- Beranda
- Stories from the Heart
HOROR STORY - SANG PENUNGGU MALAM
...
TS
jurigciwidey
HOROR STORY - SANG PENUNGGU MALAM

SANG PENUNGGU MALAM
Quote:
Ternyata, kematian kakakku bukanlah sebuah kebetulan, aku yang menggantikan pekerjaannya akhirnya mengetahui sesuatu, bahwa rumah sakit yang dia jaga mempunyai suatu misteri gelap yang merenggut nyawanya.
Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi? karena kematiannya terlalu janggal untukku, dan ketika aku mulai bekerja, aku dihadapkan oleh peraturan aneh yang kakakku tulis ketika dia bekerja disana, dan ketika dia akan menulis aturan selanjutnya, dia meninggal.
Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi? karena kematiannya terlalu janggal untukku, dan ketika aku mulai bekerja, aku dihadapkan oleh peraturan aneh yang kakakku tulis ketika dia bekerja disana, dan ketika dia akan menulis aturan selanjutnya, dia meninggal.
Quote:
BAB 1 - SEBUAH TANGGUNG JAWAB
Perkenalkan, namaku Wisnu.
Aku sekarang berdiri di sebuah pemakaman yang sunyi, dengan sebuah makam baru yang masih dipenuhi oleh bunga dan nisan kayu yang baru saja ditancapkan ke tanah.
Aku hanya diam dan melihat makam baru itu sekarang, tanah merah basah bekas pemakaman itu masih menempel di ujung sepatuku pada saat itu.
Ingin rasanya aku pergi, namun terasa berat, sehingga aku hanya bisa berdiri dan menatap sebuah nama dari nisan kayu yang tertancap di ujung sana.
Ardiansyah, Kakak satu-satunya yang aku punya, kini namanya hanya terukir di sepotong kayu yang tertancap di sebuah gundukan tanah.
Beberapa orang yang mengantarkan kepergiannya berkata bahwa aku harus ikhlas, tapi bagaimana caranya? A Ardi adalah orang yang paling mengerti tentangku, bahkan dia berusaha untuk membantu mewujudkan cita-citaku dan meninggalkan cita-citanya pada saat itu.
Tapi, di umurnya yang masih muda, dia mendadak meninggal, dan hal itu terjadi ketika dia sedang bekerja.
Padahal, A Ardi adalah orang yang paling sehat yang paling aku kenal, dia sering puasa, jarang jajan, bahkan dia selalu menyuruhku yang tidak suka sayur ini untuk memakan sayuran.
Tapi, entah kenapa umurnya gampang sekali direnggut, apakah ini takdir? atau ada hal lain yang membuatnya menjadi seperti ini.
Para pelayat sudah berangsur pulang di pemakaman itu, dan kini hanya aku yang berdiri sendirian disana tanpa ada seseorang yang menemaniku sekarang.
"Wisnu..."
Tiba-tiba, dari arah belakang ada suara yang memanggilku, aku seketika menoleh, dan disana terlihat seorang pria datang dengan setelan jas yang rapi muncul dan berdiri di sampingku.
Wajahnya tampak familiar, karena aku pernah beberapa kali melihat fotonya dari hp A Ardi yang dia tunjukan kepadaku.
"Aku sangat berbela sungkawa atas apa yang terjadi dengan kakakmu," katanya dengan nada yang pelan.
Aku hanya mengangguk pelan sambil terdiam sebentar, setelah itu aku langsung berkata.
"Terima kasih pak," jawabku pelan sambil menunduk ke arah makam kakakku disana.
Dia adalah Pak Wijaya, pemilik jaringan Rumah Sakit Wangsa Medika yang merupakan tempat kakakku bekerja.
Pak Wijaya menatapku dengan tatapan yang sedih, lalu dia meletakan tangannya di bahuku dan berkata.
"Mungkin kamu sudah tahu, bahwa kakakmu Ardi adalah karyawan yang berdedikasi, dia adalah seorang pekerja keras, bahkan aku tahu bahwa kerja keras yang dia lakukan semata-mata untuk membantumu kuliah."
Aku kembali mengangguk, tidak ada jawaban dariku untuknya, aku hanya bisa diam dan mendengarkannya berbicara kepadaku pada saat itu.
"Aku tahu ini berat," lanjutnya.
"Tapi, tidak ada yang tahu bahwa Ardi akan meninggalkan kita secepat ini."
Kami terdiam beberapa saat, Pak Wijaya hanya menatap makam itu tanpa pernah berkata apapun lagi, aku hanya menatapnya sebentar, dan dia seperti sedang memikirkan sesuatu di depan makam kakakku sekarang.
"Wisnu," kata Pak Wijaya.
"Aku tahu masalahmu, apalagi ketika kamu harus membiayai kuliahmu sendiri ketika kakakmu tidak ada."
"Aku tidak bisa membantu banyak, tapi kalau kamu memang butuh untuk melanjutkan hidup setelah ditinggal oleh kakakmu, aku bisa menawarkan sebuah posisi yang ditinggalkan Ardi untuk kamu tempati."
Aku hanya bisa menatapnya secara perlahan, dan tak lama dia berkata kembali.
"Aku bisa membuat kamu bisa tetap untuk kuliah, di satu sisi kamu juga bisa mendapatkan uang untuk kamu hidup, aku akan membiayai kuliahmu, dan kamu juga akan bekerja untuk menggantikan Ardi agar kamu bisa pegangan untuk kehidupanmu.
"Aku membantumu semata-mata karena Ardi orang yang baik, dia adalah orang yang bisa dipercaya, dan aku harap kamu bisa mengikuti jejaknya."
Tawaran itu terdengar sangat logis, bekerja di rumah sakit tempat A Ardi bekerja, dan mereka akan membiayai kuliahku sehingga aku tidak perlu khawatir akan hidupku sendiri.
Tapi, aku sepertinya harus berpikir terlebih dahulu, aku harus menenangkan diriku atas semua hal yang terjadi kepada kakakku yang mendadak ini.
Aku hanya ingin diam, berfikir, dan membiasakan diri untuk bisa hidup sendirian, dan setelah itu, aku baru bisa memutuskan atas apa yang Pak Wijaya tawarkan.
"Terima kasih Pak. Tapi... sepertinya saya perlu waktu untuk berpikir terlebih dahulu," jawabku dengan nada yang pelan.
Pak Wijaya tersenyum pelan, dia tahu maksudku, sehingga dia tidak memaksa atas apa yang dia tawarkan pada saat itu.
"Tentu saja, aku tidak memaksa kamu untuk memberikan jawaban itu sekarang."
Pak Wijaya tiba-tiba merogoh sakunya dan membuka dompetnya yang tebal, setelah itu dia menyodorkan sebuah kartu nama kepadaku.
"Kalau kamu sudah tenang, kamu bisa langsung menghubungiku di nomor yang ada disana."
Aku menerima kartu nama itu, dan Pak Wijaya menepuk bahu ku kembali untuk pamit meninggalkan pemakaman itu.
Aku mengangguk pelan, dan tak lama kemudian, Pak Wijaya kembali berjalan ke gerbang pemakaman dan menaiki mobil hitam besar yang terparkir di luar sana, meninggalkan ku kembali sendirian di pemakaman ini dengan suasana hati yang sunyi dan kelam pada hari itu.
***
Setelah sore, aku akhirnya kembali, rumah kontrakan yang kami tempati kini terasa sepi setelah kakakku meninggalkanku sendirian di dunia ini.
Kontrakan sempit ini kini terasa luas, bahkan seperti ada yang hilang ketika aku sampai duduk di dalam sana.
Bau kapur barus masih tercium samar ketika aku masuk ke dalam kontrakan, juga dus-dus dari minuman kemasan masih berserakan dan belum aku bereskan. Selain itu, tikar milik Pak RT masih tergeletak begitu saja di sudut ruangan dan belum aku kembalikan pada sore itu.
Aku melihat bahwa barang-barang A Ardi masih ada di tempatnya, jaketnya yang menggantung, sepatunya yang lusuh, bahkan cangkir kopinya di dapur belum sempat aku bersihkan.
Barang-barang itu seperti sedang menunggu pemiliknya pulang, namun ternyata pemilik dari benda-benda itu tidak akan kembali selamanya.
Aku akhirnya duduk di lantai, menatap kondisi kontrakan yang sepi dan sunyi di sore itu. Terlihat di atas lemari pakaian yang berada di ruang tengah ada sebuah amplop dari Universitas tempatku kuliah.
Itu adalah tagihan semester yang sedang diusahakan oleh A Ardi untuk dibayar bulan ini.
Aku ingat bahwa dia selalu berkata bahwa aku harus belajar serius, dan aku tidak perlu memikirkan biaya kuliah karena dia akan menanggung semuanya.
A Ardi kerja siang dan malam, bahkan sampai beberapa hari tidak pulang ke rumah karena dia ingin membantuku agar aku kuliah dengan benar.
Tapi kini, semua itu sirna, entah apa yang akan aku lakukan kedepannya, dan ketika aku duduk kembali sambil melihat total tagihan tersebut, pikiranku melayang ke pagi ini.
Dimana pada saat itu, aku mendapatkan telepon dari tempat A Ardi bekerja, memberitahukan bahwa kakakku ditemukan tidak sadarkan diri di pos jaganya.
Mereka bilang bahwa A Ardi mendapatkan serangan jantung, dan hal itu adalah hal yang paling membuatku terkejut selama aku hidup di dunia ini.
Meskipun agak sedikit janggal, tapi mereka tidak mungkin berbohong, laporan dari dokter rumah sakit tersebut memastikan bahwa A Ardi benar-benar meninggal karena jantung.
Aku hanya bisa menunduk kembali, air mata muncul di kedua mataku secara perlahan, di depan para warga yang datang dan membantu pemakaman A Ardi, aku bisa tegar, namun ketika aku sendirian, aku tidak bisa setegar itu.
Aku hanya bisa menangis, meneteskan air mata di dalam kontrakan ini, dan ketika aku hanyut dalam kesedihan.
Pandanganku tiba-tiba tertuju kepada kartu nama dari Pak Wijaya yang tadi diberikan kepadaku.
Sebuah kartu nama berwarna hitam dan emas, dan aku ingat bahwa ada sebuah tawaran pekerjaan darinya ketika aku berada di pemakaman A Ardi pada siang itu.
Setelah melamun selama satu setengah jam, aku akhirnya memutuskan, bahwa hidup harus tetap berjalan, dan kuliah yang sudah setengah jalan ini harus aku selesaikan.
Aku tidak peduli tubuhku harus menanggung semuanya, kuliah di pagi hari dan kerja di malam hari adalah jalan yang terbaik, karena itu mungkin satu-satunya cara agar aku bisa melanjutkan hidup ini sendirian tanpa ada kakakku A Ardi yang menemaniku di kontrakan kecil ini.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, akhirnya mengambil HP di saku, dan aku menekan nomor di kartu itu.
"Hallo."
"Selamat sore, Pak Wijaya, ini aku, Wisnu." kataku dengan nada yang terbata-bata.
"Ah iya, Wisnu, ada apa?" tanya Pak Wijaya dengan nada yang sopan di dalam telepon tersebut.
"Aku sudah memikirkannya Pak, dan sepertinya, aku akan mengambil tawaran pekerjaan itu Pak," jawabku dengan nada yang pelan.
***
Keesokan harinya, aku akhirnya datang ke Rumah Sakit Wangsa Medika, setelah mencari tahu alamat yang ada di dalam kartu nama Pak Wijaya, aku akhirnya sampai ketika Pak Wijaya membuatkanku janji untuk bertemu dengan salah satu staff HRD yang ada disana.
Ketika aku sampai, aku tidak menyangka bahwa Rumah Sakit tempat kakakku bekerja adalah rumah sakit yang besar.
Gedungnya megah dan bersih, dan ketika aku sampai, aku langsung diarahkan ke bagian HRD oleh security yang ada di depan.
Mereka seperti tahu bahwa aku akan datang, sehingga aku tidak menemukan kesulitan apapun ketika aku sampai disana.
Ketika aku sampai, aku langsung disambut oleh seseorang yang mengenalkan dirinya dengan nama Rina, seorang staff HRD yang akan mengurus berkas-berkas ku kelak.
Bu Rina menjelaskan bahwa aku tidak perlu tes, dia hanya perlu meminta data untuk mengganti data A Ardi dengan dataku, bahkan dia berkata bahwa ada setengah gaji A Ardi yang belum dibayarkan, sehingga nanti akan ditransfer ketika waktu gajian tiba beserta gajiku ketika aku sudah bekerja.
Aku yang duduk di depan meja Bu Rina hanya bisa terdiam, aku benar-benar tidak menyangka bahwa kakakku kerja di tempat yang megah seperti ini.
A Ardi tidak pernah membicarakan hal itu kepadaku, dia tidak pernah bilang apa-apa, dia hanya berkata bahwa pekerjaan dia adalah sebagai penjaga rumah sakit, dan setelah itu, dia tidak memberitahu apapun, termasuk tentang tempat dia bekerja hingga dirinya meninggal.
"Pak Wisnu, ada amanat dari Pak Wijaya bahwa bapak akan bekerja di shift malam kan ya?" tanyanya dengan nada yang tenang.
Aku mengangguk pelan, dan tak lama kemudian aku langsung menjawab.
"Iya bu, karena siangnya aku kuliah, sehingga aku hanya bisa bekerja ketika malam saja."
Bu Rina tersenyum ketika mendengar jawabanku, dan tak lama kemudian dia menyodorkan aku beberapa formulir untuk aku isi. Setelah itu, aku menyerahkannya lagi setelah aku mengisinya dengan lengkap.
"Ok kalau begitu pak, jadi kapan Pak Wisnu siap untuk bekerja? mengingat kondisi Pak Ardi yang merupakan penjaga rumah sakit benar-benar dibutuhkan dengan cepat."
Aku terdiam sebentar, memikirkan jawaban yang tepat di depannya, aku tidak bisa larut dalam kesedihan, kehidupanku harus tetap berjalan, dan apabila aku terus berada di dalam kontrakan dalam waktu yang lama, kesedihan itu akan terus aku rasakan, sehingga aku harus segera mengalihkannya.
"Aku bisa bekerja dari mulai sore ini bu," jawabku dengan pelan.
Bu Rina tersenyum, dia tahu bahwa aku masih berkabung, namun aku langsung memutuskan untuk segera bekerja pada saat itu.
Tanpa bertanya lebih lanjut, Bu Rina hanya tersenyum pelan, dan tak lama kemudian, dia kembali berkata.
"Ok kalau misalkan Pak Wisnu sudah bisa langsung bekerja, berarti pulang dari sini Pak Wisnu harus bersiap-siap terlebih dahulu, dan jam lima sore bapak kembali lagi. Untuk masalah pekerjaan nanti, akan ada yang menjelaskannya ketika akan mulai bekerja."
Aku mengangguk pelan, setelah itu Bu Rina kembali menyodorkan satu lembar berisi gaji bulananku dan beberapa hal yang aku dapatkan ketika bekerja di tempat ini.
Disana, dia menyuruhku untuk menandatangani semuanya, dan setelah semuanya sudah aku tandatangani, dia akhirnya mengajakku untuk berjabat tangan.
"Selamat, kamu sekarang sudah menjadi bagian dari kami," katanya sambil tersenyum.
"Terima kasih bu." jawabku pelan.
Setelah menandatangani dokumen itu, akhirnya aku kembali pulang, Bu Rina memberikan beberapa nasehat agar aku membawa hal-hal yang dibutuhkan ketika aku bekerja di tempat ini, termasuk memakai salah satu baju kerja kakakku yang kini tersimpan rapi di lemari.
Aku mengikuti saran Bu Rina untuk mempersiapkan semuanya di dalam kontrakan, dan tepat jam lima sore, aku sudah kembali di rumah sakit untuk memulai pekerjaan ku pada saat itu.
Aku kembali diarahkan ke ruangan Bu Rina, dan ketika aku sampai di ruangan Bu Rina, dia malah mengajakku untuk keluar dan pergi ke parkiran belakang.
Terlihat disana ada sebuah mobil sedan berwarna hitam sudah menungguku di parkiran, terlihat pula seseorang yang berdiri disana sambil menyender di dekat mobil tersebut dan melirik ke arah kami berdua.
"Perkenalkan, itu Dayat, dia adalah orang yang akan mengantarkanmu ke tempatmu bekerja, karena aku tahu bahwa kamu kuliah, jadi Pak Wijaya menyuruh Dayat untuk mengantarkanmu bolak-balik ke rumah sakit ini," kata Bu Rina sambil mengenalkan Dayat yang ada di depanku.
Bu Rina juga mengenalkanku padanya, bahkan dia juga berkata bahwa aku adalah adiknya A Ardi, sehingga dia hanya tersenyum pelan kepadaku pada saat itu.
Aku terdiam sebentar dan bergumam.
"Hah? di antar? emang kakakku kerja dimana sih?"
Aku melirik ke arah Dayat dan dia mempersilahkan ku untuk masuk ke mobilnya.
Tanpa tahu aku akan dibawa kemana, akhirnya aku masuk dan mengikuti arahan dari Bu Rina. setelah itu dayat pun akhirnya pamit ke arah Bu Rina, dan tak lama kemudian, dia masuk ke dalam mobil tersebut dan menyalakannya untuk segera keluar dari rumah sakit ini.
"Pak, maaf, memangnya tempat kerjaku dimana ya?" tanyaku pelan.
Dayat hanya melirik ku dari kaca spion, dan tak lama kemudian dia menjawab.
"Emang kamu ga diberitahu oleh Bu Rina?" tanyanya kembali.
Aku hanya bisa menggelengkan kepalanya secara perlahan, kulihat mobil yang aku kendarai kini keluar dari kompek rumah sakit besar itu dan masuk ke jalanan besar yang ada di depan rumah sakit tersebut.
Dayat langsung menghela nafas panjang, sambil melirik ke arah spion, dia kembali berkata.
"Sepertinya kamu tidak tahu ya, bahwa pekerjaan kakakmu ini bukan menjaga rumah sakit ini, tapi ada rumah sakit lain yang letaknya agak jauh dari sini."
"Kamu tahu sendiri kan, kakakmu itu pulang seminggu sekali, karena ya tempat kerjanya memang jauh, ini aja aku harus antar jemput kamu karena perintah Pak Wijaya yang bilang kamu kuliah ketika siang."
Aku hanya bisa diam ketika Dayat berkata seperti itu kepadaku. Sebenarnya, dimana kakakku kerja apabila tidak di rumah sakit besar ini.
Aku kini hanya menatap ke arah jalan, melihat bahwa perjalananku kini mulai menjauhi perkotaan dan masuk ke pinggiran kota.
Suasana di kiri dan kanan jalan yang awalnya penuh dengan rumah-rumah warga, kini mulai berganti dengan pepohonan dan kebun-kebun warga yang ada di sisi kiri dan kanan.
Ini bukan jalan yang aku kenal, dan disana jantungku mulai berdebar sedikit kencang dengan perasaan yang tidak enak yang mulai merayap secara perlahan.
Setelah hampir tiga puluh menit, mobil tersebut akhirnya melambat, kulihat sebuah bangunan terbengkalai yang tertutup seng di sekelilingnya.
Terlihat pula sebuah gerbang besi yang tinggi dan tertutup rapat sehingga tidak terlihat dari luar.
Mobil itu berhenti di depannya, lalu tak lama dia menekan klakson selama beberapa kali, dan setelah itu, pintu gerbang besar itu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.
"Ini dimana Pak?" tanyaku kembali.
Aku tidak tahu akan dibawa kemana aku ini, namun Dayat berkata bahwa nanti ada yang menjelaskan di dalam sana.
Dia hanya berkata bahwa dia sudah sampai dan berhenti tepat di depan bangunan tua yang sudah tidak terpakai.
Tulisannya sama dengan tulisan Rumah Sakit yang tadi aku datangi, namun bangunan ini benar-benar kosong dan tidak berpenghuni.
Ketika kami turun, tiba-tiba dari arah gerbang ada seseorang yang tersenyum kepada kami berdua.
"Ini yang gantiin Ardi?" tanyanya dengan pelan.
Aku langsung berbalik, dan disana terlihat seorang pria kurus berumur lima puluhan menyapaku dan Dayat pada saat itu.
Dia mengenakan seragam seperti yang A Ardi kenakan, namun seragamnya nampak lebih kusam dan tak pernah dicuci.
Dia melihatku dari atas hingga kebawah, dan tak lama kemudian dia langsung menjulurkan tangannya.
"Namaku Tisna, dan kamu bisa memanggilku Pak Tisna," katanya dengan nada yang pelan.
"Aku adalah teman kerja kakakmu yang dulu kerja di tempat ini sebelum, bahkan ketika rumah sakit ini masih berdiri dan sekarang sudah pindah ke tempat yang baru."
Aku hanya mengerutkan keningku, A Ardi tidak pernah bercerita tentang hal ini, yang dia ceritakan hanyalah menjaga rumah sakit, namun ketika aku tahu bahwa rumah sakit itu pindah ke tempat yang baru, dan A Ardi tidak pernah membicarakannya apabila dia menjaga rumah sakit yang terbengkalai seperti ini.
Dayat yang pada saat itu ada di dekat mobil tiba-tiba berkata bahwa dia akan menjemputku lagi ketika pagi, dia kembali pamit karena dia harus mengantarkan Pak Wijaya untuk pulang, setelah itu dia kembali masuk ke dalam mobil dan menyalankannya untuk kembali ke rumah sakit baru yang letaknya agak jauh dari bangunan terbengkalai ini.
Aku pun mengangguk, dan setelah itu mobilnya keluar dari tempat itu dan Pak Tisna kembali mengunci gerbang itu dengan rapat.
"Ingat, pintu gerbang ini harus selalu terkunci, ini adalah pelajaran pertama ketika kamu kerja disini, karena kita tidak mau sampai yang ada di luar masuk dan yang di dalam bisa keluar, nanti repot."
Aku tidak tahu maksudnya apa, tapi aku hanya mengangguk dan berjalan mengikutinya ke pos jaga yang ada di depan rumah sakit yang terbengkalai itu.
"Sebenarnya, kerjamu lebih santai daripada para penjaga rumah sakit yang baru itu, disini tidak ada yang banyak kamu kerjakan," kata Pak Tisna sambil memberikanku satu gelas air putih yang ada di pos.
"Kamu cuman harus patroli sekali dalam satu malam, melakukan apa yang seharusnya kamu kerjakan selama disini, dan menyelesaikan tugas kakakmu yang tertunda."
Perkenalkan, namaku Wisnu.
Aku sekarang berdiri di sebuah pemakaman yang sunyi, dengan sebuah makam baru yang masih dipenuhi oleh bunga dan nisan kayu yang baru saja ditancapkan ke tanah.
Aku hanya diam dan melihat makam baru itu sekarang, tanah merah basah bekas pemakaman itu masih menempel di ujung sepatuku pada saat itu.
Ingin rasanya aku pergi, namun terasa berat, sehingga aku hanya bisa berdiri dan menatap sebuah nama dari nisan kayu yang tertancap di ujung sana.
Ardiansyah, Kakak satu-satunya yang aku punya, kini namanya hanya terukir di sepotong kayu yang tertancap di sebuah gundukan tanah.
Beberapa orang yang mengantarkan kepergiannya berkata bahwa aku harus ikhlas, tapi bagaimana caranya? A Ardi adalah orang yang paling mengerti tentangku, bahkan dia berusaha untuk membantu mewujudkan cita-citaku dan meninggalkan cita-citanya pada saat itu.
Tapi, di umurnya yang masih muda, dia mendadak meninggal, dan hal itu terjadi ketika dia sedang bekerja.
Padahal, A Ardi adalah orang yang paling sehat yang paling aku kenal, dia sering puasa, jarang jajan, bahkan dia selalu menyuruhku yang tidak suka sayur ini untuk memakan sayuran.
Tapi, entah kenapa umurnya gampang sekali direnggut, apakah ini takdir? atau ada hal lain yang membuatnya menjadi seperti ini.
Para pelayat sudah berangsur pulang di pemakaman itu, dan kini hanya aku yang berdiri sendirian disana tanpa ada seseorang yang menemaniku sekarang.
"Wisnu..."
Tiba-tiba, dari arah belakang ada suara yang memanggilku, aku seketika menoleh, dan disana terlihat seorang pria datang dengan setelan jas yang rapi muncul dan berdiri di sampingku.
Wajahnya tampak familiar, karena aku pernah beberapa kali melihat fotonya dari hp A Ardi yang dia tunjukan kepadaku.
"Aku sangat berbela sungkawa atas apa yang terjadi dengan kakakmu," katanya dengan nada yang pelan.
Aku hanya mengangguk pelan sambil terdiam sebentar, setelah itu aku langsung berkata.
"Terima kasih pak," jawabku pelan sambil menunduk ke arah makam kakakku disana.
Dia adalah Pak Wijaya, pemilik jaringan Rumah Sakit Wangsa Medika yang merupakan tempat kakakku bekerja.
Pak Wijaya menatapku dengan tatapan yang sedih, lalu dia meletakan tangannya di bahuku dan berkata.
"Mungkin kamu sudah tahu, bahwa kakakmu Ardi adalah karyawan yang berdedikasi, dia adalah seorang pekerja keras, bahkan aku tahu bahwa kerja keras yang dia lakukan semata-mata untuk membantumu kuliah."
Aku kembali mengangguk, tidak ada jawaban dariku untuknya, aku hanya bisa diam dan mendengarkannya berbicara kepadaku pada saat itu.
"Aku tahu ini berat," lanjutnya.
"Tapi, tidak ada yang tahu bahwa Ardi akan meninggalkan kita secepat ini."
Kami terdiam beberapa saat, Pak Wijaya hanya menatap makam itu tanpa pernah berkata apapun lagi, aku hanya menatapnya sebentar, dan dia seperti sedang memikirkan sesuatu di depan makam kakakku sekarang.
"Wisnu," kata Pak Wijaya.
"Aku tahu masalahmu, apalagi ketika kamu harus membiayai kuliahmu sendiri ketika kakakmu tidak ada."
"Aku tidak bisa membantu banyak, tapi kalau kamu memang butuh untuk melanjutkan hidup setelah ditinggal oleh kakakmu, aku bisa menawarkan sebuah posisi yang ditinggalkan Ardi untuk kamu tempati."
Aku hanya bisa menatapnya secara perlahan, dan tak lama dia berkata kembali.
"Aku bisa membuat kamu bisa tetap untuk kuliah, di satu sisi kamu juga bisa mendapatkan uang untuk kamu hidup, aku akan membiayai kuliahmu, dan kamu juga akan bekerja untuk menggantikan Ardi agar kamu bisa pegangan untuk kehidupanmu.
"Aku membantumu semata-mata karena Ardi orang yang baik, dia adalah orang yang bisa dipercaya, dan aku harap kamu bisa mengikuti jejaknya."
Tawaran itu terdengar sangat logis, bekerja di rumah sakit tempat A Ardi bekerja, dan mereka akan membiayai kuliahku sehingga aku tidak perlu khawatir akan hidupku sendiri.
Tapi, aku sepertinya harus berpikir terlebih dahulu, aku harus menenangkan diriku atas semua hal yang terjadi kepada kakakku yang mendadak ini.
Aku hanya ingin diam, berfikir, dan membiasakan diri untuk bisa hidup sendirian, dan setelah itu, aku baru bisa memutuskan atas apa yang Pak Wijaya tawarkan.
"Terima kasih Pak. Tapi... sepertinya saya perlu waktu untuk berpikir terlebih dahulu," jawabku dengan nada yang pelan.
Pak Wijaya tersenyum pelan, dia tahu maksudku, sehingga dia tidak memaksa atas apa yang dia tawarkan pada saat itu.
"Tentu saja, aku tidak memaksa kamu untuk memberikan jawaban itu sekarang."
Pak Wijaya tiba-tiba merogoh sakunya dan membuka dompetnya yang tebal, setelah itu dia menyodorkan sebuah kartu nama kepadaku.
"Kalau kamu sudah tenang, kamu bisa langsung menghubungiku di nomor yang ada disana."
Aku menerima kartu nama itu, dan Pak Wijaya menepuk bahu ku kembali untuk pamit meninggalkan pemakaman itu.
Aku mengangguk pelan, dan tak lama kemudian, Pak Wijaya kembali berjalan ke gerbang pemakaman dan menaiki mobil hitam besar yang terparkir di luar sana, meninggalkan ku kembali sendirian di pemakaman ini dengan suasana hati yang sunyi dan kelam pada hari itu.
***
Setelah sore, aku akhirnya kembali, rumah kontrakan yang kami tempati kini terasa sepi setelah kakakku meninggalkanku sendirian di dunia ini.
Kontrakan sempit ini kini terasa luas, bahkan seperti ada yang hilang ketika aku sampai duduk di dalam sana.
Bau kapur barus masih tercium samar ketika aku masuk ke dalam kontrakan, juga dus-dus dari minuman kemasan masih berserakan dan belum aku bereskan. Selain itu, tikar milik Pak RT masih tergeletak begitu saja di sudut ruangan dan belum aku kembalikan pada sore itu.
Aku melihat bahwa barang-barang A Ardi masih ada di tempatnya, jaketnya yang menggantung, sepatunya yang lusuh, bahkan cangkir kopinya di dapur belum sempat aku bersihkan.
Barang-barang itu seperti sedang menunggu pemiliknya pulang, namun ternyata pemilik dari benda-benda itu tidak akan kembali selamanya.
Aku akhirnya duduk di lantai, menatap kondisi kontrakan yang sepi dan sunyi di sore itu. Terlihat di atas lemari pakaian yang berada di ruang tengah ada sebuah amplop dari Universitas tempatku kuliah.
Itu adalah tagihan semester yang sedang diusahakan oleh A Ardi untuk dibayar bulan ini.
Aku ingat bahwa dia selalu berkata bahwa aku harus belajar serius, dan aku tidak perlu memikirkan biaya kuliah karena dia akan menanggung semuanya.
A Ardi kerja siang dan malam, bahkan sampai beberapa hari tidak pulang ke rumah karena dia ingin membantuku agar aku kuliah dengan benar.
Tapi kini, semua itu sirna, entah apa yang akan aku lakukan kedepannya, dan ketika aku duduk kembali sambil melihat total tagihan tersebut, pikiranku melayang ke pagi ini.
Dimana pada saat itu, aku mendapatkan telepon dari tempat A Ardi bekerja, memberitahukan bahwa kakakku ditemukan tidak sadarkan diri di pos jaganya.
Mereka bilang bahwa A Ardi mendapatkan serangan jantung, dan hal itu adalah hal yang paling membuatku terkejut selama aku hidup di dunia ini.
Meskipun agak sedikit janggal, tapi mereka tidak mungkin berbohong, laporan dari dokter rumah sakit tersebut memastikan bahwa A Ardi benar-benar meninggal karena jantung.
Aku hanya bisa menunduk kembali, air mata muncul di kedua mataku secara perlahan, di depan para warga yang datang dan membantu pemakaman A Ardi, aku bisa tegar, namun ketika aku sendirian, aku tidak bisa setegar itu.
Aku hanya bisa menangis, meneteskan air mata di dalam kontrakan ini, dan ketika aku hanyut dalam kesedihan.
Pandanganku tiba-tiba tertuju kepada kartu nama dari Pak Wijaya yang tadi diberikan kepadaku.
Sebuah kartu nama berwarna hitam dan emas, dan aku ingat bahwa ada sebuah tawaran pekerjaan darinya ketika aku berada di pemakaman A Ardi pada siang itu.
Setelah melamun selama satu setengah jam, aku akhirnya memutuskan, bahwa hidup harus tetap berjalan, dan kuliah yang sudah setengah jalan ini harus aku selesaikan.
Aku tidak peduli tubuhku harus menanggung semuanya, kuliah di pagi hari dan kerja di malam hari adalah jalan yang terbaik, karena itu mungkin satu-satunya cara agar aku bisa melanjutkan hidup ini sendirian tanpa ada kakakku A Ardi yang menemaniku di kontrakan kecil ini.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, akhirnya mengambil HP di saku, dan aku menekan nomor di kartu itu.
"Hallo."
"Selamat sore, Pak Wijaya, ini aku, Wisnu." kataku dengan nada yang terbata-bata.
"Ah iya, Wisnu, ada apa?" tanya Pak Wijaya dengan nada yang sopan di dalam telepon tersebut.
"Aku sudah memikirkannya Pak, dan sepertinya, aku akan mengambil tawaran pekerjaan itu Pak," jawabku dengan nada yang pelan.
***
Keesokan harinya, aku akhirnya datang ke Rumah Sakit Wangsa Medika, setelah mencari tahu alamat yang ada di dalam kartu nama Pak Wijaya, aku akhirnya sampai ketika Pak Wijaya membuatkanku janji untuk bertemu dengan salah satu staff HRD yang ada disana.
Ketika aku sampai, aku tidak menyangka bahwa Rumah Sakit tempat kakakku bekerja adalah rumah sakit yang besar.
Gedungnya megah dan bersih, dan ketika aku sampai, aku langsung diarahkan ke bagian HRD oleh security yang ada di depan.
Mereka seperti tahu bahwa aku akan datang, sehingga aku tidak menemukan kesulitan apapun ketika aku sampai disana.
Ketika aku sampai, aku langsung disambut oleh seseorang yang mengenalkan dirinya dengan nama Rina, seorang staff HRD yang akan mengurus berkas-berkas ku kelak.
Bu Rina menjelaskan bahwa aku tidak perlu tes, dia hanya perlu meminta data untuk mengganti data A Ardi dengan dataku, bahkan dia berkata bahwa ada setengah gaji A Ardi yang belum dibayarkan, sehingga nanti akan ditransfer ketika waktu gajian tiba beserta gajiku ketika aku sudah bekerja.
Aku yang duduk di depan meja Bu Rina hanya bisa terdiam, aku benar-benar tidak menyangka bahwa kakakku kerja di tempat yang megah seperti ini.
A Ardi tidak pernah membicarakan hal itu kepadaku, dia tidak pernah bilang apa-apa, dia hanya berkata bahwa pekerjaan dia adalah sebagai penjaga rumah sakit, dan setelah itu, dia tidak memberitahu apapun, termasuk tentang tempat dia bekerja hingga dirinya meninggal.
"Pak Wisnu, ada amanat dari Pak Wijaya bahwa bapak akan bekerja di shift malam kan ya?" tanyanya dengan nada yang tenang.
Aku mengangguk pelan, dan tak lama kemudian aku langsung menjawab.
"Iya bu, karena siangnya aku kuliah, sehingga aku hanya bisa bekerja ketika malam saja."
Bu Rina tersenyum ketika mendengar jawabanku, dan tak lama kemudian dia menyodorkan aku beberapa formulir untuk aku isi. Setelah itu, aku menyerahkannya lagi setelah aku mengisinya dengan lengkap.
"Ok kalau begitu pak, jadi kapan Pak Wisnu siap untuk bekerja? mengingat kondisi Pak Ardi yang merupakan penjaga rumah sakit benar-benar dibutuhkan dengan cepat."
Aku terdiam sebentar, memikirkan jawaban yang tepat di depannya, aku tidak bisa larut dalam kesedihan, kehidupanku harus tetap berjalan, dan apabila aku terus berada di dalam kontrakan dalam waktu yang lama, kesedihan itu akan terus aku rasakan, sehingga aku harus segera mengalihkannya.
"Aku bisa bekerja dari mulai sore ini bu," jawabku dengan pelan.
Bu Rina tersenyum, dia tahu bahwa aku masih berkabung, namun aku langsung memutuskan untuk segera bekerja pada saat itu.
Tanpa bertanya lebih lanjut, Bu Rina hanya tersenyum pelan, dan tak lama kemudian, dia kembali berkata.
"Ok kalau misalkan Pak Wisnu sudah bisa langsung bekerja, berarti pulang dari sini Pak Wisnu harus bersiap-siap terlebih dahulu, dan jam lima sore bapak kembali lagi. Untuk masalah pekerjaan nanti, akan ada yang menjelaskannya ketika akan mulai bekerja."
Aku mengangguk pelan, setelah itu Bu Rina kembali menyodorkan satu lembar berisi gaji bulananku dan beberapa hal yang aku dapatkan ketika bekerja di tempat ini.
Disana, dia menyuruhku untuk menandatangani semuanya, dan setelah semuanya sudah aku tandatangani, dia akhirnya mengajakku untuk berjabat tangan.
"Selamat, kamu sekarang sudah menjadi bagian dari kami," katanya sambil tersenyum.
"Terima kasih bu." jawabku pelan.
Setelah menandatangani dokumen itu, akhirnya aku kembali pulang, Bu Rina memberikan beberapa nasehat agar aku membawa hal-hal yang dibutuhkan ketika aku bekerja di tempat ini, termasuk memakai salah satu baju kerja kakakku yang kini tersimpan rapi di lemari.
Aku mengikuti saran Bu Rina untuk mempersiapkan semuanya di dalam kontrakan, dan tepat jam lima sore, aku sudah kembali di rumah sakit untuk memulai pekerjaan ku pada saat itu.
Aku kembali diarahkan ke ruangan Bu Rina, dan ketika aku sampai di ruangan Bu Rina, dia malah mengajakku untuk keluar dan pergi ke parkiran belakang.
Terlihat disana ada sebuah mobil sedan berwarna hitam sudah menungguku di parkiran, terlihat pula seseorang yang berdiri disana sambil menyender di dekat mobil tersebut dan melirik ke arah kami berdua.
"Perkenalkan, itu Dayat, dia adalah orang yang akan mengantarkanmu ke tempatmu bekerja, karena aku tahu bahwa kamu kuliah, jadi Pak Wijaya menyuruh Dayat untuk mengantarkanmu bolak-balik ke rumah sakit ini," kata Bu Rina sambil mengenalkan Dayat yang ada di depanku.
Bu Rina juga mengenalkanku padanya, bahkan dia juga berkata bahwa aku adalah adiknya A Ardi, sehingga dia hanya tersenyum pelan kepadaku pada saat itu.
Aku terdiam sebentar dan bergumam.
"Hah? di antar? emang kakakku kerja dimana sih?"
Aku melirik ke arah Dayat dan dia mempersilahkan ku untuk masuk ke mobilnya.
Tanpa tahu aku akan dibawa kemana, akhirnya aku masuk dan mengikuti arahan dari Bu Rina. setelah itu dayat pun akhirnya pamit ke arah Bu Rina, dan tak lama kemudian, dia masuk ke dalam mobil tersebut dan menyalakannya untuk segera keluar dari rumah sakit ini.
"Pak, maaf, memangnya tempat kerjaku dimana ya?" tanyaku pelan.
Dayat hanya melirik ku dari kaca spion, dan tak lama kemudian dia menjawab.
"Emang kamu ga diberitahu oleh Bu Rina?" tanyanya kembali.
Aku hanya bisa menggelengkan kepalanya secara perlahan, kulihat mobil yang aku kendarai kini keluar dari kompek rumah sakit besar itu dan masuk ke jalanan besar yang ada di depan rumah sakit tersebut.
Dayat langsung menghela nafas panjang, sambil melirik ke arah spion, dia kembali berkata.
"Sepertinya kamu tidak tahu ya, bahwa pekerjaan kakakmu ini bukan menjaga rumah sakit ini, tapi ada rumah sakit lain yang letaknya agak jauh dari sini."
"Kamu tahu sendiri kan, kakakmu itu pulang seminggu sekali, karena ya tempat kerjanya memang jauh, ini aja aku harus antar jemput kamu karena perintah Pak Wijaya yang bilang kamu kuliah ketika siang."
Aku hanya bisa diam ketika Dayat berkata seperti itu kepadaku. Sebenarnya, dimana kakakku kerja apabila tidak di rumah sakit besar ini.
Aku kini hanya menatap ke arah jalan, melihat bahwa perjalananku kini mulai menjauhi perkotaan dan masuk ke pinggiran kota.
Suasana di kiri dan kanan jalan yang awalnya penuh dengan rumah-rumah warga, kini mulai berganti dengan pepohonan dan kebun-kebun warga yang ada di sisi kiri dan kanan.
Ini bukan jalan yang aku kenal, dan disana jantungku mulai berdebar sedikit kencang dengan perasaan yang tidak enak yang mulai merayap secara perlahan.
Setelah hampir tiga puluh menit, mobil tersebut akhirnya melambat, kulihat sebuah bangunan terbengkalai yang tertutup seng di sekelilingnya.
Terlihat pula sebuah gerbang besi yang tinggi dan tertutup rapat sehingga tidak terlihat dari luar.
Mobil itu berhenti di depannya, lalu tak lama dia menekan klakson selama beberapa kali, dan setelah itu, pintu gerbang besar itu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.
"Ini dimana Pak?" tanyaku kembali.
Aku tidak tahu akan dibawa kemana aku ini, namun Dayat berkata bahwa nanti ada yang menjelaskan di dalam sana.
Dia hanya berkata bahwa dia sudah sampai dan berhenti tepat di depan bangunan tua yang sudah tidak terpakai.
Tulisannya sama dengan tulisan Rumah Sakit yang tadi aku datangi, namun bangunan ini benar-benar kosong dan tidak berpenghuni.
Ketika kami turun, tiba-tiba dari arah gerbang ada seseorang yang tersenyum kepada kami berdua.
"Ini yang gantiin Ardi?" tanyanya dengan pelan.
Aku langsung berbalik, dan disana terlihat seorang pria kurus berumur lima puluhan menyapaku dan Dayat pada saat itu.
Dia mengenakan seragam seperti yang A Ardi kenakan, namun seragamnya nampak lebih kusam dan tak pernah dicuci.
Dia melihatku dari atas hingga kebawah, dan tak lama kemudian dia langsung menjulurkan tangannya.
"Namaku Tisna, dan kamu bisa memanggilku Pak Tisna," katanya dengan nada yang pelan.
"Aku adalah teman kerja kakakmu yang dulu kerja di tempat ini sebelum, bahkan ketika rumah sakit ini masih berdiri dan sekarang sudah pindah ke tempat yang baru."
Aku hanya mengerutkan keningku, A Ardi tidak pernah bercerita tentang hal ini, yang dia ceritakan hanyalah menjaga rumah sakit, namun ketika aku tahu bahwa rumah sakit itu pindah ke tempat yang baru, dan A Ardi tidak pernah membicarakannya apabila dia menjaga rumah sakit yang terbengkalai seperti ini.
Dayat yang pada saat itu ada di dekat mobil tiba-tiba berkata bahwa dia akan menjemputku lagi ketika pagi, dia kembali pamit karena dia harus mengantarkan Pak Wijaya untuk pulang, setelah itu dia kembali masuk ke dalam mobil dan menyalankannya untuk kembali ke rumah sakit baru yang letaknya agak jauh dari bangunan terbengkalai ini.
Aku pun mengangguk, dan setelah itu mobilnya keluar dari tempat itu dan Pak Tisna kembali mengunci gerbang itu dengan rapat.
"Ingat, pintu gerbang ini harus selalu terkunci, ini adalah pelajaran pertama ketika kamu kerja disini, karena kita tidak mau sampai yang ada di luar masuk dan yang di dalam bisa keluar, nanti repot."
Aku tidak tahu maksudnya apa, tapi aku hanya mengangguk dan berjalan mengikutinya ke pos jaga yang ada di depan rumah sakit yang terbengkalai itu.
"Sebenarnya, kerjamu lebih santai daripada para penjaga rumah sakit yang baru itu, disini tidak ada yang banyak kamu kerjakan," kata Pak Tisna sambil memberikanku satu gelas air putih yang ada di pos.
"Kamu cuman harus patroli sekali dalam satu malam, melakukan apa yang seharusnya kamu kerjakan selama disini, dan menyelesaikan tugas kakakmu yang tertunda."
SUPPORT AGAR ANE SEMANGAT TERUS UNTUK MENULIS YA, KALIAN BISA KIRIM TRAKTEER DISINI.
TRAKTIR CENDOL
Diubah oleh jurigciwidey 11-02-2026 11:18
agoezsholich107 dan 32 lainnya memberi reputasi
33
14.7K
Kutip
205
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#9
BAB 2 - JAGA MALAM PERTAMA
Spoiler for spoiler:
Rasanya sangat aneh, jika tiba-tiba kakakku ditemukan meninggal di rumah sakit yang terbengkalai ini secara tiba-tiba.
Sebenarnya apa yang terjadi? apakah ini berhubungan dengan aturan ini? atau ada sesuatu yang lain yang membuat dia kehilangan nyawanya?
Aku hanya bisa terdiam sambil menatap catatan itu, sebuah catatan dari kakak yang belum terselesaikan, dan itu adalah catatan tentang apa yang harus dihindari ketika sedang bekerja di rumah sakit ini.
Rasa takut mulai merayap ketika aku melirik kembali ke arah rumah sakit yang sekarang menjadi gelap, banyak pertanyaan yang berkumpul di dalam kepala ketika aku melihat kenyataan ini.
Tapi, tak lama kemudian, Pak Tisna langsung menepuk pundakku sambil tersenyum pelan pada saat itu.
"Sudah, kamu jangan terlalu berfikir yang aneh-aneh," katanya dengan suaranya yang serak.
"Dari jaman dulu, semua rumah sakit itu angker, dan itu sama dengan rumah sakit ini. Bahkan zaman ketika rumah sakit masih beroperasi dan kakakmu mulai bekerja di tempat ini dua tahun yang lalu, sudah banyak kejadian aneh di rumah sakit ini."
Aku hanya mengangguk pelan mendengarkan Pak Tisna yang bercerita tentang kakakku, dia berusaha agar aku tidak ketakutan pada saat itu, Pak Tisna langsung berdiri dan membuatkanku secangkir kopi panas sambil bercerita tentang kakak.
"Intinya, apa yang kakakmu buat bukan semata-mata untuk menakuti semua yang jaga, tapi karena kakakmu lah yang bertahan dengan semua ini, sehingga dia seperti tidak ingin membuat kesalahan, seperti yang terjadi kepada semua partner kerjanya ketika bekerja di tempat ini."
"Maksudnya Pak?" potongku.
Pak Tisna kembali tersenyum, dia menyodorkan kopi panas itu kepadaku untuk aku minum.
"Minum dulu, karena malam ini akan panjang, karena selain catatan itu, ada banyak yang harus kamu lakukan sebagai seseorang yang menjaga rumah sakit ini sebagai ganti kakakmu, dan aku akan memberitahumu secara perlahan ketika kamu sudah terbiasa dengan situasi ini," katanya sambil duduk di seberangku kembali dan menyandarkan punggungnya kembali ke arah kursi.
Pak Tisna terlihat sangat santai, dia mengeluarkan rokoknya dan menyalakannya, lalu setelah itu dia mengambil senternya dan menyorotkan cahayanya ke arah rumah sakit yang gelap itu sambil berkata.
"Kejadian-kejadian aneh ini sebenarnya sering terjadi di rumah sakit ini, namun dulu mungkin karena ramai, mereka dalam tanda kutip penghuni rumah sakit ini tidak terlalu menampakan dirinya, jadi mereka hanya muncul sesekali, pihak manajemen hanya memberi tugas kepada kami para penjaga agar mereka tidak mengganggu pasien, dan hal itu kami lakukan tanpa tahu arti dari semua itu."
"Tapi, setahun kemudian, ada sebuah kejadian yang membuat rumah sakit ini pindah, dan di saat itulah, kita jadi semakin menemukan hal yang aneh di dalam sana, bukan hanya kakakmu saja, hampir semua orang yang jaga mendapatkan hal aneh itu, sehingga Ardi berinisiatif menulis ini semua agar sebagai acuan bahwa selama hal itu bisa dihindarkan, maka kita bisa terjaga dengan aman disini."
Aku mengangguk pelan, sambil menyeruput kopi panas yang diberikan oleh Pak Tisna, aku kembali mendengarkan ceritanya.
"Kenapa di pindahkan Pak rumah sakitnya?" tanyaku pelan.
Pak Tisna hanya tersenyum pelan, seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan di balik senyumannya pada saat itu.
"Kita semua tidak tahu, namun yang pasti hal itu memakan korban, dua orang penjaga jatuh dari lantai empat, dan pihak manajemen menyuruh kami menutupi hal tersebut tanpa pernah memberitahu alasannya."
"Mungkin ini juga yang dicari tahu oleh kakakmu, karena selama dia bekerja disini, dia seperti penasaran akan hal itu, dan ketika rumah sakit ini sudah terbengkalai, mereka semakin memunculkan diri mereka, sehingga kakakmu menulis hal-hal yang tidak boleh dia lakukan agar dia tidak bisa menghindari itu semua," jawabnya pelan sambil menghisap rokoknya.
"Intinya sih, selama kamu mengikuti apa yang nanti aku katakan, lalu mengikuti apa yang aku lakukan, kamu akan aman, dan yang harus kamu ingat."
"Semua rumah sakit itu pasti mempunyai hal yang ganjil jadi kamu tidak perlu terlalu takut dengan catatan yang kakakmu buat."
"Ya namanya juga rumah sakit, tempat orang lahir, tempat orang sakit, tempat orang meninggal, dinding-dinding yang tua dan kusam ini sudah melihat semuanya," kata Pak Tisna sambil menghisap rokoknya secara perlahan.
Aku bisa melihat Pak Tisna menghirup rokok itu sesaat, lalu menghembuskan asapnya ke udara sebelum dia bercerita kembali.
"Sekarang tempat ini kosong, dan banyak para penjaga yang kabur, sudah beberapa kali mereka mengirimkan para penjaga yang baru, tapi tetap saja mereka tidak tahan, dan hanya kakakmu lah yang bertahan hingga hari terakhirnya di dalam sana."
Aku hanya bisa terdiam mendengar hal itu, dia tidak pernah bercerita apapun tentang pekerjaannya, dan setiap aku tanya, dia hanya menjawab bahwa aku tidak perlu tahu akan hal itu, yang pasti aku bisa fokus kuliah dan bisa menyelesaikannya dengan cepat.
Tapi, aku baru tahu bahwa pekerjaan dirinya seperti ini, menjaga rumah sakit terbengkalai sehingga tubuhnya ditemukan meninggal di lobi rumah sakit ini.
Aku kembali menatap rumah sakit itu, keheningan terasa berat diliputi oleh sebuah misteri yang mulai muncul.
Buku catatan yang dia tulis, lalu juga kematiannya yang secara tiba-tiba, semuanya seperti menjadi misteri bagiku, lalu sebuah kejadian dimana rumah sakit pindah, dan ketika aku tanya ke Pak Tisna, dia seperti menyembunyikan sesuatu di depan mataku sendiri.
"Apakah kematiannya ini berhubungan dengan semua hal itu?" gumamku dengan nada yang pelan.
Semuanya terasa hening dan berat, dan sepertinya Pak Tisna seperti melihatku semakin tegang sehingga dia bangkit dari kursinya sekarang.
"Sudah santai aja, kamu jangan terlalu tegang gitu," katanya sambil berjalan keluar dari pos yang sempit itu.
"Tadinya aku akan mengajakmu berkeliling pada malam ini, karena ada hal-hal yang harus ketahui selain tulisan dari kakakmu yang sudah kamu baca, tapi karena kamu baru pertama kali bekerja disini dan nampaknya belum siap dengan semua ini, mendingan kamu diam saja disini pada malam ini ya, biarkan aku berkeliling dulu, kalau kamu nanti sudah siap, kita baru bisa berkeliling, karena nantinya kita harus bergantian berkeliling setelah terbiasa dengan rumah sakit ini."
Aku kembali mengangguk pelan, lalu tak lama Pak Tisna yang mulai berjalan masuk ke arah depan rumah sakit itu kembali berkata.
"Kamu kenali dulu suasana pos jaga ini ya, dan ingat! jangan kemana-mana."
Pak Tisna langsung berjalan kembali dan masuk ke dalam rumah sakit yang gelap itu sekarang, cahaya senternya yang merupakan cahaya satu-satunya disana kini mulai menjauh dariku, dan ketika dia membuka pintu lobi dan masuk ke dalamnya, cahaya itu tiba-tiba menghilang di dalam kegelapan.
Kini, hanya aku sendirian disini sekarang, aku hanya bisa menatap rumah sakit itu dari dalam pos jaga yang ada di depan.
Cahaya bulan yang pucat menerangi rumah sakit itu dengan suasana yang berbeda ketika aku ditinggal sendirian di tempat ini.
Ukurannya yang besar membuatku merasa kecil di bawah sana, rumah sakit itu totalnya empat lantai dan cahaya bulan di atas sana hanya bisa menerangi sebagian kecil dari rumah sakit yang terbengkalai itu.
Sisanya, hanya kegelapan yang mengambil alih seisi rumah sakit ini, dan itu membuatku sedikit merinding ketika aku melihatnya sendirian sekarang.
Bukan hanya itu saja, dindingnya tampak benar-benar kusam dengan beberapa tumbuhan yang merambat di dindingnya, nampak garis-garis hitam panjang bekas rembesan air hujan nampak jelas terlihat dari kejauhan, dan itu membuat rumah sakit ini semakin terlihat mencekam dan menyeramkan.
Aku menyenter beberapa bagian rumah sakit itu dari kejauhan, di ujung kiri banyak sekali deretan jendela yang pecah dan meninggalkan tepian tajam yang bergerigi di setiap ujungnya, dan di salah satu jendela di lantai dua, aku masih bisa melihat sebuah tirai kain yang warnanya sudah pudar.
Tirai itu sobek di bagian bawahnya dan tergantung miring, dan selain itu, aku bisa melihat beberapa jendela nampak terbuka dan tidak pernah tertutup kembali.
Aku hanya bisa melihat kegelapan yang pekat di ruangan-ruangan tersebut, dan hal itu hanya bisa membuatku menarik napas panjang sambil bergumam.
"Aku baru sadar, bahwa rumah sakit ini tampak aneh?" gumamku.
Aku baru ingat, bahwa lokasi rumah sakit ini sangat terpencil, tidak seperti biasanya yang berada di pusat keramaian.
Rumah sakit ini sangat jauh dari rumah-rumah warga, bahkan rumah sakit ini dikelilingi oleh kebun dan hutan-hutan kecil.
Apalagi, setelah aku kembali melihat buku catatan kakak, tertulis disana bahwa di belakang rumah sakit ini ada pemakaman dan hal itu membuatnya semakin aneh.
Aku mencoba berdiri dari duduk ku, berjalan keluar dan menatap rumah sakit itu dari luar pada saat itu.
Aku baru sadar, suasana di rumah sakit ini benar-benar hening, tidak ada suara hewan-hewan malam yang seharusnya terdengar di antara semak-semak yang kini menutupi parkiran luar.
Satu-satunya suara yang kudengar hanyalah suara dari angin malam yang sesekali bertiup dan membawa tanah basah dan daun-daun busuk.
Angin itu menimbulkan suara yang pelan saat melewati pos yang ada di dekatku pada saat itu, dan ketika aku berdiri di sana di waktu yang cukup lama, aku baru sadar bahwa sudah hampir setengah jam berlalu semenjak Pak Tisna masuk ke dalam sana, namun tidak ada tanda-tanda Pak Tisna keluar dari rumah sakit tersebut.
Tiba-tiba, tepat ketika aku ingin kembali ke dalam pos, ada sebuah suara yang memecah keheningan.
Krrrssskkk.....
Itu adalah suara dari walkie-talkie yang menggantung di pos, lampu kecilnya mendadak menyala, menandakan bahwa ada transmisi yang masuk.
Jantungku tiba-tiba berdetak kencang, aku langsung mengambil walkie-talkie itu dan mulai berkata.
"Halo pak? hallo?" sapaku.
Aku yakin, itu adalah Pak Tisna yang menghubungiku dari dalam sana, namun ketika aku berkata seperti itu, tidak ada jawaban darinya, yang ada suara yang tidak jelas yang aku dengar disana.
"Pak...Pak Tisna? halo? roger? pak?"
Tidak ada jawaban disana, yang ada hanyalah bunyi kresek-kresek yang lebih keras yang aku dengar, dan setelah itu, walkie-talkie itu mendadak hening dan padam.
Aku mencoba berpikir positif, mungkin itu hanya gangguan sinyal. Aku mencoba untuk menenangkan diriku dengan menarik napas panjang.
Aku menyandarkan punggungku ke kursi sambil melihat gedung itu dari dalam pos lagi sekarang, dan ketika aku sedang duduk disana, aku mendengar sesuatu yang dilempar ke arah pos dari arah luar.
Trak..
Sebuah suara yang begitu jelas di tengah kesunyian yang membuatku seketika bangkit kembali dari dudukku pada saat itu.
Itu seperti suara dari sebuah kerikil kecil yang membentur kaca jendela dari pos jaga yang aku tempati pada saat ini.
Aku mencoba bangkit, tubuhku sedikit merinding karena suara itu sangatlah jelas di tengah-tengah kesunyian yang aku rasakan.
Aku hanya berdiri diam dan menyinari setiap sudut pos itu dengan senter yang aku bawa, aku berusaha untuk menangkap asal suara tersebut dan mulai mencari dari mana asalnya.
Tapi, suasana kembali hening, tidak ada suara langkah kaki, tidak ada suara apapun, bahkan suara kerikil itu mendadak hilang kembali.
Namun, hal itu malah membuatku berdebar dengan kencang, sehingga aku merasakan bagaimana tubuhku ini bergetar hebat atas apa yang tadi aku rasakan.
Rasa penasaran yang dibalut oleh rasa takut yang muncul secara perlahan, membuatku harus keluar dan menyusuri lagi di sekeliling pos tersebut.
Otakku langsung berfikir positif dan memastikan bahwa itu bukan ulah hal-hal aneh yang tadi dibicarakan oleh Pak Tisna.
Aku menganggap, bahwa pos jaga ini adalah satu-satunya tempat yang aman, dan hal itu yang terus aku pikirkan selama ini.
Aku melirik ke atas, dan terlihat ada beberapa pohon yang menjulang tinggi di belakang pos dengan daun-daun yang memenuhi atas pos jaga itu.
Setelah itu, aku kembali menghirup napas lega, aku terlalu paranoid dengan hal-hal sekecil itu di situasi seperti ini.
"Haaaah, rupanya cuman daun atau ranting kering di dari atas pohon ini ternyata," gumamku.
Aku meyakinkan diriku meskipun entah mengapa, rasa janggal itu masih ada, sepertinya tubuhku ini tidak mau menerima anggapan di dalam pikiranku pada saat itu.
Aku pun kembali duduk diam selama beberapa menit, beberapa kali aku melirik ke arah jam dan hampir empat puluh lima menit semenjak Pak Tisna masuk ke dalam, namun dia tidak pernah keluar.
Sebenarnya, sebesar apa rumah sakit ini sehingga dia butuh waktu lama hanya untuk berkeliling saja.
Ketika aku sedang berfikir seperti itu, tiba-tiba, tepat di sudut mata kananku, aku melihat sesuatu yang bergerak di antara semak-semak yang kini menutupi parkiran.
Gerakannya sangat cepat, aku bisa melihat semak-semak itu bergerak pelan dengan bayangan hitam yang melintas dan menghilang begitu saja di dalam kegelapan.
"Siapa disana?!"
Aku kembali berdiri, jantungku terasa langsung melompat ketika melihat hal tersebut.
Aku langsung menatap tajam ke arah semak-semak itu, dan sepertinya tidak ada apa-apa disana.
Semak-semak itu hanya bergoyang pelan seperti tertiup oleh angin malam, dan hal itu membuatku langsung mengusap wajahku dengan kasar, dan secara tidak sadar, wajahku mulai berkeringat dingin ketika aku melihat bayangan itu disana.
"Jangan parno gitu Wisnu, ayo berani, berpikir logis, jangan gara-gara catatan kakakmu ini kamu langsung berfikir aneh-aneh dan membuat semua hal di sekitarmu jadi menyeramkan."
Aku bergumam sendiri sambil kembali duduk, berusaha untuk menenangkan diriku sendiri agar bisa berfikir rasional.
Aku memang tahu pasti tempat ini angker, apalagi ini adalah rumah sakit dan terbengkalai, namun aku juga harus bisa memastikan mana yang beneran asli dan mana yang hanya ulah pikiranku saja.
Aku kembali menarik kembali napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, dan tepat di saat itulah, aku benar-benar yakin, bahwa ini bukanlah kesalahan dari dalam pikiranku sekarang.
Udara malam yang seharusnya aku hirup secara tiba-tiba bercampur dengan bau yang lain, bukan bau tanah basah atau daun-daun busuk yang berserakan di sekitar pos, tapi sebuah bau tajam seperti bau-bau obat yang sering tercium ketika berada di dalam rumah sakit yang masih berpenghuni.
Baunya begitu kuat, begitu nyata, seolah-olah bau itu tumpah di dekat pos jaga sehingga tercium hingga ke dalam.
Kali ini, aku tidak bisa menenangkan pikiranku, semuanya begitu nyata, bulu kudukku langsung berdiri secara serentak.
Aku langsung menoleh ke segala arah untuk mencari sumbernya, aku benar-benar merasa tidak tenang ketika berada di dalam pos ini, aku seketika keluar dari pos dengan terburu-buru.
Dan tepat ketika aku keluar dari sana.
"Ko hilang..." gumamku.
Bau obat-obatan itu mendadak hilang, bau itu seperti berkumpul di dalam pos jaga dan ketika aku keluar, tidak ada bau yang tercium sekarang.
Semuanya lenyap tanpa jejak, aku kembali masuk ke dalam pos secara perlahan, dan ketika aku masuk kembali, bau itu tidak tercium lagi.
Sebenarnya, apa ini? apa ini yang dirasakan oleh kakakku setiap bekerja di tempat ini?
Aku benar-benar bingung sekarang, apa kakak sebegitu inginnya aku lulus kuliah sehingga dia tahan dengan semua ini?
Aku benar-benar terdiam, nampaknya aku benar-benar meremehkan pengorbanan kakak sekarang, dan aku baru merasakan bagaimana rasanya menjadi kakakku yang kini sudah meninggal dengan segala hal yang dirasa aneh ketika dia sedang bekerja.
PRANG!!!
Di saat aku sedang melamun dan memikirkan kakakku diluar pos jaga itu, aku tiba-tiba dikagetkan oleh suara keras dari pagar seng yang menutupi seluruh rumah sakit ini.
Asal suaranya dari arah gerbang, dan itu bukan suara ranting atau kerikil, tapi suara yang keras seperti batu besar yang dilempar begitu saja dari luar.
Seluruh tubuhku membeku, mataku tiba-tiba terpaku kepada gerbang dari kejauhan, lalu setelah itu.
Tok... tok... tok...
Gerbang yang terkunci itu seperti ditarik dari luar, lalu terdengar seseorang yang mengetuk gerbang yang tertutup seng itu dari arah luar.
Siapa? siapa yang datang dan mengetuk gerbang rumah sakit ini malam-malam?
Pikiranku langsung teringat dengan catatan yang kakak tulis, bahwa aku harus mengabaikan ketukan itu apapun yang terjadi.
Tok...tok...tok...
Suara itu terdengar lagi, dengan suaranya yang pelan dan tanpa henti.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil mundur selangkah dan menjauhi gerbang, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
Apakah aku harus tetap bertahan dengan suara itu hingga hilang dengan sendirinya? atau aku harus mencari bantuan kepada Pak Tisna yang ada di dalam sana.
Di tengah-tengah kepanikan itu, aku langsung melirik ke arah rumah sakit yang ada di belakangku.
Disana, di balik jendela kotor yang ada di lantai dasar, aku melihat sebuah cahaya senter yang terang secara tiba-tiba menyala, dia seperti sedang berjalan di koridor lantai bawah sehingga aku yakin itu adalah cahaya senter dari Pak Tisna.
Suara ketukan di gerbang itu masih terdengar pelan, dan aku mencoba untuk mengabaikannya dan langsung berlari ke arah sumber cahaya itu yang ada di dalam sana.
Dengan senter yang aku pegang dari dalam pos jaga, aku langsung berteriak sambil membuka pintu kaca rumah sakit itu dari depan.
"PAK TISNA! TUNGGU PAK!" teriakku dengan suara yang keras.
Aku mendorong pintu kaca lobi itu dengan berat, suara decitnya terasa memilukan ketika aku buka.
Aku langsung melangkah masuk ke dalam kegelapan malam, dan tanpa berpikir panjang, aku langsung masuk ke arah koridor dimana aku melihat cahaya tersebut.
Cahaya dari senter ku kini mulai menerangi koridor itu, memperlihatkan suasana kursi-kursi tunggu yang berdebu dengan kertas-kertas yang berserakan di lantai.
Aku melangkah jauh lebih dalam, mencoba mengikuti arah dimana aku terakhir kali cahaya senter Pak Tarno terlihat dari luar.
Tapi, ketika aku sampai di koridor itu, cahaya senter yang aku lihat mendadak hilang, bahkan suara jejak kaki yang seharusnya aku dengar di dalam keheningan ini mendadak lenyap.
Entah apa yang terjadi, namun ketika aku berteriak untuk memanggil Pak Tisna, tidak ada jawaban disana, dan hal itu membuatku terjebak di dalam rumah sakit yang terbengkalai ini sekarang.
Di saat aku terdiam karena aku tidak menemukan Pak Tisna, sesuatu terjadi.
Kraaak...
Suara pintu yang tadi aku buka di lobby tiba-tiba tertutup, dan hal itu membuatku langsung berbalik arah dengan rasa takut yang mulai menjalar ke seluruh tubuhku pada malam itu.
Sebenarnya apa yang terjadi? apakah ini berhubungan dengan aturan ini? atau ada sesuatu yang lain yang membuat dia kehilangan nyawanya?
Aku hanya bisa terdiam sambil menatap catatan itu, sebuah catatan dari kakak yang belum terselesaikan, dan itu adalah catatan tentang apa yang harus dihindari ketika sedang bekerja di rumah sakit ini.
Rasa takut mulai merayap ketika aku melirik kembali ke arah rumah sakit yang sekarang menjadi gelap, banyak pertanyaan yang berkumpul di dalam kepala ketika aku melihat kenyataan ini.
Tapi, tak lama kemudian, Pak Tisna langsung menepuk pundakku sambil tersenyum pelan pada saat itu.
"Sudah, kamu jangan terlalu berfikir yang aneh-aneh," katanya dengan suaranya yang serak.
"Dari jaman dulu, semua rumah sakit itu angker, dan itu sama dengan rumah sakit ini. Bahkan zaman ketika rumah sakit masih beroperasi dan kakakmu mulai bekerja di tempat ini dua tahun yang lalu, sudah banyak kejadian aneh di rumah sakit ini."
Aku hanya mengangguk pelan mendengarkan Pak Tisna yang bercerita tentang kakakku, dia berusaha agar aku tidak ketakutan pada saat itu, Pak Tisna langsung berdiri dan membuatkanku secangkir kopi panas sambil bercerita tentang kakak.
"Intinya, apa yang kakakmu buat bukan semata-mata untuk menakuti semua yang jaga, tapi karena kakakmu lah yang bertahan dengan semua ini, sehingga dia seperti tidak ingin membuat kesalahan, seperti yang terjadi kepada semua partner kerjanya ketika bekerja di tempat ini."
"Maksudnya Pak?" potongku.
Pak Tisna kembali tersenyum, dia menyodorkan kopi panas itu kepadaku untuk aku minum.
"Minum dulu, karena malam ini akan panjang, karena selain catatan itu, ada banyak yang harus kamu lakukan sebagai seseorang yang menjaga rumah sakit ini sebagai ganti kakakmu, dan aku akan memberitahumu secara perlahan ketika kamu sudah terbiasa dengan situasi ini," katanya sambil duduk di seberangku kembali dan menyandarkan punggungnya kembali ke arah kursi.
Pak Tisna terlihat sangat santai, dia mengeluarkan rokoknya dan menyalakannya, lalu setelah itu dia mengambil senternya dan menyorotkan cahayanya ke arah rumah sakit yang gelap itu sambil berkata.
"Kejadian-kejadian aneh ini sebenarnya sering terjadi di rumah sakit ini, namun dulu mungkin karena ramai, mereka dalam tanda kutip penghuni rumah sakit ini tidak terlalu menampakan dirinya, jadi mereka hanya muncul sesekali, pihak manajemen hanya memberi tugas kepada kami para penjaga agar mereka tidak mengganggu pasien, dan hal itu kami lakukan tanpa tahu arti dari semua itu."
"Tapi, setahun kemudian, ada sebuah kejadian yang membuat rumah sakit ini pindah, dan di saat itulah, kita jadi semakin menemukan hal yang aneh di dalam sana, bukan hanya kakakmu saja, hampir semua orang yang jaga mendapatkan hal aneh itu, sehingga Ardi berinisiatif menulis ini semua agar sebagai acuan bahwa selama hal itu bisa dihindarkan, maka kita bisa terjaga dengan aman disini."
Aku mengangguk pelan, sambil menyeruput kopi panas yang diberikan oleh Pak Tisna, aku kembali mendengarkan ceritanya.
"Kenapa di pindahkan Pak rumah sakitnya?" tanyaku pelan.
Pak Tisna hanya tersenyum pelan, seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan di balik senyumannya pada saat itu.
"Kita semua tidak tahu, namun yang pasti hal itu memakan korban, dua orang penjaga jatuh dari lantai empat, dan pihak manajemen menyuruh kami menutupi hal tersebut tanpa pernah memberitahu alasannya."
"Mungkin ini juga yang dicari tahu oleh kakakmu, karena selama dia bekerja disini, dia seperti penasaran akan hal itu, dan ketika rumah sakit ini sudah terbengkalai, mereka semakin memunculkan diri mereka, sehingga kakakmu menulis hal-hal yang tidak boleh dia lakukan agar dia tidak bisa menghindari itu semua," jawabnya pelan sambil menghisap rokoknya.
"Intinya sih, selama kamu mengikuti apa yang nanti aku katakan, lalu mengikuti apa yang aku lakukan, kamu akan aman, dan yang harus kamu ingat."
"Semua rumah sakit itu pasti mempunyai hal yang ganjil jadi kamu tidak perlu terlalu takut dengan catatan yang kakakmu buat."
"Ya namanya juga rumah sakit, tempat orang lahir, tempat orang sakit, tempat orang meninggal, dinding-dinding yang tua dan kusam ini sudah melihat semuanya," kata Pak Tisna sambil menghisap rokoknya secara perlahan.
Aku bisa melihat Pak Tisna menghirup rokok itu sesaat, lalu menghembuskan asapnya ke udara sebelum dia bercerita kembali.
"Sekarang tempat ini kosong, dan banyak para penjaga yang kabur, sudah beberapa kali mereka mengirimkan para penjaga yang baru, tapi tetap saja mereka tidak tahan, dan hanya kakakmu lah yang bertahan hingga hari terakhirnya di dalam sana."
Aku hanya bisa terdiam mendengar hal itu, dia tidak pernah bercerita apapun tentang pekerjaannya, dan setiap aku tanya, dia hanya menjawab bahwa aku tidak perlu tahu akan hal itu, yang pasti aku bisa fokus kuliah dan bisa menyelesaikannya dengan cepat.
Tapi, aku baru tahu bahwa pekerjaan dirinya seperti ini, menjaga rumah sakit terbengkalai sehingga tubuhnya ditemukan meninggal di lobi rumah sakit ini.
Aku kembali menatap rumah sakit itu, keheningan terasa berat diliputi oleh sebuah misteri yang mulai muncul.
Buku catatan yang dia tulis, lalu juga kematiannya yang secara tiba-tiba, semuanya seperti menjadi misteri bagiku, lalu sebuah kejadian dimana rumah sakit pindah, dan ketika aku tanya ke Pak Tisna, dia seperti menyembunyikan sesuatu di depan mataku sendiri.
"Apakah kematiannya ini berhubungan dengan semua hal itu?" gumamku dengan nada yang pelan.
Semuanya terasa hening dan berat, dan sepertinya Pak Tisna seperti melihatku semakin tegang sehingga dia bangkit dari kursinya sekarang.
"Sudah santai aja, kamu jangan terlalu tegang gitu," katanya sambil berjalan keluar dari pos yang sempit itu.
"Tadinya aku akan mengajakmu berkeliling pada malam ini, karena ada hal-hal yang harus ketahui selain tulisan dari kakakmu yang sudah kamu baca, tapi karena kamu baru pertama kali bekerja disini dan nampaknya belum siap dengan semua ini, mendingan kamu diam saja disini pada malam ini ya, biarkan aku berkeliling dulu, kalau kamu nanti sudah siap, kita baru bisa berkeliling, karena nantinya kita harus bergantian berkeliling setelah terbiasa dengan rumah sakit ini."
Aku kembali mengangguk pelan, lalu tak lama Pak Tisna yang mulai berjalan masuk ke arah depan rumah sakit itu kembali berkata.
"Kamu kenali dulu suasana pos jaga ini ya, dan ingat! jangan kemana-mana."
Pak Tisna langsung berjalan kembali dan masuk ke dalam rumah sakit yang gelap itu sekarang, cahaya senternya yang merupakan cahaya satu-satunya disana kini mulai menjauh dariku, dan ketika dia membuka pintu lobi dan masuk ke dalamnya, cahaya itu tiba-tiba menghilang di dalam kegelapan.
Kini, hanya aku sendirian disini sekarang, aku hanya bisa menatap rumah sakit itu dari dalam pos jaga yang ada di depan.
Cahaya bulan yang pucat menerangi rumah sakit itu dengan suasana yang berbeda ketika aku ditinggal sendirian di tempat ini.
Ukurannya yang besar membuatku merasa kecil di bawah sana, rumah sakit itu totalnya empat lantai dan cahaya bulan di atas sana hanya bisa menerangi sebagian kecil dari rumah sakit yang terbengkalai itu.
Sisanya, hanya kegelapan yang mengambil alih seisi rumah sakit ini, dan itu membuatku sedikit merinding ketika aku melihatnya sendirian sekarang.
Bukan hanya itu saja, dindingnya tampak benar-benar kusam dengan beberapa tumbuhan yang merambat di dindingnya, nampak garis-garis hitam panjang bekas rembesan air hujan nampak jelas terlihat dari kejauhan, dan itu membuat rumah sakit ini semakin terlihat mencekam dan menyeramkan.
Aku menyenter beberapa bagian rumah sakit itu dari kejauhan, di ujung kiri banyak sekali deretan jendela yang pecah dan meninggalkan tepian tajam yang bergerigi di setiap ujungnya, dan di salah satu jendela di lantai dua, aku masih bisa melihat sebuah tirai kain yang warnanya sudah pudar.
Tirai itu sobek di bagian bawahnya dan tergantung miring, dan selain itu, aku bisa melihat beberapa jendela nampak terbuka dan tidak pernah tertutup kembali.
Aku hanya bisa melihat kegelapan yang pekat di ruangan-ruangan tersebut, dan hal itu hanya bisa membuatku menarik napas panjang sambil bergumam.
"Aku baru sadar, bahwa rumah sakit ini tampak aneh?" gumamku.
Aku baru ingat, bahwa lokasi rumah sakit ini sangat terpencil, tidak seperti biasanya yang berada di pusat keramaian.
Rumah sakit ini sangat jauh dari rumah-rumah warga, bahkan rumah sakit ini dikelilingi oleh kebun dan hutan-hutan kecil.
Apalagi, setelah aku kembali melihat buku catatan kakak, tertulis disana bahwa di belakang rumah sakit ini ada pemakaman dan hal itu membuatnya semakin aneh.
Aku mencoba berdiri dari duduk ku, berjalan keluar dan menatap rumah sakit itu dari luar pada saat itu.
Aku baru sadar, suasana di rumah sakit ini benar-benar hening, tidak ada suara hewan-hewan malam yang seharusnya terdengar di antara semak-semak yang kini menutupi parkiran luar.
Satu-satunya suara yang kudengar hanyalah suara dari angin malam yang sesekali bertiup dan membawa tanah basah dan daun-daun busuk.
Angin itu menimbulkan suara yang pelan saat melewati pos yang ada di dekatku pada saat itu, dan ketika aku berdiri di sana di waktu yang cukup lama, aku baru sadar bahwa sudah hampir setengah jam berlalu semenjak Pak Tisna masuk ke dalam sana, namun tidak ada tanda-tanda Pak Tisna keluar dari rumah sakit tersebut.
Tiba-tiba, tepat ketika aku ingin kembali ke dalam pos, ada sebuah suara yang memecah keheningan.
Krrrssskkk.....
Itu adalah suara dari walkie-talkie yang menggantung di pos, lampu kecilnya mendadak menyala, menandakan bahwa ada transmisi yang masuk.
Jantungku tiba-tiba berdetak kencang, aku langsung mengambil walkie-talkie itu dan mulai berkata.
"Halo pak? hallo?" sapaku.
Aku yakin, itu adalah Pak Tisna yang menghubungiku dari dalam sana, namun ketika aku berkata seperti itu, tidak ada jawaban darinya, yang ada suara yang tidak jelas yang aku dengar disana.
"Pak...Pak Tisna? halo? roger? pak?"
Tidak ada jawaban disana, yang ada hanyalah bunyi kresek-kresek yang lebih keras yang aku dengar, dan setelah itu, walkie-talkie itu mendadak hening dan padam.
Aku mencoba berpikir positif, mungkin itu hanya gangguan sinyal. Aku mencoba untuk menenangkan diriku dengan menarik napas panjang.
Aku menyandarkan punggungku ke kursi sambil melihat gedung itu dari dalam pos lagi sekarang, dan ketika aku sedang duduk disana, aku mendengar sesuatu yang dilempar ke arah pos dari arah luar.
Trak..
Sebuah suara yang begitu jelas di tengah kesunyian yang membuatku seketika bangkit kembali dari dudukku pada saat itu.
Itu seperti suara dari sebuah kerikil kecil yang membentur kaca jendela dari pos jaga yang aku tempati pada saat ini.
Aku mencoba bangkit, tubuhku sedikit merinding karena suara itu sangatlah jelas di tengah-tengah kesunyian yang aku rasakan.
Aku hanya berdiri diam dan menyinari setiap sudut pos itu dengan senter yang aku bawa, aku berusaha untuk menangkap asal suara tersebut dan mulai mencari dari mana asalnya.
Tapi, suasana kembali hening, tidak ada suara langkah kaki, tidak ada suara apapun, bahkan suara kerikil itu mendadak hilang kembali.
Namun, hal itu malah membuatku berdebar dengan kencang, sehingga aku merasakan bagaimana tubuhku ini bergetar hebat atas apa yang tadi aku rasakan.
Rasa penasaran yang dibalut oleh rasa takut yang muncul secara perlahan, membuatku harus keluar dan menyusuri lagi di sekeliling pos tersebut.
Otakku langsung berfikir positif dan memastikan bahwa itu bukan ulah hal-hal aneh yang tadi dibicarakan oleh Pak Tisna.
Aku menganggap, bahwa pos jaga ini adalah satu-satunya tempat yang aman, dan hal itu yang terus aku pikirkan selama ini.
Aku melirik ke atas, dan terlihat ada beberapa pohon yang menjulang tinggi di belakang pos dengan daun-daun yang memenuhi atas pos jaga itu.
Setelah itu, aku kembali menghirup napas lega, aku terlalu paranoid dengan hal-hal sekecil itu di situasi seperti ini.
"Haaaah, rupanya cuman daun atau ranting kering di dari atas pohon ini ternyata," gumamku.
Aku meyakinkan diriku meskipun entah mengapa, rasa janggal itu masih ada, sepertinya tubuhku ini tidak mau menerima anggapan di dalam pikiranku pada saat itu.
Aku pun kembali duduk diam selama beberapa menit, beberapa kali aku melirik ke arah jam dan hampir empat puluh lima menit semenjak Pak Tisna masuk ke dalam, namun dia tidak pernah keluar.
Sebenarnya, sebesar apa rumah sakit ini sehingga dia butuh waktu lama hanya untuk berkeliling saja.
Ketika aku sedang berfikir seperti itu, tiba-tiba, tepat di sudut mata kananku, aku melihat sesuatu yang bergerak di antara semak-semak yang kini menutupi parkiran.
Gerakannya sangat cepat, aku bisa melihat semak-semak itu bergerak pelan dengan bayangan hitam yang melintas dan menghilang begitu saja di dalam kegelapan.
"Siapa disana?!"
Aku kembali berdiri, jantungku terasa langsung melompat ketika melihat hal tersebut.
Aku langsung menatap tajam ke arah semak-semak itu, dan sepertinya tidak ada apa-apa disana.
Semak-semak itu hanya bergoyang pelan seperti tertiup oleh angin malam, dan hal itu membuatku langsung mengusap wajahku dengan kasar, dan secara tidak sadar, wajahku mulai berkeringat dingin ketika aku melihat bayangan itu disana.
"Jangan parno gitu Wisnu, ayo berani, berpikir logis, jangan gara-gara catatan kakakmu ini kamu langsung berfikir aneh-aneh dan membuat semua hal di sekitarmu jadi menyeramkan."
Aku bergumam sendiri sambil kembali duduk, berusaha untuk menenangkan diriku sendiri agar bisa berfikir rasional.
Aku memang tahu pasti tempat ini angker, apalagi ini adalah rumah sakit dan terbengkalai, namun aku juga harus bisa memastikan mana yang beneran asli dan mana yang hanya ulah pikiranku saja.
Aku kembali menarik kembali napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, dan tepat di saat itulah, aku benar-benar yakin, bahwa ini bukanlah kesalahan dari dalam pikiranku sekarang.
Udara malam yang seharusnya aku hirup secara tiba-tiba bercampur dengan bau yang lain, bukan bau tanah basah atau daun-daun busuk yang berserakan di sekitar pos, tapi sebuah bau tajam seperti bau-bau obat yang sering tercium ketika berada di dalam rumah sakit yang masih berpenghuni.
Baunya begitu kuat, begitu nyata, seolah-olah bau itu tumpah di dekat pos jaga sehingga tercium hingga ke dalam.
Kali ini, aku tidak bisa menenangkan pikiranku, semuanya begitu nyata, bulu kudukku langsung berdiri secara serentak.
Aku langsung menoleh ke segala arah untuk mencari sumbernya, aku benar-benar merasa tidak tenang ketika berada di dalam pos ini, aku seketika keluar dari pos dengan terburu-buru.
Dan tepat ketika aku keluar dari sana.
"Ko hilang..." gumamku.
Bau obat-obatan itu mendadak hilang, bau itu seperti berkumpul di dalam pos jaga dan ketika aku keluar, tidak ada bau yang tercium sekarang.
Semuanya lenyap tanpa jejak, aku kembali masuk ke dalam pos secara perlahan, dan ketika aku masuk kembali, bau itu tidak tercium lagi.
Sebenarnya, apa ini? apa ini yang dirasakan oleh kakakku setiap bekerja di tempat ini?
Aku benar-benar bingung sekarang, apa kakak sebegitu inginnya aku lulus kuliah sehingga dia tahan dengan semua ini?
Aku benar-benar terdiam, nampaknya aku benar-benar meremehkan pengorbanan kakak sekarang, dan aku baru merasakan bagaimana rasanya menjadi kakakku yang kini sudah meninggal dengan segala hal yang dirasa aneh ketika dia sedang bekerja.
PRANG!!!
Di saat aku sedang melamun dan memikirkan kakakku diluar pos jaga itu, aku tiba-tiba dikagetkan oleh suara keras dari pagar seng yang menutupi seluruh rumah sakit ini.
Asal suaranya dari arah gerbang, dan itu bukan suara ranting atau kerikil, tapi suara yang keras seperti batu besar yang dilempar begitu saja dari luar.
Seluruh tubuhku membeku, mataku tiba-tiba terpaku kepada gerbang dari kejauhan, lalu setelah itu.
Tok... tok... tok...
Gerbang yang terkunci itu seperti ditarik dari luar, lalu terdengar seseorang yang mengetuk gerbang yang tertutup seng itu dari arah luar.
Siapa? siapa yang datang dan mengetuk gerbang rumah sakit ini malam-malam?
Pikiranku langsung teringat dengan catatan yang kakak tulis, bahwa aku harus mengabaikan ketukan itu apapun yang terjadi.
Tok...tok...tok...
Suara itu terdengar lagi, dengan suaranya yang pelan dan tanpa henti.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil mundur selangkah dan menjauhi gerbang, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
Apakah aku harus tetap bertahan dengan suara itu hingga hilang dengan sendirinya? atau aku harus mencari bantuan kepada Pak Tisna yang ada di dalam sana.
Di tengah-tengah kepanikan itu, aku langsung melirik ke arah rumah sakit yang ada di belakangku.
Disana, di balik jendela kotor yang ada di lantai dasar, aku melihat sebuah cahaya senter yang terang secara tiba-tiba menyala, dia seperti sedang berjalan di koridor lantai bawah sehingga aku yakin itu adalah cahaya senter dari Pak Tisna.
Suara ketukan di gerbang itu masih terdengar pelan, dan aku mencoba untuk mengabaikannya dan langsung berlari ke arah sumber cahaya itu yang ada di dalam sana.
Dengan senter yang aku pegang dari dalam pos jaga, aku langsung berteriak sambil membuka pintu kaca rumah sakit itu dari depan.
"PAK TISNA! TUNGGU PAK!" teriakku dengan suara yang keras.
Aku mendorong pintu kaca lobi itu dengan berat, suara decitnya terasa memilukan ketika aku buka.
Aku langsung melangkah masuk ke dalam kegelapan malam, dan tanpa berpikir panjang, aku langsung masuk ke arah koridor dimana aku melihat cahaya tersebut.
Cahaya dari senter ku kini mulai menerangi koridor itu, memperlihatkan suasana kursi-kursi tunggu yang berdebu dengan kertas-kertas yang berserakan di lantai.
Aku melangkah jauh lebih dalam, mencoba mengikuti arah dimana aku terakhir kali cahaya senter Pak Tarno terlihat dari luar.
Tapi, ketika aku sampai di koridor itu, cahaya senter yang aku lihat mendadak hilang, bahkan suara jejak kaki yang seharusnya aku dengar di dalam keheningan ini mendadak lenyap.
Entah apa yang terjadi, namun ketika aku berteriak untuk memanggil Pak Tisna, tidak ada jawaban disana, dan hal itu membuatku terjebak di dalam rumah sakit yang terbengkalai ini sekarang.
Di saat aku terdiam karena aku tidak menemukan Pak Tisna, sesuatu terjadi.
Kraaak...
Suara pintu yang tadi aku buka di lobby tiba-tiba tertutup, dan hal itu membuatku langsung berbalik arah dengan rasa takut yang mulai menjalar ke seluruh tubuhku pada malam itu.
(Cerita ini di update senin dan kamis, apabila ingin baca secara lengkap kalian bisa disini)
Diubah oleh jurigciwidey 28-08-2025 09:12
agoezsholich107 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas
Tutup