Kaskus

News

creativeslen783Avatar border
TS
creativeslen783
 Tingkat Kelahiran Keluarga Tak Mampu Tinggi, Orang Kaya Lebih Pilih Punya 1 Anak
 Tingkat Kelahiran Keluarga Tak Mampu Tinggi, Orang Kaya Lebih Pilih Punya 1 Anak

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyebut pertumbuhan penduduk Indonesia hingga tahun 2045 akan lebih banyak disokong oleh keluarga miskin dan rentan miskin.

Hal ini ia sampaikan dalam paparan virtual pada Selasa (7/10/2025).

Dadan memaparkan data bahwa pertumbuhan penduduk Indonesia saat ini mencapai 6 orang per menit atau sekitar 3 juta per tahun dan diproyeksikan mencapai 324 juta jiwa pada 2045.

“Pertumbuhan penduduk Indonesia itu disokong oleh generasi yang lahir dari orang tua yang pendidikannya rata-rata hanya 9 tahun. Untuk Jawa Barat, rata-rata pendidikan orang tuanya hanya 8,8 tahun, sementara di Jawa Tengah hanya 8,01 tahun,” katanya.

Menurut Dadan, kelompok keluarga dengan pendapatan di bawah Rp1,2 juta per bulan memiliki tingkat kelahiran tertinggi.

Sebaliknya keluarga kelas atas atau orang kaya lebih memilih maksimal punya 1 anak.

“Kalau ada 100 keluarga miskin maka 78 keluarga anaknya 3 dan 22 keluarga anaknya 2. Sementara kelas atas itu anggota rumah tangganya hanya 2,84. Jadi kalau ada 100 keluarga kelas atas, 84 keluarga anaknya satu, sisanya 16 keluarga tidak punya anak,” jelasnya.

Dadan menambahkan hal serupa terjadi di kelas menengah yang rata-rata hanya memiliki 3,21 anggota keluarga. 

“Artinya kalau ada 100 keluarga kelas menengah, 21 keluarga anaknya 2 dan 79 keluarga anaknya 1,” katanya.

Dengan demikian, Dadan menegaskan bahwa pertumbuhan penduduk Indonesia tidak akan disokong oleh keluarga kelas menengah maupun atas, melainkan oleh keluarga miskin dan rentan miskin.

“Tidak heran jika 60 persen anak yang kita temui tidak punya akses terhadap menu dengan gizi seimbang. Mereka makan asal ada nasi, kerupuk, mie, atau bala-bala. Semuanya karbohidrat. Hampir 60 persen dari mereka juga tidak pernah minum susu karena tidak mampu beli,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ia menegaskan kondisi itu menjadi alasan mengapa program makan bergizi (MBG) harus dijalankan secara masif untuk intervensi gizi bagi anak-anak sejak dalam kandungan hingga usia sekolah.

“Kalau mereka yang sekarang dalam kandungan tidak diintervensi gizi yang baik, kita khawatirkan mereka menjadi generasi dengan kualitas rendah dan tidak bisa bersaing dengan negara lain,” pungkasnya.

tribunnews.com
Diubah oleh creativeslen783 07-10-2025 17:08
aldonisticAvatar border
mokorevolusiAvatar border
areszzjayAvatar border
areszzjay dan 6 lainnya memberi reputasi
5
13.9K
41
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
692.4KThread57.5KAnggota
Tampilkan semua post
mokorevolusiAvatar border
mokorevolusi
#16
ini pendapat yg menyesatkan.

dulu RRC yang gini, malah jadi pidana jika lebih 1 anak

seteelah jadi budaya, stres sendiri,

masalah bukan dianak.


tapi kesempatan akses. setara.
kalo berpendapat itu jangan asal aja pak dadan. emoticon-Ngakak


ini framing bahwa orang miskin itu suka ternak (binatang lu buat lu lu yg , nyamain manusia sama hewan)

negeri ini besar kawan. banyak masalah itu otomatis. pasti banyak solusi juga


sdm banyak, tinggal poles. jika perlu model kopasus

orang miskin juga di urus negara ( yg bilang bukan ane tapi uud 1945) jelas kita beda sama negara lain. sekali kita agak beda. pancasila itu mah beda sama doktrin lain2


kalo ane sih maunya ada wamil juga kalo perlu. cuma karena kita doktrin semesta ya susah.

nama komeng, kalo beda ya jangan dbuly. emoticon-Cool
creativeslen783
indent.smk
indent.smk dan creativeslen783 memberi reputasi
2
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.