- Beranda
- TEAM NASIONAL INDONESIA
TEAM NASIONAL INDONESIA - Part 3
...
TS
mr.ayah
TEAM NASIONAL INDONESIA - Part 3
~~ TIM NASIONAL INDONESIA JOURNEY ASIAN CUP 2027 ~~

THREAD RULES
Untuk menjaga ketertiban diskusi di thread ini, TS memberlakukan rules yang harus dibaca dan dipahami para kaskusser disini, diantaranya:
1. DILARANG! Junk post dan out of topic
Postingan yang tidak ada kaitannya dengan Timnas Indonesia ataupun persepakbolaan Indonesia secara umumnya, sekedar posting sembarangan layaknya membuang sampah sembarangan adalah DILARANG disini. Disini tempatnya berdiskusi, bukan tempat sampah para kaskusser menambah postingan sebanyak²nya.
Sanksi : delete postingan, terlalu bandel block post durasi tergantung tingkat bandelnya
Untuk menjaga ketertiban diskusi di thread ini, TS memberlakukan rules yang harus dibaca dan dipahami para kaskusser disini, diantaranya:
1. DILARANG! Junk post dan out of topic
Postingan yang tidak ada kaitannya dengan Timnas Indonesia ataupun persepakbolaan Indonesia secara umumnya, sekedar posting sembarangan layaknya membuang sampah sembarangan adalah DILARANG disini. Disini tempatnya berdiskusi, bukan tempat sampah para kaskusser menambah postingan sebanyak²nya.
Sanksi : delete postingan, terlalu bandel block post durasi tergantung tingkat bandelnya
2. DILARANG! Posting Hanya Gambar Saja
Postingan yang hanya mencantumkan gambar tanpa ada opini (minimal opini singkat) dari yang membuat postingan.
Sanksi : delete postingan, terlalu bandel block post durasi tergantung tingkat bandelnya
3. Hargai Opini yang Disampaikan di Thread Ini
Siapapun berhak menyampaikan opini terkait Timnas Indonesia maupun persepakbolaan Indonesia secara umum selama tidak melanggar poin-poin yang tercantum di Rules, tidak semua kaskusser akan setuju dengan opini anda disini dan sebaliknya anda tidak mungkin setuju dengan semua opini yang disampaikan para kaskusser disini. Jika anda tidak setuju dengan sebuah opini dari kaskusser, silakan adu argumentasi secara sehat dan konstruktif, jika tidak sanggup adu argumentasi cukup diam dan abaikan, sesimpel itu aja.
4. DILARANG KERAS!Memancing Keributan Antar Sesama Kaskusser
Thread ini bukan tempat untuk berselisih yang memancing keributan. Kalaupun ada perselisihan yang berasal dari thread ini, selesaikan via Personal Message (PM) atau minta TS untuk mediasi perselisihan yang ada.
Sanksi : Peringatan 1 block post user 1 hari, Peringatan 2 block post user 3 hari, Peringatan 3 block post user 7 hari, kelewat bandel berulang-ulang block post user sampai batas waktu tak ditentukan
Siapapun berhak menyampaikan opini terkait Timnas Indonesia maupun persepakbolaan Indonesia secara umum selama tidak melanggar poin-poin yang tercantum di Rules, tidak semua kaskusser akan setuju dengan opini anda disini dan sebaliknya anda tidak mungkin setuju dengan semua opini yang disampaikan para kaskusser disini. Jika anda tidak setuju dengan sebuah opini dari kaskusser, silakan adu argumentasi secara sehat dan konstruktif, jika tidak sanggup adu argumentasi cukup diam dan abaikan, sesimpel itu aja.
4. DILARANG KERAS!Memancing Keributan Antar Sesama Kaskusser
Thread ini bukan tempat untuk berselisih yang memancing keributan. Kalaupun ada perselisihan yang berasal dari thread ini, selesaikan via Personal Message (PM) atau minta TS untuk mediasi perselisihan yang ada.
Sanksi : Peringatan 1 block post user 1 hari, Peringatan 2 block post user 3 hari, Peringatan 3 block post user 7 hari, kelewat bandel berulang-ulang block post user sampai batas waktu tak ditentukan
5. DILARANG AMAT SANGAT KERAS! Membawa Real Life Kehidupan Kaskusser untuk Dipojokkan/Dicacimaki
Tidak perlu diperjelas lagi soal Real Life Abuse, the next level ofmemancing keributan.
Sanksi : delete post + block post user sampai KIAMAT, berlaku juga buat yang membela pelaku Real Life Abuse
6. DILARANG!Jualan di Thread Ini
Disini tempatnya berdiskusi bukan tempat berjualan, silakan menuju FJB Kaskus kalau mau jualan.
Sanksi : 1x delete postingan, 2x block post user 3 hari, 3x dst. block post user 7 hari
7. DILARANG KERAS! Membuat Postingan yang Menyinggung Suku, Ras, Agama, Daerah, dan Budaya.
Segala bentuk postingan yang menyinggung tersebut adalah hal yang SANGAT DILARANG untuk menghindari konflik berkepanjangan di thread ini.
Sanksi : delete post + block post user sampai batas waktu tak ditentukan
8. DILARANG KERAS! Membuat Postingan yang Menyangkut Hal² Pornografi
Disini adalah forum umum yang bukan hanya dapat diakses oleh orang² dewasa tapi juga anak² dibawah umur. SANGAT DILARANG untuk membahas hal² yang menyangkut pornografi disini.
Sanksi : delete post + block post user sampai batas waktu tak ditentukan
9. Cantumkan Sumber Pada Setiap Postingan Informasi Berita Seputar Timnas Indonesia dan Persepakbolaan Indonesia Pada Umumnya
Setiap informasi berita yang dibagikan di thread ini cantumkan link sumber beritanya atau embed jika berasal dari medsos, seminimalnya jika screenshot capture tercantum sumber beritanya.
Sanksi : delete post apabila terbukti HOAX, kelewat bandel berulang-ulang block post user durasi tergantung tingkat bandelnya
10. DILARANG AMAT SANGAT KERAS! Promosi Judol Slot dan Sejenisnya Baik Sengaja ataupun Tidak Sengaja
Segala bentuk postingan yang mengandung unsur Judol SANGAT DILARANG baik disengaja dilakukan terang-terangan oleh admin judol bangsyat atau tidak disengaja oleh kaskusser seperti menyebarkan berita dari medsos yang tercantum promosi terselubung web judol lucknut itu.
Sanksi : disengaja block post user sampai KIAMAT, tidak disengaja delete post dan teguran ada tercantum promosi terselubung judol
Terima Kasih Atas Perhatian Dan Kerjasamanya.

Best Regards,
Tim Moderator Thread Timnas Indonesia
adityajt26 , mabdulkarim

Best Regards,
Tim Moderator Thread Timnas Indonesia
adityajt26 , mabdulkarim
Quote:
Diubah oleh mabdulkarim 08-12-2025 21:11
Pengawal.Munyuk dan 11 lainnya memberi reputasi
12
303.4K
31K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
TEAM NASIONAL INDONESIA
149Thread•3.6KAnggota
Tampilkan semua post
akamals
#7149
Kadang saya merasa kurang bersyukur.
Menganggap kegagalan di Qualifiers Round 4 kemarin sebagai aib nasional yang harus dikutuk. Semua orang rasanya wajib dihujat — pelatih, pemain, bahkan pengurus federasi. Setelah rombongan Kluivert dkk angkat kaki, giliran pemain yang dijadikan sasaran amarah. Dan ketika itu belum cukup, publik berteriak serentak: #ErickThohirOut.
Padahal, kalau mau sedikit saja menurunkan ego, kita akan sadar: sepak bola tidak dibangun dalam satu malam.
Satu generasi tidak lahir dari TC seminggu.
Era Invincibles Arsenal tidak dibentuk dalam satu musim, dan generasi emas Evan Dimas dkk tidak jatuh dari langit. Semua butuh proses panjang, kerja berkesinambungan, dan yang paling langka di negeri ini — kesabaran.
---
Mei 2015 (ya, tahun kelam itu), jadi titik balik sekaligus titik hancur sepak bola Indonesia.
Kita belum benar-benar pulih dari dualisme PSSI–KPSI, tapi tiba-tiba datang tsunami baru: sanksi FIFA.
Arogansi Imam Nahrawi sebagai Menpora, dan kelicikan La Nyalla Mattalitti yang memanipulasi kongres, membuat situasi semakin busuk. PSSI dibekukan, FIFA turun tangan.
Sepak bola berhenti.
Lucunya, publik waktu itu seperti kebal.
Sudah dua kali disanksi FIFA, tapi wajah-wajah optimis masih tersenyum di televisi, seolah semuanya “biasa saja”.
Kompetisi memang vakum, tapi berbagai “turnamen pengganti” bermunculan — Piala ini, Piala itu — seolah cukup menambal rasa kehilangan kita terhadap liga yang sebenarnya.
---
Masalahnya, vakumnya liga berarti berhentinya pembinaan.
Pabrik talenta tutup.
Tiga musim tanpa struktur degradasi-promosi yang jelas, tanpa atmosfer kompetitif, tanpa kesempatan tampil di ajang internasional.
Ada satu generasi yang hilang begitu saja — generasi yang seharusnya menjadi jembatan dari Evan Dimas dkk menuju profesionalisme.
Namun mereka layu sebelum berkembang.
Dan ketika klub-klub siluman seperti PS TNI dan PS Polri muncul memberi jabatan dan gaji tetap, para pemain muda masuk ke zona nyaman. Mereka tak perlu berkompetisi, cukup loyal pada institusi. Hasilnya? Mereka berhenti berkembang, tapi tetap merasa aman.
---
Pasca-kisruh, Edy Rahmayadi muncul bak pahlawan penyelamat.
Ia maju ke depan, berteriak tentang kebangkitan sepak bola Indonesia. Tapi begitu kursi gubernur Sumatera Utara tampak lebih menggiurkan, dia balik kanan.
PSSI ternyata cuma batu loncatan karier politik.
Transisi mandek, keberlanjutan hilang arah.
Ketika TNI pergi, giliran Polri memegang kemudi.
Datanglah Iwan Bule, membawa slogan perubahan dan janji profesionalisme.
Tapi bocornya pembinaan coba ia tambal dengan memanggil diaspora.
Padahal ini seharusnya panggung generasi Evan Dimas dkk — namun mereka keburu hilang ditelan zaman.
Tidak ada kompetisi yang membentuk mental, tidak ada sistem yang menjaga pola hidup, tidak ada arah.
Generasi emas berubah jadi generasi tersia-siakan.
---
Namun di balik semua kekacauan itu, Iwan Bule sebenarnya sempat mencoba.
Ia mulai membenahi Elite Pro Academy (EPA). Tidak sempurna, tapi setidaknya ada usaha.
Lalu datanglah Shin Tae-yong — pelatih yang berani “memotong generasi”.
Bukan karena dia sadis, tapi karena memang tidak ada stok pemain.
Sepak bola kita berhenti di 2015–2017, dan hasilnya: kosong.
Tidak ada iklim kompetitif, tidak ada pembinaan, tidak ada pemain matang untuk diorbitkan.
Kenekadan STY, disokong keberanian Iwan Bule, akhirnya melahirkan nama-nama seperti Dewangga, Rizky Ridho, dan Marselino.
Talenta muda yang di-panen prematur, karena generasi sebelumnya gagal tumbuh.
Tapi dari situ setidaknya kita punya harapan baru.
---
Lalu datanglah tragedi yang mengubah segalanya: Kanjuruhan.
Iwan Bule dipaksa mundur, jadi tumbal dari kemarahan publik.
Apa pun yang sudah ia mulai harus berhenti begitu saja.
Rem darurat ditekan, lagi.
Sepak bola Indonesia gagal landing — lagi.
Setelahnya, Erik Thohir masuk dengan gaya khasnya.
Dia mencoba merapikan EPA, menaikkan kualitas liga, dan membuka pintu bagi pemain diaspora.
Pekerjaan rumahnya berat: ranking FIFA jeblok, liga compang-camping, blueprint pembinaan tak jelas.
Dan ironisnya, Direktur Teknik baru diangkat hanya beberapa minggu sebelum kita berlaga di Round 4.
Tapi publik tidak sabar.
Mereka menuntut roadmap dibuka, hasil instan diciptakan, seolah sepak bola itu mesin mie instan.
Padahal sang Dirtek baru saja mulai memahami anatomi sepak bola negeri ini.
---
Kita gagal lolos.
Tekanan memuncak.
Kluivert dkk diusir secara halus.
Dan seperti biasa, publik minta darah.
Tuntutan datang bertubi-tubi: ganti pelatih! Segera!
Seolah tanpa pelatih, negara ini bisa berhenti berputar.
Saya jujur bingung — kenapa semuanya harus terburu-buru?
Kenapa tidak duduk sejenak, berpikir dengan kepala dingin?
Dirtek bisa merekomendasikan pelatih yang sesuai dengan visinya.
PSSI bisa menimbang dari sisi anggaran dan kebutuhan jangka panjang.
Tapi tidak — semua dipaksa instan.
Publik menekan agar STY segera dipanggil lagi, “kalau bisa hari ini, jangan tunggu besok.”
Seakan pilihan pelatih hanyalah: STY atau kiamat.
---
ET cuek.
Ia terlihat punya rencana sendiri, dan tidak terpengaruh oleh keributan di luar.
Sementara itu, rival makin berapi-api, opini berseliweran di ruang publik, hingga muncul narasi: “PSSI tanpa Erik.”
Jujur, bagi saya siapa pun pelatihnya, siapa pun ketumnya — itu tak terlalu penting.
Yang benar-benar membuat saya nelangsa adalah ini:
Apakah lagi-lagi rem darurat harus ditekan?
Apakah pembangunan sepak bola kita akan kembali berhenti di tengah jalan?
Kita masih terjebak di lingkaran setan yang sama:
Marah — Bongkar — Lupa — Ulangi.
Sepak bola kita tak pernah benar-benar belajar.
Kebijakan diambil berdasarkan kemarahan, bukan perencanaan.
Kita sibuk mencari kambing hitam, tanpa peduli keberlanjutan.
Dan di situlah ironi terbesar: ketika kebodohan sudah dianggap kebiasaan,
dan kegagalan dijadikan tradisi nasional.
Menganggap kegagalan di Qualifiers Round 4 kemarin sebagai aib nasional yang harus dikutuk. Semua orang rasanya wajib dihujat — pelatih, pemain, bahkan pengurus federasi. Setelah rombongan Kluivert dkk angkat kaki, giliran pemain yang dijadikan sasaran amarah. Dan ketika itu belum cukup, publik berteriak serentak: #ErickThohirOut.
Padahal, kalau mau sedikit saja menurunkan ego, kita akan sadar: sepak bola tidak dibangun dalam satu malam.
Satu generasi tidak lahir dari TC seminggu.
Era Invincibles Arsenal tidak dibentuk dalam satu musim, dan generasi emas Evan Dimas dkk tidak jatuh dari langit. Semua butuh proses panjang, kerja berkesinambungan, dan yang paling langka di negeri ini — kesabaran.
---
Mei 2015 (ya, tahun kelam itu), jadi titik balik sekaligus titik hancur sepak bola Indonesia.
Kita belum benar-benar pulih dari dualisme PSSI–KPSI, tapi tiba-tiba datang tsunami baru: sanksi FIFA.
Arogansi Imam Nahrawi sebagai Menpora, dan kelicikan La Nyalla Mattalitti yang memanipulasi kongres, membuat situasi semakin busuk. PSSI dibekukan, FIFA turun tangan.
Sepak bola berhenti.
Lucunya, publik waktu itu seperti kebal.
Sudah dua kali disanksi FIFA, tapi wajah-wajah optimis masih tersenyum di televisi, seolah semuanya “biasa saja”.
Kompetisi memang vakum, tapi berbagai “turnamen pengganti” bermunculan — Piala ini, Piala itu — seolah cukup menambal rasa kehilangan kita terhadap liga yang sebenarnya.
---
Masalahnya, vakumnya liga berarti berhentinya pembinaan.
Pabrik talenta tutup.
Tiga musim tanpa struktur degradasi-promosi yang jelas, tanpa atmosfer kompetitif, tanpa kesempatan tampil di ajang internasional.
Ada satu generasi yang hilang begitu saja — generasi yang seharusnya menjadi jembatan dari Evan Dimas dkk menuju profesionalisme.
Namun mereka layu sebelum berkembang.
Dan ketika klub-klub siluman seperti PS TNI dan PS Polri muncul memberi jabatan dan gaji tetap, para pemain muda masuk ke zona nyaman. Mereka tak perlu berkompetisi, cukup loyal pada institusi. Hasilnya? Mereka berhenti berkembang, tapi tetap merasa aman.
---
Pasca-kisruh, Edy Rahmayadi muncul bak pahlawan penyelamat.
Ia maju ke depan, berteriak tentang kebangkitan sepak bola Indonesia. Tapi begitu kursi gubernur Sumatera Utara tampak lebih menggiurkan, dia balik kanan.
PSSI ternyata cuma batu loncatan karier politik.
Transisi mandek, keberlanjutan hilang arah.
Ketika TNI pergi, giliran Polri memegang kemudi.
Datanglah Iwan Bule, membawa slogan perubahan dan janji profesionalisme.
Tapi bocornya pembinaan coba ia tambal dengan memanggil diaspora.
Padahal ini seharusnya panggung generasi Evan Dimas dkk — namun mereka keburu hilang ditelan zaman.
Tidak ada kompetisi yang membentuk mental, tidak ada sistem yang menjaga pola hidup, tidak ada arah.
Generasi emas berubah jadi generasi tersia-siakan.
---
Namun di balik semua kekacauan itu, Iwan Bule sebenarnya sempat mencoba.
Ia mulai membenahi Elite Pro Academy (EPA). Tidak sempurna, tapi setidaknya ada usaha.
Lalu datanglah Shin Tae-yong — pelatih yang berani “memotong generasi”.
Bukan karena dia sadis, tapi karena memang tidak ada stok pemain.
Sepak bola kita berhenti di 2015–2017, dan hasilnya: kosong.
Tidak ada iklim kompetitif, tidak ada pembinaan, tidak ada pemain matang untuk diorbitkan.
Kenekadan STY, disokong keberanian Iwan Bule, akhirnya melahirkan nama-nama seperti Dewangga, Rizky Ridho, dan Marselino.
Talenta muda yang di-panen prematur, karena generasi sebelumnya gagal tumbuh.
Tapi dari situ setidaknya kita punya harapan baru.
---
Lalu datanglah tragedi yang mengubah segalanya: Kanjuruhan.
Iwan Bule dipaksa mundur, jadi tumbal dari kemarahan publik.
Apa pun yang sudah ia mulai harus berhenti begitu saja.
Rem darurat ditekan, lagi.
Sepak bola Indonesia gagal landing — lagi.
Setelahnya, Erik Thohir masuk dengan gaya khasnya.
Dia mencoba merapikan EPA, menaikkan kualitas liga, dan membuka pintu bagi pemain diaspora.
Pekerjaan rumahnya berat: ranking FIFA jeblok, liga compang-camping, blueprint pembinaan tak jelas.
Dan ironisnya, Direktur Teknik baru diangkat hanya beberapa minggu sebelum kita berlaga di Round 4.
Tapi publik tidak sabar.
Mereka menuntut roadmap dibuka, hasil instan diciptakan, seolah sepak bola itu mesin mie instan.
Padahal sang Dirtek baru saja mulai memahami anatomi sepak bola negeri ini.
---
Kita gagal lolos.
Tekanan memuncak.
Kluivert dkk diusir secara halus.
Dan seperti biasa, publik minta darah.
Tuntutan datang bertubi-tubi: ganti pelatih! Segera!
Seolah tanpa pelatih, negara ini bisa berhenti berputar.
Saya jujur bingung — kenapa semuanya harus terburu-buru?
Kenapa tidak duduk sejenak, berpikir dengan kepala dingin?
Dirtek bisa merekomendasikan pelatih yang sesuai dengan visinya.
PSSI bisa menimbang dari sisi anggaran dan kebutuhan jangka panjang.
Tapi tidak — semua dipaksa instan.
Publik menekan agar STY segera dipanggil lagi, “kalau bisa hari ini, jangan tunggu besok.”
Seakan pilihan pelatih hanyalah: STY atau kiamat.
---
ET cuek.
Ia terlihat punya rencana sendiri, dan tidak terpengaruh oleh keributan di luar.
Sementara itu, rival makin berapi-api, opini berseliweran di ruang publik, hingga muncul narasi: “PSSI tanpa Erik.”
Jujur, bagi saya siapa pun pelatihnya, siapa pun ketumnya — itu tak terlalu penting.
Yang benar-benar membuat saya nelangsa adalah ini:
Apakah lagi-lagi rem darurat harus ditekan?
Apakah pembangunan sepak bola kita akan kembali berhenti di tengah jalan?
Kita masih terjebak di lingkaran setan yang sama:
Marah — Bongkar — Lupa — Ulangi.
Sepak bola kita tak pernah benar-benar belajar.
Kebijakan diambil berdasarkan kemarahan, bukan perencanaan.
Kita sibuk mencari kambing hitam, tanpa peduli keberlanjutan.
Dan di situlah ironi terbesar: ketika kebodohan sudah dianggap kebiasaan,
dan kegagalan dijadikan tradisi nasional.
advitha dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Tutup