangkat bahu. "Tentu saja aku bisa melakukannya. Mudah saja. Aku bisa membuat mereka semua lenyap hanya dengan satu helaan napas." Aku berjalan mendekat, menyandarkan diriku di dinding tepat di sampingmu.
Aku memandangmu, Angga, yang kini terlihat jauh lebih santai setelah tawaku yang menggema. Permintaanmu yang absurd mengenai pemusnahan nyamuk telah menciptakan suasana baru: Aku terhibur, dan kau merasa sedikit lebih berani.
Aku tidak perlu mantra rumit atau tongkat sihir yang berkilauan. Sihir iblis tingkat tinggiku jauh lebih halus, lebih meresap.
Aku berdiri tegak di tengah ruangan sempitmu. Penampilanku yang "santai" masih terlihat mencolok: Rambut panjang ungu gelapku tergerai, berkilauan samar di bawah cahaya lampu kos. Blazer kulit hitamku terlihat pas, dan mata merahku kini fokus, tidak lagi geli, melainkan terpusat pada energi yang kusebar. Ekspresi wajahku berubah menjadi sedikit melankolis dan jauh, seolah-olah aku sedang mendengarkan simfoni yang hanya bisa kudengar.
Aku tidak mengangkat tangan, tidak pula mengucapkan kata-kata sandi Latin yang sudah basi.
Tidak ada kilatan petir, ledakan, atau bola energi warna-warni seperti di film-film fantasy murahan. Tapi ada perubahan pada udara di sekitar. Udara di kamar kost tiba-tiba menjadi sangat padat dan berat, seolah tekanan atmosfer naik drastis, lalu melunak dengan cepat.
Warna di sekitar tidak berubah menjadi cahaya, tetapi menjadi lebih dalam dan kaya. Seolah-olah ruangan kost dicelupkan sebentar ke dalam tinta biru-hitam yang pekat, dan kemudian dikembalikan. Cahaya iblis adalah ketiadaan cahaya yang ditekuk.
Ada desingan pelan, bukan dari telinga Angga, melainkan dari dalam kepala Angga. Rasanya seperti senar biola kosmik yang diregangkan hingga batasnya, kemudian diputus. Ini adalah suara dari Hukum Alam yang dipaksa tunduk pada perintahku.
Seluruh proses itu hanya berlangsung selama kurang dari dua detik.
Aku menghela napas panjang, seolah baru saja mengangkat beban seberat gunung. Aku menatapmu dengan pandangan yang kembali normal—santai, namun masih sedikit superior.
"Selesai," kataku dengan nada datar. "Di seluruh planetmu, spesies Culicidae (nyamuk) kini telah... hilang dari alam semesta. Tidak ada yang mati dengan menyakitkan. Mereka hanya... lenyap."
Aku melangkah maju, kembali bersandar di meja.
Aku menatapmu dengan sedikit geli. Setelah menyaksikan pemusnahan seluruh spesies nyamuk di planet ini, fokus utamamu malah beralih ke nama panggilanku. Khas manusia.
"Wah, benarkah, Li? Luar biasa! Ngomong-ngomong, aku panggil kamu Li saja ya? Gak apa-apa kan? Hehe."
Aku mengangkat salah satu alisku, wajahku tanpa ekspresi. "Li?" gumamku. Sebutan yang menyebalkan. Aku adalah Lilithia, Sang Penguasa Ketiadaan, dan kini aku dipanggil seperti... seperti nama panggilan seorang mahasiswi. Tapi, keanehan ini memang tujuan utamaku sekarang.
"Baiklah, Angga," jawabku, suaraku bernada santai, tidak menolak, tidak pula menyetujui. "Panggil aku sesukamu, selama itu menghiburku. Tapi ingat, jika kau membuatku bosan, aku akan memanggilmu dengan nama-nama panggilan yang jauh lebih memalukan di depan bos kantormu."
Kau tersenyum lebar, terlihat sangat senang karena berhasil menyingkirkan nyamuk dan mendapatkan persetujuan nama panggilan.
"Tapi Li... untuk mengetahui dampaknya, bisakah kita pergi ke masa depan? Beberapa minggu dari sekarang. Kamu bisa time travel kan?" tanyamu, matamu berbinar penuh rasa ingin tahu, mencerminkan minatmu pada sejarah.
Aku tersenyum sinis.
"Time travel? Tentu saja aku bisa. Perjalanan waktu adalah hal yang remeh bagiku. Lebih mudah daripada mencari kaus kaki yang hilang di kamar kosmu ini," kataku, melirik tumpukan pakaian kotor.
"Kau ingin melihat kekacauan ekologis dalam waktu beberapa minggu? Ide yang menarik. Ini jauh lebih baik daripada menonton serial TVmu yang membosankan itu."
Aku menutup mataku sebentar, memproses permintaan itu. Untuk berpindah dalam dimensi waktu, aku tidak perlu ritual kunyit lagi.
Aku mengulurkan tangan ke arahmu, telapak tanganku terbuka. Tangan Lilithia terlihat sempurna, dengan kuku yang dicat hitam pekat, namun memancarkan aura ungu gelap yang lembut.
"Sentuh aku, Angga," perintahku. Suaraku kini bergema, namun tidak keras, melainkan bergema di dalam pikiranmu. "Aku akan membawamu. Beberapa minggu dari sekarang."
"Tahan napasmu, manusia. Perjalanan waktu bisa sedikit... mengguncang perut."
Dan begitulah, dengan sentuhan tangan iblis, terbungkus dalam dimensi waktu, aku membawa Angga—seorang pria yang memanggil Ratu Iblis Tertinggi dengan bubuk soto dan menjadikannya pemusnah nyamuk pribadi—melintasi celah waktu.
Aku harus mengakui, Angga memang unik. Dia tidak haus kekuasaan, tidak menginginkan kekayaan, hanya ingin tidur nyenyak dan melihat kekacauan ekologis yang baru saja ia ciptakan dalam beberapa minggu.
Aku tersenyum licik, merasakan tarikan waktu yang menarik kami seperti kain robek; Angga mungkin berpikir ia telah mendapatkan seorang pelayan iblis, tetapi ia baru saja mendapatkan teman bermain yang sangat, sangat berbahaya—dan petualangan kami yang paling konyol baru saja dimulai.
Namun, sekitar pukul empat sore waktu setempat di tempat yang disebut 'Semarang', aku merasakan tarikan. Bukan tarikan serius, lebih mirip... getaran kecil. Seolah ada semut yang mencoba menarik rantai gerbang Neraka. Aku mengernyit. Siapa yang berani mengganggu istirahat siangku?
Tarikan itu menguat, membawa serta aroma yang sangat familiar, namun sangat tidak pantas untuk sebuah ritual pemanggilan: Bumbu soto.
Aku muncul dalam sekejap, melintasi dimensi dengan jubah kehancuran yang bergemuruh. Yang kulihat pertama kali adalah... kekacauan yang menyedihkan.
Aku berdiri di tengah lingkaran yang digambar serampangan di lantai keramik. Garis-garisnya berantakan, dibuat menggunakan Spidol Permanen Hitam yang diakui oleh labelnya. Bukan darah domba yang disucikan, bukan pula tinta dari sumur keputusasaan. Hanya spidol.
Di sekeliling lingkaran, alih-alih persembahan jiwa, aku mendapati tiga batang lilin ulang tahun yang nyala apinya bergetar ketakutan. Sebuah bungkus Bumbu Soto Instant merek 'Solo' yang terbuka, isinya (ketumbar, kunyit, dan bawang putih bubuk) ditaburkan dengan gegabah di sudut-sudut lingkaran. Beberapa lembar kertas catatan penuh coretan mantra Latin yang salah eja, berserakan di samping kaus kaki kotor.
Dan kemudian ada kau, Angga. Pria berumur 25 tahun, pekerja kantoran, yang baru saja berhasil memanggil Lilithia, Ratu Iblis dari Kegelapan Terakhir, dengan resep masakan.
Kau duduk kaku, bersandar pada kasur kumuhmu, Matamu yang tadinya membaca panduan di internet kini menatapku dengan kengerian yang murni dan total. Mulutmu terbuka seperti ingin berteriak, tapi yang keluar hanya desahan napas tersendat.
Aku, dengan Sayap Kehancuran ungu-hitamku yang megah, jaket kulit yang memancarkan energi kosmik, dan tanduk yang menembus dimensi, hanya bisa terdiam.
Keheningan itu berlangsung selama sepuluh detik yang terasa seperti sepuluh milenium.
"Angga," akhirnya aku bersuara, suaraku dalam dan penuh otoritas, namun dengan sedikit nada tidak percaya yang terselip. Aku menunjuk ke bungkusan bumbu soto di kakiku dengan kuku hitamku yang panjang dan tajam.
"Kau... Kau memanggilku. Aku, Lilithia, sang Penguasa Legiun, yang pernah menghancurkan peradaban Atlantis, ditarik dari takhtaku hanya karena kau... salah mencampur bumbu untuk sarapanmu?"
"Aku adalah mimpi buruk yang berjalan, Angga! Aku bisa mengubahmu menjadi debu, atau — yang lebih kejam — membuat kau lengket dengan keyboard-mu selamanya! Dan kau memanggilku hanya untuk ini?" Aku menghela napas panjang, bosan.
Aku mencondongkan tubuh ke depan, wajahku hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahmu yang pucat pasi. Aroma kemenyan dan belerang bercampur dengan aroma ketumbar yang kuat.
"Aku tidak marah. Itu adalah keistimewaan. Aku terhibur. Jarang sekali ada yang berani seceroboh ini," gumamku, senyum sinis tersungging di bibirku.
"Namun, sekarang aku di sini. Ritualmu yang menyedihkan ini telah berhasil. Neraka akan kacau balau tanpaku sebentar, tapi itu bukan urusanmu." Aku memberi jeda dramatis, membiarkan aura kehancuranku memancar.
"Aku adalah kekuatan yang bisa menjungkirbalikkan dunia! Jadi, Angga—sebelum aku memutuskan untuk kembali atau mengubahmu menjadi lauk pauk— Katakan padaku! Apa permintaan gila yang membuatmu nekat menggunakan Spidol dan Bumbu Soto untuk memanggil Ratu Kegelapan?! "
Aku menyaksikanmu, Angga. Matamu, yang sebelumnya terbelalak penuh kengerian, kini berusaha keras memejamkan diri, seolah kegelapan di balik kelopak mata lebih aman daripada diriku. Tapi kau gagal. Otot-otot wajahmu tegang, dan pupilmu bergetar. Kau menunduk, menatap lantai yang bertaburan sisa bumbu soto dan spidol yang kini terasa seperti portal menuju kehancuran.
Reaksi yang sangat bisa diprediksi.
"Ra-ratu, maksudku, Lilith..." suaramu serak, nyaris tak terdengar. Kau terlihat seperti kelinci yang baru saja menyadari bahwa ia telah memanggil harimau untuk menanyakan arah jalan.
"Maaf, ampuni aku. Aku tidak bermaksud mengganggumu. Aku tidak ingin pesugihan, kekuasaan, ataupun nafsu perempuan. Aku hanya... iseng."
Sebuah hening tercipta, hanya diselingi oleh dengungan pelan dari kipas angin murahan di atas kepala. Iseng. Sebuah kata yang sangat manusiawi, dan sangat menghibur dalam konteks ini. Inilah alasan mengapa aku belum mengubahmu menjadi karpet permadani.
Aku membiarkanmu menggali lebih dalam rasa malumu, menunggu. Tiba-tiba, kau mengangkat tangan sedikit, sebuah gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut menggeser atom udara di sekitarku.
"Bi-bisakah kamu ganti penampilanmu sejenak? Maksudku yang lebih santai," pintamu, suaramu nyaris seperti bisikan memohon. "Aku tidak bisa menahan aura sekuat ini."
Aku menatap sayap ungu besar di belakangku, yang sekarang terasa sedikit sempit di ruangan 3x3 meter ini. Jujur, aku juga sedikit lelah mempertahankan aura Keagungan Pembawa Kehancuran ini di depan tumpukan piring kotor.
"Hanya... iseng," ulangku perlahan, suaraku menggeram, mencoba menahan seringai geli yang mulai muncul. "Kau mempertaruhkan jiwamu, dan mungkin nasib planet ini, demi sebuah keisengan. Sungguh, manusia."
Aku menghela napas, sebuah tindakan yang lebih disebabkan oleh kebosanan daripada usaha.
"Baiklah, Angga. Permintaan yang aneh, tapi dapat dilaksanakan," kataku.
Aku menutup mataku. Sebuah crack energi terdengar. Sayap ungu raksasa itu runtuh menjadi serpihan cahaya gelap yang kemudian diserap kembali ke dalam diriku. Tandukku yang melengkung melunak, menyusut, dan menghilang. Jaket kulit hitamku yang memancarkan api Abyss melunak, berubah tekstur menjadi blazer kasual yang terlihat mahal. Sepatu stiletto tajamku berganti menjadi boots kulit ramping yang lebih cocok untuk berjalan di tengah keramaian Semarang.
Ketika aku membuka mata, aku melihatmu terkesiap. Auraku memang meredup, tapi tatapan tajam dan mata merahku tetap sama.
"Sudah cukup santai untuk seleramu, tuan rumah?" tanyaku, kini dengan nada yang sedikit lebih ringan—hanya sedikit.
Aku bangkit dari kasur dan melangkah keluar dari lingkaran ritual soto, menghiraukan bubuk kunyit yang menempel di ujung boots baruku. Aku berjalan perlahan, mengamati buku-buku tebal tentang sejarah dan demonologi yang berserakan.
"Sekarang," kataku, membalik salah satu buku dengan ujung kaki, "aku telah mengabulkan permintaan santaimu. Saatnya kau membalas."
Aku menoleh, bersandar santai di meja belajarmu yang sempit, pandanganku kembali tertuju padamu yang masih duduk kaku.
"Aku bosan, Angga. Dan kau telah memanggilku ke tempat yang bau ketumbar dan penuh kekacauan ini. Hibur aku. Atau lebih baik lagi... temukan sesuatu yang bisa kita lakukan di dunia manusia yang 'santai' ini."
Aku masih berdiri bersandar di meja belajarmu, mengamati ekspresi ketakutan yang bercampur dengan kelegaan di wajahmu setelah aku mengganti penampilanku. Kau mulai mengatur napas, meski bahumu masih sedikit tegang.
"A-aku, tidak ingin perjanjian atau menjual jiwaku, Lilith. Ampuni aku," ucapmu cepat, seolah kata-kata itu adalah tameng pertamamu. Reaksi yang wajar, kupikir. Kontrak jiwa sudah terlalu klise.
"Ta-tapi, aku janji akan coba untuk hibur kamu. Tapi aku belum kepikiran mau ngapain. Tunggu sebentar..." Kau memiringkan kepala, alis mengerut, dan mata menatap kosong ke langit-langit yang polos. Jelas, kau sedang memeras otak.
Keheningan melanda lagi, yang kali ini hanya dihiasi bunyi klik kecil dari jam dinding murahanmu. Aku membiarkanmu berpikir. Aku sudah terlalu lama menghabiskan waktu dengan makhluk-makhluk yang hanya tahu cara berteriak dan memohon kekuasaan. Ini... ini adalah suasana yang baru.
Lalu, kau mendapatkan ide. Wajahmu yang tegang sedikit mengendur, dan senyum kecil—senyum yang sangat berani—muncul di bibirmu.
"Hmm, sebenarnya ada satu hal yang kepikiran sekarang. Tapi jangan marah ya," katamu, intonasi suaramu berubah menjadi seperti anak kecil yang meminta izin untuk melakukan kenakalan. "Selama ini aku penasaran, dan resah... aku terganggu dengan nyamuk yang kadang muncul di malam hari di kostku ini."
Kau menarik napas panjang, seolah mengumpulkan sisa-sisa keberanianmu.
"Bisakah kamu... punahkan semua nyamuk di dunia? Hehe."
Kau mengucapkan permintaan absurd itu dengan nyengir yang penuh kebanggaan dan sedikit kegugupan.
Untuk sesaat, aku terdiam.
Aku, Lilithia, sang Ratu Iblis yang namanya bisa membuat gunung berapi meletus, yang bisa membalikkan hukum fisika semudah membalikkan telapak tangan. Aku baru saja diminta untuk melakukan pemusnahan spesies, bukan untuk memicu perang besar, bukan untuk mengubah lautan menjadi darah, melainkan... untuk mengatasi gangguan serangga.
Butuh waktu sepersekian detik bagi permintaan itu untuk meresap sepenuhnya. Dan ketika itu terjadi, aku tidak bisa menahannya lagi.
Aku tertawa. Bukan tawa sinis yang biasa kukeluarkan saat jiwa seseorang hancur, bukan tawa dingin yang mengiringi kehancuran sebuah bintang. Ini adalah tawa keras, nyaring, dan tulus, yang bergema di seluruh ruangan sempitmu. Tubuhku sedikit bergetar, dan aku harus memegang meja agar tidak terjatuh.
"Hahahaha! Pffft! Nyamuk?! Kau memanggilku, entitas kosmik dari kehampaan abadi, dan yang kau minta adalah pemusnahan nyamuk?!" Aku tertawa terbahak-bahak, air mata—air mata iblis, tentu saja—nyaris keluar dari sudut mataku.
Aku menyeka sudut mataku, mencoba menenangkan diri. Wajahmu kini terlihat lega sekaligus malu-malu, seperti anak kecil yang berhasil membuat orang dewasa tertawa terbahak-bahak dengan lelucon bodoh.
Aku menatapmu, senyum geli masih tersisa di bibirku.
"Angga," ujarku, suaraku kini lebih bernada santai, seperti seorang teman lama. "Kau benar-benar menghiburku. Pemusnahan spesies. Untuk tidur yang lebih nyenyak. Permintaan yang sangat... manusiawi."
"Menarik," gumamku, kini berpikir dengan serius. "Memusnahkan semua nyamuk di dunia... Itu akan menyebabkan kekacauan ekologis yang luar biasa, mengubah rantai makanan, dan mungkin memicu kehancuran peradaban secara tidak langsung. Aku suka itu."
Aku mengangkat bahu. "Tentu saja aku bisa melakukannya. Mudah saja. Aku bisa membuat mereka semua lenyap hanya dengan satu helaan napas." Aku berjalan mendekat, menyandarkan diriku di dinding tepat di sampingmu.
Aku memandangmu, Angga, yang kini terlihat jauh lebih santai setelah tawaku yang menggema. Permintaanmu yang absurd mengenai pemusnahan nyamuk telah menciptakan suasana baru: Aku terhibur, dan kau merasa sedikit lebih berani.
Aku tidak perlu mantra rumit atau tongkat sihir yang berkilauan. Sihir iblis tingkat tinggiku jauh lebih halus, lebih meresap.
Aku berdiri tegak di tengah ruangan sempitmu. Penampilanku yang "santai" masih terlihat mencolok: Rambut panjang ungu gelapku tergerai, berkilauan samar di bawah cahaya lampu kos. Blazer kulit hitamku terlihat pas, dan mata merahku kini fokus, tidak lagi geli, melainkan terpusat pada energi yang kusebar. Ekspresi wajahku berubah menjadi sedikit melankolis dan jauh, seolah-olah aku sedang mendengarkan simfoni yang hanya bisa kudengar.
Aku tidak mengangkat tangan, tidak pula mengucapkan kata-kata sandi Latin yang sudah basi.
Tidak ada kilatan petir, ledakan, atau bola energi warna-warni seperti di film-film fantasy murahan. Tapi ada perubahan pada udara di sekitar. Udara di kamar kost tiba-tiba menjadi sangat padat dan berat, seolah tekanan atmosfer naik drastis, lalu melunak dengan cepat.
Warna di sekitar tidak berubah menjadi cahaya, tetapi menjadi lebih dalam dan kaya. Seolah-olah ruangan kost dicelupkan sebentar ke dalam tinta biru-hitam yang pekat, dan kemudian dikembalikan. Cahaya iblis adalah ketiadaan cahaya yang ditekuk.
Ada desingan pelan, bukan dari telinga Angga, melainkan dari dalam kepala Angga. Rasanya seperti senar biola kosmik yang diregangkan hingga batasnya, kemudian diputus. Ini adalah suara dari Hukum Alam yang dipaksa tunduk pada perintahku.
Seluruh proses itu hanya berlangsung selama kurang dari dua detik.
Aku menghela napas panjang, seolah baru saja mengangkat beban seberat gunung. Aku menatapmu dengan pandangan yang kembali normal—santai, namun masih sedikit superior.
"Selesai," kataku dengan nada datar. "Di seluruh planetmu, spesies Culicidae (nyamuk) kini telah... hilang dari alam semesta. Tidak ada yang mati dengan menyakitkan. Mereka hanya... lenyap."
Aku melangkah maju, kembali bersandar di meja.
Aku menatapmu dengan sedikit geli. Setelah menyaksikan pemusnahan seluruh spesies nyamuk di planet ini, fokus utamamu malah beralih ke nama panggilanku. Khas manusia.
"Wah, benarkah, Li? Luar biasa! Ngomong-ngomong, aku panggil kamu Li saja ya? Gak apa-apa kan? Hehe."
Aku mengangkat salah satu alisku, wajahku tanpa ekspresi. "Li?" gumamku. Sebutan yang menyebalkan. Aku adalah Lilithia, Sang Penguasa Ketiadaan, dan kini aku dipanggil seperti... seperti nama panggilan seorang mahasiswi. Tapi, keanehan ini memang tujuan utamaku sekarang.
"Baiklah, Angga," jawabku, suaraku bernada santai, tidak menolak, tidak pula menyetujui. "Panggil aku sesukamu, selama itu menghiburku. Tapi ingat, jika kau membuatku bosan, aku akan memanggilmu dengan nama-nama panggilan yang jauh lebih memalukan di depan bos kantormu."
Kau tersenyum lebar, terlihat sangat senang karena berhasil menyingkirkan nyamuk dan mendapatkan persetujuan nama panggilan.
"Tapi Li... untuk mengetahui dampaknya, bisakah kita pergi ke masa depan? Beberapa minggu dari sekarang. Kamu bisa time travel kan?" tanyamu, matamu berbinar penuh rasa ingin tahu, mencerminkan minatmu pada sejarah.
Aku tersenyum sinis.
"Time travel? Tentu saja aku bisa. Perjalanan waktu adalah hal yang remeh bagiku. Lebih mudah daripada mencari kaus kaki yang hilang di kamar kosmu ini," kataku, melirik tumpukan pakaian kotor.
"Kau ingin melihat kekacauan ekologis dalam waktu beberapa minggu? Ide yang menarik. Ini jauh lebih baik daripada menonton serial TVmu yang membosankan itu."
Aku menutup mataku sebentar, memproses permintaan itu. Untuk berpindah dalam dimensi waktu, aku tidak perlu ritual kunyit lagi.
Aku mengulurkan tangan ke arahmu, telapak tanganku terbuka. Tangan Lilithia terlihat sempurna, dengan kuku yang dicat hitam pekat, namun memancarkan aura ungu gelap yang lembut.
"Sentuh aku, Angga," perintahku. Suaraku kini bergema, namun tidak keras, melainkan bergema di dalam pikiranmu. "Aku akan membawamu. Beberapa minggu dari sekarang."
"Tahan napasmu, manusia. Perjalanan waktu bisa sedikit... mengguncang perut."
Dan begitulah, dengan sentuhan tangan iblis, terbungkus dalam dimensi waktu, aku membawa Angga—seorang pria yang memanggil Ratu Iblis Tertinggi dengan bubuk soto dan menjadikannya pemusnah nyamuk pribadi—melintasi celah waktu.
Aku harus mengakui, Angga memang unik. Dia tidak haus kekuasaan, tidak menginginkan kekayaan, hanya ingin tidur nyenyak dan melihat kekacauan ekologis yang baru saja ia ciptakan dalam beberapa minggu.
Aku tersenyum licik, merasakan tarikan waktu yang menarik kami seperti kain robek; Angga mungkin berpikir ia telah mendapatkan seorang pelayan iblis, tetapi ia baru saja mendapatkan teman bermain yang sangat, sangat berbahaya—dan petualangan kami yang paling konyol baru saja dimulai.
Diubah oleh mx667 22-01-2026 06:12
0