- Beranda
- Stories from the Heart
Umbra: When Lights Gone, Darkness Comes (Fiksi Horror)
...
TS
blessed88shop
Umbra: When Lights Gone, Darkness Comes (Fiksi Horror)
Hai agan²,
Numpang bikin lapak ya di mari. Ini horror fiksi yang aku buat.

Apa jadinya jika tempat liburan mewah justru menjadi mimpi buruk?
Darren hanya ingin melupakan masa lalu keluarganya yang berantakan. Tapi di Tirta Winaya Heritage, ia malah terseret ke dalam teror gaib yang mengintai setiap langkahnya.
Hantu, kutukan, dan misteri berdarah masa kolonial mulai menghantui malam-malam Darren.
Bisakah ia bertahan hidup dalam bayangan Umbra, atau justru ikut menjadi bagian dari kegelapan itu?
Aku lanjut chapter 1 ya dibawah. Kalo suka boleh donk di lemparin Cendol

Siang itu, ruang kerja Bu Angeline sunyi. Hanya dengung pendingin ruangan yang terdengar. Ponselnya tiba-tiba berdering—nama yang muncul jarang sekali: Anthony Alcander.
"Selamat siang, Pak Anthony," sapanya cepat, sedikit terkejut.
"Siang, Bu Angeline. Minggu ini putra saya, Erick, akan ke Giriwening. Dia tidak sendiri, ada temannya, Darren Pradipta. Anak itu ingin magang di resort."
Bu Angeline spontan mengambil pulpen. "Baik, Pak. Akan kami sambut dengan baik. Bagian apa yang diinginkan untuk Darren?"
"Tempatkan saja di keamanan. Anggap sebagai pembelajaran dari bawah. Perlakukan mereka sewajarnya, tanpa keistimewaan."
"Dipahami, Pak."
Anthony hanya menambahkan, "Saya percaya pada Anda," lalu menutup telepon.
Bu Angeline menatap layar ponsel yang gelap, hatinya sedikit berdebar. Putra pemilik resort datang, plus seorang anak muda asing yang akan bekerja di Giriwening. Ia bisa merasakan minggu yang sibuk—dan mungkin tidak biasa—sudah menunggu.
***
Kereta eksekutif melaju meninggalkan Jakarta, meninggalkan hiruk-pikuk kota dengan segala kerumitannya. Di kursi berhadapan, Erick Alcander duduk santai, earphone terpasang, sesekali mengunyah keripik sambil membuka media sosial. Di samping jendela, Darren Pradipta menatap pemandangan yang perlahan berubah: gedung tinggi berganti hamparan sawah hijau.
Suasana sunyi hingga Erick melepaskan earphonenya dan menatap Darren. "Lo nggak tidur dari tadi. Pikiran Lo kayaknya berat, ya?"
Darren menghela napas. "Lagi mikirin rumah."
"Nyokap bokap?" Erick menebak tepat.
Darren mengangguk. "Mereka lagi proses cerai. Udah lama nggak akur. Gue capek dengerin mereka ribut soal hal yang sama. Pulang ke rumah malah bikin stres."
Erick mengangguk, lalu mengulurkan sebotol teh dingin. "Minum dulu. Lo butuh istirahat. Giriwening tenang, jauh dari Jakarta. Lo bisa mulai tarik napas lagi di sana."
Darren menerima botol itu, tersenyum tipis. "Thanks. Gue bingung juga mau ke mana, tapi pas lo nawarin, entah kenapa gue langsung iya."
"Berarti insting Lo bener. Lagi pula, lo bisa bilang ini pelarian... atau liburan sambil kerja. Siapa tahu nemu arah baru," kata Erick dengan nada ringan.
Darren terkekeh. "Iya juga ya."
Erick kembali menyandarkan punggung ke kursi. "Delapan jam ke depan, bro. Siapin mental. Turun kereta, kita langsung ke stasiun kecil yang baunya campur solar sama sate keliling."
Darren tersenyum untuk pertama kalinya sejak berangkat, merasa sedikit lega.
Kereta akhirnya melambat dan berhenti di stasiun kecil dengan satu peron dan bangunan tua bercat pudar. Udara Giriwening terasa segar, bercampur aroma tanah basah dan kayu tua.
"Welcome to the jungle," gumam Erick sambil menatap sekeliling.
"Bukan jungle juga kali. Tapi beda banget sama Jakarta," jawab Darren.
Mereka menyeret koper keluar dan naik angkot hijau lumut. Supir, pria paruh baya dengan batik lengan pendek, bertanya, "Mau ke Tirta Winaya, Mas?"
"Iya, Pak. Dua orang," jawab Darren.
Di dalam angkot, Erick mengerutkan hidung. "Duh... bau jeruk nyegrak banget. Kayak cologne murah."
Darren menahan tawa. "Tahan, bro. Ini pengalaman hidup. Katanya lo mau belajar jadi rakyat jelata."
Erick memutar mata. "Gue bilang belajar hidup sederhana, bukan diserang bau pewangi norak."
Mereka duduk diam sepanjang perjalanan. Meski sederhana, Darren merasa damai. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kebebasan dari tekanan rumah dan pertengkaran orang tua.
***
Keesokan paginya, Darren datang ke kantor administrasi Tirta Winaya Heritage Resort. Kemeja putihnya bersih, celana pinjaman Erick sedikit kebesaran.
"Der, kancing atas lo belum dikancing," sindir Erick sambil menyerahkan sisir.
Darren mendesis geli. "Lo kayak nyokap gue, cerewet."
Mereka tertawa pelan, lalu masuk ke ruang personalia. Bu Raras, mengenakan cardigan hijau lembut, menyambut mereka ramah.
"Mas Darren ya? Silakan duduk. Ini cuma formalitas, jangan tegang," sapanya.
"Siap, Bu," jawab Darren sambil menatap sekeliling ruangan yang wangi melati.
Bu Raras membuka map. "Mas Darren akan ditempatkan di bagian keamanan, shift sore dulu. Sistem kita fleksibel, nanti bisa belajar ke bagian lain."
"Baik, Bu. Saya siap," jawab Darren.
"Yang penting, jaga sikap dan nama baik resort. Banyak tamu penting. Jangan takut bertanya kalau belum paham."
Darren mengangguk. "Mengerti, Bu."
"Satu lagi, jangan terlalu kaget kalau malam-malam suasana agak... berbeda," Bu Raras tersenyum sambil menutup map.
Darren menatapnya bingung. "Maksudnya, Bu?"
"Nanti juga tahu sendiri," jawab Bu Raras. "Selamat bergabung, Mas Darren."
Di luar, Erick menepuk pundak Darren. "Lolos, kan?"
"Lolos donk! Kan gue bawa anak bos," jawab Darren sambil tersenyum.
Mereka berjalan ke beranda kamar tamu semalam. Darren terhenti melihat lukisan besar dekat tangga sayap timur, seorang pria Jawa berpakaian bangsawan tempo dulu, wajahnya mirip Darren.
"Eh, mirip lo, sumpah. Tapi versi tuanya," gumam Erick.
Darren menatap lukisan itu, merasakan ada yang aneh dalam sorot mata pria di kanvas.
Setelah berkeliling, mereka duduk di beranda. Darren menatap langit senja, bersandar di kursi rotan.
"Rik, gue putusin buat ngekos aja. Gak enak numpang lama-lama di sini."
Erick menoleh cepat. "Lah, kenapa? Kan bisa sekamar sama gue."
Darren tersenyum. "Disini gue kerja, bukan tamu. Lagian gue gak enak sama staf lain."
Erick menghela napas. "Oke. Tapi kalau butuh apa-apa, langsung kabari gue."
"Thanks, bro," Darren menepuk bahu Erick. "Lo udah baik banget ngajak gue ke sini."
Tak lama, Darren pindah ke kos sederhana di tepi desa Giriwening, sekitar 15 menit jalan kaki dari resort. Rumah kos milik pasangan lansia, Pak Darno dan Bu Murni. Kamar kecil, berdinding kayu, menghadap kebun pisang, dengan tempat tidur single, meja kayu, dan rak buku tua.
Darren menyukai suasana itu. Angin sore membawa suara jangkrik dan aroma kayu bakar.
Di ruang tengah, Pak Darno memberi pesan sederhana. "Kalau malam dengar suara aneh, diem aja. Jangan disahutin."
Darren menoleh. "Suara apa, Pak?"
Pak Darno tersenyum sambil menyalakan rokoknya. "Desa ini penuh cerita, Nak. Yang penting jaga tata krama di tempat baru."
Darren mengangguk. "Siap, Pak."
Numpang bikin lapak ya di mari. Ini horror fiksi yang aku buat.
Spoiler for spoiler :

Apa jadinya jika tempat liburan mewah justru menjadi mimpi buruk?
Darren hanya ingin melupakan masa lalu keluarganya yang berantakan. Tapi di Tirta Winaya Heritage, ia malah terseret ke dalam teror gaib yang mengintai setiap langkahnya.
Hantu, kutukan, dan misteri berdarah masa kolonial mulai menghantui malam-malam Darren.
Bisakah ia bertahan hidup dalam bayangan Umbra, atau justru ikut menjadi bagian dari kegelapan itu?
Aku lanjut chapter 1 ya dibawah. Kalo suka boleh donk di lemparin Cendol


Spoiler for chapter 1:
Siang itu, ruang kerja Bu Angeline sunyi. Hanya dengung pendingin ruangan yang terdengar. Ponselnya tiba-tiba berdering—nama yang muncul jarang sekali: Anthony Alcander.
"Selamat siang, Pak Anthony," sapanya cepat, sedikit terkejut.
"Siang, Bu Angeline. Minggu ini putra saya, Erick, akan ke Giriwening. Dia tidak sendiri, ada temannya, Darren Pradipta. Anak itu ingin magang di resort."
Bu Angeline spontan mengambil pulpen. "Baik, Pak. Akan kami sambut dengan baik. Bagian apa yang diinginkan untuk Darren?"
"Tempatkan saja di keamanan. Anggap sebagai pembelajaran dari bawah. Perlakukan mereka sewajarnya, tanpa keistimewaan."
"Dipahami, Pak."
Anthony hanya menambahkan, "Saya percaya pada Anda," lalu menutup telepon.
Bu Angeline menatap layar ponsel yang gelap, hatinya sedikit berdebar. Putra pemilik resort datang, plus seorang anak muda asing yang akan bekerja di Giriwening. Ia bisa merasakan minggu yang sibuk—dan mungkin tidak biasa—sudah menunggu.
***
Kereta eksekutif melaju meninggalkan Jakarta, meninggalkan hiruk-pikuk kota dengan segala kerumitannya. Di kursi berhadapan, Erick Alcander duduk santai, earphone terpasang, sesekali mengunyah keripik sambil membuka media sosial. Di samping jendela, Darren Pradipta menatap pemandangan yang perlahan berubah: gedung tinggi berganti hamparan sawah hijau.
Suasana sunyi hingga Erick melepaskan earphonenya dan menatap Darren. "Lo nggak tidur dari tadi. Pikiran Lo kayaknya berat, ya?"
Darren menghela napas. "Lagi mikirin rumah."
"Nyokap bokap?" Erick menebak tepat.
Darren mengangguk. "Mereka lagi proses cerai. Udah lama nggak akur. Gue capek dengerin mereka ribut soal hal yang sama. Pulang ke rumah malah bikin stres."
Erick mengangguk, lalu mengulurkan sebotol teh dingin. "Minum dulu. Lo butuh istirahat. Giriwening tenang, jauh dari Jakarta. Lo bisa mulai tarik napas lagi di sana."
Darren menerima botol itu, tersenyum tipis. "Thanks. Gue bingung juga mau ke mana, tapi pas lo nawarin, entah kenapa gue langsung iya."
"Berarti insting Lo bener. Lagi pula, lo bisa bilang ini pelarian... atau liburan sambil kerja. Siapa tahu nemu arah baru," kata Erick dengan nada ringan.
Darren terkekeh. "Iya juga ya."
Erick kembali menyandarkan punggung ke kursi. "Delapan jam ke depan, bro. Siapin mental. Turun kereta, kita langsung ke stasiun kecil yang baunya campur solar sama sate keliling."
Darren tersenyum untuk pertama kalinya sejak berangkat, merasa sedikit lega.
Kereta akhirnya melambat dan berhenti di stasiun kecil dengan satu peron dan bangunan tua bercat pudar. Udara Giriwening terasa segar, bercampur aroma tanah basah dan kayu tua.
"Welcome to the jungle," gumam Erick sambil menatap sekeliling.
"Bukan jungle juga kali. Tapi beda banget sama Jakarta," jawab Darren.
Mereka menyeret koper keluar dan naik angkot hijau lumut. Supir, pria paruh baya dengan batik lengan pendek, bertanya, "Mau ke Tirta Winaya, Mas?"
"Iya, Pak. Dua orang," jawab Darren.
Di dalam angkot, Erick mengerutkan hidung. "Duh... bau jeruk nyegrak banget. Kayak cologne murah."
Darren menahan tawa. "Tahan, bro. Ini pengalaman hidup. Katanya lo mau belajar jadi rakyat jelata."
Erick memutar mata. "Gue bilang belajar hidup sederhana, bukan diserang bau pewangi norak."
Mereka duduk diam sepanjang perjalanan. Meski sederhana, Darren merasa damai. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kebebasan dari tekanan rumah dan pertengkaran orang tua.
***
Keesokan paginya, Darren datang ke kantor administrasi Tirta Winaya Heritage Resort. Kemeja putihnya bersih, celana pinjaman Erick sedikit kebesaran.
"Der, kancing atas lo belum dikancing," sindir Erick sambil menyerahkan sisir.
Darren mendesis geli. "Lo kayak nyokap gue, cerewet."
Mereka tertawa pelan, lalu masuk ke ruang personalia. Bu Raras, mengenakan cardigan hijau lembut, menyambut mereka ramah.
"Mas Darren ya? Silakan duduk. Ini cuma formalitas, jangan tegang," sapanya.
"Siap, Bu," jawab Darren sambil menatap sekeliling ruangan yang wangi melati.
Bu Raras membuka map. "Mas Darren akan ditempatkan di bagian keamanan, shift sore dulu. Sistem kita fleksibel, nanti bisa belajar ke bagian lain."
"Baik, Bu. Saya siap," jawab Darren.
"Yang penting, jaga sikap dan nama baik resort. Banyak tamu penting. Jangan takut bertanya kalau belum paham."
Darren mengangguk. "Mengerti, Bu."
"Satu lagi, jangan terlalu kaget kalau malam-malam suasana agak... berbeda," Bu Raras tersenyum sambil menutup map.
Darren menatapnya bingung. "Maksudnya, Bu?"
"Nanti juga tahu sendiri," jawab Bu Raras. "Selamat bergabung, Mas Darren."
Di luar, Erick menepuk pundak Darren. "Lolos, kan?"
"Lolos donk! Kan gue bawa anak bos," jawab Darren sambil tersenyum.
Mereka berjalan ke beranda kamar tamu semalam. Darren terhenti melihat lukisan besar dekat tangga sayap timur, seorang pria Jawa berpakaian bangsawan tempo dulu, wajahnya mirip Darren.
"Eh, mirip lo, sumpah. Tapi versi tuanya," gumam Erick.
Darren menatap lukisan itu, merasakan ada yang aneh dalam sorot mata pria di kanvas.
Setelah berkeliling, mereka duduk di beranda. Darren menatap langit senja, bersandar di kursi rotan.
"Rik, gue putusin buat ngekos aja. Gak enak numpang lama-lama di sini."
Erick menoleh cepat. "Lah, kenapa? Kan bisa sekamar sama gue."
Darren tersenyum. "Disini gue kerja, bukan tamu. Lagian gue gak enak sama staf lain."
Erick menghela napas. "Oke. Tapi kalau butuh apa-apa, langsung kabari gue."
"Thanks, bro," Darren menepuk bahu Erick. "Lo udah baik banget ngajak gue ke sini."
Tak lama, Darren pindah ke kos sederhana di tepi desa Giriwening, sekitar 15 menit jalan kaki dari resort. Rumah kos milik pasangan lansia, Pak Darno dan Bu Murni. Kamar kecil, berdinding kayu, menghadap kebun pisang, dengan tempat tidur single, meja kayu, dan rak buku tua.
Darren menyukai suasana itu. Angin sore membawa suara jangkrik dan aroma kayu bakar.
Di ruang tengah, Pak Darno memberi pesan sederhana. "Kalau malam dengar suara aneh, diem aja. Jangan disahutin."
Darren menoleh. "Suara apa, Pak?"
Pak Darno tersenyum sambil menyalakan rokoknya. "Desa ini penuh cerita, Nak. Yang penting jaga tata krama di tempat baru."
Darren mengangguk. "Siap, Pak."
Spoiler for All Chapter :
Diubah oleh blessed88shop 06-09-2025 07:56
bukhorigan memberi reputasi
1
88
Kutip
3
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blessed88shop
#1
Umbra: When Lights Gone, Darkness Comes (Chapter 2)
Spoiler for chapter 2:
Malam pertama Darren bertugas, udara di ruang keamanan terasa lebih dingin dari yang ia bayangkan. Ruangan itu kecil, hanya cukup untuk dua kursi putar dan meja dengan tiga monitor yang menampilkan belasan sudut resort. Dinding kayu gelap menimbulkan kesan hangat, tapi AC yang menyala membuat suhu tetap menusuk kulit.
Partnernya malam itu adalah Bagas, seorang pemuda berkulit sawo matang dengan logat Jawa medhok yang kental. Rambutnya dipotong cepak, dan sikapnya santai. Ia duduk dengan kaki selonjor, mengenakan jaket seragam bertuliskan "Tirta Winaya Security Team."
"Mas Darren, yo?" sapa Bagas sambil tersenyum. "Kerjaan iki enak, ndelok TV tok, tapi ojo sampe ketiduran."
Darren ikut tertawa kecil. "Siap, Mas. Tapi kayaknya saya belum bisa tidur juga. Shift malam pertama memang bikin deg-degan."
"Lha yo wajar. Aku pas malam pertama juga deg-degan. Tak kira bakal ndelok hantu," Bagas bergumam sambil membuka bungkus kacang rebus.
Darren menoleh, heran. "Baru ya, Mas?"
"Baru tiga minggu, Mas. Jadi kita ini sama-sama anak baru. Tapi soal makan, aku seniornya!" Bagas tersenyum bangga sambil menyodorkan segenggam kacang kepada Darren.
Mereka duduk bersama, tertawa ringan. Suasana santai itu membuat Darren merasa sedikit lega. Ternyata partner kerjanya cukup kocak dan tidak kaku.
Tiba-tiba salah satu monitor menampilkan area kolam renang yang sedang digunakan untuk pemotretan malam. Sekelompok wanita dengan gaun tipis berdiri di bawah lampu sorot, berpose untuk kamera.
"Oalah... iki sing katanya model majalah," komentar Bagas sambil mengerutkan alis. "Kok bajune mini banget. Padahal hawane adem."
Darren menahan tawa. "Namanya juga pemotretan. Mereka memang harus tahan demi hasil foto bagus."
Bagas tersenyum nakal. "Nek kaya gini, tak jagain sampe pagi juga gak opo-opo. Aman, tentrem, ngademke mata..."
Darren mengangkat alis sambil tersenyum. "Halah, Mas..."
"Lha piye, iki juga bagian dari pengamanan visual," Bagas menepuk dadanya sambil tersenyum. "Njaga supaya gak ada yang... nyasar ke hati."
Darren tertawa kecil, lalu menatap monitor lain. "Eh, Mas Bagas, kalau ada kejadian aneh beneran, biasanya gimana?"
Bagas menoleh, wajahnya tiba-tiba serius. "Kita lapor langsung. Tapi kalau yang kelihatan bukan manusia... ya mending pura-pura gak lihat, Mas."
Darren mengernyit. "Maksudnya?"
Bagas tersenyum tipis, menatap layar. "Pokoknya, nek pas ndelok sesuatu sing aneh banget, jangan langsung panik. Belum tentu yang muncul manusia."
Jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam. Bagas bangkit dari kursi, menggeliat. "Mas, tak ke dapur dulu. Masih ada sisa nasi box resepsi siang tadi. Lumayan buat ganjel perut."
Darren mengangguk, mengucek matanya. "Oke, Mas. Ati-ati ya."
Saat Bagas keluar, Darren menyesap kopi yang mulai dingin. Ia menatap monitor satu per satu. Sebagian besar tampak sepi—lobi gelap, taman hening, kolam renang hanya memantulkan lampu. Namun matanya terpaku pada monitor yang menyorot lorong belakang Paviliun Kenanga.
Di situ, seorang wanita berdiri. Gaunnya panjang, lusuh, berwarna putih. Rambutnya basah menempel di punggung. Ia membelakangi kamera, tak bergerak sama sekali.
Darren mencondongkan tubuh, memperhatikan. Tidak ada ponsel, tangan tetap di sisi tubuh, napas bahkan tak terlihat di udara dingin. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Tiba-tiba pintu ruang CCTV terbuka. Brakk. Bagas masuk membawa kotak nasi dan kantong plastik besar. Aroma masakan memenuhi ruangan.
"Mas! Sisa resepsi tadi siang, porsinya mewah!" Bagas berseru sambil membuka bungkus.
Darren menunjuk monitor. "Mas, tadi di lorong Kenanga... ada wanita berdiri. Liat."
Bagas mendekat, duduk di sebelah Darren. Namun layar itu kosong. Hanya lantai licin, dinding kayu, dan lampu temaram.
"Hah?" Darren bergumam. "Tadi... ada orang."
Bagas mengunyah pelan, menatap Darren. "Mungkin tamu yang lagi gabut. Udah biarin aja. Yang penting pas checkout bayar."
Darren diam, hatinya gelisah. Ia tahu apa yang ia lihat. Itu bukan bayangan, dan bukan tamu biasa.
Setelah makan malam sederhana, Darren bersandar di kursi, meneguk air mineral. Baru saja menaruh gelas, salah satu layar monitor tiba-tiba gelap—kamera lorong Paviliun Kenanga mati.
"Hah? Lho, kok mati?" gumam Darren. Ia menekan beberapa tombol, tapi layar tetap hitam.
Bagas ikut menoleh, dahi berkerut. "Eh lhoh... kok ngono to? Padahal kamera baru, Mas. Kemaren masih bagus, kabel ora longgar blas."
Setelah beberapa detik hening, Bagas tersenyum. "Mending langsung cek TKP aja. Sopo ngerti mung colokan sing kendor. Kabel anyar kadang yo doyan ngambek."
Darren menatapnya ragu. "Tengah malam gini loh, Gas."
Bagas tertawa. "Nek ngenteni esuk, bisa dimarahin Pak Jamal. Sopo ngerti bisa ketemu mbak-mbak model yang tadi."
Ia berjalan keluar membawa tangga lipat dan kotak perkakas. Darren tersenyum kecil, tapi begitu pintu tertutup, suasana ruangan terasa berbeda. Dingin AC terasa lebih menusuk, lebih lembab. Ia menatap layar lain, memastikan semuanya normal.
Salah satu layar kecil di pojok kanan bawah tiba-tiba berkedip cepat, lalu kembali normal. Sesaat tadi, seperti ada bayangan yang lewat. Darren menyipitkan mata. Lorong itu kosong.
Ia menarik napas panjang. "Mungkin cuma error biasa," gumamnya. Namun tubuhnya tetap tegang, bulu kuduk masih berdiri.
***
Sementara itu, Bagas sudah tiba di lantai dua Paviliun Kenanga. Lorong di sana lengang, hanya diterangi lampu redup yang menggantung di langit-langit kayu tua. Udara terasa pengap meski semua jendela tertutup rapat.
Ia berhenti sebentar, menghela napas. "Kok hawane aneh yo," gumamnya pelan sambil menoleh ke kiri dan kanan. Tangannya membuka panel kecil di dinding, lalu mulai mengecek konektor dengan obeng. Semua kabel tampak terpasang rapi, tidak ada yang longgar atau rusak.
"Nek kabel'e normal, trus kenapa kok bisa mati?" Bagas berbisik pada dirinya sendiri.
Ia menutup panel, lalu berdiri perlahan. Matanya otomatis menyapu lorong panjang itu. Kosong. Tapi entah kenapa, bulu tengkuknya berdiri. Ada rasa seakan sedang diawasi, meskipun tak ada siapa pun di sana.
Bagas menoleh cepat ke belakang. Masih sama—sepi. Ia terkekeh, meski nadanya lebih terdengar gugup ketimbang santai. "Halah... sial. Mulai halu iki..."
Ia menunduk, merogoh tas perkakas, hendak mengambil gulungan lakban. Baru saja ujung jarinya hampir menyentuh benda itu, lampu lorong berkedip sekali. Tidak lama, hanya sepersekian detik. Saat lampu kembali stabil, sudut matanya menangkap sesuatu: sekelebat kain lusuh berwarna putih, menyelinap ke balik salah satu pintu kamar yang tertutup.
Bagas terhenti. Nafasnya mendadak berat. Ia menegakkan badan, mencoba menajamkan pandangan. Sunyi di lorong terasa semakin pekat, sampai-sampai dentang jam tua di ujung lorong terdengar terlalu keras, seolah menggema lebih panjang dari biasanya.
"Gusti..." suaranya lirih, hampir tak terdengar.
Ia berdiri kaku, kedua kaki terasa berat menempel di lantai. Ada dorongan kuat untuk lari, tapi ia justru memaksa diri melangkah maju. Obeng di tangannya kini lebih mirip pegangan untuk menenangkan diri daripada alat kerja.
Di depan kamar bernomor 7, ia berhenti. Dadanya naik-turun tak beraturan. Dengan ragu, ia menempelkan telinga ke daun pintu. Tidak ada suara. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
Tiba-tiba, pintu itu terbuka dengan keras.
Seorang pria tambun keluar, mengenakan piyama satin warna marun. Kumisnya tebal, wajahnya keras, dan tatapannya menusuk. Suaranya berat saat membentak.
"Heh! SOPO KOWE! Berani-beraninya nguping di kamar orang!"
Bagas terbelalak. Jantungnya serasa meloncat ke tenggorokan. Ia mengenali pria itu: Pak Broto, pengusaha batik kaya raya yang sedang menginap di resort, terkenal galak sekaligus genit.
"S-saya minta maaf, Pak..." Bagas tergagap. "Saya kira kamar ini kosong. Saya cuma mau ngecek kabel."
Pak Broto mendengus, menatap tajam dari kepala sampai kaki. "Lain kali ojo sembrono. Tanya dulu ke resepsionis. Nek ora, tak lapor ke atasanmu. Ngerti?"
"Iya, Pak... maaf, Pak." Bagas menunduk dalam, buru-buru mundur beberapa langkah. Obeng di tangannya terasa tak berguna sama sekali.
Pak Broto masih menatap tajam sebelum akhirnya menutup pintu kembali. Suara engsel pintu berderit singkat, lalu lorong kembali sunyi.
Bagas menarik napas panjang, lalu mempercepat langkahnya menjauh. Dalam hati ia lega bisa lolos dari amarah Pak Broto, tapi rasa tidak enak yang sejak tadi menempel di lorong itu belum benar-benar hilang.
Di dalam kamar, Pak Broto menjatuhkan tubuhnya ke sofa empuk. Ia menghela napas panjang, lalu menyalakan rokok elektrik. Asap tipis mengepul di udara. Sesekali ia melirik jam dinding, seolah menunggu sesuatu.
Beberapa menit berlalu. Ketukan pelan terdengar di pintu.
Pak Broto bangkit, merapikan kerah piyamanya yang agak terbuka, lalu menyisir rambutnya dengan jari. Senyum tipis muncul di wajahnya.
Saat pintu dibuka, seorang wanita muda berdiri di ambang. Wajahnya berparas indo, kulitnya pucat dan halus, rambut hitam panjang tergerai rapi. Aroma parfum manis menyeruak, memenuhi udara.
Pak Broto tertegun sejenak, hampir saja bersiul. "Nah... iki to sing tak tunggu-tunggu," ucapnya dengan senyum genit. "Cantik tenan. Mestinya bilang dari tadi, bisa tak jemput di lobi."
Wanita itu hanya tersenyum tipis. Tatapannya tenang, terlalu tenang, hingga terasa dingin. Ia tidak menjawab. Hanya memainkan ujung rambutnya perlahan.
Pak Broto melongok keluar lorong sebentar, memastikan tak ada orang, lalu membuka pintu lebih lebar. "Monggo, ayo masuk. Ojo sungkan. Kamar iki wis tak siapke. AC dingin, kopi panas... kabeh lengkap."
Ia tertawa kecil, puas dengan ucapannya sendiri. Wanita itu melangkah masuk tanpa suara, gerakannya halus tapi kaku.
Pak Broto menutup pintu pelan. Senyumnya semakin lebar, matanya berbinar penuh antusias. "Wah... malam iki pasti dadi kenangan," gumamnya.
Di luar kamar, lorong kembali sunyi. Tapi di dalam, udara perlahan berubah semakin dingin.
***
Bagas kembali ke ruang CCTV dengan wajah masam. Obeng di tangannya ia lempar pelan ke atas meja, lalu menjatuhkan diri ke kursi yang berderit lirih.
"Ya ampun... galak banget itu tamu," gerutunya sambil menyilangkan tangan di dada. "Rasanya kayak dianggap rampok aja."
Darren, yang sejak tadi duduk bersandar di kursi sebelah, hanya melirik sekilas. "Biasa. Kalau ketemu model begitu, pura-pura bego aja. Aman." Suaranya datar, tanpa sedikit pun berusaha menghibur.
Bagas mendengus. "VVIP, tapi mulutnya kayak kenek bis antarkota. Mana nyolot banget lagi."
Darren tidak menanggapi. Pandangannya terpaku pada deretan monitor. Sesaat kemudian, ia mendadak menyipitkan mata.
"Eh... itu, lihat," katanya sambil menunjuk ke layar di pojok kanan atas.
Bagas menoleh cepat. Monitor menampilkan rekaman live dari area lobi. Tampak Pak Broto—tamu tambun berkumis yang baru saja ia temui—berlari tergopoh-gopoh. Piyamanya terbuka separuh, wajahnya pucat pasi, napasnya terengah-engah.
"Lho?! Itu kan tamu dari paviliun Kenanga?!" seru Bagas, hampir berdiri dari kursinya.
Darren ikut mengamati dengan dahi berkerut. "Dia kayak habis lihat setan..." ucapnya pelan.
Tanpa pikir panjang, Darren segera memundurkan rekaman ke beberapa menit sebelumnya—saat Pak Broto pertama kali membuka pintu paviliunnya.
Di layar terlihat jelas: Pak Broto berdiri di ambang pintu dengan wajah sumringah. Ia menoleh kiri-kanan, lalu melangkah ke samping, seolah mempersilakan seseorang masuk. Namun... tidak ada siapa pun di depan pintu.
Bagas spontan melongo. "Eh... kok nggak ada orang? Padahal aku lihat sendiri tadi, dia nyambut cewek indo blasteran! Rambut panjang, cakep gitu lho!"
Darren mengernyit, memperhatikan ulang. "Nggak ada siapa-siapa, Gas. Kameranya jelas fokus ke situ. Dari tadi nggak ada tamu yang datang, apalagi ngetuk pintu."
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Hanya terdengar suara dengungan mesin monitor dan kipas angin kecil di sudut ruangan. Bagas dan Darren saling pandang, wajah mereka sama-sama kaku.
Untuk memastikan, Darren membuka rekaman dari kamera luar paviliun. Mereka melihat pintu kamar Kenanga 7 terbuka sedikit... lalu menutup sendiri perlahan. Tidak ada orang keluar.
Bagas bergidik. "Ren... pintunya barusan nutup sendiri, kan?"
Darren masih menatap layar. "Mungkin... angin?" katanya ragu.
Bagas menggeleng cepat. "Nggak mungkin. Itu paviliun full AC. Rapat semua. Mana ada angin bisa masuk."
Keheningan kembali jatuh. Bagas menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi. Matanya masih menatap layar, tapi suaranya mengecil. "Aku serius, Ren... cewek itu senyum. Senyumnya manis, tapi dingin banget. Gayanya kayak cowok ketemu pacar lama."
Darren diam. Tangannya sibuk mengganti-ganti tampilan monitor, mencari sudut kamera lain, berharap ada satu lensa yang menangkap sesuatu. Namun yang mereka lihat tetap sama: pintu terbuka, Pak Broto memberi jalan, dan yang masuk hanyalah udara kosong.
Keringat dingin menetes dari pelipis Bagas. Ia menelan ludah. "Jangan-jangan... itu beneran setan?"
Darren tak lagi menjawab. Pandangannya kosong, wajahnya tegang. Dan entah kenapa, ruang CCTV yang biasanya pengap kini terasa jauh lebih dingin dari seharusnya.
***
Keesokan paginya, embun masih menempel di daun pisang dan semak liar yang membatasi jalan setapak di belakang resort. Tanah merah yang lembap terasa lengket di alas sandal saat Darren dan Bagas melangkah menuju sebuah warung kecil. Warung itu milik Bu Wati, bangunannya sederhana dari anyaman bambu dengan atap seng yang mulai berkarat. Bagi para karyawan, tempat itu sudah seperti markas rahasia untuk melarikan diri dari menu kantin resort yang hambar.
Di sana sudah ada beberapa wajah yang mereka kenal.
Ratih, petugas customer service shift malam, duduk santai sambil menghangatkan tangan di gelas teh.
Ucok, staf room service berbadan kekar, mengunyah tempe goreng sambil sesekali menyeruput kopi hitam.
Riko, bell boy asal Padang, asyik dengan piring lontong balap sambil melirik layar HP yang tak lepas dari tangannya.
Begitu Darren dan Bagas masuk, Bu Wati langsung menyapa dari balik panci kukusan.
"Lho, Bagas... mukamu kok kayak habis ditoyor ombak laut," candanya sambil menuangkan teh ke gelas kaleng.
Bagas hanya nyengir lelah. Wajahnya kusut, kantung matanya tebal.
"Bukan ombak laut, Bu... angin neraka." Ia menjatuhkan diri ke kursi panjang.
Ucok langsung ngakak, hampir tersedak kopinya. "Wih, ini pasti gara-gara Pak Broto, ya? Aku denger dia kabur dari paviliun semalam. Katanya cuma pakai piyama setengah terbuka! Hahaha, gila bener."
Darren yang baru saja meletakkan bungkus rokok di meja menoleh tenang. Belum sempat menyalakan sebatang pun, ia bertanya, "Kalian ada yang tahu pasti? Kenapa dia bisa kabur begitu?"
Ratih meneguk tehnya pelan, lalu ikut nimbrung. "Resepsionis pagi sih cerita... katanya Pak Broto lihat sesuatu di kamarnya."
"Lihat apaan?" tanya Riko, setengah malas tapi tetap penasaran.
Ucok mencondongkan badan, wajahnya berubah serius. "Dulu aku pernah dengar cerita dari Mas Mardi, satpam lama yang udah pensiun. Katanya paviliun Kenanga itu dulunya bangunan peninggalan Belanda. Tempat buat tamu kehormatan atau perwira VOC."
Ratih mengernyit. "Terus, maksudmu yang nongol itu... arwah orang Belanda?"
"Iya," jawab Ucok pelan. "Cerita lamanya, ada seorang noni cantik. Anak pejabat tinggi. Pacarnya tentara Belanda, tapi katanya kasar dan cemburuan. Noni itu disiksa sampai mati. Waktu ditemukan... wajahnya sudah hancur. Bibir robek, pelipis penuh darah."
Riko spontan nyeletuk, menepuk bahu Ucok. "Eh, bang... cerita kau macam radio horror jam dua belas malam! Jangan bikin orang takut sarapan di sini lah."
Ucok cuma nyengir. "Aku juga nggak ngalamin sendiri. Tapi Mas Mardi selalu bilang: kalau masuk paviliun Kenanga, jaga sikap. Hormati yang dulu tinggal di situ."
Bagas yang sedari tadi diam, mengusap wajahnya pelan. "Kalau itu bener... berarti roh itu udah lama berkeliaran. Dari zaman kolonial."
Ratih menghela napas, setengah tak percaya. "Tapi masa iya, hantu noni Belanda bisa berubah jadi cewek panggilan zaman sekarang? Kelewatan banget."
Ucok malah menyeringai. "Ya justru itu, Tih. Namanya juga makhluk halus. Bisa berubah rupa sesuka hati. Mungkin sekarang lebih 'kekinian' aja."
Semua terdiam. Angin pagi menyusup lewat celah dinding bambu, membuat bunyi gesekan halus. Entah kenapa, tak ada lagi yang melanjutkan obrolan.
Darren tetap diam. Matanya menatap jauh ke arah resort, yang terlihat samar di balik kabut tipis pagi. Paviliun Kenanga berdiri teduh, seolah tak ada yang salah. Tapi Darren tahu, ada sesuatu yang tidak beres di sana. Bukan sekadar cerita hantu. Lebih dalam dari itu. Sesuatu yang belum selesai.
Sawer cendol ya bang!



Diubah oleh blessed88shop 05-09-2025 21:04
0
Kutip
Balas