- Beranda
- Stories from the Heart
The Naive Winged Man & The Wicked Goddess Of Love
...
TS
Rebek22
The Naive Winged Man & The Wicked Goddess Of Love
Quote:

Quote:
Quote:
Quote:
ARC 1 : When Wisdom and Love Fall
PROLOG: Sekuntum Mawar Berduri
Venus
Venus
Banyak orang mengira namaku diambil dari sebuah planet dalam tata surya. Planet indah, terang, dan memesona. Venus—bintang kejora, bintang fajar—adalah yang pertama menyapa pagi.
Tapi ayah pernah berkata, namaku bukan sekadar nama planet. Venus juga adalah Aphrodite, dewi kecantikan dalam mitologi Yunani. Sosok menawan yang diabadikan dalam rupa sempurna—cantik, indah, dan menggoda.
Ayah memberiku nama itu bukan tanpa alasan. Karena, menurutnya, nama adalah doa.
Dan doanya terkabul.
Aku terlahir dengan paras yang tak dapat disangkal. Cantik—bahkan terlalu cantik. Lesung pipi di wajahku bisa membuat siapa saja ingin menyentuh. Rambutku panjang menjuntai sampai punggung, hitam pekat serupa langit malam. Tubuh ramping, dan tidak hanya itu, aku juga dikaruniai suara yang seindah mimpi.
Keindahan ini menjadi tangga menuju impianku—menjadi diva paling terkenal di dunia. Aku ingin menghibur hati yang terluka, menyembuhkan raga yang diterpa sakit, menjadi suara bagi mereka yang terbungkam realita, serta menjadi cahaya bagi jiwa-jiwa yang tersesat.
Namun, tidak selamanya menjadi indah itu menyenangkan.
Layaknya mawar. Ia tercipta dengan mahkota yang begitu indah. Ia memiliki ragam warna dan setiap warna memiliki arti tersendiri dalam bahasa bunga. Biru untuk keajaiban. Putih untuk kesucian dan ketulusan. Sementara yang paling indah bagiku adalah merah, karena artinya cinta sejati. Walaupun demikian, aku rasa mawar yang paling melambangkan diriku justru mawar putih, karena ketulusan adalah sesuatu yang menggerakanku dalam bernyanyi.
Menurutmu, apa yang akan terjadi saat sesuatu terlalu menawan dan terlampau indah? Jawabannya sederhana: akan ada banyak jiwa yang terdorong untuk memilikinya. Mereka tak mau berbagi. Mereka hanya ingin menguasai.
Nafsu menggantikan nalar, hasrat menenggelamkan logika. Dan sekarang, aku menyaksikannya sendiri.
Tuhan tahu, mawar akan terus dipetik manusia karena raganya yang begitu indah. Maka dari itu, Dia menganugerahkannya tangkai yang dipenuhi duri untuk melindungi diri.
Sementara aku? Tuhan hanya menganugerahkan diri ini keindahan, tanpa satu pun hal yang bisa digunakan untuk melindungi diri. Aku begitu lemah di hadapan mereka yang telah dikuasai nafsu untuk memiliki raga ini.
Lima orang pria, para penggemar setia. Saat ini mereka saling bertarung di hadapanku. Mereka saling menghunus pisau dan melukai satu sama lain. Darah berceceran. Pisau mencabik daging. Satu per satu dari mereka merintih, kesakitan, hingga akhirnya mati.
Aku tidak percaya jika nyanyian indahku dibalas dengan jeritan penuh keputusasaan seperti ini
.
Apa salahku?
Bukankah keindahan itu anugerah?
Lantas, mengapa sekarang hal itu malah terasa seperti kutukan?
Apa yang bisa kulakukan selain terdiam? Aku ingin sekali berteriak, meminta mereka berhenti. Tapi lidah ini begitu kelu, karena ketakutan menjalar ke seluruh tubuhku.
Andai aku punya duri yang dapat melindungi raga ini.
Andai saja aku tidak terlahir begitu menawan...
Apakah ini salahku? Semua ini terjadi juga karena aku?
Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Mataku sudah tidak sanggup lagi melihat kengerian yang tergambar tepat di hadapanku. Mereka harus kuhentikan.
Jika tidak, maka akan ada nyawa yang melayang.
“Venus, beranikan dirimu. Kau adalah dewi cinta, maka tugasmu adalah menebarkan perasaan sayang,” bisikku dalam hati.
Aku telah memutuskan sesuatu. Benar, sebuah tindakan harus segera kuambil, apa pun risikonya.
Aku pun memberanikan diri untuk menurunkan tangan. Sialnya, gambaran pertama yang kulihat justru keadaan yang jauh lebih menakutkan. Salah satu dari mereka berhasil menebas kepala lawannya.
Aku terlambat.
Seseorang baru saja mati.
Seketika darah berhamburan ke segala arah, bahkan beberapa terciprat ke wajahku. Aroma amis dari cairan merah itu mulai tercium. Aku buru-buru mengelap darah di wajahku dengan tangan.
Namun, sebuah hasrat aneh tiba-tiba muncul, bersamaan dengan pemikiran yang sama sekali tak masuk akal.
“Bagaimanakah rasa darah?”
Rasa penasaran itu langsung mendorongku untuk menjilat tangan yang masih berlumuran darah. Dan pada akhirnya, aku benar-benar melakukannya.
Setelah itu, layaknya akar yang menyerap air, darah ini berhasil membuat sesuatu tumbuh di dalam diriku.
Seketika gemetar di sekujur tubuhku terhenti. Lalu aku berteriak pada mereka:
“Jangan berhenti! Berikan aku lebih banyak lagi warna. Ubahlah mahkota putihku ini menjadi merah dengan darah kalian!”
Kalian pikir aku akan meminta mereka berhenti? Ayolah, jangan bergurau. Justru aku menikmati pemandangan penuh darah seperti ini. Mengapa aku harus mengakhiri sesuatu yang sudah kumulai sendiri?
Aku adalah sekuntum mawar putih yang serakah. Tuhan menjadikanku lambang ketulusan, namun dengan keras aku menolaknya. Bagiku, ketulusan bukanlah hal yang indah, apalagi sesuatu yang bisa dibanggakan.
Maka dari itu aku melawan takdir, dengan terus melumuri raga ini dengan darah, hingga akhirnya aku menjadi mawar merah. Karena mawar merah adalah sesuatu yang cocok untuk menggambarkan diriku: cinta sejati dan hasrat.
Akulah yang membuat mereka saling membunuh. Itulah bentuk duriku: melemahkan nalar dengan nafsu, sehingga mereka bisa kuatur sesuka hati, bahkan untuk saling menghabisi nyawa.
Bahkan kalian sempat simpati padaku, bukan? Mengira aku adalah gadis lemah yang siap dimangsa oleh kelima orang ini.
Haha. Kalian salah! Akulah pemangsa yang sebenarnya. Akulah puncak rantai makanan di sini.
Aku adalah setangkai mawar yang tumbuh subur di atas pemakaman umum. Warnaku merah pekat, dipupuk oleh darah dari para jasad yang sudah tak terhitung jumlahnya. Duriku juga setajam pedang, karena akar ini telah melahap begitu banyak tulang rapuh yang remuk terhimpit tanah.
“Lagi! Lagi! Berikan aku lebih banyak darah!” teriakku sambil tertawa.
Diubah oleh Rebek22 04-10-2025 23:40
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
521
26
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Rebek22
#13
Chapter 9: suprise
Hestia
Malam ini, langit secara perlahan mulai mendung. Petir terus menyambar seakan saling bersahutan di sertai angit yang mulai bertiup kencang. Padahal tadi sore tidak ada tanda-tanda akan hujan sedikitpun. Sepertinya sang rembulan batal memberikan kemilaunya malam ini.
Ah, kenapa malam ini malah harus hujan.
Saat ini aku sedang termenung memandangi jalan dari jendela sebuah mobil yang melaju perlahan menelusuri jalanan ibu kota. Gerimis mulai turun sehingga para pengendara motor mulai menyingkir dari jalan untuk berteduh atau memakai jas hujan.
Aku bersyukur akan hal itu karena jalanan jadi lenggang dan perjalananku jadi lancar. Aku ingin segera sampai di apartemen, mandi, bersih-bersih dan mempersiapkan air hangat untuk abang Ikarus.
Semoga aku yang lebih dulu sampai.
Tadi kak Leo sempat memaksa agar aku mau di antar. Dia selalu begitu, merasa bertanggung jawab jika membuat kami pulang malam. Walaupun penampilan seperti penjahat, pada dasarnya dia adalah pria baik hati.
Namun aku menolak dan memilih naik taxi Online dengan beralasan kalau ada yang harus di beli lebih dahulu.
Entahlah, aku tidak suka ada yang mengetahui letak apartemen ku. Sejauh ini hanya Kana yang tau. Itupun dia baru tau letaknya, tidak tau nomor dan lantainya.
Abang Ikarus tidak pernah keberatan aku membawa teman ke apartemen, dia cenderung membebaskan diri ini untuk melakukan apapun karena menganggap adiknya sudah dewasa.
Namun tetap saja aku merasa sungkan untuk melakukannya. Hubunganku dengan abang Ikarus sangat baik, saling bercerita, saling terbuka dan lain sebagainya. Namun abang Ikarus adalah type orang yang tidak akan bertanya jika aku terlihat tidak mau bercerita. Selain itu ada hal rumit yang sulit di jelaskan di balik hubungan kami.
Mungkin itu jugalah yang menyebabkan aku menolak pacaran sampai saat ini dan dianggap menyimpang. Banyak laki-laki yang mengutarakan cintanya padaku, namun semua aku tolak sekalipun orang tersebut adalah laki-laki yang aku sukai juga.
Rasanya tidak benar jika aku terlalu bersenang-senang sementara dia berjuang menafkahi diri ini.
Sampai saat ini pun, aku belum pernah bercerita tentang eclair walaupun diri ini sudah bergabung cukup lama. Dia hanya tahu kalau aku ikut club, tapi tidak tahu kalau club yang aku ikuti adalah marching band dan bukan club dari sekolah. Sebab ketika dia bertanya club apa yang aku ikuti, wajahku langsung berubah panik dan itu membuatnya segera mengalihkan pembicaraan.
Aku khawatir dia menganggapku membuang-buang waktu dengan mengikuti kegiatan yang tidak menambah nilaiku di sekolah. Ya walaupun itu hanya persepsi pribadiku sih....
Pada dasarnya Abang tidak pernah menuntutku jadi juara kelas atau memiliki nilai yang bagus. Namun demi membalas perjuangannya aku ingin mempersembahkan nilai terbaik. Jadi aku menargetkan sendiri hal apa yang sekiranya bisa membuat pria itu senang yaitu nilai bagus dan juara kelas.
Tiba-tiba aku teringat pesan kak Leo tadi, dia bilang untuk acara lusa nanti kami boleh mengajak dua orang untuk ikut menonton. Terbesit di hatiku untuk mengajak abang Ikarus menonton, namun langsung urung karena aku tidak tau apakah dia sibuk atau tidak.
Aku ingin tau bagaimana responsnya saat aku menceritakan bahwa diri ini ikut club marching band di luar sekolah. Jika aku beritahu tentang eclair apakah dia akan setuju? Atau kah justru malah mendukung?
Ah, aku penasaran. Baiklah, malam ini aku akan menceritakan semuanya pada abang. Tidak boleh ada yang di tutupi dari sang penyelamat hidupku. Semua harus jelas bukan lagi sekedar persepsi. Jika dia melarang aku akan terima dan segera keluar dari eclair sekalipun itu berat. Namun jika dia setuju aku akan langsung mengundangnya melihat penampilanku.
Tanpa terasa mobilku sudah sampai di depan apartemen, dengan segera aku mengucapkan terima kasih kepada pak supir dan turun. Aku melangkah cepat memasuki apartemen karena gerimis sudah berubah menjadi hujan yang cukup lebat.
Setelah memasuki apartemen, aku menyapa resepsionis dan segera menuju lift yang terlihat kosong. Aku memasuki lift menekan tombol lantai enam dan benda ini pun segera mengantar ku ke atas.
Aku berjalan dengan cepat menelusuri lorong hingga pada akhirnya tibalah diri ini di depan pintu apartemen. Dengan segera aku membukanya, menaruh tas dan barang-barang kemudian mulai bersih-bersih serta menyiapkan air hangat di bethup untuk abang.
Setengah jam berlalu dan apartemen inipun berhasil aku buat mengkilap. Baiklah sekarang saatnya aku yang mandi. Dengan segera aku masuk ke kamar mandi dan mulai membasuh diri dengan shower. Walaupun sebenarnya Aku ingin berendam karena tubuh ini benar-benar berkeringat. Namun bethup sudah terisi air padas untuk abang. Jadi aku memutuskan untuk tidak melakukannya.
Selepas mandi dan mengeringkan diri, aku segera berganti pakaian tapi bukan dengan piyama melainkan kemeja putih dan celana jeans. Kemudian wajah ini tak lupa aku balut sedikit makeup. Aku yakin abang Ikarus akan memberiku kejutan, jadi aku tidak mau memakai piyama dan tanpa riasan saat hal itu terjadi.
Tiba-tiba, Bell apartemen berbunyi dan dengan segera aku melangkah ke luar kamar dan menuju pintu.
" Aku yakin itu Abang Ikarus, dia mau memberiku kejutan " Pikirku riang.
Pintupun terbuka namun bukan abang yang nampak di sana melainkan teman-temanku lengkap dengan kak Leo dan Kak Ara. Mereka membawa kue ulang tahun dengan lilin yang sudah menyala di atasnya.
" Suprise " Ujar mereka kompak.
" A.. Apa yang kalian lakukan di sini? " Ujarku bingung.
Perasaanku agak campur aduk, kecewa karena bukan bang Ikarus yang datang namun senang sebab mereka sampai jauh-jauh datang ke sini hanya untuk memberiku kejutan. Tunggu, bagaimana mereka tau apartemen ku?
" Selamat ulang tahun Tia " Ujar Kak Leo sambil masuk ke dalam apartemen.
" Leo kau tidak sopan " Tegur kak Ara.
" Dia pasti akan mempersilahkan kita masuk, jadi ya aku masuk saja duluan "
Serius si gondrong ini memang agak menyebalkan. Walaupun di satu sisi kak Leo juga ada benarnya. Setelah ini, mau tidak mau aku harus mempersilahkan mereka masuk.
" Silahkan masuk " Ujarku sambil tersenyum.
" Kami tidak akan merepotkanmu Tia, untuk makanan dan minuman kami sudah membawanya sendiri " Kata kak Ara sambil menunjukan kantong belanjaan yang penuh makanan.
Teman-temanku pun masuk dan aku mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa. Sejujurnya Aku tidak begitu tau cara menerima tamu, sebab tidak pernah ada yang datang berkunjung kemari selama ini. Jadi aku agak bingung harus apa, terlebih lagi jumlah mereka cukup banyak.
" Tidak aku sangka kau tinggal di apartemen Semewah ini " Puji Ana sambil memandangi interior tempat tinggal ku.
" Ah kau bisa saja Ana " Ujarku berusaha merendah.
" Tia, aku mau mie " Ujar kana sambil menunjukan dua bungkus mi instan.
" Kau sudah lapar lagi? Ya ampun untung patra tidak ikut. Jika iya kalian pasti akan lomba makan " Aku tertawa saat dia mengatakan hal itu.
" Hoi, kita belum ke bagian inti tapi kau malah minta makan " Ana menjitak pelan kepala kana.
" Tiuplah lilinnya kak Tia " ujar Rin sambil menyodorkan kue ulang tahun.
" Jangan lupa, buatlah permintaan "
Aku meniup lilin tersebut dan merekapun bertepuk tangan riang. Rasa sangat senang dan syukur langsung membanjiri hati ini. Sekarang aku di kelilingi orang-orang baik yang begitu peduli terhadapku seperti mereka. Tidak peduli seberat apa masa laluku, sekarang takdir telah menghadiahiku masa-masa indah ini. Ah senangnya.
" Jadi apa yang kau minta? " Tanya Kana.
" Kesuksesan eclair " Jawabku singkat.
" Itu saja? " Kana terlihat datar saat mengatakan hal tersebut.
" Dan bisa tetap berteman dengan kalian, selamanya " Ujarku sambil memeluk mereka satu persatu.
" Apa aku sudah bisa masak mie? " Tanya Kana saat aku memeluknya.
" Baca situasinya bodoh " Sekali lagi ana menjitak kepala Kana dan membuat semua orang tertawa.
" Dimana kakamu? " Tanya kak Ara.
" Aku rasa sebentar lagi dia pulang " Jawabku. Sambil berharap abang pulang tidak dalam keadaan lelah karena aku yakin kami akan berisik.
" Baiklah, mari kita bersenang-senang " Teriak Rin sambil mengeluarkan permainan Uno dari dalam tasnya.
" Bagaimana dengan mieku? " Tanya Kana lagi.
" Iya-iya aku buatkan untukmu " Jawabku sambil melangkah ke kompor.
" Biar aku saja, kau yang berulang tahun jadi harap bersenang-senang " Ujar Kana.
Aku pun menurut dan ikut duduk bersama yang lain. Kana langsung sibuk memasak air untuk mienya. Entahlah lambungnya ada berapa, padahal dia baru saja makan gorengan yang cukup banyak tapi sudah merasa lapar lagi.
" Baiklah, siapapun yang kalah harus kita beri hukuman. Satu permintaan dan yang kalah harus melakukannya " Ujar Rin sambil mulai mengocok kartu dan membagikannya.
Dia memberi kode dengan hentikan mata kepadaku dan Ana yang duduk bersebelahan lalu matanya melirik ke arah kak Leo.
Aku berfikir sejenak dan mulai paham maksudnya. Dia mau kita berkerja sama mengalahkan kak Leo. Ide yang menarik, mari kita kalahkan si gondrong ini agar aku bisa memintanya melakukan hal aneh.
Permainanpun di mulai, aku bekerja sama dengan rin dan Ana. Seberusaha mungkin kami membuat kak Leo mengambil kartu karena terkena plus. Sialnya kami lupa kalau dia jenius, sehingga yang menang pertama justru kak Leo.
" Terlalu cepat seribu tahun untuk mengalahkan ku dalam permainan ini, noda-noda " Ujarnya seolah sadar kalau kami bekerja sama.
" Ah si gondrong ini sangat hebat " Gerutu Rin.
Pada akhirnya yang kalah adalah Kak Ara. Dia menghela nafas dan pasrah karena tau kami akan memintanya melakukan hal aneh. Dia berkebalikan dengan pacarnya, kak Ara sepertinya payah dalam permainan kartu.
" Haha bersiaplah nona " Rin tertawa jahat.
" Sekarang permintaan dari kami adalah, kau harus menyentil dahi kak Leo " Ujar Ana sambil tertawa jahat juga. Serius aku baru pertama kali melihat Ana seperti ini, serendah itukah dia pada kak Leo?
" Hoi aku yang menang pertama kenapa malah jadi korban? " Gerutu kak Leo.
" Hoi gondrong, kemarilah biarkan aku menyentil kepalamu " Kak Ara sambil bangkit dari duduknya .
Entah mengapa dia justru terlihat senang karena permintaan kami itu. Dia terlihat mengepal tangannya dan bersiap-siap menyentil kak Leo. Tunggu, permintaan kami menyentil kan bukan memukul?
" Aku pulang " Tiba-tiba pintu terbuka dan sosok abang Ikarus muncul dari balik pintu.
" Selamat datang bang " Aku langsung bangkit dan melangkah menghampirinya.
" Wah ternyata ramai " Ujarnya sambil melangkah ke ruang tengah dan melepas jaketnya.
" Ah maaf agak ribut. Mereka adalah teman-temanku "
Aku memperkenalkan mereka ke abang dan meraih jaketnya. Dia terlihat membawa kota besar yang entah apa isinya. Sejujurnya sekarang aku khawatir kalau abang merasa terganggu dengan kehadiran mereka.
" halo kak, salam kenal aku Ikarus, kakanya Hestia. Terima kasih susah mah berteman dengan adikku "
" Ana, Rin, kak Leo, kak Ara dan yang sedang makan mie itu Kana " Aku memperkenalkan mereka semua kepada abang.
" Halo " Ujar mereka kompak kecuali kak Ara yang masih berdiri mematung membelakangi kak Ikarus.
" Oh iya, selamat ulang tahun perapian ku " Ujar Abang sambil membuka kotak yang dirinya bawa. Itu adalah kue ulang tahun yang cukup besar dan nampak mewah.
" Aku tau bukan diri ini yang mengucapkannya paling pertama. Namun, aku harap ini tetap terasa special untukmu " Ujar abang Ikarus sambil mengelus kepalaku.
Seketika hatiku menjerit riang. Aku benar-benar bersyukur karena memiliki kaka sepertinya.
" Kak Ikarus, tolong adopsi aku jadi adikmu " Celetuk Kana yang membuat semua orang tertawa.
" Oh iya, di sana ada cukup banyak makanan " Abang menunjuk kotak lainnya yang ia letakan di dekat pintu.
" Ah maaf kami merepotkan " Sahut kak Leo.
" Santai saja, aku malah senang karena kalian mau menemani Tia " Abang melangkah ke meja makan dan meletakan kue tadi di atasnya. " Kana Apa Kau suka Steak? Kebetulan aku membawa itu dan porsinya cukup banyak "
" Steak? " Kana nampak berbinar-binar.
" Kamu sudah makan mie Kana " Protes Ana.
" Kalian sedang main kartu ya, boleh aku ikut " Abangpun berjalan mendekat ke sofa ruang tengah.
" Tentu boleh, tapi yang kalah harus di hukum " Kata Rin yang menunjukan raut wajah mencurigakan.
" Kak Ara, masih harus menyentil kak Leo " Ana mengingatkan kami tentang hukuman yang harus di lakukan oleh si kalah.
" Sentil-sentil " Kana memprovokasi sambil memukul meja dan kami tertawa karenanya. Namun kak Ara masih diam mematung. Dia mulai menoleh ke arah abang tepat saat pria itu ada beberapa meter di belakangnya.
" Yo " Ujar kak Ara yang entah mengapa terdengar kesal.
Langkah abang Ikarus seketika terhenti saat melihat wajah kak Ara. Aku kurang begitu paham apa mengapa Abang diam, mungkinkah mereka saling kenal?
" Ara? " Abang Ikarus nampak kaget saat melihat wajah kak Ara.
Hanya berselang beberapa detik, tiba-tiba kak Ara meninju wajah abang dengan sangat keras. Tubuh pria itupun terjungkal ke belakang hingga dirinya jatuh menghantam lantai..
Malam ini, langit secara perlahan mulai mendung. Petir terus menyambar seakan saling bersahutan di sertai angit yang mulai bertiup kencang. Padahal tadi sore tidak ada tanda-tanda akan hujan sedikitpun. Sepertinya sang rembulan batal memberikan kemilaunya malam ini.
Ah, kenapa malam ini malah harus hujan.
Saat ini aku sedang termenung memandangi jalan dari jendela sebuah mobil yang melaju perlahan menelusuri jalanan ibu kota. Gerimis mulai turun sehingga para pengendara motor mulai menyingkir dari jalan untuk berteduh atau memakai jas hujan.
Aku bersyukur akan hal itu karena jalanan jadi lenggang dan perjalananku jadi lancar. Aku ingin segera sampai di apartemen, mandi, bersih-bersih dan mempersiapkan air hangat untuk abang Ikarus.
Semoga aku yang lebih dulu sampai.
Tadi kak Leo sempat memaksa agar aku mau di antar. Dia selalu begitu, merasa bertanggung jawab jika membuat kami pulang malam. Walaupun penampilan seperti penjahat, pada dasarnya dia adalah pria baik hati.
Namun aku menolak dan memilih naik taxi Online dengan beralasan kalau ada yang harus di beli lebih dahulu.
Entahlah, aku tidak suka ada yang mengetahui letak apartemen ku. Sejauh ini hanya Kana yang tau. Itupun dia baru tau letaknya, tidak tau nomor dan lantainya.
Abang Ikarus tidak pernah keberatan aku membawa teman ke apartemen, dia cenderung membebaskan diri ini untuk melakukan apapun karena menganggap adiknya sudah dewasa.
Namun tetap saja aku merasa sungkan untuk melakukannya. Hubunganku dengan abang Ikarus sangat baik, saling bercerita, saling terbuka dan lain sebagainya. Namun abang Ikarus adalah type orang yang tidak akan bertanya jika aku terlihat tidak mau bercerita. Selain itu ada hal rumit yang sulit di jelaskan di balik hubungan kami.
Mungkin itu jugalah yang menyebabkan aku menolak pacaran sampai saat ini dan dianggap menyimpang. Banyak laki-laki yang mengutarakan cintanya padaku, namun semua aku tolak sekalipun orang tersebut adalah laki-laki yang aku sukai juga.
Rasanya tidak benar jika aku terlalu bersenang-senang sementara dia berjuang menafkahi diri ini.
Sampai saat ini pun, aku belum pernah bercerita tentang eclair walaupun diri ini sudah bergabung cukup lama. Dia hanya tahu kalau aku ikut club, tapi tidak tahu kalau club yang aku ikuti adalah marching band dan bukan club dari sekolah. Sebab ketika dia bertanya club apa yang aku ikuti, wajahku langsung berubah panik dan itu membuatnya segera mengalihkan pembicaraan.
Aku khawatir dia menganggapku membuang-buang waktu dengan mengikuti kegiatan yang tidak menambah nilaiku di sekolah. Ya walaupun itu hanya persepsi pribadiku sih....
Pada dasarnya Abang tidak pernah menuntutku jadi juara kelas atau memiliki nilai yang bagus. Namun demi membalas perjuangannya aku ingin mempersembahkan nilai terbaik. Jadi aku menargetkan sendiri hal apa yang sekiranya bisa membuat pria itu senang yaitu nilai bagus dan juara kelas.
Tiba-tiba aku teringat pesan kak Leo tadi, dia bilang untuk acara lusa nanti kami boleh mengajak dua orang untuk ikut menonton. Terbesit di hatiku untuk mengajak abang Ikarus menonton, namun langsung urung karena aku tidak tau apakah dia sibuk atau tidak.
Aku ingin tau bagaimana responsnya saat aku menceritakan bahwa diri ini ikut club marching band di luar sekolah. Jika aku beritahu tentang eclair apakah dia akan setuju? Atau kah justru malah mendukung?
Ah, aku penasaran. Baiklah, malam ini aku akan menceritakan semuanya pada abang. Tidak boleh ada yang di tutupi dari sang penyelamat hidupku. Semua harus jelas bukan lagi sekedar persepsi. Jika dia melarang aku akan terima dan segera keluar dari eclair sekalipun itu berat. Namun jika dia setuju aku akan langsung mengundangnya melihat penampilanku.
Tanpa terasa mobilku sudah sampai di depan apartemen, dengan segera aku mengucapkan terima kasih kepada pak supir dan turun. Aku melangkah cepat memasuki apartemen karena gerimis sudah berubah menjadi hujan yang cukup lebat.
Setelah memasuki apartemen, aku menyapa resepsionis dan segera menuju lift yang terlihat kosong. Aku memasuki lift menekan tombol lantai enam dan benda ini pun segera mengantar ku ke atas.
Aku berjalan dengan cepat menelusuri lorong hingga pada akhirnya tibalah diri ini di depan pintu apartemen. Dengan segera aku membukanya, menaruh tas dan barang-barang kemudian mulai bersih-bersih serta menyiapkan air hangat di bethup untuk abang.
Setengah jam berlalu dan apartemen inipun berhasil aku buat mengkilap. Baiklah sekarang saatnya aku yang mandi. Dengan segera aku masuk ke kamar mandi dan mulai membasuh diri dengan shower. Walaupun sebenarnya Aku ingin berendam karena tubuh ini benar-benar berkeringat. Namun bethup sudah terisi air padas untuk abang. Jadi aku memutuskan untuk tidak melakukannya.
Selepas mandi dan mengeringkan diri, aku segera berganti pakaian tapi bukan dengan piyama melainkan kemeja putih dan celana jeans. Kemudian wajah ini tak lupa aku balut sedikit makeup. Aku yakin abang Ikarus akan memberiku kejutan, jadi aku tidak mau memakai piyama dan tanpa riasan saat hal itu terjadi.
Tiba-tiba, Bell apartemen berbunyi dan dengan segera aku melangkah ke luar kamar dan menuju pintu.
" Aku yakin itu Abang Ikarus, dia mau memberiku kejutan " Pikirku riang.
Pintupun terbuka namun bukan abang yang nampak di sana melainkan teman-temanku lengkap dengan kak Leo dan Kak Ara. Mereka membawa kue ulang tahun dengan lilin yang sudah menyala di atasnya.
" Suprise " Ujar mereka kompak.
" A.. Apa yang kalian lakukan di sini? " Ujarku bingung.
Perasaanku agak campur aduk, kecewa karena bukan bang Ikarus yang datang namun senang sebab mereka sampai jauh-jauh datang ke sini hanya untuk memberiku kejutan. Tunggu, bagaimana mereka tau apartemen ku?
" Selamat ulang tahun Tia " Ujar Kak Leo sambil masuk ke dalam apartemen.
" Leo kau tidak sopan " Tegur kak Ara.
" Dia pasti akan mempersilahkan kita masuk, jadi ya aku masuk saja duluan "
Serius si gondrong ini memang agak menyebalkan. Walaupun di satu sisi kak Leo juga ada benarnya. Setelah ini, mau tidak mau aku harus mempersilahkan mereka masuk.
" Silahkan masuk " Ujarku sambil tersenyum.
" Kami tidak akan merepotkanmu Tia, untuk makanan dan minuman kami sudah membawanya sendiri " Kata kak Ara sambil menunjukan kantong belanjaan yang penuh makanan.
Teman-temanku pun masuk dan aku mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa. Sejujurnya Aku tidak begitu tau cara menerima tamu, sebab tidak pernah ada yang datang berkunjung kemari selama ini. Jadi aku agak bingung harus apa, terlebih lagi jumlah mereka cukup banyak.
" Tidak aku sangka kau tinggal di apartemen Semewah ini " Puji Ana sambil memandangi interior tempat tinggal ku.
" Ah kau bisa saja Ana " Ujarku berusaha merendah.
" Tia, aku mau mie " Ujar kana sambil menunjukan dua bungkus mi instan.
" Kau sudah lapar lagi? Ya ampun untung patra tidak ikut. Jika iya kalian pasti akan lomba makan " Aku tertawa saat dia mengatakan hal itu.
" Hoi, kita belum ke bagian inti tapi kau malah minta makan " Ana menjitak pelan kepala kana.
" Tiuplah lilinnya kak Tia " ujar Rin sambil menyodorkan kue ulang tahun.
" Jangan lupa, buatlah permintaan "
Aku meniup lilin tersebut dan merekapun bertepuk tangan riang. Rasa sangat senang dan syukur langsung membanjiri hati ini. Sekarang aku di kelilingi orang-orang baik yang begitu peduli terhadapku seperti mereka. Tidak peduli seberat apa masa laluku, sekarang takdir telah menghadiahiku masa-masa indah ini. Ah senangnya.
" Jadi apa yang kau minta? " Tanya Kana.
" Kesuksesan eclair " Jawabku singkat.
" Itu saja? " Kana terlihat datar saat mengatakan hal tersebut.
" Dan bisa tetap berteman dengan kalian, selamanya " Ujarku sambil memeluk mereka satu persatu.
" Apa aku sudah bisa masak mie? " Tanya Kana saat aku memeluknya.
" Baca situasinya bodoh " Sekali lagi ana menjitak kepala Kana dan membuat semua orang tertawa.
" Dimana kakamu? " Tanya kak Ara.
" Aku rasa sebentar lagi dia pulang " Jawabku. Sambil berharap abang pulang tidak dalam keadaan lelah karena aku yakin kami akan berisik.
" Baiklah, mari kita bersenang-senang " Teriak Rin sambil mengeluarkan permainan Uno dari dalam tasnya.
" Bagaimana dengan mieku? " Tanya Kana lagi.
" Iya-iya aku buatkan untukmu " Jawabku sambil melangkah ke kompor.
" Biar aku saja, kau yang berulang tahun jadi harap bersenang-senang " Ujar Kana.
Aku pun menurut dan ikut duduk bersama yang lain. Kana langsung sibuk memasak air untuk mienya. Entahlah lambungnya ada berapa, padahal dia baru saja makan gorengan yang cukup banyak tapi sudah merasa lapar lagi.
" Baiklah, siapapun yang kalah harus kita beri hukuman. Satu permintaan dan yang kalah harus melakukannya " Ujar Rin sambil mulai mengocok kartu dan membagikannya.
Dia memberi kode dengan hentikan mata kepadaku dan Ana yang duduk bersebelahan lalu matanya melirik ke arah kak Leo.
Aku berfikir sejenak dan mulai paham maksudnya. Dia mau kita berkerja sama mengalahkan kak Leo. Ide yang menarik, mari kita kalahkan si gondrong ini agar aku bisa memintanya melakukan hal aneh.
Permainanpun di mulai, aku bekerja sama dengan rin dan Ana. Seberusaha mungkin kami membuat kak Leo mengambil kartu karena terkena plus. Sialnya kami lupa kalau dia jenius, sehingga yang menang pertama justru kak Leo.
" Terlalu cepat seribu tahun untuk mengalahkan ku dalam permainan ini, noda-noda " Ujarnya seolah sadar kalau kami bekerja sama.
" Ah si gondrong ini sangat hebat " Gerutu Rin.
Pada akhirnya yang kalah adalah Kak Ara. Dia menghela nafas dan pasrah karena tau kami akan memintanya melakukan hal aneh. Dia berkebalikan dengan pacarnya, kak Ara sepertinya payah dalam permainan kartu.
" Haha bersiaplah nona " Rin tertawa jahat.
" Sekarang permintaan dari kami adalah, kau harus menyentil dahi kak Leo " Ujar Ana sambil tertawa jahat juga. Serius aku baru pertama kali melihat Ana seperti ini, serendah itukah dia pada kak Leo?
" Hoi aku yang menang pertama kenapa malah jadi korban? " Gerutu kak Leo.
" Hoi gondrong, kemarilah biarkan aku menyentil kepalamu " Kak Ara sambil bangkit dari duduknya .
Entah mengapa dia justru terlihat senang karena permintaan kami itu. Dia terlihat mengepal tangannya dan bersiap-siap menyentil kak Leo. Tunggu, permintaan kami menyentil kan bukan memukul?
" Aku pulang " Tiba-tiba pintu terbuka dan sosok abang Ikarus muncul dari balik pintu.
" Selamat datang bang " Aku langsung bangkit dan melangkah menghampirinya.
" Wah ternyata ramai " Ujarnya sambil melangkah ke ruang tengah dan melepas jaketnya.
" Ah maaf agak ribut. Mereka adalah teman-temanku "
Aku memperkenalkan mereka ke abang dan meraih jaketnya. Dia terlihat membawa kota besar yang entah apa isinya. Sejujurnya sekarang aku khawatir kalau abang merasa terganggu dengan kehadiran mereka.
" halo kak, salam kenal aku Ikarus, kakanya Hestia. Terima kasih susah mah berteman dengan adikku "
" Ana, Rin, kak Leo, kak Ara dan yang sedang makan mie itu Kana " Aku memperkenalkan mereka semua kepada abang.
" Halo " Ujar mereka kompak kecuali kak Ara yang masih berdiri mematung membelakangi kak Ikarus.
" Oh iya, selamat ulang tahun perapian ku " Ujar Abang sambil membuka kotak yang dirinya bawa. Itu adalah kue ulang tahun yang cukup besar dan nampak mewah.
" Aku tau bukan diri ini yang mengucapkannya paling pertama. Namun, aku harap ini tetap terasa special untukmu " Ujar abang Ikarus sambil mengelus kepalaku.
Seketika hatiku menjerit riang. Aku benar-benar bersyukur karena memiliki kaka sepertinya.
" Kak Ikarus, tolong adopsi aku jadi adikmu " Celetuk Kana yang membuat semua orang tertawa.
" Oh iya, di sana ada cukup banyak makanan " Abang menunjuk kotak lainnya yang ia letakan di dekat pintu.
" Ah maaf kami merepotkan " Sahut kak Leo.
" Santai saja, aku malah senang karena kalian mau menemani Tia " Abang melangkah ke meja makan dan meletakan kue tadi di atasnya. " Kana Apa Kau suka Steak? Kebetulan aku membawa itu dan porsinya cukup banyak "
" Steak? " Kana nampak berbinar-binar.
" Kamu sudah makan mie Kana " Protes Ana.
" Kalian sedang main kartu ya, boleh aku ikut " Abangpun berjalan mendekat ke sofa ruang tengah.
" Tentu boleh, tapi yang kalah harus di hukum " Kata Rin yang menunjukan raut wajah mencurigakan.
" Kak Ara, masih harus menyentil kak Leo " Ana mengingatkan kami tentang hukuman yang harus di lakukan oleh si kalah.
" Sentil-sentil " Kana memprovokasi sambil memukul meja dan kami tertawa karenanya. Namun kak Ara masih diam mematung. Dia mulai menoleh ke arah abang tepat saat pria itu ada beberapa meter di belakangnya.
" Yo " Ujar kak Ara yang entah mengapa terdengar kesal.
Langkah abang Ikarus seketika terhenti saat melihat wajah kak Ara. Aku kurang begitu paham apa mengapa Abang diam, mungkinkah mereka saling kenal?
" Ara? " Abang Ikarus nampak kaget saat melihat wajah kak Ara.
Hanya berselang beberapa detik, tiba-tiba kak Ara meninju wajah abang dengan sangat keras. Tubuh pria itupun terjungkal ke belakang hingga dirinya jatuh menghantam lantai..
creativeslen783 memberi reputasi
1